UPAYA
MENINGKATKAN HASIL BELAJAR SISWA DALAM PEMBELAJARAN SEPAK BOLA DENGAN
PENDEKATAN PERMAINAN SHOOTING COLOUR PADA SISWA KELAS VII A SMP N 2
PILANGKENCENG KABUPATEN MSDIUN
TAHUN
PELAJARAN 2015/2016
|
|
Oleh : Paidi, S.Pd
Guru SMP Negeri 2 Pilangkenceng Kabupaten Madiun
|
ABSTRAK
Kata kunci : permainan, sepak bola, shooting colour.
Latar belakang
penelitian, karena hasil belajar siswa dalam pembelajaran sepak bola pada siswa
kelas VII A SMP N 2 Pilangkenceng Kab. Madiun , siswa kurang antusias dalam
mengikuti pembelajaran, siswa lebih suka menunggu bola datang dari pada
bergerak mengejar bola. Permasalahan penelitian, apakah dengan pendekatan
permainan shooting colour dapat meningkatkan hasil belajar siswa dalam
permainan sepak bola bagi siswa kelas VII A SMP N 2 Pilangkenceng Kab. Madiun
tahun pelajaran 2015/2016 ? Tujuan penelitian ini adalah untuk meningkatkan
hasil belajar siswa dalam pembelajaran sepak bola dengan pendekatan permainan shooting
colour pada siswa kelas VII A SMP N 2 Pilangkenceng Kab. Madiun Tahun
Pelajaran 2015/2016.
Jenis Penelitian
Tindakan Kelas yang dilaksanakan dalam siklus 2. Subjek penelitian seluruh
siswa kelas VII A yang berjumlah 34 siswa, terdiri dari 12 orang siswa
laki-laki dan 22 orang siswa perempuan. Teknik pengumpulan data observasi
berupa dokumen dan foto.
Hasil penelitian
menunjukkan bahwa pembelajaran penjasorkes dalam permainan sepak bola dengan
pendekatan permainan shooting colour meningkat. Terlihat dari persentase
ketuntasan belajar siswa dari semua aspek pada siklus I yaitu sebesar 61,76%
meningkat pada siklus II menjadi 76,47%. Ketuntasan hasil belajar siswa pada
setiap siklus dirata-rata dari aspek pengetahuan, aspek sikap dan aspek
keterampilan. Ketuntasan belajar aspek pengetahuan pada siklus I yaitu sebesar
47,06 %, pada siklus II sebesar 76,47%. Ketuntasan belajar aspek sikap pada
siklus I yaitu sebesar 73,53%, siklus II sebesar 82,35%. Ketuntasan belajar
aspek keterampilan pada siklus I yaitu sebesar 58,82%, siklus II sebesar
82,35%. Peningkatan hasil belajar tiap aspek pada penelitian ini, aspek
pengetahuan 29,41%, aspek sikap 8,82%, aspek
keterampilan 23,53%.
Berdasarkanhasil
penelitian bahwa pembelajaran penjas dalam permainan sepak bola dengan
pendekatan permainan shooting colour dapat meningkatkan hasil belajar
siswa sebesar 14,71%. Saran yang dapat disampaikan dari penelitian ini diharapkan
pembelajaran penjas dengan pendekatan permainan shooting colour dapat
dijadikan alternatif untuk meningkatkan hasil belajar siswa dalam permainan
sepak bola.
Latar Belakang Masalah
Pendidikan pada
hakekatnya merupakan usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar
dan proses pembelajaran yang baik agar peserta didik secara aktif mengem-bangkan
potensi dirinya. Salah satu komponen pendidikan adalah pendidikan jasma-ni.
Pendidikan jasmani
secara keseluruhan telah disadari oleh banyak kalangan sebagai pendidikan untuk
mengembangkan gerak dasar siswa, tetapi dalam pelaksanaan pembelajaran
pendidikan jasmani belum dapat berjalan secara maksimal.Konsep dasar pendidikan
jasmani dan model pembelajaran jasmani yang efektif perlu dikuasai oleh para
guru yang hendak memberikan pembelajaran pendidikan jasmani. Guru harus dapat
mengajarkan berbagai gerak dasar, teknik permainan olahraga, internalisasi
nilai (sportifitas, kerjasama dll) menjadi pembiasaan pola hidup sehat. Melalui
pendidikan jasmani diharapkan siswa dapat memperoleh berbagai pengalaman untuk mengungkapkan
kesan pribadi yang lebih menyenangkan, kreatif, inovatif, terampil,
meningkatkan dan memelihara kesegaran jasmani serta pemahaman terhadap gerak
manu-sia.
Salah satu permainan
olah raga yang merupakan perwujudan dari aktivitas jasmani adalah permainan
sepak bola. Sepak bola merupakan permainan beregu, masing-masing regu terdiri
dari 11 (sebelas) orang pemain dan salah satunya adalah penjaga gawang. Dalam
sepak bola permainan ini hampir seluruhnya dimainkan menggunakan tungkai,
kecuali penjaga gawang yang diperbolehkan menggunakan lengannya di daerah
tendangan hukumannya.(Sucipto,dkk,2000: 7).
Adapun tujuan dari
permainan sepak bola adalah pemain harus memasukkan bola sebanyak-banyaknya ke
gawang lawan dan berusaha menjaga gawangnya sendiri agar tidak kemasukan.
Selain tujuan tersebut, yang paling utama dari permainan sepak bola dalam dunia
pendidikan, adalah untuk pendidikan jasmani, yang diharapkan bisa menjadi
mediator untuk mendidik anak agar kelak menjadi anak yang cerdas, terampil,
jujur dan sportif.
Dalam pembelajaran
pendidikan jasmani, guru harus dapat mengajarkan berbagai gerak dasar, teknik
permainan olahraga, internalisasi nilai-nilai (sportifitas, kerjasama, dll).
Penyelenggara program pendidikan jasmani hendaknya mencerminkan karakteristik
program pendidikan jasmani itu sendiri, yaitu “Developmentally Appropriate
Practise” (DAP). Artinya, tugas ajar yang diberikan harus memperhatikan
perubahan kemampuan anak dan dapat membantu mendorong perubahan tersebut.
Sehingga tugas ajar tersebut harus sesuai dengan tingkat perkembangan anak
didik yang sedang belajar.
Modifikasi merupakan
salah satu usaha yang dapat dilakukan oleh para guru agar pembelajaran
mencerminkan DAP. Oleh karena itu, DAP termasuk didalamnya “Body scaling”
atau ukuran tubuh siswa, harus dijadikan prinsip utama dalam memodifikasi
pembelajaran pendidikan jasmani, olahraga dan kesehatan. Esensi modifikasi
adalah menganalisa sekaligus mengembangkan materi pelajaran dengan cara
mencantumkannya dalam bentuk efektifitas belajar yang potensial sehingga dapat
memperlancar siswa dalam belajar. Cara ini dimaksudkan untuk menuntun,
mengarahkan dan membelajarkan siswa dari yang tadinya tidak bisa menjadi bisa,
dari tingkat yang rendah ke tingkat yang lebih tinggi, dari yang tadinya kurang
terampil menjadi lebih terampil (Yoyo Bahagia,dkk , 2000:1)
Minat siswa terhadap
pendidikan jasmani yang masih rendah harus ditangkal mengingat banyaknya tujuan
pendidikan yang bisa dicapai melalui pendidikan jasmani. Agar kaidah-kaidah dan
nilai-nilai pendidikan jasmani dapat menjadi sebuah hal yang menarik bagi
siswa, dibutuhkan kreatifitas yang tinggi dari guru pendidikan jasmani. Selain
itu guru harus bisa mencari sesuatu yang baru dalam proses pembelajaran yang
inovatif, sehingga dapat menumbuhkan minat siswa untuk belajar dan ingin tahu.
Pemahaman akan arti pendidikan jasmani pada siswa juga ikut berperan
membangkitkan minat siswa dalam belajar. Dengan metode yang tepat dan informasi
yang benar akan dapat menarik minat siswa untuk mengikuti proses pembelajaran
pendidikan jasmani.
Tidak kalah penting
juga tersedianya prasarana dan sarana yang ada di sekolah masing-masing.
Rusli Lutan (1988)
menyatakan bahwa modifikasi dalam mata pelajaran pendidikan jasmani diperlukan,
dengan tujuan agar:
a) Siswa memperoleh
kepuasan dalam mengikuti pelajaran;
b) Meningkatkan
kemungkinan keberhasilan dalam berpartisipasi;
c) Siswa dapat melakukan
pola gerak secara benar.
Pendekatan modifikasi
ini dimaksudkan agar materi yang ada dalam kurikulum dapat disajikan dengan
tahap-tahap perkembangan kognitif, eaektif dan psikomotorik anak.
Menurut Aussie (1966),
pengembangan modifikasi dilakukan dengan pertimbangan :
a) Anak-anak belum
memiliki kematangan fisik dan emosional seperti orang dewasa ;
b) Berolah raga dengan
peralatan dan peraturan yang dimodifikasi akan mengurangi cedera pada anak;
c) Olahraga yang
dimodifikasi akan mampu mengembangkan ketrampilan anak lebih cepat dibanding
dengan peralatan standar untuk orang dewasa;
d) Olahraga yang
dimodifikasi akan menumbuhkan kegembiraan dan kesenangan pada anak-anak dalam
situasi kompetitif.
Dari pendapat tersebut
di atas dapat diartikan bahwa pendekatan modifikasi dapat digunakan sebagai
suatu alternatif dalam pembelajaran pendidikan jasmani, karena pendekatan ini
mempertimbangkan tahap-tahap perkembangan dan karakteristik anak, sehingga anak
akan dapat mengikuti pelajaran pendidikan jasmani dengan senang dan gembira.
Setelah melakukan
pengamatan dan observasi dengan melakukan wawancara kepada guru penjasorkes SMP
Negeri 2 Pilangkenceng Kab. Madiun, bahwa pembelajaran penjasorkes pada materi
permainan sepak bola masih diajarkan sesuai dengan permainan sepak bola pada
aslinya. Sedangkan permainan sepak bola konvensional yang berdasarkan aturan
sesungguhnya, kurang sesuai dengan karak-teristik psikomotor anak usia sekolah
menengah pertama. Karena lapangan yang terlalu luas dan sarana seperti gawang
terlalu besar sehingga frekuensi siswa untuk merasakan permainan terutama
menendang bola sangat kurang apalagi untuk mencetak poin. Dalam pembelajaran
permainan sepak bola siswa kurang antusias, siswa lebih suka menunggu bola
datang daripada bergerak mengejar bola. Hanya siswa yang mempunyai kemampuan
lebih yang mau bergerak mengejar bola.
Prasarana dan sarana
yang tersedia untuk pembelajaran penjasorkes di SMP Negeri 2 Pilangkenceng Kab.
Madiun bisa dikatakan cukup, karena tersedianya lapangan sepak bola untuk para
siswa SMP Negeri 2 Pilangkenceng Kab. Madiun.
Sesuai dari penjelasan
latar belakang tersebut, pendekatan pembelajaran penjasorkes dengan melakukan
modifikasi permainan sangat diperlukan untuk kebutuhan gerak siswa. Sehubungan
dengan hal tersebut maka peneliti tertarik untuk melakukan penelitian dengan
judul “Upaya Meningkatkan Hasil Belajar Siswa dalam Pembelajaran Sepak Bola
Dengan Pendekatan Permainan Shooing Colour Pada Siswa Kelas VII A SMP N 2
Piangkenceng Kab. Madiun Tapela 2015 /
2016
Rumusan Masalah
Apakah pendekatan
permainan shooting colour dapat meningkatkan hasil belajar siswa dalam
permainan sepak bola bagi siswa kelas VII A SMP N 2 Pilangkenceng Kab. Madiun
tahun pelajaran 2015/2016 ?
Tujuan Penelitian
Penelitian ini
bertujuan untuk meningkatkan hasil belajar siswa dalam permainan sepak bola
dengan pendekatan permainan Shooting ColourPada Siswa Kelas VII A SMP N 2
Pilangkenceng Kab. Madiun.
Manfaat penelitian
1. Bagi Siswa
Melatih
siswa untuk lebih aktif dalam mengikuti pembelajaran penjasorkes terutama dalam
materi permainan sepak bola menggunakan pendekatan permainan shooting colour.
2. Bagi Guru
Sebagai
masukan untuk guru dalam melakukan modifikasi permainandalam pembelajaran
penjasorkes guna menciptakan proses pembelajaran yang lebih inovatif supaya
tujuan belajar dapat tercapai secara maksimal.
3. Bagi sekolah
Sebagai
masukan dalam proses pembelajaran pendidikan jasmani untuk lebih kreatif
terhadap proses belajar mengajar pendidikan jasmani olahraga dan kesehatan,
serta lebih memberikan dukungan terhadap proses pembelajaran pendidikan
jasmani.
4. Bagi Peneliti
Memperoleh
pengalaman dalam melakukan penelitian, sehingga bisa menjadi bahan pertimbangan
dan menambah wawasan pengetahuan yang berguna dalam pengembangan metode
pembelajaran pendidikan jasmani di masa yang akan datang.
Hipotesa
Tindakan
Ada peningkatan hasil
pembelajaran bermain sepak bola melalui pendekatan
Permainan Shooing Colour siswa kelas VII A SMP N 2 Pilangkenceng Kab. Madiun
tahun pelajaran 2015/2016.
Kajian Pustaka
Pengertian Pembelajaran
Gegne dalam buku
(Achmad Rifa’i RC dan Chatarina Tri Anni, 2010:192) menyatakan bahwa
pembelajaran merupakan serangkaian peristiwa eksternal peserta didik yang
dirancang untuk mendukung proses internal belajar. Menurut Briggs masih dalam
buku (Achmad rifa’i RC dan Chatarina Tri Anni, 2010:193) menjelaskan bahwa
pembelajaran adalah seperangkat peristiwa yang mempengaruhi peserta didik
sedemikian rupa sehingga peserta didik itu memperoleh kemudahan dalam
berinteraksi berikutnya dengan lingkungan. Pengertian pembelajaran adalah usaha
pendidik membentuk tingkah laku yang diinginkan dengan menyediakan lingkungan,
agar terjadi hubungan stimulus (lingkungan) dengan tingkah laku peserta didik
(Achmad Rifa’i RC dan Chatarina Tri Anni, 2010:192).
Pembelajaran merupakan
prsoses komunikasi antara pendidik dengan peserta didik atau antar peserta
didik. dari beberapa penjelasan di atas dapat disimpulkan bahwa pengertian
pembelajaran adalah serangkaian usaha yang dilakukan pendidik untuk membentuk
tingkah laku peserta didik dengan melibatkan faktor eksternal seperti
lingkungan belajarnya.
Pengertian Belajar dalam Bermain
Memahami arti
pendidikan jasmani, kita harus juga mempertimbangkan hubungan antara bermain (play)
dan olahraga (sport), sebagaimana istilah yang lebih dahulu popular dan
lebih sering digunakan dalam konteks kegiatan seharihari pemahaman tersebut
akan membantu para guru atau masyarakat dalam memahami peran dan fungsi
pendidikan jasmani secara konseptual.
Bermain pada intinya
adalah aktivitas yang digunakan sebagai hiburan. Kita mengartikan bermain
sebagai hiburan yang bersifat fisikal yang tidak kompetitif, meskipun bermain
tidak harus bersifat fisik. Bermain bukanlah berarti olahraga dan pendidikan
jasmani, meskipun elemen dari bermain dapat ditemukan keduanya. Olahraga di
pihak lain adalah suatu bentuk bermain yang terorganisir dan bersifat
kompetitif.
Bermain, olahraga dan
pendidikan jasmani melibatkan bentuk-bentuk gerakan, dan ketiganya dapat
melumat secara pas dalam konteks pendidikan jika digunakan untuk tujuan-tujuan
pendidikan. Bermain dapat mebuat rilaks dan menghibur tanpa adanya tujuan
pendidikan, seperti juga olahraga tetap eksis tanpa adanya tujuan pendidikan.
Misalnya olahraga profesional dianggap tidak punya misi kependidikan apa-apa,
tetapi tetap disebut sebagai olahraga.
Olahraga dan bermain
dapat eksis meskipun secara murni untuk kepentingan kesenangan, untuk kepentingan pendidikan,
atau untuk kombinasi keduanya.
Kesenangan dan pendidikan tidak harus dipisahkan secara eksklusif,
keduanya dapat dan harus beriringan bersama (Husdarta, 2009:6-7).
Permainan Sepak Bola
Menurut Sucipto
dkk,(2000:7) sepak bola merupakan permainan beregu, masing-masing regu terdiri
dari sebelas pemain, dan salah satunya penjaga gawang. Permainan ini hampir
seluruhnya dimainkan dengan menggu-nakan tungkai, kecuali penjaga gawang yang
diperbolehkan menggunakan lenganya di daerah tendangan hukuman. Dalam
perkembangan permainan ini dapat dimainkan di luar lapangan (out door)
dan diruangan tertutup (in door). Sedangkan menurut (Abdul rohim,
2008:1) permainan sepak bola merupakan permainan beregu karena dimainkan oleh
11 orang dari masingmasing regunya, dari anak-anak sampai orang dewasa
menggemari dan menyenangi permainan ini, karena untuk bermain sepak bola tidak
terlalu banyak mengeluarkan biaya dan dapat dilaksanakan di tempat-tempat
terbuka sekalipun bukan lapangan yang sebenernya.
Modifikasi Permainan
Yoyo Bahagia (2000:1)
menyatakan bahwa dalam suatu pembelajaran khususnya pembelajaran pendidikan
jasmani disekolah bisa dilakukan dengan menggunakan modifikasi. Modifikasi
merupakan salah satu usaha yang dapat dilakukan oleh para guru agar
pembelajaran mencerminkan DAP (Developmentally Appropriate Pratice),
yang artinya bahwa tugas ajar yang diberikan harus memperhatikan perubahan
kemampuan anak dan dapat membantu mendorong perubahan tersebut. Oleh karena itu
tugas ajar tersebut harus sesuai dengan tingkat perkembangan anak didik yang
sedang belajar. Tugas ajar yang sesuai ini harus mampu mengakomodasi setiap
perubahan dan perbedaan karakteristik setiap individu serta mendorongnya kearah
perubahan yang lebih baik.
Modifikasi merupakan
salah satu usaha yang dapat dilakukan oleh para guru agar pembelajaran
mencerminkan DAP. Termasuk didalam “body scaling” atau ukuran tubuh
siswa, harus selalu dijadika prinsip utama dalam memodifikasi pembelajaran
penjas. (Yoyo Bahagia dan Adang Suherman, 2000:1). Esensi modifikasi adalah
menganalisis sekaligus mengembangkan materi pembelajaran dengan cara meruntunya
dalam bentuk aktifitas belajar yang potensial sehingga dapat memperlancar siswa
dalam belajarnya. Cara ini dimaksudkan untuk menuntun, mengarahkan, dan
membelajarkan siswa yang tadinya tidak bisa menjadi bisa, yang tadinya kurang
terampil menjadi lebih terampil. Cara-cara guru memodifikasi pembelajaran akan
tercermin dari akatifitas pembelajaranya yang diberikan guru dari awal
pelajaran sampai akhir pelajaran. Seharusnya guru-guru penjas juga harus
mengetahui apa saja yang bisa dan harus dimodifikasi serta tau bagaimana cara
memodifikasinya. Modifikasi sarana maupun prasarana, tidak akanmengurangi
aktifitas siswa dalam melaksanakan pembelajaran pendidikan jasmani.Bahkan
sebaliknya, karena siswa bisa difasilitasi untuk lebih banyak bergerak, melalui
pendekatan bermaian dalam suasana riang gembira.Jangan lupa bahwa kata kunci pendidikan
jasmani adalah “Bermain-bergerak-ceria”. Lutan (1988) dalam buku(Samsudin,
2008:58-60), menyatakan modifikasi dalam mata pelajaran pendidikan jasmani
diperlukan dengan tujuan agar:
a) Siswa memperoleh
kepuasan dalam mengikuti pembelajaran.
b) Meningkatkan
kemungkinan keberhasilan dalam berpartisipasi.
c) Siswa dapat melakukan
pola gerak secara benar.
Pendekatan modifikasi
ini dimaksudkan materi yang ada dikurikulum dapat disajikan sesuai dengan
tahpan-tahapan perkembangan kognitif, afektif dan psokomotor anak. Berdasarkan
penelitian ini modifikasi yang dibuat adalah modifikasi permaian shooting
colour.
Permainan Shooting Colour
Shooting Colour adalah permainan
sejenis permainan sepak bola yang dibagi menjadi 2 tim, yang masing-masing tim
beranggotakan 8-10 orang. Teknik dasar yang digunakan yaitu shooting,
passing, control. Cara mencatak poin dengan memasukan bola kearah gawang
dimana gawang tersebut dibagi menjadi 3 bagian warna yang berbeda, yaitu warna
merah dan warna biru, diamana biru di letakan di tengah gawang dan merah
dibagian samping kanan dan samping kiri.
Metode Penelitian
Menurut pengertiannya
penelitian tindakan adalah penelitian tentang halhal yang terjadi di masyarakat
atau kelompok sasaran, dan hasilnya langsung dapat dikenakan pada masyarakat
yang bersangkutan. Ciri atau karakteristik utama dalam penelitian tindakan
adalah adanya partisipasi dan kolaborasi antara peneliti dengan anggota
kelompok sasaran.
Penelitian tindakan
adalah salah satu strategi pemecahan masalah yang memanfaatkan tindakan nyata
dalam bentuk proses pengembangan inovatif yang “dicoba sambil jalan” dalam mendeteksi
dan memecahkan masalah. Dalam prosesnya, pihak-pihak yang terlibat dalam
kegiatan tersebut dapat saling mendukung satu sama lain (Suharsimi Arikunto, 2013:129).
Sedangkan Penelitian Tindakan kelas, menurut Suharsimi Arikunto,dkk (2012:102)
adalah jenis penelitian ini yang mampu menawarkan cara dan prosedur baru untuk
memperbaiki dan meningkatkan profesionalisme pendidik dalam proses belajar
mengajar di kelas dengan melihat kondisi siswa, bahkan Mc.Niff (1992:1) dalam
bukunya yang berjudul Action Research Principles and Practice memandang
PTK sebagai bentuk penelitian reflektif yang dilakukan oleh pendidik sendiri
terhadap kurikulum, pengembangan sekolah, meningkatkan prestasi belajar,
pengembangan, keahlian mengajar dan sebagainya.
Prosedur Penelitian
Penelitian ini
merupakan Penelitian Tindakan Kelas (PTK) sehingga prosedur atau
langkah-langkah yang akan dilakukan dalam penelitian ini dilaksanakan dengan
kegiatan yang berbentuk siklus penelitian yang terdiri atas empat tahap. Dalam
penelitian ini, peneliti menggunakan dua siklus, setiap siklusnya terdapat satu
pertemuan.
Sebenarnya ada beberapa
ahli yang menggu-nakan model penelitian tindakan dengan bagan yang berbeda,
namun secara garis besar terdapat empat tahapan yang lazim dilalui, yaitu (1)
perencanaan, (2) pelaksanaaan, (3) pengamatan, (4) refleksi.
Rencana
Tindakan
Siklus I
Perencanaan (planning)
Dalam tahap ini peneliti
menjelaskan tentang apa, mengapa, kapan, dimana, oleh siapa, dan bagaimana
tindakan tersebut dilakukan. Penelitian tindakan kelas yang ideal sebetulnya
dilakukan secara berpasangan antara pihak yang melakukan tindakan dan pihak
yang mengamati proses jalanya tindakan. Istilah untuk cara ini adalah
penelitian kolaborasi. Cara ini dikatakan ideal karena adanya upaya untuk
mengurangi unsur subjektivitas pengamat serta mutu kecermatan amatan yang
dilakukan. Dengan mudah dapat diterima bahwa pengamatan yang diarahkan pada
diri sendiri biasanya kurang teliti disbanding dengan pengamatan yang dilakukan
terhadap hal-hal yang berada di luar diri, karena adanya unsur subjektivitas
yang berpengaruh, yaitu cenderung mengunggulkan dirinya. Apabila pengamatan
dilakukan oleh orang lain, pengamatanya lebih cermat dan hasilnya akan lebih
objektif.
Dalam tahap penyusunan rancangan
ini peneliti menentukan titik atau fokus peristiwa yang perlu mendapatkan
perhatian khusus untuk diamati, kemudian membuat sebuah instrumen pengamatan
untuk membantu penelitimerekam fakta yang terjadi selama tindakan berlangsung.
Jika pelaksanaan harus melakukan kesepakatan antara keduanya. Dikarenakan
pelaksanaan guru peneliti adalah pihak yang paling berke-pentingan untuk
meningkatkan kinerja, maka pemilihan strategi pembelajaran disesuaikan dengan
selera dan kepentingan guru peneliti, agar pelaksanaan tindakan dapat terjadi
secara wajar, realitas, dan dapat dikelola dengan mudah.
Tindakan (acting)
Tahap ke-2 dari penelitian tindakan
adalah pelaksanaan yang merupakan imple-mentasi atau penerapan isi rancangan,
yaitu mengenakan tindakan kelas. Hal yang perlu diingat adalah bahwa dalam
tahap ke-2 ini pelaksanaan guru harus ingat dan berusaha menaati apa yang sudah
dirumuskan dalam rancangan, tetapi harus pula berlaku wajar, tidak dibuat-buat.
Dalam refleksi, keterkaitan antara pelaksanaan dengan perencanaan perlu diper-hatikan
secara seksama agar sinkron dengan maksud semula.
Ketika mengajukan laporan peneli-tianya,
peneliti tidak melaporkan seperti apa perencanaan yang dibuat karena langsung
melaporkan pelaksanaan. Oleh karena itu, bentuk dan isi laporanya harus sudah
lengkap menggambarkan semua kegiatan yang dilakukan, mulai dari persiapan
sampai penyelesaian.
Pengamatan (observing)
Tahap ke-3, yaitu kegiatan
pengamatan yang dilakukan oleh pengamat. Sebetulnya sedikit kurang tepat kalau
pengamatan ini dipisahkan dengan pelaksanaan tindakan karena seharusnya
pengamatan dilakukan pada waktu tindakan sedang dilakukan. Jadi keduanya
berlangsung dalam waktu yang sama. Sebutan tahap ke-2 diberikan untuk
memberikan peluang kepada guru pelaksana yang juga berstatus sebagai pengamat..
Refleksi (reflecting)
Tahap ke-4 merupakan kegiatan untuk
mengemukakan kembali apa yang sudah dilakukan. Istilah refleksi berasal
dari kata bahasa inggris reflection, yang diterjemahkan dalam bahasa
indonesia pemantulan. Kegiatan refleksi ini sangat tepat dilakukan
ketika guru pelaksana sudah selesai melakukan tindakan, kemudian berhadapan
dengan peneliti untuk mendiskusikan implementasi rancangan tindakan. Istilah refleksi di sini
sama dengan “memantul, seperti halnya memancar dan menatap kena kaca.” Dalam
hal ini, guru pelaksana sedang memantulkan pengalaman-nya pada peneliti yang
baru saja mengamati kegiatanya dalam tindakan. Inilah inti dari penelitian tindakan,
yaitu ketika guru pelaku tindakan siap mengatakan kepada peneliti pengamat
tentang hal-halyang dirasakan sudah berjalan baik dan bagian mana yang belum.
Jika penelitian tindakan dilakukan
melalui beberapa siklus, maka dalam refleksi terakhir, peneliti menyampaikan
rencana yang dirasakan kepada peneliti lain apabila dia menghentikan
kegiatanya, atau kepada diri sendiri apabila akan melanjutkan dalam kesempatan
lain. Catatan-catatan penting yang dibuat sebaiknya rinci sehingga siapa pun
yang akan melaksanakan dalam kesempatan lain tidak akan menjumpai kesulitan.
Siklus II
Perencanaan (planning)
Dalam tahap ini peneliti
menjelaskan tentang apa, mengapa, kapan, dimana, oleh siapa, dan bagaimana
tindakan tersebut dilaku-kan. Penelitian tindakan kelas yang ideal sebetulnya
dilakukan secara berpasangan antara pihak yang melakukan tindakan dan pihak
yang mengamati proses jalanya tindakan. Istilah untuk cara ini adalah
penelitian kolaborasi. Cara ini dikatakan ideal karena adanya upaya untuk
mengurangi unsur subjektivitas pengamat serta mutu kecermatan amatan yang
dilakukan. Dalam tahap penyusunan
rancangan ini peneliti menentukan titik atau fokus peristiwa yang perlu
mendapatkan perhatian khusus untuk diamati, kemudian membuat sebuah instrumen
pengamatan untuk membantu peneliti merekam fakta yang terjadi selama tindakan
berlangsung. Jika pelaksanaan harus melakukan kesepakatan antara keduanya.
Dikarenakan pelaksanaan guru peneliti adalah pihak yang paling berkepentingan
untuk meningkatkan kinerja, maka pemilihan strategi pembelajaran disesuaikan
dengan selera dan kepentingan guru peneliti, agar pelaksanaan tindakan dapat
terjadi secara wajar, realitas, dan dapat dikelola dengan mudah.
Tindakan (acting)
Tahap
ke-2 dari penelitian tindakan adalah pelaksanaan yang merupakan implementasi
atau penerapan isi rancangan, yaitu mengenakan tindakan kelas. Hal yang perlu
diingat adalah bahwa dalam tahap ke-2 ini pelaksanaan guru harus ingat dan
berusaha menaati apa yang sudah dirumuskan dalam rancangan, tetapi harus pula
berlaku wajar, tidak dibuat-buat. Dalam refleksi, keterkaitan antara
pelaksanaan dengan perencanaan perlu diperhatikan secara seksama agar sinkron
dengan maksud semula.
Pengamatan (observing)
Tahap ke-3, yaitu kegiatan
pengamatan yang dilakukan oleh pengamat. Sebetulnya sedikit kurang tepat kalau
pengamatan ini dipisahkan dengan pelaksanaan tindakan karena seharusnya
pengamatan dilakukan pada waktu tindakan sedang dilakukan. Jadi keduanya
berlangsung dalam waktu yang sama. Sebutan tahap ke-2 diberikan untuk
memberikan peluang kepada guru pelaksana yang juga berstatus sebagai pengamat.
Ketika guru tersebut sedang melakukan tindakan, karena hatinya menyatu dengan
kegiatan, tentu tidak sempat menga-nalisis peristiwanya ketika sedang terjadi.Sambil
melakukan pengamatan balik ini, guru pelaksana mencatat sedikit demi sedikit
apa yang terjadi agar memperoleh data yang akurat untuk perbaikan siklus
berikutnya.
Refleksi (reflecting)
Tahap ke-4 merupakan kegiatan untuk
mengemukakan kembali apa yang sudah dilakukan. Istilah refleksi berasal
dari kata bahasa inggris reflection, yang diterjemahkan dalam bahasa indonesia pemantulan.
Kegiatan refleksi ini sangat tepat dilakukan ketika guru pelaksana sudah
selesai melakukan tindakan, kemudian berhadapan dengan peneliti untuk
mendiskusikan implementasi rancangan tinda-kan. Istilah refleksi di sini sama
dengan “memantul, seperti halnya memancar dan menatap kena kaca.”
Jika penelitian tindakan dilakukan
melalui beberapa siklus, maka dalam refleksi terakhir, peneliti menyampaikan
rencana yang dirasakan kepada peneliti lain apabila dia menghentikan
kegiatanya, atau kepada diri sendiri apabila akan melanjutkan dalam kesempatan
lain. Catatan-catatan penting yang dibuat sebaiknya rinci sehingga siapa pun
yang akan melaksanakan dalam kesempatan lain tidak akan menjumpai kesulitan.
Teknik Pengumpulan Data
1.
Observasi
2.
Pemberian Angket/ Kuisioner
3.
Tes
4.
Dokumentasi
Hasil Penelitian
Hasil penelitian ini
merupakan pengamatan di lapangan mengenai hasil belajar siswa dalam
pembelajaran permainan sepak bola dengan pendekatan permainan shooting
colour bagi siswa kelas VII A SMP Negeri 2 Pilangkenceng tahun pelajaran
2014/2015. Hasil penelitian ini meliputi hasil tes dan non tes selama penelitian
berlangsung. Hasil tes yaitu berupa tes pengetahuan tentang materi permaianan
sepak bola pada aspek pengetahuan dan tes untuk kerja pada aspek ketrampilan,
sedangkan hasil non tes diperoleh dari pengamatan sikap pada aspek sikap.
Pembelajaran penjas dalam permainan sepak bola dengan pendekatan permainan shooting
colour dilaksanakan 2 kali pertemuan yaitu siklus I dan siklus II.
Hasil Penelitian Siklus I
Perencanaan (Planning)
Dalam tahap ini
peneliti dan guru mata pelajaran menyusun scenario pembelajaran yang terdiri
dari:
1. Menyusun Rencana
Pelaksanaan Pembelajaran (RPP) dengan materi permainan sepak bola.
2. Menyusun instrumen tes
dalam permainan sepak bola.
3. Menyusun lembar
penilaian dan hasil pembelajaran.
4. Menyiapkan media
tambahan yang diperlukan untuk membantupembelajaran.
5. Menyiapkan tempat
penelitian dan alat pembelajaran.
Tindakan (acting)
1. Kegiatan Awal
a) Guru masuk ke kelas,
kemudian ber do’a, presensi dan apersepsi mulai dari ucapan salam, penyampaian
materi, konsep, dan tujuan pembe-lajaran.
b) Siswa di bawa
kelapangan dan dibariskan, kemudian langsung melakukan pemanasan statis dan
dinamis terlebih dahulu untuk mempersiapkan tubuh agar mengurangi
resikoterjadinya cedera pada saat pembelajaran.
2. Kegiatan Inti
a. Siswa dibagi menjadi 4
kelompok putra dan putri digabung.
b. Masing-masing kelompok
diberikan pita sebagai tanda dari kelompok masing-masing.
c. Kemudian 2 kelompok
melakukan permainan shooting colour sesuai dengan peraturan yang sudah
diberikan sebelum menuju ke lapangan dengan waktu 2x10 menit, setiap babak
memiliki waktu 10 menit dan waktu untuk pertukaran pemain 1 menit.
d. 2 kelompok sisanya
berada di pinggir lapangan untuk memberikan penilaiaan antar teman (aspek
ketrampilan) dengan menggunakan lembar penilaian yang telah disediakan oleh
peniliti.
e. Setelah kelompok pertama
selesai main giliran kelompok berikutnya giliran bermain dan kelompok yang
telah selesai bermain bergantian untuk memberikan penilaian antar teman (aspek
ketrampilan) dengan menggunakan lembar penilaian yang telah di sediakan oleh
peneliti.
f. Setelah semua kelompok
selesai melakukan pembelajaran penjas dalam permainan sepak bola dengan
pendekatan permainan shooting colour siswa kemudian dikumpulkan untuk
mengerjakan soal pengetahuan yang diberikan oleh guru.
3. Kegiatan Penutup
Dalam kegiatan penutup guru memberikan refleksi dengan hasil pembelajaran
yang telah dilakukan dalam siklus I. Memotivasi siswa yang belum maksimal dalam
pembe-lajaran pada siklus I. Kemudian membuat simpulan pembelajaran
Pengamatan (observing)
1) Penguasaan kemampuan
bermain yang beragam dari karakteristik siswa, baik dalam segi teknik maupun
taktik. Ada siswa yang dapat dikategorikan memiliki teknik bermain yang cukup
bagus, akan tetapi ada juga siswa yang masih sangat asing dengan permainan
sepak bola.
2) Siswa cenderung kurang
memperhatikan apa yang sudah dijelaskan dan dicontohkan oleh guru.
3) Keragaman karakteristik
siswa harus diperhatikan oleh guru dengan cara menjelaskan yang lebih singkat,
jelas, dan dimengerti pemahaman polapermainan sepak bola baik dari segi teknik
maupun taktik.
Refleksi (reflecting)
a) Berikan umpan balik (feed
back), seperti pujian dengan penghargaan dari apa yang sudah dilakukan oleh
siswa.
b) Selalu memberikan
kesempatan bergerak lebih banyak terhadap anak sehingga pengalaman belajar bisa
meningkat seperti memanfaatkan jumlah bola untuk aktivitas gerak siswa.
c) Berikan penjelasan dan
contoh yang baik supaya siswa lebih memahami materi yang sedang diajarkan.
d) Eksplorasi potensi
siswa seperti bertanya kepada siswa tentang pemahaman bermain sepak bola.
e) Posisi guru lebih
ditingkatkan dengan berkeliling supaya aktivitas siswa dapat lebih terkontrol/
terawasi. Berikan tindak lanjut kepada siswa terkait materi yang telah
disampaikan.
Hasil Penelitian siklus II
Perencanaan (Planning)
1. Menyusun RPP dengan
materi permainan sepak bola.
2. Menyusun instrumen tes
dalam permainan sepak bola.
3. Menyusun lembar
penilaian dan hasil pembelajaran.
4. Menyiapkan media
tambahan yang diperlukan untuk membantu
5. pembelajaran.
6. Menyiapkan tempat
penelitian dan alat pembelajaran.
Tindakan (Acting)
1. Kegiatan Awal
a. Guru masuk ke kelas,
kemudian ber do’a, presensi dan apresepsi mulai dari ucapan salam, penyampaian
materi, konsep, dan tujuan pembelajaran.
b. Siswa di bawa
kelapangan dan dibariskan, kemudian langsung melakukan pemanasan statis dan
dinamis terlebih dahulu untuk mempersiapkan tubuh agar mengurangi resikoter
jadinya cedera pada saat pembelajaran.
2. Kegiatan Inti
1) Siswa di bagi menjadi 4
kelompok putra dan putri di gabung.
2) Masing-masing kelompok
di berikan pita sebagai tanda dari kelompok masing-masing.
3) Kemudian 2 kelompok
melakukan permainan shooting colour sesuai dengan peraturan yang sudah
diberikan sebelum menuju ke lapangan dengan waktu 2x10 menit, setiap babak
memiliki waktu 10 menit dan waktu untuk pertukaran pemain 1 menit.
4) 2 kelompok sisanya
berada di pinggir lapangan untuk memberikan penilaiaan antar teman (aspek
psikomotor) dengan menggunakan lembar penilaian yang telah di sediakan oleh
peniliti.
5) Setelah kelompok
pertama selesai main giliran kelompok berikutnya giliran bermain dan kelompok
yang telah selesai bermain bergantian untuk memberikan penilaian antar teman
(aspek psikomotor) dengan menggunakan lembar penilaian yang telah di sediakan
oleh peneliti.
6) Setelah semua kelompok
selesai melakukan pembelajaran penjas dalam permainan sepak bola dengan
pendekatan permainan shooting colour siswa kemudian dikumpulkan untuk
mengerjakan soal pengetahuan yang diberikan oleh guru.
3. Kegiatan Penutup
Dalam kegiatan penutup
guru memberikan refleksi dengan hasil pembelajaran yang telah dilakukan dalam
siklus II. Memotivasi siswa yang belum maksimal dalam pembelajaran pada siklus
II. Kemudian membuat simpulan pembelajaran.
Pengamatan (Observing)
Hasil dari pengamatan
pembelajaran penjas dalam permainan sepak bola dengan pendekatan permainan shooting
colour pada siklus II, siswa sudah lebih aktif dalam bergerak mencari dan
membawa bola dan dengan itu juga perolehan nilai siswa pada aspek psikomotor
diatas batas minimal. Siswa lebih banyak aktif dalam bergerak mencari dan
menerima bola sehingga hasilnya meningkat di bandingkan pertemuan sebelumnya.
Peneliti juga melakukan
pengambilan dokumentasi untuk memperkuat dan sebagai bukti dari hasil
penelitian yang telah dilakukan.
Refleksi (reflecting)
a) Aktivitas siswa dari
aspek afektif, aspek kognitif dan aspek psikomotor menunjukan arah yang lebih
baik.
b) Bermain adalah dunia
anak, pembelajaran melalui pendekatan permainan bisa meningkatkan ranah sikap,
pengetahuan materi, dan ketrampilan gerak siswa.
Pembahasan Siklus I
Dari hasil pembelajaran
siklus I, siswa masih banyak yang belum berhasil dalam melakukan beberapa
teknik yang ada dalam permainan shooting colour. Siswa masih belum
terbiasa dengan permainan shooting colour yang menggunakan gawang yang
dimodifikasi tersebut. Masih banyak peraturan yang dilanggar dari teknik
samapai denagan batas melakukan shooting.
Hasil belajar tersebut
diambil dari 3 aspek yaitu sebagai berikut:
1. Aspek Pengetahuan Siklus I
Hasil belajar aspek pengetahhuan pada pembelajaran penjas dalam permainan
sepak bola dengan pendekatan permainan shooting colour dapat dilihat
sebagai berikut:
Dari hasil belajar aspek pengetahuan pada pembelajaran penjas
dalam permainan sepak bola dengan pendekatan permainan shooting colour ketuntasan
sebanyak 16 siswa atau 47,06%, sedangkan yang tidak tuntas sebanyak 18 siswa
atau 52,94%. Siswa yang belum tuntas pada aspek pengetahuan siklus I banyak
yang salah menjawab pada soal kepanjangan dari FIFA, teknik dasar sepak bola,
ukuran lapangan pada permainan shooting colour, jumlah warna yang
digunakan dalam permainan shooting colour dan lama waktu permainan.
Berdasarkan hasil pembelajaran tersebut dapat di simpulkan bahwa tingkat
ketuntasan aspek kognitif dalam siklus I masih sangat rendah dengan jumlah
siswa yang tidak tuntas lebih banyak dari pada jumlah siswa yang tuntas.
2. Aspek Sikap Siklus I
Hasil belajar aspek sikap pada pembelajaran penjas dalam permainan
sepak bola dengan pendekatan permainan shooting colour dapat dilihat
pada table berikut:
Dari hasil belajar aspek sikap pada pembelajaran penjas dalam
permainan sepak bola dengan pendekatan permainan shooting colour tingkat
ketuntasan sebanyak 25 siswa atau 73,53%, sedangkan yang tidak tuntas sebanyak
9 siswa atau 26,47%. Siswa yang belum tuntas pada aspek sikap siklus I
dikarenakan masih banyak yang tidak bertanggung jawab pada saat pembelajaran berlangsung
dan sebagian siswa masih kurang disiplin pada saat pembelajaran.
3. Aspek Keterampilan Siklus I
Hasil belajar aspek keterampilan pada pembelajaran penjas dalam permainan
sepak bola dengan pendekatan permainan shooting colour dapat dilihat
pada tabel berikut:
Dari hasil belajar aspek keterampilan pada pembelajaran penjas
dalam permainan sepak bola dengan pendekatan permainan shooting colour tingkat
ketuntasan sebanyak 20 siswa atau 58,82%, sedangkan yang tidak tuntas sebanyak
14 siswa atau 41,18%. Siswa yang belum tuntas pada aspek keterampilan siklus I
dikarenakan belum maksimal dalam melaksanakan teknik dasar sepak bola dalam
permainan shooting colour (passing dan control).
Berdasarkan hasil siklus I tersebut dapat disimpulkan bahwa
tingkat ketuntasan aspek keterampilan masih rendah karena belum memenuhi
kriteria ketuntasan belajar minimal yaitu masih dibawah 75%.
Dari hasil
pembelajaran pada siklus I yang terdapat dalam tabel tersebut, menunjukan bahwa
tingkat keberhasilan penggunaan pendekatan permainan shooting colour pada
pembelajaran penjas dalam permainan sepak bola dengan menggunakan pendekatan
permainan shooting colour masih cukup rendah. Siswa yang tuntas belajar
dengan model tersebut sebanyak 21 siswa atau 61,76%, sedangkan siswa yang belum
tuntas sebanya 13 siswa atau 38,24%. Siswa yang belum tuntas pada pembelajaran
siklus I dikarenakan pada tiap aspek masih rendah.
Pembahasan Siklus II
Setelah pembelajaran
pada siklus I, dalam pembelajaran siklus II ini lebih banyak difokuskan pada
permainan shooting colour. Dari hasil pembelajaran, aktivitas gerak dan
kemampuan siswa dalam permainan sepak bola meningkat. Banyak siswa yang
memperoleh nilai diatas batas minimal ketuntasan. Hasil belajar tersebut
diambil dari 3 aspek yaitu sebagai berikut:
1. Aspek Pengetahuan Siklus II
Hasil belajar aspek pengetahuan pada pembelajaran penjas dalam permainan
sepak bola dengan pendekatan permainan shooting colour dapat dilihat
sebagai berikut:
Dari hasil belajar aspek pengetahuan pada pembelajaran penjas
dalam permainan sepak bola dengan pendekatan permainan shooting colour ketuntasan
sebanyak 26 siswa atau 76,47%, sedangkan yang tidak tuntas sebanyak 8 siswa
atau 23,53%. Siswa yang belum tuntas pada aspek pengetahuan siklus II banyak
yang salah menjawab pada soal kepanjangan dari FIFA, dan jumlah warna yang
digunakan dalam permainan shooting colour dan lama waktu permainan. Berdasarkan
hasil belajar aspek pengetahuan pada siklus II tersebut dapat disimpulkan bahwa
tingkat ketuntasan sudah baik dengan jumlah siswa yang tuntas meningkat dari
siklus I.
2. Aspek Sikap Siklus I
Hasil belajar aspek sikap pada pembelajaran penjas dalam permainan
sepak bola dengan pendekatan permainan shooting colour dapat dilihat dari
hasil permainan sepak bola dengan
pendekatan permainan shooting colour tingkat ketuntasan sebanyak 28
siswa atau 82,35%, sedangkan yang tidak tuntas sebanyak 6 siswa atau 17,65%.
Siswa yang belum tuntas pada aspek sikap siklus II dikarenakan masih banyak
yang tidak bertanggung jawab pada saat pembelajaran berlangsung dan sebagian
siswa masih kurang disiplin pada saat pembelajaran.
Berdasarkan hasil siklus II tersebut dapat disimpulkan bahwa
tingkat ketuntasan aspek sikap sudah baik.
3. Aspek Keterampilan Siklus II
Hasil belajar aspek keterampilan pada pembelajaran penjas dalam permainan
sepak bola dengan pendekatan permainan shooting colour dapat dilihat
pada tabel berikut:
Dari hasil belajar aspek keterampilan pada pembelajaran penjas
dalam permainan sepak bola dengan pendekatan permainan shooting colour tingkat
ketuntasan sebanyak 28 siswa atau 82,35%, sedangkan yang tidak tuntas sebanyak
6 siswa atau 17,65%. Siswa yang belum tuntas pada aspek keterampilan siklus II
dikarenakan belum maksimal dalam melaksanakan teknik dasar sepak bola dalam
permainan shooting colour (passing dan control). Berdasarkan
hasil belajar aspek keterampilan pada siklus II tersebut dapat disimpulkan
mengalami peningkatan dari siklus I. Niali rata-rata pada siklus II juga
mengalami peningkatan menjadi 77,87%.
4. Rekapitulasi Hasil Belajar Siklus II
Hasil pembelajaran penjas dalam permainan sepak bola dengan
pendekatan permainan shooting colour pada siswa kelas VII A yaitu pada
tabel sebagai berikut:
Dari hasil pembelajaran pada siklus II yang terdapat dalam tabel
tersebut, menunjukan bahwa tingkat keberhasilan pembelajaran penjas dalam
permainan sepak bola dengan pendekatan permainan shooting colour meningkat.
Siswa yang tuntas belajar dengan model tersebut sebanyak 26 siswa atau 76,47%, sedangkan
siswa yang belum tuntas sebanya 8 siswa atau 23,53%. Siswa yang belum tuntas
pada pembelajaran siklus II dikarenakan pada tiap aspek masih rendah sehingga
nilai akhir pembelajaran belum mencapai kriteria ketuntasan minimal. Nilai
rata-rata siklus II juga meningkat menjadi 82 dari siklus I yang hanya 77.
Simpulan
Berdasarkan hasil
penelitian dan pembahasan yang telah diuraikan, maka dapat disimpulkan
pembelajaran dengan pendekatan permainan shooting colour mampu mening-katkan
hasil belajar dan mampu meningkatkan aktivitas gerak siswa dalam permainan
sepak bola bagi siswa kelas VII A SMP Negeri 2 Pilangkenceng tahun pelajaran 2015/2016. Peningkatan hasil belajar
dan keaktivan gerak siswa dalam permainan sepak bola tersebut dapat dilihat
dari tingkat ketuntasan nilai siswa pada siklus I dan siklus II. Pada siklus I presentase
nilai ketuntasan mencapai 61,76%, dan siklus II mencapai 76,47%.
Peningkatan hasil
belajar siswa dalam permainan sepak bola dengan menggunakan pendekatan
permainan shooting colour dari siklus I ke siklus II adalah sebesar
14,71%.
Saran
Berdasarkan simpulan
yang telah diuraikan pembelajaran penjas dengan pendekatan permainan shooting
colour dapat dijadikan alternatif untuk meningkatkan hasil belajar siswa
dalam permainan sepak bola.
DAFTAR KEPUSTAKAAN
Abdul
Rohim. 2008: Bermain Sepak Bola. Semarang: CV. Aneka Ilmu Achmad Rifa’i
dan Chatarina Tri Anni. 2010. Psikologi Pendidikan. Semarang:Unnes
Press.
Adang
Suherman. 2000: Dasar-dasar Penjaskes. Jakarta: Depdikbud.
Ade (2015).
Identitas dan karakteristik siswa SMP Serta Metode Pembelajaran. (online).
Tersedia: http://www.scribd.com/doc/26566827/Identitas-Dan- Karakteristik-Siswa-Smp-Metode-Pembelajaran.
(accesed: 16/09/2015)
Agus Salim.
2008. Buku Pintar Sepak Bola. Bandung:Nuansa
Ali Maksum.
2008. Psikologi Olahraga Teori dan Aplikasi.Surabaya: UnesaUniversity
Press.
Amung
Ma’mun, Yudha M. Saputra. 2000. Perkembangan Gerak dan Belajar Gerak.
Jakarta: Depdiknas.
Husdarta.
2009. Menejemen Pendidikan Jasmani. Bandung: Alfabeta
Husdarta
dan Yudha M. Saputra. 2000. Belajar dan Pembelajaran. Jakarta: Departemen
Pendidikan Nasional
Milke
Danny. 2007. Dasar Dasar Sepak Bola. Bandung: Pecan Raya
Sucipto
dkk. 2000. Sepak Bola. Departemen Pendidikan Nasional.
Suharsimi
Arikunto dkk. 2010. Penelitian Tindakan Kelas. Jakarta: Bumi Aksara.
Suharsimi
Arikunto. 2013. Prosedur Penelitian. Jakarta: Rineka Cipta.
Sukintaka.
1992. Teori Bermain Penjaskes. Jakarta: Depdikbud, Dirjen Dikti.
Trianto.2012.
Panduan Lengkap Penelitian Tindakan Kelas Teori dan Praktek.Jakarta: Prestasi
Pustakaraya.
Yoyo
Bahagia, Adang Suherman. 2000. Prinsip-prinsip Pengembangan Dan Modifikasi
Cabang Olahraga. Jakarta: Depdikbud
Tidak ada komentar:
Posting Komentar