PENINGKATAN MOTIVASI DAN HASIL
BELAJAR IPS
MELALUI MODEL QUANTUM LEARNING DENGAN
METODE SIMULASI
PADA POKOK BAHASAN ANGKATAN KERJA DAN
TENAGA KERJA
SISWA KELAS VIII SMPN 1 JIWAN
KABUPATEN MADIUN TAPEL 2014 /2015
![]() |
Oleh : Ella Nurlistiani, S.Pd,
Guru SMPN 1 Jiwan Kabupaten Madiun
|
ABSTRAK
Kata kunci: Quantum learning,
metode simulasi, motivasi dan hasil belajar.
Permasalahan yang melatarbelakangi
penelitian ini adalah adanya permasalahan pembelajaran IPS di kelas VIII D SMPN
1 Jiwan yaitu rendahnya motivasi dan
hasil belajar IPS. Penelitian ini bertujuan untuk: (1) Mengetahui bagaimana
upaya meningkatkan motivasi dan hasil belajar IPS siswa dengan menerapkan model
pembelajaran quantum learning dengan
metode simulasi di kelas VIII D SMPN 1 Jiwan Kabupaten Madiun; dan (2)
Mengetahui peningkatan motivasi dan hasil belajar IPS siswa dengan menggunakan
model quantum learning. Jenis
penelitian ini merupakan penelitian tindakan kelas. Subjek penelitian adalah
siswa kelas VIII D SMPN 1 Jiwan Kabupaten Madiun Tahun Ajaran 2014/2015.
Penelitian ini berlangsung dalam 2 siklus. Dalam satu siklus terdapat dua kali
pertemuan. Teknik pengumpulan data terdiri dari observasi, wawancara, angket
dan tes. Jenis data yang dikumpulkan adalah data kualitatif. Teknik analisis
data yang digunakan adalah teknik analisis data kualitatif model Miles
danHuberman mencakup reduksi data, penyajian data dan penarikan kesimpulan. Keabsahan data diketahui melalui
triangulasi metode. Kriteria keberhasilan dalam penelitian ini ditentukan
apabila rata-rata persentase indikator motivasi dan hasil belajar siswa terhadap
mata pelajaran IPS mencapai 75%.
Hasil penelitian menunjukkan
bahwa:(1) Upaya yang dilakukan untuk meningkatkan motivasi dan hasil belajar
menggunakan model pembelajaran quantum
learning dengan metode simulasi pada mata pelajaran IPS di kelas VIII D
SMPN 1 Jiwan Kabupaten Madiun dapat dilakukan dengan menambahkan media powerpoint, artikel berupa kasus
ketenagakerjaan, video tentang pengangguran, dan perlengkapan simulasi berupa
tulisan yang dapat menunjukkan peran masing masing siswa dalam kegiatan
pembelajaran; dan (2) Berdasarkan hasil yang diperoleh dari observasi,
wawancara dan angket, menunjukkan peningkatan motivasi belajar siswa dalam
pembelajaran IPS yang berdampak pada peningkatan hasil belajar IPS. Data hasil
belajar IPS diperoleh dari hasil tes sebelum dan sesudah tindakan. Perolehan
hasil pada siklus I masih rendah, tindakan dilanjutkan siklus II. Pada siklus
II ini, hasil motivasi dan hasil belajar IPS siswa mengalami peningkatan.
Peningkatan dari siklus I ke siklus II sudah memenuhi criteria keberhasilan
tindakan yakni ≥ 75%, sehingga penelitian ini dikatakan berhasil.
PENDAHULUAN
Pendidikan merupakan kunci masa depan
bangsa, dan pada dasarnya merupakan salah satu aspek yang penting dalam
membangun manusia sebagai manusia yang cerdas serta mampu bersaing di masa
mendatang. Pendidikan yang mampu mendukung pembangunan dimasa mendatang ialah
pendidikan yang mampu mengembangkan potensi siswa, sehingga siswa mampu
menghadapi dan memecahkan permasalahan kehidupan, hal tersebut akan semakin
penting ketika seseorang memasuki kehidupan di masyarakat dan dunia kerja,
karena mereka harus mampu menerapkan apa yang dipelajari di sekolah untuk
menghadapi permasalahan yang terjadi dalam kehidupan sehari-hari.
Pendidikan merupakan kunci masa depan
bangsa, menyebabkan sistem pendidikan harus selalu diperbaiki sesuai dengan
kebutuhan. Negara Indonesia merupakan negara yang selalu memperbaiki sistem
pendidikan. Namun perbaikan sistem pendidikan yang dilakukan di negara
Indonesia belum menghasilkan pendidikan yang baik, hal ini dapat dilihat dari
rendahnya kualitas sumber daya manusia di Indonesia dan salah satu penyebabnya
yaitu permasalahan pembelajaran. Hal ini dapat dibuktikan dengan hasil survei Political
and Economic Risk Consultancy (PERC) yang berpusat di Hongkong pada tahun
2001 menyebutkan bahwa sistem pendidikan di Indonesia terburuk di kawasan Asia,
yaitu dari 12 negara yang disurvei, Indonesia menduduki urutan ke-12, setingkat
di bawah Vietnam. Dari (http://www.metrosiantar.com/pendikan-nasional-antara-harapan-dan-kenyataan ).
Pembelajaran
merupakan suatu hal yang menentukan baik buruknya pendidikan. Pembelajaran yang
baik maka akan mencetak generasi bangsa yang dapat bersaing dan dapat
memecahkan permasalahan kehidupan maupun permasalahan yang dihadapi suatu
bangsa. Namun pada kenyataanya untuk menciptakan pembelajaran yang baik masih
ditemukan permasalahan. Salah satunya ialah permasalahan yang disebabkan oleh
siswa.
Permasalahan
yang disebabkan oleh siswa juga terjadi pada pembelajaran IPS di SMPN 1 Jiwan.
Diantaranya motivasi belajar siswa yang rendah hal ini dapat dilihat dari masih
banyaknya siswa yang ramai sendiri ketika guru sedang menjelaskan materi di
depan kelas, dan juga siswa tidak serius mengerjakan tugas yang diberikan oleh
guru.
Siswa yang
cenderung pasif juga masih terlihat dalam pembelajaran IPS di SMPN 1 Jiwan sehingga pembelajaran IPS terlihat hanya
terpusat pada guru, dengan pembelajaran yang demikian maka proses interaksi
(komunikasi) guru dengan siswa tidak akan berjalan dengan baik. Kondisi yang
seperti itu tidak dapat membuat iklim pembelajaran menjadi dinamis, tetapi
dapat menghambat proses pembelajaran.
Siswa kelas
VIII SMPN 1 Jiwan juga mengakui bahwa pembelajaran IPS sulit untuk dipahami
sehingga megakibatkan siswa tidak menyukai pembelajaran IPS. Rendahnya motivasi
siswa dalam mempelajari mata pelajaran IPS berdampak juga pada ketidak
tercapainya Kompetensi Ketuntasan Minimal (KKM). Motivasi belajar yang rendah
juga berdampak pada kesulitan siswa dalam memahami materi yang disampaikan oleh
guru, sehingga siswa tidak dapat mencapai tujuan pembelajaran IPS dengan baik.
Belum tercapainya KKM pada mata pelajaran IPS kelas VIII dapat dibuktikan
dengan data yang diperoleh saat observasi,
Perlu diketahui bahwa nilai rata-rata
IPS siswa kelas VIII masih banyak yang belum mencapai KKM. Nilai KKM IPS di
SMPN 1 Jiwan kelas VIII ialah 75, hasil
belajar yang belum mencapai KKM tertinggi berada di kelas VIII D, hal ini
menunjukkan bahwa hasil belajar kelas VIII D lebih rendah dibandingkan dengan
kelas lain. Oleh karena itu hasil belajar kelas VIII D harus ditingkatkan agar
nilainya mencapai KKM, sehingga khusus untuk kelas VIII D perlu dilakukan suatu
tindakan.Salah satu upaya yang dapat dilakukan oleh guru yaitu dengan menggunakan
model pembelajaran yang bervariasi.
Banyak model pembelajaran yang bisa
digunakan oleh guru untuk menyampaikan materi IPS agar lebih menarik
perhatian siswa, salah satunya mengunakan model pembelajaran quantum
learning. Salah satu manfaat model quantum
learning dengan metode simulasi ialah meningkatkan motivasi belajar.
Motivasi belajar yang tinggi pada akhirnya akan mempengaruhi peningkatan hasil
belajar siswa, sebaliknya jika motivasi siswa kurang maka hasil belajar siswa
tidak akan mencapai KKM.
Berdasarkan
uraian diatas, maka peneliti merasa perlu diadakan penelitian tindakan kelas
dengan judul “ Peningkatan Motivasi dan Hasil Belajar IPS melalui Model Quantum
Learning dengan Metode Simulasi pada Pokok Bahasan Angkatan Kerja dan
Tenaga Kerja Siswa Kelas VIII SMPN 1 Jiwan”.
RUMUSAN MASALAH
1.
Bagaimana upaya meningkatkan motivasi dan hasil
belajar IPS di kelas VIII SMPN 1 Jiwan Kabupaten Madiun melalui penerapan model
pembelajaran quantum learning dengan metode simulasi?
2.
Bagaimana peningkatan motivasi dan hasil belajar IPS
di kelas VIII SMPN 1 Jiwan Kabupaten Madiun
melalui penerapan model pembelajaran quantum learning dengan
metode simulasi?
TUJUAN
PENELITIAN
1.
Untuk mengetahui upaya peningkatan motivasi dan hasil
belajar IPS siswa kelas VIII dalam pokok bahasan angkatan kerja dan tenaga
kerja melalui penarapan model quantum learning dengan metode simulasi di
SMPN 1 Jiwan Kabupaten Madiun
2.
Untuk mengetahui besarnya peningkatan motivasi dan
hasil belajar IPS siswa kelas VIII dalam pokok bahasan angkatan kerja dan
tenaga kerja melalui penerapan model quantum learning dengan metode
simulasi di SMPN 1 Jiwan Kabupaten Madiun
MANFAAT
PENELITIAN
1.
Manfaat
Teoretis
a) Hasil
penelitian ini dapat bermanfaat untuk memberikan informasi mengenai model
pembelajaran quantum learning dengan metode simulasi dalam meningkatkan
motivasi dan hasil belajar siswa pada mata pelajaran IPS.
b) Hasil
penelitian ini dapat dijadikan bahan pertimbangan bagi peneliti-peneliti lain
yang terkait dengan model pembelajaran quantum learning melalui metode
simulasi guna meningkatkan motivasi dan hasil belajar siswa pada mata pelajaran
IPS.
2.
Manfaat
Praktis
a) Bagi Sekolah
Hasil penelitian ini dapat memberikan informasi
dan masukan yang positif bagi pengembangan sekolah, utamanya untuk peningkatan
kualitas proses pembelajaran di sekolah.
b) Bagi Guru
Memberikan informasi tambah bagi guru sebagai
pengajar dalam usahanya melaksanakan proses belajar mengajar.
c) Bagi Siswa
Hasil penelitian tindakan kelas ini diharapkan
dapat meningkatkan motivasi dan hasil belajar siswa terhadap pembelajaran IPS.
HIPOTESA TINDAKAN
Berdasarkan kerangka pikir, maka
hipotesis tindakan yang dapat diajukan adalah sebagai berikut: Penerapan model quantum
learning dengan metode simulasi dapat meningkatkan motivasi dan hasil
belajar IPS siswa kelas VIII SMPN 1 Jiwan Kabupaten Madiun
KAJIAN PUSTAKA
Mata Pelajaran IPS
Mata pelajaran IPS merupakanakan mata
pelajaran terpadu karena IPS merupakanakan integrasi dari berbagai cabang
ilmu-ilmu sosial, seperti sosiologi, sejarah, geografi, dan ekonomi.
Pengembangan pembelajaran terpadu, dalam hal ini, dapat mengambil suatu topik
dari suatu cabang ilmu tertentu, kemudian dilengkapi, dibahas, diperluas, dan
diperdalam dengan cabang-cabang ilmu yang lain. Topik atau tema dapat
dikembangkan dari isu, peristiwa, dan permasalahan yang berkembang di
masyarakat.
Mata pelajaran IPS merupakan mata
pelajaran yang diberikan mulai dari SD/MI/SDLB sampai SMP/MTs/SMPLB. Sapriya
(2011: 19) menjelaskan bahwa istilah Ilmu Pengetahuan Sosial (IPS) merupakan
nama mata pelajaran di tingkat sekolah dasar dan menengah atau nama program
studi di perguruan tinggi yang identik dengan istilah “social studies”
dalam kurikulum persekolahan di negara lain, khususnya di Australia dan Amerika
Serikat, sedangkan menurut Muhammad Numan Somantri (2004: 44) pendidikan IPS di
sekolah merupakan suatu penyederhanaan disiplin ilmu-ilmu sosial, piskologi,
filsafat, ideologi negara dan agama yang diorganisasikan dan disajikan secara
ilmiah dan piskologis untuk tujuan pendidikan. Adanya mata pelajaran IPS di
semua jenjang pendidikan menandai bahwa IPS sangat penting untuk dipelajari.
Mata pelajaran IPS merupakan mata pelajaran yang dirancang untuk mengembangkan
pengetahuan, pemahaman, dan kemampuan analisis terhadap kondisi sosial
masyarakat yang dinamis sehingga dengan mempelajari IPS siswa menjadi tahu
tentang kondisi sosial dan dapat menghadapi tantangan berat dalam kehidupan
masyarakat yang selalu mengalami perubahan.
Berdasrkan
pendapat para ahli mengenai pengertian mata pelajaran IPS tersebut, maka dapat
disimpulkan bahwa mata pelajaran IPS adalah mata pelajaran perpaduan antara
ilmu-ilmu sosial diantaranya sosiologi, geografi, sejarah, dan ekonomi. Adanya
keterpaduan mata pelajaran IPS maka dapat meningkatkan keterampilan siswa untuk
memecahkan masalah pribadi atau masalah sosial serta kemampuan mengambil keputusan
dan berpartisipasi dalam berbagai kegiatan kemasyarakatan.
Motivasi Belajar IPS
Banyak orang menyebut kata “motif”
untuk menunjuk mengapa seseorang berbuat sesuatu, misalnya apa motif seseorang
melakukan kecurangan saat ujian, apa motif siswa untuk belajar, dan lain
sebaginya. Menurut Sardiman (2010: 102), motivasi belajar adalah keseluruhan
daya penggerak di dalam diri siswa yang menimbulkan, menjamin kelangsungan, dan
memberikan arah kegiatan belajar, sehingga diharapkan tujuan belajar dapat
tercapai, sedangkan menurut Dimyati dan Mudjiono (2009: 80), motivasi belajar
adalah kekuatan mental berupa keinginan, perhatian, kemauan, atau cita-cita.
Motivasi dapat juga diartikan sebagai dorongan mental untuk mempengaruhi
seseorang agar melakukan pekerjaan yang diinginkan sesuai dengan tujuan yang
sudah ditetapkan sebelumnya.
Setiap siswa memiliki motivasi
belajar yang berbeda-beda. Ada siswa yang memiliki motivasi yang tinggi dan ada
juga yang memiliki motivasi yang rendah. Menurut Sardiman (2010:83), untuk mengetahui
kekuatan motivasi belajarsiswa, dapat dilihat dari beberapa ciri sebagai
berikut:
1) Tekun menghadapi tugas; 2)Ulet menghadapi kesulitan (tidak lekas putus
asa); 3) Menunjukan minat terhadap bermacam-macam
masalah; 4)Lebih senang bekerja mandiri; 5) Cepat bosan pada tugas–tugas rutin;
6) Dapat mempertahankan pendapatnya; 7) Tidak mudah melepas hal yang diyakini
itu; 8) Senang mencari dan memecahkan masalah soal-soal.
Ciri-ciri
motivasi tersebut dapat digunakan untuk mengetahui motivasi belajar siswa
selama proses pembelajaran di kelas. Guru dapat mengetahui bagaimana tingkat
motivasi belajar IPS siswa selama di kelas dengan melihat ciri-ciri tersebut.
Berdasarkan
pendapat tersebut dapat disimpulkan bahwa motivasi belajar merupakanakan daya
penggerak yang ada di dalam diri siswa. Daya pengerak ini dapat meningkatkan
kegiatan belajar siswa sehingga, tujuan dari motif siswa untuk belajar dapat
tercapai. Sedangkan motivasi belajar IPS merupakan daya penggerak dari dalam
diri siswa untuk mempelajari materi-materi IPS sehingga tujuan dari belajar IPS
dapat tercapai.
Adapun untuk
megukur motivasi belajar IPS dapat dilihat dari ciri-ciri motiviasi belajar
yang meliputi tekun menghadapi tugas, ulet menghadapi kesulitan (tidak lekas
putus asa), menunjukkan minat terhadap bermacam-macam masalah termasuk
permasalahan-permasalahan yang terdapat pada materi pembelajaran, lebih senang
bekerja mandiri, cepat bosan pada tugas-tugas rutin, dapat mempertahankan
pendapatnya, tidak mudah melepas hal yang diyakini, dan senang mencari dan
memecahkan masalah soal-soal.
Model Pembelajaran Quantum Learning
Banyak model pembelajaran yang dapat
digunakan guru untuk menyampaikan pembelajaran agar siswa dapat mudah memahami
materi yang disampaikan salah satunya ialah model pembelajaran quantum
learning. Kata quantum memiliki arti sebagai interaksi yang mengubah
energi menjadi cahaya (DePorter, 2009: 5).
Sugiyono (2010: 71-72), berpendapat
bahwa model quantum learning merupakanakan suatu ramuan atau rakitan
dari berbagai teori atau pandangan pisikologi kognitif dan pemrograman neurologi
atau neurolinguistik yang jauh sebelumnya sudah ada. Menurut Suyatno
(2009: 41) model quantum learning adalah pengubahan bermacam-macam
interaksi yang ada di dalam dan di sekitar momen belajar dengan menyingkirkan
hambatan yang menghalangi proses belajar alamiah dengan secara sengaja
menggunakan musik, mewarnai lingkungan sekeliling, menyusun bahan pengajaran
yang sesuai, cara efektif pembelajaran, dan keterlibatan aktif siswa dan guru,
sedangkan menurut DePorter & Mike Hernacki (2010: 14), model pembelajaran quantum
learning adalah perubahan pembelajaran yang meriah, dengan segala
nuansanya, dan menciptakan lingkungan belajar yang efektif.
Berdasarkan
pengertian tersebut dapat disimpulkan bahwa model pembelajaran quantum
learning adalah pengubahan bermacam-macam interaksi yang terdapat dalam
proses belajar dengan cara meghilangkan hambatan-hambatan yang dapat
menghalangi proses belajar. Hambatan-hambatan tersebut dapat dihilangkan dengan
cara mendengarkan musik, menyusun bahan pengajaran yang sesuai, cara efektif
pembelajaran, dan keterlibatan aktif siswa dan guru.
METODE PENELITIAN
Penelitian ini merupakan penelitian
tindakan kelas atau sering disebut classroom action research. Menurut
Suharsimi Arikunto (2009: 2), penelitian tindakan kelas merupakan suatu
kegiatan mencermati suatu objek dengan mengunakan cara dan aturan metodelogi
tertentu untuk memperoleh data atau informasi yang bermanfaat dalam
meningkatkan mutu suatu hal yang menarik minat dan penting bagi peneliti. Penelitian tindakan kelas mempunyai tujuan
yaitu untuk memperbaiki dan menigkatkan pembelajaran di kelas.
Adanya tujuan tersebut maka
penelitian ini dilaksanakan sebagai setrategi pemecahan masalah untuk
meningkatkan motivasi dan hasil belajar pada siswa kelas VIII SMPN 1 Jiwan
Kabupaten Madiun Salah satu strategi untuk memecahkan permasalahan yang dapat
digunakan ialah model pembelajaran quantum learning dengan metode
simulasi.
Penelitian tindakan kelas ini
merupakan penelitian kolaborasi. Pihak yang melakukan tindakan ialah guru,
sedangkan yang melakukan pengamatan terhadap semua kegiatan tindakan adalah
peneliti. Desain penelitian yang digunakan adalah model Kemmis dan Taggart yang
membagi menjadi empat tahapan pada satu putaran (siklus) yaitu: perencanaan (planning),
tindakan (action), observasi (observing), refleksi (reflecting).
Rancangan tindakan penelitian ini
meliputi empat tahapan yang dilalui, yaitu perencanaan, pelaksanaan,
pengamatan, dan refleksi. Tahapan-tahapan ini dilakukan pada setiap siklus.
Tahapan-tahapan yang dilakukan peneliti antara lain:
SIKLUS I
a. Perencanaan
Pada perencanaan ini, dilakukan pengamatan
pembelajaran IPS di kelas VIII D SMPN 1 Jiwan Kabupaten. Berdasarkan pengamatan dan diskusi dengan guru kelas
VIII D minat belajar siswa dalam belajar IPS masih kurang sehingga berdampak
pada rendahnya motivasi siswa begitu juga dengan hasil belajar siswa yang
kurang dari KKM. Dari permasalahan tersebut peneliti membuat perencanaan
sebagai berikut:
1) Pembuatan
Rencana Pelaksanaan Pengajaran (RPP)
2) Mempersiapkan
bahan-bahan pembelajaran yang dipergunakan saat proses pembelajaran
berlangsung.
a)
Menyusun dan mempersiapkan lembar kerja siswa
Dalam penelitian ini lembar
kerja siswa berupa soal tes mengenai materi yang dipelajari siswa.
b)
Menyusun lembar observasi
Lembar observasi dalam
penelitian ini meliputi lembar observasi kegiatan guru dalam menjelaskan materi
IPS melalui model pembelajaran quantum learning dengan metode simulasi
dan lembar observasi motivasi siswa. Peneliti juga mempersiapkan catatan
lapangan untuk mendeskripsikan aktivitas didalam kelas selama pembelajaran
berlangsung.
c)
Menyusun pedoman wawancara dan angket
Pedoman wawancara terdiri
dari pedoman wawancara yang ditunjukan kepada siswa dan kepada guru untuk
mengetahui tanggapan terhadap pembelajaran yang dilakukan meggunakan model quantum
learning dengan metode simulasi, sedangkan untuk angket atau kuesioner
digunakan untuk mengetahui tingkat motivasi belajar siswa terhadap mata
pelajaran IPS.
b. Tindakan
dan Observasi
Observasi dilakuakan
bersamaan dengan pelaksanaan tindakan, dalam observasi dilakukan pengamatan
selama pembelajaran berlangsung untuk mengetahui dampak yang ditimbulkan pada
saat dan setelah diberikan perlakuan dengan model quantum learning dengan
metode simulasi. Pengamatan dapat dilakukan dengan menggunakan lembar observasi,
pedoman wawancara, lembar angket, dan butir tes.
c. Refleksi
Refleksi merupakan kegiatan
mengulas secara kritis tentang perubahan yang terjadi pada siswa, suasana
kelas, dan guru. Refleksi dilakukan oleh peneliti dan guru untuk menilai
tingkat keberhasilan dalam meningkatkan motivasi belajar dan hasil belajar IPS
mengunakan model pembelajaran quantum learning dengan metode simulasi.
Peneliti dan guru berdiskusi untuk memahami proses, kendala dan masalah yang
ditemui dalam implementasi tindakan. Kekurangan dan kendala selama penelitian
didiskusikan dan dicari solusinya sebagai pijakan bagi siklus selanjutnya.
SIKLUS II
Kegiatan
yang dilakukan pada siklus kedua ditunjukan sebagai perbaikan dari siklus yang
pertama. Siklus kedua juga melalui beberapa tahapan perencanaan dari hasil
refleksi siklus pertama. Jika sudah ada peningkatan sesuai dengan indikator
keberhasilan, siklus selanjutnya ialah dalam rangka pemantapan siklus satu.
Namun jika tidak ada peningkatan maka perlu pengulangan siklus dengan
perbaikan-perbaikan pada siklus sebelumnya. Siklus ini dihentikan jika sudah
tercapainya tujuan penelitian. Tujuan dari penelitian ini yaitu meningkatkan
motivasi dan hasil belajar siswa.
Kriteria Keberhasilan Tindakan
Penelitian tindakan kelas ini
dikatakan berhasil apabila penerapan model quantum learning dengan
metode simulasi pada pembelajaran IPS mampu meningkatkan motivasi dan hasil
belajar siswa kelas VIII di SMPN 1 Jiwan
dengan persentase sebesar minimal 75%. Apabila peningkatan motivasi
belajar siswa dan hasil belajar siswa kurang dari 75% maka penelitian ini belum
bisa dikatakan berhasil. Peningkatan motivasi belajar peserta
didik dapat dilihat dari hasil angket, observasi dan wawancara motivasi,
sedangkan peningkatan hasil belajar siswa dapat dilihat dari nilai tes sebelum
dan sesudah tindakan.
HASIL PENELITIAN
1)
Kegiatan Pra Tindakan
Berdasarkan observasi pra tindakan,
motivasai dan hasil belajar siswa kelas VIII D dalam pembelajaran IPS masih
rendah, diketahui bahwa rata-rata persentase motivasi belajar IPS siswa kelas
VIII D SMPN I Jiwan terhadap mata pelajaran IPS sebelum adanya tindakan sebesar
59,43%. Hal ini menunjukkan motivasi belajar IPS di kelas VIII D masih rendah.
Diketahui bahwa jumlah siswa yang telah mencapai KKM adalah 10 siswa (38,43%).
Dari jumlah siswa yang telah mencapai KKM tersebut maka dapat disimpulkan bahwa
hasil belajar IPS kelas VIII D masih rendah.
Mengingat permasalahan yang dihadapi,
maka perlu adanya upaya untuk meningkatkan motivasi dan hasil belajar IPS.
untuk itu diperlukan model pembelajaran yang tepat untuk megatasi permasalahan
tersebut. Salah satu model pembelajaran yang dapat diterapkan untuk
meningkatkan motivasi dan hasil belajar IPS siswa yaitu model pembelajaran quantum
learning dengan metode simulasi. Metode simulasi merupakan salah satu
metode yang mana memberikan tugas kepada siswa untuk memerankan perilaku tokoh
masyarakat, pahlawan, dan pejabat dalam suatu situasi atau kejadian yang
senyatanya. Dalam pembelajaran menggunakan metode simulasi ini siswa dituntut
untuk berperan serta dalam melakukan segala kegitan simulasi.
Berdasarkan penjelasan yang
disampaikan peneliti kepada guru mengenai model pembelajaran quantum
learning dengan metode simulasi, guru memberi tangapan baik mengenai model
pembelajaran quantum learning dengan metode simulasi.
Selanjutnya guru setuju untuk mencoba menerapkan model pembelajaran quantum
learning dengan metode simulasi pada pembelajaran IPS di kelas VIII D.
2) Pembahasan SIKLUS I
Pelaksanaan pembelajaran mengunakan
model quantum learning dengan metode simulasi terbukti dapat
meningkatkan motivasi dan hasil belajar siswa. setelah pelaksanaan siklus I dan
siklus II diketahui bahwa terjadi peningkatan motivasi belajar dan hasil
belajar siswa. Berikut ini akan dijelaskan peningkatan motivasi belajar dan
hasil belajar siswa siklus I dan siklus II.
Pada pelaksanaan penelitian ini
dikatakan berhasil apabila sudah mencapai kriteria keberhasilan tindakan yang
sudah direncanakan yaitu 75%. Berikut ini merupakan data hasil rata-rata
observasi pada siklus I dan II yang terdiri dari 8 indikator yang diamati dalam
motivasi belajar IPS yang sudah ditabulasikan dari 2 observer.
Pada sikus I
Hasil observasi terhadap
guru menunjukan bahwa pada pelaksanaan siklus I sudah sepenuhnya berjalan
seperti yang direncanakan. Pengamatan
terhadap siswa dilakukan dari awal sampai dengan akhir pembelajaran. Dalam
mengikuti pembelajaran IPS siswa sudah tekun dalam mengerjakan tugas yang
diberikan, tetapi dalam pelaksanaan pembelajaran siswa masih kurang serius
mengikuti pelajaran, masih ada sepuluh siswa yang tidak memperhatikan pelajaran
dengan sungguh-sungguh, kondisi dalam kelas sangat pasif karena siswa masih
malas bertanya terhadap apa yang belum dimengerti, dan masaih ada siswa yang
saling bekerja sama dalam mengerjakan tugas yang diberikan.
Pada siklus
I jalannya simulasi juga belum begitu terarah karena siswa masih binggung
terhadap peran masing-masing temannya, dikarenakan kurangnya perlengkapan untuk
menunjang jalanya simulasi seperti tidak adanya tanda pengenal peran
masing-masing siswa. Hal ini disebabkan kurangnya persiapan dalam pelaksanaan
simulasi.
Hasil
pengamatan terhadap motivasi siswa pada siklus I menunjukan belum optimal. data motivasi belajar siswa pada
pembelajaran IPS yang diperoleh dari hasil rata-rata 2 observer yang kemudian
di rata-rata dan ditabulasikan menunjukan hasil yang diperoleh masih belum
sesuai dengan kriteria keberhasilan yang ingin dicapai, minimal 75% pada
masing-masing indikator motivasi belajar IPS.
Pada pelaksanaan tindakan dengan
menerapkan metode simulasi terdapat 8 indikator motivasi belajar IPS yang
ditentukan. Adapun persentase tiap indikator motivasi belajar siswa dalam
pembelajaran IPS siklus I yaitu tekun menghadapi tugas 74,25%, ulet menghadapi
kesulitan 65,91%, menunjukkan minat pada pembelajaran 74,25%, lebih senag
belerja mandiri 72,73%, cepat bosan pada tugas-tugas yang rutin 68,18%, dapat
mempertahankan pendapatnya 77,27%, tidak mudah melepaskan hal yang diyakini
88,63%, dan senag mencari dan memecahkan masalah (soal-soal) 56,82%.
Motivasi yang diperoleh dari hasil
angket di atas menunjukan bahwa pada siklus I hasil motivasi belajar IPS siswa
kelas VIII D belum menunjukan hasil yang optimal. Terlihat pada saat sebelum
adanya tindakan siklus I rata-rata motivasi belajar siswa sebesar 59,76%.
Sedangkan setelah adanya tindakan siklus 1 motivasi belajar siswa mengalami
peningkatan 11,14% dengan rata-rata 70,90%. Walaupun ada peningkatan motivasi
belajar siswa pada pembelajaran IPS yang diajarkan mengunakan model quantum
learning dengan metode simulasi belum bisa dikatakan berhasil karena belum
memenuhi kriteria keberhasilan yang telah ditentukan yaitu 75%.
Sebelum adanya tindakan siklus I hasil
belajar siswa yang belum mencapai nilai 75 adalah 16 siswa atau sebesar 61,53%
dari 26 siswa sedangkan yang telah mencapai nialai 75 sebanyak 10 siswa atau
sebesar 38,47%, hal ini menunjukan bahwa hasil belajar siswa masih rendah.
Setelah ada tindakan siklus I hasil
tes siswa juga belum menunjukan hasil yang optimal. Terlihat dari jumlah siswa
yang belum mencapai nilai 75 adalah 12 atau sebesar 36,37% sedangkan yang telah
mencapai nilai 75 adalah 21 siswa atau sebesar 63,63% orang dari 33 siswa.
Penerapan model quantum learning dengan metode simulasi siklus I
dikatakn belum mencapai kriteri yang ditentukan sebesar 75%.
3) Pembahasan SIKLUS II
Berdasarkan pengamatan motivasi
belajar siswa pada saat pelaksanaan pembelajaran siklus II, siswa terlihat senang mengikuti pelajaran yang
disampaikan megunakan model quantum learning dengan metode simulasi yang
dipadukan dengan media pembelajaran powerpoint. Di dalam media powerpoint juga
dilengkapi dengan video, artikel dan gambar yang berkaitan dengan materi yang
disampaikan.
Siswa juga
mengerjakan tugas dengan serius dengan kemampuan masing-masing dan tertarik
dalam memperhatikan materi yang disampaikan guru. Siswa juga terlihat lebih
tekun dalam mengerjakan tugas yang diberikan, dan lebih terlihat semangat dalam
mengikuti kegiatan pembelajaran. Secara umum perhatian dan keaktifan siswa
sudah lebih baik apabila dibandingkan dengan hasil pengamatan di siklus I. Di
siklus II motivasi belajar siswa juga telah memenuhi target kriteria
keberhasilan.
Hasil
pengamatan terhadap motivasi siswa pada siklus II menunjukan sudah optimal data motivasi belajar siswa pada
pembelajaran IPS yang diperoleh dari hasil rata-rata 2 observer yang kemudian
di rata-rata dan ditabulasikan menunjukan hasil yang diperoleh sudah sesuai
dengan kriteria keberhasilan yang ingin dicapai, minimal 75% pada masing-masing
indikator motivasi belajar IPS
. Pada pelaksanaan tindakan dengan
menerapkan metode simulasi terdapat 8 indikator motivasi belajar IPS yang
ditentukan. Adapun persentase tiap indikator motivasi belajar siswa dalam
pembelajaran IPS siklus II yaitu tekun menghadapi tugas 82,58%, ulet menghadapi
kesulitan 78,03%, menunjukkan minat pada pembelajaran 78,03%, lebih senag
belerja mandiri 79,55%, cepat bosan pada tugas-tugas yang rutin 81,06%, dapat
mempertahankan pendapatnya 79,55%, tidak mudah melepaskan hal yang diyakini
78,79%, dan senag mencari dan memecahkan masalah (soal-soal) 75,76%
Pada siklus II hasil motivasi belajar
IPS siswa sudah menunjukan hasil yang optimal. Terlihat dari hasil
motivasi belajar sebelum adanya tindakan siklus II siswa memiliki rata-rata
79,47% dan mengalami peningkatan sebesar 8,4% dengan rata-rata 87,87%.
Berdasarkan data tersebut penerapan model quantum learning dengan metode
simulasi untuk meningkatkan motivasi belajar IPS pada siklus II dikatakn sudah
berhasil karena sudah mencapai kriteri yang telah ditentukan.
Pada siklus II hasil tes siswa sudah
menunjukan hasil yang optimal. Terlihat dari jumlah siswa yang mencapai nilai ≥
75 sebelum tindakan siklus II sebanyak 21 dari 33 siswa dan siswa yang nilainya
kurang dari 75 adalah 12. Sedankan setelah adanya tindakan jumlah siswa yang
mencapai nilai ≥ 75 adalah 27 dari 33 siswa dan siswa yang belum memenuhi nilai
minimal 75 sebanyak 6 siswa. Penerapan model quantum learning dengan
metode simulasi pada pembelajaran IPS di siklus II dikatakan berhasil apabila
sudah memenuhi target 75% dari siswa kelas VIII D yang memperoleh nilai minimal
75 pada mata pelajaran IPS. Nilai 75 merupakan nilai KKM untuk mata pelajaran
IPS di SMPN 1 Jiwan
HASIL PENELITIAN
Hasil tes belajar siswa digunakan
untuk mengetahui hasil belajar siswa terhadap mata pelajaran IPS. Tes yang
digunakan merupakan tes pilihan ganda yang terdiri dari 20 soal, setip soal
mempunyai skor 1. Tes diberikan setiap sebelum adanya tindakan dan
setelah adanya tindakan sebagai upaya mengetahui peningkatan hasil belajar
siswa dengan menerapkan model quantum learning dengan metode simulasi Hasil tes siswa sebelum siklus I
sebanyak 16 siswa atau 61,53% pada nilai kurang dari 75 dan 10 siswa atau
sebesar 38,47% siswa memperoleh niliai ≥ 75. Sedangkan setelah adanya tindakan
siklus I hasil tes siswa 14 siswa atau sebesar 42,42% pada nilai kurang dari 75
dan siswa 19 atau sebesar 57,58% siswa memperoleh nilai ≥ 75.
Melihat hasil tersebut tindakan
siklus I belum dikatakan berhasil karena belum memenuhi kriteria keberhasilan
tindakan yang telah ditentukan yaitu sebesar 75% dari jumlah siswa yang mencapai
nilai ≥ 75.
Pada siklus II hasi tes siswa
mengalami peningkatan dibandingkan dengan siklus sebelumnya. Hasil tes siswa
sebelum siklus II sebanyak 12 siswa atau 36,37% pada nilai kurang dari 75 dan
21 siswa atau sebesar 63,63% siswa memperoleh niliai ≥ 75. Sedangkan
setelah adanya tindakan siklus II
hasil tes siswa sebanyak 18,18% pada nilai kurang dari 75 dan siswa 27 atau
sebesar 81,82% siswa yang telah memperoleh nilai ≥ 75. Persentase siswa yang
mendapat nilai ≥ 75 sebelum tindakan Persentase siswa yang mendapat nilai ≥ 75
setelah adanya tindakan Kriteria Keberhasilan Tindakan
SIMPULAN
Dari
hasil penelitian dan pembahasan yang telah diuraikan maka diperoleh kesimpulan
sebagai berikut:
1)
Upaya
yang dilakukan untuk meningkatkan motivasi dan hasil belajar menggunakan model
pembelajaran quantum learning dengan metode simulasi pada mata pelajaran
IPS di kelas VIII D SMPN 1 Jiwan dapat
dilakukan dengan menambahkan media powerpoint, artikel berupa kasus
ketenagakerjaan, video tentang pengangguran, dan perlengkapan simulasi berupa
tulisan yang dapat menunjukkan peran masing-masing siswa dalam kegiatan
pembelajaran. Pembelajaran quantum learning yang disertai dengan media powerpoint,
artikel, video, dan perlengkapan simulasi dapat meningkatkan motivasi belajar
siswa yang berdampak pada peningkatan hasil belajar IPS.
2)
Penggunaan
model pembelajaran quantum learning dengan metode simulasi dapat
meningkatkan motivasi dan hasil belajar IPS siswa kelas VIII D SMPN 1 Jiwan .
Hal ini ditunjukkan dengan peningkatan setiap indikator motivasi belajar dalam
pembelajaran IPS dari hasil observasi, wawancara, dan angket, sedangkan
peningkatan hasil belajar IPS siswa kelas VIII D SMPN 1 Jiwan dapat ditunjukkan dari tercapainya
kompetensi ketuntasan minimal (KKM).
SARAN
Berdasarkan
kesimpulan yang dihasilkan dari penelitian, bahwa implementasi model
pembelajaran quantum learning dengan metode simulasi terbukti dapat
meningkatkan motivasi dan hasil belajar IPS siswa, guru hendaknya menerapkan
model pembelajaran quantum learning dengan metode simulasi dalam
pembelajaran IPS sebagai salah satu alternatif untuk meningkatkan motivasi dan
hasil belajar siswa pada mata pelajaran IPS. Hal yang perlu diperhatikan
sebelum penggunaan model pembelajaran quantum learning dengan metode
simulasi yaitu dengan menyiapkan media dan sumber belajar yang relevan dan
menarik (seperti powerpoint dan artikel yang sesuai dengan topik yang
akan di simulasikan) pembelajaran menggunakan model pembelajaran quantum
learning dengan metode simulasi dapat berjalan efektif dan efisien
DAFTAR
PUSTAKA
Abdul
Gafur. 2012. Desain Pembelajaran: Konsep, Model, dan Aplikasinya Dalam
Perencanaan Pelaksanaan Pembelajaran.Yogyakarta: Ombak.
Anas
Sudjono. 2005. Pengantar Evaluasi Pendidikan. Jakarta : Paja Grafindo
Persada.
Asep
Jihad & Abdul Haris. 2008. Evaluasi Pembelajaran. Yogyakarta: Multi
Persindo.
Dani
Irawan. 2014. Pendidikan Nasional Antara Harapan dan Kenyataan. http://www.metrosiantar.com/pendikan-nasional-antara-harapan-dankenyataan.
Diakses 13 Agustus 2014.
DePorter,
Bobbi & Hernachi, Mike. 2010. Quantum Learning. Bandung: PT Mizan
Pustaka.
DePorter,
Bobbi, Reardon, Mark & Singer-Nourie, Sarah. 2009. Quantum Teaching
Memperkenalkan Quantum Learning di Ruang-Ruang Kelas. Bandung: PT Mizan
Pustaka.
Dimyati,
& Mudjiono. 2009. Belajar dan Pembelajaran. Jakarta: PT Rineka
Cipta.
Dwi
Febriani. 2011. Implementasi Metode Simulasi dalam Meningkatkan Keaktifan dan
Hasil Belajar Siswa pada Mata Pelajaran Ekonomi di SMA N 1 Kalasan. Skripsi.
Yogyakarta: UNY.
Dwi Siswoyo,
dkk. 2008. Ilmu Pendidikan. Yogyakarta: UNY Press
Eko
Putro Widoyoko. 2012. Teknik Penyusunan Instrumen Penelitian.
Yogyakarta: Pustaka Pelajar.
Endang
Mulyatiningsih. 2011. Riset Terapan Bidang Pendidikan dan Teknik.
Yogyakarta:
UNY Press.
Hamzah
B. Uno. 2011. Model Pembelajaran (menciptakan Proses Belajar Megajar yang
Kreatif dan Efektif). Jakarta: Bumi Aksara.
Joyce,
Bruce, Chalhoun, Emily, & Marsha Weil. 2009. Models of Teaching
Model-Model Pengajaran. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.
Lexy J.
Moleong. 2004. Metodologi penelitian Kualitatif. Bandung: PT Remaja
Rosdakarya.
Muhammad
Numan Somantri. 2001. Menggagas Pembaharuan Pendidikan IPS. Bandung: PT
Remaja Rosdakarya.
Nana
Sudjana. 2006. Penilaian Hasil Proses Belajar Megajar. Bandung: PT Remaja
Rosdakarya.
Ngalim
Purwanto. 2002. Prinsip-Prinsip dan Teknik Evaluasi Pengajaran. Bandung:
PT Remaja Rosdakarya.
----------------.
2007. Psikologi Pendidikan. Bandung: PT Remaja Rosdakarya.
Oemar
Hamalik. (2009). Kurikulum dan Pembelajaran. Jakarta: BumiAksara.
Pratami
Nur Wijayanti. 2011. Penerapan Metode Quantum Learning untuk
Meningkatkan Partisipasi, Motivasi, dan Prestasi Belajar Siswa dalam Mata
Pelajaran Ekonomi di SMA N 1 Ngaglik. Skripsi. Yogyakarta: UNY.
Purwanto.
2009. Evaluasi Hasil Belajar. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.
Sapriya.
2011. Pendidikan IPS Konsep dan Pembelajaran. Bandung: PT Remaja
Rosdakarya.
Sardiman.
2010. Interaksi dan Motivasi Belajar Megajar. Jakarta: PT RajaGrafindo
Persada.
Sugihartono,
dkk. 2007. Psikologi Pendidikan. Yogyakarta: UNY Press.
Sugiyanto.
2010. Model-Model Pembelajaran Inovatif. Surakarta: Yuma Persindo
Sugiyono.
2010. Metode Penelitian Pendidikan; Pendekatan Kuantitatif, Kualitatif, dan
R&D. Bandung: Alfabeta.
Suharsimi
Arikunto, Suhardjono, & Supardi. 2009. Penelitian Tindakan Kelas.
Jakarta: PT Bumi Aksara.
Supardi.
2011. Dasar-Dasar Ilmu Sosial. Yogyakarta: Ombak
Suyatno.
2009. Menjelajah Pembelajaran Inovatif. Sidoarjo: Masmeda Buana Pustaka.
Wina
Sanjaya. 2010. Strategi Pembelajaran Berorientasi Standar Proses Pendidikan.
Jakarta: Media Group.
Zaenal Aqib, dkk.
2009. Penelitian Tindakan Kelas. Bandung: Yrama widya.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar