PENINGKATAN MOTIVASI DAN HASIL
BELAJAR
DENGAN MENGGUNAKAN THINK PAIR SHARE PADA SISWA KELAS IXA
SEMESTER 2 SMPN 1 DOLOPO MADIUN TAHUN PELAJARAN 2013/2014
|
|
Oleh : Endah Murtiningsih
Guru SMPN 1 Dolopo Kabupaten Madiun
|
ABSTRAK
Kata kunci: motivasi belajar,
hasil belajar, model think pair share (TPS).
Salah satu
cara untuk mencapai proses pembelajaran yang efektif dan dapat meningkatkan
hasil belajar siswa adalah menggunakan suatu metode pembelajaran yang relevan
(Permendiknas 22 tahun 2006). Pelaksanaan metode pembelajaran disesuaikan
dengan kondisi yang terjadi pada saat pelajaran berlangsung .Motivasi
memiliki peranan penting dalam pembelajaran seperti yang dikemukakan oleh Qadriyah,
2002. Penelitian ini merupakan penerapan Model Think Pair Share (TPS)untukmeningkatkanmotivasidanhasilbelajarsiswa.
Penelitian
Tindakan Kelas (PTK) dilakukan di SMP Negeri 1 Dolopo, yang terletak di jalan
Adil Makmur No 95 desa Bangunsari Kecamatan Dolopo Kabupaten Madiun yang
dilaksanakan pada semester 2 tahun pelajaran 2013-2014, pada siswa kelas IXA.
Pelaksanaan pembelajaran PTK ini dilaksanakan sebanyak 2 siklus yang
masing-masing siklus melalui tahapan perencanaan, pelaksanaan, pengamatan dan refleksi.
. Pembelajaran kooperatif Model Think Share Pair telah membantu siswa
mengatasi masalah keragu-raguan untuk menyatakan pendapat dan meningkatkan rasa
percaya diri siswa. Kesimpulan dari penelitian ini adalah Model Think Pair Share dapat meningkatkan
motivasi dan hasil belajar siswa kelas IXA semester 2 tahun pelajaran 2013-2014
di SMPN 1 Dolopo Kabupaten Madiun.
Saran Guru hendaknya
mempertimbangkan penerapanThink Pair
Share untuk meningkatkan motivasi dan hasil belajar siswa. Sekolah hendaknya memberikan dukungan terhadap penerapanThink Pair Share yang dilaksanakan oleh guru untuk memperbaiki
mutu pendidikan di sekolah.
Latar Belakang
Salah satu
cara untuk mencapai proses pembelajaran yang efektif dan dapat meningkatkan
hasil belajar siswa adalah menggunakan suatu metode pembelajaran yang relevan
(Permendiknas 22 tahun 2006). Pelaksanaan metode pembelajaran disesuaikan
dengan kondisi yang terjadi pada saat pelajaran berlangsung.
Metode pembelajaran yang cenderung berpusat pada guru (teacher centered) kini sudah tidak
sesuai lagi dan tidak bisa membantu siswa membangun pengetahuannya. Guru kini
menggunakan beberapa metode kooperatif misalnya Group Investigation dan Jigsaw tetapi pelaksanaannya belum sesuai
KTSP. Guru masih memberi tuntunan
kepada siswa langkah demi langkah, sehingga siswa tidak ada usaha untuk
membangun sendiri pengetahuannya.
Siswa dapat
membangun sendiri pengetahuan jika siswa mempunyai ketertarikan terhadap suatu
pembelajaran. Ketertarikan siswa akan menumbuhkan rasa ingin tahu, siswa akan
berusaha mencari berbagai sumber belajar dan aktif di dalam kelas. Untuk itu
diperlukan motivasi belajar pada diri siswa. Motivasi belajar terdiri dari attention, relevance, confident, dan satisfaction. Motivasi belajar akan
mempengaruhi rasa ingin tahu siswa, sehingga siswa aktif dalam pembelajaran.
Berdasarkan
pengamatan 2 tahun terakhir diketahui bahwa siswa kelas IXA SMPN 1 Dolopo memperlihatkan
motivasi belajar yang rendah dalam mengikuti
pembelajaran Ilmu Pengetahuan Alam (IPA) dibandingkan dengan kelas lain. Siswa hanya mendengarkan penjelasan guru tanpa ada motivasi
untuk mencari lebih banyak pengetahuan yang berhubungan dengan materi.
Hal ini terbukti dalam kegiatan diskusi, siswa mau respon/menjawab hanya ketika ditanya
oleh guru saja. Pada diskusi kelompok, tidak semua siswa turut serta dalam
mengerjakan tugas kelompok, satu atau dua orang siswa yang mengerjakan tugas, siswa
lain ada yang mengobrol dengan temannya, melamun atau mengerjakan tugas yang
lain. Begitu pula ketika diskusi kelas atau
presentasi, hanya sedikit siswa yang aktif bertanya, tidak ada pertanyaan dari
siswa sebelum guru meminta mereka membuat pertanyaan untuk diajukan kepada
kelompok presentator. Pertanyaan yang diajukan dijawab oleh presentator tetapi tidak ada umpan – balik dari
siswa yang bertanya tadi. Guru menjelaskan bahwa belum tentu siswa yang
tergolong mempunyai kemampuan akademik tinggi dapat aktif dalam kegiatan
pembelajaran. Terdapat beberapa siswa yang cukup tinggi kemampuan akademiknya,
tetapi siswa tersebut tidak memiliki motivasi belajar yang baik. Salah satu
usaha yang dapat meningkatkan motivasi belajar Fisika adalah dengan menggunakan
Think Pair Share (TPS).
TPS adalah suatu strategi diskusi kooperatif yang dikembangkan
oleh Frank Lyman dan kawan-kawannya di Universitas Maryland pada tahun 1981. TPS
memperkenalkan ide ”waktu berpikir atau waktu tunggu” yang banyak menjadi
faktor kuat dalam meningkatkan kemampuan siswa merespon pertanyaan. Nama Think
Pair Share berasal dari tiga tahap kegiatan siswa yang menekankan pada apa
yang dikerjakan siswa pada setiap tahap (Jones, 2002 dalam Susilo, 2005).
Penggunaan model TPS dipilih berdasarkan pendapat Prayitno (1989) yang menyatakan bahwa model TPS membawa siswa pada
sebuah kecerdasan hidup. Siswa menjadi cerdas secara otak dalam proses berpikir
dan menyampaikan buah pikiran. Model TPS juga dianggap dapat mengarakan siswa
untuk menerima pengetahuan tidak hanya dari satu sumber tetapi dari berbagai
sumber sehingga meningkatkan kemampuan kognitif (Ewbank Eur, 1947 dalam
Wulandari, 2008).
Berdasarkan latar belakang, maka dilakukan penelitian dengan judul
:
“Peningkatan Motivasi dan Hasil Belajar Dengan menggunakan Think
Pair Share Pada Siswa Kelas IXA Semester 2 SMPN 1 Dolopo Madiun Tahun Pelajaran
2013/2014”
Rumusan Masalah
Apakah model Think
Pair Share (TPS) dapat meningkatkan
motivasi dan hasil belajar siswa kelas IXA Semester 2 SMPN 1 Dolopo tahun pelajaran 2013/2014 ?
Tujuan
Meningkatkan motivasi dan hasil belajar siswa kelas IXA Semester 2 SMPN 1 Dolopo tahun pelajaran 2013/2014 dengan model Think Pair
Share (TPS).
Manfaat Penelitian
1.
Bagi Guru. Penelitian ini sebagai masukan
positif dalam melaksanakan pembelajaran sehingga dapat meningkatan kinerja
guru.
2.
Bagi Siswa. Penelitian dapat meningkatkan
motivasi belajar siswa dalam mempelajari Besaran dan Pengukuran, siswa memperoleh
pengalaman baru dalam belajar yang lebih menyenangkan dan efektif.
3.
Bagi Sekolah. Dapat meningkatkan mutu
pendidikan di SMPN 1 Dolopo Madiun.
Hipotesis Tindakan
Hipotesis penelitian ini adalah penerapan Think Pair Share
(TPS) dapat meningkatkan motivasi dan hasil belajar siswa
kelas IXA Semester 2 SMPN 1 Dolopo
Madiun tahun pelajaran 2013/2014.
Kajian Teori
Motivasi Intrinsik
Motivasi intrinsik ditimbulkan oleh faktor-faktor yang muncul dari
pribadi siswa itu sendiri. Motivasi intrinsik dapat berupa:
1)
Keterpakaian kompetensi dalam bidang yang sedang dipelajari dalam
pekerjaan atau kehidupannya kelak.
2)
Keterpakaian pengetahuan yang diperoleh dari pembelajaran dalam
memperluas wawasannya sehingga memberikan kemampuan dalam mempelajari materi
lain.
3)
Diperolehnya rasa puas karena keberhasilan mengetahui tentang
sesuatu yang selama ini menjadi obsesi atau dambaannya.
4)
Diperolehnya kebanggaan karena adanya pengakuan oleh lingkungan
sosial terhadap kompetensi prestasinya dalam belajar.
Menurut Dimyati dan Mudjiono (2002) motivasi intrinsik mendorong
terus dan memberikan energi pada tingkah laku. Dalam hal ini motivasi intrinsik
mengarah pada timbulnya motivasi berprestasi.
Motivasi Ekstrinsik
Motivasi
ekstrinsik merupakan motivasi yang ditimbulkan oleh faktor-faktor yang muncul
dari luar pribadi siswa itu, termasuk dari guru. Faktor-faktor tersebut bisa
positif atau negatif. Contoh dari motivasi ekstrinsik yang negatif adalah rasa
takut siswa terhadap hukuman yang akan diberikan oleh guru sehingga mendorong
siswa akan mengerjakan pekerjaan rumah sedangkan contoh motivasi intrinsik yang
positif adalah dorongan siswa untuk mengerjakan pekerjaan rumah karena ingin
mendapatkan pujian dari guru.
Motivasi belajar siswa dapat dilihat dari indikator yang berupa attention, relevance, confident, dan satisfaction dalam pembelajaran atau
yang disebut model ARCS. Menurut
Setjo (2004) motivasi model ARCS adalah model untuk menciptakan motivasi suatu
materi pembelajaran. Strategi motivasi model ARCS mencakup metode untuk menimbulkan motivasi suatu materi
pembelajaran. Kardi (2008 dalam Setjo, 2004) mengungkapkan bahwa model ARCS dilandasi oleh teori motivasi dan
desain pembelajaran yang dikembangkan oleh Keller dan teori nilai yang
diharapkan (expectancy value theory)
karya Tolman dan Lewin.
Attention
atau
perhatian siswa muncul karena didorong rasa ingin tahu. Oleh sebab itu rasa
ingin tahu perlu mendapat rangsangan sehingga siswa akan memberikan perhatian,
dan perhatian tersebut terpelihara selama berlangsungnya pembelajaran, bahkan
lebih lama lagi (Keller, 1987). Susanto (2002) menyebutkan bahwa motivasi
belajar siswa tinggi jika mereka memusatkan perhatian lebih besar kepada
kegiatan belajar daripada kegiatan yang bukan belajar. Pada PBL elemen tersebut disajikan dalam
permasalahan yang personal, artinya permasalahan tersebut dihadapi siswa dalam
kehidupan nyata. Cara yang
dapat digunakan untuk menarik attention siswa
adalah guru perlu memberkan fakta-fakta atau
pernyataan-pernyataan yang berlawanan dengan pengalaman atau pengatahuan siswa
(Keller, 1987).
Bentuk attention yang
lain dapat berupa rasa senang terhadap pelajaran. Mengacu pada persepsi
individu tentang pemuasan kebutuhan pribadi dalam hubungannya dengan
pembelajaran (Wlodkowski, 1985). Perasaan senang akan membantu siswa
berkonsentrasi dalam belajarnya dan sebaliknya siswa dalam kondisi tidak senang
maka kurang maksimal dalam belajarnya. Siswa tersebut akan mengalami kesulitan
untuk berkonsentrasi terhadap kegiatan pembelajaran yang sedang berlangsung.
Siswa yang merasa senang terhadap pelajaran akan merasa enjoy dan semangat selama mengikuti pelajaran. Seluruh kegiatan
yang ada dalam pembelajaran diikuti, baik berupa kegiatan selama di kelas
maupun pekerjaan yang dikerjakan di luar kelas. Perasaan senang pelajaran
kemudian akan tanggung jawab terhadap tugas, dan keaktifan dalam kegiatan
pembelajaran.
Relevance atau
relevansi menunjukkan adanya hubungan materi pembelajaran dengan kebutuhan dan
kondisi siswa. Menurut Abidin (2008 dalam Fajari, 2010) relevance adalah adanya hubungan bahan ajar dengan kebutuhan dan
kondisi siswa. Motivasi belajar siswa akan terpelihara apabila mereka menganggap
bahwa apa yang dipelajari memenuhi kebutuhan pribadi atau bermanfaat dan sesuai
dengan nilai yang dipegang (Qadriyah, 2002). Bentuk relevance dapat berupa kemampuan siswa mengerti apa yang
dipelajari sehingga dapat dikaitkan dengan kehidupan sehari-hari.
Indikator lain dari motivasi adalah adanya confident. Qadriyah (2002) menyebutkan bahwa confident adalah merasa diri kompeten atau mampu, merupakan potensi
untuk dapat berinteraksi secara positif dengan lingkungan. Konsep tersebut
berhubungan dengan keyakinan pribadi bahwa dirinya memiliki kemampuan untuk
melakukan suatu tugas yang menjadi syarat keberhasilan. Prinsip yang berlaku
adalah bahwa motivasi akan meningkat sejalan dengan meningkatnya harapan untuk
berhasil. Oleh karena itu confident
dapat berupa rasa percaya diri untuk aktif dalam kegiatan pembelajaran,
misalnya percaya diri dalam mengemukakan pendapat, mengajukan pertanyaan, dan
menjawab pertanyaan yang diberikan oleh guru atau teman sekelas. Siswa yang aktif dalam
pembelajaran, akan mempunyai kebanggaan bahwa dirinya mampu dalam pelajaran
tersebut.
Indikator motivasi yang lain berupa satisfaction atau kepuasan. Keberhasilan dalam mencapai tujuan
akan menghasilkan kepuasan, dan siswa akan termotivasi untuk terus berusaha
mencapai tujuan yang serupa. Kepuasan bagi siswa dapat berupa kepuasan terhadap
pembelajaran misalnya merasa puas terhadap penjelasan guru atau jawaban dari
teman atas pertanyaan yang siswa ajukan. Untuk meningkatkan dan memelihara
motivasi siswa, guru dapat menggunakan penguatan (reinforcement) berupa pujian, pemberian kesempatan dan sebagainya
(Qadriyah, 2002). Hal yang sama juga dinyatakan oleh (Keller, 1987) yaitu satisfaction siswa akan meningkat
apabila mereka memperoleh penghargaan atas keberhasilan yang diperoleh siswa.
Penghargaan dapat berupa reward, reinforcement, atau pujian dari guru.
Keberhasilan dalam mencapai tujuan akan memberikan kepuasan tersendiri bagi
siswa dan siswa akan berupaya untuk mencapai tujuan lainnya dengan berhasil
pula.
Think Pair
Share (TPS)
Think Pair
Share
(TPS) adalah suatu strategi diskusi kooperatif yang dikembangkan oleh Frank
Lyman dan kawan-kawannya di Universitas Maryland pada tahun 1981. Think Pair
Share memperkenalkan ide ”waktu berpikir atau waktu tunggu” yang banyak
menjadi faktor kuat dalam meningkatkan kemampuan siswa merespon pertanyaan.
Nama Think Pair Share berasal dari tiga tahap kegiatan siswa yang
menekankan pada apa yang dikerjakan siswa pada setiap tahap (Jones, 2002 dalam
Susilo, 2005).
Terdapat
beberapa alasan mengapa perlu menggunakan Think Pair Share.
1.
Think Pair Share membantu menstruktur diskusi. Siswa mengikuti proses yang telah
tertentu sehingga membatasi kesempatan berpikirnya melantur dan tingkah lakunya
menyimpang karena mereka harus berpikir dan melaporkan hasil pemikirannya ke
mitranya (Jones, 2002 dalam Susilo, 2005).
2.
Think Pair Share meningkatkan partisipasi siswa dan meningkatkan banyaknya
informasi yang diingat siswa (Gunter, Ester dan Schwab, 1999). Dengan Think
Pair Share siswa belajar dari satu sama lain dan berupaya bertukar ide
dalam konteks yang tidak mendebarkan hati sebelum mengemukakan idenya ke dalam
kelompok yang lebih besar. Rasa percaya diri siswa meningkat dan semua siswa
mempunyai kesempatan berpartisipasi di kelas karena sudah memikirkan jawaban
atas pertanyaan guru, tidak seperti biasanya hanya siswa tertentu yang
menjawab.
3.
Think Pair Share meningkatkan lamanya “time on task” dalam kelas dan
kualitas kontribusi siswa dalam diskusi kelas.
4. Siswa dapat
mengembangkan kecakapan hidup sosial mereka. Dalam Think Pair Share mereka juga
merasakan (a) saling ketergantungan positif karena mereka belajar dari satu
sama lain, (b) menjunjung akuntabilitas individu karena mau tidak mau mereka
harus saling berbagi ide, dan wakil kelompok harus berbagi ide pasangannya dan
pasangan lain atau keseluruh kelas, (c) punya kesempatan yang sama untuk
berpartisipasi karena seyogyanya tidak boleh ada siswaa yang mencoba
mendominasi dan (d) interaksi antar siswa cukup tinggi karena akan terlibat
secara aktif dalam sengaja berbicara atau mendengarkan.
Terdapat
empat langkah atau tahapan dalam pembelajaran TPS. Tahapan Think Pair Share adalah
sebagai berikut (Gunter, Estes dan Schwab, 1999 dalam Susilo, 2005).
Tahap
1 siswa berpikir secara individu, guru memberi tanda agar siswa mulai
memikirkan pertanyaan atau masalah yang diberikan guru tadi dalam waktu
tertentu. Lamanya waktu ditetapkan oleh guru berdasarkan pemahaman guru
terhadap siswanya, sifat pertanyaannya dan skedul pembelajaran. Menurut Jones
2002 (dalam Susilo, 2005) waktu berpikir ini bahkan boleh tidak sampai satu
menit karena hanya memikirkan jawaban atas pertanyaan. Tahap kedua ini merupakan prosedur yang
secara otomatis menyediakan “waktu tunggu” di dalam percakapan dalam kelas.
Tahap 2
setiap siswa mendiskusikan jawabannya dengan seorang mitra. Sekali lagi guru
memberi tanda agar siswa mulai berpasangan dengan siswa lainnya untuk
mendiskusikan dan mencapai kesepakatan atas jawaban terhadap pertanyaan tadi.
Menurut Jones 2002 (dalam Susilo, 2005) mereka membandingkan hasil pemikiran
ataupun jawaban yang mereka pikir paling baik, paling meyakinkan, atau paling
unik. Seringkali proses ini dapat diperpanjang satu langkah lebih lanjut yaitu
dengan meminta pasangan siswa bergabung dengan pasangan lainnya sehingga
memebentuk kelompok baru yang terdiri dari empat orang, lebih lanjut mereka
menggabungkan ide mereka berempat sebelum membandingkannya ke kelompok lain
yang lebih besar.
Tahap 3 siswa berbagi jawaban dengan seluruh kelas, mereka maju
bersama untuk melaporkan hasil diskusinya ke seluruh kelas secara bergilir.
Pada tahap terakhir Think Pair Share ini siswa seluruh kelas akan
memperoleh keuntungan dalam bentuk mendengarkan berbagai ungkapan mengenai
konsep yang sama dinyatakan dengan cara yang berbeda oleh individu yang
berbeda, hal ini terjadi karena siswa memiliki cara penyampaian jawaban yang
unik untuk pertanyaan yang diajukan oleh guru
Peningkatan Motivasi Belajar Fisika melalui Penerapan Model Think
Pair Share (TPS)
Pembelajaran yang menarik memerlukan stimulus sehingga rasa ingin tahu
siswa dan antusias siswa terhadap pelajaran tinggi. Salah satu cara untuk
menciptakan situasi tersebut adalah dengan memberikan suatu permasalahan yang
nyata dan terdapat pada lingkungan sekitar siswa. Dalam penelitian ini penyajian masalah digunakan dengan model
pembelajaran Problem Based Learning (PBL) dipadukan dengan model
pembelajaran TPS. Model
pembelajaran TPS adalah suatu strategi diskusi kooperatif. TPS
yang dilaksanakan dengan empat tahap.
Tahap
1 siswa berpikir secara individu, guru memberi tanda agar siswa mulai
memikirkan pertanyaan atau masalah yang diberikan guru dalam waktu tertentu.
Lamanya waktu ditetapkan oleh guru berdasarkan pemahaman guru terhadap
siswanya, sifat pertanyaannya dan skedul pembelajaran. Menurut Jones 2002
(dalam Susilo, 2005) waktu berpikir ini bahkan boleh tidak sampai satu menit
karena hanya memikirkan jawaban atas pertanyaan.
Tahap 2
setiap siswa mendiskusikan jawabannya dengan seorang mitra. Sekali lagi guru
memberi tanda agar siswa mulai berpasangan dengan siswa lainnya untuk
mendiskusikan dan mencapai kesepakatan atas jawaban terhadap pertanyaan tadi.
Menurut Jones 2002 (dalam Susilo, 2005) mereka membandingkan hasil pemikiran
ataupun jawaban yang mereka pikir paling baik, paling menyakinkan, atau paling
unik. Seringkali proses ini dapat diperpanjang satu langkah lebih lanjut yaitu
dengan meminta pasangan siswa bergabung dengan pasangan lainnya sehingga
membentuk kelompok baru yang terdiri dari empat orang, lebih lanjut mereka
menggabungkan ide mereka berempat sebelum membandingkannya ke kelompok lain
yang lebih besar.
Tahap 3 siswa berbagi jawaban dengan seluruh kelas, mereka maju
bersama untuk melaporkan hasil diskusinya ke seluruh kelas. Pada tahap
terakhir TPS ini siswa seluruh kelas akan memperoleh keuntungan dalam
bentuk mendengarkan berbagai ungkapan mengenai konsep yang sama dinyatakan
dengan cara yang berbeda oleh individu yang berbeda, hal ini terjadi karena
siswa memiliki cara penyampaian jawaban unik untuk pertanyaan yang diajukan
guru.
Penerapan PBL dengan
Model TPS diharapkan dapat
meningkatkan motivasi dan hasil belajar siswa. Motivasi menurut Kamus
Besar Bahasa Indonesia (1988) adalah dorongan yang timbul pada diri seseorang
sadar atau tidak sadar untuk melakukan suatu tindakan dengan tujuan tertentu.
Motivasi belajar siswa dapat dilihat dari indikator yang berupa attention, relevance, confident, dan satisfaction dalam pembelajaran atau
yang disebut model ARCS. Menurut
Setjo (2004) motivasi model ARCS adalah model untuk menciptakan motivasi suatu
materi pembelajaran.sedangkan hasil belajar menurut Sanjaya (2005) merupakan
gambaran kemampuan siswa dalam memenuhi suatu tahapan pencapaian pengalaman.
Metode Penelitian
Rancangan Penelitian
Pada Penelitian Tindakan Kelas (PTK) ini, guru sebagai peneliti melaksanakan tindakan dalam alur siklus. Kegiatan dalam satu siklus terdiri dari
tahapan perencanaan, pelaksanaan, pengamatan dan refleksi. Setiap siklus
dilaksanakan selama dua jam pelajaran atau 2 x 40
menit. Materi yang disampaikan dalam penelitian ini adalah materi Besaran dan
Pengukuran. Setiap siklus melalui beberapa tahapan yang harus dilakukan.
Tahapan pada penelitian ini adalah sebagai berikut :
Siklus
I
a.
Perencanaan
1)
Mengadakan pertemuan dengan guru untuk melaksanakan persiapan dan
menentukan waktu pelaksanaan.
2)
Menyusun perangkat pembelajaran berupa Silabus, RPP I.
3)
Menyusun Lembar pertanyaan.
4)
Menyusun instrumen penelitian yang terdiri catatan lapangan,
lembar observasi motivasi belajar siswa, tes hasil belajar .
b.
Pelaksanaan
Siklus pertama dilaksanakan setiap hari Kamis sesuai jadwal dengan
alokasi waktu masing-masing pertemuan 2 jam pelajaran atau 2 X 40 menit.
c.
Pengamatan
Pengamatan dilaksanakan selama pembelajaran berlangsung. Guru sebagai peneliti
sedangkan partner guru sebagai kolaborator yang akan ikut menganalisis data
dalam penelitian ini. Kolaborator diberikan pedoman untuk melakukan pengamatan. Instrumen pengamatan berupa
catatan lapangan, lembar observasi keterlaksanaan guru, lembar observasi
keterlaksanaan siswa, lembar observasi motivasi belajar siswa .
d.
Refleksi
Semua data
yang diperoleh dari observasi kemudian dianalisis oleh peneliti beserta
kolaborator yang dilaksanakan setelah kegiatan pembelajaran. Dari hasil
analisis data tersebut dapat diketahui apakah penelitian telah berhasil atau
belum. Apabila tujuan penelitian sudah berhasil maka proses berhenti sampai
siklus pertama saja, tetapi bila belum tercapai maka akan dilanjutkan ke siklus
kedua dan hasil analisis data tersebut digunakan sebagai pedoman tindakan
siklus berikutnya.
Siklus II
a.
Perencanaan
1.
Mengadakan pertemuan dengan Kolaborator untuk melakukan perencanaan perbaikan pada siklus II
2.
Menyusun RPP siklus II
bersama kolaborator.
3.
Menyusun Lembar Kerja Siswa (LKS) siklus II bersama kolaborator.
4.
Menyusun instrumen penelitian yang terdiri dari catatan lapangan,
lembar observasi motivasi belajar siswa, tes hasil belajar siklus II bersama
kolaborator.
b. Pelaksanaan
Siklus kedua dilaksanakan pada setiap hari Kamis sesuai jadwal mengajar dengan alokasi waktu 2 X 40 menit.
c. Pengamatan
Pengamatan dilaksanakan selama pembelajaran berlangsung. Guru sebagai
peneliti sedangkan partner guru sebagai kolaborator yang akan ikut menganalisis
data dalam penelitian ini. Kolaborator diberikan pedoman untuk melakukan pengamatan. Instrumen pengamatan berupa
catatan lapangan, lembar observasi keterlaksanaan guru, lembar observasi
keterlaksanaan siswa, lembar observasi motivasi belajar siswa .
d.
Refleksi
Semua data
yang diperoleh dari observasi kemudian dianalisis oleh peneliti beserta
kolaborator yang dilaksanakan setelah kegiatan pembelajaran selesai. Dari hasil
analisis data tersebut dapat diketahui apakah penelitian telah berhasil atau
belum.
Subjek Penelitian
Penelitian dilaksanakan di SMPN 1
Dolopo, Jl. Adil Makmur No 95 Dolopo Madiun mulai bulan Januari
2014 sampai dengan Maret 2014. Subjek penelitian ini adalah seluruh siswa kelas IXA
SMPN 1 Dolopo semester genap tahun pelajaran 2013/2014.
Jumlah 32 siswa dengan rincian 12 siswa laki-laki dan 20 siswa perempuan. Kelas
IXA dipilih sebagai subjek penelitian karena kelas ini menunjukkan
tingkat motivasi dan hasil belajar yang lebih rendah jika dibandingkan dengan
kelas lain.
Istrumen Penelitian
Instrumen
penelitian yang digunakan untuk mengetahui hasil belajar dan motivasi belajar
Besaran dan Pengukuran. Instrumen penelitian ini meliputi Catatan lapangan, berfungsi untuk merekam segala aktivitas guru
dan siswa selama kegiatan pembelajaran yang tidak dapat diobservasi melalui
pengisian lembar observasi yang telah tersedia. Tujuan dari adanya catatan
lapangan ini adalah sebagai acuan untuk refleksi sehingga dapat dijadikan
perbaikan dalam kegiatan pembelajaran berikutnya.
Lembar
observasi motivasi belajar merupakan
lembar observasi dengan pemberian skor pada setiap siswa terhadap setiap
indikator motivasi yang telah ditentukan. Rentangan skor berkisar antara angka
1 sampai 3 dengan acuan pemberian skor 1 untuk aktivitas yang kurang, 2 untuk
aktivitas yang cukup, dan 3 untuk aktivitas yang baik.
Teknik Pengumpulan Data
Data diperoleh dari hasil observasi guru
sebagai peneliti beserta kolaborator dengan cara mengisi catatan lapangan dan
lembar observasi motivasi belajar siswa yang telah dibuat saat perencanaan.
Teknik Analisis Data
Data Kualitatif
Menurut Buana
(2009) data kualitatif dianalisis sebagai berikut.
a.
Reduksi data, merupakan proses pemilihan, pemusatan perhatian pada
penyederhanaan (membuang yang tidak perlu), pengabstrakan dan transformasi
data yang muncul dari lembar observasi dan catatan lapangan sehingga dapat
ditarik kesimpulan dan diverifikasi.
b.
Penyajian data merupakan
pengorganisasian data hasil reduksi dalam bentuk naratif yang memungkinkan
untuk penarikan kesimpulan dan pengambilan tindakan, selanjutnya sajian
tersebut ditafsirkan dan dievaluasi untuk merencanakan tindakan berikutnya.
c.
Penarikan kesimpulan, merupakan kegiatan yang dimaksudkan untuk
memberikan kesimpulan terhadap hasil penafsiran dan evaluasi.
Data Kuantitatif
a.
Motivasi
Belajar
Data motivasi
belajar siswa terdiri dari motivasi belajar klasikal per indikator dan motivasi
belajar klasikal keseluruhan.
1)
Motivasi belajar klasikal per indikator adalah persentase nilai
motivasi yang diperoleh seluruh siswa untuk setiap indikator, diketahui dengan
menggunakan rumus sebagai berikut.
MBKi =
x 100%
Keterangan
·
MBKi = Motivasi belajar
klasikal setiap indikator
·
∑Sdi = Jumlah skor
deskriptor yang muncul di setiap indikator
·
Smax = Skor maksimal indikator
(jumlah deskriptor X skor maksimal deskriptor)
2)
Motivasi belajar klasikal keseluruhan adalah persentase nilai
motivasi yang diperoleh seluruh siswa untuk semua indikator motivasi, diketahui
dengan menggunakan rumus sebagai berikut.
MBKk =
x 100%
Keterangan
·
MBKk = Motivasi belajar
klasikal keseluruhan
·
∑(∑Sdi) = Total jumlah skor deskriptor yang muncul di setiap
indikator
·
∑Smax = Total skor maksimal indikator
Berdasarkan nilai motivasi klasikal baik per indikator maupun keseluruhan
indikator maka dapat ditentukan kategori taraf keberhasilan motivasi belajar
siswa. Penentuan taraf keberhasilan motivasi belajar siswa berpedoman pada
Tabel 3.1 berikut ini.
Indikator Keberhasilan
a.
Motivasi belajar siswa
Keberhasilan
penelitian pada motivasi belajar siswa dilihat nilai masing-masing indikator
motivasi belajar siswa yang diukur dengan pedoman penentuan taraf keberhasilan
motivasi belajar siswa yaitu table 3.1. Indikator motivasi belajar siswa yang
meliputi attention, relevance, confident,
dan satisfaction.
b.
Hasil belajar
Hasil belajar kognitif dikatakan tuntas secara klasikal jika
minimal 70% siswa tuntas. Adapun kriteria ketuntasan individu adalah 75.
Hasil Penelitian
Paparan Siklus 1
1)
Pertemuan I
Pada kegiatan pembelajaran guru membuka pelajaran sedangkan siswa
menyiapkan diri untuk menerima pelajaran. Guru memotivasi siswa dengan menggali
pengetahuan awal tentang besaran
pokok. Siswa menjawab
pertanyaan-pertanyaan dari guru yang mengarahkan siswa pada materi yang akan
dipelajari. Guru menyampaikan tujuan dan
indicator yang akan dicapai pada pembelajaran tentang Besaran dan Pengukuran. Guru
memberitahukan tentang tata cara pembelajaran dengan menggunakan model TPS Guru
memberi pertanyaan kepada siswa agar dipikirkan jawabannya yang disebut dengan think kemudian membimbing siswa agar
membentuk kelompok dengan teman sebangkunya untuk menjawab
pertanyaan-pertanyaan tersebut yang disebut pair.
Setelah kedua siswa menemukan jawaban atas pertanyaan yang diberikan guru,
kemudian siswa duduk berhadapan dengan siswa yang duduk di belakangnya sehingga
jumlah kelompok ini menjadi 4 siswa. Keempat siswa tersebut mendiskusikan
kembali jawaban atas pertanyaan yang diberikan guru yang disebut share. Setelah selesai masing-masing
kelompok mempresentasikan hasilnya di depan kelas sehingga masing-masing siswa dapat mengadopsi
jawaban atas pertanyaan tersebut. Proses diskusi berjalan dengan lancar tetapi
hanya beberapa siswa tertentu yang aktif bertanya. Setelah diskusi selesai,
Siswa membuat kesimpulan dibantu oleh guru.
2) Pertemuan 2
Pada
pertemuan kedua guru membuka pelajaran dan mengecek kehadiran siswa. Guru
menanyakan kesiapan siswa sebelum pembelajaran hari itu. Guru kemudian menjelaskan kompetensi dasar
dan tujuan pembelajaran yang ingin dicapai. Guru menjelaskan sintaks
pembelajaran dan mengorientasi siswa pada masalah. Guru memberitahukan
kegiatan yang akan dilaksanakan pada hari ini yaitu tentang besaran turunan.
Pada pertemuan 2 ini kegiatan inti pembelajaran sama dengan kegiatan inti pada pertemuan 1.
3)
Pertemuan 3
Pada
pertemuan ketiga guru membuka pelajaran dan mengecek kehadiran siswa. Guru
menanyakan kesiapan siswa sebelum pembelajaran hari itu. Guru kemudian menjelaskan kompetensi dasar
dan tujuan pembelajaran yang ingin dicapai. Guru menjelaskan sintaks
pembelajaran dan mengorientasi siswa pada masalah. Guru memberitahukan
kegiatan yang akan dilaksanakan pada hari ini. Pada pertemuan 3 ini kegiatan
inti pembelajaran sama dengan kegiatan
inti pada pertemuan 2.
Pada tahap ini, terlihat 6 siswa nomor presensi 13, 15, 31, 27, 11, 16
nampak tidak serius dalam mencari jawaban. Guru segera memberi arahan agar
tahap berpikir sendiri ini dilakukan sesuai prosedur agar siswa terlatih untuk
berpikir sendiri sesuai peraturan. Keenam siswa tersebut segera merespon arahan
guru dan kembali menekuni mencari jawaban atas pertanyaan tersebut.
Tahap Pair dilaksanakan setelah tahap Think, dalam hal ini
siswa berpasangan dengan salah satu teman sekelompok yang merupakan teman
sebangku untuk berdiskusi tentang suhu yang disebut pair. Suasana dalam ruangan
mulai terdengar agak ramai, masing-masing kelompok terdiri dari dua orang boleh
berdiskusi selama 5 menit. Guru melakukan pengelolaan kelas mengontrol setiap
kelompok agar siswa betul-betul melakukan tahapan Pair.
Setelah seluruh kelompok terlibat aktif dalam diskusi, guru memfasilitasi
perwakilan kelompok untuk presentasi. Pada tahap Share nampak sepuluh
kelompok tunjuk tangan tanda bersiap presentasi. Guru memilih siswa yang
terlebih dahulu tunjuk tangan yaitu siswa nomor presensi 32, 16, 23, 17, 5, 8,
3, 15, 11, 6. Kesempatan pertama diberikan pada siswa no. 32 untuk menjawab
pertanyaan. Kelompok siswa yang memiliki jawaban sama tidak usah
mempresentasikan kembali tetapi boleh menambahkan. Guru memancing beberapa
pertanyaan yang muncul dari siswa. Pada kesempatan ini 20 siswa tunjuk tangan,
guru mempersilakan siswa no. 13 untuk mengajukan pertanyaannya. Guru memberi
kesempatan pada siswa no. 11 untuk menjawab pertanyaan temannya. Guru menggali
pemahaman siswa lainnya untuk menambahkan keterangan yang telah diberikan.
Kelompok siswa mulai mencari jawaban, akhirnya siswa no. 18 tunjuk tangan dan
setelah dipersilahkan untuk menjawab segera menambahkan jawaban dari temannya
tadi. Guru dan siswa menyimpulkan pembelajaran hari ini .
Setelah melakukan diskusi siswa mengerjakan 10 soal esai selama 10 menit
sebagai evaluasi dari kegiatan belajar yang telah dilakukan hari ini. Selesai
mengerjakan soal, siswa diberi tugas untuk mempelajari materi pengukuran suhu
yang akan dipelajari pada pertemuan berikutnya. Guru kemudian menutup
pelajaran.
Refleksi Siklus I.
Kekurangan siklus I
1.
Siswa masih ragu untuk mengemukakan ide atau
pendapatnya.
2.
Pada saat diskusi jawaban siswa masih
didominasi siswa tertentu saja
3.
Kepercayaan diri siswa masih kurang, sehingga
terlihat motivasi belajar masih kurang.
4.
Inisiatif siswa masih kurang.
Kelebihan siklus I
1.
Siswa antusias saat guru memberikan
pertanyaan tentang tata Surya
2.
Siswa mulai serius dalam mencari jawaban pertanyaan dengan membawa
sumber dari buku penunjang yang dipunyai
3.
Siswa belajar berbagi tugas dengan
kelompoknya
4.
Pada saat presentasi siswa satu dengan
lainnya saling memberi penguatan untuk bisa tampil di depan kelas
5.
Pada saat tanya jawab siswa sudah mulai
berani tunjuk tangan untuk menjawab pertanyaan
Paparan Siklus II
1)
Pertemuan I
Pertemuan pertama siklus II dilaksanakan di laboratorium SMP Negeri 1
Dolopo dengan jumlah siswa 32 siswa. Guru membuka
pelajaran dengan memotivasi siswa dan
menanyakan apakah ada kesulitan-kesulitan pada materi lalu yang akan
ditanyakan. Guru menyampaikan tujuan pembelajaran dan indicator yang akan
dicapai pada pembelajaran hari itu.
Guru
mengorganisasikan siswa dalam kelompok praktikum, masing-masing kelompok
terdiri atas 4 anak. Guru menanyakan persiapan dan pemahaman siswa sebelum
praktikum. Siswa diberi pengarahan secara umum mengenai praktikum yang akan
dilakukan. Dan guru memberi kesempatan pada siswa untuk bertanya jika ada yang
belum jelas mengenai tugas yang diberikan. Siswa mulai melakukan kegiatan
praktikum dan membuat laporan sementara dari praktikum yang dilakukan, berupa
catatan data yang diperoleh. Guru mengamati kerja siswa, melakukan penilaian
performans, dan membantu siswa jika mereka mengalami kesulitan. Praktikum yang
dilakukan siswa sudah mulai tertib. Setiap kelompok sudah berbagi tugas dengan
baik.
Siswa
dibimbing untuk menampilkan data yang telah diperoleh di layar LCD. Siswa
membandingkan data yang telah didapat oleh masing-masing kelompok dan
mendiskusikannya dengan model TPS.
Siswa
menerima tugas dari guru untuk membuat laporan praktikum. Guru memberi
pengarahan mengenai format laporan praktikum dan memberi kesempatan kepada
siswa untuk bertanya mengenai format laporan yang telah dijelaskan. Guru
memberikan tugas untuk pertemuan selanjutnya dan kemudian menutup pelajaran.
2)
Pertemuan II
Pertemuan kedua dilaksanakan di kelas.
Guru membuka pelajaran dan menyampaikan beberapa pertanyaan tentang masalah
materi yang dipelajari pada minggu lalu. Setelah beberapa saat guru menjelaskan
kompetensi dasar dan tujuan pembelajaran yang akan dipelajari hari ini. Siswa
diberikan pertanyaan-pertanyaan tentang alat ukur suhu yang digunakan dalam kehidupan
sehari-hari. Tahap pertama siswa diberi kesempatan berpikir sendiri selama 5
menit, tahap selanjutnya dipikirkan
berdua dengan teman sebangku selama 10 menit, lalu didiskusikan bersama dengan teman yang duduk
di belakangnya sehingga terbentuk
kelompok yang terdiri 4 siswa selama 30 menit.
Setelah diskusi selesai guru menawarkan kesempatan presentasi
pertama kepada salah seorang siswa yang berminat mempresentasikan hasil diskusi
dan menjawab pertanyaan yang telah dibuat. Siswa nampak saling tunjuk antar
teman, tidak ada yang berinisiatif tunjuk tangan. Melihat situasi tersebut,
guru langsung menawarkan kesempatan mempresentasikan berdua. Serentak dua puluh
siswa tunjuk tangan dan siap dengan pasangan diskusi masing-masing. Akhirnya
guru menunjuk siswa no. 13 dan 28 untuk presentasi di depan kelas, diikuti
kelompok yang lainnya.
Sebagai penutup, siswa
mendapat tugas untuk mempelajari materi alat ukur dari guru untuk pertemuan
yang akan datang
3)
Pertemuan III
Guru membuka pelajaran dan menyampaikan
beberapa pertanyaan tentang alat ukur panjang yang dipelajari pertemuan lalu.
Siswa dapat menjawab pertanyaan dari guru dengan lancar berdasarkan kejadian
yang pernah mereka lihat. Guru kemudian memberikan motivasi berupa pertanyaan
tentang alat ukur massa. Kegiatan inti pertemuan ketiga dilaksanakan dengan
kegiatan diskusi dengan model TPS dipandu dengan kartu berpasangan. Guru sudah
mempersiapkan dua macam kartu yaitu kartu pertanyaan dan kartu jawaban. Setiap
siswa mendapat kartu secara acak, ada yang mendapat kartu pertanyaan dan ada
yang mendapat kartu jawaban. Siswa membuat dua kolom tempat menuliskan jawaban
dan pertanyaan pada buku tulisnya.
Guru memberi instruksi agar tulisan di
kartu yang dipegang siswa ditulis kembali dalam bukunya dan dilengkapi dengan
keterangannya. Siswa diberi kesempatan berpikir sendiri untuk melengkapi
keterangan dari tulisan yang diterimanya selama 5 menit sebagai tahap THINK. Tahap berikutnya siswa bertukar
kartu dengan pasangan teman sebangku dan boleh berdiskusi tentang materi yang
didapat masing-masing untuk ditulis sebagai hasil pemikiran berdua yang disebut
tahap PAIR. Setelah siswa terbiasa dengan kelompok pasangannya, guru
memberi kesempatan pada siswa untuk menukar kartu yang dipegangnya dengan teman
lain. Aktivitas siswa pada tahap THINK,
menunjukkan asyik dengan dirinya sendiri berpikir sendiri mengisi keterangan
dari kartu yang didapatnya. Pada tahap THINK
suasana kelas sangat tenang, siswa terlihat serius dan antusias membaca materi
pada kartu. Siswa kemudian melengkapi keterangan yang cocok menurut hasil
pemikirannya tanpa intervensi orang lain.
Aktivitas siswa pada tahap PAIR selama 5 menit, menunjukkan adanya
reaksi siswa mau terbuka terhadap
pendapat orang lain. Siswa berdiskusi dengan teman sebangku, suasana kelas
mulai ramai memecah keheningan saat berpikir sendiri. Kontak sosial sudah mulai
terjadi, siswa mulai menunjukkan rasa percaya diri tentang apa yang telah
ditemukannya untuk melengkapi keterangan kartu pasangan masing-masing.
Kegiatan dilanjutkan dengan tahap SHARE yaitu siswa boleh keluar dari
bangku masing masing bertukar kartu dan saling melengkapi. Pada tahap ini
suasana kelas semakin ramai dengan ekspresi siswa yang puas dengan hasil
kerjanya melengkapi keterangan yang diperoleh selama pembelajaran. Pada tahap SHARE ini terlihat aktivitas belajar
siswa yang santai bisa berjalan menuju bangku teman lain, tetapi serius dalam
melengkapi keterangan materi sampai waktu yang yang telah ditentukan. Pertemuan
ketiga ini dilaksanakan evaluasi yang
berlangsung selama 20 menit. Siswa diminta untuk mengerjakan beberapa
soal yang telah disiapkan. Siswa mengerjakan soal dengan serius, walaupun ada
beberapa siswa yang terlihat kebingungan mengerjakan soal.
Refleksi Siklus II
Kekurangan siklus II
1.
Masih ada 14,28% siswa belum termotivasi untuk tanya jawab dalam
diskusi
2.
Siswa nampak saling tunjuk antar teman, tidak ada yang
berinisiatif tunjuk tangan
Kelebihan siklus II
1.
Praktikum yang dilakukan siswa sudah mulai tertib
2.
Presentasi secara berpasangan dapat memotivasi siswa untuk tampil
di depan kelas
Hasil
Penelitian
Perbandingan
Hasil Siklus I dan Siklus II
Siklus I
a.
Siswa masih kurang percaya diri dalam
menyampaikan pendapat
b.
Hasil motivasi klasikal keseluruhan
siklus I sebesar 68,333%
c.
Ketuntasan klasikal keseluruhan siklus I
sebesar 85,71% dengan rata-rata kognitif sebesar 81, afektif 81 dan psikomotor
82
Siklus II
a.
Siswa lebih percaya diri dalam
mengemukakan pertanyaan maupun pendapat
b.
Dalam melaksanakan praktikum siswa sudah
paham dan mengerti apa yang harus dilakukan
c.
Hasil motivasi klasikal keseluruhan
siklus II sebesar 92,083%
d.
Ketuntasan klasikal keseluruhan siklus
II sebesar 91,18% dengan rata-rata kognitif 82, afektif 83 dan psikomotor 86
Berdasarkan paparan tersebut, terdapat peningkatan motivasi dan
hasil belajar pada siklus II. Peningkatan motivasi belajar meningkat sebesar
23,75% pada siklus II dan ketuntasan klasikal keseluruhan siklus II meningkat
sebesar 6%
Gambar 4.1
memperlihatkan perbandingan
motivasi belajar siswa siklus I dan siklus II.
Pembahasan
1.
Peningkatan
Motivasi Belajar Siswa
Keterlibatan siswa secara aktif dapat diamati dalam empat
indikator motivasi yaitu attention,
relevance, confident, dan satisfaction
atau yang lebih dikenal sebagai model ARCS. Motivasi model ARCS adalah model
untuk menciptakan motivasi suatu materi pembelajaran (Setjo, 2004).
Peningkatan motivasi belajar siswa dapat dilihat dari peningkatan
indikator motivasi yang diamati selama siklus I dan siklus II. Peningkatan
terjadi pada indikator attention,
relevance, confident, dan satisfaction
dari siklus I ke siklus II. Berdasarkan Gambar 4.1 terjadi peningkatan pada
pada keempat indikator motivasi. Indikator attention
mengalami peningkatan 15%. Peningkatan indikator attention terjadi karena rasa keingin tahuan siswa yang besar
terhadap objek yang dipelajari.. Menurut Joegolan (2008) attetion muncul didorong rasa ingin tahu, yang dirangsang melalui elemen-elemen yang baru,
aneh, lain dengan yang sudah ada, kontradiktif atau kompleks. Fajari (2010)
juga menjelaskan bahwa attention
dapat berarti sama dengan konsentrasi atau perasaan tertarik pada masalah yang
sedang dipelajari.. Hal ini sesuai dengan pernyataan Susanto (2002) yang
menyebutkan bahwa motivasi belajar siswa tinggi jika mereka memusatkan
perhatian lebih besar kepada kegiatan belajar daripada kegiatan yang bukan
belajar.
Peningkatan juga terjadi pada indikator relevance. Indikator relevance
meningkat karena siswa selama siklus II lebih banyak yang dapat memahami apa
yang mereka pelajari selama kegiatan pembelajaran. Siswa difasilitasi untuk
mencari informasi dan berdiskusi agar memahami materi pembelajaran protista dan
peranannya. Menurut Abidin (2008 dalam Fajari, 2010) relevance adalah adanya hubungan bahan ajar dengan kebutuhan dan
kondisi siswa. Siswa dapat menjawab pertanyaan berdasarkan pengalamannya di
lingkungan atau sebaliknya, siswa dapat menerapkan pengetahuan yang diperoleh
selama kegiatan pembelajaran di kehidupan sehari-hari mereka. Adanya relevance yang tinggi dapat meningkatkan
motivasi tersebut sesuai dengan pernyataan Qadriyah (2002) yaitu motivasi siswa
akan terpelihara apabila mereka mengganggap bahwa apa yang dipelajari memenuhi
kebutuhan pribadi atau bermanfaat dan sesuai dengan nilai yang dipegang.
Indikator confident mengalami
peningkatan sebesar 40%. Berdasarkan refleksi siklus I indikator confident mendapat pencapaian terendah
dibandingkan dengan indikator lain. Guru pada siklus II berusaha untuk
meningkatkan kepercayaan diri siswa dengan memberikan motivasi dan apresiasi
terhadap siswa yang aktif mengemukakan pendapat maupun bertanya. Kegiatan
diskusi juga diawali dengan kelompok kecil yang terdiri dari dua siswa yang
selanjutnya berkembang menjadi kelompok besar yang terdiri atas 4 siswa. Hal
ini dilakukan untuk meningkatkan kepercayaan diri siswa dan meningkatkan
pemahaman siswa terhadap materi. Adanya pertanyaan atau masalah rangsangan dari
guru maupun siswa lain dapat menjadi tuntunan bagi siswa dalam mengontruksi
pemecahan masalah yang dapat berupa pendapat atau jawaban dari siswa sehingga
siswa lebih confident. Menurut
Dimyati dan Mudjiono (1994) motivasi intrinsik mendorong terus dan memberikan
energi pada tingkah laku. Dalam hal ini motivasi intrinsik mengarah pada
timbulnya motivasi berprestasi. Untuk mencapai motivasi berprestasi tersebut
diperlukan adanya confident atau rasa
percaya diri. Berdasarkan hasil penelitian ini, confident yang berasal dari dalam diri siswa, yang bertujuan untuk
menunjukkan bahwa siswa tersebut berprestasi masih sangat kurang sekali.
Indikator terakhir yang diteliti dalam menentukan nilai motivasi
adalah satisfaction atau rasa puas
yang mencakup kepuasan atas jawaban yang diberikan oleh teman atau guru dan
kehadiran di kelas. Kehadiran di kelas termasuk ke dalam indikator satisfaction karena dengan kehadiran
siswa di kelas maka menunjukkan bahwa siswa tersebut puas terhadap pembelajaran
yang berlangsung. Pada siklus II terjadi peningkatan satisfaction membuktikan bahwa siswa merasa puas terhadap jawaban
atau pemecahan solusi yang dijelaskan oleh teman atau guru dan siswa merasa
puas terhadap pembelajaran yang ditunjukkan siswa hadir di kelas selama
kegiatan pembelajaran berlangsung. Menurut Oenfiati (2002) satisfaction siswa akan meningkat apabila mereka memperoleh
penghargaan atas keberhasilan yang diperoleh siswa. Penghargaan dapat berupa reward, reinforcement, atau pujian dari guru. Selama siklus II guru juga
lebih sering memberikan pujian terhadap siswa yang bersedia menyampaikan
pendapatnya atau menjawab pertanyaan. Adanya pujian dari guru menyebabkan siswa
merasa telah berhasil dalam mencapai tujuan yang diharapkan. Keberhasilan dalam
mencapai tujuan akan memberikan kepuasan tersendiri bagi siswa dan siswa akan
berupaya untuk mencapai tujuan lainnya dengan berhasil pula (Oenfiati, 2002).
Siswa juga akan meningkat satisfaction-nya
apabila hasil kerja mereka dihargai oleh orang lain.
2.
Penerapan TPS
(Think Pair Share) untuk Meningkatkan
Motivasi Siswa
Motivasi belajar siklus II mengalami
peningkatan jika dibandingkan dengan siklus I. Pada siklus I motivasi belajar
siswa sebesar 68,333. Siklus II hasil motivasi belajar sebesar 93,056%.
Peningkatan ini terjadi karena beberapa faktor. Siswa selama pembelajaran
melakukan proses pembelajaran dengan teman-temannya dengan berdiskusi bersama
dengan model TPS. Dengan model TPS siswa diberi kesempatan untuk
membangun pemahamannya sendiri dengan diberi waktu tunggu, lalu diberi
kesempatan untuk berpikir bersama dengan teman. Hal ini selaras dengan pendapat
Dasna dan Sutrisno (2006:46) bahwa ”siswa yang harus menemukan dan membangun
sendiri struktur kognitif / pengetahuannya melalui interaksi dan transaksi”.
Dengan demikian siswa akan membangun sendiri konsep pengetahuannya secara tidak
langsung dan berbagi informasi.
Pembelajaran kooperatif model TPS membantu
siswa untuk berinteraksi dengan teman-temannya maupun lingkungan. Siswa lebih
percaya diri dan mudah untuk membangun konsep pengetahuannya dengan interaksi
dan pengamatan langsung. Pada pembelajaran dengan model TPS guru memfasilitasi
siswa untuk mendiskusikan hal-hal yang ditemui pada saat praktikum. Hal ini
sesuai dengan Slavin (1996) dalam Sanjaya (2006) yang menyatakan dalam
pembelajaran kooperatif terdapat perspektif sosial, artinya bahwa melalui
pembelajaran kooperatif setiap siswa akan saling membantu dalam belajar karena
mereka menginginkan semua anggota kelompok memperoleh keberhasilan. Ibrahim,
dkk (2000:16) mengemukakan bahwa ”pembelajaran kooperatif lebih unggul dalam
meningkatkan hasil belajar dibandingkan dengan pengalaman-pengalaman belajar
individual atau kompotetif”.
Kesimpulan
Berdasarkan Pembahasan pada
bab IV Penelitian Tindakan Kelas ini dapat diketahui bahwa model Think Pair Share dapat meningkatkan
motivasi dan hasil belajar tentang Besaran dan Pengukuran pada siswa kelas IXA SMPN 1 Dolopo semester 2 tahun
pelajaran 2013/2014 dengan cara: guru membuat kartu soal dan kartu
jawaban. Guru memberi instruksi agar tulisan di kartu yang dipegang siswa ditulis
kembali dalam bukunya dan dilengkapi dengan keterangannya. Siswa diberi
kesempatan berpikir sendiri untuk melengkapi keterangan dari tulisan yang
diterimanya selama 5 menit sebagai tahap THINK.
Tahap berikutnya siswa bertukar kartu dengan pasangan teman sebangku dan boleh
berdiskusi tentang materi yang didapat masing-masing untuk ditulis sebagai
hasil pemikiran berdua yang disebut tahap
PAIR. Setelah siswa terbiasa
dengan kelompok pasangannya, guru memberi kesempatan pada siswa untuk menukar
kartu yang dipegangnya dengan teman lain. Aktivitas siswa pada tahap THINK, menunjukkan asyik dengan dirinya
sendiri berpikir sendiri mengisi keterangan dari kartu yang didapatnya. Pada
tahap THINK suasana kelas sangat
tenang, siswa terlihat serius dan antusias membaca materi pada kartu. Siswa
kemudian melengkapi keterangan yang cocok menurut hasil pemikirannya tanpa
intervensi orang lain.
Aktivitas siswa pada tahap PAIR selama 5 menit, menunjukkan adanya
reaksi siswa mau terbuka terhadap
pendapat orang lain. Siswa berdiskusi dengan teman sebangku, suasana kelas
mulai ramai memecah keheningan saat berpikir sendiri. Kontak sosial sudah mulai
terjadi, siswa mulai menunjukkan rasa percaya diri tentang apa yang telah
ditemukannya untuk melengkapi keterangan kartu pasangan masing-masing.
Kegiatan dilanjutkan dengan tahap SHARE yaitu siswa boleh keluar dari
bangku masing masing bertukar kartu dan saling melengkapi. Pada tahap ini
suasana kelas semakin ramai dengan ekspresi siswa yang puas dengan hasil kerjanya
melengkapi keterangan yang diperoleh selama pembelajaran. Pada tahap SHARE ini terlihat aktivitas belajar
siswa yang santai bisa berjalan menuju bangku teman lain, tetapi serius dalam
melengkapi keterangan materi sampai waktu yang yang telah ditentukan. Pertemuan
ketiga ini dilaksanakan evaluasi yang
berlangsung selama 20 menit. Siswa mengerjakan soal dengan serius,
walaupun ada beberapa siswa yang terlihat kebingungan mengerjakan soal. Hasil
evaluasi telah memnuhi indicator keberhasilan penelitian maka dari itu dapat
disimpulkan bahwa pembelajaran kooperatif Model Think
Pair Share dapat meningkatkan motivasi dan hasil belajar siswa
kelas IXA semester 2 tahun pelajaran 2013/2014 di SMP Negeri 1 Dolopo Madiun.
Saran
1.
Guru hendaknya mempertimbangkan penerapan Think Pair Share untuk meningkatkan motivasi belajar siswa
2.
Sekolah hendaknya memberikan dukungan
terhadap Think Pair Share yang
dilaksanakan oleh guru untuk memperbaiki mutu pendidikan di sekolah
3.
Penelitian ini dapat dijadikan bahan untuk
penelitian lebih lanjut
4.
Penelitian ini dapat dimanfaatkan dalam
pembelajaran
DAFTAR PUSTAKA
Arifin, Z. 1999. Evaluasi
Instruksional.Bandung: CV Remaja Rosdakarya.
Dimyati
dan Mudjiono. 2002. Belajar dan
Pembelajaran. Jakarta: Rineka Cipta.
Ewbank Eur dalam Wulandari. 2008. Penerapan Pembelajaran Kooperatife Tipe TPS
(Think Pair Share) Untuk Meningkatkan Hasil Belajar Siswa Pada Mata Pelajaran
Ekonomi Kelas XI-IPS3 SMA Negeri 7 Malang. Skripsi tidak diterbitkan.
Malang: UM
Gunter, Ester, Schwab dalam Susilo,
H. 2005. Pembelajaran Kooperatif Think
Pair Share. Makalah disajikan dalam Pelatihan PBMP (Pemberdayaan Berpikir
Melalui Pertanyaan) Pada Pembelajaran. Malang: Universitas Negeri Malang
Jones
dalam Susilo, H. 2005.
Pembelajaran Kooperatif Think Pair Share.
Makalah disajikan dalam Pelatihan PBMP (Pemberdayaan Berpikir Melalui
Pertanyaan) Pada Pembelajaran. Malang: Universitas Negeri Malang
Keller, J.M. 1987. IMMS: Instructional materials motivation
survey. Florida: Florida State University
Prayitno,
E. 1989. Motivasi dalam Belajar.
Jakarta: Proyek Pengembangan Lembaga Pendidikan Tenaga Kependidikan.
Qadriyah.
2002. Upaya Peningkatan Motivasi dan
Hasil Belajar Biologi melalui Penerapan Pembelajaran Kooperatif (Tipe STAD)
pada SMU Wahid Hasyim Malang. Tesis tidak diterbitkan. Malang: Universitas
Negeri Malang.
Sanjaya, W. 2006. Pembelajaran Dalam Implementasi Kurikulum
Berbasis Kompetensi. Jakarta: Kencana Prenada Media Group
Sardiman.
2003. Interaksi dan Motivasi Belajar
Mengajar. Jakarta: Rajawali Press.
Setjo,
S. 2004. Motivasi dan Pengajaran
Kontekstual. Makalah. Disampaikan pada Workshop Piloting IMSTEP—JICA
tanggal 23-24 Juli 2004 di FMIPA Universitas Negeri Malang.
Tim Penyusun Kamus Pusat Bahasa.
2008. Kamus Besar Bahasa Indonesia.
Jakarta: Balai Pustaka
Wlodkowski,
R.J. 1985. Enhancing Adult Motivation to
Learn: A Guide to Improving Instruc and Increasing Learner Achievement,
Edisi 1. Jossey Bass.
California.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar