Senin, 01 Oktober 2018

PENINGKATAN PRESTASI BELAJAR BAHASA INDONESIA DENGAN METODE CONTEXTUAL TEACHING AND LEARNING PADA SISWA KELAS VIII-H SMPN 1 BALEREJO KABUPATEN MADIUN SEMESTER GANJIL TAHUN PELAJARAN 2015/2016


PENINGKATAN PRESTASI BELAJAR BAHASA INDONESIA
DENGAN METODE CONTEXTUAL TEACHING AND LEARNING
PADA SISWA KELAS VIII-H SMPN 1 BALEREJO KABUPATEN MADIUN SEMESTER GANJIL TAHUN PELAJARAN 2015/2016

Oleh : Hesti Woelandari, S.Pd.
Guru SMPN 1 Balerejo Kabupaten Madiun

ABSTRAK
Kata kunci : Model pembelajaran CTL (Contextual teaching and leraning), Prestasi Belajar Bahasa Indonesia.

Model pembelajaran CTL (Contextual teaching and leraning) adalah model pembelajaran yang dirancang untuk membantu siswa mempelajari pengetahuan prosedural dan deklaratif yang terstruktur dengan baik dan dapat dipelajari selangkah demi selangkah. Pembelajaran kontekstual (Contextual teaching annd learning /CTL) adalah konsep belajar yang membantu guru mengaitkan antara kontekstual materi yang diajarkannya dengan situasi dunia nyata siswa dan mendorong siswa membuat hubungan antara pengetahuan yang dimilikinya dengan penerapan dalam kehidupan sehari-hari. memahami teks drama dan novel remaja merupakan suatu media untuk menyampaikan informasi. Informasi disampaikan secara tertulis dalam surat dapat berbentuk pernyataan, pemberitahuan, pertanyaan, permintaan laporan dan lain-lain. Informasi ini akan mencapai sasarannya jika bahasa yang digunakan dapat mengungkapkan isi surat sesuai dengan sifat surat serta menulis kreatif naskah drama satu babak dengan memperhatikan kaidah penulisan naskah drama.
Rumusan masalah dalam penelitian ini adalah sebagai berikut: Adakah Peningkatan Prestasi Belajar Bahasa Indonesia Dengan Metode Contextual Teaching And Learning Pada Siswa Kelas VIII-H SMPN 1 Balerejo Kabupaten Madiun Semester Ganjil Tahun Pelajaran 2015/2016”, dan tujuan penelitiannya adalah untuk mengetahui Peningkatan Prestasi Belajar Bahasa Indonesia Dengan Metode Contextual Teaching And Learning Pada Siswa Kelas VIII-H SMPN 1 Balerejo Kabupaten Madiun Semester Ganjil Tahun Pelajaran 2015/2016.
Pendekatan yang digunakan dalam penelitian ini adalah pendekatan kuantitatif, dengan jenis penelitian tindakan. Tahap-tahap pelaksanaan penelitian tindakan terdiri dari perencanaan (planning), pelaksanaan (acting), observasi (observing), dan refleksi (reflecting). Untuk mendapatkan hasil penelitian yang akurat maka data yang telah terkumpul dianalisis secara statistic, yaitu menggunakan rumus mean.
Dari hasil penelitian didapatkan bahwa nilai rata-rata keterampilan menulis surat dinas yang dihasilkan sebelum diadakan penelitian 61.5 meningkat pada siklus I : 76.48 (41.94%) dan pada siklus II menjadi 83.81 (93.55%). Mengacu pada hipotesis tindakan yang diajukan dalam penelitian tindakan ini maka dapat disimpulkan bahwa ada Peningkatan Prestasi Belajar Bahasa Indonesia Dengan Metode Contextual Teaching And Learning Pada Siswa Kelas VIII-H SMPN 1 Balerejo Kabupaten Madiun Semester Ganjil Tahun Pelajaran 2015/2016.



Latar Belakang Masalah
Pembelajaran bahasa dan sastra Indonesia diarahkan untuk meningkatkan kemampuan peserta didik untuk berkomunikasi dalam bahasa Indonesia dengan baik dan benar, baik secara lisan maupun tulis, serta menumbuhkan apresiasi terhadap hasil karya kesastraan manusia Indonesia.
Pokok Bahasan mata pelajaran bahasa Indonesia merupakan kualifikasi kemampuan minimal peserta didik yang menggambarkan penguasaan pengetahuan, keterampilan berbahasa, dan sikap positif terhadap bahasa dan sastra Indonesia. Pokok Bahasan ini merupakan dasar bagi peserta didik  untuk memahami dan merespon situasi lokal, regional, nasional, dan global. 
Pengajaran menulis bukan lagi hal yang tidak mungkin diberikan kepada siswa di sekolah menengah, hal demikian lebih banyak dipengaruhi oleh semakin banyaknya pengakuan dari para sastrawan. Dengan demikian selayaknya kalau pengajaran menulis mendapatkan perhatian dalam pengajaran bahasa dan sastra Indonesia di sekolah.
Pengajaran menulis selain untuk meningkatkan kemampuan menulis siswa, penulis juga yakin bahwa menulis memiliki manfaat yang cukup besar.
Manfaat menulis antara lain:
1.   Sebagai alat pengungkapan diri, menulis dapat mengekspresikan suasana dan pengalaman batinnya, baik perasan duka, tertekan, frustrasi, pemberontakan dan lain-lain kedalam tulisan/karya tulis. Dengan menuliskannya dalam bentuk karya tulis, penulis dapat terhindar dari tekanan batin yang dapat membahayakan dirinya.
2.   Menulis sebagai alat untuk memahami secara lebih jelas dan mendalam ide-ide yang dituliskannya. Sebab dengan menuliskannya dalam bentuk karya tulis ide menjadi lebih rinci dan tertata sehingga menjadi jelas sosok permasalahannya. Selain itu seorang penulis baru akan menuangkan idenya dalam  bentuk karya tulis kalau ia telah memiliki gambaran yang cukup jelas tentang ide yang akan ditulisnya. Dengan demikian, kalau ide itu masih samar-samar baginya, maka penulis akan memahaminya  terlebih dahulu secara mendalam
3.    Menulis sebagai alat untuk meningkatkan kesadaran diri terhadap lingkungan. Seorang penulis dilatih dan dibiasakan untuk memiliki kepekaan dan kemampuan melihat permasalahan kemanusiaan dan kehidupan secara mendasar. Juga penulis dilatih dan dibiasakan melihat permasalahan tersebut dari berbagai sisi. Dengan tuntutan tersebut penulis selalu merasa terlibat terhadap segala permasalahan.
4.   Menulis merupakam alat untuk terlibat secara aktif dalam kegiatan berkarya tulis. Dengan memahami proses menulis, orang dapat merasakan bagaimana proses datangnya inspirasi, proses pematangan ide, penuangan ide dalam bahasa dan mengekspresikannya dalam bentuk karya tulis. Dengan pengalaman ini orang akan lebih mudah memasuki dunia karya tulis yang tinggi. Dengan pengalaman menulis orang tidak hanya memperoleh pengetahuan tentang karya tulis saja, tetapi pengalaman menulis karya tulis.
5.   Menulis merupakan alat untuk mengembangkan kemampuan dan ketrampilan menggunakan bahasa sebagai media komunikasi. Mengkomunikasikan ide dengan bahasa lisan lebih mudah dibandingkan dengan mengkomunikasikan dengan bahasa tulis. Dalam berkomunikasi tulis seseorang dituntut untuk mempu menggunakan bahasa secara jelas dan utuh. Sebab dalam bahasa tulis menulis tidak ditunjang oleh pemakaian parabahasa yang dapat memperjelas penyampaian maksud. Juga penulis dituntut untuk mengkomunikasikan secara runtut, logis sesuai dengan alur cerita yang digunakannya.
6.   Menulis dapat meningkatkan inisiatif penulis. Untuk itu penulis diharapkan dapat menjadi pelontar ide-ide baru, yang belum dikemukakan orang lain sebelumnya. Penulis diharapkan menjadi inisiator (Parlan, 2003:7).
Supaya dapat mewujudkan manfaat-manfaat tersebut, maka guru memiliki peran yang penting. Kehadiran guru dalam pengajaran menulis memiliki peran yang berbeda dengan kehadirannya dalam pengajaran pelajaran lain.  Kehadiran guru di sini tidak berkaitan dengan penyampaian materi pelajaran, tetapi menyediakan fasilitas, memberi motivasi, dan membangkitkan minat.
Dalam realita di lapangan materi menulis bagi siswa dirasakan sebagai materi yang menjemukan. Hal ini dikarenakan guru cenderung memberikan banyak teori dalam pembelajaran menulis. Dalam menulis karangan prosa guru cenderung untuk memberikan teori  menulis secara bersama-sama dalam satu paket ceramah. seperti menentukan tema, memilih kata, menyusun paragraf, sampai dengan memilih judul. Dalam Materi Kompetensi Dasar Menulis kreatif naskah drama satu babak dengan memper-hatikan kaidah penulisan naskah drama  sehingga sebelum siswa mempraktekkan kegiatan menulis jam pelajaran telah habis.
Siswa akan melakukan kegiatan menulis di waktu yang lain sehingga siswa akan merasakan kesulitan untuk melakukan kegiatan menulis. Berangkat dari fenomena inilah maka peneliti bermaksud mengadakan penelitian terhadap model pembelajaran CTL (contekstual teaching and learning) yang diberikan pada materi Materi Pembelajaran Menulis kreatif naskah drama satu babak dengan memper-hatikan kaidah penulisan naskah drama.
Dalam penelitian ini difokuskan pada Materi Pembelajaran Menulis kreatif naskah drama satu babak dengan memper-hatikan kaidah penulisan naskah drama atau surat resmi dengan memperhatikan pilihan kata sesuai dengan orang yang dituju, maka guru dituntut berperan sebagai pencipta suasana, pemandu, inspirator, guru diharapkan mampu menciptakan suasana yang kondusif yakni suasana yang membebaskan siswa dari segala perasaan takut, malu, terpaksa, dan sebagai hal yang dapat menghambat tumbuh dan berkembangnya kreativitas siswa.
Dalam kehidupan sehari-hari, kita tidak lepas dari aktifitas berbahasa (komunikasi). Komunikasi itu dapat menggunakan bahasa lisan, dan dapat juga menggunakan bahasa tulis. Yang dimaksud dengan komunikasi menggunakan bahasa lisan yaitu memberikan informasi secara langsung, atau berhadap-hadapan dengan yang menerima informasi. Komunikasi lisan ini dapat pula melalui telepon, radio dan televisi. Sedangkan komunikasi yang menggunakan bahasa tulis yaitu memberikan informasi secara tidak langsung atau tidak dapat berhadap-hadapan dengan si pemberi informasi. Sarana komunikasi tertulis ini penggunaannya terdiri atas beberapa macam salah satunya adalah surat. Jadi surat adalah sarana komunikasi tertulis yang dibuat seseorang, baik atas nama pribadi maupun instansi atau organisasi untuk menyampaikan buah pikirannya.
Pengertian tentang surat menurut Soedjito dan Solchan TW (2001;11) “Surat adalah suatu alat atau komunikasi tulis yang paling efisien, efektif ekonomis dan praktis”. Dibanding dengan alat komunikasi lisan, surat mempunyai kelebihan-kelebihan. Apa yang dikomunikasikan kepada pihak lain secara tertulis, misalnya berupa pengumuman, pemberitahuan, keterangan dan sebagainya, akan sampai pada alamat yang dituju sesuai dengan sumber aslinya. Tidak demikian halnya jika disampaikan secara lisan. Dengan cara tersebut sering dialami perubahan-perubahan, terutama tentang isinya, mungkin ditambah atau dikurangi, meskipun mungkin tidak disadari. Dengan demikian surat sebagai alat komunikasi dapat digunakan untuk mengadakan hubungan tertulis baik dalam hubungan intern maupun ekstern. Hubungan intern ditunjukkan dengan hubungan antar pegawai atau pejabat dalam satu lingkup instansi atau organisasi. Sedangkan hubungan ekstern merupakan hubungan yang dilakukan di luar instansi atau organisasi.
Dari pendapat di atas disimpulkan bahwa Menulis kreatif naskah drama satu babak dengan memper-hatikan kaidah penulisan naskah drama atau surat resmi merupakan suatu media untuk menyampaikan informasi. Informasi disampaikan secara tertulis dalam surat dapat berbentuk pernyataan, pemberitahuan, pertanyaan, permintaan laporan dan lain-lain. Informasi ini akan mencapai sasarannya jika bahasa yang digunakan dapat mengungkapkan isi surat sesuai dengan sifat surat serta kedudukan penulis dan pembaca Menulis kreatif naskah drama satu babak dengan memperhatikan kaidah penulisan naskah drama atau dinas. Siswa Kelas VIII-H di SMPN 1 Balerejo Tahun Pelajaran 2015/2016 mengalami penurunan prestasi belajar. Untuk meningkatkan prestasi belajar sabagai guru menggunakan berbagai metode pembelajaran.
Model pembelajaran CTL  adalah model pembelajaran yang dirancang untuk membantu siswa mempelajari pengetahuan prosedural dan deklaratif yang terstruktur dengan baik dan dapat dipelajari selangkah demi selangkah.
Pembelajaran kontekstual CTL adalah konsep belajar yang membantu guru mengaitkan antara kontekstual materi yang diajarkannya dengan situasi dunia nyata siswa dan mendorong siswa membuat hubungan antara pengetahuan yang dimilikinya dengan penerapan dalam kehidupan sehari-hari.
Pendekatan CTL memiliki tujuh komponen utama pembelajaran efektif, yakni kontruktivisme (contructivism), bertanya (quistioninng), menemukan (inquiry), masyarakat belajar (learning community,) pemodelan (modeling), dan penilaian sebenarnya ((authentic assessment).
Berdasarkan uraian di atas, penulis menetapkan judul penelitian ini dengan judul : Peningkatan Prestasi Belajar Bahasa Indonesia Dengan Metode Contextual Teaching And Learning Pada Siswa Kelas VIII-H SMPN 1 Balerejo Kabupaten Madiun Semester Ganjil Tahun Pelajaran 2015/2016.

Identifikasi Masalah

1.   Bagaimanakah pendekatan yang cocok dalam meningkatkan Materi Pembelajaran Menulis kreatif naskah drama satu babak dengan memper-hatikan kaidah penulisan naskah drama?

2.   Apakah penggunaan model pembelajaran CTL (contekstual teaching and learning) dapat meningkatkan Materi Pembelajaran Menulis kreatif naskah drama satu babak dengan memper-hatikan kaidah penulisan naskah drama?


Pembatasan Masalah
Dalam penelitian ini penulis membatasi masalah pada upaya meningkatkan Materi Pembelajaran Menulis kreatif naskah drama satu babak dengan memper-hatikan kaidah penulisan naskah drama melalui model pembelajaran CTL (contekstual teaching and learning)  siswa Kelas VIII-H SMP Negeri 1 Balerejo Madiun tahun pelajaran 2015/2016.

Rumusan Masalah
Dari uraian latar belakang di atas dapat penulis rumuskan masalah penelitian ini sebagai berikut : Adakah peningkatan prestasi belajar bahasa Indonesia dengan model pembelajaran CTL (contekstual teaching and learning) siswa Kelas VIII-H SMP Negeri 1 Balerejo Madiun tahun pelajaran 2015/2016”.

Tujuan Penelitian
Untuk mengetahui peningkatan Materi Pembelajaran Menulis kreatif naskah drama satu babak dengan memper-hatikan kaidah penulisan naskah drama dengan model pembelajaran CTL (contekstual teaching and learning) siswa Kelas VIII-H SMP Negeri 1 Balerejo Madiun tahun pelajaran 2015/2016.

Manfaat Hasil Penelitian
1. Bagi Guru.
a.    Untuk meningkatkan efisiensi dan efektivitas pembelajaran bahasa dan sastra Indonesia pokok bahasan Materi Pembelajaran Menulis kreatif naskah drama satu babak dengan memper-hatikan kaidah penulisan naskah drama di kelas.
b.   Untuk menyempurnakan sistem pembelajaran di sekolah.
c.    Sebagai acuan dalam memilih alternatif model pembelajaran yang dapat diterapkan pada mata pelajaran tertentu.
2. Bagi Siswa.
a.    Untuk meningkatkan motivasi belajar bahasa dan sastra Indonesia khususnya Materi Pembelajaran Menulis kreatif naskah drama satu babak dengan memper-hatikan kaidah penulisan naskah drama siswa di dalam kelas.
b.   Untuk meningkatkan ketuntasan belajar bahasa dan sastra Indonesia.
3. Bagi Sekolah 
a.  Mendapatkan informasi tentang model pembelajaran yang nantinya dapat   diterapkan ke kelas lain dan oleh guru lain.
b.  Dapat meningkatkan kualitas pembelajaran di sekolah.

Kajian Teori
Pengertian Naskah Drama
Naskah adalah karangan yang masih ditulis dengan tangan yang belum diterbitkan. Menurut Imam Suryono Drama adalah suatu aksi atau perbuatan (bahasa yunani). Sedangkan dramatik adalah jenis karangan yang dipertunjukkan dalan suatu tingkah laku, mimik dan perbuatan. Sandiwara adalah sebutan lain dari drama di mana sandi adalah rahasia dan wara adalah pelajaran. Orang yang memainkan drama disebut aktor atau lakon. Menurut Molton drama adalah hidup yang dilukiskan dengan gerak (life presented in action). Menurut Ferdinand Brunetierre drama haruslah melahirkan kehendak dengan action. Menurut Baltazhar Vallhagen drama adalah kesenian melukiskan sifat dan sikap manusia dengan gerak. Menurut Sendarasik naskah drama merupakan bahan dasar sebuah pementasan dan belum sempurna betuknya apabila belum dipentaskan. Naskah drama juga sebagai ungkapan pernyataan penulis (play wright) yang berisi nilai-nilai pengalaman umum juga merupakan ide dasar bagi actor.
Berdasarkan pengertian diatas naskah drama dapat diartikan suatu karangan atau cerita yang berupa tindakan atau perbuatan yang masih berbentuk teks atau tulisan yang belum duterbitkan (pentaskan).
1.   Menuru KBBI naskah adalah karanagn yang masih ditulis dengan tangan yang belum diterbitkan
2.   Menurut Imam Suryono Drama adalah suatu aksi atau perbuatan (bahasa yunani). Sedangkan dramatik adalah jenis karangan yang dipertunjukkan dalan suatu tingkah laku, mimik dan perbuatan. Sandiwara adalah sebutan lain dari drama di mana sandi adalah rahasia dan wara adalah pelajaran. Orang yang memainkan drama disebut aktor atau lakon
3.   Menurut Molton drama adalah hidup yang dilukiskan dengan gerak (life presented in action).
4.   Menurut Ferdinand Brunetierre drama haruslah melahirkan kehendak dengan action.
5.   Menurut Baltazhar Vallhagen drama adalah kesenian melukiskan sifat dan sikap manusia dengan gerak.
6.   Menurut Sendarasik naskah drama merupakan bahan dasar sebuah pementasan dan belum sempurna betuknya apabila belum dipentaskan. Naskah drama juga sebagai ungkapan pernyataan penulis (play wright) yang berisi nilai-nilai pengalaman umum juga merupakan ide dasar bagi actor.
Berdasarkan pengertian diatas naskah drama dapat diartikan suatu karangan atau cerita yang berupa tindakan atau perbuatan yang masih berbentuk teks atau tulisan yang belum duterbitkan (pentaskan).
1. Jenis-jenis Drama
Secara sederhana drama dapat dibagi dalam berbagai bentuk. Pembagian secara umum ditijau dari cerita dan gaya bercerita adalah:
·     Drama tragedi
·     Drama yang melukiskan kisah duka atau kejadian pahit sedih yang amat dalam atau yang disebut juga yang aktor utama mati
·     Drama komedi
·     Drama ringan yang biasanya bercerita tentaang yang kucu-lucu yang bersifat menghibur, menyindir, penuh sloroh dan berakhir dengan kebahagiaan.
·     Tragi komedi
·     Berupa drama gabugan dari tragi dan komedi 
·     Melo drama
·     Lakuan tragedy yang berlibih-lebihan.
·     Dagelan
·     Jenis drama murahan atau dikatakan juga dengan komedi picisan (biasanya naskah drama ini diiringi musik riang)
·     Opera atau operet
·     Dialog yang diiringi dengan musik yang didalamnya dimasukan nyayian atau lagu.
·     Pantomim
·     Pantomim adalah drama yang ditampilkan dalam bentuk gerakan tubuh atau bahasa isyarat tanpa pembicaraan.
·     Tablau
·     Tablau adalah drama yang mirip pantomim yang dibarengi oleh gerak-gerik anggota tubuh dan mimik wajah pelakunya.
·     Passie
·     Passie adalah drama yang mengandung unsur agama / relijius.
·     Wayang
2. Unsur Pembangun Drama 
a. Unssur intinsik adalah unsur dalam yang tidak tampak. Dalam intrinsik ada :
1)   Tema adalah ide pokok yang disampaikan dari sebuah cerita. Sebuah tema tidak terlepas dari manusia dan kehidupan.
2)   Alur/ plot yaitu jalan cerita atau kerangka dari awal hingga akhir yang merupakan jalinan konfelik antara daua tokoh yang berlawanan. Unsur-unsur plot ini meliputi hal-hal berikut :
a)   Exposition atau pelukisaan awal cerita 
Dalam tahap ini pembaca diperkenalkan dengan tokoh-tokoh drama dengan watak masing-masing. Pembaca mulai mendapat gambaran tentang lakon yang dibaca.
b)   Komplikasi atau pertingkaan awal
Dalam tahap ini pembaca mulai mendapatkan gambaran pertikaian atau konflik yang baru muncul
c)   Klimaks atau puncak cerita
Pada tahap ini konflik sudah mencapai titik puncak atau pengawaatan dalam cerita.
d)   Resolusi atau penyelesaian atau falling action
Dalam tahap ini konflik mulai mereda atau menurun
e)   Denoument atau keputusan
Tahap ini pembaca mendapatkan sebuah penyelisaan dari konflik-konflik yang terjadi disebuah cerita yang menjadi akhir sebuah cerita.
3)   Penokohan
Susunan tokoh adalah daftar tokoh-tokoh yang berperan dalam drama itu.
a)     Tokoh antagonis adalah tokoh penentang arus cerita
b)     Protagonis adalah tokoh yang mendukung cerita
c)     Tritagonis adalah tokoh ppembantu.
4)  Setting
Setting atau tempat kejadian cerita sering pula disebut latar cerita. Setting biasanya meliputi tiga deminsi yaitu : tempat, ruang, dan waktu.
Setting tempat tidak berdiri sendiri berhubungan dengan waktu dan ruang misalnya, tempat dijawa, tahun berapa, diluar rumah.
Setting waktu juga berarti apakah lakon terjadi diwaktu siang, pagi, sore, atau malam hari.
5)  Amanat
Seorang penulis drama sadar atau tidak sadar pasti menyampaikan amanat dalam karyanya. 
b. Unsur ekstrinsik
Unsur intrinsik adalah segala macam unsur yang berada diluar teks drama, tetapi ikut berperan dalam keberadaan teks drama tersebut. Unsur-unsur tersebut adalah riwayat hidup pengarang, falsafah hidup pengarang, dan unsur sosial budaya masyarakat yang dianggap dapat memberikan masukan yang menunjang penciptaan karya drama tersebut.
3. Cara Membuat Naskah Drama
Drama merupakan bentuk karya sastra yang dipentaskan untuk masyarakat. Oleh karena itu,pada umumnya, cerita drama berisi tentang kejadian atau peristiwa yang terjadi dalam masyarakat. Biasanya drama menceritakan tentang kemiskinan, perjuangan hidup, serta cinta kepada orang tua. Supaya drama yang kita tampilkan menarik, hal terpenting yang harus diperhatikan adalah naskah drama itu sendiri. Naskah drama harus manarik sehingga pesan apa yang ingin kita sampaikan dapat diterima dengan baik oleh para penonton.
·     Pemilihan topik
Amatilah apa yang sering terjadi di sekitar kita. itu bisa menjadi inspirasi untuk menentukan topik dari drama yang akan kita tampilkan.
·     Penentuan tokoh, latar, dan sudut pandang
Setelah kita menentukan topik dari drama yang akan kita tampilkan, selanjutnya kita merancang latar, tokoh cerita, dan sudut pandang
·     Tentukan Plot cerita
Cara menulis naskah drama mirip dengan cara menulis cerita lainnya. Untuk menentukan plot cerita, kita harus menulis ringkasan cerita  (yang terdiri dari bagian awal, tengah, dan akhir). kemudian kita harus mengidentifikasikan unsur drama yang kita tulis. Contoh ---> Tema: Kebiakn dibalas dengan kejahatan. Tokoh: Budi (tokoh utama), Bapak Budi (sedang sakit), dan pemilik tas yang dicopet. Latar: pasar kecamatan. Sudut pandang cerita: sudut pandang orang ketiga (Bu Sastro).
·     Membuat rancangan tulisan awal
Setelah semua langkah diatas selesai, kemudian kita harus membuat keragka alur atau urutan cerita. Pikirkan apa yang akan terjadi, kapan terjadi, dan bagaimana terjadi.
·     Tulis naskah akhir
Setelah selesai menulis naskah, koreksi lah dan lakukan perbaikan bila diperlukan. Kemudian baca naskah drama tersebut dari awal sampai akhir. Setelah yakin tidak perlu ada revisi, drama bisa ditampilkan. jangan lupa untuk memilih tokoh yang sesuai dengan karakter dalam cerita drama tersebut. 

Hakikat Pendekatan Kontekstual
Pendekatan kontekstual (contekstual teaching and learning /CTL) merupakan kosep belajar yang membantu guru mengaitkan antara meteri yang diajarkan dengan situasi dunia nyata siswa dan mendorong siswa membuat hubungan antara pengetahuan yang dimilikinya dengan penerapannya ke dalam kehidupan mereka sebagai anggota keluarga dan masyarakat.
Dengan konsep CTL, hasil pembelajaran diharapkan lebih bermakna bagi siswa. Proses pembelajaran berlangsung alamiah dalam bentuk kegiatan siswa dan bekerja mengalami, bukan transfer pengetahuan dari guru ke siswa.
Pembelajaran kontekstual CTL adalah konsep belajar yang membantu guru mengaitkan antara kontekstual materi yang diajarkannya dengan situasi dunia nyata siswa dan mendorong siswa membuat hubungan antara pengetahuan yang dimilikinya dengan penerapan dalam kehidupan sehari-hari.
Pendekatan CTL memilih tujuh komponen utama pembelajaran efektif, yakni kontruktivisme (contructivism), bertanya (questioninng), menemukan (inquiry), masyarakat belajar (learning community,) pemodelan (modeling), dan penilaian sebenarnya ((authentic assessment).
Kontruktivisme (contructivism), merupakan landasan bepikir (filosof) pendekatan CTL, yaitu bahwa pengetahuan dibangun oleh manusia sedikit demi sedikit, yang hasilnya diperluas melalui konteks yang terbatas (sempit) dan tidak sekonyong-konyong. Siswa perlu dibiasakan untuk mencari masalah, menemukan sesuatu yang berguna bagi dirinya, dan bergelut dengan ide-ide. Dalam pandangan kontruktivis, strategi memperoleh lebih diutamakan dibandingkan seberapa banyak siswa memperoleh dan mengingat pengetahuan. Untuk itu, tugas guru adalah memfasilitasi proses tersebut dengan (1) menjadikan pengetahuan bemakna dan relevan bagi siswa, (2) memberi siswa kesempatan menemukan dan menerapkan idenya sendiri, dan (3) menyadarkan siswa agar menerapkan strategi mereka sendiri dalam belajar. Dalam pembelajaran menulis (mengarang) kegiatan yang dilakukan adalah memberikan berbagai gambar seri yang berbentuk sebuah cerita dan siswa diminta mengembangkan sendiri sesuai dengan pengalaman atau pengetahuann yang dimilikinya.
Inquiry (menemukan) merupakan bagian inti dari kegiatan pembelajaran berbasis CTL. Pengetahuan dari terampil diperoleh siswa diharapkan bukan hasil mengingat seperangkat fakta, tetapi hasil dari menemukan sendiri. Guru harus selalu merancang kegiatan yang merujuk pada kegiatan menemukan, apa pun meteri yang diajarkannya. Siklus inkuiri meliputi (1) observasi (observation), (2) bertanya (question) (3) mengajukan dugaan (hipotesis), (4) pengumpulan data  (data gathering), dan (5) penyimpulan (conclution). Dalam pembelajaran menulis (mengarang) kegiatan ini bisa dilakukan dengan memberikan gambar-gambar berseri urutan diacak, dan siswa diminta menemukan sendiri urutan gambar tersebut hingga membentuk suatu cerita yang baik.
Questioning (bertanya) merupakan awal dari pengetahuan yang dimiliki seseorang, merupakan strategi utama pembelajaran yang berbasis CTL. Bertanya dalam pembelajaran dipancing sebagai kegiatan guru untuk mendorong, membimbing, dan menilai kemampuan berpikir siswa. Bagi siswa, kegiatan bertanya merupakan bagian penting dalam melaksanakan pembelajaran yang berbasis inquiri, yaitu menggali informasi, mengkonfirmasikan apa yang sudah diketahui, dan mengarahkan perhatian pada aspek yang belum diketahuinya. Dalam pembelajaran menulis (mengarang) kegiatan bertanya dipancing dengan gambar-gambar yang menarik.
Konsep learning community mengarahkan agar hasil pembelajaran diperoleh dari kerja sama dengan orang lain. Hasil belajar yang diperoleh dari sharing antara teman, antarkelompok, dan antara yang tahu ke yang belum tahu, di ruangan ini, di kelas ini, di sekitar sini, juga orang-orang yang diluar sana, semua anggota masyarakat belajar. Dalam kelas CTL, guru disarankan selalu melaksanakan pembelajaran dalam kelompok-kelompok belajar. Siswa dibagi dalam kelompok-kelompok yang anggotanya heterogen. Yang pandai mengajari yang lemah, yang tahu memberi tahu yang belum tahu, yang cepat menangkap mendorong temannya yang lambat, yang mempunyai gagasan serta memberi usul, dan seterusnya. Dalam pembelajaran menulis (mengarang) siswa dibagi ke dalam kelompok berdasarkan topik yang akan ditulis sesuai dengan gambar yang diberikan oleh guru.
Komponen CTL selanjutnya adalah modeling (permodelan), artinya dalam sebuah pembelajaran keterampilan atau pengetahuan tertentu, ada model yang bisa ditiru. Model itu bisa berupa cara mengoperasikan sesuatu, cara melempar bola dalam olah raga, contoh karya tulis, cara melafalkan bahasa Inggris dan sebagainya. Dalam pembelajaran menulis (mengarang) model yang diberikan guru dapat berupa karangan hasil pengembangan dari gambar yang ada.
Reflection (refleksi) adalah cara berpikir tentang apa yang baru dipelajari atau berpikir ke dalam tentang apa-apa yang sudah kita lakukan di masa lalu. Siswa mengendapkan apa yang baru dipelajarinya sebagai struktur pengetahuan yang baru diterima.
Assessment adalah proses pengumpulan berbagai data yang bisa memberikan gambaran perkembangan belajar siswa. Gambaran perkembangan belajar siswa perlu diketahui oleh guru agar bisa memastikan bahwa siswa mengalami proses pembelajaran dengan benar. Karena assessment menekankan proses pembelajaran, maka data yang dikumpulkan harus diperoleh dari kegiatan nyata yang dikerjakan siswa pada saaat melakukan proses pembelajaran.

Kerangka Pikir Penelitian
Menulis adalah keterampilan menggunakan bahasa secara tertulis untuk menyampaikan informasi tentang sesuatu sehingga terjadi komunikasi secara tidak langsung. Menulis merupakan kegiatan yang produktif dan ekspresif.
Pengertian tentang surat menurut  Soedjito dan Solchan TW.(2001:11) adalah suatu alat atau komunikasi tulis yang paling efisien, efektif ekonomis dan praktis. Dibanding dengan alat komunikasi lisan, surat mempunyai kelebihan-kelebihan. Apa yang dikomunikasikan kepada pihak lain secara tertulis, misalnya berupa pengumuman, pemberitahuan, keterangan dan sebagainya, akan sampai pada alamat yang dituju sesuai dengan sumber aslinya. Tidak demikian halnya jika disampaikan secara lisan. Dengan cara tersebut sering dialami perubahan-perubahan, terutama tentang isinya, mungkin ditambah atau dikurangi, meskipun mungkin tidak disadari. Dengan demikian surat sebagai alat komunikasi dapat digunakan untuk mengadakan hubungan tertulis baik dalam hubungan intern maupun ekstern. Hubungan intern ditunjukkan dengan hubungan antar pegawai atau pejabat dalam satu lingkup instansi atau organisasi. Sedangkan hubungan ekstern merupakan hubungan yang dilakukan di luar instansi atau organisasi.
Menulis kreatif naskah drama satu babak dengan memperhatikan kaidah penulisan naskah drama merupakan suatu media untuk menyampaikan informasi. Informasi disampaikan secara tertulis dalam surat dapat berbentuk pernyataan, pemberitahuan, pertanyaan, permintaan laporan dan lain-lain. Informasi ini akan mencapai sasarannya jika bahasa yang digunakan dapat mengungkapkan isi surat sesuai dengan sifat surat serta kedudukan penulis dan pembaca surat resmi atau dinas.
Pendekatan kontekstual CTL merupakan konsep belajar yang membantu guru mengaitkan antara meteri yang diajarkan dengan situasi dunia nyata siswa dan mendorong siswa membuat hubungan antara pengetahuan yang dimilikinya dengan penerapannya ke dalam kehidupan mereka sebagai anggota keluarga dan masyarakat.

Hipotesis Tindakan
Ada Peningkatan Prestasi Belajar Bahasa Indonesia Dengan Metode Contextual Teaching And Learning Pada Siswa Kelas VIII-H SMPN 1 Balerejo Kabupaten Madiun Semester Ganjil Tahun Pelajaran 2015/2016.

METODE PENELITIAN
Setting Penelitian
Setting atau konteks akan menjelaskan tentang lokasi sekolah, kelas, mata pelajaran, waktu, karakteristik sekolah, karakteristik subjek penelitian (siswa), dan karakteristik peneliti.
Penelitian ini dilaksanakan di Kelas VIII-H SMP Negeri 1 Balerejo Madiun tahun pelajaran 2015/2016 yang berjumlah 31 siswa, Kehadiran guru dan siswa di sekolah rata-rata cukup tinggi. Subjek peneliti adalah guru mata pelajaran bahasa Indonesia yang juga sebagai observer (kolaborator).
Kondisi siswa  Kelas VIII-H SMP Negeri 1 Balerejo Madiun tahun pelajaran 2015/2016 kebanyakan berasal dari daerah dengan mayoritas siswa berasal dari keluarga dengan keadaan ekonomi yang kurang mampu dan kebanyakan dari kalangan menengah ke bawah. Bahkan tidak sedikit dari siswa adalah siswa yang berasal dari keluarga tidak mampu. Dari kondisi inilah menyebabkan perhatian orang tua terhadap anak sangatlah kurang. Kurangnya perhatian orang tua ini juga menyebabkan kurangnya minat belajar pada siswa.
Pendekatan yang digunakan dalam penelitian ini adalah pendekatan kuantitatif, dengan jenis penelitian tindakan. Dalam penelitian ini peneliti  berkolaborasi dengan guru bahasa Indonesia yang lain serta dengan kepala sekolah. Peneliti terlibat langsung dalam penelitian mulai dari awal sampai penelitian berakhir. Peneliti berusaha melihat, mengamati, merasakan, menghayati, merefleksi dan mengevaluasi kegiatan pembelajaran yang berlangsung.
Pada penelitian ini, peneliti sebagai instrumen penelitian. Oleh karena itu pelaksanaan penelitian ini menuntut kehadiran peneliti secara penuh di lapangan. Peneliti bertindak sebagai perencana, pengumpul data, penganalisis data, penafsir data dan sebagai pelapor hasil penelitian.

Siklus Penelitian
Siklus penelitian ini terdiri atas empat tahap  dalam dua siklus, yang meliputi (1) perencanaan (planning), (2) pelaksanaan (acting), (3) pengamatan (observing), dan (4) refleksi (reflecting)  serta perencanaan kembali. Yang diuraikan dalam siklus hanya bagian yang diubah atau dimodifikasi melalui penelitian tindakan, bukan seluruh proses pembelajaran.
Adapun tahap-tahap penelitian yang peneliti lakukan adalah sebagai berikut:
1.   Rencana tindakan (Planing)
Rencana tindakan  adalah rencana pembelajaran dengan model pembelajaran CTL dengan pengelompokan siswa menjadi beberapa kelompok. Sebelum pembelajaran dilaksanakan terlebih dahulu menyusun skenario pembelajaran, pembuatan lembar kerja siswa (LKS). Selain itu dibuat lembar penilaian untuk mengamati keterampilan siswa dalam Materi Pembelajaran Menulis kreatif naskah drama satu babak dengan memper-hatikan kaidah penulisan naskah drama.
2.   Pelaksanaan tindakan (Acting)
Berdasarkan rencana tindakan yang telah tersusun maka pelak-sanaan tindakan  adalah sebagai berikut :
a.    Melakukan pengelompokan siswa menjadi beberapa kelompok
b.   Melakukan tahap eksplorasi, yaitu guru memberi contoh langsung pembuatan Menulis kreatif naskah drama satu babak dengan memper-hatikan kaidah penulisan naskah drama.
c.    Melakukan tahap pengenalan konsep, yaitu siswa membuat Menulis kreatif naskah drama satu babak dengan memper-hatikan kaidah penulisan naskah drama dan  melakukan diskusi serta tanya jawab
d.   Melakukan tahap penerapan konsep, yaitu pembahasan soal tugas dan memberikan masalah yang berkaitan dengan Menulis kreatif naskah drama satu babak dengan memper-hatikan kaidah penulisan naskah drama.
3.   Observasi (Observing)
Observasi dilakukan sambil melaksanakan tindakan I. observasi bertujuan untuk mengetahui tentang proses pelaksanaan pembelajaran CTL dan untuk mendapatkan data tentang aspek mutu pembelajaran siswa. Sedangkan untuk mengetahui jalannya proses pembelajaran  dilakukan pemantauan berupa catatan lapangan atau rekaman data. Observasi dilakukan terhadap siswa dan guru dalam proses beljar mengajar.
4.   Analisis dan refleksi (Reflekting)
Berdasarkan data yang diperoleh setelah pelaksanaan tindakan, maka data tersebut diolah atau dianalisa. Kemudian diperoleh masukan untuk melakukan refleksi. Analisis dilakukan terhadap data-data dan pemantauan proses pembelajaran. Hasil refleksi digunakan sebagai bahan untuk menyusun tindakan pada siklus berikutnya.
Modifikasi atau perubahan secara total jarang dilakukan dalam penelitian tindakan yang berskala kelas karena bagaimanapun sistem pendidikan secara umum masih belum berubah.
Perlakuan pada siklus berikutnya (yang satu) harus berbeda secara jelas dari siklus sebelumnya (yang lain). Jika yang berbeda hanya topik, sementara perlakuannya masih sama, berarti siklus itu masih sama, tak dapat dinamakan siklus baru.  Siklus akan terus dilanjutkan dengan siklus berikutnya sampai masalah terpecahkan.
Dalam penelitian tindakan selama ini banyak siklus yang bersifat semu, tidak sesuai dengan kaidah yang sudah baku. 
1.   Dalam siklus diuraikan semua proses pembelajaran, sehingga tidak dapat dilihat bagian yang sebenarnya sedang diteliti. Seolah-olah seluruh proses pembelajaran diubah secara total melalui penelitian tindakan, dan sebelumnya pembelajaran berlangsung secara tradisional, buruk, dan di bawah standar.
2.   Tidak jelas apakah perlakuan dalam suatu siklus dilakukan secara terus menerus selama periode tertentu, sampai data pengamatan bersifat cukup (menunjukkan pola yang menetap) dan diperoleh dari berbagai sumber (triangulasi).
3.   Siklus dilakukan tidak berdasarkan refleksi dari siklus sebelumnya. Ada siklus yang dilakukan secara tendensius: siklus pertama dengan metode ceramah, dan siklus kedua dengan eksperimen, hanya ingin menunjukkan bahwa metode eksperimen adalah yang terbaik. Metode harus disesuaikan dengan karakteristik materi pelajaran. Untuk materi pertama boleh jadi justru metode ceramah yang lebih cocok.
Penelitian ini dilaksanakan dalam 2 siklus yaitu siklus I dan  siklus II. Setiap siklus dilaksanakan 2 x 40 menit.

Teknik Pengumpulan Data Dan Instrumens Penelitian
Untuk mengumpulkan data penelitian digunakan lembar kegiatan siswa (LKS) untuk memudahkan siswa dalam melaksanakan kegiatan, lembar observasi untuk memperoleh data tentang aktivitas siswa selama proses pembelajaran dan lembar penilaian aspek kognitif, afektif dan psikomotor siswa.
Hasil prestasi belajar siswa pada Materi Pembelajaran Menulis kreatif naskah drama satu babak dengan memper-hatikan kaidah penulisan naskah drama akan dikemukakan dalam bentuk tabel berikut ini.

Teknik Analisis Data
Teknik analisis data yang digunakan adalah reduksi data atau pemisahan masing-masing indikator, paparan data atau menguraikan data hasil analisis, display data atau memperlihatkan hasilnya kepada siswa, penarikan kesimpulan, verifikasi dan refleksi.
Penarikan kesimpulan penelitian dilaksanakan berdasarkan data hasil pengamatan keaktifan siswa dan perubahan perilaku siswa selama belajar dengan pembelajaran CTL, tema hubungan atau hal-hal yang sering timbul. Selanjutnya dilakukan pemaknaan atau verifikasi sehingga diperoleh kesimpulan akhir. Hasil kesimpulan akhir dilakukan refleksi untuk menentukan atau menyusun rencana tindakan berikutnya.
Agar mendapat gambaran yang jelas, maka teknik statistik yang digunakan dengan rumus mean (rata-rata), yaitu: M =
Keterangan:      M    = Nilai rata-rata
                        x  = Jumlah nilai siswa
                        N     = Jumlah siswa

Hasil Penelitian
Deskripsi Data
Teknik pengumpulan data yang dimaksud adalah, tes, dan observasi. Untuk menganalisis lebih lanjut tentang Materi Pembelajaran Menulis kreatif naskah drama satu babak dengan memper-hatikan kaidah penulisan naskah drama  siswa Kelas VIII-H SMP Negeri 1 Balerejo Madiun tahun pelajaran 2015/2016, maka tolok ukur yang menjadi acuan pengukuran adalah nilai tes yang dilakukan penulis sepanjang penelitian ini berkontekstual. Nilai tes ini juga dipengaruhi oleh faktor guru dalam melaksanakan PBM serta partisipasi wali murid di rumah antara lain dalam memberikan motivasi bimbingan belajar.
Berdasarkan hasil dialog dengan guru Kelas VIII-H, dan hasil observasi pendahuluan pada waktu pembelajaran Materi Pembelajaran Menulis kreatif naskah drama satu babak dengan memper-hatikan kaidah penulisan naskah drama. Disepakati bahwa masalah kelas perlu segera diatasi dalam usaha penelitian ini adalah meningkatkan pemahaman siswa.

Siklus 1
 a. Perencanaan pada siklus I
Pada pembelajaran siklus ini siswa diharapkan mempunyai kemampuan antara lain :
1) Pemilihan kata, penggunaan ejaan.
2) Penggunaan tanda baca, dan bentuk surat
b.   Pelaksanaan Tindakan pada siklus I
Pada pertemuan siklus I ini, pembelajaran Materi Pembelajaran Menulis kreatif naskah drama satu babak dengan memper-hatikan kaidah penulisan naskah drama dengan pembelajaran kontekstual dilaksanakan dengan langkah-langkah sebagai berikut :
1) Guru melakukan apersepsi. Beberapa siswa masih merasa asing dan ragu- ragu menjawab pertanyaan guru.
2) Guru memberikan contoh Menulis kreatif naskah drama satu babak dengan memper-hatikan kaidah penulisan naskah drama kepada siswa, siswa Materi Pembelajaran Menulis kreatif naskah drama satu babak dengan memper-hatikan kaidah penulisan naskah drama, setelah Materi Pembelajaran Menulis kreatif naskah drama satu babak dengan memper-hatikan kaidah penulisan naskah drama siswa baru menanyakan kepada guru.
3) Setelah siswa semua melaksanakan tugas, guru mendiskusikan isi Menulis kreatif naskah drama satu babak dengan memper-hatikan kaidah penulisan naskah drama (Pemilihan kata, penggunaan ejaan, penggunaan tanda baca, dan bentuk surat).
4) Sebelum pembelajaran diakhiri, guru menanyakan kepada siswa hal-hal yang belum jelas dari materi tersebut. Pembelajaran diakhiri dengan salam.
Dengan memperhatikan hasil test Materi Pembelajaran Menulis kreatif naskah drama satu babak dengan memper-hatikan kaidah penulisan naskah drama  menunjukkan masih banyak siswa yang merasa kesulitan dalam Materi Pembelajaran Menulis kreatif naskah drama satu babak dengan memper-hatikan kaidah penulisan naskah drama, didapat sebelum diadakan penelitian rata-rata hasil test Materi Pembelajaran Menulis kreatif naskah drama satu babak dengan memper-hatikan kaidah penulisan naskah drama sebesar 61.5 dan pada siklus I mengalami peningkatan yaitu sebesar 76,48 (41,94%) dan belum memenuhi SKBM yaitu minimal 78%. Maka perlu diadakan penelitian ke siklus berikutnya.
c.    Observasi Pada Siklus I
Peneliti melakukan pengamatan dalam pelaksanaan pembelajaran berfokus pada Materi Pembelajaran Menulis kreatif naskah drama satu babak dengan memper-hatikan kaidah penulisan naskah drama  dengan pembelajaran kontekstual. Hasil observasi guru dan pengamatan siswa pada tindakan kelas siklus I
Dari data observasi menunjukkan bahwa kemampuan siswa dalam Materi Pembelajaran Menulis kreatif naskah drama satu babak dengan memper-hatikan kaidah penulisan naskah drama masih berada pada kriteria cukup. Pada siklus pertama ini siswa terlihat kurang semangat dan kurang aktif dalam kegiatan diskusi.
d. Refleksi Siklus I
Hasil refleksi yang berupa temuan suatu upaya untuk membantu Materi Pembelajaran Menulis kreatif naskah drama satu babak dengan memper-hatikan kaidah penulisan naskah drama dengan pembelajaran kontekstual dan permasalahan – permasalahan yang muncul di lapangan, dituangkan kembali ke dalam  rancangan tindakan berikutnya, dan selanjutnya melaksanakan tindakan refleksi terhadap rancangan yang telah disusun kembali sebelum dituangkan.
Berdasarkan hasil refleksi yang dilakukan guru dan peneliti dapat disimpulkan bahwa ada beberapa permasalahan yang muncul pada saat proses pelaksanaan tindakan kelas pada siklus I dan sudah disepakati oleh guru dan peneliti untuk mengadakan perbaikan.
1)   Pemberian penjelasan mengenai pembelajaran kontekstual, dan diharapkan guru menguasai apa yang harus disampaikan dalam kegiatan awal supaya pembelajaran lebih efektif.
2)   Setiap tahap kegiatan diusahakan sesuai waktu yang di rencanakan supaya semua dapat berjalan dengan lancar.
3)   Perlu dijelaskan lagi mengenai pengertian Materi Pembelajaran Menulis kreatif naskah drama satu babak dengan memper-hatikan kaidah penulisan naskah drama dan kegunaanya sehingga siswa semakin jelas dan mudah Materi Pembelajaran Menulis kreatif naskah drama satu babak dengan memper-hatikan kaidah penulisan naskah drama.
4)   Guru mendorong siswa untuk mengeluarkan pendapatnya.
5)   Hal-hal yang dirasa belum dilaksanakan oleh guru dengan sempurna akan diperbaiki pada siklus berikutnya.

Siklus II
a. Perencanaan Tindakan Siklus II
Perencanaan tindakan siklus II dilakukan sesuai dengan hasil refleksi pada tindakan pada siklus I. Model pembelajaran Materi Pembelajaran Menulis kreatif naskah drama satu babak dengan memper-hatikan kaidah penulisan naskah drama pada siklus II dengan pembelajaran kontekstual. Sebelum memprakarsai suatu diskusi guru menjelaskan pengertian pembelajaran kontekstual dilanjutkan memberikan penjelasan mengenai Materi Pembelajaran Menulis kreatif naskah drama satu babak dengan memper-hatikan kaidah penulisan naskah drama. Dalam pembelajaran ini siswa berdiskusi secara kelompok, guru memberikan motivasi pada siswa untuk memunculkan gagasanya.
b.  Pelaksananan Tindakan Siklus II
Pada pertemuan siklus II ini, pembelajaran Materi Pembelajaran Menulis kreatif naskah drama satu babak dengan memper-hatikan kaidah penulisan naskah drama dengan pembelajaran kontekstual dilaksanakan dengan langkah-langkah sebagai berikut :
1) Guru membagi kelas menjadi beberapa 7 kelompok.
2)  Guru melakukan apersepsi. Beberapa siswa sudah tidak merasa asing dan tidak ragu- ragu menjawab pertanyaan guru.
3) Guru memberikan contoh Menulis kreatif naskah drama satu babak dengan memper-hatikan kaidah penulisan naskah drama kepada siswa, siswa Materi Pembelajaran Menulis kreatif naskah drama satu babak dengan memper-hatikan kaidah penulisan naskah drama, setelah Materi Pembelajaran Menulis kreatif naskah drama satu babak dengan memper-hatikan kaidah penulisan naskah drama siswa baru menanyakan kepada guru.
4) Setelah siswa semua melaksanakan tugas, guru mendiskusikan isi Menulis kreatif naskah drama satu babak dengan memper-hatikan kaidah penulisan naskah drama (Pemilihan kata, penggunaan ejaan, penggunaan tanda baca, dan bentuk surat).
5) Sebelum pembelajaran diakhiri, guru menanyakan kepada siswa hal-hal yang belum jelas dari materi tersebut. Pembelajaran diakhiri dengan salam.
Pada siklus kedua ini, pembelajaran sudah sesuai dengan rencana pelaksanaan tindakan yang telah disusun. Hampir semua tidak mengalami kesulitan penulisan ejaan, pemilihan kata, penulisan kata, penulisan bentuk surat. Peneliti berpendapat bahwa hal ini dimungkinkan pembelajaran kontekstual sudah biasa dilaksanakan. Untuk itu pada tindakan pembelajaran selanjutnya media pembelajaran dipersiapkan lebih mantap lagi. Hasil prestasi belajar siswa pada siklus ketiga penulis kemukakan dalam tabel berikut ini.
Dengan memperhatikan hasil test Materi Pembelajaran Menulis kreatif naskah drama satu babak dengan memperhatikan kaidah penulisan naskah drama  menunjukkan hampir semua siswa berusaha untuk dapat Materi Pembelajaran Menulis kreatif naskah drama satu babak dengan memper-hatikan kaidah penulisan naskah drama, didapat rata-rata hasil test Materi Pembelajaran Menulis kreatif naskah drama satu babak dengan memperhatikan kaidah penulisan naskah drama pada siklus II mengalami peningkatan yaitu sebesar 83.81 (93,55%) dan sudah memenuhi SKBM yaitu minimal 78%.
c.  Observasi Siklus II
Data kegiatan observasi menunjukkan bahwa siswa terlihat semangat dalam mengikuti pelajaran. Hampir semua siswa sudah berusaha untuk dapat penulisan naskah drama sesuai dengan kaidah penulisan naskah drama yang sudah ditentukan, namun masih ada siswa yang mengalami kesulitan dalam pemilihan kata. Keaktifan siswa baik pada saat berdiskusi.
d.   Refleksi Siklus II
Pada Siklus II ini peneliti dan guru bahasa Indonesia mendiskusikan hasil pengamatan, melakukan evaluasi dan interpretasi selama proses tindakan berlangsung.
Berdasarkan hasil refleksi yang dilaksanakan pada siklus II, dapat disimpulkan bahwa masih ada beberapa permasalahan yang muncul pada saat proses pelaksanaan tindakan. Guru dan peneliti sepakat untuk mengakhiri penelitian tindakan karena dirasa sudah ada perubahan yang signifikan.

Analisis Data
Berdasarkan hasil pengamatan dan hasil evaluasi belajar siswa menunjukkan bahwa dengan menggunakan pembelajaran kontekstual dapat membantu siswa dalam Materi Pembelajaran Menulis kreatif naskah drama satu babak dengan memper-hatikan kaidah penulisan naskah drama .
Data menunjukkan sebelum diadakan penelitian nilai rata-rata yaitu 61.5, pada siklus I nilai rata-rata mencapai 76,48, sedang hasil prestasi belajar siklus II nilai rata-rata mencapai 83.81, berarti ada kenaikan pada tiap siklusnya. Hal ini dapat dilihat pada tabel berikut:

Pengujian Hipotesis
Dari hasil analisis, observasi siswa dan observasi guru serta mengacu pada hipotesis tindakan maka dapat disimpulkan bahwa ada peningkatan Materi Pembelajaran Menulis kreatif naskah drama satu babak dengan memper-hatikan kaidah penulisan naskah drama dengan model pembelajaran CTL (contekstual teaching and learning) siswa Kelas VIII-H SMP Negeri 1 Balerejo Madiun tahun pelajaran 2015/2016. Untuk membandingkan penilaian masing-masing siklus digunakan tabel sebagai berikut:
Tabel Perbandingan Nilai Rata-rata Tiap Siklus

Siklus I
Siklus II
 Rata-rata
76,48
83.81
Ketuntasan
41,94%
93,55%

Kesimpulan
1.   Ada peningkatan prestasi belajar Materi Pembelajaran Menulis kreatif naskah drama satu babak dengan memperhatikan kaidah penulisan naskah drama dengan menggunakan model pembelajaran kontekstual siswa Kelas VIII-H SMP Negeri 1 Balerejo Madiun tahun pelajaran 2015/2016. Hal ini didasarkan pada nilai rata-rata sebelum diadakan penelitian  61.5 meningkat pada siklus I : 76,48 dan pada siklus II menjadi 83.81.
2. Melalui model pembelajaran kontekstual ini dapat menumbuhkan :
a.    Rasa senang siswa untuk belajar bahasa Indonesia khususnya Materi Pembelajaran Menulis kreatif naskah drama satu babak dengan memper-hatikan kaidah penulisan naskah drama.
b.   Antusias siswa dalam kegiatan pembelajaran
c.    Keberanian dalam mengemukakan ide
d.   Keaktifan siswa dalam mengikuti pembelajaran
e.    Sikap kritis terhadap setiap permasalahan yang ada
f.    Sikap demokratis
3.   Penelitian tindakan memberikan pengalaman dan pengetahuan bagi guru dan model pembelajaran kontekstual sebagai salah satu alternatif strategi pembelajaran yang efektif.

Saran-saran
1.   Untuk meningkatkan aspek psikomotor dan aspek kognitif siswa dalam belajar bahasa Indonesia, guru dapat menggunakan metode pembelajaran kontekstual  dalam pelaksanaan pembelajaran di sekolah.
2.   Pembelajaran kontekstual memerlukan dukungan dari pihak sekolah dalam hal penyediaan sarana dan prasarana yang dibutuhkan karena pembelajaran kontekstual memerlukan sarana berupa contoh-contoh yang ada di sekolah.
3.   Agar pembelajaran lebih bermakna dan dapat diingat lama oleh siswa, sebaiknya pembelajaran selalu dikaitkan dengan kehidupan nyata siswa dan diupayakan guru meminimalkan kegiatan ceramah dan mengoptimalkan siswa lebih banyak bekerja, menemukan dan berkomunikasi dengan lingkungan sekitar
4.   Jika model pembelajaran kontekstual dipakai dalam proses pembelajaran, sebaiknya sebelum siswa melakukan presentasi siswa diwajibkan berkonsultasi (pembinaan) pada guru untuk pemantapan materi. Dengan demikian diperlukan waktu ekstra dan kerelaan bagi guru.
5.   Penelitian ini dapat ditindaklanjuti sampai siklus berikutnya sehingga dapat diperoleh hasil yang lebih baik.
6.   Karena bentuk penelitian tindakan kelas ini memerlukan waktu yang relatif lebih lama maka dibutuhkan kesabaran dan ketelatenan untuk mendapatkan hasil yang maksimal.
7.   Perlu diadakan penelitian selanjutnya, untuk mengetahui pemanfaatan model pembelajaran dalam membantu siswa dalam Materi Pembelajaran Menulis kreatif naskah drama satu babak dengan memper-hatikan kaidah penulisan naskah drama dengan menggunakan subyek penelitian yang lebih luas.


DAFTAR PUSTAKA
Ahmadi, Muhsin. 1990. Strategi Belajar Mengajar Ketrampilan Berbahasa Dan Apresiasi Sastra.  Malang : YA3 Malang.
Depdikbud. 1989. Kamus Besar Bahasa Indonesia. Jakarta: Balai Pustaka.
Depdikbud.1990. Buku Tata Bahasa Baku Bahasa Indonesia. Jakarta: Pusat Pembinaan dan Pengembangan Bahasa
Depdikbud.1993.  Kurikulum Pendidikan Dasar, Landasan, Program dan pengembangan.  Jakarta: Depdikbud.
Depdiknas.2006. Peraturan Menteri Pendidikan Nasional Republik indonesia Nomor 22 tahun 200.
Hartoyo, 2000. Buku Praktis Bahasa Indonesia, Jakarta. Depdiknas
Hartono, Surjadi John. 1995. Pedoman Umum Bahasa Indonesia Yang Disempurnakan. Surabaya: Indah.
Marjo, J.S. 1990. Surat Menyurat Lengkap. Semarang: CV. Aneka Umum.
Nurhayati, Dewi dkk. 2004. Berbahasa Indonesis Untuk Sekolah Menengah. Jakarta : Balai Pustaka.
Parlan. 2003. Keterampilan Menulis. Semarang: CV. Aneka Umum
Priyanti, Endah Tri. 2002.  Konsep dan Penerapan Penelitian Tindakan Kelas . Malang : Fakultas Sastra
Soedjito. 1987. Surat Menyurat Resmi Bahasa Indonesia, Bandung: Remaja Rosdakarya.
Tarigan, Henry Guntur. 1986. Menulis Suatu Keterampilan Berbahasa.  Bandung : Angkasa.



Tidak ada komentar:

Posting Komentar