PENERAPAN MODEL JIGSAW UNTUK MENINGKATKAN PRESTASI
BELAJAR MATEMATIKA MATERI PERBANDINGAN
SISWA KELAS VII-B
SEMESTER GENAP TAHUN PELAJARAN 2017/2018
SMP NEGERI 1 DOLOPO KABUPATEN MADIUN
|
|
Oleh
: Rum Sarotin
Guru
SMP Negeri 1 Dolopo Kabupaten Madiun
|
Abstrak
Kata kunci: metode kooperatif model jigsaw, prestasi
belajar
Agar dapat mengajar efektif, guru
harus meningkatkan kesempatan belajar bagi siswa (kuantitas) dan meningkatkan
mutu (kualitas) mengajarnya. Kesempatan belajar siswa dapat ditingkatkan dengan
cara melibatkan siswa secara aktif dalam belajar. Hal ini
berarti kesempatan belajar makin banyak dan optimal serta guru menunjukkan
keseriusan saat mengajar. Makin banyak siswa yang terlibat aktif dalam belajar,
makin tinggi kemungkinan prestasi belajar yang dicapainya. Sedangkan dalam
meningkatkan kualitas dalam mengajar hendaknya guru mampu merencanakan program
pengajaran dan sekaligus mampu pula melakukan dalam bentuk interaksi belajar
mengajar.
Penelitian berdasarkan permasalahan, (a) Bagaimanakah
peningkatan prestasi belajar matematika dengan diterapkannya metode
pembelajaran kooperatif model Jigsaw? (b) Bagaimanakah pengaruh metode
pembelajaran kooperatif model Jigsaw terhadap motivasi belajar siswa?
Tujuan penelitian tindakan ini adalah: (a) Ingin
mengetahui peningkatan prestasi belajar siswa setelah diterapkannya metode
pembelajaran kooperatif model Jigsaw. (b) Ingin mengetahui pengaruh motivasi
belajar siswa setelah diterapkan metode pembelajaran kooperatif model Jigsaw.
Penelitian ini menggunakan penelitian tindakan kelas (classroom action research) sebanyak tiga
putaran. Setiap putaran terdiri dari empat tahap yaitu: rancangan, kegiatan dan
pengamatan, refleksi, dan refisi. Sasaran penelitian ini adalah siswa kelas
VII-B Tahun Pelajaran 2017/2018 SMP Negeri 1 Dolopo Kabupaten Madiun. Data yang diperoleh berupa hasil tes
formatif, lembar observasi kegiatan belajar mengajar.
Dari hasil analis didapatkan bahwa prestasi belajar siswa mengalami
peningkatan dari pra siklus, siklus I dan siklus II yaitu, pra siklus yang ditunjukkan dengan rata-rata
nilainya pra siklus (67,00), siklus I (78,33) dan siklus II
(83,67) sedangkan prosentase ketuntasannya adalah pra siklus (66,67%), siklus I (86,67%), siklus II
(96,67%).
Simpulan
dari penelitian ini adalah metode pembelajaran kooperatif model jigsaw dapat
berpengaruh positif terhadap prestasi belajar Siswa kelas VII-B Tahun Pelajaran
2017/2018 SMP Negeri 1 Dolopo Kabupaten Madiun serta model pembelajaran ini
dapat digunakan sebagai salah satu alternatif pembelajaran matematika.
Latar Belakang
Sebagai
pengajar atau pendidik, guru merupakan salah satu faktor penentu keberhasilan
setiap upaya pendidikan. Itulah sebabnya setiap adanya inovasi pendidikan,
khususnya dalam kurikulum dan peningkatan sumber daya manusia yang berhasil
dari upaya pendidikan selalu bermuara pada faktor guru. Hal ini
menunjukkan betapa eksisnya peran guru dalam dunia pendidikan. Demikian pula
dalam upaya membelajarkan siswa guru dituntut memiliki multi peran sehingga
mampu menciptakan kondisi belajar mengajar yang efektif.
Agar dapat mengajar efektif, guru
harus meningkatkan kesempatan belajar bagi siswa (kuantitas) dan meningkatkan
mutu (kualitas) mengajarnya. Kesempatan belajar siswa dapat ditingkatkan dengan
cara melibatkan siswa secara aktif dalam belajar. Hal ini berarti kesempatan
belajar makin banyak dan optimal serta guru menunjukkan keseriusan saat
mengajar. Makin banyak siswa yang terlibat aktif dalam belajar, makin tinggi
kemungkinan prestasi belajar yang dicapainya. Sedangkan dalam meningkatkan
kualitas dalam mengajar hendaknya guru mampu merencanakan program pengajaran
dan sekaligus mampu pula melakukan dalam bentuk interaksi belajar mengajar.
Bagi guru sendiri keberhasilan
tersebut akan menimbulkan kepuasaan, rasa percaya diri serta semangat mengajar
yang tinggi. Hal ini berarti telah menunjukkan sebagian sikap guru professional
yang dibutuhkan pada era globalisasi dengan berbagai kemajuannya, khususnya
kemajuan ilmu dan teknologi yang berpengaruh terhadap pendidikan.
Dalam pembelajaran matematika
tidak lagi mengutamakan pada penyerapan melalui pencapaian informasi, tetapi
lebih mengutamakan pada pengembangan kemampuan dan pemrosesan informasi. Untuk
itu aktivitas peserta didik perlu ditingkatkan melalui latihan-latihan atau
tugas matematika dengan bekerja kelompok kecil dan menjelaskan ide-ide kepada
orang lain.
Langkah-langkah
tersebut memerlukan partisipasi aktif dari siswa. Untuk itu perlu ada metode
pembelajaran yang melibatkan siswa secara langsung dalam pembelajaran. Adapun
metode yang dimaksud adalah metode pembelajaan kooperatif. Pembelajaran
kooperatif adalah suatu pengajaran yang melibatkan siswa bekerja dalam
kelompok-kelompok untuk menetapkan tujuan bersama. Felder, (1994: 2).
Pembelajaran
kooperatif lebih menekankan interaksi antar siswa. Dari sini siswa akan
melakukan komunikasi aktif dengan sesama temannya. Dengan komunikasi tersebut
diharapkan siswa dapat menguasai materi pelajaran dengan mudah karena “siswa
lebih mudah memahami penjelasan dari kawannya dibanding penjelasan dari guru
karena taraf pengetahuan serta pemikiran mereka lebih sejalan dan sepadan”.
(Sulaiman dalam Wahyuni 2001: 2).
Penelitian
juga menunjukkan bahwa pembelajaran kooperatif memiliki dampak yang amat
positif terhadap siswa yang rendah hasil belajarnya. (Nur, 1996: 2).
Pete
Tschumi dari Universitas Arkansas Little Rock memperkenalkan suatu ilmu
pengetahuan pengantar pelajaran komputer selama tiga kali, yang pertama siswa
bekerja secara individu, dan dua kali secara kelompok. Dalam kelas pertama
hanya 36% siswa yang mendapat nilai C atau lebih baik, dan dalam kelas yang
bekerja secara kooperatif ada 58% dan 65% siswa yang mendapat nilai C atau
lebih baik (Felder, 1994:14).
Berdasarkan paparan tersebut diatas
maka peneliti ingin mencoba melakukan penelitian dengan judul “Penerapan Model
Jigsaw untuk Meningkatkan Prestasi Belajar Matematika Materi Perbandingan Siswa Kelas VII-B Semester Genap Tahun
Pelajaran 2017/2018 SMP Negeri 1 Dolopo
Kabupaten Madiun”.
Kajian Pustaka
Pembelajaran Kooperatif
Pembelajaran
kooperatif adalah suatu pengajaran yang melibatkan siswa untuk bekerja dalam
kelompok-kelompok untuk menetapkan tujuan bersama. (Felder, 1994:2).
Wahyuni
(2001:8) menyebutkan bahwa pembelajaran kooperatif merupakan strategi
pembelajaran dengan cara menempatkan siswa dalam kelompok-kelompok kecil yang
memiliki kemampuan berbeda.
Sependapat
dengan pernyataan tersebut Setyaningsih (2001:8) mengemukakan bahwa metode
pembelajaran kooperatif memusatkan aktivitas di kelas pada siswa dengan cara
pengelompokan siswa untuk bekerjasama dalam proses pembelajaran.
Dari
tiga pengertian di atas dapat disimpulkan bahwa pembelajaran kooperatif adalah
suatu metode pembelajaran dengan cara mengelompokkan siswa ke dalam
kelompok-kelompok kecil untuk bekerja sama dalam memecahkan masalah. Kemampuan
siswa dalam setiap kelompok adalah hiterogen.
Dalam
pembelajaran kooperatif siswa tidak hanya sebagai objek belajar tetapi menjadi
subjek belajar karena mereka dapat berkreasi secara maksimal dalam proses
pembelajaran. Hal ini terjadi karena pembelajaran kooperatif merupakan metode
alternatif dalam mendekati permasalahan, mampu mengerjakan tugas besar,
meningkatkan keterampilan komunikasi dan sosial, serta perolehan kepercayaan
diri.
Dalam
pembelajaran ini siswa saling mendorong untuk belajar, saling memperkuat
upaya-upaya akademik dan menerapkan norma yang menunjang pencapaian hasil
belajar yang tinggi. (Nur, 1996:4). Dalam pembelajaran kooperatif lebih
mengutamakan sikap sosial untuk mencapai tujuan pembelajaran yaitu dengan cara
kerjasama.
Pembelajaran
kooperatif mempunyai unsur-unsur yang perlu diperhatikan. Unsur-unsur tersebut
sebagai berikut:
1.
Para
siswa harus memiliki persepsi bahwa mereka “tenggelam atau berenang bersama”.
2.
Para
siswa memiliki tanggung jawab terhadap siswa lain dalam kelompoknya, disamping
tanggungjawab terhadap dirinya sendiri, dalam mempelajari materi yang dihadapi.
3.
Para
siswa harus berpandangan bahwa mereka semuanya memiliki tujuan yang sama.
4.
Para
siswa harus membagi tugas dan berbagai tanggungjawab sama besarnya diantara
para anggota kelompok.
5.
Para
siswa akan diberikan satu evaluasi atau penghargaan yang akan ikut berpengaruh
terhadap evaluasi seluruh anggota kelompok.
6.
Para
siswa berbagi kepemimpinan sementara mereka memperoleh keterampilan bekerjasama
selama belajar.
7.
Para
siswa akan diminta mempertanggungjawabkan secara individual materi yang
ditangani dalam kelompok kooperatif.
Johnson,
Johnson, dan Smitt dalam Felder (1994: 2) menambahkan unsur-unsur dalam
pembelajaran koopratif sebagai berikut:
1. Ketergantungan Positif
Anggota kelompok
harus saling tergantung untuk mencapai tujuan. Jika ada anggota yang gagal
mengerjakan tugasnya maka setiap anggota harus menerima konsekuensinya.
2. Kemampuan Individual
Seluruh
siswa dalam satu kelompok memiliki tanggung jawab melakukan pekerjaannya dan
menguasai seluruh bahan untuk dipelajari.
3. Promosi tatap muka interaktif
Meskipun
beberapa kelompok kerja dibagi-bagikan dan dilakukan tiap individu, beberapa
diantarannya harus dilakukan secara interaktif, anggota kelompok saling
memberikan timbal balik.
4. Manfaat dari penggabungan keahliah yang tepat
Siswa
didorong dan dibantu untuk mengembangkan dan mempraktekkan pembangunan
kepercayaan, kepemimpinan, pembuatan keputusan, komunikasi dan konflik
manajemen keahlian.
5. Kelompok Proses
Anggota
kelompok mengatur kelompok, secara periodik menilai apa yang mereka lakukan
dengan baik sebagai sebuah kelompok dan mengidentifikasi perubahan yang akan
mereka lakukan agar fungsi mereka lebih efektif di waktu selanjutnya.
Berdasarkan
unsur-unsur dalam pembelajaran kooperatif, Johnson, Johnson dalam Wahyuni
(2001:10) menyebutkan peranan guru dalam pembelajaran kooperatif sebagai
berikut:
1.
Menentukan
objek pembelajaran
2.
Membuat
keputusan menempatkan siswa dalam kelompok-kelompok belajar sebelum
pembelajaran dimulai.
3.
Menerangkan
tugas dan tujuan akhir pada siswa.
4.
Menguasai
kelompok belajar dan menyediakan keperluan tugas.
5. Mengevaluasi
prestasi siswa dan membantu siswa dengan cara mendiskusikan cara kerjasama.
Keterampilan-Keterampilan
Kooperatif
Pembelajaran
kooperatif akan terlaksana dengan baik jika siswa memiliki
keterampilan-keterampilan kooperatif. Keterampilan-keterampilan kooperatif yang
perlu dimiliki siswa seperti diungkapkan Nur (1996:25) adalah keterampilan
kooperatif tingkat awal, tingkat menengah dan tingkat mahir.
1. Keterampilan kooperatif tingkat awal
Keterampilan
kooperatif tingkat awal meliputi hal-hal sebagai berikut:
- Menggunakan kesepakatan, artinya
setiap anggota kelompok memiliki kesamaan pendapat. Menggunakan kesepakatan
bertujuan untuk mengetahui siapa yang memiliki pendapat yang sama.
-
Menghargai
kontribusi, yaitu memperhatikan atau mengenal apa yang dikatakan atau
dikerjakan oleh anggota kelompok yang dibuat lain. Tidak selalu harus
menyetujui, dapat saja tidak menyetujui yang berupa kritik, tetapi kritik yang
diberikan harus terhadap ide dan tidak terhadap pelaku.
-
Menggunakan
suara pelan, agar anggota kelompok dapat mendengar percakapan dengan jelas dan
tidak frustasi oleh suara keras dalam ruangan.
-
Mengambil
giliran dan berbagi tugas. Setiap anggota kelompok harus bisa menggantikan
seseorang yang mengemban tugas tertetentu dan mengambil tanggungjawab tertentu
dalam kelompok.
-
Berada
dalam kelompok. Untuk menciptakan pekerjaan kelompok yang efisien setiap
anggota kelompok harus tetap duduk atau berada dalam tempat kerja kelompok.
-
Berada
dalam tugas. Setiap anggota kelompok harus meneruskan tugas yang menjadi
tanggungjawabnya agar kegiatan selesai tepat waktunya.
-
Mendorong
partisipasi. Anggota kelompok selalu mendorong semua anggota kelompok untuk
memberikan sumbangan terhadap penyelesaian tugas kelompok. Karena jika satu atu
dua orang anggota kelompok tidak berpartisipasi atau hanya memberikan sedikit
sumbangan, maka hasil dari kelompok tersebut tidak akan terselesaikan pada
waktunya atau hasilnya kurang orisinil atau kurang imajinatif.
-
Mengundang
orang lain untuk berbicara, yaitu meminta orang lain untuk berbicara agar hasil
kelompok bisa maksimal.
-
Menyelesaikan
tugas tepat waktunya, diselesaikan sesuai dengan waktu yang direncanakan agar
memperoleh nilai yang tinggi.
-
Menyebutkan
nama dan memandang bicara. Memangil satu sama lain menggunakan nama dan
menggunakan kontak mata akan memberikan rasa bahwa mereka telah memberikan
kontribusi penting kelompok.
-
Mengatasi
gangguan, berarti menghindari masalah yang diakibatkan karena tidak atau
kurangnya perhatian terhadap tugas yang diberikan. Gangguan dapat membuat suatu
kelompok tidak dapat menyelesaikan tugas belajar yang diberikan.
-
Menolong
tanpa memberi jawaban. Agar siswa tidak merasa telah memahami atau menemukan
konsep, dalam memberikan bantuan tidak dengan menunjukkan cara pemecahannya.
-
Menghormati
perbedaan individu. Bersikap menghormati perbedaaan terhadap budaya unik,
pengalaman hidup serta suku bangsa/ras dari semua siswa dapat menghindari
permusuhan dalam kelompok. Ketegangan dapat dikurangi, rasa memiliki dan
persahabatan dapat dikembangkan serta masing-masing individu anggota kelompok
dapat meningkatkan rasa kebaikan, sensitivitas dan toleransi.
2. Keterampilan kooperatif tingkat menengah
Keterampilan
kooperatif tingkat menengah meliputi:
-
Menunjukkan
penghargaan dan simpati. Menunjukkan rasa hormat, pengertian dan rasa
sensitivitas terhadap usulan-usulan yang berbeda dari usulan orang lain.
-
Menggunakan
pesan “saya”. Dalam berbicara perlu menggunaan kata “saya” agar orang lain
tidak merasa terancam atau merasa bersalah sehingga permusuhan dapat dihindari.
-
Menggunakan
ketidak setujuan dengan cara yang dapat diterima. Menyatakan pendapat yang
berbeda atau menjawab pertanyaan harus dengan cara yang sopan dan sikap yang
baik karena jika mengkritik seseorang dan memadamkan ide seseorang dapat
menimbulkan atmosfir yang negatif dalam kelompok.
- Mendengarkan dengan aktif, maksudnya
menggunakan pesan fisik dan lisan dalam meperhatikan pembicara. Pembicara
akan mengetahui bahwa pendengar secara giat sedang menyerap informasi.
Pengertian terhadap konsep akan meningkat dan hasil kelompok akan menunjukkan
tingkat pemikiran dan komunikasi yang tinggi.
-
Bertanya,
artinya meminta atau menanyakan suatu informasi atau penjelasan lebih jauh.
Dengan bertanya dapat menjelaskan konsep, seseorang yang sedang tidak aktif
dapat didorong untuk ikut serta, dan anggota kelompok yang malu dapat
dimotivasi untuk ikut berperan serta.
-
Membuat
ringkasan, maksudnya mengulang kembali informasi. Ini dapat digunakan untuk
membantu mengatur apa yang sudah dikerjakan dan apa yang perlu dikerjakan.
-
Menafsirkan,
artinya menyatakan kembali informasi dengan kalimat yang berbeda. Informasi
dapat dijelaskan dan hal-hal yang penting dapat diberi penekanan.
-
Mengatur
dan mengorganisir. Merencanakan dan menyusun pekerjaan sehingga dapat
diselesaikan secara efektif dan efisien. Dengan mengatur dan mengorganisir,
tugas-tugas yang diberikan akan dapt diselesaikan dengan efesien dan efektif.
-
Memeriksa
ketepatan. Membandingkan jawaban dan memastikan bahwa jawaban itu benar.
Manfaatnya yaitu pekerjaan akan bebas dari kesalahan dan kekurang tepatan.
Pemahaman terhadap bidang studi juga akan berkembang.
-
Menerima
tanggungjawab. Menerima tanggungjawab bersedia dan mampu memikul tangungjawab
dari tugas-tugas dan kewajiban untuk diri sendiri dan kelompok, untuk
meyelesaikan tugas yang diberikan.
-
Menggunakan
kesabaran. Bersikap toleran pada teman, tetap pada pekerjaan dan bukan pada
kesulitan-kesulitan, serta tidak membuat keputusan yang tergesa-gesa.
-
Tetap
tenang/mengurangi ketegangan, adalah menimbulkan atmosfir yang damai dalam
kelompok. Suasana yang hening dalam kelompok dapat menimbulkan tingkat
pembelajaran yang lebih tinggi.
3. Keterampilan kooperatif tingkat mahir
Keterampilan
tingkat mahir meliputi hal-hal sebagai berikut:
-
Mengelaborasi,
berarti memperluas konsep, kesimpulan dan pendapat-pendapat yang berhubungan
dengan topik tertentu. Mengelaborasi dapat menghasilkan pemahaman yang lebih
dalam dan prestasi yang lebih tinggi.
-
Memeriksa
secara cermat. Bertanya dengan pokok pembicaraan yang lebih mendalam unuk
mendapatkan jawaban yang benar. Memeriksa secara cermat dapat menjamin bahwa jawabannya
benar.
-
Menanyakan
kebenaran, maksudnya membuktikan bahwa jawaban yang dikemukakan adalah benar
atau memberikan alasan untuk jawaban tersebut. Menanyakan kebenaran akan
membantu siswa untuk berfikir tentang jawaban yang diberikan dan untuk lebih meyakinkan
terhadap ketepatan jawaban tersebut.
- Menganjurkan suatu posisi, maksudnya
menunjukkan posisi kelompok terhadap suatu masalah tertentu.
-
Menetapkan
tujuan, maksudnya menentukan prioritas-prioritas. Pekerjaan dapat diselesaikan
lebih efeisien jika tujuannya jelas.
- Berkompromi, adalah
menentukan pokok permasalahan dengan persetujuan bersama. Kompromi dapat
membangun rasa hormat kepada orang lain dan mengurangi konflik antar pribadi.
- Mengahadapi masalah khusus, maksudnya
menunjukkan masalah dengan memakai pesan “saya”, tidak menuduh, tidak
menggunakan sindiran, atau memanggil nama. Hal tersebut menunjukkan bahwa hanya
sikap yang dapat berubah bukan ciri atau ketidak mampuan seseorang semuanya itu
bertujuan untuk memecahkan masalah dan bukan untuk memenangkan masalah. Dengan
hal ini konflik pribadi akan berkurang. Tingkat kebaikan, sensitivitas dan
toleran akan meningkat.
Metode
Pembelajaran Kooperatif Model Jigsaw
Siswa bekerja dalam kelomok empat
atau lima orang. Setiap angota tim membaca pasal yang berlainan. Selanjutnya
para siswa didalam kelompok ahli tersebut kembali lagi ke timnya semula dan
bergantian mengerjakan apa yang sudah dipelajarinya kepada anggota tim lain.
Akhirnya, para siswa mengikuti
kuis yang mencakup seluruh pasal, dan skor kuis menjadi skor tim. Skor yang
disumbangkan oleh siswa ke timnya didasarkan pada peningkatan individual, dan
siswa-siswa yang berada di tim dengan skor tertinggi berhak mendapat sertifikat
atau penghargaan lain. Jadi para siswa dimotivasi untuk mempelajari bahan
sebaik mungkin dan bekerja keras di dalam kelompok ahli sehingga dapat membantu
anggota kelompok lainnya.
Adapun langkah-langkah dalam
metode pembelajaran Kooperatif model Jigsaw adalah sebagai berikut :
1. Siswa
dikelompokkan dengan jumlah kelompok 4 (empat anggota tim)
2. Tiap orang dalam anggota tim diberi bagian
materi yang berbeda.
3. Tiap
orang dalam tim membaca bagian materi yang ditugaskan.
4. Anggota
tim yang berbeda yang telah mempelajari bagian/sub bab yang sama bertemu dalam
kelompok baru ( kelompok ahli ) untuk
mendiskusikan sub bab mereka.
5. Setelah
selesai diskusi sebagai tim ahli tiap anggota kembali ke kelompok asal dan
bergantian mengajar teman satu tim mereka tentang sub bab yang mereka kuasai
dan tiap anggota tim lainnya
mendengarkan dengan sungguh-sungguh.
6. Tiap
tim ahli mempresentasikan hasil diskusinya.
7. Guru
mengevaluasi.
8. Penutup
Motivasi
Belajar
1. Motivasi Intrinsik
Motivasi intrinsik
adalah keinginan bertindak yang disebabkan oleh faktor pendorong dari dalam
diri (internal) individu. Inidividu yang digerakkan oleh motivasi instrinsik
baru merasa puas jika kegiatan yang telah dilakukan mencapai hasil yang
terlibat dalam kegiatan tersebut. Motivasi intrinsik akan mengarah pada timbulnya
motivasi berprestasi
2. Motivasi Ekstrinsik
Motivasi ekstrinsik
adalah dorongan terhadap perilaku seseorang yang ada di luar perbuatan yang
dilakukannya. Misalnya, orang berbuat sesuatu karena dorongan dari luar, yaitu
adanya hadiah dan hukuman. Hal yang perlu disadari adalah motivasi ekstrinsik
dapat melemahkan motivasi intrinsik. Motivasi intrinsik yang pada mulanya sudah
ada, tapi jika sering diberi imbalan misalnya, maka motivasi intrinsik tersebut
dapat menurun. Seseorang hanya akan melakukan kegiatan jika ada imbalannya.
Adapun fungsi
motivasi menurut Oemar Hamalik (1995:108) sebagai beriklut:
2.1
Mendorong timbulnya tingkah laku atau
perbuatan
2.2
Mengarahkan perbuatan untuk mencapai tujuan
yang diinginkan
2.3
Menggerakkan tingkah laku seseorang
Metode Penelitian
Sesuai
dengan jenis penelitian yang dipilih, yaitu penelitian tindakan, maka
penelitian ini menggunakan model penelitian tindakan dari Kemmis dan Taggart
(dalam Sugiarti, 1997: 6), yaitu berbentuk spiral dari sklus yang satu ke
siklus yang berikutnya. Setiap siklus meliputi planning (rencana), action (tindakan),
observation (pengamatan), dan reflection (refleksi). Langkah pada
siklus berikutnya adalah perencanaan yang sudah direvisi, tindakan, pengamatan,
dan refleksi. Sebelum masuk pada siklus 1 dilakukan tindakan pendahuluan yang
berupa identifikasi permasalahan.
Observasi
dibagi dalam dua putaran, yaitu putaran 1 dan 2, dimana masing-masing putaran
dikenai perlakuan yang sama (alur kegiatan yang sama) dan membahas satu sub
pokok bahasan yang diakhiri dengan tes formatif di akhir masing putaran. Dibuat
dalam dua putaran dimaksudkan untuk
memperbaiki sistem pengajaran yang telah dilaksanakan.
Metode Pengumpulan Data
1. Silabus
Yaitu
seperangkat rencana dan pengaturan tentang kegiatan pembelajaran pengelolahan
kelas, serta penilaian hasil belajar.
2. Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP)
Yaitu
merupakan perangkat pembelajaran yang digunakan sebagai pedoman guru dalam
mengajar dan disusun untuk tiap putaran. Masing-masing RPP berisi kompetensi
dasar, indikator pencapaian hasil belajar, tujuan pembelajaran khusus, dan
kegiatan belajar mengajar.
3. Lembar Kegiatan Siswa
Lembar
kegiatan yang dipergunakan siswa untuk membantu proses pengumpulan data hasil
eksperimen.
4. Tes formatif
Tes ini
disusun berdasarkan tujuan pembelajaran yang akan dicapai, digunakan untuk
mengukur kemampuan pemahaman konsep matematika pada Kompetensi Dasar Memahami
konsep perbandingan dan menggunakan bahasa perbandingan dalam mendeskripsikan
hubungan dua besaran atau lebih. Tes formatif ini diberikan setiap akhir
putaran. Bentuk soal yang diberikan adalah pilihan ganda untuk putaran 1 dan
uraian (subyektif) untuk putaran 2.
Data-data
yang diperlukan dalam penelitian ini diperoleh melalui observasi pengolahan
metode pembelajaran kooperatif model Jigsaw, observasi aktivitas siswa dan guru
dan tes formatif.
Hasil penelitian
Pada siklus I,
secaraa garis besar kegiatan belajar mengajar dengan metode pembelajaran
kooperatif model Jigsaw sudah dilaksanakan dengan baik, walaupun peran guru
masih cukup dominan untuk memberikan penjelasan dan arahan, karena model
tersebut masih dirasakan baru oleh siswa
Dari
tabel di atas dapat dijelaskan bahwa dengan menerapkan metode pembelajaran kooperatif model Jigsaw
diperoleh nilai rata-rata prestasi belajar siswa adalah 78,33 dan ketuntasan
belajar mencapai 86,67% atau ada 26 siswa
dari 30 siswa sudah tuntas belajar. Hasil tersebut menunjukkan bahwa
pada siklus pertama secara klasikal siswa sudah tuntas belajar, karena siswa
yang memperoleh nilai ≥ 75 (Kriteria Ketuntasan Minimal = KKM) sebesar 86,67% lebih besar dari persentase
ketuntasan yang dikehendaki yaitu sebesar 85%.
Hasil
ini menunjukkan bahwa pada siklus I ini ketuntasan belajar secara klasikal
telah mengalami peningkatan sedikit lebih baik dari pra siklus . Adanya peningkatan hasil belajar
siswa ini karena setelah guru menginformasikan bahwa setiap akhir pelajaran
akan selalu diadakan tes sehingga pada pertemuan berikutnya siswa lebih
termotivasi untuk belajar. Selain itu siswa juga karena guru menerapkan metode pembelajaran kooperatif
model Jigsaw.
Sedangkan
untuk aktivitas siswa yang paling dominan pada siklus II adalah bekerja dengan
sesama anggota kelompok yaitu (22,1%) dan mendengarkan/memperhatikan penjelasan
guru (20,8%), aktivitas yang mengalami peningkatan adalah membaca buku siswa
(13,1%) dan diskusi antar siswa/antara siswa dengan guru (15,0%). Sedangkan
aktivitas yang lainnya mengalami penurunan.
Berdasarkan
tabel di atas diperoleh rata-rata nilai
tes sebesar 83,67 dan dari 30 siswa yang
telah tuntas sebanyak 29 siswa dan 1 siswa belum mencapai ketuntasan belajar.
Maka secara klasikal ketuntasan belajar yang telah tercapai sebesar 96,67 %
(termasuk kategori tuntas). Hasil pada
siklus II ini mengalami peningkatan lebih baik dari siklus I. Adanya
peningkatan hasil belajar pada siklus II ini dipengaruhi oleh adanya
peningkatan kemampuan guru dalam menerapkan metode pembelajaran kooperatif
model Jigsaw menjadikan siswa menjadi lebih terbiasa dengan pembelajaran
seperti ini sehingga siswa lebih mudah dalam memahami materi yang telah
diberikan.
Kesimpulan
Dari hasil
kegiatan pembelajaran yang telah dilakukan selama tiga siklus, dan berdasarkan
seluruh pembahasan serta analisis yang telah dilakukan dapat disimpulkan
sebagai berikut:
1. Pembelajaran
dengan kooperatif model Jigsaw memiliki dampak positif dalam meningkatkan
prestasi belajar siswa yang ditandai dengan peningkatan prestasi/ hasil belajar
dengan rata-rata pada pra siklus (67,00)
pada siklus I (78,33) dan pada siklus II (83,67), adapun ketuntasan belajar siswa secara klasikal
dalam setiap siklus, yaitu pra siklus
(66,67%), siklus I (86,67%), siklus II (96,67%). Dengan Kriteria
Ketuntasan Minimal (KKM) yang sudah ditetapkan sebesar 75.
2. Penerapan
metode pembelajaran kooperatif model Jigsaw mempunyai pengaruh positif, yaitu
dapat meningkatkan motivasi belajar siswa yang ditunjukan dengan wawancara
dengan beberapa siswa, rata-rata jawaban siswa menyatakan bahwa mereka tertarik
dan berminat dengan metode pembelajaran kooperatif model Jigsaw sehingga mereka
menjadi termotivasi untuk belajar.
DAFTAR PUSTAKA
Ali, Muhammad. 1996. Guru Dalam
Proses Belajar Mengajar. Bandung: Sinar Baru Algesindon.
Arikunto,
Suharsimi. 1993. Manajemen Mengajar Secara
Manusiawi. Jakarta: Rineksa Cipta.
Arikunto, Suharsimi. 1998. Prosedur Penelitian Suatu Pendekatan Praktek.
Jakarta: Rineksa Cipta.
Arikunto, Suharsimi. 2001. Dasar-dasar Evaluasi Pendidikan. Jakarta: Bumi Aksara.
Arsyad, Azhar. 1997. Media Pembelajaran.
Jakarta: PT. RajaGrafindo Persada.
Combs.
Arthur. W. 1984. The Profesional
Education of Teachers. Allin and Bacon, Inc. Boston.
Dahar, R.W. 1989. Teori-teori
Belajar. Jakarta: Erlangga.
Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, 1994. Petunjuk Pelaksanaan Proses Belajar Mengajar,
Jakarta. Balai Pustaka.
Djamarah, Syaiful Bahri. 2100. Strategi Belajar Mengajar. Jakarta: Rineksa Cipta.
Felder,
Richard M. 1994. Cooperative Learning in
Technical Corse, (online), (Pcll\d\My % Document\Coop % 20 Report.
Hadi,
Sutrisno. 1981. Metodogi Research. Yayasan
Penerbitan Fakultas Psikologi Universitas Gajah Mada. Yoyakarta.
Hamalik,
Oemar. 1994. Media Pendidikan.
Bandung: Citra Aditya Bakti.
Hasibuan. J.J. dan Moerdjiono. 1998. Proses Belajar Mengajar. Bandung: Remaja
Rosdakarya.
Hudoyo, H. 1990. Strategi
Belajar Mengajar Matematika. Malang:
IKIP Malang.
Kemmis,
S. dan Mc. Taggart, R. 1988. The Action
Research Planner. Victoria Dearcin University Press.
Margono,
S. 1996. Metodologi Penelitian Pendidikan.
Jakarta: Rineksa Cipta.
Mursell,
James ( - ). Succesfull Teaching (terjemahan).
Bandung: Jemmars.
Ngalim, Purwanto M. 1990. Psikologi Pendidikan. Bandung:
PT. Remaja Rosdakarya.
Nur, Muhammad. 1996. Pembelajaran
Kooperatif. Surabaya. Universitas Negeri Surabaya.
Purwanto, N. 1988. Prinsip-prinsip dan Teknis Evaluasi Pengajaran. Bandung. Remaja
Rosda Karya.
Rustiyah, N.K. 1991. Strategi
Belajar Mengajar. Jakarta: Bina Aksara.
Sardiman, A.M. 1996. Interaksi dan Motivasi Belajar Mengajar. Jakarta:
Bina Aksara.
Soekamto,
Toeti. 1997. Teori Belajar dan Model
Pembelajaran. Jakarta: PAU-PPAI, Universitas Terbuka.
Soetomo.
1993. Dasar-dasar Interaksi Belajar
Mengajar. Surabaya Usaha Nasional.
Sudjana, N dan Ibrahim. 1989. Penelitian dan Penilaian Pendidikan. Bandung: Sinar Baru.
Suharta, I.G.P. 2002. Pemecahan
Masalah, Penalaran. Makalah disajikan dalam Seminar Nasional Matematika,
Universitas Negeri Malang, Malang, 12 Oktober..
Syah, Muhibbin. 1995. Psikologi
Pendidikan, Suatu Pendekatan Baru. Bandung: Remaja Rosdakarya.
Usman, Moh. Uzer. 2001. Menjadi Guru Profesional. Bandung: Remaja Rosdakarya.
Wahyuni, Dwi. 2000. Studi
Tentang Pembelajaran Kooperatif Terhadap Hasil Belajar Matematika. Malang:
Program Sarjana Universitas Negeri Malang.
Wetherington.
H.C. and W.H. Walt. Burton. 1986. Teknik-teknik
Belajar dan Mengajar. (terjemahan) Bandung: Jemmars.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar