PENINGKATAN
PRESTASI BELAJAR BAHASA INDONESIA
DENGAN
METODE CONTEXTUAL TEACHING AND LEARNING
PADA
SISWA KELAS VIII-H SMPN 1 BALEREJO KABUPATEN MADIUN SEMESTER GANJIL TAHUN
PELAJARAN 2015/2016
![]() |
Oleh :
Hesti Woelandari, S.Pd.
Guru SMPN 1
Balerejo Kabupaten Madiun
|
ABSTRAK
Kata kunci : Model
pembelajaran CTL (Contextual teaching and
leraning), Prestasi Belajar Bahasa Indonesia.
Model pembelajaran CTL (Contextual teaching and leraning) adalah
model pembelajaran yang dirancang untuk membantu siswa mempelajari pengetahuan
prosedural dan deklaratif yang terstruktur dengan baik dan dapat dipelajari
selangkah demi selangkah. Pembelajaran kontekstual (Contextual teaching annd
learning /CTL) adalah konsep belajar yang membantu guru mengaitkan antara
kontekstual materi yang diajarkannya dengan situasi dunia nyata siswa dan
mendorong siswa membuat hubungan antara pengetahuan yang dimilikinya dengan
penerapan dalam kehidupan sehari-hari. memahami teks drama dan novel
remaja
merupakan suatu media untuk menyampaikan informasi. Informasi disampaikan secara tertulis dalam surat
dapat berbentuk pernyataan, pemberitahuan, pertanyaan, permintaan laporan dan
lain-lain. Informasi ini akan mencapai sasarannya jika bahasa yang digunakan
dapat mengungkapkan isi surat sesuai dengan sifat surat serta menulis kreatif
naskah drama satu babak dengan memperhatikan kaidah penulisan naskah drama.
Rumusan
masalah dalam penelitian ini adalah sebagai berikut: Adakah Peningkatan
Prestasi Belajar Bahasa Indonesia Dengan Metode Contextual Teaching And Learning Pada Siswa Kelas VIII-H SMPN 1
Balerejo Kabupaten Madiun Semester Ganjil Tahun Pelajaran 2015/2016”, dan
tujuan penelitiannya adalah untuk mengetahui Peningkatan Prestasi Belajar
Bahasa Indonesia Dengan Metode Contextual
Teaching And Learning Pada Siswa Kelas VIII-H SMPN 1 Balerejo Kabupaten
Madiun Semester Ganjil Tahun Pelajaran 2015/2016.
Pendekatan yang digunakan dalam penelitian
ini adalah pendekatan kuantitatif, dengan jenis penelitian tindakan.
Tahap-tahap pelaksanaan penelitian tindakan terdiri dari perencanaan (planning), pelaksanaan (acting), observasi (observing), dan refleksi (reflecting).
Untuk mendapatkan hasil penelitian yang akurat maka data yang telah terkumpul
dianalisis secara statistic, yaitu menggunakan rumus mean.
Dari hasil penelitian didapatkan bahwa
nilai rata-rata keterampilan menulis surat dinas yang dihasilkan sebelum
diadakan penelitian 61.5 meningkat pada siklus I : 76.48 (41.94%) dan pada siklus II menjadi 83.81 (93.55%). Mengacu pada hipotesis tindakan yang diajukan dalam
penelitian tindakan ini maka dapat disimpulkan bahwa ada Peningkatan Prestasi Belajar
Bahasa Indonesia Dengan Metode Contextual
Teaching And Learning Pada Siswa Kelas VIII-H SMPN 1 Balerejo Kabupaten
Madiun Semester Ganjil Tahun Pelajaran 2015/2016.
Latar Belakang Masalah
Pembelajaran
bahasa dan sastra Indonesia diarahkan untuk meningkatkan kemampuan peserta
didik untuk berkomunikasi dalam bahasa Indonesia dengan baik dan benar, baik
secara lisan maupun tulis, serta menumbuhkan apresiasi terhadap hasil karya
kesastraan manusia Indonesia.
Pokok
Bahasan mata pelajaran bahasa Indonesia merupakan kualifikasi kemampuan minimal
peserta didik yang menggambarkan penguasaan pengetahuan, keterampilan
berbahasa, dan sikap positif terhadap bahasa dan sastra Indonesia. Pokok
Bahasan ini merupakan dasar bagi peserta didik
untuk memahami dan merespon situasi lokal, regional, nasional, dan
global.
Pengajaran menulis bukan lagi hal
yang tidak mungkin diberikan kepada siswa di sekolah menengah, hal demikian
lebih banyak dipengaruhi oleh semakin banyaknya pengakuan dari para sastrawan. Dengan
demikian selayaknya kalau pengajaran menulis mendapatkan perhatian dalam
pengajaran bahasa dan sastra Indonesia di sekolah.
Pengajaran menulis selain untuk
meningkatkan kemampuan menulis siswa, penulis juga yakin bahwa menulis memiliki
manfaat yang cukup besar.
Manfaat menulis antara lain:
1.
Sebagai alat pengungkapan diri, menulis
dapat mengekspresikan suasana dan pengalaman batinnya, baik perasan duka,
tertekan, frustrasi, pemberontakan dan lain-lain kedalam tulisan/karya tulis.
Dengan menuliskannya dalam bentuk karya tulis, penulis dapat terhindar dari
tekanan batin yang dapat membahayakan dirinya.
2.
Menulis sebagai alat untuk memahami
secara lebih jelas dan mendalam ide-ide yang dituliskannya. Sebab dengan
menuliskannya dalam bentuk karya tulis ide menjadi lebih rinci dan tertata
sehingga menjadi jelas sosok permasalahannya. Selain itu seorang penulis baru
akan menuangkan idenya dalam bentuk
karya tulis kalau ia telah memiliki gambaran yang cukup jelas tentang ide yang
akan ditulisnya. Dengan demikian, kalau ide itu masih samar-samar baginya, maka
penulis akan memahaminya terlebih dahulu
secara mendalam
3.
Menulis sebagai alat untuk meningkatkan
kesadaran diri terhadap lingkungan. Seorang penulis dilatih dan dibiasakan
untuk memiliki kepekaan dan kemampuan melihat permasalahan kemanusiaan dan
kehidupan secara mendasar. Juga penulis dilatih dan dibiasakan melihat
permasalahan tersebut dari berbagai sisi. Dengan tuntutan tersebut penulis
selalu merasa terlibat terhadap segala permasalahan.
4.
Menulis merupakam alat untuk terlibat
secara aktif dalam kegiatan berkarya tulis. Dengan memahami proses menulis,
orang dapat merasakan bagaimana proses datangnya inspirasi, proses pematangan ide,
penuangan ide dalam bahasa dan mengekspresikannya dalam bentuk karya tulis.
Dengan pengalaman ini orang akan lebih mudah memasuki dunia karya tulis yang
tinggi. Dengan pengalaman menulis orang tidak hanya memperoleh pengetahuan
tentang karya tulis saja, tetapi pengalaman menulis karya tulis.
5.
Menulis merupakan alat untuk
mengembangkan kemampuan dan ketrampilan menggunakan bahasa sebagai media
komunikasi. Mengkomunikasikan ide dengan bahasa lisan lebih mudah dibandingkan
dengan mengkomunikasikan dengan bahasa tulis. Dalam berkomunikasi tulis
seseorang dituntut untuk mempu menggunakan bahasa secara jelas dan utuh. Sebab
dalam bahasa tulis menulis tidak ditunjang oleh pemakaian parabahasa yang dapat
memperjelas penyampaian maksud. Juga penulis dituntut untuk mengkomunikasikan
secara runtut, logis sesuai dengan alur cerita yang digunakannya.
6. Menulis
dapat meningkatkan inisiatif penulis. Untuk itu penulis diharapkan dapat
menjadi pelontar ide-ide baru, yang belum dikemukakan orang lain sebelumnya. Penulis diharapkan menjadi inisiator
(Parlan, 2003:7).
Supaya dapat mewujudkan manfaat-manfaat tersebut, maka guru
memiliki peran yang penting. Kehadiran guru dalam pengajaran menulis
memiliki peran yang berbeda dengan kehadirannya dalam pengajaran pelajaran
lain. Kehadiran guru di sini tidak
berkaitan dengan penyampaian materi pelajaran, tetapi menyediakan fasilitas,
memberi motivasi, dan membangkitkan minat.
Dalam realita di lapangan materi menulis bagi siswa
dirasakan sebagai materi yang menjemukan. Hal ini dikarenakan guru cenderung
memberikan banyak teori dalam pembelajaran menulis. Dalam menulis karangan
prosa guru cenderung untuk memberikan teori
menulis secara bersama-sama dalam satu paket ceramah. seperti menentukan
tema, memilih kata, menyusun paragraf, sampai dengan memilih judul. Dalam
Materi Kompetensi Dasar Menulis kreatif naskah drama satu babak dengan
memper-hatikan kaidah penulisan naskah drama
sehingga sebelum siswa mempraktekkan kegiatan menulis jam pelajaran telah
habis.
Siswa akan melakukan kegiatan menulis di waktu yang
lain sehingga siswa akan merasakan kesulitan untuk melakukan kegiatan menulis.
Berangkat dari fenomena inilah maka peneliti bermaksud mengadakan penelitian
terhadap model pembelajaran CTL (contekstual
teaching and learning) yang diberikan pada materi Materi Pembelajaran
Menulis kreatif naskah drama satu babak dengan memper-hatikan kaidah penulisan
naskah drama.
Dalam penelitian ini difokuskan
pada Materi Pembelajaran Menulis kreatif naskah drama satu babak dengan
memper-hatikan kaidah penulisan naskah drama atau surat resmi dengan
memperhatikan pilihan kata sesuai dengan orang yang dituju, maka guru dituntut
berperan sebagai pencipta suasana, pemandu, inspirator, guru diharapkan mampu
menciptakan suasana yang kondusif yakni suasana yang membebaskan siswa dari
segala perasaan takut, malu, terpaksa, dan sebagai hal yang dapat menghambat
tumbuh dan berkembangnya kreativitas siswa.
Dalam kehidupan sehari-hari, kita
tidak lepas dari aktifitas berbahasa (komunikasi). Komunikasi itu dapat menggunakan
bahasa lisan, dan dapat juga menggunakan bahasa tulis. Yang dimaksud dengan
komunikasi menggunakan bahasa lisan yaitu memberikan informasi secara langsung,
atau berhadap-hadapan dengan yang menerima informasi. Komunikasi lisan ini
dapat pula melalui telepon, radio dan televisi. Sedangkan komunikasi yang
menggunakan bahasa tulis yaitu memberikan informasi secara tidak langsung atau
tidak dapat berhadap-hadapan dengan si pemberi informasi. Sarana komunikasi
tertulis ini penggunaannya terdiri atas beberapa macam salah satunya adalah
surat. Jadi surat adalah sarana komunikasi tertulis yang dibuat seseorang, baik
atas nama pribadi maupun instansi atau organisasi untuk menyampaikan buah
pikirannya.
Pengertian tentang surat menurut
Soedjito dan Solchan TW (2001;11) “Surat adalah suatu alat atau komunikasi
tulis yang paling efisien, efektif ekonomis dan praktis”. Dibanding dengan alat
komunikasi lisan, surat mempunyai kelebihan-kelebihan. Apa yang dikomunikasikan
kepada pihak lain secara tertulis, misalnya berupa pengumuman, pemberitahuan,
keterangan dan sebagainya, akan sampai pada alamat yang dituju sesuai dengan
sumber aslinya. Tidak demikian halnya jika disampaikan secara lisan. Dengan
cara tersebut sering dialami perubahan-perubahan, terutama tentang isinya,
mungkin ditambah atau dikurangi, meskipun mungkin tidak disadari. Dengan
demikian surat sebagai alat komunikasi dapat digunakan untuk mengadakan
hubungan tertulis baik dalam hubungan intern maupun ekstern. Hubungan intern
ditunjukkan dengan hubungan antar pegawai atau pejabat dalam satu lingkup
instansi atau organisasi. Sedangkan hubungan ekstern merupakan hubungan yang
dilakukan di luar instansi atau organisasi.
Dari pendapat di atas disimpulkan
bahwa Menulis kreatif naskah drama satu babak dengan memper-hatikan kaidah
penulisan naskah drama atau surat resmi merupakan suatu media untuk
menyampaikan informasi. Informasi disampaikan secara tertulis dalam surat dapat
berbentuk pernyataan, pemberitahuan, pertanyaan, permintaan laporan dan
lain-lain. Informasi ini akan mencapai sasarannya jika bahasa yang digunakan
dapat mengungkapkan isi surat sesuai dengan sifat surat serta kedudukan penulis
dan pembaca Menulis kreatif naskah drama satu babak dengan memperhatikan kaidah
penulisan naskah drama atau dinas. Siswa Kelas VIII-H di SMPN 1 Balerejo
Tahun Pelajaran 2015/2016 mengalami penurunan prestasi belajar. Untuk
meningkatkan prestasi belajar sabagai guru menggunakan berbagai metode
pembelajaran.
Model pembelajaran CTL adalah model pembelajaran yang dirancang
untuk membantu siswa mempelajari pengetahuan prosedural dan deklaratif yang
terstruktur dengan baik dan dapat dipelajari selangkah demi selangkah.
Pembelajaran kontekstual CTL
adalah konsep belajar yang membantu guru mengaitkan antara kontekstual materi
yang diajarkannya dengan situasi dunia nyata siswa dan mendorong siswa membuat
hubungan antara pengetahuan yang dimilikinya dengan penerapan dalam kehidupan
sehari-hari.
Pendekatan CTL memiliki tujuh
komponen utama pembelajaran efektif, yakni kontruktivisme (contructivism),
bertanya (quistioninng), menemukan (inquiry), masyarakat belajar (learning
community,) pemodelan (modeling), dan penilaian sebenarnya ((authentic
assessment).
Berdasarkan uraian di atas,
penulis menetapkan judul penelitian ini dengan judul : Peningkatan Prestasi Belajar Bahasa
Indonesia Dengan Metode Contextual
Teaching And Learning Pada Siswa Kelas VIII-H SMPN 1 Balerejo Kabupaten
Madiun Semester Ganjil Tahun Pelajaran 2015/2016.
Identifikasi Masalah
1.
Bagaimanakah pendekatan yang cocok
dalam meningkatkan Materi Pembelajaran Menulis kreatif naskah drama satu babak
dengan memper-hatikan kaidah penulisan naskah drama?
2.
Apakah penggunaan model
pembelajaran CTL (contekstual teaching
and learning) dapat meningkatkan Materi Pembelajaran Menulis kreatif naskah
drama satu babak dengan memper-hatikan kaidah penulisan naskah drama?
Pembatasan Masalah
Dalam penelitian ini penulis membatasi masalah pada
upaya meningkatkan Materi Pembelajaran Menulis kreatif naskah drama satu babak
dengan memper-hatikan kaidah penulisan naskah drama melalui model pembelajaran
CTL (contekstual teaching and learning) siswa Kelas VIII-H SMP Negeri 1 Balerejo
Madiun tahun pelajaran 2015/2016.
Rumusan Masalah
Dari uraian latar belakang di
atas dapat penulis rumuskan masalah penelitian ini sebagai berikut : Adakah
peningkatan prestasi belajar bahasa Indonesia dengan model
pembelajaran CTL (contekstual teaching
and learning) siswa Kelas VIII-H SMP Negeri 1 Balerejo Madiun tahun
pelajaran 2015/2016”.
Tujuan Penelitian
Untuk mengetahui peningkatan
Materi Pembelajaran Menulis kreatif naskah drama satu babak dengan
memper-hatikan kaidah penulisan naskah drama dengan model pembelajaran CTL (contekstual teaching and learning) siswa
Kelas VIII-H SMP Negeri 1 Balerejo Madiun tahun pelajaran 2015/2016.
Manfaat Hasil Penelitian
1. Bagi Guru.
a. Untuk meningkatkan efisiensi dan
efektivitas pembelajaran bahasa dan sastra Indonesia pokok bahasan Materi
Pembelajaran Menulis kreatif naskah drama satu babak dengan memper-hatikan
kaidah penulisan naskah drama di kelas.
b.
Untuk menyempurnakan sistem pembelajaran
di sekolah.
c.
Sebagai acuan dalam memilih alternatif
model pembelajaran yang dapat diterapkan pada mata pelajaran tertentu.
2. Bagi Siswa.
a. Untuk meningkatkan motivasi belajar
bahasa dan sastra Indonesia khususnya Materi Pembelajaran Menulis kreatif
naskah drama satu babak dengan memper-hatikan kaidah penulisan naskah drama
siswa di dalam kelas.
b.
Untuk meningkatkan ketuntasan belajar
bahasa dan sastra Indonesia.
3. Bagi Sekolah
a. Mendapatkan informasi tentang model pembelajaran yang nantinya
dapat diterapkan ke kelas lain dan oleh
guru lain.
b. Dapat meningkatkan kualitas pembelajaran di sekolah.
Kajian Teori
Pengertian Naskah Drama
Naskah adalah
karangan yang masih ditulis dengan tangan yang belum diterbitkan. Menurut Imam
Suryono Drama adalah suatu aksi atau perbuatan (bahasa yunani). Sedangkan
dramatik adalah jenis karangan yang dipertunjukkan dalan suatu tingkah laku,
mimik dan perbuatan. Sandiwara adalah sebutan lain dari drama di mana sandi
adalah rahasia dan wara adalah pelajaran. Orang yang memainkan drama disebut
aktor atau lakon. Menurut Molton drama adalah hidup yang dilukiskan dengan
gerak (life presented in action). Menurut Ferdinand Brunetierre drama haruslah
melahirkan kehendak dengan action. Menurut Baltazhar Vallhagen drama adalah
kesenian melukiskan sifat dan sikap manusia dengan gerak. Menurut Sendarasik
naskah drama merupakan bahan dasar sebuah pementasan dan belum sempurna
betuknya apabila belum dipentaskan. Naskah drama juga sebagai ungkapan
pernyataan penulis (play wright) yang berisi nilai-nilai
pengalaman umum juga merupakan ide dasar bagi actor.
Berdasarkan
pengertian diatas naskah drama dapat diartikan suatu karangan atau cerita yang
berupa tindakan atau perbuatan yang masih berbentuk teks atau tulisan yang
belum duterbitkan (pentaskan).
1. Menuru
KBBI naskah adalah karanagn yang masih ditulis dengan tangan yang belum
diterbitkan
2. Menurut
Imam Suryono Drama adalah suatu aksi atau perbuatan (bahasa yunani). Sedangkan dramatik
adalah jenis karangan yang dipertunjukkan dalan suatu tingkah laku, mimik dan
perbuatan. Sandiwara adalah sebutan lain dari drama di mana sandi adalah
rahasia dan wara adalah pelajaran. Orang yang memainkan drama disebut aktor
atau lakon
3. Menurut
Molton drama adalah hidup yang dilukiskan dengan gerak (life presented in
action).
4. Menurut
Ferdinand Brunetierre drama haruslah melahirkan kehendak dengan action.
5. Menurut
Baltazhar Vallhagen drama adalah kesenian melukiskan sifat dan sikap manusia
dengan gerak.
6.
Menurut Sendarasik naskah drama merupakan
bahan dasar sebuah pementasan dan belum sempurna betuknya apabila belum
dipentaskan. Naskah drama juga sebagai ungkapan pernyataan penulis (play
wright) yang berisi nilai-nilai pengalaman umum juga merupakan ide
dasar bagi actor.
Berdasarkan pengertian
diatas naskah drama dapat diartikan suatu karangan atau cerita yang berupa
tindakan atau perbuatan yang masih berbentuk teks atau tulisan yang belum
duterbitkan (pentaskan).
1. Jenis-jenis Drama
Secara sederhana drama
dapat dibagi dalam berbagai bentuk. Pembagian secara umum ditijau dari cerita
dan gaya bercerita adalah:
·
Drama tragedi
·
Drama yang melukiskan kisah duka atau
kejadian pahit sedih yang amat dalam atau yang disebut juga yang aktor utama
mati
·
Drama komedi
·
Drama ringan yang biasanya bercerita
tentaang yang kucu-lucu yang bersifat menghibur, menyindir, penuh sloroh dan
berakhir dengan kebahagiaan.
·
Tragi komedi
·
Berupa drama gabugan dari tragi dan
komedi
·
Melo drama
·
Lakuan tragedy yang berlibih-lebihan.
·
Dagelan
·
Jenis drama murahan atau dikatakan juga
dengan komedi picisan (biasanya naskah drama ini diiringi musik riang)
·
Opera atau operet
·
Dialog yang diiringi dengan musik yang
didalamnya dimasukan nyayian atau lagu.
·
Pantomim
·
Pantomim adalah drama yang ditampilkan
dalam bentuk gerakan tubuh atau bahasa isyarat tanpa pembicaraan.
·
Tablau
·
Tablau adalah drama yang mirip pantomim
yang dibarengi oleh gerak-gerik anggota tubuh dan mimik wajah pelakunya.
·
Passie
·
Passie adalah drama yang mengandung unsur
agama / relijius.
·
Wayang
2. Unsur Pembangun Drama
a. Unssur intinsik adalah
unsur dalam yang tidak tampak. Dalam intrinsik ada :
1) Tema
adalah ide pokok yang disampaikan dari sebuah cerita. Sebuah tema tidak
terlepas dari manusia dan kehidupan.
2) Alur/
plot yaitu jalan cerita atau kerangka dari awal hingga akhir yang merupakan
jalinan konfelik antara daua tokoh yang berlawanan. Unsur-unsur plot ini
meliputi hal-hal berikut :
a)
Exposition atau
pelukisaan awal cerita
Dalam tahap ini pembaca diperkenalkan
dengan tokoh-tokoh drama dengan watak masing-masing. Pembaca mulai mendapat
gambaran tentang lakon yang dibaca.
b)
Komplikasi atau
pertingkaan awal
Dalam tahap ini pembaca mulai mendapatkan
gambaran pertikaian atau konflik yang baru muncul
c)
Klimaks atau
puncak cerita
Pada tahap ini konflik sudah mencapai
titik puncak atau pengawaatan dalam cerita.
d)
Resolusi atau
penyelesaian atau falling action
Dalam tahap ini konflik mulai mereda atau
menurun
e)
Denoument atau
keputusan
Tahap ini pembaca mendapatkan sebuah
penyelisaan dari konflik-konflik yang terjadi disebuah cerita yang menjadi
akhir sebuah cerita.
3)
Penokohan
Susunan tokoh adalah
daftar tokoh-tokoh yang berperan dalam drama itu.
a) Tokoh
antagonis adalah tokoh penentang arus cerita
b) Protagonis
adalah tokoh yang mendukung cerita
c) Tritagonis
adalah tokoh ppembantu.
4) Setting
Setting atau tempat kejadian cerita sering
pula disebut latar cerita. Setting biasanya meliputi tiga deminsi yaitu :
tempat, ruang, dan waktu.
Setting tempat tidak berdiri sendiri
berhubungan dengan waktu dan ruang misalnya, tempat dijawa, tahun berapa,
diluar rumah.
Setting waktu juga berarti apakah lakon
terjadi diwaktu siang, pagi, sore, atau malam hari.
5) Amanat
Seorang penulis drama sadar atau tidak
sadar pasti menyampaikan amanat dalam karyanya.
b.
Unsur ekstrinsik
Unsur intrinsik adalah
segala macam unsur yang berada diluar teks drama, tetapi ikut berperan dalam
keberadaan teks drama tersebut. Unsur-unsur tersebut adalah riwayat hidup
pengarang, falsafah hidup pengarang, dan unsur sosial budaya masyarakat yang
dianggap dapat memberikan masukan yang menunjang penciptaan karya drama
tersebut.
3. Cara Membuat Naskah Drama
Drama merupakan bentuk karya sastra yang dipentaskan untuk masyarakat. Oleh
karena itu,pada umumnya, cerita drama berisi tentang kejadian atau peristiwa
yang terjadi dalam masyarakat. Biasanya drama menceritakan tentang kemiskinan,
perjuangan hidup, serta cinta kepada orang tua. Supaya drama yang kita
tampilkan menarik, hal terpenting yang harus diperhatikan adalah naskah drama
itu sendiri. Naskah drama harus manarik sehingga pesan apa yang ingin kita
sampaikan dapat diterima dengan baik oleh para penonton.
·
Pemilihan
topik
Amatilah apa
yang sering terjadi di sekitar kita. itu bisa menjadi inspirasi untuk
menentukan topik dari drama yang akan kita tampilkan.
·
Penentuan
tokoh, latar, dan sudut pandang
Setelah kita
menentukan topik dari drama yang akan kita tampilkan, selanjutnya kita
merancang latar, tokoh cerita, dan sudut pandang
·
Tentukan
Plot cerita
Cara menulis
naskah drama mirip dengan cara menulis cerita lainnya. Untuk menentukan plot
cerita, kita harus menulis ringkasan cerita (yang terdiri dari bagian
awal, tengah, dan akhir). kemudian kita harus mengidentifikasikan unsur drama
yang kita tulis. Contoh ---> Tema: Kebiakn dibalas dengan kejahatan. Tokoh:
Budi (tokoh utama), Bapak Budi (sedang sakit), dan pemilik tas yang dicopet.
Latar: pasar kecamatan. Sudut pandang cerita: sudut pandang orang ketiga (Bu
Sastro).
·
Membuat
rancangan tulisan awal
Setelah semua
langkah diatas selesai, kemudian kita harus membuat keragka alur atau urutan
cerita. Pikirkan apa yang akan terjadi, kapan terjadi, dan bagaimana terjadi.
·
Tulis
naskah akhir
Setelah selesai
menulis naskah, koreksi lah dan lakukan perbaikan bila diperlukan. Kemudian
baca naskah drama tersebut dari awal sampai akhir. Setelah yakin tidak perlu
ada revisi, drama bisa ditampilkan. jangan lupa untuk memilih tokoh yang sesuai
dengan karakter dalam cerita drama tersebut.
Hakikat Pendekatan Kontekstual
Pendekatan
kontekstual (contekstual teaching and learning /CTL) merupakan kosep
belajar yang membantu guru mengaitkan antara meteri yang diajarkan dengan
situasi dunia nyata siswa dan mendorong siswa membuat hubungan antara
pengetahuan yang dimilikinya dengan penerapannya ke dalam kehidupan mereka
sebagai anggota keluarga dan masyarakat.
Dengan
konsep CTL, hasil pembelajaran diharapkan lebih bermakna bagi siswa. Proses
pembelajaran berlangsung alamiah dalam bentuk kegiatan siswa dan bekerja
mengalami, bukan transfer pengetahuan dari guru ke siswa.
Pembelajaran
kontekstual CTL adalah konsep belajar yang membantu guru mengaitkan
antara kontekstual materi yang diajarkannya dengan situasi dunia nyata siswa
dan mendorong siswa membuat hubungan antara pengetahuan yang dimilikinya dengan
penerapan dalam kehidupan sehari-hari.
Pendekatan
CTL memilih tujuh komponen utama pembelajaran efektif, yakni kontruktivisme (contructivism),
bertanya (questioninng), menemukan (inquiry), masyarakat belajar (learning
community,) pemodelan (modeling), dan penilaian sebenarnya ((authentic
assessment).
Kontruktivisme
(contructivism), merupakan landasan bepikir (filosof) pendekatan CTL,
yaitu bahwa pengetahuan dibangun oleh manusia sedikit demi sedikit, yang
hasilnya diperluas melalui konteks yang terbatas (sempit) dan tidak
sekonyong-konyong. Siswa perlu dibiasakan untuk mencari masalah, menemukan
sesuatu yang berguna bagi dirinya, dan bergelut dengan ide-ide. Dalam pandangan
kontruktivis, strategi memperoleh lebih diutamakan dibandingkan seberapa banyak
siswa memperoleh dan mengingat pengetahuan. Untuk itu, tugas guru adalah
memfasilitasi proses tersebut dengan (1) menjadikan pengetahuan bemakna dan
relevan bagi siswa, (2) memberi siswa kesempatan menemukan dan menerapkan
idenya sendiri, dan (3) menyadarkan siswa agar menerapkan strategi mereka
sendiri dalam belajar. Dalam pembelajaran menulis (mengarang) kegiatan yang
dilakukan adalah memberikan berbagai gambar seri yang berbentuk sebuah cerita
dan siswa diminta mengembangkan sendiri sesuai dengan pengalaman atau
pengetahuann yang dimilikinya.
Inquiry
(menemukan)
merupakan bagian inti dari kegiatan pembelajaran berbasis CTL. Pengetahuan dari
terampil diperoleh siswa diharapkan bukan hasil mengingat seperangkat fakta,
tetapi hasil dari menemukan sendiri. Guru harus selalu merancang kegiatan yang
merujuk pada kegiatan menemukan, apa pun meteri yang diajarkannya. Siklus
inkuiri meliputi (1) observasi (observation), (2) bertanya (question)
(3) mengajukan dugaan (hipotesis), (4) pengumpulan data (data gathering), dan (5) penyimpulan (conclution).
Dalam pembelajaran menulis (mengarang) kegiatan ini bisa dilakukan dengan
memberikan gambar-gambar berseri urutan diacak, dan siswa diminta menemukan
sendiri urutan gambar tersebut hingga membentuk suatu cerita yang baik.
Questioning
(bertanya) merupakan
awal dari pengetahuan yang dimiliki seseorang, merupakan strategi utama
pembelajaran yang berbasis CTL. Bertanya dalam pembelajaran dipancing sebagai
kegiatan guru untuk mendorong, membimbing, dan menilai kemampuan berpikir
siswa. Bagi siswa, kegiatan bertanya merupakan bagian penting dalam
melaksanakan pembelajaran yang berbasis inquiri, yaitu menggali informasi,
mengkonfirmasikan apa yang sudah diketahui, dan mengarahkan perhatian pada
aspek yang belum diketahuinya. Dalam pembelajaran menulis (mengarang) kegiatan
bertanya dipancing dengan gambar-gambar yang menarik.
Konsep
learning community mengarahkan agar hasil pembelajaran diperoleh
dari kerja sama dengan orang lain. Hasil belajar yang diperoleh dari sharing
antara teman, antarkelompok, dan antara yang tahu ke yang belum tahu, di
ruangan ini, di kelas ini, di sekitar sini, juga orang-orang yang diluar sana,
semua anggota masyarakat belajar. Dalam kelas CTL, guru disarankan selalu
melaksanakan pembelajaran dalam kelompok-kelompok belajar. Siswa dibagi dalam
kelompok-kelompok yang anggotanya heterogen. Yang pandai mengajari yang lemah,
yang tahu memberi tahu yang belum tahu, yang cepat menangkap mendorong temannya
yang lambat, yang mempunyai gagasan serta memberi usul, dan seterusnya. Dalam
pembelajaran menulis (mengarang) siswa dibagi ke dalam kelompok berdasarkan
topik yang akan ditulis sesuai dengan gambar yang diberikan oleh guru.
Komponen
CTL selanjutnya adalah modeling (permodelan), artinya dalam sebuah
pembelajaran keterampilan atau pengetahuan tertentu, ada model yang bisa
ditiru. Model itu bisa berupa cara mengoperasikan sesuatu, cara melempar bola
dalam olah raga, contoh karya tulis, cara melafalkan bahasa Inggris dan
sebagainya. Dalam pembelajaran menulis (mengarang) model yang diberikan guru
dapat berupa karangan hasil pengembangan dari gambar yang ada.
Reflection (refleksi)
adalah cara berpikir tentang apa yang baru dipelajari atau berpikir ke dalam
tentang apa-apa yang sudah kita lakukan di masa lalu. Siswa mengendapkan apa
yang baru dipelajarinya sebagai struktur pengetahuan yang baru diterima.
Assessment adalah proses
pengumpulan berbagai data yang bisa memberikan gambaran perkembangan belajar
siswa. Gambaran perkembangan belajar siswa perlu diketahui oleh guru agar bisa
memastikan bahwa siswa mengalami proses pembelajaran dengan benar. Karena assessment
menekankan proses pembelajaran, maka data yang dikumpulkan harus diperoleh
dari kegiatan nyata yang dikerjakan siswa pada saaat melakukan proses
pembelajaran.
Kerangka Pikir Penelitian
Menulis adalah keterampilan menggunakan bahasa
secara tertulis untuk menyampaikan informasi tentang sesuatu sehingga terjadi
komunikasi secara tidak langsung. Menulis merupakan kegiatan yang produktif dan
ekspresif.
Pengertian tentang surat menurut Soedjito dan Solchan TW.(2001:11) adalah
suatu alat atau komunikasi tulis yang paling efisien, efektif ekonomis dan
praktis. Dibanding dengan alat komunikasi lisan, surat mempunyai
kelebihan-kelebihan. Apa yang dikomunikasikan kepada pihak lain secara tertulis,
misalnya berupa pengumuman, pemberitahuan, keterangan dan sebagainya, akan
sampai pada alamat yang dituju sesuai dengan sumber aslinya. Tidak demikian
halnya jika disampaikan secara lisan. Dengan cara tersebut sering dialami
perubahan-perubahan, terutama tentang isinya, mungkin ditambah atau dikurangi,
meskipun mungkin tidak disadari. Dengan demikian surat sebagai alat komunikasi
dapat digunakan untuk mengadakan hubungan tertulis baik dalam hubungan intern
maupun ekstern. Hubungan intern ditunjukkan dengan hubungan antar pegawai atau
pejabat dalam satu lingkup instansi atau organisasi. Sedangkan hubungan ekstern
merupakan hubungan yang dilakukan di luar instansi atau organisasi.
Menulis kreatif naskah drama satu babak dengan
memperhatikan kaidah penulisan naskah drama merupakan suatu media untuk
menyampaikan informasi. Informasi disampaikan secara tertulis dalam surat dapat
berbentuk pernyataan, pemberitahuan, pertanyaan, permintaan laporan dan
lain-lain. Informasi ini akan mencapai sasarannya jika bahasa yang digunakan
dapat mengungkapkan isi surat sesuai dengan sifat surat serta kedudukan penulis
dan pembaca surat resmi atau dinas.
Pendekatan kontekstual CTL merupakan konsep
belajar yang membantu guru mengaitkan antara meteri yang diajarkan dengan
situasi dunia nyata siswa dan mendorong siswa membuat hubungan antara
pengetahuan yang dimilikinya dengan penerapannya ke dalam kehidupan mereka
sebagai anggota keluarga dan masyarakat.
Hipotesis
Tindakan
Ada Peningkatan Prestasi Belajar Bahasa Indonesia
Dengan Metode Contextual Teaching And
Learning Pada Siswa Kelas VIII-H SMPN 1 Balerejo Kabupaten Madiun Semester
Ganjil Tahun Pelajaran 2015/2016.
METODE PENELITIAN
Setting Penelitian
Setting atau konteks akan menjelaskan
tentang lokasi sekolah, kelas, mata pelajaran, waktu, karakteristik sekolah,
karakteristik subjek penelitian (siswa), dan karakteristik peneliti.
Penelitian ini dilaksanakan di Kelas VIII-H SMP
Negeri 1 Balerejo Madiun tahun pelajaran 2015/2016 yang berjumlah 31 siswa, Kehadiran guru dan siswa di sekolah
rata-rata cukup tinggi. Subjek peneliti adalah guru mata pelajaran bahasa
Indonesia yang juga sebagai observer (kolaborator).
Kondisi siswa Kelas
VIII-H SMP Negeri 1 Balerejo Madiun tahun pelajaran 2015/2016 kebanyakan berasal dari daerah dengan
mayoritas siswa berasal dari keluarga dengan keadaan ekonomi yang kurang mampu
dan kebanyakan dari kalangan menengah ke bawah. Bahkan tidak
sedikit dari siswa adalah siswa yang berasal dari keluarga tidak mampu. Dari
kondisi inilah menyebabkan perhatian orang tua terhadap anak sangatlah kurang.
Kurangnya perhatian orang tua ini juga menyebabkan kurangnya minat belajar pada
siswa.
Pendekatan yang digunakan dalam
penelitian ini adalah pendekatan kuantitatif, dengan jenis penelitian tindakan.
Dalam penelitian ini peneliti
berkolaborasi dengan guru bahasa Indonesia yang lain serta dengan kepala
sekolah. Peneliti terlibat langsung dalam penelitian mulai dari awal sampai
penelitian berakhir. Peneliti berusaha melihat, mengamati, merasakan,
menghayati, merefleksi dan mengevaluasi kegiatan pembelajaran yang berlangsung.
Pada penelitian ini, peneliti
sebagai instrumen penelitian. Oleh karena itu pelaksanaan penelitian ini
menuntut kehadiran peneliti secara penuh di lapangan. Peneliti bertindak sebagai perencana,
pengumpul data, penganalisis data, penafsir data dan sebagai pelapor hasil
penelitian.
Siklus Penelitian
Siklus penelitian ini terdiri atas
empat tahap dalam dua siklus, yang
meliputi (1) perencanaan (planning),
(2) pelaksanaan (acting), (3)
pengamatan (observing), dan (4)
refleksi (reflecting) serta perencanaan kembali. Yang diuraikan
dalam siklus hanya bagian yang diubah atau dimodifikasi melalui penelitian
tindakan, bukan seluruh proses pembelajaran.
Adapun
tahap-tahap penelitian yang peneliti lakukan adalah sebagai berikut:
1.
Rencana tindakan (Planing)
Rencana tindakan adalah rencana pembelajaran dengan model
pembelajaran CTL dengan pengelompokan siswa menjadi beberapa kelompok. Sebelum
pembelajaran dilaksanakan terlebih dahulu menyusun skenario pembelajaran,
pembuatan lembar kerja siswa (LKS). Selain itu dibuat lembar penilaian untuk
mengamati keterampilan siswa dalam Materi Pembelajaran Menulis kreatif naskah
drama satu babak dengan memper-hatikan kaidah penulisan naskah drama.
2.
Pelaksanaan tindakan (Acting)
Berdasarkan rencana tindakan yang
telah tersusun maka pelak-sanaan tindakan
adalah sebagai berikut :
a.
Melakukan pengelompokan siswa menjadi
beberapa kelompok
b.
Melakukan tahap eksplorasi, yaitu guru
memberi contoh langsung pembuatan Menulis kreatif naskah drama satu babak
dengan memper-hatikan kaidah penulisan naskah drama.
c.
Melakukan tahap pengenalan konsep, yaitu
siswa membuat Menulis kreatif naskah drama satu babak dengan memper-hatikan
kaidah penulisan naskah drama dan
melakukan diskusi serta tanya jawab
d.
Melakukan tahap penerapan konsep, yaitu
pembahasan soal tugas dan memberikan masalah yang berkaitan dengan Menulis
kreatif naskah drama satu babak dengan memper-hatikan kaidah penulisan naskah
drama.
3.
Observasi (Observing)
Observasi dilakukan sambil melaksanakan
tindakan I. observasi bertujuan untuk mengetahui tentang proses pelaksanaan
pembelajaran CTL dan untuk mendapatkan data tentang aspek mutu pembelajaran
siswa. Sedangkan untuk mengetahui jalannya proses pembelajaran dilakukan pemantauan berupa catatan lapangan
atau rekaman data. Observasi dilakukan terhadap siswa dan guru dalam proses
beljar mengajar.
4.
Analisis dan refleksi (Reflekting)
Berdasarkan data yang diperoleh
setelah pelaksanaan tindakan, maka data tersebut diolah atau dianalisa. Kemudian
diperoleh masukan untuk melakukan refleksi. Analisis dilakukan terhadap
data-data dan pemantauan proses pembelajaran. Hasil refleksi digunakan sebagai
bahan untuk menyusun tindakan pada siklus berikutnya.
Modifikasi
atau perubahan secara total jarang dilakukan dalam penelitian tindakan yang
berskala kelas karena bagaimanapun sistem pendidikan secara umum masih belum
berubah.
Perlakuan pada siklus berikutnya
(yang satu) harus berbeda secara jelas dari siklus sebelumnya (yang lain). Jika
yang berbeda hanya topik, sementara perlakuannya masih sama, berarti siklus itu
masih sama, tak dapat dinamakan siklus baru.
Siklus akan terus dilanjutkan dengan siklus berikutnya sampai masalah
terpecahkan.
Dalam penelitian tindakan selama ini
banyak siklus yang bersifat semu, tidak sesuai dengan kaidah yang sudah
baku.
1. Dalam siklus diuraikan semua proses
pembelajaran, sehingga tidak dapat dilihat bagian yang sebenarnya sedang
diteliti. Seolah-olah seluruh proses pembelajaran diubah secara total melalui
penelitian tindakan, dan sebelumnya pembelajaran berlangsung secara
tradisional, buruk, dan di bawah standar.
2. Tidak jelas apakah perlakuan dalam
suatu siklus dilakukan secara terus menerus selama periode tertentu, sampai
data pengamatan bersifat cukup (menunjukkan pola yang menetap) dan diperoleh
dari berbagai sumber (triangulasi).
3. Siklus dilakukan tidak berdasarkan
refleksi dari siklus sebelumnya. Ada siklus yang dilakukan secara tendensius:
siklus pertama dengan metode ceramah, dan siklus kedua dengan eksperimen, hanya
ingin menunjukkan bahwa metode eksperimen adalah yang terbaik. Metode harus
disesuaikan dengan karakteristik materi pelajaran. Untuk materi pertama boleh
jadi justru metode ceramah yang lebih cocok.
Penelitian
ini dilaksanakan dalam 2 siklus yaitu siklus I dan siklus II. Setiap siklus dilaksanakan 2 x 40 menit.
Teknik Pengumpulan Data Dan
Instrumens Penelitian
Untuk mengumpulkan data penelitian
digunakan lembar kegiatan siswa (LKS) untuk memudahkan siswa dalam melaksanakan
kegiatan, lembar observasi untuk memperoleh data tentang aktivitas siswa selama
proses pembelajaran dan lembar penilaian aspek kognitif, afektif dan psikomotor
siswa.
Hasil prestasi belajar siswa pada Materi
Pembelajaran Menulis kreatif naskah drama satu babak dengan memper-hatikan kaidah
penulisan naskah drama akan dikemukakan dalam bentuk tabel berikut ini.
Teknik Analisis Data
Teknik analisis
data yang digunakan adalah reduksi data atau pemisahan masing-masing indikator,
paparan data atau menguraikan data hasil analisis, display data atau
memperlihatkan hasilnya kepada siswa, penarikan kesimpulan, verifikasi dan
refleksi.
Penarikan kesimpulan penelitian dilaksanakan
berdasarkan data hasil pengamatan keaktifan siswa dan perubahan perilaku siswa
selama belajar dengan pembelajaran CTL, tema hubungan atau hal-hal yang sering
timbul. Selanjutnya dilakukan pemaknaan atau verifikasi sehingga diperoleh
kesimpulan akhir. Hasil kesimpulan akhir dilakukan refleksi untuk menentukan
atau menyusun rencana tindakan berikutnya.
Agar mendapat gambaran yang jelas, maka teknik
statistik yang digunakan dengan rumus mean (rata-rata), yaitu: M = 
Keterangan: M = Nilai rata-rata
∑ x = Jumlah nilai siswa
N = Jumlah siswa
Hasil
Penelitian
Deskripsi Data
Teknik pengumpulan data yang dimaksud adalah, tes,
dan observasi. Untuk menganalisis lebih lanjut tentang Materi Pembelajaran
Menulis kreatif naskah drama satu babak dengan memper-hatikan kaidah penulisan
naskah drama siswa Kelas VIII-H SMP
Negeri 1 Balerejo Madiun tahun pelajaran 2015/2016, maka tolok
ukur yang menjadi acuan pengukuran adalah nilai tes yang dilakukan penulis
sepanjang penelitian ini berkontekstual. Nilai tes ini juga dipengaruhi oleh
faktor guru dalam melaksanakan PBM serta partisipasi wali murid di rumah antara
lain dalam memberikan motivasi bimbingan belajar.
Berdasarkan hasil dialog dengan guru Kelas VIII-H, dan hasil observasi pendahuluan pada waktu
pembelajaran Materi Pembelajaran Menulis kreatif naskah drama satu babak dengan
memper-hatikan kaidah penulisan naskah drama. Disepakati bahwa masalah kelas
perlu segera diatasi dalam usaha penelitian ini adalah meningkatkan pemahaman
siswa.
Siklus 1
a.
Perencanaan pada siklus I
Pada pembelajaran siklus ini
siswa diharapkan mempunyai kemampuan antara lain :
1) Pemilihan kata, penggunaan
ejaan.
2) Penggunaan tanda baca, dan
bentuk surat
b. Pelaksanaan Tindakan pada siklus I
Pada pertemuan siklus I ini,
pembelajaran Materi Pembelajaran Menulis kreatif naskah drama satu babak dengan
memper-hatikan kaidah penulisan naskah drama dengan pembelajaran kontekstual
dilaksanakan dengan langkah-langkah sebagai berikut :
1) Guru
melakukan apersepsi. Beberapa siswa masih merasa asing dan ragu- ragu menjawab
pertanyaan guru.
2) Guru
memberikan contoh Menulis kreatif naskah drama satu babak dengan memper-hatikan
kaidah penulisan naskah drama kepada siswa, siswa Materi Pembelajaran Menulis
kreatif naskah drama satu babak dengan memper-hatikan kaidah penulisan naskah
drama, setelah Materi Pembelajaran Menulis kreatif naskah drama satu babak
dengan memper-hatikan kaidah penulisan naskah drama siswa baru menanyakan
kepada guru.
3) Setelah
siswa semua melaksanakan tugas, guru mendiskusikan isi Menulis kreatif naskah
drama satu babak dengan memper-hatikan kaidah penulisan naskah drama (Pemilihan
kata, penggunaan ejaan, penggunaan tanda baca, dan bentuk surat).
4) Sebelum
pembelajaran diakhiri, guru menanyakan kepada siswa hal-hal yang belum jelas
dari materi tersebut. Pembelajaran diakhiri dengan salam.
Dengan memperhatikan hasil test
Materi Pembelajaran Menulis kreatif naskah drama satu babak dengan
memper-hatikan kaidah penulisan naskah drama
menunjukkan masih banyak siswa yang merasa kesulitan dalam Materi Pembelajaran Menulis
kreatif naskah drama satu babak dengan memper-hatikan kaidah penulisan naskah
drama, didapat sebelum diadakan penelitian rata-rata hasil test Materi
Pembelajaran Menulis kreatif naskah drama satu babak dengan memper-hatikan
kaidah penulisan naskah drama sebesar 61.5 dan pada
siklus I mengalami peningkatan yaitu sebesar 76,48 (41,94%) dan belum memenuhi SKBM yaitu
minimal 78%.
Maka perlu diadakan penelitian ke siklus berikutnya.
c.
Observasi Pada
Siklus I
Peneliti melakukan pengamatan
dalam pelaksanaan pembelajaran berfokus pada Materi Pembelajaran Menulis kreatif
naskah drama satu babak dengan memper-hatikan kaidah penulisan naskah
drama dengan pembelajaran kontekstual.
Hasil observasi guru dan pengamatan siswa pada tindakan kelas siklus I
Dari data observasi menunjukkan
bahwa kemampuan siswa dalam Materi Pembelajaran Menulis kreatif naskah drama
satu babak dengan memper-hatikan kaidah penulisan naskah drama masih berada
pada kriteria cukup. Pada siklus pertama ini siswa terlihat kurang semangat dan
kurang aktif dalam kegiatan diskusi.
d.
Refleksi Siklus I
Hasil refleksi
yang berupa temuan suatu upaya untuk membantu Materi Pembelajaran Menulis
kreatif naskah drama satu babak dengan memper-hatikan kaidah penulisan naskah
drama dengan pembelajaran kontekstual dan permasalahan – permasalahan yang
muncul di lapangan, dituangkan kembali ke dalam rancangan tindakan berikutnya, dan
selanjutnya melaksanakan tindakan refleksi terhadap rancangan yang telah
disusun kembali sebelum dituangkan.
Berdasarkan
hasil refleksi yang dilakukan guru dan peneliti dapat disimpulkan bahwa ada
beberapa permasalahan yang muncul pada saat proses pelaksanaan tindakan kelas
pada siklus I dan sudah disepakati oleh guru dan peneliti untuk mengadakan
perbaikan.
1)
Pemberian penjelasan mengenai
pembelajaran kontekstual, dan diharapkan guru menguasai apa yang harus
disampaikan dalam kegiatan awal supaya pembelajaran lebih efektif.
2)
Setiap tahap kegiatan diusahakan sesuai
waktu yang di rencanakan supaya semua dapat berjalan dengan lancar.
3)
Perlu dijelaskan lagi mengenai
pengertian Materi Pembelajaran Menulis kreatif naskah drama satu babak dengan
memper-hatikan kaidah penulisan naskah drama dan kegunaanya sehingga siswa
semakin jelas dan mudah Materi Pembelajaran Menulis kreatif naskah drama satu
babak dengan memper-hatikan kaidah penulisan naskah drama.
4)
Guru mendorong siswa untuk mengeluarkan
pendapatnya.
5)
Hal-hal yang dirasa belum dilaksanakan
oleh guru dengan sempurna akan diperbaiki pada siklus berikutnya.
Siklus II
a. Perencanaan Tindakan Siklus II
Perencanaan
tindakan siklus II dilakukan sesuai dengan hasil refleksi pada tindakan pada
siklus I. Model pembelajaran Materi Pembelajaran Menulis kreatif naskah drama
satu babak dengan memper-hatikan kaidah penulisan naskah drama pada siklus II
dengan pembelajaran kontekstual. Sebelum memprakarsai suatu diskusi guru
menjelaskan pengertian pembelajaran kontekstual dilanjutkan memberikan
penjelasan mengenai Materi Pembelajaran Menulis kreatif naskah drama satu babak
dengan memper-hatikan kaidah penulisan naskah drama. Dalam pembelajaran ini
siswa berdiskusi secara kelompok, guru memberikan motivasi pada siswa untuk
memunculkan gagasanya.
b. Pelaksananan Tindakan Siklus II
Pada pertemuan siklus II ini,
pembelajaran Materi Pembelajaran Menulis kreatif naskah drama satu babak dengan
memper-hatikan kaidah penulisan naskah drama dengan pembelajaran kontekstual
dilaksanakan dengan langkah-langkah sebagai berikut :
1) Guru membagi
kelas menjadi beberapa 7 kelompok.
2) Guru
melakukan apersepsi. Beberapa siswa sudah tidak merasa asing dan tidak ragu-
ragu menjawab pertanyaan guru.
3) Guru memberikan contoh Menulis kreatif naskah
drama satu babak dengan memper-hatikan kaidah penulisan naskah drama kepada
siswa, siswa Materi Pembelajaran Menulis kreatif naskah drama satu babak dengan
memper-hatikan kaidah penulisan naskah drama, setelah Materi Pembelajaran
Menulis kreatif naskah drama satu babak dengan memper-hatikan kaidah penulisan
naskah drama siswa baru menanyakan kepada guru.
4) Setelah siswa
semua melaksanakan tugas, guru mendiskusikan isi Menulis kreatif naskah drama
satu babak dengan memper-hatikan kaidah penulisan naskah drama (Pemilihan kata,
penggunaan ejaan, penggunaan tanda baca, dan bentuk surat).
5) Sebelum pembelajaran diakhiri, guru menanyakan
kepada siswa hal-hal yang belum jelas dari materi tersebut. Pembelajaran
diakhiri dengan salam.
Pada siklus kedua ini,
pembelajaran sudah sesuai dengan rencana pelaksanaan tindakan yang telah
disusun. Hampir semua tidak mengalami kesulitan penulisan ejaan,
pemilihan kata, penulisan kata, penulisan bentuk surat. Peneliti
berpendapat bahwa hal ini dimungkinkan pembelajaran kontekstual sudah biasa
dilaksanakan. Untuk itu pada tindakan pembelajaran selanjutnya media
pembelajaran dipersiapkan lebih mantap lagi. Hasil prestasi belajar siswa pada
siklus ketiga penulis kemukakan dalam tabel berikut ini.
Dengan memperhatikan hasil test
Materi Pembelajaran Menulis kreatif naskah drama satu babak dengan
memperhatikan kaidah penulisan naskah drama
menunjukkan hampir
semua siswa berusaha
untuk dapat Materi Pembelajaran Menulis kreatif naskah drama satu babak dengan
memper-hatikan kaidah penulisan naskah drama, didapat rata-rata hasil test
Materi Pembelajaran Menulis kreatif naskah drama satu babak dengan
memperhatikan kaidah penulisan naskah drama pada siklus II mengalami peningkatan
yaitu sebesar 83.81 (93,55%) dan
sudah memenuhi SKBM yaitu minimal 78%.
c. Observasi Siklus II
Data kegiatan observasi menunjukkan
bahwa siswa terlihat semangat dalam mengikuti pelajaran. Hampir semua siswa
sudah berusaha untuk dapat penulisan naskah drama sesuai dengan kaidah
penulisan naskah drama yang sudah ditentukan, namun masih ada siswa yang
mengalami kesulitan dalam pemilihan kata. Keaktifan siswa baik pada saat
berdiskusi.
d. Refleksi Siklus II
Pada Siklus II ini peneliti dan
guru bahasa Indonesia mendiskusikan hasil pengamatan, melakukan evaluasi dan
interpretasi selama proses tindakan berlangsung.
Berdasarkan hasil refleksi yang
dilaksanakan pada siklus II, dapat disimpulkan bahwa masih ada beberapa
permasalahan yang muncul pada saat proses pelaksanaan tindakan. Guru dan
peneliti sepakat untuk mengakhiri penelitian tindakan karena dirasa sudah ada
perubahan yang signifikan.
Analisis Data
Berdasarkan hasil pengamatan dan hasil evaluasi
belajar siswa menunjukkan bahwa dengan menggunakan pembelajaran kontekstual
dapat membantu siswa dalam Materi Pembelajaran Menulis kreatif naskah drama
satu babak dengan memper-hatikan kaidah penulisan naskah drama .
Data menunjukkan sebelum diadakan penelitian nilai
rata-rata yaitu 61.5, pada siklus I nilai rata-rata mencapai 76,48,
sedang hasil prestasi belajar siklus II nilai rata-rata mencapai 83.81,
berarti ada kenaikan pada tiap siklusnya. Hal ini dapat dilihat pada tabel
berikut:
Pengujian Hipotesis
Dari hasil analisis, observasi siswa dan
observasi guru serta mengacu pada hipotesis tindakan maka dapat disimpulkan
bahwa ada peningkatan Materi Pembelajaran Menulis kreatif naskah drama satu
babak dengan memper-hatikan kaidah penulisan naskah drama dengan model
pembelajaran CTL (contekstual teaching
and learning) siswa Kelas VIII-H SMP Negeri 1 Balerejo Madiun tahun pelajaran 2015/2016. Untuk
membandingkan penilaian masing-masing siklus digunakan tabel sebagai berikut:
Tabel Perbandingan Nilai
Rata-rata Tiap Siklus
|
|
Siklus I
|
Siklus
II
|
|
Rata-rata
|
76,48
|
83.81
|
|
Ketuntasan
|
41,94%
|
93,55%
|
Kesimpulan
1.
Ada peningkatan prestasi belajar Materi
Pembelajaran Menulis kreatif naskah drama satu babak dengan memperhatikan
kaidah penulisan naskah drama dengan menggunakan model pembelajaran kontekstual
siswa Kelas VIII-H SMP Negeri
1 Balerejo Madiun tahun pelajaran 2015/2016. Hal ini
didasarkan pada nilai rata-rata sebelum diadakan penelitian 61.5
meningkat pada siklus I
: 76,48 dan pada
siklus II menjadi 83.81.
2. Melalui model pembelajaran kontekstual ini dapat
menumbuhkan :
a.
Rasa senang siswa untuk belajar bahasa
Indonesia khususnya Materi Pembelajaran Menulis kreatif naskah drama satu babak
dengan memper-hatikan kaidah penulisan naskah drama.
b. Antusias siswa dalam kegiatan
pembelajaran
c. Keberanian dalam mengemukakan ide
d. Keaktifan siswa dalam mengikuti
pembelajaran
e. Sikap kritis terhadap setiap
permasalahan yang ada
f. Sikap demokratis
3.
Penelitian tindakan memberikan
pengalaman dan pengetahuan bagi guru dan model pembelajaran kontekstual sebagai
salah satu alternatif strategi pembelajaran yang efektif.
Saran-saran
1. Untuk meningkatkan aspek psikomotor dan aspek
kognitif siswa dalam belajar bahasa Indonesia, guru dapat menggunakan metode
pembelajaran kontekstual dalam
pelaksanaan pembelajaran di sekolah.
2. Pembelajaran kontekstual memerlukan dukungan dari
pihak sekolah dalam hal penyediaan sarana dan prasarana yang dibutuhkan karena
pembelajaran kontekstual memerlukan sarana berupa contoh-contoh yang ada di
sekolah.
3.
Agar pembelajaran lebih bermakna dan
dapat diingat lama oleh siswa, sebaiknya pembelajaran selalu dikaitkan dengan
kehidupan nyata siswa dan diupayakan guru meminimalkan kegiatan ceramah dan
mengoptimalkan siswa lebih banyak bekerja, menemukan dan berkomunikasi dengan
lingkungan sekitar
4.
Jika model pembelajaran kontekstual dipakai
dalam proses pembelajaran, sebaiknya sebelum siswa melakukan presentasi siswa
diwajibkan berkonsultasi (pembinaan) pada guru untuk pemantapan materi. Dengan
demikian diperlukan waktu ekstra dan kerelaan bagi guru.
5.
Penelitian ini dapat ditindaklanjuti sampai siklus
berikutnya sehingga dapat diperoleh hasil yang lebih baik.
6.
Karena bentuk penelitian tindakan kelas ini
memerlukan waktu yang relatif lebih lama maka dibutuhkan kesabaran dan
ketelatenan untuk mendapatkan hasil yang maksimal.
7.
Perlu diadakan penelitian selanjutnya,
untuk mengetahui pemanfaatan model pembelajaran dalam membantu siswa dalam
Materi Pembelajaran Menulis kreatif naskah drama satu babak dengan
memper-hatikan kaidah penulisan naskah drama dengan menggunakan subyek
penelitian yang lebih luas.
DAFTAR PUSTAKA
Ahmadi,
Muhsin. 1990. Strategi Belajar Mengajar Ketrampilan Berbahasa Dan Apresiasi Sastra.
Malang : YA3 Malang.
Depdikbud.
1989. Kamus Besar Bahasa Indonesia.
Jakarta: Balai Pustaka.
Depdikbud.1990. Buku Tata Bahasa Baku Bahasa Indonesia. Jakarta: Pusat Pembinaan
dan Pengembangan Bahasa
Depdikbud.1993. Kurikulum Pendidikan Dasar, Landasan, Program dan pengembangan. Jakarta: Depdikbud.
Depdiknas.2006.
Peraturan Menteri Pendidikan Nasional
Republik indonesia Nomor 22 tahun 200.
Hartoyo,
2000. Buku Praktis Bahasa Indonesia,
Jakarta. Depdiknas
Hartono,
Surjadi John. 1995. Pedoman Umum Bahasa
Indonesia Yang Disempurnakan. Surabaya: Indah.
Marjo, J.S.
1990. Surat Menyurat Lengkap. Semarang: CV. Aneka Umum.
Nurhayati,
Dewi dkk. 2004. Berbahasa Indonesis Untuk
Sekolah Menengah. Jakarta : Balai Pustaka.
Parlan. 2003.
Keterampilan Menulis. Semarang: CV.
Aneka Umum
Priyanti,
Endah Tri. 2002. Konsep
dan Penerapan Penelitian Tindakan Kelas . Malang : Fakultas Sastra
Soedjito. 1987. Surat Menyurat Resmi Bahasa Indonesia,
Bandung: Remaja Rosdakarya.
Tarigan, Henry Guntur. 1986. Menulis Suatu Keterampilan Berbahasa. Bandung : Angkasa.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar