Senin, 01 Oktober 2018

PENINGKATAN MOTIVASI DAN HASIL BELAJAR DENGAN MENGGUNAKAN THINK PAIR SHARE PADA SISWA KELAS IXA SEMESTER 2 SMPN 1 DOLOPO MADIUN TAHUN PELAJARAN 2013/2014


PENINGKATAN MOTIVASI DAN HASIL BELAJAR
DENGAN MENGGUNAKAN THINK PAIR SHARE PADA SISWA KELAS IXA SEMESTER 2 SMPN 1 DOLOPO MADIUN TAHUN PELAJARAN 2013/2014

Oleh : Endah Murtiningsih
Guru SMPN 1 Dolopo Kabupaten Madiun

ABSTRAK
Kata kunci: motivasi belajar, hasil belajar, model think pair share (TPS).

Salah satu cara untuk mencapai proses pembel­ajaran yang efektif dan dapat meningkatkan hasil belajar siswa adalah meng­gunakan suatu metode pembelajaran yang relevan (Permendiknas 22 tahun 2006). Pelaksanaan metode pembel­ajaran disesuaikan dengan kondisi yang terjadi pada saat pelajaran berlangsung .Motivasi memiliki peranan penting dalam pembelajaran seperti yang dikemukakan oleh Qadriyah, 2002. Penelitian ini merupakan penerapan Model Think Pair Share (TPS)untukmeningkatkanmotivasidanhasilbelajarsiswa.
Penelitian Tindakan Kelas (PTK) dilakukan di SMP Negeri 1 Dolopo, yang terletak di jalan Adil Makmur No 95 desa Bangunsari Kecamatan Dolopo Kabupaten Madiun yang dilaksanakan pada semester 2 tahun pelajaran 2013-2014, pada siswa kelas IXA. Pelaksanaan pembelajaran PTK ini dilaksanakan sebanyak 2 siklus yang masing-masing siklus melalui tahapan perencanaan, pelaksanaan, pengamatan dan refleksi.
. Pembelajaran kooperatif Model Think Share Pair telah membantu siswa mengatasi masalah keragu-raguan untuk menyatakan pendapat dan meningkatkan rasa percaya diri siswa. Kesimpulan dari penelitian ini adalah Model Think Pair Share dapat meningkatkan motivasi dan hasil belajar siswa kelas IXA semester 2 tahun pelajaran 2013-2014 di SMPN 1 Dolopo Kabupaten Madiun.
Saran Guru hendaknya mempertimbangkan penerapanThink Pair Share untuk meningkatkan motivasi dan hasil belajar siswa. Sekolah hendaknya memberikan dukungan terhadap penerapanThink Pair Share  yang dilaksanakan oleh guru untuk memperbaiki mutu pendidikan di sekolah.



Latar Belakang
Salah satu cara untuk mencapai proses pembel­ajaran yang efektif dan dapat meningkatkan hasil belajar siswa adalah meng­gunakan suatu metode pembelajaran yang relevan (Permendiknas 22 tahun 2006). Pelaksanaan metode pembel­ajaran disesuaikan dengan kondisi yang terjadi pada saat pelajaran berlangsung.
Metode pembelajaran yang cenderung berpusat pada guru (teacher cen­tered) kini sudah tidak sesuai lagi dan tidak bisa membantu siswa membangun pengetahuannya. Guru kini menggunakan beberapa metode kooperatif misalnya Group Investigation dan Jigsaw tetapi pelaksanaannya belum sesuai KTSP. Guru masih memberi tuntunan kepada siswa langkah demi langkah, sehingga siswa tidak ada usaha untuk membangun sendiri pengetahuannya.
Siswa dapat membangun sendiri pengetahuan jika siswa mempunyai keter­tarikan terhadap suatu pembelajaran. Ketertarikan siswa akan menumbuhkan rasa ingin tahu, siswa akan berusaha mencari berbagai sumber belajar dan aktif di da­lam kelas. Untuk itu diperlukan motivasi belajar pada diri siswa. Motivasi belajar terdiri dari attention, relevance, confident, dan satisfaction. Motivasi belajar akan mempengaruhi rasa ingin tahu siswa, sehingga siswa aktif dalam pembelajaran.
Berdasarkan pengamatan 2 tahun terakhir diketahui bahwa siswa kelas IXA SMPN 1 Dolopo memperlihatkan motivasi belajar yang  rendah dalam mengikuti pembelajaran Ilmu Pengetahuan Alam (IPA) dibandingkan dengan kelas lain. Siswa hanya mendengarkan penjelasan guru tanpa ada motivasi untuk mencari lebih banyak pengetahuan yang berhubungan dengan materi.
Hal ini terbukti dalam kegiatan diskusi,  siswa mau respon/menjawab hanya ketika ditanya oleh guru saja. Pada diskusi kelompok, tidak semua siswa turut serta dalam mengerjakan tugas kelompok, satu atau dua orang siswa yang mengerjakan tugas, siswa lain ada yang mengobrol dengan temannya, melamun atau mengerjakan tugas yang lain. Begitu pula ketika diskusi kelas atau presentasi, hanya sedikit siswa yang  aktif bertanya, tidak ada pertanyaan dari siswa sebelum guru meminta mereka membuat pertanyaan untuk diajukan ke­pada kelompok presentator. Pertanyaan yang diajukan dijawab oleh  presentator tetapi tidak ada umpan – balik dari siswa yang bertanya tadi. Guru menjelaskan bahwa belum tentu siswa yang tergolong mempunyai kemampuan akademik tinggi dapat aktif dalam kegiatan pembelajaran. Terdapat beberapa siswa yang cukup tinggi kemampuan akademiknya, tetapi siswa tersebut tidak memiliki motivasi belajar yang baik. Salah satu usaha yang dapat meningkatkan motivasi belajar Fisika adalah dengan menggunakan Think Pair Share (TPS).
TPS adalah suatu strategi diskusi kooperatif yang dikembangkan oleh Frank Lyman dan kawan-kawannya di Universitas Maryland pada tahun 1981. TPS memperkenalkan ide ”waktu berpikir atau waktu tunggu” yang banyak menjadi faktor kuat dalam meningkatkan kemampuan siswa merespon pertanyaan. Nama Think Pair Share berasal dari tiga tahap kegiatan siswa yang menekankan pada apa yang dikerjakan siswa pada setiap tahap (Jones, 2002 dalam Susilo, 2005).
Penggunaan model TPS dipilih berdasarkan pendapat Prayitno (1989) yang menyatakan bahwa model TPS membawa siswa pada sebuah kecerdasan hidup. Siswa menjadi cerdas secara otak dalam proses berpikir dan menyampai­kan buah pikiran. Model TPS juga dianggap dapat mengarakan siswa untuk menerima pengetahuan tidak hanya dari satu sumber tetapi dari berbagai sumber sehingga meningkatkan kemampuan kognitif (Ewbank Eur, 1947 dalam Wulandari, 2008).
Berdasarkan latar belakang, maka dilakukan penelitian dengan judul :
“Peningkatan Motivasi dan Hasil Belajar Dengan menggunakan Think Pair Share Pada Siswa Kelas IXA Semester 2 SMPN 1 Dolopo Madiun Tahun Pelajaran 2013/2014

Rumusan Masalah
Apakah model Think Pair Share (TPS) dapat mening­katkan motivasi dan hasil belajar siswa kelas IXA Semester 2 SMPN 1 Dolopo tahun pelajaran 2013/2014 ?

Tujuan
Meningkatkan motivasi dan hasil belajar siswa kelas IXA Semester 2 SMPN 1 Dolopo tahun pelajaran 2013/2014  dengan model Think Pair Share (TPS).

Manfaat Penelitian
1.   Bagi Guru. Penelitian ini sebagai masukan positif dalam melaksanakan pembelajaran sehingga dapat meningkatan kinerja guru.
2.   Bagi Siswa. Penelitian dapat meningkatkan motivasi belajar siswa dalam mempelajari Besaran dan Pengukuran, siswa memperoleh pengalaman baru dalam belajar yang lebih menyenangkan dan efektif.
3.   Bagi Sekolah. Dapat meningkatkan mutu pendidikan di SMPN 1  Dolopo Madiun.


Hipotesis Tindakan
Hipotesis penelitian ini adalah penerapan Think Pair Share (TPS) dapat meningkatkan motivasi dan hasil belajar siswa kelas IXA Semester 2 SMPN 1 Dolopo Madiun tahun pelajaran 2013/2014.


Kajian Teori
Motivasi Intrinsik
Motivasi intrinsik ditimbulkan oleh faktor-faktor yang muncul dari pribadi siswa itu sendiri. Motivasi intrinsik dapat berupa:
1)   Keterpakaian kompetensi dalam bidang yang sedang dipelajari dalam peker­jaan atau kehidupannya kelak.
2)   Keterpakaian pengetahuan yang diperoleh dari pembelajaran dalam memper­luas wawasannya sehingga memberikan kemampuan dalam mempelajari ma­teri lain.
3)   Diperolehnya rasa puas karena keberhasilan mengetahui tentang sesuatu yang selama ini menjadi obsesi atau dambaannya.
4)   Diperolehnya kebanggaan karena adanya pengakuan oleh lingkungan sosial terhadap kompetensi prestasinya dalam belajar.
Menurut Dimyati dan Mudjiono (2002) motivasi intrinsik mendorong terus dan memberikan energi pada tingkah laku. Dalam hal ini motivasi intrinsik mengarah pada timbulnya motivasi berprestasi.

Motivasi Ekstrinsik
Motivasi ekstrinsik merupakan motivasi yang ditimbulkan oleh faktor-fak­tor yang muncul dari luar pribadi siswa itu, termasuk dari guru. Faktor-faktor tersebut bisa positif atau negatif. Contoh dari motivasi ekstrinsik yang negatif adalah rasa takut siswa terhadap hukuman yang akan diberikan oleh guru sehingga mendorong siswa akan mengerjakan pekerjaan rumah sedangkan contoh motivasi intrinsik yang positif adalah dorongan siswa untuk mengerjakan peker­jaan rumah karena ingin mendapatkan pujian dari guru.
Motivasi belajar siswa dapat dilihat dari indikator yang berupa attention, relevance, confident, dan satisfaction dalam pembelajaran atau yang disebut model ARCS. Menurut Setjo (2004) motivasi model ARCS adalah model untuk menciptakan motivasi suatu materi pembelajaran. Strategi motivasi model ARCS mencakup metode untuk menimbulkan motivasi suatu materi pembelajaran. Kardi (2008 dalam Setjo, 2004) mengungkapkan bahwa model ARCS dilandasi oleh teori motivasi dan desain pembelajaran yang dikembangkan oleh Keller dan teori nilai yang diharapkan (expectancy value theory) karya Tolman dan Lewin.
Attention atau perhatian siswa muncul karena didorong rasa ingin tahu. Oleh sebab itu rasa ingin tahu perlu mendapat rangsangan sehingga siswa akan mem­berikan perhatian, dan perhatian tersebut terpelihara selama berlangsungnya pem­belajaran, bahkan lebih lama lagi (Keller, 1987). Susanto (2002) menyebutkan bahwa motivasi belajar siswa tinggi jika mereka memusatkan perhatian lebih besar kepada kegiatan belajar daripada kegiatan yang bukan belajar. Pada PBL elemen tersebut disajikan dalam permasalahan yang personal, artinya permasa­lahan tersebut dihadapi siswa dalam kehidupan nyata. Cara yang dapat digunakan untuk menarik attention siswa adalah guru perlu memberkan fakta-fakta atau pernyataan-pernyataan yang berlawanan dengan pengalaman atau pengatahuan siswa (Keller, 1987).
Bentuk attention yang lain dapat berupa rasa senang terhadap pelajaran. Mengacu pada persepsi individu tentang pemuasan kebutuhan pribadi dalam hubungannya dengan pembelajaran (Wlodkowski, 1985). Perasaan senang akan membantu siswa berkonsentrasi dalam belajarnya dan sebaliknya siswa dalam kondisi tidak senang maka kurang maksimal dalam belajarnya. Siswa tersebut akan mengalami kesulitan untuk berkonsentrasi terhadap kegiatan pembelajaran yang sedang berlangsung. Siswa yang merasa senang terhadap pelajaran akan merasa enjoy dan semangat selama mengikuti pelajaran. Seluruh kegiatan yang ada dalam pembelajaran diikuti, baik berupa kegiatan selama di kelas maupun pekerjaan yang dikerjakan di luar kelas. Perasaan senang pelajaran kemudian akan tanggung jawab terhadap tugas, dan keaktifan dalam kegiatan pembelajaran.
Relevance atau relevansi menunjukkan adanya hubungan materi pembel­ajaran dengan kebutuhan dan kondisi siswa. Menurut Abidin (2008 dalam Fajari, 2010) relevance adalah adanya hubungan bahan ajar dengan kebutuhan dan kondisi siswa. Motivasi belajar siswa akan terpelihara apabila mereka mengang­gap bahwa apa yang dipelajari memenuhi kebutuhan pribadi atau bermanfaat dan sesuai dengan nilai yang dipegang (Qadriyah, 2002). Bentuk relevance dapat be­rupa kemampuan siswa mengerti apa yang dipelajari sehingga dapat dikaitkan dengan kehidupan sehari-hari.
Indikator lain dari motivasi adalah adanya confident. Qadriyah (2002) me­nyebutkan bahwa confident adalah merasa diri kompeten atau mampu, merupakan potensi untuk dapat berinteraksi secara positif dengan lingkungan. Konsep terse­but berhubungan dengan keyakinan pribadi bahwa dirinya memiliki kemampuan untuk melakukan suatu tugas yang menjadi syarat keberhasilan. Prinsip yang berlaku adalah bahwa motivasi akan meningkat sejalan dengan meningkatnya harapan untuk berhasil. Oleh karena itu confident dapat berupa rasa percaya diri untuk aktif dalam kegiatan pembelajaran, misalnya percaya diri dalam mengemu­kakan pendapat, mengajukan pertanyaan, dan menjawab pertanyaan yang diberi­kan oleh guru atau teman sekelas. Siswa yang aktif dalam pembelajaran, akan mempunyai kebanggaan bahwa dirinya mampu dalam pelajaran tersebut.
Indikator motivasi yang lain berupa satisfaction atau kepuasan. Keberha­silan dalam mencapai tujuan akan menghasilkan kepuasan, dan siswa akan termo­tivasi untuk terus berusaha mencapai tujuan yang serupa. Kepuasan bagi siswa dapat berupa kepuasan terhadap pembelajaran misalnya merasa puas terhadap penjelasan guru atau jawaban dari teman atas pertanyaan yang siswa ajukan. Untuk meningkatkan dan memelihara motivasi siswa, guru dapat menggunakan penguatan (reinforcement) berupa pujian, pemberian kesempatan dan sebagainya (Qadriyah, 2002). Hal yang sama juga dinyatakan oleh (Keller, 1987) yaitu satisfaction siswa akan meningkat apabila mereka memperoleh penghargaan atas keberhasilan yang diperoleh siswa. Penghargaan dapat berupa reward, rein­forcement, atau pujian dari guru. Keberhasilan dalam mencapai tujuan akan memberikan kepuasan tersendiri bagi siswa dan siswa akan berupaya untuk mencapai tujuan lainnya dengan berhasil pula.

Think Pair Share (TPS)
Think Pair Share (TPS) adalah suatu strategi diskusi kooperatif yang dikembangkan oleh Frank Lyman dan kawan-kawannya di Universitas Maryland pada tahun 1981. Think Pair Share memperkenalkan ide ”waktu berpikir atau waktu tunggu” yang banyak menjadi faktor kuat dalam meningkatkan kemampuan siswa merespon pertanyaan. Nama Think Pair Share berasal dari tiga tahap kegiatan siswa yang menekankan pada apa yang dikerjakan siswa pada setiap tahap (Jones, 2002 dalam Susilo, 2005).
Terdapat beberapa alasan mengapa perlu menggunakan Think Pair Share.
1.   Think Pair Share membantu menstruktur diskusi. Siswa mengikuti proses yang telah tertentu sehingga membatasi kesempatan berpikirnya melantur dan tingkah lakunya menyimpang karena mereka harus berpikir dan melaporkan hasil pemikirannya ke mitranya (Jones, 2002 dalam Susilo, 2005).
2.   Think Pair Share meningkatkan partisipasi siswa dan meningkatkan banyak­nya informasi yang diingat siswa (Gunter, Ester dan Schwab, 1999). Dengan Think Pair Share siswa belajar dari satu sama lain dan berupaya bertukar ide dalam konteks yang tidak mendebarkan hati sebelum mengemukakan idenya ke dalam kelompok yang lebih besar. Rasa percaya diri siswa meningkat dan semua siswa mempunyai kesempatan berpartisipasi di kelas karena sudah memikirkan jawaban atas pertanyaan guru, tidak seperti biasanya hanya siswa tertentu yang menjawab.
3.   Think Pair Share meningkatkan lamanya “time on task” dalam kelas dan kualitas kontribusi siswa dalam diskusi kelas.
4.   Siswa dapat mengembangkan kecakapan hidup sosial mereka. Dalam Think Pair Share mereka juga merasakan (a) saling ketergantungan positif karena mereka belajar dari satu sama lain, (b) menjunjung akuntabilitas individu karena mau tidak mau mereka harus saling berbagi ide, dan wakil kelompok harus berbagi ide pasangannya dan pasangan lain atau keseluruh kelas, (c) punya kesempatan yang sama untuk berpartisipasi karena seyogyanya tidak boleh ada siswaa yang mencoba mendominasi dan (d) interaksi antar siswa cukup tinggi karena akan terlibat secara aktif dalam sengaja berbicara atau mendengarkan.
Terdapat empat langkah atau tahapan dalam pembelajaran TPS. Tahapan Think Pair Share adalah sebagai berikut (Gunter, Estes dan Schwab, 1999 dalam Susilo, 2005).
Tahap 1 siswa berpikir secara individu, guru memberi tanda agar siswa mulai memikirkan pertanyaan atau masalah yang diberikan guru tadi dalam waktu tertentu. Lamanya waktu ditetapkan oleh guru berdasarkan pemahaman guru terhadap siswanya, sifat pertanyaannya dan skedul pembelajaran. Menurut Jones 2002 (dalam Susilo, 2005) waktu berpikir ini bahkan boleh tidak sampai satu menit karena hanya memikirkan jawaban atas pertanyaan. Tahap kedua ini meru­pakan prosedur yang secara otomatis menyediakan “waktu tunggu” di dalam per­cakapan dalam kelas.
Tahap 2 setiap siswa mendiskusikan jawabannya dengan seorang mitra. Sekali lagi guru memberi tanda agar siswa mulai berpasangan dengan siswa lainnya untuk mendiskusikan dan mencapai kesepakatan atas jawaban terhadap pertanyaan tadi. Menurut Jones 2002 (dalam Susilo, 2005) mereka memban­dingkan hasil pemikiran ataupun jawaban yang mereka pikir paling baik, paling meyakinkan, atau paling unik. Seringkali proses ini dapat diperpanjang satu lang­kah lebih lanjut yaitu dengan meminta pasangan siswa bergabung dengan pasang­an lainnya sehingga memebentuk kelompok baru yang terdiri dari empat orang, lebih lanjut mereka menggabungkan ide mereka berempat sebelum memban­dingkannya ke kelompok lain yang lebih besar.
Tahap 3 siswa berbagi jawaban dengan seluruh kelas, mereka maju bersama untuk melaporkan hasil diskusinya ke seluruh kelas secara bergilir. Pada tahap terakhir Think Pair Share ini siswa seluruh kelas akan memperoleh keuntungan dalam bentuk mendengarkan berbagai ungkapan mengenai konsep yang sama dinyatakan dengan cara yang berbeda oleh individu yang berbeda, hal ini terjadi karena siswa memiliki cara penyampaian jawaban yang unik untuk pertanyaan yang diajukan oleh guru

Peningkatan Motivasi Belajar Fisika melalui Penerapan Model Think Pair Share (TPS)
Pembelajaran yang menarik memerlukan stimulus sehingga rasa ingin tahu siswa dan antusias siswa terhadap pelajaran tinggi. Salah satu cara untuk menciptakan situasi tersebut adalah dengan memberikan suatu permasalahan yang nyata dan terdapat pada lingkungan sekitar siswa. Dalam penelitian ini  penyajian masalah digunakan dengan model pembelajaran Problem Based Learning (PBL) dipadukan dengan model pembelajaran TPS. Model pembelajaran TPS adalah suatu strategi diskusi kooperatif. TPS yang dilaksanakan dengan empat tahap.
Tahap 1 siswa berpikir secara individu, guru memberi tanda agar siswa mulai memikirkan pertanyaan atau masalah yang diberikan guru dalam waktu tertentu. Lamanya waktu ditetapkan oleh guru berdasarkan pemahaman guru terhadap siswanya, sifat pertanyaannya dan skedul pembelajaran. Menurut Jones 2002 (dalam Susilo, 2005) waktu berpikir ini bahkan boleh tidak sampai satu menit karena hanya memikirkan jawaban atas pertanyaan.
Tahap 2 setiap siswa mendiskusikan jawabannya dengan seorang mitra. Sekali lagi guru memberi tanda agar siswa mulai berpasangan dengan siswa lainnya untuk mendiskusikan dan mencapai kesepakatan atas jawaban terhadap pertanyaan tadi. Menurut Jones 2002 (dalam Susilo, 2005) mereka memban­dingkan hasil pemikiran ataupun jawaban yang mereka pikir paling baik, paling menyakinkan, atau paling unik. Seringkali proses ini dapat diperpanjang satu lang­kah lebih lanjut yaitu dengan meminta pasangan siswa bergabung dengan pasang­an lainnya sehingga membentuk kelompok baru yang terdiri dari empat orang, lebih lanjut mereka menggabungkan ide mereka berempat sebelum memban­dingkannya ke kelompok lain yang lebih besar.
Tahap 3 siswa berbagi jawaban dengan seluruh kelas, mereka maju bersa­ma untuk melaporkan hasil diskusinya ke seluruh kelas. Pada tahap terakhir TPS ini siswa seluruh kelas akan memperoleh keuntungan dalam bentuk mendengarkan berbagai ungkapan mengenai konsep yang sama dinyatakan dengan cara yang berbeda oleh individu yang berbeda, hal ini terjadi karena siswa memiliki cara penyampaian jawaban unik untuk pertanyaan yang diajukan guru.
Penerapan PBL dengan Model TPS diharapkan dapat meningkatkan motivasi dan hasil belajar siswa. Motivasi menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (1988) adalah dorongan yang timbul pada diri seseorang sadar atau tidak sadar untuk melakukan suatu tindakan dengan tujuan tertentu. Motivasi belajar siswa dapat dilihat dari indikator yang berupa attention, relevance, confident, dan satisfaction dalam pembelajaran atau yang disebut model ARCS. Menurut Setjo (2004) motivasi model ARCS adalah model untuk menciptakan motivasi suatu materi pembelajaran.sedangkan hasil belajar menurut Sanjaya (2005) merupakan gambaran kemampuan siswa dalam memenuhi suatu tahapan pencapaian pengalaman.

Metode Penelitian
Rancangan Penelitian
Pada Penelitian Tindakan Kelas (PTK) ini, guru sebagai peneliti  melaksanakan tindakan dalam alur siklus. Kegiatan dalam satu siklus terdiri dari tahapan perencanaan, pelaksanaan, pengamatan dan refleksi. Setiap siklus dilaksanakan selama dua jam pelajaran atau 2 x 40 menit. Materi yang disampaikan dalam penelitian ini adalah materi Besaran dan Pengukuran. Setiap siklus melalui beberapa tahapan yang harus dilakukan. Tahapan pada penelitian ini adalah sebagai berikut :
Siklus I
a.    Perencanaan
1)   Mengadakan pertemuan dengan guru untuk melaksa­nakan persiapan dan menentukan waktu pelaksanaan.
2)   Menyusun perangkat pembelajaran berupa Silabus, RPP I.
3)   Menyusun Lembar pertanyaan.
4)   Menyusun instrumen penelitian yang terdiri catatan lapangan, lembar observasi motivasi belajar siswa, tes hasil belajar .
b.   Pelaksanaan
Siklus pertama dilaksanakan setiap hari Kamis sesuai jadwal dengan alokasi waktu masing-masing pertemuan 2 jam pelajaran atau 2 X 40 menit.
c.    Pengamatan
Pengamatan dilaksanakan selama pembelajaran berlangsung. Guru sebagai peneliti sedangkan partner guru sebagai kolaborator yang akan ikut menganalisis data dalam penelitian ini. Kolaborator diberikan pedoman untuk melakukan  pengamatan. Instrumen pengamatan berupa catatan lapangan, lembar observasi keterlaksanaan guru, lem­bar observasi keterlaksanaan siswa, lembar observasi motivasi belajar siswa .
d.   Refleksi
Semua data yang diperoleh dari observasi kemudian dianalisis oleh peneliti beserta kolaborator yang dilaksanakan setelah kegiatan pembelajaran. Dari hasil analisis data tersebut dapat diketahui apakah penelitian telah berhasil atau belum. Apabila tujuan penelitian sudah berhasil maka proses berhenti sampai siklus pertama saja, tetapi bila belum tercapai maka akan dilanjutkan ke siklus kedua dan hasil analisis data tersebut digunakan sebagai pedoman tindakan siklus berikutnya.

Siklus II
a.    Perencanaan
1.   Mengadakan pertemuan dengan Kolaborator  untuk melaku­kan  perencanaan perbaikan pada siklus II
2.   Menyusun  RPP siklus II bersama kolaborator.
3.   Menyusun Lembar Kerja Siswa (LKS) siklus II bersama kolaborator.
4.   Menyusun instrumen penelitian yang terdiri dari catatan lapangan, lembar observasi motivasi belajar siswa, tes hasil belajar siklus II bersama kolaborator.
b. Pelaksanaan
Siklus kedua dilaksanakan pada setiap hari Kamis sesuai jadwal mengajar dengan alokasi waktu 2 X 40 menit.
c. Pengamatan
Pengamatan dilaksanakan selama pembelajaran berlangsung. Guru sebagai peneliti sedangkan partner guru sebagai kolaborator yang akan ikut menganalisis data dalam penelitian ini. Kolaborator diberikan pedoman untuk melakukan  pengamatan. Instrumen pengamatan berupa catatan lapangan, lembar observasi keterlaksanaan guru, lem­bar observasi keterlaksanaan siswa, lembar observasi motivasi belajar siswa .
d. Refleksi
Semua data yang diperoleh dari observasi kemudian dianalisis oleh peneliti beserta kolaborator yang dilaksanakan setelah kegiatan pembelajaran selesai. Dari hasil analisis data tersebut dapat diketahui apakah penelitian telah berhasil atau belum.

Subjek Penelitian
Penelitian dilaksanakan di SMPN 1  Dolopo, Jl. Adil Makmur No 95 Dolopo Madiun mulai bulan Januari 2014 sampai dengan Maret 2014. Subjek penelitian ini adalah seluruh siswa kelas IXA SMPN 1 Dolopo semester genap tahun pelajaran  2013/2014. Jumlah 32 siswa dengan rincian 12 siswa laki-laki dan 20 siswa perempuan. Kelas IXA dipilih sebagai subjek penelitian karena kelas ini menunjukkan tingkat motivasi dan hasil belajar yang lebih rendah jika dibandingkan dengan kelas lain.

Istrumen Penelitian
Instrumen penelitian yang digunakan untuk mengetahui hasil belajar dan motivasi belajar Besaran dan Pengukuran. Instrumen penelitian ini meliputi Catatan lapangan, berfungsi untuk merekam segala aktivitas guru dan siswa selama kegiatan pembelajaran yang tidak dapat diobservasi melalui pengisian lembar observasi yang telah tersedia. Tujuan dari adanya catatan lapangan ini adalah sebagai acuan untuk refleksi sehingga dapat dijadikan perbaikan dalam kegiatan pembelajaran berikutnya.
Lembar observasi motivasi belajar  merupakan lembar observasi dengan pemberian skor pada setiap siswa terhadap setiap indikator motivasi yang telah ditentukan. Rentangan skor berkisar antara angka 1 sampai 3 dengan acuan pemberian skor 1 untuk aktivitas yang kurang, 2 untuk aktivitas yang cukup, dan 3 untuk aktivitas yang baik.

Teknik Pengumpulan Data
Data diperoleh dari hasil observasi guru sebagai peneliti beserta kolaborator dengan cara mengisi catatan lapangan dan lembar observasi motivasi belajar siswa yang telah dibuat saat perencanaan.

Teknik Analisis Data
Data Kualitatif
Menurut Buana (2009) data kualitatif dianalisis sebagai berikut.
a.    Reduksi data, merupakan proses pemilihan, pemusatan perhatian pada penye­derhanaan (membuang yang tidak perlu), pengabstrakan dan transformasi data yang muncul dari lembar observasi dan catatan lapangan sehingga dapat ditarik kesimpulan dan diverifikasi.
b.   Penyajian data  merupakan pengorganisasian data hasil reduksi dalam bentuk naratif yang memungkinkan untuk penarikan kesimpulan dan pengambilan tindakan, selanjutnya sajian tersebut ditafsirkan dan dievaluasi untuk meren­canakan tindakan berikutnya.
c.    Penarikan kesimpulan, merupakan kegiatan yang dimaksudkan untuk membe­rikan kesimpulan terhadap hasil penafsiran dan evaluasi.
Data Kuantitatif
a.   Motivasi Belajar
Data motivasi belajar siswa terdiri dari motivasi belajar klasikal per indikator dan motivasi belajar klasikal keseluruhan.
1)   Motivasi belajar klasikal per indikator adalah persentase nilai motivasi yang diperoleh seluruh siswa untuk setiap indikator, diketahui dengan mengguna­kan rumus sebagai berikut.
MBKi       =  x 100%
Keterangan
·     MBKi   = Motivasi belajar klasikal setiap indikator
·     ∑Sdi     = Jumlah skor deskriptor yang muncul di setiap indikator
·     Smax    = Skor maksimal indikator (jumlah deskriptor X skor maksimal deskriptor)
2)   Motivasi belajar klasikal keseluruhan adalah persentase nilai motivasi yang diperoleh seluruh siswa untuk semua indikator motivasi, diketahui dengan menggunakan rumus sebagai berikut.
MBKk =  x 100%
Keterangan
·     MBKk  = Motivasi belajar klasikal keseluruhan
·     ∑(∑Sdi) = Total jumlah skor deskriptor yang muncul di setiap indikator
·     ∑Smax = Total  skor maksimal indikator
Berdasarkan nilai motivasi klasikal baik per indikator maupun keseluruhan indikator maka dapat ditentukan kategori taraf keberhasilan motivasi belajar sis­wa. Penentuan taraf keberhasilan motivasi belajar siswa berpedoman pada Tabel 3.1 berikut ini.

Indikator Keberhasilan
a.    Motivasi belajar siswa
Keberhasilan penelitian pada motivasi belajar siswa dilihat nilai masing-masing indikator motivasi belajar siswa yang diukur dengan pedoman penentuan taraf keberhasilan motivasi belajar siswa yaitu table 3.1. Indikator motivasi belajar siswa yang meliputi attention, relevance, confident, dan satisfaction.
b.   Hasil belajar
Hasil belajar kognitif dikatakan tuntas secara klasikal jika minimal 70% siswa tuntas. Adapun kriteria ketuntasan individu adalah 75.

Hasil Penelitian
Paparan Siklus 1
1)   Pertemuan I
Pada kegiatan pembelajaran guru membuka pelajaran sedangkan siswa menyiapkan diri untuk menerima pelajaran. Guru memotivasi siswa dengan menggali pengetahuan awal  tentang besaran pokok.  Siswa menjawab pertanyaan-pertanyaan dari guru yang mengarahkan siswa pada materi yang akan dipelajari. Guru menyampaikan tujuan  dan indicator yang akan dicapai pada pembelajaran tentang Besaran dan Pengukuran. Guru memberitahukan tentang tata cara pembelajaran dengan menggunakan model TPS Guru memberi pertanyaan kepada siswa agar dipikirkan jawabannya yang disebut dengan think kemudian membimbing siswa agar membentuk kelompok dengan teman sebangkunya untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan tersebut yang disebut pair. Setelah kedua siswa menemukan jawaban atas pertanyaan yang diberikan guru, kemudian siswa duduk berhadapan dengan siswa yang duduk di belakangnya sehingga jumlah kelompok ini menjadi 4 siswa. Keempat siswa tersebut mendiskusikan kembali jawaban atas pertanyaan yang diberikan guru yang disebut share. Setelah selesai masing-masing kelompok mempresentasikan hasilnya di depan kelas  sehingga masing-masing siswa dapat mengadopsi jawaban atas pertanyaan tersebut. Proses diskusi berjalan dengan lancar tetapi hanya beberapa siswa tertentu yang aktif bertanya. Setelah diskusi selesai, Siswa membuat kesimpulan dibantu oleh guru.
2)   Pertemuan 2
Pada pertemuan kedua guru membuka pelajaran dan mengecek kehadiran siswa. Guru menanyakan kesiapan siswa sebelum pembelajaran hari itu. Guru kemudian menjelaskan kompetensi dasar dan tujuan pembelajaran yang ingin dicapai. Guru menjelaskan sintaks pembelajaran dan mengorientasi siswa pada masalah. Guru memberitahukan kegiatan yang akan dilaksanakan pada hari ini yaitu tentang besaran turunan. Pada pertemuan 2 ini kegiatan inti pembelajaran sama dengan  kegiatan inti pada pertemuan 1.
3)   Pertemuan 3
Pada pertemuan ketiga guru membuka pelajaran dan mengecek kehadiran siswa. Guru menanyakan kesiapan siswa sebelum pembelajaran hari itu. Guru kemudian menjelaskan kompetensi dasar dan tujuan pembelajaran yang ingin dicapai. Guru menjelaskan sintaks pembelajaran dan mengorientasi siswa pada masalah. Guru memberitahukan kegiatan yang akan dilaksanakan pada hari ini. Pada pertemuan 3 ini kegiatan inti pembelajaran sama dengan  kegiatan inti pada pertemuan 2.
Pada tahap ini, terlihat 6 siswa nomor presensi 13, 15, 31, 27, 11, 16 nampak tidak serius dalam mencari jawaban. Guru segera memberi arahan agar tahap berpikir sendiri ini dilakukan sesuai prosedur agar siswa terlatih untuk berpikir sendiri sesuai peraturan. Keenam siswa tersebut segera merespon arahan guru dan kembali menekuni mencari jawaban atas pertanyaan tersebut.
Tahap Pair dilaksanakan setelah tahap Think, dalam hal ini siswa berpasangan dengan salah satu teman sekelompok yang merupakan teman sebangku untuk berdiskusi tentang suhu yang disebut pair.  Suasana dalam ruangan mulai terdengar agak ramai, masing-masing kelompok terdiri dari dua orang boleh berdiskusi selama 5 menit. Guru melakukan pengelolaan kelas mengontrol setiap kelompok agar siswa betul-betul melakukan tahapan Pair.
Setelah seluruh kelompok terlibat aktif dalam diskusi, guru memfasilitasi perwakilan kelompok untuk presentasi. Pada tahap Share nampak sepuluh kelompok tunjuk tangan tanda bersiap presentasi. Guru memilih siswa yang terlebih dahulu tunjuk tangan yaitu siswa nomor presensi 32, 16, 23, 17, 5, 8, 3, 15, 11, 6. Kesempatan pertama diberikan pada siswa no. 32 untuk menjawab pertanyaan. Kelompok siswa yang memiliki jawaban sama tidak usah mempresentasikan kembali tetapi boleh menambahkan. Guru memancing beberapa pertanyaan yang muncul dari siswa. Pada kesempatan ini 20 siswa tunjuk tangan, guru mempersilakan siswa no. 13 untuk mengajukan pertanyaannya. Guru memberi kesempatan pada siswa no. 11 untuk menjawab pertanyaan temannya. Guru menggali pemahaman siswa lainnya untuk menambahkan keterangan yang telah diberikan.
Kelompok siswa mulai mencari jawaban, akhirnya siswa no. 18 tunjuk tangan dan setelah dipersilahkan untuk menjawab segera menambahkan jawaban dari temannya tadi. Guru dan siswa menyimpulkan pembelajaran hari ini .
Setelah melakukan diskusi siswa mengerjakan 10 soal esai selama 10 menit sebagai evaluasi dari kegiatan belajar yang telah dilakukan hari ini. Selesai mengerjakan soal, siswa diberi tugas untuk mempelajari materi pengukuran suhu yang akan dipelajari pada pertemuan berikutnya. Guru kemudian menutup pelajaran.

Refleksi Siklus I.
Kekurangan siklus I
1.   Siswa masih ragu untuk mengemukakan ide atau pendapatnya.
2.   Pada saat diskusi jawaban siswa masih didominasi siswa tertentu saja
3.   Kepercayaan diri siswa masih kurang, sehingga terlihat motivasi belajar masih kurang.
4.   Inisiatif siswa masih kurang.
Kelebihan siklus I
1.   Siswa antusias saat guru memberikan pertanyaan tentang tata Surya
2.   Siswa mulai serius dalam  mencari jawaban pertanyaan dengan membawa sumber dari buku penunjang yang dipunyai
3.   Siswa belajar berbagi tugas dengan kelompoknya
4.   Pada saat presentasi siswa satu dengan lainnya saling memberi penguatan untuk bisa tampil di depan kelas
5.   Pada saat tanya jawab siswa sudah mulai berani tunjuk tangan untuk menjawab pertanyaan

Paparan Siklus II
1)   Pertemuan I
Pertemuan pertama siklus II dilaksanakan di laboratorium SMP Negeri 1 Dolopo dengan jumlah siswa 32 siswa.  Guru membuka pelajaran dengan memotivasi siswa   dan menanyakan apakah ada kesulitan-kesulitan pada materi lalu yang akan ditanyakan. Guru menyampaikan tujuan pembelajaran dan indicator yang akan dicapai pada pembelajaran hari itu.
Guru mengorganisasikan siswa dalam kelompok praktikum, masing-masing kelompok terdiri atas 4 anak. Guru menanyakan persiapan dan pemahaman siswa sebelum praktikum. Siswa diberi pengarahan secara umum mengenai praktikum yang akan dilakukan. Dan guru memberi kesempatan pada siswa untuk bertanya jika ada yang belum jelas mengenai tugas yang diberikan. Siswa mulai melakukan kegiatan praktikum dan membuat laporan sementara dari praktikum yang dilakukan, berupa catatan data yang diperoleh. Guru mengamati kerja siswa, melakukan penilaian performans, dan membantu siswa jika mereka mengalami kesulitan. Praktikum yang dilakukan siswa sudah mulai tertib. Setiap kelompok sudah berbagi tugas dengan baik.
Siswa dibimbing untuk menampilkan data yang telah diperoleh di layar LCD. Siswa membandingkan data yang telah didapat oleh masing-masing kelompok dan mendiskusikannya dengan model TPS.
Siswa menerima tugas dari guru untuk membuat laporan praktikum. Guru memberi pengarahan mengenai format laporan praktikum dan memberi kesempatan kepada siswa untuk bertanya mengenai format laporan yang telah dijelaskan. Guru memberikan tugas untuk pertemuan selanjutnya dan kemudian menutup pelajaran.
2)   Pertemuan II
Pertemuan kedua dilaksanakan di kelas. Guru membuka pelajaran dan menyampaikan beberapa pertanyaan tentang masalah materi yang dipelajari pada minggu lalu. Setelah beberapa saat guru menjelaskan kompetensi dasar dan tujuan pembelajaran yang akan dipelajari hari ini. Siswa diberikan pertanyaan-pertanyaan tentang alat ukur suhu yang digunakan dalam kehidupan sehari-hari. Tahap pertama siswa diberi kesempatan berpikir sendiri selama 5 menit,  tahap selanjutnya dipikirkan berdua dengan teman sebangku selama 10 menit, lalu  didiskusikan bersama dengan teman yang duduk di belakangnya sehingga terbentuk  kelompok yang terdiri 4 siswa selama 30 menit.
Setelah diskusi selesai guru menawarkan kesempatan presentasi pertama kepada salah seorang siswa yang berminat mempresentasikan hasil diskusi dan menjawab pertanyaan yang telah dibuat. Siswa nampak saling tunjuk antar teman, tidak ada yang berinisiatif tunjuk tangan. Melihat situasi tersebut, guru langsung menawarkan kesempatan mempresentasikan berdua. Serentak dua puluh siswa tunjuk tangan dan siap dengan pasangan diskusi masing-masing. Akhirnya guru menunjuk siswa no. 13 dan 28 untuk presentasi di depan kelas, diikuti kelompok yang lainnya.
Sebagai penutup, siswa mendapat tugas untuk mempelajari materi alat ukur dari guru untuk pertemuan yang akan datang
3)   Pertemuan III
Guru membuka pelajaran dan menyampaikan beberapa pertanyaan tentang alat ukur panjang yang dipelajari pertemuan lalu. Siswa dapat menjawab pertanyaan dari guru dengan lancar berdasarkan kejadian yang pernah mereka lihat. Guru kemudian memberikan motivasi berupa pertanyaan tentang alat ukur massa. Kegiatan inti pertemuan ketiga dilaksanakan dengan kegiatan diskusi dengan model TPS dipandu dengan kartu berpasangan. Guru sudah mempersiapkan dua macam kartu yaitu kartu pertanyaan dan kartu jawaban. Setiap siswa mendapat kartu secara acak, ada yang mendapat kartu pertanyaan dan ada yang mendapat kartu jawaban. Siswa membuat dua kolom tempat menuliskan jawaban dan pertanyaan pada buku tulisnya.
Guru memberi instruksi agar tulisan di kartu yang dipegang siswa ditulis kembali dalam bukunya dan dilengkapi dengan keterangannya. Siswa diberi kesempatan berpikir sendiri untuk melengkapi keterangan dari tulisan yang diterimanya selama 5 menit sebagai tahap THINK. Tahap berikutnya siswa bertukar kartu dengan pasangan teman sebangku dan boleh berdiskusi tentang materi yang didapat masing-masing untuk ditulis sebagai hasil pemikiran berdua yang disebut tahap  PAIR. Setelah siswa terbiasa dengan kelompok pasangannya, guru memberi kesempatan pada siswa untuk menukar kartu yang dipegangnya dengan teman lain. Aktivitas siswa pada tahap THINK, menunjukkan asyik dengan dirinya sendiri berpikir sendiri mengisi keterangan dari kartu yang didapatnya. Pada tahap THINK suasana kelas sangat tenang, siswa terlihat serius dan antusias membaca materi pada kartu. Siswa kemudian melengkapi keterangan yang cocok menurut hasil pemikirannya tanpa intervensi orang lain.
Aktivitas siswa pada tahap PAIR selama 5 menit, menunjukkan adanya reaksi siswa  mau terbuka terhadap pendapat orang lain. Siswa berdiskusi dengan teman sebangku, suasana kelas mulai ramai memecah keheningan saat berpikir sendiri. Kontak sosial sudah mulai terjadi, siswa mulai menunjukkan rasa percaya diri tentang apa yang telah ditemukannya untuk melengkapi keterangan kartu pasangan masing-masing.
Kegiatan dilanjutkan dengan tahap SHARE yaitu siswa boleh keluar dari bangku masing masing bertukar kartu dan saling melengkapi. Pada tahap ini suasana kelas semakin ramai dengan ekspresi siswa yang puas dengan hasil kerjanya melengkapi keterangan yang diperoleh selama pembelajaran. Pada tahap SHARE ini terlihat aktivitas belajar siswa yang santai bisa berjalan menuju bangku teman lain, tetapi serius dalam melengkapi keterangan materi sampai waktu yang yang telah ditentukan. Pertemuan ketiga ini dilaksanakan evaluasi yang  berlangsung selama 20 menit. Siswa diminta untuk mengerjakan beberapa soal yang telah disiapkan. Siswa mengerjakan soal dengan serius, walaupun ada beberapa siswa yang terlihat kebingungan mengerjakan soal.

Refleksi  Siklus II
Kekurangan siklus II
1.   Masih ada 14,28% siswa belum termotivasi untuk tanya jawab dalam diskusi
2.   Siswa nampak saling tunjuk antar teman, tidak ada yang berinisiatif tunjuk tangan
Kelebihan siklus II
1.   Praktikum yang dilakukan siswa sudah mulai tertib
2.   Presentasi secara berpasangan dapat memotivasi siswa untuk tampil di depan kelas

Hasil Penelitian
Perbandingan Hasil Siklus I dan Siklus II
Siklus I
a.    Siswa masih kurang percaya diri dalam menyampaikan pendapat
b.   Hasil motivasi klasikal keseluruhan siklus I sebesar 68,333%
c.    Ketuntasan klasikal keseluruhan siklus I sebesar 85,71% dengan rata-rata kognitif sebesar 81, afektif 81 dan psikomotor 82
Siklus II
a.    Siswa lebih percaya diri dalam mengemukakan pertanyaan maupun pendapat
b.   Dalam melaksanakan praktikum siswa sudah paham dan mengerti apa yang harus dilakukan
c.    Hasil motivasi klasikal keseluruhan siklus II sebesar 92,083%
d.   Ketuntasan klasikal keseluruhan siklus II sebesar 91,18% dengan rata-rata kognitif 82, afektif 83 dan psikomotor 86
Berdasarkan paparan tersebut, terdapat peningkatan motivasi dan hasil belajar pada siklus II. Peningkatan motivasi belajar meningkat sebesar 23,75% pada siklus II dan ketuntasan klasikal keseluruhan siklus II meningkat sebesar 6%
Gambar 4.1  memperlihatkan  perbandingan motivasi belajar siswa siklus I dan siklus II.

Pembahasan
1.   Peningkatan Motivasi Belajar Siswa
Keterlibatan siswa secara aktif dapat diamati dalam empat indikator motivasi yaitu attention, relevance, confident, dan satisfaction atau yang lebih dikenal sebagai model ARCS. Motivasi model ARCS adalah model untuk menciptakan motivasi suatu materi pembelajaran (Setjo, 2004).
Peningkatan motivasi belajar siswa dapat dilihat dari peningkatan indikator motivasi yang diamati selama siklus I dan siklus II. Peningkatan terjadi pada indikator attention, relevance, confident, dan satisfaction dari siklus I ke siklus II. Berdasarkan Gambar 4.1 terjadi peningkatan pada pada keempat indikator motivasi. Indikator attention mengalami peningkatan 15%. Peningkatan indikator attention terjadi karena rasa keingin tahuan siswa yang besar terhadap objek yang dipelajari.. Menurut Joegolan (2008) attetion muncul didorong rasa ingin tahu, yang  dirangsang melalui elemen-elemen yang baru, aneh, lain dengan yang sudah ada, kontradiktif atau kompleks. Fajari (2010) juga menjelaskan bahwa attention dapat berarti sama dengan konsentrasi atau perasaan tertarik pada masalah yang sedang dipelajari.. Hal ini sesuai dengan pernyataan Susanto (2002) yang menyebutkan bahwa motivasi belajar siswa tinggi jika mereka memusatkan perhatian lebih besar kepada kegiatan belajar daripada kegiatan yang bukan belajar.
Peningkatan juga terjadi pada indikator relevance. Indikator relevance meningkat karena siswa selama siklus II lebih banyak yang dapat memahami apa yang mereka pelajari selama kegiatan pembelajaran. Siswa difasilitasi untuk mencari informasi dan berdiskusi agar memahami materi pembelajaran protista dan peranannya. Menurut Abidin (2008 dalam Fajari, 2010) relevance adalah adanya hubungan bahan ajar dengan kebutuhan dan kondisi siswa. Siswa dapat menjawab pertanyaan berdasarkan pengalamannya di lingkungan atau sebaliknya, siswa dapat menerapkan pengetahuan yang diperoleh selama kegiatan pembelajaran di kehidupan sehari-hari mereka. Adanya relevance yang tinggi dapat meningkatkan motivasi tersebut sesuai dengan pernyataan Qadriyah (2002) yaitu motivasi siswa akan terpelihara apabila mereka mengganggap bahwa apa yang dipelajari memenuhi kebutuhan pribadi atau bermanfaat dan sesuai dengan nilai yang dipegang.
Indikator confident mengalami peningkatan sebesar 40%. Berdasarkan refleksi siklus I indikator confident mendapat pencapaian terendah dibandingkan dengan indikator lain. Guru pada siklus II berusaha untuk meningkatkan kepercayaan diri siswa dengan memberikan motivasi dan apresiasi terhadap siswa yang aktif mengemukakan pendapat maupun bertanya. Kegiatan diskusi juga diawali dengan kelompok kecil yang terdiri dari dua siswa yang selanjutnya berkembang menjadi kelompok besar yang terdiri atas 4 siswa. Hal ini dilakukan untuk meningkatkan kepercayaan diri siswa dan meningkatkan pemahaman siswa terhadap materi. Adanya pertanyaan atau masalah rangsangan dari guru maupun siswa lain dapat menjadi tuntunan bagi siswa dalam mengontruksi pemecahan masalah yang dapat berupa pendapat atau jawaban dari siswa sehingga siswa lebih confident. Menurut Dimyati dan Mudjiono (1994) motivasi intrinsik mendorong terus dan memberikan energi pada tingkah laku. Dalam hal ini motivasi intrinsik mengarah pada timbulnya motivasi berprestasi. Untuk mencapai motivasi berprestasi tersebut diperlukan adanya confident atau rasa percaya diri. Berdasarkan hasil penelitian ini, confident yang berasal dari dalam diri siswa, yang bertujuan untuk menunjukkan bahwa siswa tersebut berprestasi masih sangat kurang sekali.
Indikator terakhir yang diteliti dalam menentukan nilai motivasi adalah satisfaction atau rasa puas yang mencakup kepuasan atas jawaban yang diberikan oleh teman atau guru dan kehadiran di kelas. Kehadiran di kelas termasuk ke dalam indikator satisfaction karena dengan kehadiran siswa di kelas maka menunjukkan bahwa siswa tersebut puas terhadap pembelajaran yang berlangsung. Pada siklus II terjadi peningkatan satisfaction membuktikan bahwa siswa merasa puas terhadap jawaban atau pemecahan solusi yang dijelaskan oleh teman atau guru dan siswa merasa puas terhadap pembelajaran yang ditunjukkan siswa hadir di kelas selama kegiatan pembelajaran berlangsung. Menurut Oenfiati (2002) satisfaction siswa akan meningkat apabila mereka memperoleh penghargaan atas keberhasilan yang diperoleh siswa. Penghargaan dapat berupa reward, reinforcement, atau pujian dari guru. Selama siklus II guru juga lebih sering memberikan pujian terhadap siswa yang bersedia menyampaikan pendapatnya atau menjawab pertanyaan. Adanya pujian dari guru menyebabkan siswa merasa telah berhasil dalam mencapai tujuan yang diharapkan. Keberhasilan dalam mencapai tujuan akan memberikan kepuasan tersendiri bagi siswa dan siswa akan berupaya untuk mencapai tujuan lainnya dengan berhasil pula (Oenfiati, 2002). Siswa juga akan meningkat satisfaction-nya apabila hasil kerja mereka dihargai oleh orang lain.
2.   Penerapan TPS (Think Pair Share) untuk Meningkatkan Motivasi Siswa
Motivasi belajar siklus II mengalami peningkatan jika dibandingkan dengan siklus I. Pada siklus I motivasi belajar siswa sebesar 68,333. Siklus II hasil motivasi belajar sebesar 93,056%. Peningkatan ini terjadi karena beberapa faktor. Siswa selama pembelajaran melakukan proses pembelajaran dengan teman-temannya dengan berdiskusi bersama dengan model TPS. Dengan model TPS siswa diberi kesempatan untuk membangun pemahamannya sendiri dengan diberi waktu tunggu, lalu diberi kesempatan untuk berpikir bersama dengan teman. Hal ini selaras dengan pendapat Dasna dan Sutrisno (2006:46) bahwa ”siswa yang harus menemukan dan membangun sendiri struktur kognitif / pengetahuannya melalui interaksi dan transaksi”. Dengan demikian siswa akan membangun sendiri konsep pengetahuannya secara tidak langsung dan berbagi informasi.
Pembelajaran kooperatif model TPS membantu siswa untuk berinteraksi dengan teman-temannya maupun lingkungan. Siswa lebih percaya diri dan mudah untuk membangun konsep pengetahuannya dengan interaksi dan pengamatan langsung. Pada pembelajaran dengan model TPS guru memfasilitasi siswa untuk mendiskusikan hal-hal yang ditemui pada saat praktikum. Hal ini sesuai dengan Slavin (1996) dalam Sanjaya (2006) yang menyatakan dalam pembelajaran kooperatif terdapat perspektif sosial, artinya bahwa melalui pembelajaran kooperatif setiap siswa akan saling membantu dalam belajar karena mereka menginginkan semua anggota kelompok memperoleh keberhasilan. Ibrahim, dkk (2000:16) mengemukakan bahwa ”pembelajaran kooperatif lebih unggul dalam meningkatkan hasil belajar dibandingkan dengan pengalaman-pengalaman belajar individual atau kompotetif”.

Kesimpulan
 Berdasarkan Pembahasan pada bab IV Penelitian Tindakan Kelas ini dapat diketahui bahwa model Think Pair Share dapat meningkatkan motivasi dan hasil belajar tentang Besaran dan Pengukuran pada  siswa kelas IXA SMPN 1 Dolopo semester 2 tahun pelajaran 2013/2014 dengan cara: guru membuat kartu soal dan kartu jawaban.  Guru memberi instruksi agar tulisan di kartu yang dipegang siswa ditulis kembali dalam bukunya dan dilengkapi dengan keterangannya. Siswa diberi kesempatan berpikir sendiri untuk melengkapi keterangan dari tulisan yang diterimanya selama 5 menit sebagai tahap THINK. Tahap berikutnya siswa bertukar kartu dengan pasangan teman sebangku dan boleh berdiskusi tentang materi yang didapat masing-masing untuk ditulis sebagai hasil pemikiran berdua yang disebut tahap  PAIR. Setelah siswa terbiasa dengan kelompok pasangannya, guru memberi kesempatan pada siswa untuk menukar kartu yang dipegangnya dengan teman lain. Aktivitas siswa pada tahap THINK, menunjukkan asyik dengan dirinya sendiri berpikir sendiri mengisi keterangan dari kartu yang didapatnya. Pada tahap THINK suasana kelas sangat tenang, siswa terlihat serius dan antusias membaca materi pada kartu. Siswa kemudian melengkapi keterangan yang cocok menurut hasil pemikirannya tanpa intervensi orang lain.
Aktivitas siswa pada tahap PAIR selama 5 menit, menunjukkan adanya reaksi siswa  mau terbuka terhadap pendapat orang lain. Siswa berdiskusi dengan teman sebangku, suasana kelas mulai ramai memecah keheningan saat berpikir sendiri. Kontak sosial sudah mulai terjadi, siswa mulai menunjukkan rasa percaya diri tentang apa yang telah ditemukannya untuk melengkapi keterangan kartu pasangan masing-masing.
Kegiatan dilanjutkan dengan tahap SHARE yaitu siswa boleh keluar dari bangku masing masing bertukar kartu dan saling melengkapi. Pada tahap ini suasana kelas semakin ramai dengan ekspresi siswa yang puas dengan hasil kerjanya melengkapi keterangan yang diperoleh selama pembelajaran. Pada tahap SHARE ini terlihat aktivitas belajar siswa yang santai bisa berjalan menuju bangku teman lain, tetapi serius dalam melengkapi keterangan materi sampai waktu yang yang telah ditentukan. Pertemuan ketiga ini dilaksanakan evaluasi yang  berlangsung selama 20 menit. Siswa mengerjakan soal dengan serius, walaupun ada beberapa siswa yang terlihat kebingungan mengerjakan soal. Hasil evaluasi telah memnuhi indicator keberhasilan penelitian maka dari itu dapat disimpulkan bahwa pembelajaran kooperatif Model Think Pair  Share dapat  meningkatkan motivasi dan hasil belajar siswa kelas IXA semester 2 tahun pelajaran 2013/2014 di SMP Negeri 1 Dolopo Madiun.

Saran
1.   Guru hendaknya mempertimbangkan penerapan Think Pair Share untuk meningkatkan motivasi belajar siswa
2.   Sekolah hendaknya memberikan dukungan terhadap Think Pair Share yang dilaksanakan oleh guru untuk memperbaiki mutu pendidikan di sekolah
3.   Penelitian ini dapat dijadikan bahan untuk penelitian lebih lanjut
4.   Penelitian ini dapat dimanfaatkan dalam pembelajaran


DAFTAR PUSTAKA
Arifin, Z. 1999. Evaluasi Instruksional.Bandung: CV Remaja Rosdakarya.
Dimyati dan Mudjiono. 2002. Belajar dan Pembelajaran. Jakarta: Rineka Cipta.
Ewbank Eur dalam Wulandari. 2008. Penerapan Pembelajaran Kooperatife Tipe TPS (Think Pair Share) Untuk Meningkatkan Hasil Belajar Siswa Pada Mata Pelajaran Ekonomi Kelas XI-IPS3 SMA Negeri 7 Malang. Skripsi tidak diterbitkan. Malang: UM
Gunter, Ester, Schwab dalam Susilo, H. 2005. Pembelajaran Kooperatif Think Pair Share. Makalah disajikan dalam Pelatihan PBMP (Pemberdayaan Berpikir Melalui Pertanyaan) Pada Pembelajaran. Malang: Universitas Negeri Malang
Jones dalam Susilo, H. 2005. Pembelajaran Kooperatif Think Pair Share. Makalah disajikan dalam Pelatihan PBMP (Pemberdayaan Berpikir Melalui Pertanyaan) Pada Pembelajaran. Malang: Universitas Negeri Malang
Keller, J.M. 1987. IMMS: Instructional materials motivation survey. Florida: Florida State University
Prayitno, E. 1989. Motivasi dalam Belajar. Jakarta: Proyek Pengembangan Lembaga Pendidikan Tenaga Kependidikan.
Qadriyah. 2002. Upaya Peningkatan Motivasi dan Hasil Belajar Biologi melalui Penerapan Pembelajaran Kooperatif (Tipe STAD) pada SMU Wahid Hasyim Malang. Tesis tidak diterbitkan. Malang: Universitas Negeri Malang.
Sanjaya, W. 2006. Pembelajaran Dalam Implementasi Kurikulum Berbasis Kompetensi. Jakarta: Kencana Prenada Media Group
Sardiman. 2003. Interaksi dan Motivasi Belajar Mengajar. Jakarta: Rajawali Press.
Setjo, S. 2004. Motivasi dan Pengajaran Kontekstual. Makalah. Disampaikan pada Workshop Piloting IMSTEP—JICA tanggal 23-24 Juli 2004 di FMIPA Universitas Negeri Malang.
Tim Penyusun Kamus Pusat Bahasa. 2008. Kamus Besar Bahasa Indonesia. Jakarta: Balai Pustaka
Wlodkowski, R.J. 1985. Enhancing Adult Motivation to Learn: A Guide to Improving Instruc and Increasing Learner Achievement, Edisi 1. Jossey Bass. California.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar