PENERAPAN
METODE TUTORIAL SEBAYA DALAM
PEMBELAJARAN IPS UNTUK MENINGKATKAN
MOTIVASI DAN HASIL BELAJAR SISWA
KELAS
VIII A SMPN 2 PILANGKENCENG KABUPATEN
MADIUN
TAHUN
PELAJARAN 2015/2016
|
|
Oleh : Lasito, S.Pd
Guru SMP Negeri 2 Pilangkenceng Kabupaten Madiun
|
ABSTRAK
Kata kunci: tutorial
sebaya, motivasi siswa, hasil belajar siswa, pembelajaran IPS.
Permasalahan
dalam penelitian ini yaitu motivasi dan hasil belajar siswa kelas VIII A SMPN 2
Pilangkenceng pada mata pelajaran IPS
masih tergolong rendah. Maka dilakukan penelitian dengan menerapkan metode
pembelajaran tutorial sebaya dalam pembelajaran IPS, yang bertujuan untuk
mengetahui peningkatkan motivasi dan hasil belajar siswa kelas VIII A SMPN 2
Pilangkenceng setelah dilakukan tindakan.
Penelitian
ini merupakan penelitian tindakan kelas. Subjek penelitian adalah siswa kelas
VIII A SMPN 2 Pilangkenceng yang
berjumlah 32 siswa. Penelitian ini berlangsung selama dua siklus, dimana satu
siklusnya terdiri dari 2 pertemuan. Teknik pengumpulan data pada penelitian ini
untuk motivasi menggunakan observasi, angket, dan wawancara. Kemudian untuk
hasil belajar menggunakan tes hasil belajar. Teknis analisis data yang
digunakan adalah teknik analisis data kualitatif yang terdiri dari reduksi
data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan. Untuk keabsahan data digunakan
triangulasi teknik. Kriteria keberhasilan dalam penelitian ini adalah apabila
rata-rata persentase indikator motivasi siswa mencapai 60% dan apabila jumlah
siswa yang memenuhi KKM sudah mencapai 60%.
Hasil
penelitian dapat disimpulkan bahwa penerapan metode tutorial sebaya dapat
meningkatkan motivasi dan hasil belajar siswa dalam pembelajaran IPS di kelas
VIII A SMPN 2 Pilangkenceng . Hal ini
dibuktikan dengan adanya peningkatan rata-rata persentase indikator motivasi
dan peningkatan jumlah siswa yang mencapai KKM pada tiap siklusnya hingga
mencapai bahkan melampaui kriteria keberhasilan tindakan. Pada siklus I
rata-rata persentase indikator motivasi siswa berdasarkan observasi yaitu 56%
dan berdasarkan angket yaitu 59%. Pada siklus II persentase motivasi meningkat,
berdasarkan observasi menjadi 67%, dan berdasarkan angket menjadi 64%. Untuk
hasil belajar, pada siklus I siswa yang mencapai KKM sebanyak 32%, kemudian
meningkat menjadi 63% pada siklus II.
Latar Belakang Masalah
Pendidikan
merupakan hal yang penting dalam kehidupan, karena pendidikan sangat berperan
dalam pengembangan kualitas sumber daya manusia. Pendidikan membantu manusia
dalam mengembangkan keterampilan, seperti keterampilan baca tulis, menjahit,
otomotif, dan lain sebagainya. Pendidikan juga mengajarkan manusia tentang
norma dan nilai sosial dan cara memecahkan masalah dalam masyarakat. Pentingnya
pendidikan bagi kehidupan manusia menyebabkan pendidikan harus selalu
diperbaiki kualitasnya dari waktu ke waktu.
Indonesia
merupakan salah satu negara yang terus mencoba memperbaiki kualitas
pendidikannya. Salah satu upaya pemerintah untuk meningkatkan kualitas
pendidikan yaitu dengan memperbaiki aspek pembelajaran. Agar pembelajaran dapat
mencetak SDM yang berkualitas, pemerintah mencanangkan program PAKEM, PAIKEM,
dan lain sebagainya. Namun, masih banyak permasalahan yang terjadi dalam
kegiatan pembelajaran di Indonesia. Permasalahan pembelajaran yang terjadi di
Indonesia misalnya yaitu rendahnya motivasi dan hasil belajar siswa.
Sebuah
berita dalam Komapost daerah Agam mengatakan bahwa Kepala Dinas Pendidikan
Pemuda dan Olahraga (Disdikpora) Agam, mengingatkan semua kepala sekolah dan
jajarannya supaya meningkatkan pembinaan terhadap siswa karena ditemukan
banyaknya siswa yang bolos sekolah dan diamankan Satpol PP sampai menimbulkan
keprihatinan. Diakses dari (http://komapos.com/sumbar/agam/
1255-kasus-siswa-bolos-kadisdikpora-ingatkan-kepala-sekolah).
Siswa yang
lebih memilih bolos saat pembelajaran berlangsung menandakan bahwa motivasi
belajar siswa tersebut rendah. Siswa tidak mempunyai keinginan untuk belajar
dengan teman-temannya di kelas, dan lebih memilih bermain. Siswa tidak
mempunyai semangat untuk mencari ilmu, dan menganggap sekolah sebagai hal yang
tidak penting.
Rendahnya
motivasi belajar siswa juga dapat dilihat dari budaya mencontek siswa yang
tinggi. Istilah mencontek sangat populer dalam pendidikan Indonesia, hingga
Mendikbud harus membuat 20 macam soal UN untuk mengatasi permasalahan mencontek
saat UN berlangsung. Banyak cara yang digunakan oleh siswa agar berhasil
mencontek, misalnya yaitu menulis materi di kertas kecil, menulis materi di
telapak tangan, dan yang paling berani yaitu langsung membuka buku pelajaran
saat ujian berlangsung.
Siswa yang
senang mencontek menandakan bahwa motivasi belajar siswa tersebut rendah. Siswa
tidak bersungguh-sungguh dalam mengerjakan soal dan mengandalkan jawaban pada
temannya. Siswa tidak memiliki motivasi untuk mengerjakan soal sebaik mungkin
dan mendapatkan nilai yang optimal sesuai kemampuannya sendiri.
Banyaknya
siswa yang tidak lulus ujian mengindikasikan bahwa hasil belajar siswa rendah.
Kelulusan UN 2011 ditentukan murni dari nilai ujian nasional. Masih banyak
siswa yang tidak lulus dikarenakan nilai UN siswa tidak mencapai kriteria yang
ditentukan. Siswa tidak dapat mencapai tujuan instruksional pembelajaran
sehingga nilai ujiannya rendah.
Ternyata,
permasalahan dalam kegiatan pembelajaran juga terjadi di SMPN 2 Pilangkenceng , khususnya mata pelajaran IPS.
Berdasarkan pengamatan dan wawan- cara pada guru IPS dan siswa kelas VIII A di
SMPN 2 Pilangkenceng, ditemukan
per-masalahan seperti rendahnya motivasi dan hasil belajar siswa dalam
pembelajaran IPS. Siswa kelas VIII A sangat ribut saat pembelajaran IPS
berlangsung. Ketika pembe-lajaran akan dimulai, seluruh siswa yang berjumlah 32
anak ribut di kelas. Siswa tidak memperhatikan kedatangan guru, bercerita
dengan teman sebangku, berkejar-kejaran di dalam kelas, saling melempar kertas,
dan mencorat coret buku pelajaran. Siswa tenang setelah guru mengkondisikan.
Saat pembelajaran berlangsung siswa tidak memperhati-kan penjelasan guru,
bahkan ada satu siswa yang duduk bercerita dengan satu kaki di atas kursi dan
ada dua siswa yang terus bercerita sampai berkelahi.
Motivasi
belajar siswa kelas VIII A juga rendah, permasalahan ini terlihat ketika guru
menyuruh siswa untuk mengerjakan tugas siswa mengeluh malas pada guru, tiduran
di meja, dan enggan membaca soal. Saat waktu mengerjakan tugas habis, hanya 5
siswa yang tepat waktu mengumpulkan pada guru. 27 siswa yang lain mengeluh
belum selesai, kemudian mencontek pekerjaan teman, dan cepat-cepat mengumpulkan
pada guru.
Selain malas
mengerjakan soal, motivasi siswa yang rendah juga terlihat ketika guru
mempersilahkan siswa untuk bertanya, tidak ada satupun siswa yang mengajukan
pertanyaan pada guru. Saat diwawancarai, siswa mengaku bahwa enggan jika
disuruh bertanya pada guru karena malu di dengarkan oleh teman yang lain. Siswa
lebih memilih bertanya pada teman sebangku, karena merasa nyaman dan menurut
siswa jawaban yang diberikan oleh temannya lebih bisa diterima.
Permasalahan
dalam pembelajaran yang lainnya yaitu nilai ulangan mata pelajaran IPS kelas
VIII A kurang memuaskan. Guru yang kurang variatif dalam menggunakan metode
pembelajaran dapat menyebabkan motivasi dan hasil belajar siswa rendah. Siswa
cepat bosan dengan kegiatan yang tidak berubah di kelas, hanya diskusi dan
ceramah. Siswa yang bosan tidak dapat mencerna materi dengan baik sehingga
tidak dapat mencapai tujuan instruksional dengan maksimal. Pembelajaran menjadi
sia-sia karena tidak bisa memberikan hasil yang optimal pada siswa. Hasil
belajar siswa yang rendah akan menyebabkan kualitas lulusan rendah. Sehingga
tidak dapat bersaing dengan siswa-siswa sekolah lain saat ingin masuk ke
jenjang sekolah yang lebih tinggi dan tidak dapat bersaing dalam dunia kerja.
Berdasarkan
permasalahan yang telah diuraikan, perlu adanya upaya untuk meningkakan
kualitas kegiatan pembelajaran. Salah satu upaya yang dapat dilakukan oleh guru
yaitu dengan menggunakan metode pembelajaran variatif yang dapat meningkatkan
motivasi dan hasil belajar siswa. Banyak metode yang bisa digunakan oleh guru
pada saat mengajar IPS yang bertujuan untuk membuat siswa lebih termotivasi
saat belajar dan lebih memahami pembelajaran sehingga hasil belajarnya
meningkat. Metode-metode ini kebanyakan mengarah pada siswa yang menjadi subjek
dalam pembelajaran, peran guru hanya sebagai fasilitator yang memfasilitasi
kebutuhan siswa. Salah satu metode yang dapat digunakan untuk meningkatkan
motivasi dan hasil belajar siswa adalah metode tutorial sebaya. Saat belajar
dengan metode tutorial sebaya, siswa diberi penjelasan materi oleh teman
sebayanya, bukan oleh guru. Terdapat siswa yang merasa lebih nyaman saat diberi
penjelasan oleh temannya sendiri. Rasa nyaman ini akan membuat siswa lebih
memahami materi dan tidak merasa tegang saat belajar karena siswa cenderung
tidak malu untuk bertanya kepada temannya tentang materi yang masih
dibingungkan. Metode tutorial sebaya dapat menimbulkan persaingan dalam diri
siswa. Saat guru meminta beberapa siswa untuk mengajar temannya sendiri di
kelas maka akan muncul keinginan dari hati siswa yang tidak menjadi tutor untuk
lebih baik daripada tutornya. Keinginan untuk lebih baik ini akan menumbuhkan
motivasi siswa tersebut dalam belajar yang bertujuan agar bisa lebih unggul
hasil belajarnya atau setidaknya sejajar dengan temannya yang menjadi tutor.
Berdasarkan
uraian di atas, maka peneliti merasa perlu untuk melakukan Penelitian Tindakan
Kelas (PTK) yang berjudul “Penerapan Metode Tutorial Sebaya dalam Pembelajaran
IPS untuk Meningkatkan Motivasi dan Hasil Belajar Siswa Kelas VIII SMPN 2 Pilangkenceng Kabupaten Madiun ”.
Identifikasi Masalah
1.
Kurang variatifnya guru dalam menggunakan metode
mengajar.
2.
Siswa sangat ribut saat pembelajaran berlangsung.
3.
Rendahnya motivasi belajar siswa dalam mengikuti
pelajaran IPS.
4.
Belum maksimalnya hasil belajar siswa dalam mata
pelajaran IPS.
Kajian Pustaka
Pengertian Tutorial Sebaya
Seorang guru
dituntut untuk bisa menggunakan berbagai metode guna menunjang kegiatan
pembelajaran. Banyak sekali metode yang bisa digunakan, baik metode yang
menuntut siswa untuk bekerja secara individu maupun kelompok. Salah satu metode
yang dapat digunakan oleh guru dalam kegiatan pembelajaran adalah metode
tutorial sebaya. Tutorial sebaya yang dalam istilah bahasa Inggris sering
disebut dengan peer teaching merupakan metode yang mengajak siswa untuk
belajar dengan teman sebayanya. Menurut Syaiful Bahri Djamarah dan Aswan Zain
(2006: 25) disebut tutorial sebaya karena yang menjadi pengajar mempunyai usia
yang hampir sebaya dengan siswa yang diajar. Jadi, tutorial sebaya merupakan
metode yang memfasilitasi siswa untuk belajar dengan teman sebayanya, saat pembelajaran
siswa diajar oleh teman yang usianya hampir sebaya dengan siswa tersebut.
Nurul
Ramadhani Makarao (2009: 127) menjelaskan bahwa tutorial sebaya adalah metode
pengajaran yang memberi kesempatan pada siswa untuk mengajarkan dan berbagi
ilmu pengetahuan atau ketrampilan pada siswa yang lain.
Metode ini
dianggap efektif karena pada umumnya hubungan antara teman lebih dekat
dibandingkan hubungan antara guru dengan siswa. Metode tutorial sebaya
merupakan metode yang mengajak siswa untuk saling membantu, siswa yang pandai
dapat membantu siswa yang kesulitan dalam memahami materi. Siswa yang membantu
temannya dalam belajar disebut sebagai tutor. Seorang tutor bertugas untuk
mengajarkan materi kepada teman-temannya dimana materi yang disampaikan adalah
materi yang diberi oleh guru.
Langkah-Langkah
Metode Tutorial Sebaya
Sebelum
pembelajaran dengan metode tutorial sebaya dilakukan, guru sebaiknya melakukan
persiapan agar pembelajaran dengan metode ini berjalan dengan baik. Salah satu
persiapan yang harus dilakukan oleh guru adalah memilih siswa yang akan
dijadikan tutor. Terdapat peraturan dalam menentukan siswa yang akan dijadikan
tutor, agar metode tutorial sebaya ini dapat berjalan dengan lancar dan semua
tujuan pembelajaran tercapai dengan baik. Menurut Syaiful Bahri Djamarah dan
Aswan Zain (2006: 25) untuk menentukan siapa yang akan dijadikan tutor
diperlukan pertimbangan-pertimbangan tersendiri. Seorang tutor belum tentu
siswa yang paling pandai, yang penting diperhatikan siapa yang menjadi tutor
tersebut, yaitu:
a.
Dapat
diterima (disetujui) oleh siswa yang mendapat program perbaikan sehingga siswa
tidak mempunyai rasa takut atau enggan bertanya kepadanya.
b.
Dapat
menerangkan bahan yang diperlukan oleh siswa yang akan dibimbing.
c.
Tidak
tinggi hati, kejam atau keras hati terhadap sesama kawan.
d.
Mempunyai
daya kreativitas yang cukup untuk memberikan bimbingan, yaitu dapat menerangkan
pelajaran kepada kawannya.
Pekerjaan memilih tutor merupakan
tugas dari guru, namun tidak baik bila guru memutuskannya sendiri tanpa campur
tangan siswa yang akan dibimbing. Guru sebaiknya meminta persetujuan dari siswa
yang akan dibimbing tentang tutor yang akan mengajar siswa tersebut, dengan
begitu siswa menjadi lebih nyaman saat belajar dan merasa senang sehingga tidak
malas untuk mendengarkan atau bertanya pada tutornya. Siswa yang dijadikan
tutor sebaiknya adalah anak yang mampu berkomunikasi dengan baik dan memahami
materi yang akan diajarkan, agar dia mampu menerangkan materi dengan lancar
pada teman-temannya. Tutor yang baik adalah tutor yang memiliki kebaikan hati,
sabar mengajari teman-temannya, membantu teman-temannya saat menemukan
kesulitan, dan mampu memberi semangat pada teman-temannya agar mau belajar.
Hipotesis Tindakan
1.
Metode
pembelajaran tutorial sebaya dapat meningkatkan motivasi siswa dalam
pembelajaran IPS kelas VIII A SMP Negeri 2 Pilangkenceng.
2.
Metode
pembelajaran tutorial sebaya meningkatkan hasil belajar siswa dalam
pembelajaran IPS kelas VIII A SMP Negeri 2 Pilangkenceng.
Rumusan Masalah
1.
Bagaimana
penerapan metode tutorial sebaya dapat meningkatkan motivasi belajar siswa pada
mata pelajaran IPS di kelas VIII A SMP Negeri 2 Pilangkenceng?
2.
Bagaimana
penerapan metode tutorial sebaya dapat meningkatkan hasil belajar siswa pada
mata pelajaran IPS di kelas VIII A SMP Negeri 2 Pilangkenceng?
Tujuan Penelitian
1.
Mengetahui
peningkatan motivasi belajar siswa kelas VIII A pada mata pelajaran IPS melalui
penerapan metode pembelajaran tutorial sebaya.
2.
Mengetahui
peningkatan hasil belajar siswa kelas VIII A pada mata pelajaran IPS melalui
penerapan metode pembelajaran tutorial sebaya.
Manfaat
Penelitian
1.
Manfaat Teoretis
a.
Hasil
penelitian ini dapat bermanfaat untuk memberikan informasi mengenai metode
pembelajaran tutorial sebaya dalam meningkatkan motivasi dan hasil belajar
siswa pada mata pelajaran IPS.
b.
Hasil
penelitian ini dapat dijadikan bahan pertimbangan bagi peneliti-peneliti lain
yang terkait dengan metode pembelajaran tutorial sebaya guna mening-katkan
motivasi dan hasil belajar siswa pada mata pelajaran IPS.
2.
Manfaat Praktis
a.
Bagi Siswa
1)
Memberikan
suasana belajar yang lebih variatif sehingga siswa tidak merasa bosan dalam
belajar dan tidak berkesan monoton.
2)
Meningkatkan
peran aktif siswa dalam kegiatan belajar mengajar.
3)
Memberikan
suasana belajar yang nyaman pada siswa.
4)
Memberikan
kesempatan pada siswa untuk mengembangkan potensinya.
b.
Bagi guru
1)
Penelitian
ini dapat menjadi masukan bagi guru dalam pengembangan pembelajaran IPS
menggunakan metode pembelajaran tutorial sebaya.
2)
Penelitian
ini juga diharapkan dapat membantu mengetahui permasalahan dalam pembelajaran
IPS yang dihadapi dan mendapat tambahan wawasan serta ketrampilan yang dapat
digunakan untuk meningkatkan motivasi dan hasil belajar siswa.
c.
Bagi Peneliti
Memberikan
pengalaman bagaimana proses pembelajaran dengan mengguna-kan metode
pembelajaran tutorial sebaya.
d.
Bagi Sekolah
Diharapkan
hasil penelitian ini dapat digunakan sebagai bahan pertimba-ngan untuk
meningkatkan motivasi dan hasil belajar siswa melalui variasi metode
pembelajaran sehingga tercipta alumni-alumni yang unggul dan berkualitas.
Metode Penelitian
Desain Penelitian
Penelitian ini merupakan jenis
penelitian tindakan kelas, atau dalam bahasa Inggris sering disebut dengan
istilah Classroom Action Research (CAR). Penelitian tindakan kelas ini
bertujuan untuk meningkatkan motivasi dan hasil belajar siswa pada pembelajaran
IPS. Menurut Suharsimi Arikunto (2008: 2) PTK yaitu sebuah kegiatan penelitian
yang dilakukan di kelas. Kelas dalam hal ini tidak terikat pada pengertian
ruang kelas, tetapi yang dimaksud sebuah kelas adalah sekelompok siswa yang
dalam waktu yang sama, menerima pelajaran yang sama dari guru yang sama pula.
PTK merupakan penelitian untuk memecahkan permasalahan yang terjadi di kelas.
Jadi, PTK adalah penelitian yang dilakukan di kelas untuk memecahkan
permasalahan yang terjadi di kelas, dengan melakukan tindakan seperti
menggunakan metode pembelajaran.
1. Menyusun Rancangan Tindakan
Dalam tahap
ini peneliti menjelaskan tentang apa, mengapa, kapan, di mana, oleh siapa, dan
bagaimana tindakan tersebut dilakukan. Peneliti menentukan titik atau fokus
peristiwa yang perlu mendapatkan perhatian khusus untuk diamati, kemudian
membuat sebuah instrumen pengamatan untuk membantu peneliti merekam fakta yang
terjadi selama tindakan berlangsung.
2. Pelaksanaan Tindakan
Pelaksanaan
merupakan implementasi atau penerapan isi rancangan, yaitu mengenakan tindakan
kelas. Dalam tahap kedua ini pelaksana harus ingat dan beru-saha menaati apa
yang sudah dirumuskan dalam rancangan, tetapi harus pula berlaku wajar, tidak
dibuat-buat.
3. Pengamatan
Tahap ketiga
ini dilakukan oleh pengamat. Pengamatan dan tindakan berlangsung dalam waktu
yang sama.
4.
Refleksi
Tahap ke
empat merupakan kegiatan untuk mengemukakan kembali apa yang sudah dilakukan.
Kegiatan refleksi ini sangat tepat dilakukan ketika guru pelaksana sudah
selesai melakukan tindakan, kemudian berhadapan dengan peneliti untuk
mendiskusikan implementasi rancangan tindakan. Istilah refleksi di sini sama
dengan “memantul, seperti halnya memancar dan menatap kena kaca.” Dalam hal
ini, guru pelaksana sedang memantulkan pengalamannya pada peneliti yang baru
saja mengamati kegiatannya dalam tindakan.
Tahap
pertama dalam penelitian tindakan kelas yaitu planning atau merancang
tindakan. Pada tahapan ini yang dilakukan adalah menentukan fokus masalah yang
akan diamati dan yang akan diberi tindakan agar masalah tersebut dapat diatasi,
kemudian menyusun instrumen untuk mengetahui hasil dari penelitiannya. Lalu
tahap yang kedua yaitu tindakan, dalam tahap ini kegiatannya adalah
mengimplementasikan apa yang sudah dirancang pada tahap planning dan
sebisa mungkin menaati apa yang sudah dirancang. Tahapan ketiga yaitu
pengamatan, kegiatan dalam tahap ini yaitu mengamati objek penelitian, apakah
objek tersebut sudah sesuai dengan apa yang diinginkan oleh peneliti atau
belum. Kemudian tahap yang terakhir yaitu tahap refleksi, tahap ini dilakukan
oleh guru dan peneliti untuk mengemukakan kembali apa yang sudah dilakukan,
agar terlihat kekurangan-kekurangan yang terjadi sebagai acuan perencanaan
tindakan pada siklus selanjutnya.
Rancangan
Tindakan
Siklus 1
a.
Perencanaan
1) Menyiapkan
materi yang akan disampaikan pada siswa.
2) Membuat
Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP) yang berkaitan dengan materi yang akan
diajarkan kepada siswa.
3) Menyiapkan hand
out untuk tutor berisi materi yang akan diajarkan.
4) Menyusun
instrumen penelitian berupa lembar observasi motivasi siswa, lembar observasi
kegiatan guru, angket motivasi sebelum dan sesudah tindakan, pedoman wawancara
guru dan siswa, serta soal tes sebelum dan sesudah tindakan.
5) Memilih
siswa yang memiliki kemampuan di atas rata-rata untuk dijadikan tutor.
6) Memberikan
pelatihan pada tutor tentang materi yang akan diajarkan dan melatih tutor untuk
menjadi tutor yang baik.
7) Melatih guru
dalam menerapkan metode tutorial sebaya.
8) Melakukan
koordinasi dengan guru sebagai pelaksana tindakan dan dengan observer.
b.
Pelaksanaan tindakan
1)
Pertemuan Pertama
a) Pendahuluan
1)
Guru mengkondisikan siswa sebelum pembelajaran
dimulai.
2)
Guru mengucapkan salam, dilanjutkan berdoa, dan
presensi.
3)
Guru melakukan apersepsi, menyampaikan motivasi dan
menyampaikan tujuan pembelajaran.
4)
Guru mengkondisikan siswa untuk mengerjakan tes
sebelum tindakan.
5)
Guru membagikan soal tes sebelum tindakan dan
menyuruh siswa untuk mengerjakan soal tersebut dengan waktu 10 menit.
6)
Guru membagi angket sebelum tindakan dan menyuruh
siswa untuk mengisinya selama 5 menit.
b) Kegiatan
Inti
1)
Guru menerangkan materi pengertian dan fungsi pranata
sosial secara umum pada siswa selama 8 menit.
2)
Guru membagi kelas menjadi beberapa kelompok selama 5
menit, satu kelompok diberi 1 tutor untuk menjelaskan materi pada
teman-temannya.
3)
Guru menyuruh tutor untuk menerangkan materi
pengertian dan fungsi pranata sosial pada siswa selama 25 menit.
4)
Guru memantau proses pembelajaran.
5)
Guru membimbing siswa yang perlu mendapat bimbingan
khusus.
6)
Guru membantu dalam memecahkan masalah yang tidak terpecahkan
oleh tutor dan siswa.
7)
Guru memberi penguatan pada tutor dan siswa agar
mereka merasa senang selama 7 menit.
c) Penutup
1)
Guru melakukan evaluasi dengan tanya jawab selama 5
menit.
2)
Siswa dan guru menyimpulkan materi yang telah
dipelajari 5 menit.
3)
Guru memberikan tugas tentang materi yang telah
dipelajari.
4)
Guru menutup kegiatan pembelajaran dengan berdoa dan
salam.
Pertemuan
kedua
a. Pendahuluan
1) Guru
mengkondisikan siswa sebelum pembelajaran dimulai selama 3 menit.
2) Guru
mengucapkan salam, dilanjutkan berdoa, dan presensi.
3) Guru
melakukan apersepsi, menyampaikan motivasi dan menyampaikan tujuan
pembelajaran selama 7 menit.
b. Kegiatan Inti
1) Guru
menerangkan materi ciri-ciri pranata sosial secara umum pada siswa selama 8
menit.
2) Guru membagi
kelas menjadi beberapa kelompok selama 5 menit, satu kelompok diberi 1 tutor
untuk menjelaskan materi pada teman-temannya.
3) Guru
menyuruh tutor untuk menerangkan materi ciri-ciri pranata sosial pada siswa
yang lain selama 25 menit.
4) Guru
memantau proses pembelajaran.
5) Guru
membimbing siswa yang perlu mendapat bimbingan khusus.
6) Guru
membantu dalam memecahkan masalah yang tidak terpecahkan oleh tutor dan siswa.
7) Guru memberi
penguatan pada tutor dan siswa agar mereka merasa senang selama 7 menit.
c. Penutup
1) Guru
mengadakan evaluasi dengan mengajak siswa untuk melakukan tes setelah tindakan
selama 10 menit.
2) Siswa
mengisi angket motivasi setelah tindakan selama 5 menit.
3) Siswa dan
guru menyimpulkan materi yang telah dipelajari selama 7 menit.
4) Guru
menginformasikan materi yang akan dipelajari pada pertemuan selanjutnya selama
3 menit.
5) Guru menutup
kegiatan pembelajaran dengan doa dan salam.
c. Observasi
Observasi
dilakukan selama proses tindakan berlangsung untuk mengamati motivasi belajar
siswa. Observasi dilakukan oleh peneliti dan teman sejawat peneliti. Kemudian
dilakukan evaluasi untuk mengamati kemajuan hasil belajar setelah melakukan
pembelajaran dengan menggunakan metode tutorial sebaya. Evaluasi dilakukan
dengan menggunakan tes.
d. Refleksi
Setelah
observasi dilakukan, guru sebagai pelaku tindakan dan peneliti sebagai observer
menganalisis seluruh data yang telah diperoleh. Setelah selesai dianalisis
kemudian direfleksikan sehingga diketahui tindakan, masalah, serta hasil yang
terjadi selama penelitian. Refleksi ini digunakan untuk mengetahui
kekurangan-kekurangan yang terjadi sebagai acuan perencanaan tindakan pada
siklus berikutnya.
Siklus II
Siklus II
dilaksanakan setelah melihat refleksi dari siklus I, apa yang belum berhasil
dituntaskan dalam siklus I dilaksanakan kembali dalam siklus II dengan
perencanaan baru. Namun, tetap menggunakan tahapan-tahapan yang sama seperti
siklus I, yaitu perencanaan, pelaksanaan, observasi, dan refleksi. Apabila
tidak ada peningkatan motivasi dan hasil belajar siswa maka dalam penelitian
tindakan kelas ini perlu pengulangan siklus dengan perbaikan pada setiap
siklusnya. Siklus akan dihentikan jika tujuan dari penelitian ini sudah
tercapai yakni meningkatkan motivasi dan hasil belajar siswa
Teknik Pengumpulan Data
Teknik
pengumpulan data merupakan hal penting yang harus diperhatikan dalam penelitian
karena teknik pengumpulan data akan mempengaruhi kualitas data hasil
penelitian. Kualitas pengumpulan data berhubungan erat dengan ketepatan
cara-cara yang digunakan untuk mengumpulkan data. Dalam penelitian ini
ditetapkan teknik pengumpulan data dilakukan dengan cara sebagai berikut:
1. Wawancara
Wawancara
merupakan pertemuan dua orang untuk bertukar informasi melalui tanya jawab.
Kelebihan wawancara ialah bisa kontak langsung dengan orang yang diwawancarai
sehingga dapat mengungkapkan jawaban secara lebih bebas dan mendalam. Wawancara
dalam penelitian ini ditujukan kepada guru dan siswa kelas VIII A SMPN 1
Kemranjen. Tujuannya yaitu untuk mengetahui motivasi siswa dalam pembelajaran
IPS sebelum dan sesudah diterapkannya metode tutorial sebaya.
2. Observasi
Observasi
dilakukan oleh peneliti selama proses pembelajaran dengan metode pembelajaran
tutorial sebaya berlangsung. Peneliti mengamati dan mencatat kejadian-kejadian
yang terjadi selama pembelajaran tanpa mengganggu jalannya kegiatan belajar
mengajar. Observasi dilakukan dengan menggunakan lembar observasi yang telah
disiapkan. Observasi dilakukan untuk memperoleh data tentang motivasi siswa dan
bagaimana jalannya pembelajaran dengan metode tutorial sebaya.
3. Angket
Angket
mempunyai dua macam jenis, yaitu angket tertutup dan angket terbuka. Angket
yang digunakan pada penelitian ini yaitu angket tertutup, angket yang
jawabannya telah disiapkan sehingga siswa tinggal mengkategorikannya kepada
alternatif jawaban yang telah dibuat. Tujuan digunakannya angket adalah untuk
memperoleh data tentang motivasi siswa sebelum menggunakan metode tutorial
sebaya dan sesudah menggunakan metode tersebut.
4. Tes Hasil
Belajar
Tes hasil
belajar digunakan untuk mengetahui dan mengukur tingkat penguasaan siswa
terhadap materi yang diajarkan dengan menggunakan metode tutorial sebaya. Untuk
menyatakan hasil belajar siswa pada tiap siklus digunakan tes. Tes yang
digunakan merupakan tes objektif yang berbentuk pilihan ganda. Tes dilakukan
untuk mengetahui peningkatan hasil belajar siswa setelah diimplementasikan metode
pembelajaran tutorial sebaya.
5.
Dokumentasi
Dokumentasi
yang digunakan dalam penelitian ini berupa foto kegiatan pembelajaran, data
tentang kondisi sekolah mengenai letak geografis, sejarah perkembangan sekolah,
jumlah siswa, jumlah pengajar, dan kelengkapan sarana prasarana yang ada di
sekolah.
Hasil Penelitian
Siklus I
Perencanaan Tindakan Siklus I
Siklus pertama dilakukan selama dua
pertemuan dengan materi pengertian pranata sosial, fungsi pranata sosial, dan
ciri-ciri pranata sosial. Sebelum memulai pelaksanaan tindakan kelas, peneliti
dan guru melakukan persiapan agar pelaksanaan pembelajaran dengan metode
tutorial sebaya dapat berjalan dengan lancar. Berikut ini disajikan
langkah-langkah perencanaan yang diterapkan pada siklus I:
a)
Peneliti dan guru IPS menyusun Rencana Pelaksanaan
Pembelajaran (RRP) yang memuat serangkaian kegiatan pembelajaran dengan metode
tutorial sebaya, menyiapkan materi yang akan diterangkan, dan menyusun hand
out untuk para tutor dan siswa.
b)
Menyusun instrumen penelitian yang terdiri dari:
(1) Lembar
angket motivasi sebelum dan sesudah tindakan.
(2) Lembar
observasi motivasi siswa.
(3) Lembar
observasi kegiatan guru.
(4) Pedoman
wawancara siswa.
(5) Pedoman
wawancara guru.
(6) Soal tes
sebelum dan sesudah tindakan.
c)
Memilih siswa yang memiliki kemampuan di atas
rata-rata untuk menjadi tutor.
d)
Memberikan pelatihan pada tutor tentang materi yang
akan diajarkan dan melatih tutor untuk menjadi tutor yang baik.
e)
Memberikan pelatihan pada guru IPS yang bertindak
sebagai pelaksana tindakan tentang bagaimana menerapkan metode tutorial sebaya
dalam kelas.
f)
Melakukan koordinasi dengan guru sebagai pelaksana
tindakan dan dengan observer.
Pelaksanaan Tindakan Siklus I
Pendahuluan
(a)
Guru
mengkondisikan kelas sebelum pembelajaran dimulai.
(b)
Guru
memberi salam pada siswa, mengajak siswa untuk berdoa, dan mengecek kehadiran
siswa.
(c)
Guru
melakukan apersepsi dengan tanya jawab mengenai aturan-aturan yang ada di
keluarga, sekolah, dan masyarakat.
(d)
Guru
memberikan motivasi pada siswa untuk belajar dengan bercerita tentang
pentingnya norma-norma yang ada pada masyarakat.
(e)
Guru
menjelaskan tujuan pembelajaran yang ingin dicapai.
(f)
Guru
mengkondisikan siswa untuk mengerjakan tes sebelum tindakan.
(g)
Guru membagikan soal tes sebelum tindakan dan
menyuruh siswa untuk mengerjakan soal tersebut dengan waktu yang telah
ditentukan.
(h)
Guru membagi angket sebelum tindakan dan menyuruh
siswa untuk mengisinya.
Kegiatan Inti
(a)
Guru menerangkan materi pembelajaran secara umum pada
siswa.
(b)
Guru membagi siswa menjadi delapan kelompok.
Masing-masing kelompok diberi satu tutor untuk menjelaskan materi pada
teman-teman kelompoknya.
(c)
Guru memantau proses pembelajaran.
(d)
Guru membimbing siswa yang perlu mendapatkan bimbingan
khusus.
(e) Guru
membantu memecahkan masalah yang tidak terpecahkan oleh tutor dan siswa.
(f) Guru memberi
penguatan materi pada siswa dan tutor agar mereka merasa senang.
Penutup
(a)
Guru melakukan evaluasi dengan tanya jawab.
(b)
Siswa dan guru membuat kesimpulan tentang materi yang
telah dipelajari. (c) Guru memberi tugas pada siswa tentang materi yang telah
dipelajari.
(c)
Guru mengakhiri pelajaran dengan berdoa dan salam.
Pertemuan 2
(a)
Guru mengkondisikan siswa sebelum pembelajaran
dimulai.
(b)
Guru memberi salam pada siswa, mengajak siswa untuk
berdoa, dan mengecek kehadiran siswa.
(c)
Guru melakukan apersepsi dengan tanya jawab mengenai
materi yang telah dipelajari pada pertemuan sebelumnya.
(d)
Guru memberikan motivasi pada siswa dengan
menampilkan gambar-gambar yang berkaitan dengan ciri-ciri pranata sosial.
(e)
Guru menjelaskan tujuan pembelajaran yang ingin
dicapai.
Kegiatan Inti
(a)
Guru memberikan penjelasan materi ciri-ciri pranata
sosial secara umum di depan kelas.
(b)
Guru membagi siswa menjadi delapan kelompok.
Masing-masing kelompok diberi satu tutor untuk menjelaskan materi pada
teman-teman kelompoknya.
(c)
Guru memantau proses pembelajaran.
(d)
Guru membimbing siswa yang perlu mendapatkan
bimbingan khusus.
(e)
Guru membantu memecahkan masalah yang tidak
terpecahkan oleh tutor dan siswa.
(f)
Guru memberi penguatan materi pada siswa dan tutor
agar mereka merasa senang.
Penutup
(a) Guru
mengadakan evaluasi dengan mengajak siswa untuk melakukan tes setelah tindakan.
(b) Guru
menyuruh siswa untuk mengisi angket motivasi setelah tindakan.
(c) Siswa dan
guru membuat kesimpulan tentang materi yang telah dipelajari.
(d) Guru
menginformasikan materi yang akan dipelajari pada pertemuan selanjutnya.
(e) Guru
mengakhiri pelajaran dengan berdoa dan salam.
Setelah tindakan pada siklus 1 menunjukan bahwa siswa
yang dapat menguasai materi secara baik hingga dapat mencapai ketuntasan
belajar sebanyak 10 siswa (32%) dan yang belum mencapai ketuntasan belajar
sebanyak 21 siswa (68%). Hasil tes ini akan dijadikan dasar untuk melakukan perbaikan pada
siklus II, karena belum ada 60% siswa yang mencapai ketuntasan belajar dan berdasarkan hasil observasi dapat diketahui bahwa metode
tutorial sebaya belum berhasil dalam meningkatkan motivasi siswa dalam belajar
IPS karena persentase rata-rata indikator motivasi siswa belum mencapai
kriteria keberhasilan tindakan yang telah ditentukan yaitu 60%. Rata-rata
persentase indikator motivasi siswa pada siklus I baru mencapai 56%, kurang 4%
lagi untuk mencapai kriteria keberhasilan.Serta hasil hasil angket tersebut diperoleh data
bahwa motivasi siswa pada siklus I yaitu sebesar 59%, kurang 1% lagi untuk
mencapai kriteria keberhasilan tindakan. Hasil angket ini menunjukan bahwa
metode tutorial sebaya belum berhasil dalam meningkatkan motivasi belajar siswa
karena belum mencapai kriteria keberhasilan tindakan
Refleksi
Penerapan metode pembelajaran
tutorial sebaya pada siklus I belum sepenuhnya berjalan dengan optimal, karena
guru dan siswa masih terlihat bingung dan belum terbiasa dengan metode ini.
Motivasi siswa pada siklus I belum terlihat dengan maksimal, hasil belajar
siswa juga kurang memuaskan karena siswa yang mencapai KKM hanya sebesar 32%,
atau sekitar 10 siswa. Melalui pengamatan siklus I, maka diperlukan upaya
perbaikan untuk siklus II, agar siklus II dapat berjalan lebih baik. Untuk itu
perlu disusun rencana tindakan yang diperbaiki pada siklus II agar kriteria
keberhasilan tindakan tercapai..
Siklus II
Perencanaan Tindakan Siklus II
Kegiatan perencanaan tindakan pada
siklus II hampir sama dengan perencanaan siklus I, hanya ada perbaikan
dikarenakan siklus I belum berjalan dengan baik. Pada siklus II ini perencanaan
dan perbaikan yang dilakukan oleh peneliti dan guru antara lain:
a)
Menyiapkan materi dan membuat Rencana Pelaksanaan
Pembelajaran (RPP) untuk pertemuan pertama dan kedua dengan materi penggolongan
pranata sosial dan macam-macam pranata sosial beserta fungsinya.
b)
Menyiapkan hand out untuk tutor dan siswa.
c)
Menyusun instrumen penelitian yang terdiri dari:
(1) Lembar
angket motivasi sesudah tindakan.
(2) Lembar
observasi motivasi siswa
(3) Lembar
observasi kegiatan guru
(4) Pedoman
wawancara siswa
(5) Pedoman
wawancara guru
(6) Soal tes
sebelum dan sesudah tindakan
d)
Memilih siswa yang memiliki kemampuan di atas
rata-rata untuk menjadi tutor.
e)
Memberikan pelatihan pada tutor tentang materi yang
akan diajarkan dan melatih tutor untuk menjadi tutor yang baik. Pelatihan
dilakukan lebih lama agar tutor benar-benar memahami materi, setiap tutor
terlebih dahulu belajar menerangkan materi dengan teman-teman tutor yang lain.
Tutor juga diharapkan lebih tegas kepada siswa dan memberi pancingan pada siswa
agar mau bertanya.
f)
Memberikan
pelatihan pada guru IPS yang bertindak sebagai pelaksana tindakan.
g)
Memberikan
hadiah pada tutor dan siswa yang aktif dalam pembelajaran.
h)
Melakukan
koordinasi dengan guru sebagai pelaksana tindakan dan observer.
Pelaksanaan
Tindakan Siklus II
a)
Pertemuan 1
(1)
Pendahuluan
a)
Guru
mengkondisikan kelas sebelum pembelajaran dimulai.
b)
Guru
memberi salam, mengajak siswa untuk berdoa dan memeriksa kehadiran siswa.
c)
Guru
melakukan apersepsi dengan tanya jawab mengenai materi yang telah dipelajarai
pada pertemuan sebelumnya.
d)
Guru
memberikan motivasi dengan memberi tahu siswa tentang peran pranata sosial
dalam membantu masyarakat untuk memenuhi kebutuhan, sehingga siswa semangat
belajar.
e)
Guru
menyampaikan tujuan pembelajaran pada siswa.
(f)
Guru
mengkondisikan siswa untuk mengerjakan tes sebelum tindakan.
(g)
Guru
membagikan soal tes dan menyuruh siswa untuk mengerjakan soal tersebut sesuai
dengan waktu yang telah ditentukan.
Kegiatan
Inti
a.
Guru
menerangkan materi penggolongan pranata sosial, pranata agama, dan pranata
keluarga secara umum di depan kelas.
b.
Guru
membagi kelas menjadi delapan kelompok, setiap kelompok diberi satu tutor untuk
menerangkan materi pada siswa yang lain.
c.
Guru
memantau proses pembelajaran.
d.
Guru
membimbing siswa yang perlu mendapat bimbingan khusus.
e.
Guru
membantu memecahkan masalah yang tidak terpecahkan oleh tutor dan siswa.
f.
Guru
memberi penguatan pada siswa dan tutor agar mereka merasa senang.
Penutup
a)
Guru
melakukan evaluasi dengan tanya jawab.
b)
Siswa
dan guru membuat kesimpulan tentang materi yang telah dipelajari.
c)
Guru
memberikan tugas pada siswa tentang materi yang telah dipelajari.
d)
Guru
mengakhiri kegiatan pembelajaran dengan berdoa dan salam.
Pertemuan 2
Pendahuluan
(a)
Guru
mengkondisikan kelas sebelum memulai pembelajaran.
(b)
Guru
mengucapkan salam, mengajak siswa berdoa dan mengecek kehadiran siswa.
(c)
Guru
melakukan apersepsi dengan melakukan tanya jawab tentang materi yang telah
dipelajari pada pertemuan sebelumnya.
(d)
Guru
memberikan memotivasi dengan memberi tahu siswa tentang pentingnya belajar
pranata ekonomi, politik, dan pendidikan.
(e)
Guru
menjelaskan tujuan pembelajaran yang ingin dicapai.
Kegiatan Inti
a)
Guru
menerangkan materi pranata ekonomi, politik, dan pendidikan secara umum di
depan kelas.
b)
Guru
membagi kelas menjadi delapan kelompok. Satu kelompok diberi satu tutor untuk
menerangkan materi pada siswa.
c)
Guru
memantau proses pembelajaran.
d)
Guru
membimbing siswa yang perlu mendapat bimbingan khusus.
e)
Guru
membantu memecahkan masalah yang tidak terpecahkan oleh tutor dan siswa.
f)
Guru
memberi penguatan materi pada tutor dan siswa di depan kelas agar mereka merasa
senang.
Penutup
a) Guru melakukan evaluasi dengan
mengajak siswa untuk mengerjakan tes setelah tindakan.
b) Guru mengajak siswa untuk mengisi
angket motivasi setelah tindakan.
c) Siswa dan guru membuat kesimpulan
materi yang telah dipelajari.
d) Guru menginformasikan materi yang
akan dipelajari pada pertemuan berikutnya.
e) Guru mengakhiri kegiatan
pembelajaran dengan berdoa dan salam.
Hasil tes setelah tindakan pada
siklus II ini menunjukan bahwa siswa yang menguasai materi secara baik sehingga
dapat mencapai ketuntasan belajar sebanyak 20 siswa (63%) dan yang belum
mencapai ketuntasan sejumlah 12 siswa (37%). Jadi dapat disimpulkan, siswa yang
mencapai KKM sudah mencapai lebih dari 60% dan berarti metode tutorial sebaya
dapat meningkatkan hasil belajar siswa dalam mata pelajaran IPS. hasil
rata-rata indikator motivasi tersebut menyatakan bahwa motivasi siswa dalam
belajar IPS sudah mencapai kriteria keberhasilan tindakan, karena sudah
mencapai 60%. Motivasi siswa mengalami peningkatan dari siklus I sebanyak 5%,
dari 59% menjadi 64%. Berdasar hasil angket ini dapat diambil kesimpulan bahwa
penerapan metode tutorial sebaya dalam pembelajaran IPS dinyatakan berhasil
dalam meningkatkan motivasi siswa0%
Refleksi Siklus II
Pengaruh metode tutorial sebaya terhadap motivasi dan hasil
belajar siswa pada siklus II ini sangat besar. Terdapat peningkatan yang sangat
baik pada motivasi dan hasil belajar siswa. Motivasi dan hasil belajar siswa
telah mencapai bahkan melampaui kriteria keberhasilan tindakan. Motivasi belajar siswa
berdasarkan observasi meningkat 11%, dari 56% pada siklus I menjadi 67% pada
siklus II. Kemudian motivasi belajar siswa berdasarkan angket meningkat 5%,
dari 59% pada siklus I menjadi 64% pada siklus II. Hasil belajar siswa
meningkat 31%, dari 32% pada siklus I menjadi 63% pada siklus II.
Penerapan metode tutorial sebaya
dalam pembelajaran IPS terbukti dapat meningkatkan hasil belajar siswa. Hal ini
dibuktikan dengan peningkatan jumlah siswa yang mencapai KKM pada siklus II
hingga mencapai kriteria keberhasilan tindakan. Berhasilnya metode ini dalam
meningkatkan hasil belajar siswa dikuatkan dengan teori dari Syaiful Bahri
Djamarah & Aswan Zain (2006: 27), tutorial sebaya akan memberi hasil yang
lebih baik bagi beberapa anak yang mempunyai perasaan takut atau enggan
kepada guru. Berikut ini akan dijelaskan peningkatan hasil belajar siswa siklus
I dan siklus II.
Hasil tes
pada siklus I menunjukan bahwa siswa yang telah mencapai KKM sebanyak 10 siswa
(32%), dan yang belum mencapai KKM sebanyak 21 siswa (68%). Siswa yang belum
mencapai KKM masih banyak sekali, hal ini dikarenakan pada siklus I motivasi
siswa dalam belajar masih rendah, guru juga belum menjalankan metode tutorial
sebaya dengan benar, seperti belum membimbing siswa yang perlu mendapat
bimbingan khusus dan belum memberi penguatan materi pada siswa. Siswa tidak
aktif bertanya pada guru dan tutor ketika kesulitan, tidak memperhatikan
penjelasan materi, bermalas-malasan di kelas, melamun, tiduran, dan bercerita
dengan siswa yang lain. Permasalahan ini menyebabkan pemahaman siswa mengenai
materi sangat kurang, sehingga hasil belajar siswa juga ikut rendah. Siswa
tidak dapat mengerjakan soal tes dengan baik karena tidak memahami materi.
Permasalahan
yang terjadi pada siklus I diatasi oleh peneliti dan guru agar siklus II lebih
baik. Guru dan peneliti mengatasi masalah dengan cara meningkatkan motivasi
belajar siswa agar siswa dapat menyerap materi lebih baik, guru memancing siswa
agar aktif bertanya saat kesulitan, memberi pujian dan hadiah, serta mengajak
siswa untuk bersaing dalam nilai. Guru juga memberitahu hasil tes siswa pada
siklus I, agar siswa terdorong untuk lebih baik. Menurut Sardiman (2010: 95),
hasil pekerjaan yang diketahui oleh siswa, apalagi jika terjadi kemajuan, akan
mendorong siswa untuk giat belajar.
Hasil
belajar siswa pada siklus II meningkat daripada siklus I. Siswa yang mencapai
KKM pada siklus ini sebanyak 20 siswa (63%), dan yang belum mencapai KKM
sebanyak 12 siswa (37%). Persentase ini meningkat 31% dari siklus I, merupakan
peningkatan yang cukup tinggi. Peningkatan motivasi dan hasil belajar siswa
secara bersamaan menunjukan bahwa ada keterkaitan antara motivasi dan hasil
belajar siswa. Nana Sudjana (2006: 2) menyatakan bahwa ada hubungan antara
pengalaman belajar dengan hasil belajar. Apabila proses belajar siswa baik,
maka hasil belajar siswa juga akan baik.
Pada siklus
II, siswa aktif bertanya pada guru dan tutor saat mengalami kesulitan. Siswa
juga antusias dalam mendengarkan penjelasan guru dan tutor, hand out yang
diberikan dibaca oleh siswa dan dipahami dengan baik. Pada siklus ini guru juga
memberikan bimbingan pada siswa yang memerlukan bimbingan khusus dan memberi
penguatan pada tutor dan siswa agar lebih memahami materi.
Kesimpulan
1. Penerapan metode pembelajaran
tutorial sebaya dapat meningkatkan motivasi belajar siswa kelas VIII A SMPN 1
Kemranjen pada mata pelajaran IPS. Keberhasilan metode tutorial sebaya dalam
meningkatkan motivasi belajar siswa dibuktikan dengan peningkatan rata-rata
indikator motivasi pada tiap siklusnya hingga mencapai kriteria keberhasilan
tindakan yang telah ditentukan. Pada siklus I rata-rata indikator motivasi
berdasarkan observasi yaitu 56%, kemudian meningkat 11% pada siklus II menjadi
67%. Berdasarkan angket, rata-rata indikator motivasi pada siklus I yaitu 59%,
kemudian meningkat 5% pada siklus II menjadi 64%. Metode tutorial sebaya
membuat siswa lebih berminat pada mata pelajaran IPS, lebih semangat dan aktif
dalam pembelajaran, serta tidak malu untuk bertanya apa yang masih
dibingungkan.
2. Metode tutorial sebaya dapat
meningkatkan hasil belajar siswa pada mata pelajaran IPS di SMPN 1
Pilangkenceng. Keberhasilan ini ditunjukan dengan peningkatan jumlah siswa yang
memenuhi KKM hingga mencapai kriteria keberhasilan tindakan, dimana KKM SMPN 1 Pilangkenceng
yaitu 75. Pada siklus I
siswa yang mencapai KKM sebanyak 10 siswa (32%) dari 32 siswa, kurang 28%
lagi untuk mencapai kriteria keberhasilan tindakan. Pada siklus II siswa yang
mencapai KKM meningkat menjadi 20 siswa, yang artinya 63% dari jumlah
keseluruhan siswa sudah mencapai KKM. Hal ini berarti metode tutorial sebaya
telah berhasil dalam meningkatkan hasil belajar karena siswa yang mencapai KKM
sebesar 63%.
B. Saran
1. Bagi Guru.
Guru hendaknya menerapkan metode pembelajaran tutorial sebaya dalam
pembelajaran IPS sebagai salah satu alternatif untuk meningkatkan motivasi dan
hasil belajar siswa. Hal yang perlu diperhatikan yaitu guru hendaknya selalu
memantau siswa dan memberikan penguatan, agar siswa lebih memahami materi yang
diberikan.
2. Bagi
siswa. Siswa hendaknya belajar lebih bersungguh-sungguh lagi ketika menggunakan
metode tutorial sebaya dan berusaha menggali informasi sebanyak-banyaknya dari
tutor.
DAFTAR PUSTAKA
Abdul
Majid. (2009). Perencanaan Pembelajaran. Bandung: PT Remaja Rosdakarya.
Abu Ahmadi
& Widodo Supriyono. (2004). Psikologi Belajar. Jakarta: Rineka
Cipta.
Agus
Suprijono. (2013). Cooperative Learning Teori & Aplikasi PAIKEM.
Yogyakarta: Pustaka Pelajar.
Conny
Semiawan, dkk. (1992). Pendekatan Ketrampilan Proses. Jakarta: PT
Gramedia.
Dendi Tri
Sunarno. (2012). “Upaya Meningkatkan Motivasi dan Hasil Belajar Siswa dengan
Penerapan Media Slide PowerPoint Pada Mata Pelajaran IPS Kelas VII A SMP
Negeri 3 Sleman”. Skripsi. Yogyakarta: UNY.
Depdiknas.
(2006). Permendiknas No. 22 Tahun 2006 Tentang Standar Isi. Jakarta:
Depdiknas
Dimyati
& Mudjiono. (2009). Belajar dan Pembelajaran. Jakarta: Rineka Cipta.
Fian Lukas
Guntur Warsono. (2011). “Penerapan Metode Tutorial Sebaya Dalam Pembelajaran
Ekonomi Untuk Meningkatkan Prestasi Belajar Siswa Kelas X SMA Negeri 2
Yogyakarta Tahun Ajaran 2010/2011.” Skripsi. Yogyakarta: UNY.
Rini
Yustiningsih. (2014). Bolos di Warnet, 8 Pelajar Sukoharjo Ditangkap Satpol.
http://www.soloposfm.com/2014/05/bolos-di-warnet-8-pelajar-sukoharjo-ditangkap-satpol/.
Diakses 11 September 2014.
Debosya.
(2014). Kasus Siswa Bolos, Kadisdikpora Ingatkan Kepala Sekolah. http://komapos.com/sumbar/agam/1255-kasus-siswa-bolos-kadisdikpora-ingatkan-kepala-sekolah.
Diakses 11 September 2014.
M.latief.
(2011). Nilai UN Jateng dan Kalbar Terburuk.
http://edukasi.kompas.co/read/2011/06/01/19280529/Nilai.UN.Jateng.dan.Kalbar.Terburuk.
Diakses 11 September 2014.
Hamzah B.
Uno & Satria Koni. (2012). Assessment Pembelajaran. Jakarta: PT Bumi
Aksara.
Mimin
Haryati. (2007). Sistem Penilaian Berbasis Kompetensi Teori & Praktek.
Jakarta: Gaung Persada Press. 119
Muhammad Numan Somantri. (2001). Menggagas Pembaharuan
Pendidikan IPS. Bandung: PT Remaja Rosdakarya.
Nana Sudjana. (2006). Penilaian Hasil Proses Belajar Mengajar.
Bandung: PT Remaja Rosdakarya.
Neila Ramdhani. (2012). Menjadi Guru Inspiratif Aplikasi Ilmu
Psikologi dalam Pendidikan. Jakarta: Titian Foundation.
Ngalim Purwanto. (1994). Prinsip-prinsip dan teknik evaluasi
pengajaran. Bandung: PT Remaja Rosdakarya.
Nurul Ramadhani Makarao. (2009). Metode Mengajar dalam Bidang
Kesehatan. Bandung: Alfabeta.
Rochiati Wiraatmadja. (2008). Metode Penelitian Tindakan Kelas.
Bandung: PT Remaja Rosdakarya.
Sapriya. (2011). Pendidikan IPS. Bandung: PT Remaja
Rosdakarya.
Sardiman. (2010). Interaksi & Motivasi Belajar Mengajar.
Jakarta: PT Raja Grafindo Persada.
Sugihartono, dkk. (2007). Psikologi Pendidikan. Yogyakarta:
UNY Press.
Sugiyono. (2009). Metode Penelitian Pendidikan (Pendekatan
Kuantitatif, Kualitatif dan R&D). Bandung: Alfabeta.
Suharsimi Arikunto. (2008). Penelitian Tindakan Kelas.
Jakarta: Bumi Aksara.
Sukardi. (2009). Metodologi Penelitian Pendidikan Kompetensi dan
Prakteknya. Jakarta: Bumi Aksara
Supardi. (2011). Dasar-Dasar Ilmu Sosial. Yogyakarta: Ombak.
Syaiful Bahri Djamarah & Aswan Zain. (2006). Strategi
Belajar Mengajar. Jakarta: PT Rineka Cipta.
Trianto. (2010). Model Pembelajaran Terpadu. Jakarta: Bumi
Aksara.
Udin. S. Winatapura. (1999). Pembelajaran Kelas Rangkap (PKR).
Departemen Pendidikan dan Kebudayaan Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi.
Wina
Sanjaya. (2010). Penelitian Tindakan Kelas. Jakarta: Prenada Media
Group. 120
Tidak ada komentar:
Posting Komentar