Senin, 01 Oktober 2018

PENINGKATAN MOTIVASI DAN HASIL BELAJAR IPS MELALUI MODEL QUANTUM LEARNING DENGAN METODE SIMULASI PADA POKOK BAHASAN ANGKATAN KERJA DAN TENAGA KERJA SISWA KELAS VIII SMPN 1 JIWAN KABUPATEN MADIUN TAPEL 2014 /2015


PENINGKATAN MOTIVASI DAN HASIL BELAJAR IPS
MELALUI MODEL QUANTUM LEARNING DENGAN METODE SIMULASI
PADA POKOK BAHASAN ANGKATAN KERJA DAN TENAGA KERJA
SISWA KELAS VIII SMPN 1 JIWAN KABUPATEN MADIUN TAPEL 2014 /2015

Oleh : Ella Nurlistiani, S.Pd,
Guru SMPN 1 Jiwan Kabupaten Madiun

ABSTRAK
Kata kunci: Quantum learning, metode simulasi, motivasi dan hasil belajar.

Permasalahan yang melatarbelakangi penelitian ini adalah adanya permasalahan pembelajaran IPS di kelas VIII D SMPN 1 Jiwan  yaitu rendahnya motivasi dan hasil belajar IPS. Penelitian ini bertujuan untuk: (1) Mengetahui bagaimana upaya meningkatkan motivasi dan hasil belajar IPS siswa dengan menerapkan model pembelajaran quantum learning dengan metode simulasi di kelas VIII D SMPN 1 Jiwan Kabupaten Madiun; dan (2) Mengetahui peningkatan motivasi dan hasil belajar IPS siswa dengan menggunakan model quantum learning. Jenis penelitian ini merupakan penelitian tindakan kelas. Subjek penelitian adalah siswa kelas VIII D SMPN 1 Jiwan Kabupaten Madiun Tahun Ajaran 2014/2015. Penelitian ini berlangsung dalam 2 siklus. Dalam satu siklus terdapat dua kali pertemuan. Teknik pengumpulan data terdiri dari observasi, wawancara, angket dan tes. Jenis data yang dikumpulkan adalah data kualitatif. Teknik analisis data yang digunakan adalah teknik analisis data kualitatif model Miles danHuberman mencakup reduksi data, penyajian data dan penarikan  kesimpulan. Keabsahan data diketahui melalui triangulasi metode. Kriteria keberhasilan dalam penelitian ini ditentukan apabila rata-rata persentase indikator motivasi dan hasil belajar siswa terhadap mata pelajaran IPS mencapai 75%.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa:(1) Upaya yang dilakukan untuk meningkatkan motivasi dan hasil belajar menggunakan model pembelajaran quantum learning dengan metode simulasi pada mata pelajaran IPS di kelas VIII D SMPN 1 Jiwan Kabupaten Madiun dapat dilakukan dengan menambahkan media powerpoint, artikel berupa kasus ketenagakerjaan, video tentang pengangguran, dan perlengkapan simulasi berupa tulisan yang dapat menunjukkan peran masing masing siswa dalam kegiatan pembelajaran; dan (2) Berdasarkan hasil yang diperoleh dari observasi, wawancara dan angket, menunjukkan peningkatan motivasi belajar siswa dalam pembelajaran IPS yang berdampak pada peningkatan hasil belajar IPS. Data hasil belajar IPS diperoleh dari hasil tes sebelum dan sesudah tindakan. Perolehan hasil pada siklus I masih rendah, tindakan dilanjutkan siklus II. Pada siklus II ini, hasil motivasi dan hasil belajar IPS siswa mengalami peningkatan. Peningkatan dari siklus I ke siklus II sudah memenuhi criteria keberhasilan tindakan yakni ≥ 75%, sehingga penelitian ini dikatakan berhasil.



PENDAHULUAN
Pendidikan merupakan kunci masa depan bangsa, dan pada dasarnya merupakan salah satu aspek yang penting dalam membangun manusia sebagai manusia yang cerdas serta mampu bersaing di masa mendatang. Pendidikan yang mampu mendukung pembangunan dimasa mendatang ialah pendidikan yang mampu mengembangkan potensi siswa, sehingga siswa mampu menghadapi dan memecahkan permasalahan kehidupan, hal tersebut akan semakin penting ketika seseorang memasuki kehidupan di masyarakat dan dunia kerja, karena mereka harus mampu menerapkan apa yang dipelajari di sekolah untuk menghadapi permasalahan yang terjadi dalam kehidupan sehari-hari.
Pendidikan merupakan kunci masa depan bangsa, menyebabkan sistem pendidikan harus selalu diperbaiki sesuai dengan kebutuhan. Negara Indonesia merupakan negara yang selalu memperbaiki sistem pendidikan. Namun perbaikan sistem pendidikan yang dilakukan di negara Indonesia belum menghasilkan pendidikan yang baik, hal ini dapat dilihat dari rendahnya kualitas sumber daya manusia di Indonesia dan salah satu penyebabnya yaitu permasalahan pembelajaran. Hal ini dapat dibuktikan dengan hasil survei Political and Economic Risk Consultancy (PERC) yang berpusat di Hongkong pada tahun 2001 menyebutkan bahwa sistem pendidikan di Indonesia terburuk di kawasan Asia, yaitu dari 12 negara yang disurvei, Indonesia menduduki urutan ke-12, setingkat di bawah Vietnam.  Dari (http://www.metrosiantar.com/­pendikan-nasional-antara-harapan-dan-kenyataan ).
Pembelajaran merupakan suatu hal yang menentukan baik buruknya pendidikan. Pembelajaran yang baik maka akan mencetak generasi bangsa yang dapat bersaing dan dapat memecahkan permasalahan kehidupan maupun permasalahan yang dihadapi suatu bangsa. Namun pada kenyataanya untuk menciptakan pembelajaran yang baik masih ditemukan permasalahan. Salah satunya ialah permasalahan yang disebabkan oleh siswa.
Permasalahan yang disebabkan oleh siswa juga terjadi pada pembelajaran IPS di SMPN 1 Jiwan. Diantaranya motivasi belajar siswa yang rendah hal ini dapat dilihat dari masih banyaknya siswa yang ramai sendiri ketika guru sedang menjelaskan materi di depan kelas, dan juga siswa tidak serius mengerjakan tugas yang diberikan oleh guru.
Siswa yang cenderung pasif juga masih terlihat dalam pembelajaran IPS di SMPN 1 Jiwan  sehingga pembelajaran IPS terlihat hanya terpusat pada guru, dengan pembelajaran yang demikian maka proses interaksi (komunikasi) guru dengan siswa tidak akan berjalan dengan baik. Kondisi yang seperti itu tidak dapat membuat iklim pembelajaran menjadi dinamis, tetapi dapat menghambat proses pembelajaran.
Siswa kelas VIII SMPN 1 Jiwan juga mengakui bahwa pembelajaran IPS sulit untuk dipahami sehingga megakibatkan siswa tidak menyukai pembelajaran IPS. Rendahnya motivasi siswa dalam mempelajari mata pelajaran IPS berdampak juga pada ketidak tercapainya Kompetensi Ketuntasan Minimal (KKM). Motivasi belajar yang rendah juga berdampak pada kesulitan siswa dalam memahami materi yang disampaikan oleh guru, sehingga siswa tidak dapat mencapai tujuan pembelajaran IPS dengan baik. Belum tercapainya KKM pada mata pelajaran IPS kelas VIII dapat dibuktikan dengan data yang diperoleh saat observasi,
Perlu diketahui bahwa nilai rata-rata IPS siswa kelas VIII masih banyak yang belum mencapai KKM. Nilai KKM IPS di SMPN 1 Jiwan  kelas VIII ialah 75, hasil belajar yang belum mencapai KKM tertinggi berada di kelas VIII D, hal ini menunjukkan bahwa hasil belajar kelas VIII D lebih rendah dibandingkan dengan kelas lain. Oleh karena itu hasil belajar kelas VIII D harus ditingkatkan agar nilainya mencapai KKM, sehingga khusus untuk kelas VIII D perlu dilakukan suatu tindakan.Salah satu upaya yang dapat dilakukan oleh guru yaitu dengan menggunakan model pembelajaran yang bervariasi.
Banyak model pembelajaran yang bisa digunakan oleh guru untuk menyampaikan materi IPS agar lebih menarik perhatian siswa, salah satunya mengunakan model pembelajaran quantum learning.  Salah satu manfaat model quantum learning dengan metode simulasi ialah meningkatkan motivasi belajar. Motivasi belajar yang tinggi pada akhirnya akan mempengaruhi peningkatan hasil belajar siswa, sebaliknya jika motivasi siswa kurang maka hasil belajar siswa tidak akan mencapai KKM.
Berdasarkan uraian diatas, maka peneliti merasa perlu diadakan penelitian tindakan kelas dengan judul “ Peningkatan Motivasi dan Hasil Belajar IPS melalui Model Quantum Learning dengan Metode Simulasi pada Pokok Bahasan Angkatan Kerja dan Tenaga Kerja Siswa Kelas VIII SMPN 1 Jiwan”.

RUMUSAN MASALAH
1.   Bagaimana upaya meningkatkan motivasi dan hasil belajar IPS di kelas VIII SMPN 1 Jiwan Kabupaten Madiun melalui penerapan model pembelajaran quantum learning dengan metode simulasi?
2.   Bagaimana peningkatan motivasi dan hasil belajar IPS di kelas VIII SMPN 1 Jiwan Kabupaten Madiun  melalui penerapan model pembelajaran quantum learning dengan metode simulasi?

TUJUAN PENELITIAN
1.   Untuk mengetahui upaya peningkatan motivasi dan hasil belajar IPS siswa kelas VIII dalam pokok bahasan angkatan kerja dan tenaga kerja melalui penarapan model quantum learning dengan metode simulasi di SMPN 1 Jiwan Kabupaten Madiun
2.   Untuk mengetahui besarnya peningkatan motivasi dan hasil belajar IPS siswa kelas VIII dalam pokok bahasan angkatan kerja dan tenaga kerja melalui penerapan model quantum learning dengan metode simulasi di SMPN 1 Jiwan Kabupaten Madiun

MANFAAT PENELITIAN
1.   Manfaat Teoretis
a)   Hasil penelitian ini dapat bermanfaat untuk memberikan informasi mengenai model pembelajaran quantum learning dengan metode simulasi dalam meningkatkan motivasi dan hasil belajar siswa pada mata pelajaran IPS.
b)   Hasil penelitian ini dapat dijadikan bahan pertimbangan bagi peneliti-peneliti lain yang terkait dengan model pembelajaran quantum learning melalui metode simulasi guna meningkatkan motivasi dan hasil belajar siswa pada mata pelajaran IPS.
2.   Manfaat Praktis
a)   Bagi Sekolah
Hasil penelitian ini dapat memberikan informasi dan masukan yang positif bagi pengembangan sekolah, utamanya untuk peningkatan kualitas proses pembelajaran di sekolah.
b)   Bagi Guru
Memberikan informasi tambah bagi guru sebagai pengajar dalam usahanya melaksana­kan proses belajar mengajar.
c)   Bagi Siswa
Hasil penelitian tindakan kelas ini diharapkan dapat meningkatkan motivasi dan hasil belajar siswa terhadap pembelajaran IPS.

HIPOTESA TINDAKAN
Berdasarkan kerangka pikir, maka hipotesis tindakan yang dapat diajukan adalah sebagai berikut: Penerapan model quantum learning dengan metode simulasi dapat meningkatkan motivasi dan hasil belajar IPS siswa kelas VIII SMPN 1 Jiwan Kabupaten Madiun

KAJIAN PUSTAKA
Mata Pelajaran IPS
Mata pelajaran IPS merupakanakan mata pelajaran terpadu karena IPS merupakanakan integrasi dari berbagai cabang ilmu-ilmu sosial, seperti sosiologi, sejarah, geografi, dan ekonomi. Pengembangan pembelajaran terpadu, dalam hal ini, dapat mengambil suatu topik dari suatu cabang ilmu tertentu, kemudian dilengkapi, dibahas, diperluas, dan diperdalam dengan cabang-cabang ilmu yang lain. Topik atau tema dapat dikembangkan dari isu, peristiwa, dan permasalahan yang berkembang di masyarakat.
Mata pelajaran IPS merupakan mata pelajaran yang diberikan mulai dari SD/MI/SDLB sampai SMP/MTs/SMPLB. Sapriya (2011: 19) menjelaskan bahwa istilah Ilmu Pengetahuan Sosial (IPS) merupakan nama mata pelajaran di tingkat sekolah dasar dan menengah atau nama program studi di perguruan tinggi yang identik dengan istilah “social studies” dalam kurikulum persekolahan di negara lain, khususnya di Australia dan Amerika Serikat, sedangkan menurut Muhammad Numan Somantri (2004: 44) pendidikan IPS di sekolah merupakan suatu penyederhanaan disiplin ilmu-ilmu sosial, piskologi, filsafat, ideologi negara dan agama yang diorganisasikan dan disajikan secara ilmiah dan piskologis untuk tujuan pendidikan. Adanya mata pelajaran IPS di semua jenjang pendidikan menandai bahwa IPS sangat penting untuk dipelajari. Mata pelajaran IPS merupakan mata pelajaran yang dirancang untuk mengembangkan pengetahuan, pemahaman, dan kemampuan analisis terhadap kondisi sosial masyarakat yang dinamis sehingga dengan mempelajari IPS siswa menjadi tahu tentang kondisi sosial dan dapat menghadapi tantangan berat dalam kehidupan masyarakat yang selalu mengalami perubahan.
Berdasrkan pendapat para ahli mengenai pengertian mata pelajaran IPS tersebut, maka dapat disimpulkan bahwa mata pelajaran IPS adalah mata pelajaran perpaduan antara ilmu-ilmu sosial diantaranya sosiologi, geografi, sejarah, dan ekonomi. Adanya keterpaduan mata pelajaran IPS maka dapat meningkatkan keterampilan siswa untuk memecahkan masalah pribadi atau masalah sosial serta kemampuan mengambil keputusan dan berpartisipasi dalam berbagai kegiatan kemasyarakatan.

Motivasi Belajar IPS
Banyak orang menyebut kata “motif” untuk menunjuk mengapa seseorang berbuat sesuatu, misalnya apa motif seseorang melakukan kecurangan saat ujian, apa motif siswa untuk belajar, dan lain sebaginya. Menurut Sardiman (2010: 102), motivasi belajar adalah keseluruhan daya penggerak di dalam diri siswa yang menimbulkan, menjamin kelangsungan, dan memberikan arah kegiatan belajar, sehingga diharapkan tujuan belajar dapat tercapai, sedangkan menurut Dimyati dan Mudjiono (2009: 80), motivasi belajar adalah kekuatan mental berupa keinginan, perhatian, kemauan, atau cita-cita. Motivasi dapat juga diartikan sebagai dorongan mental untuk mempengaruhi seseorang agar melakukan pekerjaan yang diinginkan sesuai dengan tujuan yang sudah ditetapkan sebelumnya.
Setiap siswa memiliki motivasi belajar yang berbeda-beda. Ada siswa yang memiliki motivasi yang tinggi dan ada juga yang memiliki motivasi yang rendah. Menurut Sardiman (2010:83), untuk mengetahui kekuatan motivasi belajarsiswa, dapat dilihat dari beberapa ciri sebagai berikut:
1) Tekun menghadapi tugas; 2)Ulet menghadapi kesulitan (tidak lekas putus asa); 3) Menunjukan minat terhadap  bermacam-macam masalah; 4)Lebih senang bekerja mandiri; 5) Cepat bosan pada tugas–tugas rutin; 6) Dapat mempertahan­kan pendapatnya; 7) Tidak mudah melepas hal yang diyakini itu; 8) Senang mencari dan memecahkan masalah soal-soal.
Ciri-ciri motivasi tersebut dapat digunakan untuk mengetahui motivasi belajar siswa selama proses pembelajaran di kelas. Guru dapat mengetahui bagaimana tingkat motivasi belajar IPS siswa selama di kelas dengan melihat ciri-ciri tersebut.
Berdasarkan pendapat tersebut dapat disimpulkan bahwa motivasi belajar merupakanakan daya penggerak yang ada di dalam diri siswa. Daya pengerak ini dapat meningkatkan kegiatan belajar siswa sehingga, tujuan dari motif siswa untuk belajar dapat tercapai. Sedangkan motivasi belajar IPS merupakan daya penggerak dari dalam diri siswa untuk mempelajari materi-materi IPS sehingga tujuan dari belajar IPS dapat tercapai.
Adapun untuk megukur motivasi belajar IPS dapat dilihat dari ciri-ciri motiviasi belajar yang meliputi tekun menghadapi tugas, ulet menghadapi kesulitan (tidak lekas putus asa), menunjukkan minat terhadap bermacam-macam masalah termasuk permasalahan-permasalahan yang terdapat pada materi pembelajaran, lebih senang bekerja mandiri, cepat bosan pada tugas-tugas rutin, dapat mempertahankan pendapatnya, tidak mudah melepas hal yang diyakini, dan senang mencari dan memecahkan masalah soal-soal.

Model Pembelajaran Quantum Learning
Banyak model pembelajaran yang dapat digunakan guru untuk menyampaikan pembelajaran agar siswa dapat mudah memahami materi yang disampaikan salah satunya ialah model pembelajaran quantum learning. Kata quantum memiliki arti sebagai interaksi yang mengubah energi menjadi cahaya (DePorter, 2009: 5).
Sugiyono (2010: 71-72), berpendapat bahwa model quantum learning merupakanakan suatu ramuan atau rakitan dari berbagai teori atau pandangan pisikologi kognitif dan pemrograman neurologi atau neurolinguistik yang jauh sebelumnya sudah ada. Menurut Suyatno (2009: 41) model quantum learning adalah pengubahan bermacam-macam interaksi yang ada di dalam dan di sekitar momen belajar dengan menyingkirkan hambatan yang menghalangi proses belajar alamiah dengan secara sengaja menggunakan musik, mewarnai lingkungan sekeliling, menyusun bahan pengajaran yang sesuai, cara efektif pembelajaran, dan keterlibatan aktif siswa dan guru, sedangkan menurut DePorter & Mike Hernacki (2010: 14), model pembelajaran quantum learning adalah perubahan pembelajaran yang meriah, dengan segala nuansanya, dan menciptakan lingkungan belajar yang efektif.
Berdasarkan pengertian tersebut dapat disimpulkan bahwa model pembelajaran quantum learning adalah pengubahan bermacam-macam interaksi yang terdapat dalam proses belajar dengan cara meghilangkan hambatan-hambatan yang dapat menghalangi proses belajar. Hambatan-hambatan tersebut dapat dihilangkan dengan cara mendengarkan musik, menyusun bahan pengajaran yang sesuai, cara efektif pembelajaran, dan keterlibatan aktif siswa dan guru.

METODE PENELITIAN
Penelitian ini merupakan penelitian tindakan kelas atau sering disebut classroom action research. Menurut Suharsimi Arikunto (2009: 2), penelitian tindakan kelas merupakan suatu kegiatan mencermati suatu objek dengan mengunakan cara dan aturan metodelogi tertentu untuk memperoleh data atau informasi yang bermanfaat dalam meningkatkan mutu suatu hal yang menarik minat dan penting bagi peneliti.  Penelitian tindakan kelas mempunyai tujuan yaitu untuk memperbaiki dan menigkatkan pembelajaran di kelas.
Adanya tujuan tersebut maka penelitian ini dilaksanakan sebagai setrategi pemecahan masalah untuk meningkatkan motivasi dan hasil belajar pada siswa kelas VIII SMPN 1 Jiwan Kabupaten Madiun Salah satu strategi untuk memecahkan permasalahan yang dapat digunakan ialah model pembelajaran quantum learning dengan metode simulasi.
Penelitian tindakan kelas ini merupakan penelitian kolaborasi. Pihak yang melakukan tindakan ialah guru, sedangkan yang melakukan pengamatan terhadap semua kegiatan tindakan adalah peneliti. Desain penelitian yang digunakan adalah model Kemmis dan Taggart yang membagi menjadi empat tahapan pada satu putaran (siklus) yaitu: perencanaan (planning), tindakan (action), observasi (observing), refleksi (reflecting).
Rancangan tindakan penelitian ini meliputi empat tahapan yang dilalui, yaitu perencanaan, pelaksanaan, pengamatan, dan refleksi. Tahapan-tahapan ini dilakukan pada setiap siklus. Tahapan-tahapan yang dilakukan peneliti antara lain:

SIKLUS I
a. Perencanaan
Pada perencanaan ini, dilakukan pengamatan pembelajaran IPS di kelas VIII D SMPN 1 Jiwan Kabupaten. Berdasarkan pengamatan dan diskusi dengan guru kelas VIII D minat belajar siswa dalam belajar IPS masih kurang sehingga berdampak pada rendahnya motivasi siswa begitu juga dengan hasil belajar siswa yang kurang dari KKM. Dari permasalahan tersebut peneliti membuat perencanaan sebagai berikut:
1)   Pembuatan Rencana Pelaksanaan Pengajaran (RPP)
2)   Mempersiapkan bahan-bahan pembelajaran yang dipergunakan saat proses pembelajaran berlangsung.
a)   Menyusun dan mempersiapkan lembar kerja siswa
Dalam penelitian ini lembar kerja siswa berupa soal tes mengenai materi yang dipelajari siswa.
b)   Menyusun lembar observasi
Lembar observasi dalam penelitian ini meliputi lembar observasi kegiatan guru dalam menjelaskan materi IPS melalui model pembelajaran quantum learning dengan metode simulasi dan lembar observasi motivasi siswa. Peneliti juga mempersiapkan catatan lapangan untuk mendeskripsikan aktivitas didalam kelas selama pembelajaran berlangsung.
c)   Menyusun pedoman wawancara dan angket
Pedoman wawancara terdiri dari pedoman wawancara yang ditunjukan kepada siswa dan kepada guru untuk mengetahui tanggapan terhadap pembelajaran yang dilakukan megguna­kan model quantum learning dengan metode simulasi, sedangkan untuk angket atau kuesioner digunakan untuk mengetahui tingkat motivasi belajar siswa terhadap mata pelajaran IPS.
b. Tindakan dan Observasi
Observasi dilakuakan bersamaan dengan pelaksanaan tindakan, dalam observasi dilakukan pengamatan selama pembelajaran berlangsung untuk mengetahui dampak yang ditimbulkan pada saat dan setelah diberikan perlakuan dengan model quantum learning dengan metode simulasi. Pengamatan dapat dilakukan dengan menggunakan lembar observasi, pedoman wawancara, lembar angket, dan butir tes.
c. Refleksi
Refleksi merupakan kegiatan mengulas secara kritis tentang perubahan yang terjadi pada siswa, suasana kelas, dan guru. Refleksi dilakukan oleh peneliti dan guru untuk menilai tingkat keberhasilan dalam meningkatkan motivasi belajar dan hasil belajar IPS mengunakan model pembelajaran quantum learning dengan metode simulasi. Peneliti dan guru berdiskusi untuk memahami proses, kendala dan masalah yang ditemui dalam implementasi tindakan. Kekurangan dan kendala selama penelitian didiskusikan dan dicari solusinya sebagai pijakan bagi siklus selanjutnya.

SIKLUS II
Kegiatan yang dilakukan pada siklus kedua ditunjukan sebagai perbaikan dari siklus yang pertama. Siklus kedua juga melalui beberapa tahapan perencanaan dari hasil refleksi siklus pertama. Jika sudah ada peningkatan sesuai dengan indikator keberhasilan, siklus selanjutnya ialah dalam rangka pemantapan siklus satu. Namun jika tidak ada peningkatan maka perlu pengulangan siklus dengan perbaikan-perbaikan pada siklus sebelumnya. Siklus ini dihentikan jika sudah tercapainya tujuan penelitian. Tujuan dari penelitian ini yaitu meningkatkan motivasi dan hasil belajar siswa.

Kriteria Keberhasilan Tindakan
Penelitian tindakan kelas ini dikatakan berhasil apabila penerapan model quantum learning dengan metode simulasi pada pembelajaran IPS mampu meningkatkan motivasi dan hasil belajar siswa kelas VIII di SMPN 1 Jiwan  dengan persentase sebesar minimal 75%. Apabila peningkatan motivasi belajar siswa dan hasil belajar siswa kurang dari 75% maka penelitian ini belum bisa dikatakan berhasil. Peningkatan motivasi belajar peserta didik dapat dilihat dari hasil angket, observasi dan wawancara motivasi, sedangkan peningkatan hasil belajar siswa dapat dilihat dari nilai tes sebelum dan sesudah tindakan.

HASIL PENELITIAN 
1)   Kegiatan Pra Tindakan
Berdasarkan observasi pra tindakan, motivasai dan hasil belajar siswa kelas VIII D dalam pembelajaran IPS masih rendah, diketahui bahwa rata-rata persentase motivasi belajar IPS siswa kelas VIII D SMPN I Jiwan terhadap mata pelajaran IPS sebelum adanya tindakan sebesar 59,43%. Hal ini menunjukkan motivasi belajar IPS di kelas VIII D masih rendah. Diketahui bahwa jumlah siswa yang telah mencapai KKM adalah 10 siswa (38,43%). Dari jumlah siswa yang telah mencapai KKM tersebut maka dapat disimpulkan bahwa hasil belajar IPS kelas VIII D masih rendah.
Mengingat permasalahan yang dihadapi, maka perlu adanya upaya untuk meningkatkan motivasi dan hasil belajar IPS. untuk itu diperlukan model pembelajaran yang tepat untuk megatasi permasalahan tersebut. Salah satu model pembelajaran yang dapat diterapkan untuk meningkatkan motivasi dan hasil belajar IPS siswa yaitu model pembelajaran quantum learning dengan metode simulasi. Metode simulasi merupakan salah satu metode yang mana memberikan tugas kepada siswa untuk memerankan perilaku tokoh masyarakat, pahlawan, dan pejabat dalam suatu situasi atau kejadian yang senyatanya. Dalam pembelajaran mengguna­kan metode simulasi ini siswa dituntut untuk berperan serta dalam melakukan segala kegitan simulasi.
Berdasarkan penjelasan yang disampaikan peneliti kepada guru mengenai model pembelajaran quantum learning dengan metode simulasi, guru memberi tangapan baik mengenai model pembelajaran quantum learning dengan metode simulasi. Selanjutnya guru setuju untuk mencoba menerapkan model pembelajaran quantum learning dengan metode simulasi pada pembelajaran IPS di kelas VIII D.
2)   Pembahasan SIKLUS I
Pelaksanaan pembelajaran menguna­kan model quantum learning dengan metode simulasi terbukti dapat meningkatkan motivasi dan hasil belajar siswa. setelah pelaksanaan siklus I dan siklus II diketahui bahwa terjadi peningkatan motivasi belajar dan hasil belajar siswa. Berikut ini akan dijelaskan peningkatan motivasi belajar dan hasil belajar siswa siklus I dan siklus II.
Pada pelaksanaan penelitian ini dikatakan berhasil apabila sudah mencapai kriteria keberhasilan tindakan yang sudah direncanakan yaitu 75%. Berikut ini merupakan data hasil rata-rata observasi pada siklus I dan II yang terdiri dari 8 indikator yang diamati dalam motivasi belajar IPS yang sudah ditabulasikan dari 2 observer.
Pada sikus I Hasil observasi terhadap guru menunjukan bahwa pada pelaksanaan siklus I sudah sepenuhnya berjalan seperti yang direncanakan.  Pengamatan terhadap siswa dilakukan dari awal sampai dengan akhir pembelajaran. Dalam mengikuti pembelajaran IPS siswa sudah tekun dalam mengerjakan tugas yang diberikan, tetapi dalam pelaksanaan pembelajaran siswa masih kurang serius mengikuti pelajaran, masih ada sepuluh siswa yang tidak memperhatikan pelajaran dengan sungguh-sungguh, kondisi dalam kelas sangat pasif karena siswa masih malas bertanya terhadap apa yang belum dimengerti, dan masaih ada siswa yang saling bekerja sama dalam mengerjakan tugas yang diberikan.
Pada siklus I jalannya simulasi juga belum begitu terarah karena siswa masih binggung terhadap peran masing-masing temannya, dikarenakan kurangnya perlengkapan untuk menunjang jalanya simulasi seperti tidak adanya tanda pengenal peran masing-masing siswa. Hal ini disebabkan kurangnya persiapan dalam pelaksanaan simulasi.
Hasil pengamatan terhadap motivasi siswa pada siklus I menunjukan belum optimal. data motivasi belajar siswa pada pembelajaran IPS yang diperoleh dari hasil rata-rata 2 observer yang kemudian di rata-rata dan ditabulasikan menunjukan hasil yang diperoleh masih belum sesuai dengan kriteria keberhasilan yang ingin dicapai, minimal 75% pada masing-masing indikator motivasi belajar IPS.
Pada pelaksanaan tindakan dengan menerapkan metode simulasi terdapat 8 indikator motivasi belajar IPS yang ditentukan. Adapun persentase tiap indikator motivasi belajar siswa dalam pembelajaran IPS siklus I yaitu tekun menghadapi tugas 74,25%, ulet menghadapi kesulitan 65,91%, menunjukkan minat pada pembelajaran 74,25%, lebih senag belerja mandiri 72,73%, cepat bosan pada tugas-tugas yang rutin 68,18%, dapat mempertahankan pendapatnya 77,27%, tidak mudah melepaskan hal yang diyakini 88,63%, dan senag mencari dan memecahkan masalah (soal-soal) 56,82%.
Motivasi yang diperoleh dari hasil angket di atas menunjukan bahwa pada siklus I hasil motivasi belajar IPS siswa kelas VIII D belum menunjukan hasil yang optimal. Terlihat pada saat sebelum adanya tindakan siklus I rata-rata motivasi belajar siswa sebesar 59,76%. Sedangkan setelah adanya tindakan siklus 1 motivasi belajar siswa mengalami peningkatan 11,14% dengan rata-rata 70,90%. Walaupun ada peningkatan motivasi belajar siswa pada pembelajaran IPS yang diajarkan mengunakan model quantum learning dengan metode simulasi belum bisa dikatakan berhasil karena belum memenuhi kriteria keberhasilan yang telah ditentukan yaitu 75%.
Sebelum adanya tindakan siklus I hasil belajar siswa yang belum mencapai nilai 75 adalah 16 siswa atau sebesar 61,53% dari 26 siswa sedangkan yang telah mencapai nialai 75 sebanyak 10 siswa atau sebesar 38,47%, hal ini menunjukan bahwa hasil belajar siswa masih rendah.
Setelah ada tindakan siklus I hasil tes siswa juga belum menunjukan hasil yang optimal. Terlihat dari jumlah siswa yang belum mencapai nilai 75 adalah 12 atau sebesar 36,37% sedangkan yang telah mencapai nilai 75 adalah 21 siswa atau sebesar 63,63% orang dari 33 siswa. Penerapan model quantum learning dengan metode simulasi siklus I dikatakn belum mencapai kriteri yang ditentukan sebesar 75%.
3)   Pembahasan SIKLUS II
Berdasarkan pengamatan motivasi belajar siswa pada saat pelaksanaan pembelajaran siklus II, siswa terlihat senang mengikuti pelajaran yang disampaikan megunakan model quantum learning dengan metode simulasi yang dipadukan dengan media pembelajaran powerpoint. Di dalam media powerpoint juga dilengkapi dengan video, artikel dan gambar yang berkaitan dengan materi yang disampaikan.
Siswa juga mengerjakan tugas dengan serius dengan kemampuan masing-masing dan tertarik dalam memperhatikan materi yang disampaikan guru. Siswa juga terlihat lebih tekun dalam mengerjakan tugas yang diberikan, dan lebih terlihat semangat dalam mengikuti kegiatan pembelajaran. Secara umum perhatian dan keaktifan siswa sudah lebih baik apabila dibandingkan dengan hasil pengamatan di siklus I. Di siklus II motivasi belajar siswa juga telah memenuhi target kriteria keberhasilan.
Hasil pengamatan terhadap motivasi siswa pada siklus II menunjukan sudah optimal data motivasi belajar siswa pada pembelajaran IPS yang diperoleh dari hasil rata-rata 2 observer yang kemudian di rata-rata dan ditabulasikan menunjukan hasil yang diperoleh sudah sesuai dengan kriteria keberhasilan yang ingin dicapai, minimal 75% pada masing-masing indikator motivasi belajar IPS
. Pada pelaksanaan tindakan dengan menerapkan metode simulasi terdapat 8 indikator motivasi belajar IPS yang ditentukan. Adapun persentase tiap indikator motivasi belajar siswa dalam pembelajaran IPS siklus II yaitu tekun menghadapi tugas 82,58%, ulet menghadapi kesulitan 78,03%, menunjukkan minat pada pembelajaran 78,03%, lebih senag belerja mandiri 79,55%, cepat bosan pada tugas-tugas yang rutin 81,06%, dapat mempertahankan pendapatnya 79,55%, tidak mudah melepaskan hal yang diyakini 78,79%, dan senag mencari dan memecahkan masalah (soal-soal) 75,76%
Pada siklus II hasil motivasi belajar IPS siswa sudah menunjukan hasil yang optimal. Terlihat dari hasil motivasi belajar sebelum adanya tindakan siklus II siswa memiliki rata-rata 79,47% dan mengalami peningkatan sebesar 8,4% dengan rata-rata 87,87%. Berdasarkan data tersebut penerapan model quantum learning dengan metode simulasi untuk meningkatkan motivasi belajar IPS pada siklus II dikatakn sudah berhasil karena sudah mencapai kriteri yang telah ditentukan.
Pada siklus II hasil tes siswa sudah menunjukan hasil yang optimal. Terlihat dari jumlah siswa yang mencapai nilai ≥ 75 sebelum tindakan siklus II sebanyak 21 dari 33 siswa dan siswa yang nilainya kurang dari 75 adalah 12. Sedankan setelah adanya tindakan jumlah siswa yang mencapai nilai ≥ 75 adalah 27 dari 33 siswa dan siswa yang belum memenuhi nilai minimal 75 sebanyak 6 siswa. Penerapan model quantum learning dengan metode simulasi pada pembelajaran IPS di siklus II dikatakan berhasil apabila sudah memenuhi target 75% dari siswa kelas VIII D yang memperoleh nilai minimal 75 pada mata pelajaran IPS. Nilai 75 merupakan nilai KKM untuk mata pelajaran IPS di SMPN 1 Jiwan

HASIL PENELITIAN
Hasil tes belajar siswa digunakan untuk mengetahui hasil belajar siswa terhadap mata pelajaran IPS. Tes yang digunakan merupakan tes pilihan ganda yang terdiri dari 20 soal, setip soal mempunyai skor 1. Tes diberikan setiap sebelum adanya tindakan dan setelah adanya tindakan sebagai upaya mengetahui peningkatan hasil belajar siswa dengan menerapkan model quantum learning dengan metode simulasi Hasil tes siswa sebelum siklus I sebanyak 16 siswa atau 61,53% pada nilai kurang dari 75 dan 10 siswa atau sebesar 38,47% siswa memperoleh niliai ≥ 75. Sedangkan setelah adanya tindakan siklus I hasil tes siswa 14 siswa atau sebesar 42,42% pada nilai kurang dari 75 dan siswa 19 atau sebesar 57,58% siswa memperoleh nilai ≥ 75.
Melihat hasil tersebut tindakan siklus I belum dikatakan berhasil karena belum memenuhi kriteria keberhasilan tindakan yang telah ditentukan yaitu sebesar 75% dari jumlah siswa yang mencapai nilai ≥ 75.
Pada siklus II hasi tes siswa mengalami peningkatan dibandingkan dengan siklus sebelumnya. Hasil tes siswa sebelum siklus II sebanyak 12 siswa atau 36,37% pada nilai kurang dari 75 dan 21 siswa atau sebesar 63,63% siswa memperoleh niliai ≥ 75. Sedangkan setelah  adanya tindakan siklus II hasil tes siswa sebanyak 18,18% pada nilai kurang dari 75 dan siswa 27 atau sebesar 81,82% siswa yang telah memperoleh nilai ≥ 75. Persentase siswa yang mendapat nilai ≥ 75 sebelum tindakan Persentase siswa yang mendapat nilai ≥ 75 setelah adanya tindakan Kriteria Keberhasilan Tindakan
SIMPULAN
Dari hasil penelitian dan pembahasan yang telah diuraikan maka diperoleh kesimpulan sebagai berikut:
1)   Upaya yang dilakukan untuk meningkatkan motivasi dan hasil belajar menggunakan model pembelajaran quantum learning dengan metode simulasi pada mata pelajaran IPS di kelas VIII D SMPN 1 Jiwan  dapat dilakukan dengan menambahkan media powerpoint, artikel berupa kasus ketenagakerjaan, video tentang pengangguran, dan perlengkapan simulasi berupa tulisan yang dapat menunjukkan peran masing-masing siswa dalam kegiatan pembelajaran. Pembelajaran quantum learning yang disertai dengan media powerpoint, artikel, video, dan perlengkapan simulasi dapat meningkatkan motivasi belajar siswa yang berdampak pada peningkatan hasil belajar IPS.
2)   Penggunaan model pembelajaran quantum learning dengan metode simulasi dapat meningkatkan motivasi dan hasil belajar IPS siswa kelas VIII D SMPN 1 Jiwan . Hal ini ditunjukkan dengan peningkatan setiap indikator motivasi belajar dalam pembelajaran IPS dari hasil observasi, wawancara, dan angket, sedangkan peningkatan hasil belajar IPS siswa kelas VIII D SMPN 1 Jiwan dapat ditunjukkan dari tercapainya kompetensi ketuntasan minimal (KKM).

SARAN
Berdasarkan kesimpulan yang dihasilkan dari penelitian, bahwa implementasi model pembelajaran quantum learning dengan metode simulasi terbukti dapat meningkatkan motivasi dan hasil belajar IPS siswa, guru hendaknya menerapkan model pembelajaran quantum learning dengan metode simulasi dalam pembelajaran IPS sebagai salah satu alternatif untuk meningkatkan motivasi dan hasil belajar siswa pada mata pelajaran IPS. Hal yang perlu diperhatikan sebelum penggunaan model pembelajaran quantum learning dengan metode simulasi yaitu dengan menyiapkan media dan sumber belajar yang relevan dan menarik (seperti powerpoint dan artikel yang sesuai dengan topik yang akan di simulasikan) pembelajaran menggunakan model pembelajaran quantum learning dengan metode simulasi dapat berjalan efektif dan efisien



DAFTAR PUSTAKA
Abdul Gafur. 2012. Desain Pembelajaran: Konsep, Model, dan Aplikasinya Dalam Perencanaan Pelaksanaan Pembelajaran.Yogyakarta: Ombak.
Anas Sudjono. 2005. Pengantar Evaluasi Pendidikan. Jakarta : Paja Grafindo Persada.
Asep Jihad & Abdul Haris. 2008. Evaluasi Pembelajaran. Yogyakarta: Multi Persindo.
Dani Irawan. 2014. Pendidikan Nasional Antara Harapan dan Kenyataan. http://www.metrosiantar.com/pendikan-nasional-antara-harapan-dankenyataan. Diakses 13 Agustus 2014.
DePorter, Bobbi & Hernachi, Mike. 2010. Quantum Learning. Bandung: PT Mizan Pustaka.
DePorter, Bobbi, Reardon, Mark & Singer-Nourie, Sarah. 2009. Quantum Teaching Memperkenalkan Quantum Learning di Ruang-Ruang Kelas. Bandung: PT Mizan Pustaka.
Dimyati, & Mudjiono. 2009. Belajar dan Pembelajaran. Jakarta: PT Rineka Cipta.
Dwi Febriani. 2011. Implementasi Metode Simulasi dalam Meningkatkan Keaktifan dan Hasil Belajar Siswa pada Mata Pelajaran Ekonomi di SMA N 1 Kalasan. Skripsi. Yogyakarta: UNY.
Dwi Siswoyo, dkk. 2008. Ilmu Pendidikan. Yogyakarta: UNY Press
Eko Putro Widoyoko. 2012. Teknik Penyusunan Instrumen Penelitian. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.
Endang Mulyatiningsih. 2011. Riset Terapan Bidang Pendidikan dan Teknik.
Yogyakarta: UNY Press.
Hamzah B. Uno. 2011. Model Pembelajaran (menciptakan Proses Belajar Megajar yang Kreatif dan Efektif). Jakarta: Bumi Aksara.
Joyce, Bruce, Chalhoun, Emily, & Marsha Weil. 2009. Models of Teaching Model-Model Pengajaran. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.
Lexy J. Moleong. 2004. Metodologi penelitian Kualitatif. Bandung: PT Remaja Rosdakarya.
Muhammad Numan Somantri. 2001. Menggagas Pembaharuan Pendidikan IPS. Bandung: PT Remaja Rosdakarya.
Nana Sudjana. 2006. Penilaian Hasil Proses Belajar Megajar. Bandung: PT Remaja Rosdakarya.
Ngalim Purwanto. 2002. Prinsip-Prinsip dan Teknik Evaluasi Pengajaran. Bandung: PT Remaja Rosdakarya.
----------------. 2007. Psikologi Pendidikan. Bandung: PT Remaja Rosdakarya.
Oemar Hamalik. (2009). Kurikulum dan Pembelajaran. Jakarta: BumiAksara.
Pratami Nur Wijayanti. 2011. Penerapan Metode Quantum Learning untuk Meningkatkan Partisipasi, Motivasi, dan Prestasi Belajar Siswa dalam Mata Pelajaran Ekonomi di SMA N 1 Ngaglik. Skripsi. Yogyakarta: UNY.
Purwanto. 2009. Evaluasi Hasil Belajar. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.
Sapriya. 2011. Pendidikan IPS Konsep dan Pembelajaran. Bandung: PT Remaja Rosdakarya.
Sardiman. 2010. Interaksi dan Motivasi Belajar Megajar. Jakarta: PT RajaGrafindo Persada.
Sugihartono, dkk. 2007. Psikologi Pendidikan. Yogyakarta: UNY Press.
Sugiyanto. 2010. Model-Model Pembelajaran Inovatif. Surakarta: Yuma Persindo
Sugiyono. 2010. Metode Penelitian Pendidikan; Pendekatan Kuantitatif, Kualitatif, dan R&D. Bandung: Alfabeta.
Suharsimi Arikunto, Suhardjono, & Supardi. 2009. Penelitian Tindakan Kelas. Jakarta: PT Bumi Aksara.
Supardi. 2011. Dasar-Dasar Ilmu Sosial. Yogyakarta: Ombak
Suyatno. 2009. Menjelajah Pembelajaran Inovatif. Sidoarjo: Masmeda Buana Pustaka.
Wina Sanjaya. 2010. Strategi Pembelajaran Berorientasi Standar Proses Pendidikan. Jakarta: Media Group.
Zaenal Aqib, dkk. 2009. Penelitian Tindakan Kelas. Bandung: Yrama widya.


                                                                      

Tidak ada komentar:

Posting Komentar