MENINGKATKAN KEMAMPUAN
MENYUSUN TEKS TANGGAPAN KRITIS DENGAN PEMBELAJARAN EXAMPLES NON EXAMPLES SISWA KELAS IX-B SEMESTER GASAL TAHUN
PELAJARAN 2017/2018 SMP NEGERI 1 DOLOPO
KABUPATEN MADIUN
![]() |
Oleh : Sriwahyuni, S. Pd
Guru SMP Negeri 1 Dolopo Kabupaten
Madiun
|
abstrak
Kata kunci : menulis, examples non examples
Kemampuan siswa dalam menulis Teks
Tanggapan Kritis perlu dikembangkan sejak dini. Menulis Teks Tanggapan Kritis
sebagai bagian materi ajar yang harus dikuasai siswa SMP kelas IX. Dengan
demikian diharapkan siswa kelas IX Sekolah Menengah Pertama memiliki kemampuan
tinggi dalam menulis Teks Tanggapan Kritis. Namun pada kenyataannya sampai saat
ini pengajaran menulis dirasakan masih kurang optimal. Hal ini dapat diketahui
dengan adanya keluhan-keluhan dari siswa yang merasa belum mampu menulis Teks
Tanggapan Kritis secara baik yang didukung dengan nilai siswa kelas IX-B SMP
Negeri 1 Dolopo Kabupaten Madiun pada ulangan harian yang masih rendah dan
belum dapat memenuhi ketuntasan minimal (KKM) yang telah ditetapkan 80.
Hal
tersebut ditengarai disebabkan oleh : (1) Guru menggunakan metode yang kurang
bervariasi (2) Guru tidak menggunakan media yang tepat (3) Materi pembelajaran
tidak kontektual. Masalah ini perlu segera dipecahkan sebab jika akan membawa akibat yang fatal
diantaranya : (1) Siswa tidak tanggap terhadap peristiwa yang terjadi di
sekelilingnya (2) Kemampuan menulis teks
rendah (3) Nilai Bahasa Indonesia rendah (4) Prestasi belajar secara umum
rendah (5) Siswa tidak naik kelas.
Untuk
memecahkan masalah di atas peneliti menawarkan penerapan model pembelajaran
Examples Non Examples dalam meningkatkan kemampuan siswa untuk mengungkapkan
Teks Tanggapan Kritis dalam bentuk tulisan. Model Examples Non Examples sangat
dimungkinkan disukai siswa karena menampilkan beberapa contoh gambar / foto
sehingga menarik perhatian siswa. Diharapkan degan penggunaan media gambar ini
kemampuan membuat Teks Tanggapan Kritis
pada siswa kelas IX-B SMP Negeri 1 Dolopo Kabupaten Madiun meningkat
minimal mencapai batas KKM. Sedangkan siswa yang dapat mencapai KKM yang
ditetapkan meningkat menjadi 85% ke atas.
Penelitian
di atas merupakan penelitian tindakan kelas yang dilaksanakan dalam 3 siklus.
Tiap siklus meliputi tahapan perencanan, tindakan, observasi dan refleksi.
Tujuan
yang ingin dicapai dalam pelaksanaan Penelitian Tindakan Kelas ini adalah meningkatkan
kemampuan menulis Teks Tanggapan Kritis melalui model pembelajaran Examples Non
Examples pada kelas IX-B SMP Negeri 1 Dolopo Kabupaten Madiun Semester Gasal
Tahun Pelajaran 2017/2018
Berdasarkan
hasil penelitian telah terbukti bahwa model pembelajaran Examples Non Examples
dapat digunakan untuk meningkatkan kemampuan menulis khususnya dalam menulis Teks Tanggapan Kritis. Hal ini
didukung adanya data tentang peningkatan rerata kelas dalam setiap siklusnya,
yakni siklus I mencapai 60,87, siklus II sebesar 82,30, dan siklus III
meningkat menjadi 87,35, di samping itu juga diikuti adanya peningkatan
peosentase ketuntasan belajar yang selalu meningkat dalam setiap dsiklusnya
yaitu siklus I sebesar 26,09%, siklus II sebesar 73,912% dan siklus III yang
merupakan siklus terakhir mencapai 91,30.
Latar
Belakang
Menulis Teks Tanggapan Kritis
merupakan salah satu hasil karya yang memperkaya inspirasi kreatifitas wajib
dilestarikan bahkan dikembangkan. Karena dengan menulis si penulis dapat
menuangkan ide atau gagasannya kepada orang lain dengan menggunakan bahasa yang
baik. Oleh karenanya pembelajaran menulis sebaiknya tidak hanya diajarkan
secara sepintas saja. Memang kegiatan menulis merupakan hal yang kurang
menyenangkan, sebaiknya bagi siswa yang kurang menyukai kegiatan menulis akan
menganggap menulis sebagai kegiatan yang berat dan menyulitkan, sebab dalam
kegiatan menulis memang memerlukan waktu, tenaga, dan pikiran yang banyak. Guru
hendaknya menyadari bahwa menulis bagi siswa merupakan suatu langkah dalam
mengembangkan daya nalar dan daya imajinasi siswa. Untuk itu seharusnya
pembelajaran menulis diselenggarakan dalam iklim yanga kondusif sehingga siswa
kelas IX-B diharapkan memiliki kemampuan tinggi dalam hal menulis Teks
Tanggapan Kritis.
Kenyataan yang terjadi di kelas IX-B SMP
Negeri 1 Dolopo Kabupaten Madiun sampai
saat ini pengajaran menulis dalam Bahasa Indonesia dirasakan masih kurang
optimal. Hal ini dapat diketahui dengan adanya keluhan-keluhan dari siswa yang
merasa belum mampu menulis secara baik yang didukung dengan nilai ulangan
harian yang masih rendah dengan rerata 51, dan siswa yang dinyatakan tidak dapat memenuhi
standar ketuntasan minimal sebanyak 15 siswa atau 65,22%, dengan KKM yang ditetapkan 80.
Hal tersebut ditengarai disebabkan
oleh (1) guru menggunakan metode yang kurang bervariasi (2) Guru tidak
menggunakan metode yang tepat (3) Materi pembelajaran tidak kontekstual.
Masalah ini perlu segera dipecahkan sebab jika tidak akan membawa akibat yang
fatal diantaranya (1) Siswa memiliki kemampuan rendah dibidang sastra (2) Nilai
Bahasa Indonesia rendah (3) Prestasi belajar secara umum rendah (4) Siswa tidak
naik atau tidak lulus.
Untuk memecahkan masalah di atas
peneliti menawarkan penerapan model pembelajaran Examples non Examples dalam meningkatkan kemampuan menulis Teks
Tanggapan Kritis. Penerapan model pembelajaran Examples non Examples sangat dimungkinkan adanya diskusi siswa
karena menggunakan gambar-gambar yang bervariasi, sehingga menarik perhatian
siswa. Diharapkan dengan penggunaan model pembelajaran Examples non Examples ini kemampuan menulis Teks Tanggapan Kritis
pada siswa kelas IX-B SMP Negeri 1
Dolopo Kabupaten Madiun meningkat minimal berkategori baik dengan nilai
terendah KKM dapat tercapai.
Kajian Pustaka
Hakikat Kemampuan Menulis
1.
Pengertian
Kemampuan adalah kesiapan mental dan
intelektual baik terwujud kematangan sikap dan pengetahuan maupun keterampilan
yang digunakan untuk menemukan kebutuhan (Tanuwijaya etal. 1996:8). Menurut
Purwo (1991).
2.
Ragam Tulisan
Menurut Marwoto (1987:152) tulisan
secara umum dapat dikembangkan dalam 4 bentuk yaitu :
a. Narasi
Narasi merupakan bentuk tulisan yang
bertujuan menyampaikan atau menceritakan
rangkaian peristiwa atau pengalaman dari waktu ke waktu. Tulisan narasi sering
disebut sebagai cerita yang bersifat menceritakan suatu peristiwa yang disusun
sedemikian rupa dan runtut sehingga menimbulkan pengertian-pengertian yang
merefleksikan interpretasi penulis.
b. Eksposisi
Tulisan ekspresi adalah tulisan yang
bertujuan menjelaskan atau memberikan informasi tentang sesuatu.
Karangan ekspresi berwujud gagasan yang
memberikan, mengupas, atau menguraikan susuatu penyuluhan tanpa disertai
desakan atau paksaan kepada pembacanya agar yang dipaparkan sebagai sesuatu
yang benar.
c. Diskripsi
Tulisan diskripsi dapat diartikan
sebagai tulisan yang membangkitkan kesan atau impresi seseorang melalui uraian
atau lukisan tertentu. Sehingga tulisan ini terutama digunakan untuk
membangkitkan kesan atau impresi tentang seseorang, tempat, suatu pemandangan
yang semacam itu.
d. Argumentasi
Tulisan argumentasi adalah tulisan
yangn isinya terdiri dari paparan, alasan atau penyitesisan pendapat untuk
membangun sesuatu kesimpulan.
3.
Teks Tanggapan Kritis
Teks Tanggapan Kritis adalah teks
yang berisi tentang sebuah tanggapan atau opini seseorang tentang sesuatu
berdasarkan perspektif (sudut pandang tertentu)
Berdasarkan definisi tersebut teks
tanggapan kritis termasuk tulisan yang berbentuk diskripsi.
4.
Faktor-faktor yang Mempengaruhi
Peningkatan Kemampuan Menulis
Belajar
sebagai suatu proses berhubungan erat dengan perubahan, maka belajar itu sangat
bersifat individual. Disamping faktor pribadi (intern) terdapat pada faktor
yang berasal luar pribadi siswa yang dikenal sebagai proses belajar. Secara
terperinci faktor-faktor yang mempengaruhi proses belajar itu adalah :
a. Sifat pribadi siswa, meliputi :
1) Kemuan atau kehendak
2) Kemampuan
3) Kesempatan
b. Keadaan bahan yang dipelajari
c. Faktor-faktor yang berhubungan dengan
proses belajar
d. Proses belajar dan ingatan
e. Hubungan antara proses belajar dan
kematangan
5.
Penilaian Kemampuan Menulis
Menurut Noehi Nasution (1999:126)
menyatakan : pelaksanaan penilaian dapat dilaksanakan secara lisan, tertulis,
dan dengan perbuatan atau melakukan sendiri. Teknik yang akan digunakan
tergantung dari berbagai faktor antara
lain waktu, dana, peralatan yang diujikan.
a. Materi
Materi pembelajaran sekolah menyangkut pengembangan kemampuan
proses berfikir (kognitif, psikomotorik dan afektif).
b. Alat yang digunakan
Alat yang digunakan dalam penilaian tergantung dari jenis
materi yang dinilai.
Model Pembelajaran Examples non Examples
Menurut Suyatno. Diposing 46.40.00.
Komentar 2008 Model Pembelajaran Examples non Examples salah satu model
pembelajaran yang sintaksnya
1. Guru mempersiapkan gambar-gambar
sesuai dengan tujuan pembelajaran
2. Guru menempelkan gambar di papan
tulis atau ditayangkan melalui LCD
3. Guru memberi petunjuk dan memberi
kesempatan pada siswa untuk memperhatikan / menganalisa gambar.
4. Melalui diskusi kelompok 3 – 4 orang
siswa, hasil diskusi analisa gambar tersebut dicatat pada kertas.
5. Tiap kelompok diberi kesempatan
membacakan hasil diskusinya.
6. Mulai dari komentar / hasil diskusi
siswa, guru mulai menjelaskan materi sesuai tujuan yang ingin dicapai.
7. Kesimpulan.
Metode Penelitian
Sesuai dengan jenis
penelitian yang dipilih, yaitu penelitian tindakan, maka penelitian ini
menggunakan model penelitian tindakan dari Kemmis dan Taggart (dalam Sugiarti,
1997: 6), yaitu berbentuk spiral dari sklus yang satu ke siklus yang
berikutnya. Setiap siklus meliputi planning
(rencana), action (tindakan), observation (pengamatan), dan reflection (refleksi). Langkah pada
siklus berikutnya adalah perncanaan yang sudah direvisi, tindakan, pengamatan,
dan refleksi. Sebelum masuk pada siklus 1 dilakukan tindakan pendahuluan yang
berupa identifikasi permasalahan. Adapun alurny adalah sebagai berikut:
1. Rancangan/rencana awal, sebelum
mengadakan penelitian peneliti menyusun rumusan masalah, tujuan dan membuat
rencana tindakan, termasuk di dalamnya instrumen penelitian dan perangkat
pembelajaran.
2. Kegiatan dan pengamatan, meliputi tindakan
yang dilakukan oleh peneliti sebagai upaya membangun pemahaman konsep siswa
serta mengamati hasil atau dampak dari diterapkannya metode pembelajaran model learning together.
3. Refleksi, peneliti mengkaji, melihat
dan mempertimbangkan hasil atau dampak dari tindakan yang dilakukan berdasarkan
lembar pengamatan yang diisi oleh pengamat.
4. Rancangan/rencana yang direvisi,
berdasarkan hasil refleksi dari pengamat membuat rancangan yang direvisi untuk
dilaksanakan pada siklus berikutnya.
Pelaksanaan Penelitian Tindakan Kelas ini direncanakan dalam
3 siklus, tiap siklus terdiri dari 2 pertemuan, tiap pertemuan terdiri dari 2
jam pelajaran (2 X 40 menit), namun apabila pada siklus II telah terjadi
peningkatan secara baik maka tidak dilajutkan pada siklus III. Setiap siklus
dalam penelitian ini mencakup 4 tahap yaitu (1) perencanaan (2) tindakan (3)
observasi (4) refleksi.
Metode Pengumpulan Data
Data-data yang diperlukan
dalam penelitian ini diperoleh melalui observasi pengolahan metode pembelajaran
kooperatif model Examples Non Examples, observasi aktivitas siswa dan guru
angket motivasi siswa, dan tes formatif
Data yang dikumpulkan
pada penelitian ini adalah :
1. Data tentang kemampuan menulis Teks
Tanggapan Kritis.yang diperoleh dari tes.
2. Data tentang aktivitas siswa dan guru
diperoleh dari observasi.
3. Data tentang minat siswa diperoleh
dari angket dan catatan lapangan.
Hasil Penelitian
Siklus. 1
Hasil evaluasi yang
dilaksanakan pada perbaikan pembelajaran siklus 1 dianalisa sebagai data untuk
acuan langkah selanjutnya. Berikut data untuk yang menunjukan hasil penelitian dari
siklus I sampai dengan siklus III
Tabel :Perkembangan Ketuntasan Siswa Siklus
I, II dan III

Berdasarkan hasil
analisis data hasil penelitian, maka dapat ditarik kesimpulan bahwa kemampuan
menulis Teks Tanggapan Kritis siswa kelas IX-B SMP Negeri 1 Dolopo Semester gasal tahun pelajaran 2017/2018
dapat ditingkatkan melalui penggunaan model pembelajaran Examples Non Examples.
Peranan model Examples Non Examples dalam meningkatkan
kemampuan menulis Teks Tanggapan Kritis ini ditandai dengan adanya peningkatan
nilai rerata (mean Score ) mulai dari siklus pertama sampai siklus terakhir
yaitu siklus I sebesar 60,87; siklus II
sebesar 82,30 ; dan siklus III sebesar 87,35. Selain ditandai adanya
peningkatan mean score juga ditandai adanya peningkatan prosentasi ketuntasan
belajar dari siklus pertama hingga siklus terakhir, yaitu pada siklus I hanya
26,09 %, siklus II meningkat menjadi 79,91% pada siklus III terjadi peningkatan
menjadi 91,30 %.
Kesimpulan
Berdasarkan masalah, hipotesis
tindakan, serta temuan hasil penelitian tindakan yanng telah ditemukan pada
bagian terdahulu, maka dapat ditarik kesimpulan sebagai berikut:
1. Dengan penggunaan model Examples Non Examples menunjukkan bahwa
perolehan belajar menulis Teks Tanggapan Kritis mengalami peningkatan yang
positif, pada siklus awal terbukti kemampuan siswa dalam menulis berada pada
kategori rendah, dan pada siklus terakhir berada pada kategori tinggi.
2. Tingkat ketuntasan belajar menulis Teks
Tanggapan Kritis pada siklus pertama
hanya 6 yang dinyatakan tuntas, namun pada siklus terakhir hampir semua
siswa mampu memenuhi standar ketuntasan belajar menulis Teks Tanggapan Kritis,
hanya dua siswa yang tidak tuntas.
DAFTAR PUSTAKA
Ali, Lukman dkk,1966, KBBI, Jakarta; Balai Pustaka
Depdiknas, 2004, Standar
Kompetensi Mata Pelajaran Bahasa Indonesia Sekolah Menengah Pertama dan
Madrasah Tsanawiyah, Jakarta. Dirjen Dikdasmen
Noechi Nasution, Burhan, 1999. Penilaian Dalam Pengajaran Bahasa, Yogyakarat, BPFE
Parera, J. D. 1984, Menulis Tertib dan Sistematis, Jakarta ; Erlangga
Purwanto, M. Ngalim, 1991 Psikologi Pendidikan, Bandung : Rosdakarya
Sardiman, A. M. 1994, Interaksi dan Motivasi Belajar Mengajar, Jakarta : Raja Grafindo
Persada
Semi, M. Atar, 1990, Menulis Efektif, Padang ; Angkasa Raya.
Tarigan, H. G. 1986. Menulis Sebagai Suatu Ketrampilan Berbahasa, Bandung ; Angkasa
Widyamartaya, 1993, Seni Menciptakan Makna : Bagaimana Mengapresiasi Daya Pikir Secara
Kreatif, Yogyakarta ; Kanisius

Tidak ada komentar:
Posting Komentar