Senin, 01 Oktober 2018

UPAYA MENINGKATKAN HASIL BELAJAR SISWA DALAM PEMBELAJARAN SEPAK BOLA DENGAN PENDEKATAN PERMAINAN SHOOTING COLOUR PADA SISWA KELAS VII A SMP N 2 PILANGKENCENG KABUPATEN MSDIUN TAHUN PELAJARAN 2015/2016


UPAYA MENINGKATKAN HASIL BELAJAR SISWA DALAM PEMBELAJARAN SEPAK BOLA DENGAN PENDEKATAN PERMAINAN SHOOTING COLOUR PADA SISWA KELAS VII A SMP N 2 PILANGKENCENG  KABUPATEN MSDIUN
TAHUN PELAJARAN 2015/2016

Oleh : Paidi, S.Pd
Guru SMP Negeri 2 Pilangkenceng Kabupaten Madiun

ABSTRAK
Kata kunci : permainan, sepak bola, shooting colour.

Latar belakang penelitian, karena hasil belajar siswa dalam pembelajaran sepak bola pada siswa kelas VII A SMP N 2 Pilangkenceng Kab. Madiun , siswa kurang antusias dalam mengikuti pembelajaran, siswa lebih suka menunggu bola datang dari pada bergerak mengejar bola. Permasalahan penelitian, apakah dengan pendekatan permainan shooting colour dapat meningkatkan hasil belajar siswa dalam permainan sepak bola bagi siswa kelas VII A SMP N 2 Pilangkenceng Kab. Madiun tahun pelajaran 2015/2016 ? Tujuan penelitian ini adalah untuk meningkatkan hasil belajar siswa dalam pembelajaran sepak bola dengan pendekatan permainan shooting colour pada siswa kelas VII A SMP N 2 Pilangkenceng Kab. Madiun Tahun Pelajaran 2015/2016.
Jenis Penelitian Tindakan Kelas yang dilaksanakan dalam siklus 2. Subjek penelitian seluruh siswa kelas VII A yang berjumlah 34 siswa, terdiri dari 12 orang siswa laki-laki dan 22 orang siswa perempuan. Teknik pengumpulan data observasi berupa dokumen dan foto.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa pembelajaran penjasorkes dalam permainan sepak bola dengan pendekatan permainan shooting colour meningkat. Terlihat dari persentase ketuntasan belajar siswa dari semua aspek pada siklus I yaitu sebesar 61,76% meningkat pada siklus II menjadi 76,47%. Ketuntasan hasil belajar siswa pada setiap siklus dirata-rata dari aspek pengetahuan, aspek sikap dan aspek keterampilan. Ketuntasan belajar aspek pengetahuan pada siklus I yaitu sebesar 47,06 %, pada siklus II sebesar 76,47%. Ketuntasan belajar aspek sikap pada siklus I yaitu sebesar 73,53%, siklus II sebesar 82,35%. Ketuntasan belajar aspek keterampilan pada siklus I yaitu sebesar 58,82%, siklus II sebesar 82,35%. Peningkatan hasil belajar tiap aspek pada penelitian ini, aspek pengetahuan 29,41%, aspek sikap 8,82%, aspek
keterampilan 23,53%.
Berdasarkanhasil penelitian bahwa pembelajaran penjas dalam permainan sepak bola dengan pendekatan permainan shooting colour dapat meningkatkan hasil belajar siswa sebesar 14,71%. Saran yang dapat disampaikan dari penelitian ini diharapkan pembelajaran penjas dengan pendekatan permainan shooting colour dapat dijadikan alternatif untuk meningkatkan hasil belajar siswa dalam permainan sepak bola.


Latar Belakang Masalah
Pendidikan pada hakekatnya merupakan usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran yang baik agar peserta didik secara aktif mengem-bangkan potensi dirinya. Salah satu komponen pendidikan adalah pendidikan jasma-ni.
Pendidikan jasmani secara keseluruhan telah disadari oleh banyak kalangan sebagai pendidikan untuk mengembangkan gerak dasar siswa, tetapi dalam pelaksanaan pembelajaran pendidikan jasmani belum dapat berjalan secara maksimal.Konsep dasar pendidikan jasmani dan model pembelajaran jasmani yang efektif perlu dikuasai oleh para guru yang hendak memberikan pembelajaran pendidikan jasmani. Guru harus dapat mengajarkan berbagai gerak dasar, teknik permainan olahraga, internalisasi nilai (sportifitas, kerjasama dll) menjadi pembiasaan pola hidup sehat. Melalui pendidikan jasmani diharapkan siswa dapat memperoleh berbagai pengalaman untuk mengungkapkan kesan pribadi yang lebih menyenangkan, kreatif, inovatif, terampil, meningkatkan dan memelihara kesegaran jasmani serta pemahaman terhadap gerak manu-sia.
Salah satu permainan olah raga yang merupakan perwujudan dari aktivitas jasmani adalah permainan sepak bola. Sepak bola merupakan permainan beregu, masing-masing regu terdiri dari 11 (sebelas) orang pemain dan salah satunya adalah penjaga gawang. Dalam sepak bola permainan ini hampir seluruhnya dimainkan menggunakan tungkai, kecuali penjaga gawang yang diperbolehkan menggunakan lengannya di daerah tendangan hukumannya.(Sucipto,dkk,2000: 7).
Adapun tujuan dari permainan sepak bola adalah pemain harus memasukkan bola sebanyak-banyaknya ke gawang lawan dan berusaha menjaga gawangnya sendiri agar tidak kemasukan. Selain tujuan tersebut, yang paling utama dari permainan sepak bola dalam dunia pendidikan, adalah untuk pendidikan jasmani, yang diharapkan bisa menjadi mediator untuk mendidik anak agar kelak menjadi anak yang cerdas, terampil, jujur dan sportif.
Dalam pembelajaran pendidikan jasmani, guru harus dapat mengajarkan berbagai gerak dasar, teknik permainan olahraga, internalisasi nilai-nilai (sportifitas, kerjasama, dll). Penyelenggara program pendidikan jasmani hendaknya mencerminkan karakteristik program pendidikan jasmani itu sendiri, yaitu “Developmentally Appropriate Practise” (DAP). Artinya, tugas ajar yang diberikan harus memperhatikan perubahan kemampuan anak dan dapat membantu mendorong perubahan tersebut. Sehingga tugas ajar tersebut harus sesuai dengan tingkat perkembangan anak didik yang sedang belajar.
Modifikasi merupakan salah satu usaha yang dapat dilakukan oleh para guru agar pembelajaran mencerminkan DAP. Oleh karena itu, DAP termasuk didalamnya “Body scaling” atau ukuran tubuh siswa, harus dijadikan prinsip utama dalam memodifikasi pembelajaran pendidikan jasmani, olahraga dan kesehatan. Esensi modifikasi adalah menganalisa sekaligus mengembangkan materi pelajaran dengan cara mencantumkannya dalam bentuk efektifitas belajar yang potensial sehingga dapat memperlancar siswa dalam belajar. Cara ini dimaksudkan untuk menuntun, mengarahkan dan membelajarkan siswa dari yang tadinya tidak bisa menjadi bisa, dari tingkat yang rendah ke tingkat yang lebih tinggi, dari yang tadinya kurang terampil menjadi lebih terampil (Yoyo Bahagia,dkk , 2000:1)
Minat siswa terhadap pendidikan jasmani yang masih rendah harus ditangkal mengingat banyaknya tujuan pendidikan yang bisa dicapai melalui pendidikan jasmani. Agar kaidah-kaidah dan nilai-nilai pendidikan jasmani dapat menjadi sebuah hal yang menarik bagi siswa, dibutuhkan kreatifitas yang tinggi dari guru pendidikan jasmani. Selain itu guru harus bisa mencari sesuatu yang baru dalam proses pembelajaran yang inovatif, sehingga dapat menumbuhkan minat siswa untuk belajar dan ingin tahu. Pemahaman akan arti pendidikan jasmani pada siswa juga ikut berperan membangkitkan minat siswa dalam belajar. Dengan metode yang tepat dan informasi yang benar akan dapat menarik minat siswa untuk mengikuti proses pembelajaran pendidikan jasmani.
Tidak kalah penting juga tersedianya prasarana dan sarana yang ada di sekolah masing-masing.
Rusli Lutan (1988) menyatakan bahwa modifikasi dalam mata pelajaran pendidikan jasmani diperlukan, dengan tujuan agar:
a)     Siswa memperoleh kepuasan dalam mengikuti pelajaran;
b)     Meningkatkan kemungkinan keberhasilan dalam berpartisipasi;
c)     Siswa dapat melakukan pola gerak secara benar.
Pendekatan modifikasi ini dimaksudkan agar materi yang ada dalam kurikulum dapat disajikan dengan tahap-tahap perkembangan kognitif, eaektif dan psikomotorik anak.
Menurut Aussie (1966), pengembangan modifikasi dilakukan dengan pertimbangan :
a)     Anak-anak belum memiliki kematangan fisik dan emosional seperti orang dewasa ;
b)     Berolah raga dengan peralatan dan peraturan yang dimodifikasi akan mengurangi cedera pada anak;
c)     Olahraga yang dimodifikasi akan mampu mengembangkan ketrampilan anak lebih cepat dibanding dengan peralatan standar untuk orang dewasa;
d)     Olahraga yang dimodifikasi akan menumbuhkan kegembiraan dan kesenangan pada anak-anak dalam situasi kompetitif.
Dari pendapat tersebut di atas dapat diartikan bahwa pendekatan modifikasi dapat digunakan sebagai suatu alternatif dalam pembelajaran pendidikan jasmani, karena pendekatan ini mempertimbangkan tahap-tahap perkembangan dan karakteristik anak, sehingga anak akan dapat mengikuti pelajaran pendidikan jasmani dengan senang dan gembira.
Setelah melakukan pengamatan dan observasi dengan melakukan wawancara kepada guru penjasorkes SMP Negeri 2 Pilangkenceng Kab. Madiun, bahwa pembelajaran penjasorkes pada materi permainan sepak bola masih diajarkan sesuai dengan permainan sepak bola pada aslinya. Sedangkan permainan sepak bola konvensional yang berdasarkan aturan sesungguhnya, kurang sesuai dengan karak-teristik psikomotor anak usia sekolah menengah pertama. Karena lapangan yang terlalu luas dan sarana seperti gawang terlalu besar sehingga frekuensi siswa untuk merasakan permainan terutama menendang bola sangat kurang apalagi untuk mencetak poin. Dalam pembelajaran permainan sepak bola siswa kurang antusias, siswa lebih suka menunggu bola datang daripada bergerak mengejar bola. Hanya siswa yang mempunyai kemampuan lebih yang mau bergerak mengejar bola.
Prasarana dan sarana yang tersedia untuk pembelajaran penjasorkes di SMP Negeri 2 Pilangkenceng Kab. Madiun bisa dikatakan cukup, karena tersedianya lapangan sepak bola untuk para siswa SMP Negeri 2 Pilangkenceng Kab. Madiun.
Sesuai dari penjelasan latar belakang tersebut, pendekatan pembelajaran penjasorkes dengan melakukan modifikasi permainan sangat diperlukan untuk kebutuhan gerak siswa. Sehubungan dengan hal tersebut maka peneliti tertarik untuk melakukan penelitian dengan judul “Upaya Meningkatkan Hasil Belajar Siswa dalam Pembelajaran Sepak Bola Dengan Pendekatan Permainan Shooing Colour Pada Siswa Kelas VII A SMP N 2 Piangkenceng  Kab. Madiun Tapela 2015 / 2016

Rumusan Masalah
Apakah pendekatan permainan shooting colour dapat meningkatkan hasil belajar siswa dalam permainan sepak bola bagi siswa kelas VII A SMP N 2 Pilangkenceng Kab. Madiun tahun pelajaran 2015/2016 ?

Tujuan Penelitian
Penelitian ini bertujuan untuk meningkatkan hasil belajar siswa dalam permainan sepak bola dengan pendekatan permainan Shooting ColourPada Siswa Kelas VII A SMP N 2 Pilangkenceng Kab. Madiun.

Manfaat penelitian
1. Bagi Siswa
Melatih siswa untuk lebih aktif dalam mengikuti pembelajaran penjasorkes terutama dalam materi permainan sepak bola menggunakan pendekatan permainan shooting colour.
2. Bagi Guru
Sebagai masukan untuk guru dalam melakukan modifikasi permainandalam pembelajaran penjasorkes guna menciptakan proses pembelajaran yang lebih inovatif supaya tujuan belajar dapat tercapai secara maksimal.
3. Bagi sekolah
Sebagai masukan dalam proses pembelajaran pendidikan jasmani untuk lebih kreatif terhadap proses belajar mengajar pendidikan jasmani olahraga dan kesehatan, serta lebih memberikan dukungan terhadap proses pembelajaran pendidikan jasmani.
4. Bagi Peneliti
Memperoleh pengalaman dalam melakukan penelitian, sehingga bisa menjadi bahan pertimbangan dan menambah wawasan pengetahuan yang berguna dalam pengembangan metode pembelajaran pendidikan jasmani di masa yang akan datang.

Hipotesa Tindakan
Ada peningkatan hasil pembelajaran bermain sepak bola melalui pendekatan Permainan Shooing Colour siswa kelas VII A SMP N 2 Pilangkenceng Kab. Madiun tahun pelajaran 2015/2016.

Kajian Pustaka
Pengertian Pembelajaran
Gegne dalam buku (Achmad Rifa’i RC dan Chatarina Tri Anni, 2010:192) menyatakan bahwa pembelajaran merupakan serangkaian peristiwa eksternal peserta didik yang dirancang untuk mendukung proses internal belajar. Menurut Briggs masih dalam buku (Achmad rifa’i RC dan Chatarina Tri Anni, 2010:193) menjelaskan bahwa pembelajaran adalah seperangkat peristiwa yang mempengaruhi peserta didik sedemikian rupa sehingga peserta didik itu memperoleh kemudahan dalam berinteraksi berikutnya dengan lingkungan. Pengertian pembelajaran adalah usaha pendidik membentuk tingkah laku yang diinginkan dengan menyediakan lingkungan, agar terjadi hubungan stimulus (lingkungan) dengan tingkah laku peserta didik (Achmad Rifa’i RC dan Chatarina Tri Anni, 2010:192).
Pembelajaran merupakan prsoses komunikasi antara pendidik dengan peserta didik atau antar peserta didik. dari beberapa penjelasan di atas dapat disimpulkan bahwa pengertian pembelajaran adalah serangkaian usaha yang dilakukan pendidik untuk membentuk tingkah laku peserta didik dengan melibatkan faktor eksternal seperti lingkungan belajarnya.

Pengertian Belajar dalam Bermain
Memahami arti pendidikan jasmani, kita harus juga mempertimbangkan hubungan antara bermain (play) dan olahraga (sport), sebagaimana istilah yang lebih dahulu popular dan lebih sering digunakan dalam konteks kegiatan seharihari pemahaman tersebut akan membantu para guru atau masyarakat dalam memahami peran dan fungsi pendidikan jasmani secara konseptual.
Bermain pada intinya adalah aktivitas yang digunakan sebagai hiburan. Kita mengartikan bermain sebagai hiburan yang bersifat fisikal yang tidak kompetitif, meskipun bermain tidak harus bersifat fisik. Bermain bukanlah berarti olahraga dan pendidikan jasmani, meskipun elemen dari bermain dapat ditemukan keduanya. Olahraga di pihak lain adalah suatu bentuk bermain yang terorganisir dan bersifat kompetitif.
Bermain, olahraga dan pendidikan jasmani melibatkan bentuk-bentuk gerakan, dan ketiganya dapat melumat secara pas dalam konteks pendidikan jika digunakan untuk tujuan-tujuan pendidikan. Bermain dapat mebuat rilaks dan menghibur tanpa adanya tujuan pendidikan, seperti juga olahraga tetap eksis tanpa adanya tujuan pendidikan. Misalnya olahraga profesional dianggap tidak punya misi kependidikan apa-apa, tetapi tetap disebut sebagai olahraga.
Olahraga dan bermain dapat eksis meskipun secara murni untuk kepentingan  kesenangan, untuk kepentingan pendidikan, atau untuk kombinasi keduanya.
Kesenangan dan pendidikan tidak harus dipisahkan secara eksklusif, keduanya dapat dan harus beriringan bersama (Husdarta, 2009:6-7).

Permainan Sepak Bola
Menurut Sucipto dkk,(2000:7) sepak bola merupakan permainan beregu, masing-masing regu terdiri dari sebelas pemain, dan salah satunya penjaga gawang. Permainan ini hampir seluruhnya dimainkan dengan menggu-nakan tungkai, kecuali penjaga gawang yang diperbolehkan menggunakan lenganya di daerah tendangan hukuman. Dalam perkembangan permainan ini dapat dimainkan di luar lapangan (out door) dan diruangan tertutup (in door). Sedangkan menurut (Abdul rohim, 2008:1) permainan sepak bola merupakan permainan beregu karena dimainkan oleh 11 orang dari masingmasing regunya, dari anak-anak sampai orang dewasa menggemari dan menyenangi permainan ini, karena untuk bermain sepak bola tidak terlalu banyak mengeluarkan biaya dan dapat dilaksanakan di tempat-tempat terbuka sekalipun bukan lapangan yang sebenernya.

Modifikasi Permainan
Yoyo Bahagia (2000:1) menyatakan bahwa dalam suatu pembelajaran khususnya pembelajaran pendidikan jasmani disekolah bisa dilakukan dengan menggunakan modifikasi. Modifikasi merupakan salah satu usaha yang dapat dilakukan oleh para guru agar pembelajaran mencerminkan DAP (Developmentally Appropriate Pratice), yang artinya bahwa tugas ajar yang diberikan harus memperhatikan perubahan kemampuan anak dan dapat membantu mendorong perubahan tersebut. Oleh karena itu tugas ajar tersebut harus sesuai dengan tingkat perkembangan anak didik yang sedang belajar. Tugas ajar yang sesuai ini harus mampu mengakomodasi setiap perubahan dan perbedaan karakteristik setiap individu serta mendorongnya kearah perubahan yang lebih baik.
Modifikasi merupakan salah satu usaha yang dapat dilakukan oleh para guru agar pembelajaran mencerminkan DAP. Termasuk didalam “body scaling” atau ukuran tubuh siswa, harus selalu dijadika prinsip utama dalam memodifikasi pembelajaran penjas. (Yoyo Bahagia dan Adang Suherman, 2000:1). Esensi modifikasi adalah menganalisis sekaligus mengembangkan materi pembelajaran dengan cara meruntunya dalam bentuk aktifitas belajar yang potensial sehingga dapat memperlancar siswa dalam belajarnya. Cara ini dimaksudkan untuk menuntun, mengarahkan, dan membelajarkan siswa yang tadinya tidak bisa menjadi bisa, yang tadinya kurang terampil menjadi lebih terampil. Cara-cara guru memodifikasi pembelajaran akan tercermin dari akatifitas pembelajaranya yang diberikan guru dari awal pelajaran sampai akhir pelajaran. Seharusnya guru-guru penjas juga harus mengetahui apa saja yang bisa dan harus dimodifikasi serta tau bagaimana cara memodifikasinya. Modifikasi sarana maupun prasarana, tidak akanmengurangi aktifitas siswa dalam melaksanakan pembelajaran pendidikan jasmani.Bahkan sebaliknya, karena siswa bisa difasilitasi untuk lebih banyak bergerak, melalui pendekatan bermaian dalam suasana riang gembira.Jangan lupa bahwa kata kunci pendidikan jasmani adalah “Bermain-bergerak-ceria”. Lutan (1988) dalam buku(Samsudin, 2008:58-60), menyatakan modifikasi dalam mata pelajaran pendidikan jasmani diperlukan dengan tujuan agar:
a)   Siswa memperoleh kepuasan dalam mengikuti pembelajaran.
b)   Meningkatkan kemungkinan keberhasilan dalam berpartisipasi.
c)   Siswa dapat melakukan pola gerak secara benar.
Pendekatan modifikasi ini dimaksudkan materi yang ada dikurikulum dapat disajikan sesuai dengan tahpan-tahapan perkembangan kognitif, afektif dan psokomotor anak. Berdasarkan penelitian ini modifikasi yang dibuat adalah modifikasi permaian shooting colour.

Permainan Shooting Colour
Shooting Colour adalah permainan sejenis permainan sepak bola yang dibagi menjadi 2 tim, yang masing-masing tim beranggotakan 8-10 orang. Teknik dasar yang digunakan yaitu shooting, passing, control. Cara mencatak poin dengan memasukan bola kearah gawang dimana gawang tersebut dibagi menjadi 3 bagian warna yang berbeda, yaitu warna merah dan warna biru, diamana biru di letakan di tengah gawang dan merah dibagian samping kanan dan samping kiri.

Metode Penelitian
Menurut pengertiannya penelitian tindakan adalah penelitian tentang halhal yang terjadi di masyarakat atau kelompok sasaran, dan hasilnya langsung dapat dikenakan pada masyarakat yang bersangkutan. Ciri atau karakteristik utama dalam penelitian tindakan adalah adanya partisipasi dan kolaborasi antara peneliti dengan anggota kelompok sasaran.
Penelitian tindakan adalah salah satu strategi pemecahan masalah yang memanfaatkan tindakan nyata dalam bentuk proses pengembangan inovatif yang “dicoba sambil jalan” dalam mendeteksi dan memecahkan masalah. Dalam prosesnya, pihak-pihak yang terlibat dalam kegiatan tersebut dapat saling mendukung satu sama lain (Suharsimi Arikunto, 2013:129). Sedangkan Penelitian Tindakan kelas, menurut Suharsimi Arikunto,dkk (2012:102) adalah jenis penelitian ini yang mampu menawarkan cara dan prosedur baru untuk memperbaiki dan meningkatkan profesionalisme pendidik dalam proses belajar mengajar di kelas dengan melihat kondisi siswa, bahkan Mc.Niff (1992:1) dalam bukunya yang berjudul Action Research Principles and Practice memandang PTK sebagai bentuk penelitian reflektif yang dilakukan oleh pendidik sendiri terhadap kurikulum, pengembangan sekolah, meningkatkan prestasi belajar, pengembangan, keahlian mengajar dan sebagainya.

Prosedur Penelitian
Penelitian ini merupakan Penelitian Tindakan Kelas (PTK) sehingga prosedur atau langkah-langkah yang akan dilakukan dalam penelitian ini dilaksanakan dengan kegiatan yang berbentuk siklus penelitian yang terdiri atas empat tahap. Dalam penelitian ini, peneliti menggunakan dua siklus, setiap siklusnya terdapat satu pertemuan.
Sebenarnya ada beberapa ahli yang menggu-nakan model penelitian tindakan dengan bagan yang berbeda, namun secara garis besar terdapat empat tahapan yang lazim dilalui, yaitu (1) perencanaan, (2) pelaksanaaan, (3) pengamatan, (4) refleksi.

Rencana Tindakan
Siklus I
Perencanaan (planning)
Dalam tahap ini peneliti menjelaskan tentang apa, mengapa, kapan, dimana, oleh siapa, dan bagaimana tindakan tersebut dilakukan. Penelitian tindakan kelas yang ideal sebetulnya dilakukan secara berpasangan antara pihak yang melakukan tindakan dan pihak yang mengamati proses jalanya tindakan. Istilah untuk cara ini adalah penelitian kolaborasi. Cara ini dikatakan ideal karena adanya upaya untuk mengurangi unsur subjektivitas pengamat serta mutu kecermatan amatan yang dilakukan. Dengan mudah dapat diterima bahwa pengamatan yang diarahkan pada diri sendiri biasanya kurang teliti disbanding dengan pengamatan yang dilakukan terhadap hal-hal yang berada di luar diri, karena adanya unsur subjektivitas yang berpengaruh, yaitu cenderung mengunggulkan dirinya. Apabila pengamatan dilakukan oleh orang lain, pengamatanya lebih cermat dan hasilnya akan lebih objektif.
Dalam tahap penyusunan rancangan ini peneliti menentukan titik atau fokus peristiwa yang perlu mendapatkan perhatian khusus untuk diamati, kemudian membuat sebuah instrumen pengamatan untuk membantu penelitimerekam fakta yang terjadi selama tindakan berlangsung. Jika pelaksanaan harus melakukan kesepakatan antara keduanya. Dikarenakan pelaksanaan guru peneliti adalah pihak yang paling berke-pentingan untuk meningkatkan kinerja, maka pemilihan strategi pembelajaran disesuaikan dengan selera dan kepentingan guru peneliti, agar pelaksanaan tindakan dapat terjadi secara wajar, realitas, dan dapat dikelola dengan mudah.
Tindakan (acting)
Tahap ke-2 dari penelitian tindakan adalah pelaksanaan yang merupakan imple-mentasi atau penerapan isi rancangan, yaitu mengenakan tindakan kelas. Hal yang perlu diingat adalah bahwa dalam tahap ke-2 ini pelaksanaan guru harus ingat dan berusaha menaati apa yang sudah dirumuskan dalam rancangan, tetapi harus pula berlaku wajar, tidak dibuat-buat. Dalam refleksi, keterkaitan antara pelaksanaan dengan perencanaan perlu diper-hatikan secara seksama agar sinkron dengan maksud semula.
Ketika mengajukan laporan peneli-tianya, peneliti tidak melaporkan seperti apa perencanaan yang dibuat karena langsung melaporkan pelaksanaan. Oleh karena itu, bentuk dan isi laporanya harus sudah lengkap menggambarkan semua kegiatan yang dilakukan, mulai dari persiapan sampai penyelesaian.
Pengamatan (observing)
Tahap ke-3, yaitu kegiatan pengamatan yang dilakukan oleh pengamat. Sebetulnya sedikit kurang tepat kalau pengamatan ini dipisahkan dengan pelaksanaan tindakan karena seharusnya pengamatan dilakukan pada waktu tindakan sedang dilakukan. Jadi keduanya berlangsung dalam waktu yang sama. Sebutan tahap ke-2 diberikan untuk memberikan peluang kepada guru pelaksana yang juga berstatus sebagai pengamat..
Refleksi (reflecting)
Tahap ke-4 merupakan kegiatan untuk mengemukakan kembali apa yang sudah dilakukan. Istilah refleksi berasal dari kata bahasa inggris reflection, yang diterjemahkan dalam bahasa indonesia pemantulan. Kegiatan refleksi ini sangat tepat dilakukan ketika guru pelaksana sudah selesai melakukan tindakan, kemudian berhadapan dengan peneliti untuk mendiskusikan implementasi  rancangan tindakan. Istilah refleksi di sini sama dengan “memantul, seperti halnya memancar dan menatap kena kaca.” Dalam hal ini, guru pelaksana sedang memantulkan pengalaman-nya pada peneliti yang baru saja mengamati kegiatanya dalam tindakan. Inilah inti dari penelitian tindakan, yaitu ketika guru pelaku tindakan siap mengatakan kepada peneliti pengamat tentang hal-halyang dirasakan sudah berjalan baik dan bagian mana yang belum.
Jika penelitian tindakan dilakukan melalui beberapa siklus, maka dalam refleksi terakhir, peneliti menyampaikan rencana yang dirasakan kepada peneliti lain apabila dia menghentikan kegiatanya, atau kepada diri sendiri apabila akan melanjutkan dalam kesempatan lain. Catatan-catatan penting yang dibuat sebaiknya rinci sehingga siapa pun yang akan melaksanakan dalam kesempatan lain tidak akan menjumpai kesulitan.

Siklus II
Perencanaan (planning)
Dalam tahap ini peneliti menjelaskan tentang apa, mengapa, kapan, dimana, oleh siapa, dan bagaimana tindakan tersebut dilaku-kan. Penelitian tindakan kelas yang ideal sebetulnya dilakukan secara berpasangan antara pihak yang melakukan tindakan dan pihak yang mengamati proses jalanya tindakan. Istilah untuk cara ini adalah penelitian kolaborasi. Cara ini dikatakan ideal karena adanya upaya untuk mengurangi unsur subjektivitas pengamat serta mutu kecermatan amatan yang dilakukan.  Dalam tahap penyusunan rancangan ini peneliti menentukan titik atau fokus peristiwa yang perlu mendapatkan perhatian khusus untuk diamati, kemudian membuat sebuah instrumen pengamatan untuk membantu peneliti merekam fakta yang terjadi selama tindakan berlangsung. Jika pelaksanaan harus melakukan kesepakatan antara keduanya. Dikarenakan pelaksanaan guru peneliti adalah pihak yang paling berkepentingan untuk meningkatkan kinerja, maka pemilihan strategi pembelajaran disesuaikan dengan selera dan kepentingan guru peneliti, agar pelaksanaan tindakan dapat terjadi secara wajar, realitas, dan dapat dikelola dengan mudah.
Tindakan (acting)
Tahap ke-2 dari penelitian tindakan adalah pelaksanaan yang merupakan implementasi atau penerapan isi rancangan, yaitu mengenakan tindakan kelas. Hal yang perlu diingat adalah bahwa dalam tahap ke-2 ini pelaksanaan guru harus ingat dan berusaha menaati apa yang sudah dirumuskan dalam rancangan, tetapi harus pula berlaku wajar, tidak dibuat-buat. Dalam refleksi, keterkaitan antara pelaksanaan dengan perencanaan perlu diperhatikan secara seksama agar sinkron dengan maksud semula.
Pengamatan (observing)
Tahap ke-3, yaitu kegiatan pengamatan yang dilakukan oleh pengamat. Sebetulnya sedikit kurang tepat kalau pengamatan ini dipisahkan dengan pelaksanaan tindakan karena seharusnya pengamatan dilakukan pada waktu tindakan sedang dilakukan. Jadi keduanya berlangsung dalam waktu yang sama. Sebutan tahap ke-2 diberikan untuk memberikan peluang kepada guru pelaksana yang juga berstatus sebagai pengamat. Ketika guru tersebut sedang melakukan tindakan, karena hatinya menyatu dengan kegiatan, tentu tidak sempat menga-nalisis peristiwanya ketika sedang terjadi.Sambil melakukan pengamatan balik ini, guru pelaksana mencatat sedikit demi sedikit apa yang terjadi agar memperoleh data yang akurat untuk perbaikan siklus berikutnya.
Refleksi (reflecting)
Tahap ke-4 merupakan kegiatan untuk mengemukakan kembali apa yang sudah dilakukan. Istilah refleksi berasal dari kata bahasa inggris reflection, yang  diterjemahkan dalam bahasa indonesia pemantulan. Kegiatan refleksi ini sangat tepat dilakukan ketika guru pelaksana sudah selesai melakukan tindakan, kemudian berhadapan dengan peneliti untuk mendiskusikan implementasi rancangan tinda-kan. Istilah refleksi di sini sama dengan “memantul, seperti halnya memancar dan menatap kena kaca.”
Jika penelitian tindakan dilakukan melalui beberapa siklus, maka dalam refleksi terakhir, peneliti menyampaikan rencana yang dirasakan kepada peneliti lain apabila dia menghentikan kegiatanya, atau kepada diri sendiri apabila akan melanjutkan dalam kesempatan lain. Catatan-catatan penting yang dibuat sebaiknya rinci sehingga siapa pun yang akan melaksanakan dalam kesempatan lain tidak akan menjumpai kesulitan.

Teknik Pengumpulan Data
1. Observasi
2. Pemberian Angket/ Kuisioner
3. Tes
4. Dokumentasi

Hasil Penelitian
Hasil penelitian ini merupakan pengamatan di lapangan mengenai hasil belajar siswa dalam pembelajaran permainan sepak bola dengan pendekatan permainan shooting colour bagi siswa kelas VII A SMP Negeri 2 Pilangkenceng tahun pelajaran 2014/2015. Hasil penelitian ini meliputi hasil tes dan non tes selama penelitian berlangsung. Hasil tes yaitu berupa tes pengetahuan tentang materi permaianan sepak bola pada aspek pengetahuan dan tes untuk kerja pada aspek ketrampilan, sedangkan hasil non tes diperoleh dari pengamatan sikap pada aspek sikap. Pembelajaran penjas dalam permainan sepak bola dengan pendekatan permainan shooting colour dilaksanakan 2 kali pertemuan yaitu siklus I dan siklus II.

Hasil Penelitian Siklus I
Perencanaan (Planning)
Dalam tahap ini peneliti dan guru mata pelajaran menyusun scenario pembelajaran yang terdiri dari:
1.   Menyusun Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP) dengan materi permainan sepak bola.
2.   Menyusun instrumen tes dalam permainan sepak bola.
3.   Menyusun lembar penilaian dan hasil pembelajaran.
4.   Menyiapkan media tambahan yang diperlukan untuk membantupembelajaran.
5.   Menyiapkan tempat penelitian dan alat pembelajaran.

Tindakan (acting)
1. Kegiatan Awal
a)   Guru masuk ke kelas, kemudian ber do’a, presensi dan apersepsi mulai dari ucapan salam, penyampaian materi, konsep, dan tujuan pembe-lajaran.
b)   Siswa di bawa kelapangan dan dibariskan, kemudian langsung melakukan pemanasan statis dan dinamis terlebih dahulu untuk mempersiapkan tubuh agar mengurangi resikoterjadinya cedera pada saat pembelajaran.
2. Kegiatan Inti
a.    Siswa dibagi menjadi 4 kelompok putra dan putri digabung.
b.   Masing-masing kelompok diberikan pita sebagai tanda dari kelompok masing-masing.
c.    Kemudian 2 kelompok melakukan permainan shooting colour sesuai dengan peraturan yang sudah diberikan sebelum menuju ke lapangan dengan waktu 2x10 menit, setiap babak memiliki waktu 10 menit dan waktu untuk pertukaran pemain 1 menit.
d.   2 kelompok sisanya berada di pinggir lapangan untuk memberikan penilaiaan antar teman (aspek ketrampilan) dengan menggunakan lembar penilaian yang telah disediakan oleh peniliti.
e.    Setelah kelompok pertama selesai main giliran kelompok berikutnya giliran bermain dan kelompok yang telah selesai bermain bergantian untuk memberikan penilaian antar teman (aspek ketrampilan) dengan menggunakan lembar penilaian yang telah di sediakan oleh peneliti.
f.    Setelah semua kelompok selesai melakukan pembelajaran penjas dalam permainan sepak bola dengan pendekatan permainan shooting colour siswa kemudian dikumpulkan untuk mengerjakan soal pengetahuan yang diberikan oleh guru.
3. Kegiatan Penutup
Dalam kegiatan penutup guru memberikan refleksi dengan hasil pembelajaran yang telah dilakukan dalam siklus I. Memotivasi siswa yang belum maksimal dalam pembe-lajaran pada siklus I. Kemudian membuat simpulan pembelajaran

Pengamatan (observing)
1)   Penguasaan kemampuan bermain yang beragam dari karakteristik siswa, baik dalam segi teknik maupun taktik. Ada siswa yang dapat dikategorikan memiliki teknik bermain yang cukup bagus, akan tetapi ada juga siswa yang masih sangat asing dengan permainan sepak bola.
2)   Siswa cenderung kurang memperhatikan apa yang sudah dijelaskan dan dicontohkan oleh guru.
3)   Keragaman karakteristik siswa harus diperhatikan oleh guru dengan cara menjelaskan yang lebih singkat, jelas, dan dimengerti pemahaman polapermainan sepak bola baik dari segi teknik maupun taktik.
Refleksi (reflecting)
a)   Berikan umpan balik (feed back), seperti pujian dengan penghargaan dari apa yang sudah dilakukan oleh siswa.
b)   Selalu memberikan kesempatan bergerak lebih banyak terhadap anak sehingga pengalaman belajar bisa meningkat seperti memanfaatkan jumlah bola untuk aktivitas gerak siswa.
c)   Berikan penjelasan dan contoh yang baik supaya siswa lebih memahami materi yang sedang diajarkan.
d)   Eksplorasi potensi siswa seperti bertanya kepada siswa tentang pemahaman bermain sepak bola.
e)   Posisi guru lebih ditingkatkan dengan berkeliling supaya aktivitas siswa dapat lebih terkontrol/ terawasi. Berikan tindak lanjut kepada siswa terkait materi yang telah disampaikan.

Hasil Penelitian siklus II
Perencanaan (Planning)
1.   Menyusun RPP dengan materi permainan sepak bola.
2.   Menyusun instrumen tes dalam permainan sepak bola.
3.   Menyusun lembar penilaian dan hasil pembelajaran.
4.   Menyiapkan media tambahan yang diperlukan untuk membantu
5.   pembelajaran.
6.   Menyiapkan tempat penelitian dan alat pembelajaran.
Tindakan (Acting)
1.   Kegiatan Awal
a.    Guru masuk ke kelas, kemudian ber do’a, presensi dan apresepsi mulai dari ucapan salam, penyampaian materi, konsep, dan tujuan pembelajaran.
b.   Siswa di bawa kelapangan dan dibariskan, kemudian langsung melakukan pemanasan statis dan dinamis terlebih dahulu untuk mempersiapkan tubuh agar mengurangi resikoter jadinya cedera pada saat pembelajaran.
2. Kegiatan Inti
1)   Siswa di bagi menjadi 4 kelompok putra dan putri di gabung.
2)   Masing-masing kelompok di berikan pita sebagai tanda dari kelompok masing-masing.
3)   Kemudian 2 kelompok melakukan permainan shooting colour sesuai dengan peraturan yang sudah diberikan sebelum menuju ke lapangan dengan waktu 2x10 menit, setiap babak memiliki waktu 10 menit dan waktu untuk pertukaran pemain 1 menit.
4)   2 kelompok sisanya berada di pinggir lapangan untuk memberikan penilaiaan antar teman (aspek psikomotor) dengan menggunakan lembar penilaian yang telah di sediakan oleh peniliti.
5)   Setelah kelompok pertama selesai main giliran kelompok berikutnya giliran bermain dan kelompok yang telah selesai bermain bergantian untuk memberikan penilaian antar teman (aspek psikomotor) dengan menggunakan lembar penilaian yang telah di sediakan oleh peneliti.
6)   Setelah semua kelompok selesai melakukan pembelajaran penjas dalam permainan sepak bola dengan pendekatan permainan shooting colour siswa kemudian dikumpulkan untuk mengerjakan soal pengetahuan yang diberikan oleh guru.
3. Kegiatan Penutup
Dalam kegiatan penutup guru memberikan refleksi dengan hasil pembelajaran yang telah dilakukan dalam siklus II. Memotivasi siswa yang belum maksimal dalam pembelajaran pada siklus II. Kemudian membuat simpulan pembelajaran.
Pengamatan (Observing)
Hasil dari pengamatan pembelajaran penjas dalam permainan sepak bola dengan pendekatan permainan shooting colour pada siklus II, siswa sudah lebih aktif dalam bergerak mencari dan membawa bola dan dengan itu juga perolehan nilai siswa pada aspek psikomotor diatas batas minimal. Siswa lebih banyak aktif dalam bergerak mencari dan menerima bola sehingga hasilnya meningkat di bandingkan pertemuan sebelumnya.
Peneliti juga melakukan pengambilan dokumentasi untuk memperkuat dan sebagai bukti dari hasil penelitian yang telah dilakukan.
Refleksi (reflecting)
a)   Aktivitas siswa dari aspek afektif, aspek kognitif dan aspek psikomotor menunjukan arah yang lebih baik.
b)   Bermain adalah dunia anak, pembelajaran melalui pendekatan permainan bisa meningkatkan ranah sikap, pengetahuan materi, dan ketrampilan gerak siswa.

Pembahasan Siklus I
Dari hasil pembelajaran siklus I, siswa masih banyak yang belum berhasil dalam melakukan beberapa teknik yang ada dalam permainan shooting colour. Siswa masih belum terbiasa dengan permainan shooting colour yang menggunakan gawang yang dimodifikasi tersebut. Masih banyak peraturan yang dilanggar dari teknik samapai denagan batas melakukan shooting.
Hasil belajar tersebut diambil dari 3 aspek yaitu sebagai berikut:
1. Aspek Pengetahuan Siklus I
Hasil belajar aspek pengetahhuan pada pembelajaran penjas dalam permainan sepak bola dengan pendekatan permainan shooting colour dapat dilihat sebagai berikut:
Dari hasil belajar aspek pengetahuan pada pembelajaran penjas dalam permainan sepak bola dengan pendekatan permainan shooting colour ketuntasan sebanyak 16 siswa atau 47,06%, sedangkan yang tidak tuntas sebanyak 18 siswa atau 52,94%. Siswa yang belum tuntas pada aspek pengetahuan siklus I banyak yang salah menjawab pada soal kepanjangan dari FIFA, teknik dasar sepak bola, ukuran lapangan pada permainan shooting colour, jumlah warna yang digunakan dalam permainan shooting colour dan lama waktu permainan. Berdasarkan hasil pembelajaran tersebut dapat di simpulkan bahwa tingkat ketuntasan aspek kognitif dalam siklus I masih sangat rendah dengan jumlah siswa yang tidak tuntas lebih banyak dari pada jumlah siswa yang tuntas.
2. Aspek Sikap Siklus I
Hasil belajar aspek sikap pada pembelajaran penjas dalam permainan sepak bola dengan pendekatan permainan shooting colour dapat dilihat pada table berikut:
Dari hasil belajar aspek sikap pada pembelajaran penjas dalam permainan sepak bola dengan pendekatan permainan shooting colour tingkat ketuntasan sebanyak 25 siswa atau 73,53%, sedangkan yang tidak tuntas sebanyak 9 siswa atau 26,47%. Siswa yang belum tuntas pada aspek sikap siklus I dikarenakan masih banyak yang tidak bertanggung jawab pada saat pembelajaran berlangsung dan sebagian siswa masih kurang disiplin pada saat pembelajaran.
3. Aspek Keterampilan Siklus I
Hasil belajar aspek keterampilan pada pembelajaran penjas dalam permainan sepak bola dengan pendekatan permainan shooting colour dapat dilihat pada tabel berikut:
Dari hasil belajar aspek keterampilan pada pembelajaran penjas dalam permainan sepak bola dengan pendekatan permainan shooting colour tingkat ketuntasan sebanyak 20 siswa atau 58,82%, sedangkan yang tidak tuntas sebanyak 14 siswa atau 41,18%. Siswa yang belum tuntas pada aspek keterampilan siklus I dikarenakan belum maksimal dalam melaksanakan teknik dasar sepak bola dalam permainan shooting colour (passing dan control).
Berdasarkan hasil siklus I tersebut dapat disimpulkan bahwa tingkat ketuntasan aspek keterampilan masih rendah karena belum memenuhi kriteria ketuntasan belajar minimal yaitu masih dibawah 75%.
Dari hasil pembelajaran pada siklus I yang terdapat dalam tabel tersebut, menunjukan bahwa tingkat keberhasilan penggunaan pendekatan permainan shooting colour pada pembelajaran penjas dalam permainan sepak bola dengan menggunakan pendekatan permainan shooting colour masih cukup rendah. Siswa yang tuntas belajar dengan model tersebut sebanyak 21 siswa atau 61,76%, sedangkan siswa yang belum tuntas sebanya 13 siswa atau 38,24%. Siswa yang belum tuntas pada pembelajaran siklus I dikarenakan pada tiap aspek masih rendah.

Pembahasan Siklus II
Setelah pembelajaran pada siklus I, dalam pembelajaran siklus II ini lebih banyak difokuskan pada permainan shooting colour. Dari hasil pembelajaran, aktivitas gerak dan kemampuan siswa dalam permainan sepak bola meningkat. Banyak siswa yang memperoleh nilai diatas batas minimal ketuntasan. Hasil belajar tersebut diambil dari 3 aspek yaitu sebagai berikut:
1. Aspek Pengetahuan Siklus II
Hasil belajar aspek pengetahuan pada pembelajaran penjas dalam permainan sepak bola dengan pendekatan permainan shooting colour dapat dilihat sebagai berikut:
Dari hasil belajar aspek pengetahuan pada pembelajaran penjas dalam permainan sepak bola dengan pendekatan permainan shooting colour ketuntasan sebanyak 26 siswa atau 76,47%, sedangkan yang tidak tuntas sebanyak 8 siswa atau 23,53%. Siswa yang belum tuntas pada aspek pengetahuan siklus II banyak yang salah menjawab pada soal kepanjangan dari FIFA, dan jumlah warna yang digunakan dalam permainan shooting colour dan lama waktu permainan. Berdasarkan hasil belajar aspek pengetahuan pada siklus II tersebut dapat disimpulkan bahwa tingkat ketuntasan sudah baik dengan jumlah siswa yang tuntas meningkat dari siklus I.
2. Aspek Sikap Siklus I
Hasil belajar aspek sikap pada pembelajaran penjas dalam permainan sepak bola dengan pendekatan permainan shooting colour dapat dilihat dari hasil permainan  sepak bola dengan pendekatan permainan shooting colour tingkat ketuntasan sebanyak 28 siswa atau 82,35%, sedangkan yang tidak tuntas sebanyak 6 siswa atau 17,65%. Siswa yang belum tuntas pada aspek sikap siklus II dikarenakan masih banyak yang tidak bertanggung jawab pada saat pembelajaran berlangsung dan sebagian siswa masih kurang disiplin pada saat pembelajaran.
Berdasarkan hasil siklus II tersebut dapat disimpulkan bahwa tingkat ketuntasan aspek sikap sudah baik.
3. Aspek Keterampilan Siklus II
Hasil belajar aspek keterampilan pada pembelajaran penjas dalam permainan sepak bola dengan pendekatan permainan shooting colour dapat dilihat pada tabel berikut:
Dari hasil belajar aspek keterampilan pada pembelajaran penjas dalam permainan sepak bola dengan pendekatan permainan shooting colour tingkat ketuntasan sebanyak 28 siswa atau 82,35%, sedangkan yang tidak tuntas sebanyak 6 siswa atau 17,65%. Siswa yang belum tuntas pada aspek keterampilan siklus II dikarenakan belum maksimal dalam melaksanakan teknik dasar sepak bola dalam permainan shooting colour (passing dan control). Berdasarkan hasil belajar aspek keterampilan pada siklus II tersebut dapat disimpulkan mengalami peningkatan dari siklus I. Niali rata-rata pada siklus II juga mengalami peningkatan menjadi 77,87%.
4. Rekapitulasi Hasil Belajar Siklus II
Hasil pembelajaran penjas dalam permainan sepak bola dengan pendekatan permainan shooting colour pada siswa kelas VII A yaitu pada tabel sebagai berikut:
Dari hasil pembelajaran pada siklus II yang terdapat dalam tabel tersebut, menunjukan bahwa tingkat keberhasilan pembelajaran penjas dalam permainan sepak bola dengan pendekatan permainan shooting colour meningkat. Siswa yang tuntas belajar dengan model tersebut sebanyak 26 siswa atau 76,47%, sedangkan siswa yang belum tuntas sebanya 8 siswa atau 23,53%. Siswa yang belum tuntas pada pembelajaran siklus II dikarenakan pada tiap aspek masih rendah sehingga nilai akhir pembelajaran belum mencapai kriteria ketuntasan minimal. Nilai rata-rata siklus II juga meningkat menjadi 82 dari siklus I yang hanya 77.

Simpulan
Berdasarkan hasil penelitian dan pembahasan yang telah diuraikan, maka dapat disimpulkan pembelajaran dengan pendekatan permainan shooting colour mampu mening-katkan hasil belajar dan mampu meningkatkan aktivitas gerak siswa dalam permainan sepak bola bagi siswa kelas VII A SMP Negeri 2 Pilangkenceng  tahun pelajaran 2015/2016. Peningkatan hasil belajar dan keaktivan gerak siswa dalam permainan sepak bola tersebut dapat dilihat dari tingkat ketuntasan nilai siswa pada siklus I dan siklus II. Pada siklus I presentase nilai ketuntasan mencapai 61,76%, dan siklus II mencapai 76,47%.
Peningkatan hasil belajar siswa dalam permainan sepak bola dengan menggunakan pendekatan permainan shooting colour dari siklus I ke siklus II adalah sebesar 14,71%.

Saran
Berdasarkan simpulan yang telah diuraikan pembelajaran penjas dengan pendekatan permainan shooting colour dapat dijadikan alternatif untuk meningkatkan hasil belajar siswa dalam permainan sepak bola.



DAFTAR KEPUSTAKAAN
Abdul Rohim. 2008: Bermain Sepak Bola. Semarang: CV. Aneka Ilmu Achmad Rifa’i dan Chatarina Tri Anni. 2010. Psikologi Pendidikan. Semarang:Unnes Press.
Adang Suherman. 2000: Dasar-dasar Penjaskes. Jakarta: Depdikbud.
Ade (2015). Identitas dan karakteristik siswa SMP Serta Metode Pembelajaran. (online). Tersedia: http://www.scribd.com/doc/26566827/Identitas-Dan- Karakteristik-Siswa-Smp-Metode-Pembelajaran. (accesed: 16/09/2015)
Agus Salim. 2008. Buku Pintar Sepak Bola. Bandung:Nuansa
Ali Maksum. 2008. Psikologi Olahraga Teori dan Aplikasi.Surabaya: UnesaUniversity Press.
Amung Ma’mun, Yudha M. Saputra. 2000. Perkembangan Gerak dan Belajar Gerak. Jakarta: Depdiknas.
Husdarta. 2009. Menejemen Pendidikan Jasmani. Bandung: Alfabeta
Husdarta dan Yudha M. Saputra. 2000. Belajar dan Pembelajaran. Jakarta: Departemen Pendidikan Nasional
Milke Danny. 2007. Dasar Dasar Sepak Bola. Bandung: Pecan Raya
Sucipto dkk. 2000. Sepak Bola. Departemen Pendidikan Nasional.
Suharsimi Arikunto dkk. 2010. Penelitian Tindakan Kelas. Jakarta: Bumi Aksara.
Suharsimi Arikunto. 2013. Prosedur Penelitian. Jakarta: Rineka Cipta.
Sukintaka. 1992. Teori Bermain Penjaskes. Jakarta: Depdikbud, Dirjen Dikti.
Trianto.2012. Panduan Lengkap Penelitian Tindakan Kelas Teori dan Praktek.Jakarta: Prestasi Pustakaraya.
Yoyo Bahagia, Adang Suherman. 2000. Prinsip-prinsip Pengembangan Dan Modifikasi Cabang Olahraga. Jakarta: Depdikbud

Tidak ada komentar:

Posting Komentar