Senin, 01 Oktober 2018

PENERAPAN METODE TUTORIAL SEBAYA DALAM PEMBELAJARAN IPS UNTUK MENINGKATKAN MOTIVASI DAN HASIL BELAJAR SISWA KELAS VIII A SMPN 2 PILANGKENCENG KABUPATEN MADIUN TAHUN PELAJARAN 2015/2016


PENERAPAN METODE TUTORIAL SEBAYA  DALAM PEMBELAJARAN IPS UNTUK MENINGKATKAN  MOTIVASI DAN HASIL BELAJAR SISWA
KELAS VIII A  SMPN 2 PILANGKENCENG KABUPATEN MADIUN
TAHUN PELAJARAN 2015/2016

Oleh : Lasito, S.Pd
Guru SMP Negeri 2 Pilangkenceng Kabupaten Madiun

ABSTRAK
Kata kunci: tutorial sebaya, motivasi siswa, hasil belajar siswa, pembelajaran IPS.

Permasalahan dalam penelitian ini yaitu motivasi dan hasil belajar siswa kelas VIII A SMPN 2 Pilangkenceng  pada mata pelajaran IPS masih tergolong rendah. Maka dilakukan penelitian dengan menerapkan metode pembelajaran tutorial sebaya dalam pembelajaran IPS, yang bertujuan untuk mengetahui peningkatkan motivasi dan hasil belajar siswa kelas VIII A SMPN 2 Pilangkenceng  setelah dilakukan tindakan.
Penelitian ini merupakan penelitian tindakan kelas. Subjek penelitian adalah siswa kelas VIII A SMPN 2 Pilangkenceng  yang berjumlah 32 siswa. Penelitian ini berlangsung selama dua siklus, dimana satu siklusnya terdiri dari 2 pertemuan. Teknik pengumpulan data pada penelitian ini untuk motivasi menggunakan observasi, angket, dan wawancara. Kemudian untuk hasil belajar menggunakan tes hasil belajar. Teknis analisis data yang digunakan adalah teknik analisis data kualitatif yang terdiri dari reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan. Untuk keabsahan data digunakan triangulasi teknik. Kriteria keberhasilan dalam penelitian ini adalah apabila rata-rata persentase indikator motivasi siswa mencapai 60% dan apabila jumlah siswa yang memenuhi KKM sudah mencapai 60%.
Hasil penelitian dapat disimpulkan bahwa penerapan metode tutorial sebaya dapat meningkatkan motivasi dan hasil belajar siswa dalam pembelajaran IPS di kelas VIII A SMPN 2 Pilangkenceng  . Hal ini dibuktikan dengan adanya peningkatan rata-rata persentase indikator motivasi dan peningkatan jumlah siswa yang mencapai KKM pada tiap siklusnya hingga mencapai bahkan melampaui kriteria keberhasilan tindakan. Pada siklus I rata-rata persentase indikator motivasi siswa berdasarkan observasi yaitu 56% dan berdasarkan angket yaitu 59%. Pada siklus II persentase motivasi meningkat, berdasarkan observasi menjadi 67%, dan berdasarkan angket menjadi 64%. Untuk hasil belajar, pada siklus I siswa yang mencapai KKM sebanyak 32%, kemudian meningkat menjadi 63% pada siklus II.



Latar Belakang Masalah
Pendidikan merupakan hal yang penting dalam kehidupan, karena pendidikan sangat berperan dalam pengembangan kualitas sumber daya manusia. Pendidikan membantu manusia dalam mengembangkan keterampilan, seperti keterampilan baca tulis, menjahit, otomotif, dan lain sebagainya. Pendidikan juga mengajarkan manusia tentang norma dan nilai sosial dan cara memecahkan masalah dalam masyarakat. Pentingnya pendidikan bagi kehidupan manusia menyebabkan pendidikan harus selalu diperbaiki kualitasnya dari waktu ke waktu.
Indonesia merupakan salah satu negara yang terus mencoba memperbaiki kualitas pendidikannya. Salah satu upaya pemerintah untuk meningkatkan kualitas pendidikan yaitu dengan memperbaiki aspek pembelajaran. Agar pembelajaran dapat mencetak SDM yang berkualitas, pemerintah mencanangkan program PAKEM, PAIKEM, dan lain sebagainya. Namun, masih banyak permasalahan yang terjadi dalam kegiatan pembelajaran di Indonesia. Permasalahan pembelajaran yang terjadi di Indonesia misalnya yaitu rendahnya motivasi dan hasil belajar siswa.
Sebuah berita dalam Komapost daerah Agam mengatakan bahwa Kepala Dinas Pendidikan Pemuda dan Olahraga (Disdikpora) Agam, mengingatkan semua kepala sekolah dan jajarannya supaya meningkatkan pembinaan terhadap siswa karena ditemukan banyaknya siswa yang bolos sekolah dan diamankan Satpol PP sampai menimbulkan keprihatinan. Diakses dari (http://komapos.com/sumbar/agam/  1255-kasus-siswa-bolos-kadisdikpora-ingatkan-kepala-sekolah).
Siswa yang lebih memilih bolos saat pembelajaran berlangsung menandakan bahwa motivasi belajar siswa tersebut rendah. Siswa tidak mempunyai keinginan untuk belajar dengan teman-temannya di kelas, dan lebih memilih bermain. Siswa tidak mempunyai semangat untuk mencari ilmu, dan menganggap sekolah sebagai hal yang tidak penting.
Rendahnya motivasi belajar siswa juga dapat dilihat dari budaya mencontek siswa yang tinggi. Istilah mencontek sangat populer dalam pendidikan Indonesia, hingga Mendikbud harus membuat 20 macam soal UN untuk mengatasi permasalahan mencontek saat UN berlangsung. Banyak cara yang digunakan oleh siswa agar berhasil mencontek, misalnya yaitu menulis materi di kertas kecil, menulis materi di telapak tangan, dan yang paling berani yaitu langsung membuka buku pelajaran saat ujian berlangsung.
Siswa yang senang mencontek menandakan bahwa motivasi belajar siswa tersebut rendah. Siswa tidak bersungguh-sungguh dalam mengerjakan soal dan mengandalkan jawaban pada temannya. Siswa tidak memiliki motivasi untuk mengerjakan soal sebaik mungkin dan mendapatkan nilai yang optimal sesuai kemampuannya sendiri.
Banyaknya siswa yang tidak lulus ujian mengindikasikan bahwa hasil belajar siswa rendah. Kelulusan UN 2011 ditentukan murni dari nilai ujian nasional. Masih banyak siswa yang tidak lulus dikarenakan nilai UN siswa tidak mencapai kriteria yang ditentukan. Siswa tidak dapat mencapai tujuan instruksional pembelajaran sehingga nilai ujiannya rendah.
Ternyata, permasalahan dalam kegiatan pembelajaran juga terjadi di SMPN 2 Pilangkenceng  , khususnya mata pelajaran IPS. Berdasarkan pengamatan dan wawan- cara pada guru IPS dan siswa kelas VIII A di SMPN 2 Pilangkenceng, ditemukan per-masalahan seperti rendahnya motivasi dan hasil belajar siswa dalam pembelajaran IPS. Siswa kelas VIII A sangat ribut saat pembelajaran IPS berlangsung. Ketika pembe-lajaran akan dimulai, seluruh siswa yang berjumlah 32 anak ribut di kelas. Siswa tidak memperhatikan kedatangan guru, bercerita dengan teman sebangku, berkejar-kejaran di dalam kelas, saling melempar kertas, dan mencorat coret buku pelajaran. Siswa tenang setelah guru mengkondisikan. Saat pembelajaran berlangsung siswa tidak memperhati-kan penjelasan guru, bahkan ada satu siswa yang duduk bercerita dengan satu kaki di atas kursi dan ada dua siswa yang terus bercerita sampai berkelahi.
Motivasi belajar siswa kelas VIII A juga rendah, permasalahan ini terlihat ketika guru menyuruh siswa untuk mengerjakan tugas siswa mengeluh malas pada guru, tiduran di meja, dan enggan membaca soal. Saat waktu mengerjakan tugas habis, hanya 5 siswa yang tepat waktu mengumpulkan pada guru. 27 siswa yang lain mengeluh belum selesai, kemudian mencontek pekerjaan teman, dan cepat-cepat mengumpulkan pada guru.
Selain malas mengerjakan soal, motivasi siswa yang rendah juga terlihat ketika guru mempersilahkan siswa untuk bertanya, tidak ada satupun siswa yang mengajukan pertanyaan pada guru. Saat diwawancarai, siswa mengaku bahwa enggan jika disuruh bertanya pada guru karena malu di dengarkan oleh teman yang lain. Siswa lebih memilih bertanya pada teman sebangku, karena merasa nyaman dan menurut siswa jawaban yang diberikan oleh temannya lebih bisa diterima.
Permasalahan dalam pembelajaran yang lainnya yaitu nilai ulangan mata pelajaran IPS kelas VIII A kurang memuaskan. Guru yang kurang variatif dalam menggunakan metode pembelajaran dapat menyebabkan motivasi dan hasil belajar siswa rendah. Siswa cepat bosan dengan kegiatan yang tidak berubah di kelas, hanya diskusi dan ceramah. Siswa yang bosan tidak dapat mencerna materi dengan baik sehingga tidak dapat mencapai tujuan instruksional dengan maksimal. Pembelajaran menjadi sia-sia karena tidak bisa memberikan hasil yang optimal pada siswa. Hasil belajar siswa yang rendah akan menyebabkan kualitas lulusan rendah. Sehingga tidak dapat bersaing dengan siswa-siswa sekolah lain saat ingin masuk ke jenjang sekolah yang lebih tinggi dan tidak dapat bersaing dalam dunia kerja.
Berdasarkan permasalahan yang telah diuraikan, perlu adanya upaya untuk meningkakan kualitas kegiatan pembelajaran. Salah satu upaya yang dapat dilakukan oleh guru yaitu dengan menggunakan metode pembelajaran variatif yang dapat meningkatkan motivasi dan hasil belajar siswa. Banyak metode yang bisa digunakan oleh guru pada saat mengajar IPS yang bertujuan untuk membuat siswa lebih termotivasi saat belajar dan lebih memahami pembelajaran sehingga hasil belajarnya meningkat. Metode-metode ini kebanyakan mengarah pada siswa yang menjadi subjek dalam pembelajaran, peran guru hanya sebagai fasilitator yang memfasilitasi kebutuhan siswa. Salah satu metode yang dapat digunakan untuk meningkatkan motivasi dan hasil belajar siswa adalah metode tutorial sebaya. Saat belajar dengan metode tutorial sebaya, siswa diberi penjelasan materi oleh teman sebayanya, bukan oleh guru. Terdapat siswa yang merasa lebih nyaman saat diberi penjelasan oleh temannya sendiri. Rasa nyaman ini akan membuat siswa lebih memahami materi dan tidak merasa tegang saat belajar karena siswa cenderung tidak malu untuk bertanya kepada temannya tentang materi yang masih dibingungkan. Metode tutorial sebaya dapat menimbulkan persaingan dalam diri siswa. Saat guru meminta beberapa siswa untuk mengajar temannya sendiri di kelas maka akan muncul keinginan dari hati siswa yang tidak menjadi tutor untuk lebih baik daripada tutornya. Keinginan untuk lebih baik ini akan menumbuhkan motivasi siswa tersebut dalam belajar yang bertujuan agar bisa lebih unggul hasil belajarnya atau setidaknya sejajar dengan temannya yang menjadi tutor.
Berdasarkan uraian di atas, maka peneliti merasa perlu untuk melakukan Penelitian Tindakan Kelas (PTK) yang berjudul “Penerapan Metode Tutorial Sebaya dalam Pembelajaran IPS untuk Meningkatkan Motivasi dan Hasil Belajar Siswa Kelas VIII SMPN 2 Pilangkenceng Kabupaten Madiun  ”.
Identifikasi Masalah
1.   Kurang variatifnya guru dalam menggunakan metode mengajar.
2.   Siswa sangat ribut saat pembelajaran berlangsung.
3.   Rendahnya motivasi belajar siswa dalam mengikuti pelajaran IPS.
4.   Belum maksimalnya hasil belajar siswa dalam mata pelajaran IPS.

Kajian Pustaka
Pengertian Tutorial Sebaya
Seorang guru dituntut untuk bisa menggunakan berbagai metode guna menunjang kegiatan pembelajaran. Banyak sekali metode yang bisa digunakan, baik metode yang menuntut siswa untuk bekerja secara individu maupun kelompok. Salah satu metode yang dapat digunakan oleh guru dalam kegiatan pembelajaran adalah metode tutorial sebaya. Tutorial sebaya yang dalam istilah bahasa Inggris sering disebut dengan peer teaching merupakan metode yang mengajak siswa untuk belajar dengan teman sebayanya. Menurut Syaiful Bahri Djamarah dan Aswan Zain (2006: 25) disebut tutorial sebaya karena yang menjadi pengajar mempunyai usia yang hampir sebaya dengan siswa yang diajar. Jadi, tutorial sebaya merupakan metode yang memfasilitasi siswa untuk belajar dengan teman sebayanya, saat pembelajaran siswa diajar oleh teman yang usianya hampir sebaya dengan siswa tersebut.
Nurul Ramadhani Makarao (2009: 127) menjelaskan bahwa tutorial sebaya adalah metode pengajaran yang memberi kesempatan pada siswa untuk mengajarkan dan berbagi ilmu pengetahuan atau ketrampilan pada siswa yang lain.
Metode ini dianggap efektif karena pada umumnya hubungan antara teman lebih dekat dibandingkan hubungan antara guru dengan siswa. Metode tutorial sebaya merupakan metode yang mengajak siswa untuk saling membantu, siswa yang pandai dapat membantu siswa yang kesulitan dalam memahami materi. Siswa yang membantu temannya dalam belajar disebut sebagai tutor. Seorang tutor bertugas untuk mengajarkan materi kepada teman-temannya dimana materi yang disampaikan adalah materi yang diberi oleh guru.
Langkah-Langkah Metode Tutorial Sebaya
Sebelum pembelajaran dengan metode tutorial sebaya dilakukan, guru sebaiknya melakukan persiapan agar pembelajaran dengan metode ini berjalan dengan baik. Salah satu persiapan yang harus dilakukan oleh guru adalah memilih siswa yang akan dijadikan tutor. Terdapat peraturan dalam menentukan siswa yang akan dijadikan tutor, agar metode tutorial sebaya ini dapat berjalan dengan lancar dan semua tujuan pembelajaran tercapai dengan baik. Menurut Syaiful Bahri Djamarah dan Aswan Zain (2006: 25) untuk menentukan siapa yang akan dijadikan tutor diperlukan pertimbangan-pertimbangan tersendiri. Seorang tutor belum tentu siswa yang paling pandai, yang penting diperhatikan siapa yang menjadi tutor tersebut, yaitu:
a.    Dapat diterima (disetujui) oleh siswa yang mendapat program perbaikan sehingga siswa tidak mempunyai rasa takut atau enggan bertanya kepadanya.
b.   Dapat menerangkan bahan yang diperlukan oleh siswa yang akan dibimbing.
c.    Tidak tinggi hati, kejam atau keras hati terhadap sesama kawan.
d.   Mempunyai daya kreativitas yang cukup untuk memberikan bimbingan, yaitu dapat menerangkan pelajaran kepada kawannya.
Pekerjaan memilih tutor merupakan tugas dari guru, namun tidak baik bila guru memutuskannya sendiri tanpa campur tangan siswa yang akan dibimbing. Guru sebaiknya meminta persetujuan dari siswa yang akan dibimbing tentang tutor yang akan mengajar siswa tersebut, dengan begitu siswa menjadi lebih nyaman saat belajar dan merasa senang sehingga tidak malas untuk mendengarkan atau bertanya pada tutornya. Siswa yang dijadikan tutor sebaiknya adalah anak yang mampu berkomunikasi dengan baik dan memahami materi yang akan diajarkan, agar dia mampu menerangkan materi dengan lancar pada teman-temannya. Tutor yang baik adalah tutor yang memiliki kebaikan hati, sabar mengajari teman-temannya, membantu teman-temannya saat menemukan kesulitan, dan mampu memberi semangat pada teman-temannya agar mau belajar.

Hipotesis Tindakan
1.   Metode pembelajaran tutorial sebaya dapat meningkatkan motivasi siswa dalam pembelajaran IPS kelas VIII A SMP Negeri 2 Pilangkenceng.
2.   Metode pembelajaran tutorial sebaya meningkatkan hasil belajar siswa dalam pembelajaran IPS kelas VIII A SMP Negeri 2 Pilangkenceng.

Rumusan Masalah
1.   Bagaimana penerapan metode tutorial sebaya dapat meningkatkan motivasi belajar siswa pada mata pelajaran IPS di kelas VIII A SMP Negeri 2 Pilangkenceng?
2.   Bagaimana penerapan metode tutorial sebaya dapat meningkatkan hasil belajar siswa pada mata pelajaran IPS di kelas VIII A SMP Negeri 2 Pilangkenceng?

Tujuan Penelitian
1.   Mengetahui peningkatan motivasi belajar siswa kelas VIII A pada mata pelajaran IPS melalui penerapan metode pembelajaran tutorial sebaya.
2.   Mengetahui peningkatan hasil belajar siswa kelas VIII A pada mata pelajaran IPS melalui penerapan metode pembelajaran tutorial sebaya.

Manfaat Penelitian
1. Manfaat Teoretis
a.    Hasil penelitian ini dapat bermanfaat untuk memberikan informasi mengenai metode pembelajaran tutorial sebaya dalam meningkatkan motivasi dan hasil belajar siswa pada mata pelajaran IPS.
b.    Hasil penelitian ini dapat dijadikan bahan pertimbangan bagi peneliti-peneliti lain yang terkait dengan metode pembelajaran tutorial sebaya guna mening-katkan motivasi dan hasil belajar siswa pada mata pelajaran IPS.
2. Manfaat Praktis
a. Bagi Siswa
1)   Memberikan suasana belajar yang lebih variatif sehingga siswa tidak merasa bosan dalam belajar dan tidak berkesan monoton.
2)   Meningkatkan peran aktif siswa dalam kegiatan belajar mengajar.
3)   Memberikan suasana belajar yang nyaman pada siswa.
4)   Memberikan kesempatan pada siswa untuk mengembangkan potensinya.
b. Bagi guru
1)     Penelitian ini dapat menjadi masukan bagi guru dalam pengembangan pembelajaran IPS menggunakan metode pembelajaran tutorial sebaya.
2)   Penelitian ini juga diharapkan dapat membantu mengetahui permasalahan dalam pembelajaran IPS yang dihadapi dan mendapat tambahan wawasan serta ketrampilan yang dapat digunakan untuk meningkatkan motivasi dan hasil belajar siswa.
c. Bagi Peneliti
Memberikan pengalaman bagaimana proses pembelajaran dengan mengguna-kan metode pembelajaran tutorial sebaya.
d. Bagi Sekolah
Diharapkan hasil penelitian ini dapat digunakan sebagai bahan pertimba-ngan untuk meningkatkan motivasi dan hasil belajar siswa melalui variasi metode pembelajaran sehingga tercipta alumni-alumni yang unggul dan berkualitas.

Metode Penelitian
Desain Penelitian
Penelitian ini merupakan jenis penelitian tindakan kelas, atau dalam bahasa Inggris sering disebut dengan istilah Classroom Action Research (CAR). Penelitian tindakan kelas ini bertujuan untuk meningkatkan motivasi dan hasil belajar siswa pada pembelajaran IPS. Menurut Suharsimi Arikunto (2008: 2) PTK yaitu sebuah kegiatan penelitian yang dilakukan di kelas. Kelas dalam hal ini tidak terikat pada pengertian ruang kelas, tetapi yang dimaksud sebuah kelas adalah sekelompok siswa yang dalam waktu yang sama, menerima pelajaran yang sama dari guru yang sama pula. PTK merupakan penelitian untuk memecahkan permasalahan yang terjadi di kelas. Jadi, PTK adalah penelitian yang dilakukan di kelas untuk memecahkan permasalahan yang terjadi di kelas, dengan melakukan tindakan seperti menggunakan metode pembelajaran.
1.   Menyusun Rancangan Tindakan
Dalam tahap ini peneliti menjelaskan tentang apa, mengapa, kapan, di mana, oleh siapa, dan bagaimana tindakan tersebut dilakukan. Peneliti menentukan titik atau fokus peristiwa yang perlu mendapatkan perhatian khusus untuk diamati, kemudian membuat sebuah instrumen pengamatan untuk membantu peneliti merekam fakta yang terjadi selama tindakan berlangsung.
2. Pelaksanaan Tindakan
Pelaksanaan merupakan implementasi atau penerapan isi rancangan, yaitu mengenakan tindakan kelas. Dalam tahap kedua ini pelaksana harus ingat dan beru-saha menaati apa yang sudah dirumuskan dalam rancangan, tetapi harus pula berlaku wajar, tidak dibuat-buat.
3.   Pengamatan 
Tahap ketiga ini dilakukan oleh pengamat. Pengamatan dan tindakan berlangsung dalam waktu yang sama.
4.   Refleksi
Tahap ke empat merupakan kegiatan untuk mengemukakan kembali apa yang sudah dilakukan. Kegiatan refleksi ini sangat tepat dilakukan ketika guru pelaksana sudah selesai melakukan tindakan, kemudian berhadapan dengan peneliti untuk mendiskusikan implementasi rancangan tindakan. Istilah refleksi di sini sama dengan “memantul, seperti halnya memancar dan menatap kena kaca.” Dalam hal ini, guru pelaksana sedang memantulkan pengalaman­nya pada peneliti yang baru saja mengamati kegiatannya dalam tindakan.
Tahap pertama dalam penelitian tindakan kelas yaitu planning atau merancang tindakan. Pada tahapan ini yang dilakukan adalah menentukan fokus masalah yang akan diamati dan yang akan diberi tindakan agar masalah tersebut dapat diatasi, kemudian menyusun instrumen untuk mengetahui hasil dari penelitiannya. Lalu tahap yang kedua yaitu tindakan, dalam tahap ini kegiatannya adalah mengimplementasikan apa yang sudah dirancang pada tahap planning dan sebisa mungkin menaati apa yang sudah dirancang. Tahapan ketiga yaitu pengamatan, kegiatan dalam tahap ini yaitu mengamati objek penelitian, apakah objek tersebut sudah sesuai dengan apa yang diinginkan oleh peneliti atau belum. Kemudian tahap yang terakhir yaitu tahap refleksi, tahap ini dilakukan oleh guru dan peneliti untuk mengemukakan kembali apa yang sudah dilakukan, agar terlihat kekurangan-kekurangan yang terjadi sebagai acuan perencanaan tindakan pada siklus selanjutnya.

Rancangan Tindakan
Siklus 1
a. Perencanaan
1)   Menyiapkan materi yang akan disampai­kan pada siswa.
2)   Membuat Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP) yang berkaitan dengan materi yang akan diajarkan kepada siswa.
3)   Menyiapkan hand out untuk tutor berisi materi yang akan diajarkan.
4)   Menyusun instrumen penelitian berupa lembar observasi motivasi siswa, lembar observasi kegiatan guru, angket motivasi sebelum dan sesudah tindakan, pedoman wawancara guru dan siswa, serta soal tes sebelum dan sesudah tindakan.
5)   Memilih siswa yang memiliki kemampuan di atas rata-rata untuk dijadikan tutor.
6)   Memberikan pelatihan pada tutor tentang materi yang akan diajarkan dan melatih tutor untuk menjadi tutor yang baik.
7)   Melatih guru dalam menerapkan metode tutorial sebaya.
8)   Melakukan koordinasi dengan guru sebagai pelaksana tindakan dan dengan observer.
b. Pelaksanaan tindakan
1)   Pertemuan Pertama
a)   Pendahuluan
1)   Guru mengkondisikan siswa sebelum pembelajaran dimulai.
2)   Guru mengucapkan salam, dilanjutkan berdoa, dan presensi.
3)   Guru melakukan apersepsi, menyampaikan motivasi dan menyampaikan tujuan pembelajaran.
4)   Guru mengkondisikan siswa untuk mengerjakan tes sebelum tindakan.
5)   Guru membagikan soal tes sebelum tindakan dan menyuruh siswa untuk mengerjakan soal tersebut dengan waktu 10 menit.
6)   Guru membagi angket sebelum tindakan dan menyuruh siswa untuk mengisinya selama 5 menit.
b)   Kegiatan Inti
1)   Guru menerangkan materi pengertian dan fungsi pranata sosial secara umum pada siswa selama 8 menit.
2)   Guru membagi kelas menjadi beberapa kelompok selama 5 menit, satu kelompok diberi 1 tutor untuk menjelaskan materi pada teman-temannya.
3)   Guru menyuruh tutor untuk menerangkan materi pengertian dan fungsi pranata sosial pada siswa selama 25 menit.
4)   Guru memantau proses pembelajaran.
5)   Guru membimbing siswa yang perlu mendapat bimbingan khusus.
6)   Guru membantu dalam memecahkan masalah yang tidak terpecahkan oleh tutor dan siswa.
7)   Guru memberi penguatan pada tutor dan siswa agar mereka merasa senang selama 7 menit.
c)   Penutup
1)   Guru melakukan evaluasi dengan tanya jawab selama 5 menit.
2)   Siswa dan guru menyimpulkan materi yang telah dipelajari 5 menit.
3)   Guru memberikan tugas tentang materi yang telah dipelajari.
4)   Guru menutup kegiatan pembelajaran dengan berdoa dan salam.
Pertemuan kedua
a. Pendahuluan
1)   Guru mengkondisikan siswa sebelum pembelajaran dimulai selama 3 menit.
2)   Guru mengucapkan salam, dilanjutkan berdoa, dan presensi.
3)   Guru melakukan apersepsi, menyampai­kan motivasi dan menyampaikan tujuan pembelajaran selama 7 menit.
b. Kegiatan Inti
1)   Guru menerangkan materi ciri-ciri pranata sosial secara umum pada siswa selama 8 menit.
2)   Guru membagi kelas menjadi beberapa kelompok selama 5 menit, satu kelompok diberi 1 tutor untuk menjelaskan materi pada teman-temannya.
3)   Guru menyuruh tutor untuk menerangkan materi ciri-ciri pranata sosial pada siswa yang lain selama 25 menit.
4)   Guru memantau proses pembelajaran.
5)   Guru membimbing siswa yang perlu mendapat bimbingan khusus.
6)   Guru membantu dalam memecahkan masalah yang tidak terpecahkan oleh tutor dan siswa.
7)   Guru memberi penguatan pada tutor dan siswa agar mereka merasa senang selama 7 menit.
c. Penutup
1)   Guru mengadakan evaluasi dengan mengajak siswa untuk melakukan tes setelah tindakan selama 10 menit.
2)   Siswa mengisi angket motivasi setelah tindakan selama 5 menit.
3)   Siswa dan guru menyimpulkan materi yang telah dipelajari selama 7 menit.
4)   Guru menginformasikan materi yang akan dipelajari pada pertemuan selanjutnya selama 3 menit.
5)   Guru menutup kegiatan pembelajaran dengan doa dan salam.
c. Observasi
Observasi dilakukan selama proses tindakan berlangsung untuk mengamati motivasi belajar siswa. Observasi dilakukan oleh peneliti dan teman sejawat peneliti. Kemudian dilakukan evaluasi untuk mengamati kemajuan hasil belajar setelah melakukan pembelajaran dengan menggunakan metode tutorial sebaya. Evaluasi dilakukan dengan menggunakan tes.
d. Refleksi
Setelah observasi dilakukan, guru sebagai pelaku tindakan dan peneliti sebagai observer menganalisis seluruh data yang telah diperoleh. Setelah selesai dianalisis kemudian direfleksikan sehingga diketahui tindakan, masalah, serta hasil yang terjadi selama penelitian. Refleksi ini digunakan untuk mengetahui kekurangan-kekurangan yang terjadi sebagai acuan perencanaan tindakan pada siklus berikutnya.

Siklus II
Siklus II dilaksanakan setelah melihat refleksi dari siklus I, apa yang belum berhasil dituntaskan dalam siklus I dilaksanakan kembali dalam siklus II dengan perencanaan baru. Namun, tetap menggunakan tahapan-tahapan yang sama seperti siklus I, yaitu perencanaan, pelaksanaan, observasi, dan refleksi. Apabila tidak ada peningkatan motivasi dan hasil belajar siswa maka dalam penelitian tindakan kelas ini perlu pengulangan siklus dengan perbaikan pada setiap siklusnya. Siklus akan dihentikan jika tujuan dari penelitian ini sudah tercapai yakni meningkatkan motivasi dan hasil belajar siswa

Teknik Pengumpulan Data
Teknik pengumpulan data merupakan hal penting yang harus diperhatikan dalam penelitian karena teknik pengumpulan data akan mempengaruhi kualitas data hasil penelitian. Kualitas pengumpulan data berhubungan erat dengan ketepatan cara-cara yang digunakan untuk mengumpulkan data. Dalam penelitian ini ditetapkan teknik pengumpulan data dilakukan dengan cara sebagai berikut:
1. Wawancara
Wawancara merupakan pertemuan dua orang untuk bertukar informasi melalui tanya jawab. Kelebihan wawancara ialah bisa kontak langsung dengan orang yang diwawancarai sehingga dapat mengungkapkan jawaban secara lebih bebas dan mendalam. Wawancara dalam penelitian ini ditujukan kepada guru dan siswa kelas VIII A SMPN 1 Kemranjen. Tujuannya yaitu untuk mengetahui motivasi siswa dalam pembelajaran IPS sebelum dan sesudah diterapkannya metode tutorial sebaya.
2. Observasi
Observasi dilakukan oleh peneliti selama proses pembelajaran dengan metode pembelajaran tutorial sebaya berlangsung. Peneliti mengamati dan mencatat kejadian-kejadian yang terjadi selama pembelajaran tanpa mengganggu jalannya kegiatan belajar mengajar. Observasi dilakukan dengan menggunakan lembar observasi yang telah disiapkan. Observasi dilakukan untuk memperoleh data tentang motivasi siswa dan bagaimana jalannya pembelajaran dengan metode tutorial sebaya.
3. Angket
Angket mempunyai dua macam jenis, yaitu angket tertutup dan angket terbuka. Angket yang digunakan pada penelitian ini yaitu angket tertutup, angket yang jawabannya telah disiapkan sehingga siswa tinggal mengkategorikannya kepada alternatif jawaban yang telah dibuat. Tujuan digunakannya angket adalah untuk memperoleh data tentang motivasi siswa sebelum menggunakan metode tutorial sebaya dan sesudah menggunakan metode tersebut.
4. Tes Hasil Belajar
Tes hasil belajar digunakan untuk mengetahui dan mengukur tingkat penguasaan siswa terhadap materi yang diajarkan dengan menggunakan metode tutorial sebaya. Untuk menyatakan hasil belajar siswa pada tiap siklus digunakan tes. Tes yang digunakan merupakan tes objektif yang berbentuk pilihan ganda. Tes dilakukan untuk mengetahui peningkatan hasil belajar siswa setelah diimplementasikan metode pembelajaran tutorial sebaya.
5. Dokumentasi
Dokumentasi yang digunakan dalam penelitian ini berupa foto kegiatan pembelajaran, data tentang kondisi sekolah mengenai letak geografis, sejarah perkembangan sekolah, jumlah siswa, jumlah pengajar, dan kelengkapan sarana prasarana yang ada di sekolah.

Hasil Penelitian
Siklus I
Perencanaan Tindakan Siklus I
Siklus pertama dilakukan selama dua pertemuan dengan materi pengertian pranata sosial, fungsi pranata sosial, dan ciri-ciri pranata sosial. Sebelum memulai pelaksanaan tindakan kelas, peneliti dan guru melakukan persiapan agar pelaksanaan pembelajaran dengan metode tutorial sebaya dapat berjalan dengan lancar. Berikut ini disajikan langkah-langkah perencanaan yang diterapkan pada siklus I:
a)   Peneliti dan guru IPS menyusun Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RRP) yang memuat serangkaian kegiatan pembelajaran dengan metode tutorial sebaya, menyiapkan materi yang akan diterangkan, dan menyusun hand out untuk para tutor dan siswa.
b)   Menyusun instrumen penelitian yang terdiri dari:
(1) Lembar angket motivasi sebelum dan sesudah tindakan.
(2) Lembar observasi motivasi siswa.
(3) Lembar observasi kegiatan guru.
(4) Pedoman wawancara siswa.
(5) Pedoman wawancara guru.
(6) Soal tes sebelum dan sesudah tindakan.
c)   Memilih siswa yang memiliki kemampuan di atas rata-rata untuk menjadi tutor.
d)   Memberikan pelatihan pada tutor tentang materi yang akan diajarkan dan melatih tutor untuk menjadi tutor yang baik.
e)   Memberikan pelatihan pada guru IPS yang bertindak sebagai pelaksana tindakan tentang bagaimana menerapkan metode tutorial sebaya dalam kelas.
f)    Melakukan koordinasi dengan guru sebagai pelaksana tindakan dan dengan observer.

Pelaksanaan Tindakan Siklus I
Pendahuluan
(a)   Guru mengkondisikan kelas sebelum pembelajaran dimulai.
(b)   Guru memberi salam pada siswa, mengajak siswa untuk berdoa, dan mengecek kehadiran siswa.
(c)   Guru melakukan apersepsi dengan tanya jawab mengenai aturan-aturan yang ada di keluarga, sekolah, dan masyarakat.
(d)   Guru memberikan motivasi pada siswa untuk belajar dengan bercerita tentang pentingnya norma-norma yang ada pada masyarakat.
(e)   Guru menjelaskan tujuan pembelajaran yang ingin dicapai.
(f)    Guru mengkondisikan siswa untuk mengerjakan tes sebelum tindakan.
(g)   Guru membagikan soal tes sebelum tindakan dan menyuruh siswa untuk mengerjakan soal tersebut dengan waktu yang telah ditentukan.
(h)   Guru membagi angket sebelum tindakan dan menyuruh siswa untuk mengisinya.
Kegiatan Inti
(a)   Guru menerangkan materi pembelajaran secara umum pada siswa.
(b)   Guru membagi siswa menjadi delapan kelompok. Masing-masing kelompok diberi satu tutor untuk menjelaskan materi pada teman-teman kelompoknya.
(c)   Guru memantau proses pembelajaran.
(d)   Guru membimbing siswa yang perlu mendapatkan bimbingan khusus.
(e) Guru membantu memecahkan masalah yang tidak terpecahkan oleh tutor dan siswa.
(f)  Guru memberi penguatan materi pada siswa dan tutor agar mereka merasa senang.
Penutup
(a)   Guru melakukan evaluasi dengan tanya jawab.
(b)   Siswa dan guru membuat kesimpulan tentang materi yang telah dipelajari. (c) Guru memberi tugas pada siswa tentang materi yang telah dipelajari.
(c)   Guru mengakhiri pelajaran dengan berdoa dan salam.
Pertemuan 2
(a)   Guru mengkondisikan siswa sebelum pembelajaran dimulai.
(b)   Guru memberi salam pada siswa, mengajak siswa untuk berdoa, dan mengecek kehadiran siswa.
(c)   Guru melakukan apersepsi dengan tanya jawab mengenai materi yang telah dipelajari pada pertemuan sebelumnya.
(d)   Guru memberikan motivasi pada siswa dengan menampilkan gambar-gambar yang berkaitan dengan ciri-ciri pranata sosial.
(e)   Guru menjelaskan tujuan pembelajaran yang ingin dicapai.
Kegiatan Inti
(a)   Guru memberikan penjelasan materi ciri-ciri pranata sosial secara umum di depan kelas.
(b)   Guru membagi siswa menjadi delapan kelompok. Masing-masing kelompok diberi satu tutor untuk menjelaskan materi pada teman-teman kelompoknya.
(c)   Guru memantau proses pembelajaran.
(d)   Guru membimbing siswa yang perlu mendapatkan bimbingan khusus.
(e)   Guru membantu memecahkan masalah yang tidak terpecahkan oleh tutor dan siswa.
(f)    Guru memberi penguatan materi pada siswa dan tutor agar mereka merasa senang.
Penutup
(a) Guru mengadakan evaluasi dengan mengajak siswa untuk melakukan tes setelah tindakan.
(b) Guru menyuruh siswa untuk mengisi angket motivasi setelah tindakan.
(c) Siswa dan guru membuat kesimpulan tentang materi yang telah dipelajari.
(d) Guru menginformasikan materi yang akan dipelajari pada pertemuan selanjutnya.
(e) Guru mengakhiri pelajaran dengan berdoa dan salam.
Setelah  tindakan pada siklus 1 menunjukan bahwa siswa yang dapat menguasai materi secara baik hingga dapat mencapai ketuntasan belajar sebanyak 10 siswa (32%) dan yang belum mencapai ketuntasan belajar sebanyak 21 siswa (68%). Hasil tes ini akan dijadikan dasar  untuk melakukan perbaikan pada siklus II, karena belum ada 60% siswa yang mencapai ketuntasan belajar dan berdasarkan hasil observasi dapat diketahui bahwa metode tutorial sebaya belum berhasil dalam meningkatkan motivasi siswa dalam belajar IPS karena persentase rata-rata indikator motivasi siswa belum mencapai kriteria keberhasilan tindakan yang telah ditentukan yaitu 60%. Rata-rata persentase indikator motivasi siswa pada siklus I baru mencapai 56%, kurang 4% lagi untuk mencapai kriteria keberhasilan.Serta hasil hasil angket tersebut diperoleh data bahwa motivasi siswa pada siklus I yaitu sebesar 59%, kurang 1% lagi untuk mencapai kriteria keberhasilan tindakan. Hasil angket ini menunjukan bahwa metode tutorial sebaya belum berhasil dalam meningkatkan motivasi belajar siswa karena belum mencapai kriteria keberhasilan tindakan

Refleksi
Penerapan metode pembelajaran tutorial sebaya pada siklus I belum sepenuhnya berjalan dengan optimal, karena guru dan siswa masih terlihat bingung dan belum terbiasa dengan metode ini. Motivasi siswa pada siklus I belum terlihat dengan maksimal, hasil belajar siswa juga kurang memuaskan karena siswa yang mencapai KKM hanya sebesar 32%, atau sekitar 10 siswa. Melalui pengamatan siklus I, maka diperlukan upaya perbaikan untuk siklus II, agar siklus II dapat berjalan lebih baik. Untuk itu perlu disusun rencana tindakan yang diperbaiki pada siklus II agar kriteria keberhasilan tindakan tercapai..

Siklus II
Perencanaan Tindakan Siklus II
Kegiatan perencanaan tindakan pada siklus II hampir sama dengan perencanaan siklus I, hanya ada perbaikan dikarenakan siklus I belum berjalan dengan baik. Pada siklus II ini perencanaan dan perbaikan yang dilakukan oleh peneliti dan guru antara lain:
a)   Menyiapkan materi dan membuat Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP) untuk pertemuan pertama dan kedua dengan materi penggolongan pranata sosial dan macam-macam pranata sosial beserta fungsinya.
b)   Menyiapkan hand out untuk tutor dan siswa.
c)   Menyusun instrumen penelitian yang terdiri dari:
(1) Lembar angket motivasi sesudah tindakan.
(2) Lembar observasi motivasi siswa
(3) Lembar observasi kegiatan guru
(4) Pedoman wawancara siswa
(5) Pedoman wawancara guru
(6) Soal tes sebelum dan sesudah tindakan
d)   Memilih siswa yang memiliki kemampuan di atas rata-rata untuk menjadi tutor.
e)   Memberikan pelatihan pada tutor tentang materi yang akan diajarkan dan melatih tutor untuk menjadi tutor yang baik. Pelatihan dilakukan lebih lama agar tutor benar-benar memahami materi, setiap tutor terlebih dahulu belajar menerangkan materi dengan teman-teman tutor yang lain. Tutor juga diharapkan lebih tegas kepada siswa dan memberi pancingan pada siswa agar mau bertanya.
f)    Memberikan pelatihan pada guru IPS yang bertindak sebagai pelaksana tindakan.
g)   Memberikan hadiah pada tutor dan siswa yang aktif dalam pembelajaran.
h)   Melakukan koordinasi dengan guru sebagai pelaksana tindakan dan observer.

Pelaksanaan Tindakan Siklus II
a) Pertemuan 1
(1) Pendahuluan
a)     Guru mengkondisikan kelas sebelum pembelajaran dimulai.
b)     Guru memberi salam, mengajak siswa untuk berdoa dan memeriksa kehadiran siswa.
c)     Guru melakukan apersepsi dengan tanya jawab mengenai materi yang telah dipelajarai pada pertemuan sebelumnya.
d)     Guru memberikan motivasi dengan memberi tahu siswa tentang peran pranata sosial dalam membantu masyarakat untuk memenuhi kebutuhan, sehingga siswa semangat belajar. 
e)     Guru menyampaikan tujuan pembelajaran pada siswa.
(f)    Guru mengkondisikan siswa untuk mengerjakan tes sebelum tindakan.
(g)   Guru membagikan soal tes dan menyuruh siswa untuk mengerjakan soal tersebut sesuai dengan waktu yang telah ditentukan.
Kegiatan Inti
a.    Guru menerangkan materi penggolongan pranata sosial, pranata agama, dan pranata keluarga secara umum di depan kelas.
b.   Guru membagi kelas menjadi delapan kelompok, setiap kelompok diberi satu tutor untuk menerangkan materi pada siswa yang lain.
c.    Guru memantau proses pembelajaran.
d.   Guru membimbing siswa yang perlu mendapat bimbingan khusus.
e.    Guru membantu memecahkan masalah yang tidak terpecahkan oleh tutor dan siswa.
f.    Guru memberi penguatan pada siswa dan tutor agar mereka merasa senang.
Penutup
a)   Guru melakukan evaluasi dengan tanya jawab.
b)   Siswa dan guru membuat kesimpulan tentang materi yang telah dipelajari.
c)   Guru memberikan tugas pada siswa tentang materi yang telah dipelajari.
d)   Guru mengakhiri kegiatan pembelajaran dengan berdoa dan salam.
Pertemuan 2
Pendahuluan
(a)   Guru mengkondisikan kelas sebelum memulai pembelajaran.
(b)   Guru mengucapkan salam, mengajak siswa berdoa dan mengecek kehadiran siswa.
(c)   Guru melakukan apersepsi dengan melakukan tanya jawab tentang materi yang telah dipelajari pada pertemuan sebelumnya.
(d)   Guru memberikan memotivasi dengan memberi tahu siswa tentang pentingnya belajar pranata ekonomi, politik, dan pendidikan.
(e)   Guru menjelaskan tujuan pembelajaran yang ingin dicapai.
Kegiatan Inti
a)   Guru menerangkan materi pranata ekonomi, politik, dan pendidikan secara umum di depan kelas.
b)   Guru membagi kelas menjadi delapan kelompok. Satu kelompok diberi satu tutor untuk menerangkan materi pada siswa.
c)   Guru memantau proses pembelajaran.
d)   Guru membimbing siswa yang perlu mendapat bimbingan khusus.
e)   Guru membantu memecahkan masalah yang tidak terpecahkan oleh tutor dan siswa.
f)    Guru memberi penguatan materi pada tutor dan siswa di depan kelas agar mereka merasa senang.
 Penutup
a)  Guru melakukan evaluasi dengan mengajak siswa untuk mengerjakan tes setelah tindakan.
b)  Guru mengajak siswa untuk mengisi angket motivasi setelah tindakan.
c)  Siswa dan guru membuat kesimpulan materi yang telah dipelajari.
d)  Guru menginformasikan materi yang akan dipelajari pada pertemuan berikutnya.
e)  Guru mengakhiri kegiatan pembelajaran dengan berdoa dan salam.
Hasil tes setelah tindakan pada siklus II ini menunjukan bahwa siswa yang menguasai materi secara baik sehingga dapat mencapai ketuntasan belajar sebanyak 20 siswa (63%) dan yang belum mencapai ketuntasan sejumlah 12 siswa (37%). Jadi dapat disimpulkan, siswa yang mencapai KKM sudah mencapai lebih dari 60% dan berarti metode tutorial sebaya dapat meningkatkan hasil belajar siswa dalam mata pelajaran IPS. hasil rata-rata indikator motivasi tersebut menyatakan bahwa motivasi siswa dalam belajar IPS sudah mencapai kriteria keberhasilan tindakan, karena sudah mencapai 60%. Motivasi siswa mengalami peningkatan dari siklus I sebanyak 5%, dari 59% menjadi 64%. Berdasar hasil angket ini dapat diambil kesimpulan bahwa penerapan metode tutorial sebaya dalam pembelajaran IPS dinyatakan berhasil dalam meningkatkan motivasi siswa0%

Refleksi Siklus II
Pengaruh metode tutorial sebaya terhadap motivasi dan hasil belajar siswa pada siklus II ini sangat besar. Terdapat peningkatan yang sangat baik pada motivasi dan hasil belajar siswa. Motivasi dan hasil belajar siswa telah mencapai bahkan melampaui kriteria keberhasilan tindakan. Motivasi belajar siswa berdasarkan observasi meningkat 11%, dari 56% pada siklus I menjadi 67% pada siklus II. Kemudian motivasi belajar siswa berdasarkan angket meningkat 5%, dari 59% pada siklus I menjadi 64% pada siklus II. Hasil belajar siswa meningkat 31%, dari 32% pada siklus I menjadi 63% pada siklus II.
Penerapan metode tutorial sebaya dalam pembelajaran IPS terbukti dapat meningkatkan hasil belajar siswa. Hal ini dibuktikan dengan peningkatan jumlah siswa yang mencapai KKM pada siklus II hingga mencapai kriteria keberhasilan tindakan. Berhasilnya metode ini dalam meningkatkan hasil belajar siswa dikuatkan dengan teori dari Syaiful Bahri Djamarah & Aswan Zain (2006: 27), tutorial sebaya akan memberi hasil yang lebih baik bagi beberapa anak yang mempunyai perasaan takut atau enggan kepada guru. Berikut ini akan dijelaskan peningkatan hasil belajar siswa siklus I dan siklus II.
Hasil tes pada siklus I menunjukan bahwa siswa yang telah mencapai KKM sebanyak 10 siswa (32%), dan yang belum mencapai KKM sebanyak 21 siswa (68%). Siswa yang belum mencapai KKM masih banyak sekali, hal ini dikarenakan pada siklus I motivasi siswa dalam belajar masih rendah, guru juga belum menjalankan metode tutorial sebaya dengan benar, seperti belum membimbing siswa yang perlu mendapat bimbingan khusus dan belum memberi penguatan materi pada siswa. Siswa tidak aktif bertanya pada guru dan tutor ketika kesulitan, tidak memperhatikan penjelasan materi, bermalas-malasan di kelas, melamun, tiduran, dan bercerita dengan siswa yang lain. Permasalahan ini menyebabkan pemahaman siswa mengenai materi sangat kurang, sehingga hasil belajar siswa juga ikut rendah. Siswa tidak dapat mengerjakan soal tes dengan baik karena tidak memahami materi.
Permasalahan yang terjadi pada siklus I diatasi oleh peneliti dan guru agar siklus II lebih baik. Guru dan peneliti mengatasi masalah dengan cara meningkatkan motivasi belajar siswa agar siswa dapat menyerap materi lebih baik, guru memancing siswa agar aktif bertanya saat kesulitan, memberi pujian dan hadiah, serta mengajak siswa untuk bersaing dalam nilai. Guru juga memberitahu hasil tes siswa pada siklus I, agar siswa terdorong untuk lebih baik. Menurut Sardiman (2010: 95), hasil pekerjaan yang diketahui oleh siswa, apalagi jika terjadi kemajuan, akan mendorong siswa untuk giat belajar.
Hasil belajar siswa pada siklus II meningkat daripada siklus I. Siswa yang mencapai KKM pada siklus ini sebanyak 20 siswa (63%), dan yang belum mencapai KKM sebanyak 12 siswa (37%). Persentase ini meningkat 31% dari siklus I, merupakan peningkatan yang cukup tinggi. Peningkatan motivasi dan hasil belajar siswa secara bersamaan menunjukan bahwa ada keterkaitan antara motivasi dan hasil belajar siswa. Nana Sudjana (2006: 2) menyatakan bahwa ada hubungan antara pengalaman belajar dengan hasil belajar. Apabila proses belajar siswa baik, maka hasil belajar siswa juga akan baik.
Pada siklus II, siswa aktif bertanya pada guru dan tutor saat mengalami kesulitan. Siswa juga antusias dalam mendengarkan penjelasan guru dan tutor, hand out yang diberikan dibaca oleh siswa dan dipahami dengan baik. Pada siklus ini guru juga memberikan bimbingan pada siswa yang memerlukan bimbingan khusus dan memberi penguatan pada tutor dan siswa agar lebih memahami materi.

Kesimpulan
1. Penerapan metode pembelajaran tutorial sebaya dapat meningkatkan motivasi belajar siswa kelas VIII A SMPN 1 Kemranjen pada mata pelajaran IPS. Keberhasilan metode tutorial sebaya dalam meningkatkan motivasi belajar siswa dibuktikan dengan peningkatan rata-rata indikator motivasi pada tiap siklusnya hingga mencapai kriteria keberhasilan tindakan yang telah ditentukan. Pada siklus I rata-rata indikator motivasi berdasarkan observasi yaitu 56%, kemudian meningkat 11% pada siklus II menjadi 67%. Berdasarkan angket, rata-rata indikator motivasi pada siklus I yaitu 59%, kemudian meningkat 5% pada siklus II menjadi 64%. Metode tutorial sebaya membuat siswa lebih berminat pada mata pelajaran IPS, lebih semangat dan aktif dalam pembelajaran, serta tidak malu untuk bertanya apa yang masih dibingungkan.
2. Metode tutorial sebaya dapat meningkatkan hasil belajar siswa pada mata pelajaran IPS di SMPN 1 Pilangkenceng. Keberhasilan ini ditunjukan dengan peningkatan jumlah siswa yang memenuhi KKM hingga mencapai kriteria keberhasilan tindakan, dimana KKM SMPN 1 Pilangkenceng yaitu 75. Pada siklus I siswa yang mencapai KKM sebanyak 10 siswa (32%) dari 32 siswa, kurang 28% lagi untuk mencapai kriteria keberhasilan tindakan. Pada siklus II siswa yang mencapai KKM meningkat menjadi 20 siswa, yang artinya 63% dari jumlah keseluruhan siswa sudah mencapai KKM. Hal ini berarti metode tutorial sebaya telah berhasil dalam meningkatkan hasil belajar karena siswa yang mencapai KKM sebesar 63%.

B. Saran
1. Bagi Guru. Guru hendaknya menerapkan metode pembelajaran tutorial sebaya dalam pembelajaran IPS sebagai salah satu alternatif untuk meningkatkan motivasi dan hasil belajar siswa. Hal yang perlu diperhatikan yaitu guru hendaknya selalu memantau siswa dan memberikan penguatan, agar siswa lebih memahami materi yang diberikan.
2. Bagi siswa. Siswa hendaknya belajar lebih bersungguh-sungguh lagi ketika mengguna­kan metode tutorial sebaya dan berusaha menggali informasi sebanyak-banyaknya dari tutor.


DAFTAR PUSTAKA
Abdul Majid. (2009). Perencanaan Pembelajaran. Bandung: PT Remaja Rosdakarya.
Abu Ahmadi & Widodo Supriyono. (2004). Psikologi Belajar. Jakarta: Rineka Cipta.
Agus Suprijono. (2013). Cooperative Learning Teori & Aplikasi PAIKEM. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.
Conny Semiawan, dkk. (1992). Pendekatan Ketrampilan Proses. Jakarta: PT Gramedia.
Dendi Tri Sunarno. (2012). “Upaya Meningkatkan Motivasi dan Hasil Belajar Siswa dengan Penerapan Media Slide PowerPoint Pada Mata Pelajaran IPS Kelas VII A SMP Negeri 3 Sleman”. Skripsi. Yogyakarta: UNY.
Depdiknas. (2006). Permendiknas No. 22 Tahun 2006 Tentang Standar Isi. Jakarta: Depdiknas
Dimyati & Mudjiono. (2009). Belajar dan Pembelajaran. Jakarta: Rineka Cipta.
Fian Lukas Guntur Warsono. (2011). “Penerapan Metode Tutorial Sebaya Dalam Pembelajaran Ekonomi Untuk Meningkatkan Prestasi Belajar Siswa Kelas X SMA Negeri 2 Yogyakarta Tahun Ajaran 2010/2011.” Skripsi. Yogyakarta: UNY.
Rini Yustiningsih. (2014). Bolos di Warnet, 8 Pelajar Sukoharjo Ditangkap Satpol. http://www.soloposfm.com/2014/05/bolos-di-warnet-8-pelajar-sukoharjo-ditangkap-satpol/. Diakses 11 September 2014.
Debosya. (2014). Kasus Siswa Bolos, Kadisdikpora Ingatkan Kepala Sekolah. http://komapos.com/sumbar/agam/1255-kasus-siswa-bolos-kadisdikpora-ingatkan-kepala-sekolah. Diakses 11 September 2014.
M.latief. (2011). Nilai UN Jateng dan Kalbar Terburuk. http://edukasi.kompas.co/read/2011/06/01/19280529/Nilai.UN.Jateng.dan.Kalbar.Terburuk. Diakses 11 September 2014.
Hamzah B. Uno & Satria Koni. (2012). Assessment Pembelajaran. Jakarta: PT Bumi Aksara.
Mimin Haryati. (2007). Sistem Penilaian Berbasis Kompetensi Teori & Praktek. Jakarta: Gaung Persada Press. 119
Muhammad Numan Somantri. (2001). Menggagas Pembaharuan Pendidikan IPS. Bandung: PT Remaja Rosdakarya.
Nana Sudjana. (2006). Penilaian Hasil Proses Belajar Mengajar. Bandung: PT Remaja Rosdakarya.
Neila Ramdhani. (2012). Menjadi Guru Inspiratif Aplikasi Ilmu Psikologi dalam Pendidikan. Jakarta: Titian Foundation.
Ngalim Purwanto. (1994). Prinsip-prinsip dan teknik evaluasi pengajaran. Bandung: PT Remaja Rosdakarya.
Nurul Ramadhani Makarao. (2009). Metode Mengajar dalam Bidang Kesehatan. Bandung: Alfabeta.
Rochiati Wiraatmadja. (2008). Metode Penelitian Tindakan Kelas. Bandung: PT Remaja Rosdakarya.
Sapriya. (2011). Pendidikan IPS. Bandung: PT Remaja Rosdakarya.
Sardiman. (2010). Interaksi & Motivasi Belajar Mengajar. Jakarta: PT Raja Grafindo Persada.
Sugihartono, dkk. (2007). Psikologi Pendidikan. Yogyakarta: UNY Press.
Sugiyono. (2009). Metode Penelitian Pendidikan (Pendekatan Kuantitatif, Kualitatif dan R&D). Bandung: Alfabeta.
Suharsimi Arikunto. (2008). Penelitian Tindakan Kelas. Jakarta: Bumi Aksara.
Sukardi. (2009). Metodologi Penelitian Pendidikan Kompetensi dan Prakteknya. Jakarta: Bumi Aksara
Supardi. (2011). Dasar-Dasar Ilmu Sosial. Yogyakarta: Ombak.
Syaiful Bahri Djamarah & Aswan Zain. (2006). Strategi Belajar Mengajar. Jakarta: PT Rineka Cipta.
Trianto. (2010). Model Pembelajaran Terpadu. Jakarta: Bumi Aksara.
Udin. S. Winatapura. (1999). Pembelajaran Kelas Rangkap (PKR). Departemen Pendidikan dan Kebudayaan Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi.
Wina Sanjaya. (2010). Penelitian Tindakan Kelas. Jakarta: Prenada Media Group. 120

Tidak ada komentar:

Posting Komentar