MENINGKATKAN PRESTASI BELAJAR MATEMATIKA MATERI TEOREMA
PYTHAGORAS DENGAN PENERAPAN MODEL PEMBELAJARAN TEAM
GAME TOURNAMENT (TGT) SISWA KELAS
VIII-I SEMESTER GENAP TAHUN PELAJARAN
2017–2018 SMP NEGERI 1 DOLOPO KABUPATEN MADIUN
|
|
Oleh
: Djoko Setyarso
Guru
SMP Negeri 1 Dolopo Kabupaten Madiun
|
abstrak
Kata kunci : inkuiri, Team
Game Turnamen (TGT), ,
hasil belajar
Salah satu permasalahan mendasar
dalam proses pembelajaran Matematika
adalah masih banyak
teori yang dikemukakan oleh para tokoh. Sedangkan guru ketika menjelaskan
teori-teori tersebut hanya menggunakan metode ceramah (hasil dengar pendapat
guru yang tergabung dalam MGMPS
Matematika SMP Negeri 1 Dolopo.
Hal inilah yang menyebabkan perhatian siswa menjadi kurang dan siswa menjadi
malas serta jenuh ketika harus belajar teori-teori tersebut. Kurangnya perhatian siswa
berimbas pada lemahnya motivasi belajar dan yang pada akhirnya berpengaruh
terhadap rendahnya hasil belajar. Oleh karena itu, pada penelitian ini dicoba
untuk menangani masalah rendahnya hasil
belajar siswa dengan mengembangkan model pembelajaran “Team Game
Turnamen (TGT)” melalui Penelitian Tindakan Kelas
(PTK).
Penelitian ini dilakukan
selama selama 3 bulan, yaitu pada bulan Januari sampai bulan Maret 2018. Adapun pelaksanaan tindakan dilakukan bulan akhir Januari sampai Februari 2018. Penelitian ini menggunakan desain Penelitian
Tindakan Kelas dengan model Kemmis
dan Taggart yang terdiri dari empat
fase, yaitu : perencanaan, pelaksanaan tindakan, observasi dan refleksi. Subyek
penelitian adalah siswa kelas VIII-I SMP Negeri 1 Dolopo yang berjumlah 30 siswa.
Prosedur pengumpulan data
dengan menggunakan teknik observasi dan tes. Pengecekan keabsahan data dalam
penelitian ini menggunakan teknik triangulasi dan teknik pemeriksaan sejawat
melalui diskusi. Sedangkan analisis data dengan menggunakan analisis kualitatif
model alir (flow).
Hasil penelitian ini menunjukkan
adanya peningkatan perhatian, motivasi belajar siswa juga meningkat, yang pada
akhirnya meningkatkan hasil belajar
siswa. Peningkatan ini dapat dilihat
dari rerata 76,13 (siklus I) menjadi 83,07 (siklus II) meningkat sebesar 16,93. Sedangkan ketuntasan
belejar meningkat dari 60% pada siklus I menjadi 90% pada siklus II, meningkat
sebesar 30 %
Latar Belakang
Salah
satu pelajaran yang diujikan secara nasional mempunyai peranan yang sangat
penting adalah mata pelajaran Matematika. Nilai matematika hasil Ujian
Nasional dipakai sebagai salah satu
barometer kelulusan siswa tingkat SMP/MTs disamping nilai bahasa Indonesia dan
bahasa Inggris. Mengingat pentingnya matematika dalam penentuan kelulusan
siswa, maka diperlukan upaya untuk meningkatkan prestasi belajar matematika. Data
nilai ulangan harian pelajaran matematika siswa kelas VIII-I pada kompetensi
dasar Memahami Teorema
Pythagoras melalui alat peraga, dan penyelidikan berbagai pola bilangan menunjukkan
14 siswa memperoleh nilai ≥ 76 dan
16 siswa mendapat nilai < 76. Dengan Kriteria Ketuntasan Minimal (KKM) 76 maka baru
46,67% yang tuntas belajar. Hal ini menunjukkan bahwa prestasi belajar materi
teorema Pythagoras pada siswa kelas VIII-I SMP Negeri I Dolopo masih perlu ditingkatkan.
Matematika merupakan salah satu pelajaran yang
masih menjadi momok bagi siswa. Banyak siswa sudah merasa takut terlebih dahulu
sebelum belajar matematika. Image sebagai mata pelajaran sulit dan guru yang
seram begitu melekat pada matematika. Kesemuanya itu berakibat pada rendahnya
motivasi siswa dalam belajar matematika. Banyak siswa hanya menulis atau menyalin apa yang ditulis guru di papan
tulis tanpa mengetahui apa yang dipelajari dan mengapa suatu materi perlu
dipelajari. Siswa tidak bertanya meskipun belum paham terhadap materi yang dijelaskan
guru, dan siswa sering tidak mengerjakan tugas yang diberikan oleh guru.
Motivasi merupakan faktor pendorong dalam
pencapaian prestasi seseorang. Seseorang melakuan suatu usaha karena adanya
motivasi. Adanya motivasi yang baik dalam belajar akan menunjukkan hasil yang
baik. Menurut Sardiman (1992:84), hasil belajar akan menjadi optimal, kalau ada
motivasi. Dengan kata lain bahwa dengan
adanya usaha yang tekun dan terutama di dasari adanya motivasi, maka seseorang
yang belajar itu dimungkinkan akan melahirkan prestasi yang baik. Intensitas
motivasi seorang siswa akan sangat menentukan tingkat pencapaian prestasi
belajarnya. Jadi jelas bahwa rendahnya motivasi belajar siswa akan berakibat
pada rendahnya tingkat pencapaian prestasi belajarnya.
Selain itu kurang bervariasinya model pembelajaran
yang digunakan seorang guru merupakan penyebab lain rendahnya prestasi belajar
matematika siswa. Seiring dengan dikembangkannya Kurikulum 2013, guru
diharapkan memiliki inovasi-inovasi yang kreatif dalam pembelajaran. Dalam
kenyataannya, guru guru masih terpaku pada satu model pembelajaran saja.
Sebaiknya seorang guru harus mencoba menggunakan model-model pembelajaran yang
bervariasi. Lingkungan dan suasana pembelajaran perlu diubah, karena lingkungan
dan suasana pembelajaran yang tetap/monoton akan membosankan dan menimbulkan
kejenuhan. Ini sesuai dengan pendapat Wuryani (2002:366), lingkungan yang tidak
berubah akan sangat membosankan. Hal ini tentunya akan berdampak negatif pada
prestasi belajar matematika siswa.
Dewasa ini model pembelajaran kooperatif adalah
inovasi pembelajaran yang dianjurkan dalam Kurikulum 2013. Banyak model
pembelajaran kooperatif yang dapat digunakan oleh guru, antara lain : model
STAD, Jigsaw (tim Ahli), Make A Match (Mencari Pasangan), Team Games Tournament
(TGT) dan lian-lain. Dalam penelitian ini, peneliti menggunakan model
pembelajaran Team Games Tournament (TGT) sebagai alternatif untuk meningkatkan
prestasi belajar matematika siswa. Dalam model pembelajaran ini siswa
dikelompokkan dalam beberapa kelompok yang heterogen. Siswa diarahkan untuk
bekerja sama secara aktif dalam kelompoknya. Peneliti memilih menggunakan model
pembelajaran Team Games Tournament (TGT) karena dalam model pembelajaran ini
ada semacam kompetisi, sehingga siswa akan termotivasi untuk membantu teman satu
tim yang berkemampuan lebih rendah dengan tujuan sama yaitu menang dalam
turnamen.
Dengan model pembelajaran Team Games Tournament
ini peneliti berharap motivasi siswa untuk belajar matematika meningkat. Hal
ini akan terlihat dari respon siswa terhadap model pembelajaran ini. Siswa yang
selama ini pasif, diharapkan aktif, berani mengeluarkan pendapat, bertanya dan
berkomunikasi. Pada akhirnya diharapkan prestasi belajar matematika siswa
meningkat.
Dengan
adanya latar belakang tersebut di atas Maka penulis mencoba melakukan
Penelitian Tindakan kelas yang ber judul ” Meningkatkan Prestasi Belajar
Matematika Materi Teorema Pythagoras dengan Penerapan Model Pembelajaran Team Game
Tournament (TGT) Siswa Kelas VIII-I Semester Genap Tahun Pelajaran 2017–2018 SMP Negeri 1 Dolopo Kabupaten Madiun”
Kajian Pustaka
Pembelajaran Matematika
Pembelajaran matematika tidaklah sama maknanya dengan mengajar matematika. Para
ahli psikologi pendidikan memberikan batasan yang berbeda-beda rumusannya.
Perbedaan tersebut disebabkan oleh perbedaan sudut pandang terhadap makna
mengajar. Pandangan pertama melihatnya dari segi pelakunya, yaitu pengajarnya.
Menurut pandangan ini, dalam mengajar
tentu ada obyek yang diberi pelajaran yaitu peserta didik dan ada subyek yang
mengajar yaitu pengajar atau guru. Sehingga mengajar adalah suatu kegiatan
dimana pengajar menyampaikan pengetahuan atau pengalaman yang dimiliki kepada
peserta didik. Pandangan ini telah lama dianut oleh kalangan pendidik dari
jenjang pendidikan dasar sampai dengan jenjang perguruan tinggi.Pandangan ini
menempatkan siswa sebagai obyek pendidikan.siswa hanya pasif menerima apa yang
disampaikan oleh guru.
Pandangan kedua melihat mengajar bukan dari
sudut pelaku yang mengajar, tetapi dari sudut siswa yang belajar. Sehingga
mengajar dalam konteks ini adalah membimbing kegiatan siswa belajar. Mengajar
adalah mengatur dan mengorganisasi lingkungan yang ada di sekitar siswa,
sehingga dapat mendorong dan menumbuhkan minat siswa melakukan kegiatan
belajar.
Paradigma baru memandang siswa bukan sebagai
obyek, tetapi siswa menjadi subyek dalam pembelajaran. Konsep matematika tidak
dipandang sebagai barang jadi yang hanya menjadi bahan informasi untuk siswa.
Namun, guru diharapkan merancang pembelajaran matematika, sehingga memberikan
kesempatan yang seluas-luasnya kepada siswa untuk berperan aktif dalam
membangun konsep secara mandiri atau bersama-sama.
Siswa diharapkan dapat menemukan kembali akan
konsep, aturan, ataupun algoritma. Algoritma yang dulu diberikan begitu saja
oleh guru kepada siswa untuk menambah pengetahuan, sekarang selain untuk itu,
siswa diberi kesempatan untuk menemukan sendiri algoritma tersebut, dan tidak
menutup kemungkinan siswa menemukan cara lain yang belum diketahui guru.
Pembelajaran matematika yang demikian, akan
dapat menimbulkan rasa bangga pada diri siswa, menumbuhkan minat, rasa percaya
diri, memupuk dan mengembangkan imajinasi dan daya cipta siswa.
Pembelajaran Kooperatif
Pembelajaran kooperatif merupakan salah satu
pendekatan pembelajaran yang sangat populer saat ini, termasuk dalam
pembelajaran matematika. Dalam pembelajaran kooperatif, siswa belajar bersama
dalam kelompok-kelompok kecil yang dirancang untuk memperoleh keberhasilan
bersama-sama. Siswa tidak hanya dituntut secara individual berusaha mencapai
sukses, melainkan siswa dituntut untuk biasa bekerjasama untuk mencapai sukses
bersama.
Ada beberapa definisi tentang pembelajaran
kooperatif yang dikemukakan oleh ahli pendidikan. Slavin (dalam Rahayu,
1998:156) mendefinisikan bahwa dalam pembelajaran kooperatif siswa belajar bersama, saling menyumbangkan
pikiran dan tanggung jawab terhadap pencapaian hasil belajar secara individu
maupun kelompok.
Metode pembelajaran kooperatif akan dapat
melatih siswa untuk mendengarkan pendapat dari orang lain dan merangkum
pendapat atau temuan dalam bentuk tulisan. Tugas-tugas kelompok yang dirancang
dalam pembelajaran kooperatif akan dapat memicu para siswa untuk bekerjasama
dan saling membantu satu sama lain dalam mengintegrasikan
pengetahuan-pengetahuan baru yang dimiliki.
Menurut Rogers dan David Johnson (dalam Anita
Lie,2002:30 ) pembelajaran kooperatif memiliki 5 unsur sebagai berikut :
a.
Adanya
saling ketergantungan positif (positif
interdependence)
b.
Tanggung
jawab perorangan (individual
accountability), setiap anggota kelompok akan bertanggung jawab terhadap
hasil kelompok.
c.
Tatap
muka antar siswa (face-to-face
interaction), siswa bertatap muka satu dengan yang lain dan berinteraksi
secara langsung.
d.
Keterampilan
kolaborasi komunikasi antar individu dan kelompok.
e.
Evaluasi
pemrosesan kelompok (group processing),
siswa memproses keefektifan kelompok belajar dengan menjelaskan tindakan mana
yang dapat menyeimbangkan belajar dan mana yang tidak.
Untuk
menerapkan pembelajaran kooperatif maka seorang guru hendaknya terlebih dahulu
harus mengetahui langkah-langkah dalam pembelajaran kooperatif. Menurut
Sa’diyah (dalam Yuliati,2003:12-13) langkah-langkah pembelajaran kooperatif
adalah sebagai berikut :
1.
Menyampaikan
tujuan dan motivasi siswa
a.
Pembelajaran
dimulai dengan melakukan penelaahan ulang, menjelaskan tujuan dari materi yang
akan diajarkan, mengaitkan pembelajaran itu dengan materi sebelunnya.
b.
Memberitahukan
kriteria keberhasilan secara terbuka
2.
Menyajikan
informasi
3.
Mengorganisasikan
siswa dalam kelompok-kelompok belajar. hal ini dilakukan guru dengan
menjelaskan kepada siswa bagaimana caranya membentuk kelompok belajar dan
membantu setiap kelompok agar melakukan transisi secara efisien
4. Membandingkan
kelompok belajar pada saat mereka mengerjakan tugas
5.
Mengevaluasi.
Kegiatan mengevaluasi dilakukan guru dengan melakukan tes atau perlombaan
tentang materi yang dipelajari, atau dengan masing-masing kelompok
mempresentasikan hasil kerjanya
6.
Memberi
penghargaan kelompok. Jenis penghargaan biasa berupa sertifikat, uang dan
lain-lain, hal ini dalam rangka untuk memotivasi siswa agar belajar lebih giat.
Sedangkan menurut Arends ( dalam
Karuru,2001:3) disebutkan ada 6 fase atau langkah untama dalam pembelajaran
kooperatif.
Fase 1 : Menyampaikan tujuan dan memotivasi siswa
Fase 2 : Manyajikan informasi
Fase 3 : mengoraganisasikan
siswa kedalam kelompok-kelompok belajar
Fase 4 : Membantu kerja kelompok dalam belajar
Fase 5 : Mangetes materi
Fase 6 : Mamberikan penghargaan
Setiap bentuk pendekatan pembelajaran selalu
mempunyai keuntungan dan kerugian. Secara umum, keuntungan pembelajaran
kooperatif adalah sebagai berikut :
1.
Siswa
bertanggung jawab terhadap proses belajarnya, terlibat secara aktif dan
memiliki usaha yang lebih besar untuk berprestasi dalam belajar.
2.
Siswa
dapat mengembangkan ketrampilan berpikir tingkat tinggi dan berpikir kritis.
3.
Siswa
yang secara aktif terlibat dalam pembelajaran kooperatif memiliki konsentrasi
belajar yang lebih baik dibandingkan siswa yang hanya mendengarkan ceramah. Hal
ini disebabkan karena waktu mereka lebih banyak digunakan untuk mensintesis dan
mengintegrasikan berbagai konsep yang terdapat dalam materi.
4. Hubungan yang lebih positif antar
siswa dan kesehatan psikologis yang lebih besar. Hal ini mencakup hubungan
akademik secara perorangan dan kelompok, menghormati perbedaan dan pandangan
antar siswa. Dengan adanya dukungan antar teman dan saling mendengarkan
pendapat, maka siswa dapat meningkatkan rasa percaya diri, kemampuan
bersosialisasi, serta kemampuan mengatasi kesulitan.
Sedangkan kerugian dari pembelajaran kooperatif
adalah :
1. Keberhasilan
kelompok belajar sangat ditentukan oleh kemampuan siswa untuk kerja sama dalam
kelompok.
2. Memakan
waktu yang relatif lama.
3. Materi
tidak dapat diselesaikan sesuai dengan kurikulum.
4. Guru
membutuhkan persiapan yang matang dan pengalaman yang lama untuk dapat
menerapkan metode belajar kelompok dengan baik.
5. Kontribusi
dari siswa yang berprestasi rendah menjadi kurang dan siswa yang memiliki
prestasi tinggi akan mengarah pada kekecewaan. Hal ini disebabkan peran anggota
kelompok pandai yang lebih dominan (Slavin dalam Jufri, 2000).
6. Adanya
pertentangan antar kelompok yang memiliki nilai lebih tinggi dengan kelompok
yang memiliki nilai rendah (Johson dalam Jufri, 2000).
Pembelajaran Kooperatif Model TGT (
Team Games Tournament )
Model
pembelajaran TGT pada dasarnya hampir sama dengan model pembelajaran kooperatif
model STAD (Student Team Achievement Division). Perbedaannya pada model
pembelajaran kooperatif TGT tidak ada kuis tetapi ada pertandingan akademik
atau perlombaan. Aktivitas belajar dengan perlombaan atau pertandingan yang
dirancang dalam model pembelajaran kooperatif model TGT memungkinkan siswa
dapat belajar lebih semangat dan bergairah di samping menumbuhkan tanggung
jawab, kerja sama, persaingan sehat serta keterlibatan belajar.
Seperti karakteristik pembelajaran
kooperatif yang lainnya, model TGT juga memunculkan adanyan kelompok-kelompok
belajar. Dalam model TGT, siswa yang mempunyai kemampuan dan jenis kelamin
berbeda dijadikan dalam sebuah kelompok yang terdiri dari 4-5 orang. Dari
masing-masing anggota kelompok tersebut akan dipertandingkan dengan
anggota-anggota kelompok lainnya yang berkemampuan homogen dalam meja-meja
turnamen.
Secara garis besar langkah-langkah
pembelajaran disusun dalam dua tahap, yaitu pra kegiatan pembelajaran dan detil
kegiatan pembelajaran (Kahfi,2003:8). Pra kegiatan pembelajaran menggambarkan
hal yang perlu disiapkan dan rencana kegiatan. Detil pembelajaran menggambarkan
secara rinci aktivitas pembelajaran yang tercantum dalam rencana kegiatan.
Langkah-langkah penerapan pembelajaran kooperatif model TGT akan diuraikan di
bawah ini :
Pra
Kegiatan Pembelajaran
a.
Persiapan
1)
Materi
Materi dalam pembelajaran
kooperatif model TGT dirancang sedemikian rupa untuk pembelajaran secara
berkelompok. Oleh karena itu, sebelum penyajian materi maka guru harus
mempersiapkan terlebih dahulu lember kegiatan siswa (LKS) yang akan dipelajari
saat belajar kelompok, dan lembar jawaban dari LKS tersebut. Selain itu perlu
dipersiapkan soal-soal turnamen untuk kegiatan turnamen dan lembar jawaban dari
soal tersebut.
2) Membagi
siswa ke dalam kelompok belajar
Kelompok dalam pembelajaran kooperatif model TGT ini
terdiri dari 5 orang siswa dengan kemampuan yang heterogen. Cara pembentukan
kelompok dilakukan dengan mengurutkan siswa dari atas ke bawah berdasarkan
kemampuan akademiknya dan daftar siswa yang telah diurutkan tersebut dibagi
menjadi 5 bagian yaitu kelompok tinggi, sedang 1, sedang 2, agak rendah, dan
rendah. Kemudian dari tiap bagian diambil satu siswa sebagai anggota kelompok.
Kelompok-kelompok yang terbentuk diusahakan berimbang baik dalam hal kemampuan
akademiknya maupun jenis kelamin dan rasnya.
3)
Membagi
siswa ke dalam meja turnamen
Dalam
pembelajaran kooperatif model TGT ini tiap meja turnamen terdiri dari 4-5 orang
siswa yang berkemampuan homogen. Gambaran dari pembagian siswa dalam meja
turnamen dibawah ini :
-
Kelompok
A terdiri dari 4 siswa yaitu A1, A2, A3, A4, kelompok B terdiri dari 4 siawa
yaitu B1, B2, B3, B4, sedangkan kelompok C juga terdiri dari 4 siswa yaitu C1,
C2, C3, C4. kelompok A, B, dan C merupakan kelompok belajar.
-
A1,
B1, dan C1 saling dipertandingkan dimeja 1 karena ketiganya mempunyai kemampuan
yang sama yaitu berkemampuan tinggi semuanya.
-
A2,
B2, dan C2 saling dipertandingkan di meja 2 karena ketiganya mempunyai
kemampuan yang sama yaitu berkemampuan sedang 1 semuanya.
-
A3,
B3, dan C3 saling dipertandingkan di meja 3 karena ketiganya mempunyai
kemampuan yang sama yaitu berkemampuan sedang 2 semuanya.
-
A4,
B4, dan C4 saling dipertandingkan di meja 4 karena ketiganya mampunyai
kemampuan yang sama yaitu berkemampuan rendah semuanya.
-
Setelah
selesai turnamen, semua peserta turnamen kembali pada kelompoknya semula.
Detil Kegiatan pembelajaran
a.
Penyajian
materi
Setiap
pembelajaran kooperatif model TGT dimulai dengan kegiatan penyajian
materi oleh guru yang mencakup kegiatan pembukaan, pengembangan, dan latihan
terbimbing (kahfi,2003:9).
1)
Pembukaan
-
Beritahu
siswa apa yang akan mereka pelajari, mengapa itu penting, dan kaitkan dengan
masalah sehari-hari.
-
Minta
siswa berkelompok
-
Kaji
secara singkat segala macam ketrampilan dan informasi prasyarat.
2)
Pengembangan
-
Tetapkan
fokus ke tujuan yang ingin dicapai.
- Pusatkan
kepada pemahaman bukan hafalan.
- Demonstrasikan
konsep atau keterampilan secara aktif dengan menggunakan alat bantu atau bahan
manipulatif lain.
- Saling
menilai kemajuan siswa dengan mengajukan banyak pertanyaan.
- Jelaskan
mengapa suatu jawaban siswa benar atau salah.
- Melanjutkan
materi jika siswa telah memahami pokok masalahnya.
3)
Latihan
terbimbing
-
minta
siswa mengerjakan soal atau contoh.
-
Panggil
siswa secara acak untuk mengerjakan soal atau contoh.
-
Jangan
berikan tugas kelas yang memerlukan waktu panjang.
b.
Belajar
kelompok
Kegiatan
yang dilakukan dalam belajar kelompok adalah mempelajari materi yang telah
disajikan secara mendalam dengan menggunakan LKS. Setiap kelompok memperoleh 2
lembar LKS. Soal-soal yang ada di LKS harus dikerjakan secara bersama-sama oleh
anggota dalam satu kelompok. Apabila ada satu anggota yang tidak bisa
mengerjakan soal atau memiliki pertanyaan yang berkaitan dengan soal tersebut,
maka teman kelompoknya mempunyai tanggung jawab untuk menjelaskan soal atau
pertanyaan tersebut. Apabila dalam satu kelompok tidak ada yang bisa
menjelaskan maka siswa bisa meminta bimbingan kepada guru. Selama kegiatan
belajar kelompok guru bertugas mengamati jalannya diskusi dan membimbing siswa
yang mengalami kesulitan dalam mengerjakan soal LKS.
Setelah
belajar kelompok selesai, tetapi masih ada pertanyaan yang sulit diselesaikan
oleh semua kelompok atau sebagian besar kelompok maka guru bisa melakukan
presentasi dengan menunjuk perwakilan salah satu kelompok untuk menjelaskan
kedepan kemudian diadakan pembahasan bersama-sama.
c.
Turnamen
Sebelum
turnamen dilakukan, guru membagi siswa ke dalam meja-meja turnamen. Kemudian
guru membagi satu set perangkat turnamen kepada masing-masingkelompok. Satu set
perangkat turnamen terdiri dari soal turnamen, kartu soal, lembar jawaban, dan
skor turnamen. Semua perangkat untuk tiap meja adalah sama termasuk
soal, kartu soal, dan lembar skor turnamen. Untuk mengatasi kecurangan yang
mungkin dilakukan siswa, maka lembar jawaban bisa dipegang oleh guru. Dalam
turnamen ini yang bertanding adalah antar anggota dalam satu meja turnamen
bukan antar meja turnamen.
Bentuk turnamen secara rinci diuraikan sebagai berikut :
1) Dalam
tiap meja turnamen telah disediakan satu set perangkat pembelajaran yang sama
untuk semua meja turnamen.
2) Guru
menunjuk satu orang siswa untuk mengocok kartu, nomor soal yang keluar
merupakan nomor soal yang harus dikerjakan dalam meja tersebut. Kemudian siswa
yang bertugas mengocok tadi harus membacakan pada anggota lainnya dalan satu
meja tersebut.
3) Jika
soal pertama telah selesai dikerjakan oleh salah satu anggota dalam meja
turnamen meka sesegera mungkin menyesuaikan jawabannya dengan lembar jawaban
yang dipegang oleh guru. Jika benar maka akan mendapat skor. Misal pada saat
yang bersamaan ada dua orang atau lebih siswa yang bersamaan maju ke depan maka
yang benar dan tercepat yang menang dan memperoleh “ bintang “.
4) Siswa
yang mendapat skor menuliskan skor tersebut pada lembar skor yang telah
tersedia.
5) Bagi
meja yang telah menyelesaikan soal pertama, segera lanjutkan ke soal berikutnya
dengan mengocok kartu lagi. Siswa yang mengocok kartu bergantian sesuai dengan
urutan tempat duduk dalam meja tersebut. Kemudian dilanjutkan dengan
pertandingan seperti pada langkah b sampai d.
6) Misalkan
pada akhir pertandingan ada beberapa kelompok yang belum selesai maka maka
kelompok yang sudah memyelesaikan semua soal turnamen harus menunggu temannya
yang lain.
7) Jika
semua kelompok telah selesai maka guru bertugas mengumpulkan lembar skor
turnamen. Nilai yang diperoleh anggota dalam turnamen akan digabungkan dengan
anggota kelompok belajar yang lainnya. Kemudian dijumlah total dan dirata-rata.
Sedangkan contoh lembar penghitungan skor turnamen dan kelompok dapat dilihat
pada lampiran.
d.
Penghargaan
Kelompok
Setelah
skor kelompok dijumlah total dan dirata-rata maka kelompok yang mendapat skor
rata-rata tertinggi adalah juara I. Sedangkan juara II dan III adalah kelompok
dengan nilai rata-rata di bawahnya. Jika pada saat penghitungan ada beberapa
kelompok yang mempunyai nilai rata-rata yang sama maka diadakan turnamen
tambahan untuk menentukan kelompok yang menang. Penghargaan yang diberikan bagi
kelompok yang mendapat juara I, II dan III bisa berupa sertifikat, benda,
makanan, atau benda lainnya.
Dalam
setiap model pembelajaran kooperatif selalu ditandai 3 hal (Kahfi,2003:7) yaitu
struktur tugas, struktur tujuan dan struktur penghargaan. Model
pembelajaran TGT juga memiliki masing-masing struktur tersebut antara lain :
1.
Tujuan
kognitif : informasi yang sederhana
2. Tujuan
sosial : kerja sama dan kerja kelompok
3. Struktur
tugas : siswa menggunakan LKS dan saling membantu untuk menuntaskan materi
belajarnya.
4. Struktur
penghargaan : penghargaan diberikan berdasarkan hasil turnamen, yang berupa
sertifikat atau benda lainnya.
Kelebihan dan kekurangan yang dimiliki oleh model
pembelajaran kooperatif TGT adalah sebagai berikut :
Kelebihan
:
1. Keterlibatan
siswa dalam belajar sangat tinggi.
2.
Siswa
menjadi bersemangat dalam belajar.
3.
Pengetahuan
yang diperoleh siswa tidak hanya sekedar informasi dari guru saja, tetapi siswa
mengkonstruksi sendiri pengetahuan tersebut.
4. Dapat
menumbuhkan sikap-sikap positip dalam diri siswa yaitu : kerja sama, toleransi,
menghargai pendapat orang lain, dan bisa menerima pendapat orang lain.
Kelemahan
:
1.
Model
pembelajaran TGT memerlukan waktu yang cukup lama.
2.
Membutuhkan
sarana dan prasarana yang memadai.
3. Siswa
terbiasa belajar dengan imbalan hadiah.
Kajian Hasil Penelitian
Ada banyak penelitian yang telah dilakukan
berkaitan dengan pembelajaran kooperatif model Team Games Tournamen (TGT).
Berikut ini disajikan beberapa penelitian dan hasil penelitiannya :
1. Azizah
(2004) melakukan penelitian dengan judul “Perbandingan hasil belajar matematika
siswa antara siswa yang diajar dengan pembelajaran kooperatif model TGT dan
siswa yang diajar dengan pembelajaran konvensional pada pokok bahasan
statistika siswa kelas II SLTP 2 Malang tahun ajaran 2003/2004 “. Hasil dari
penelitian itu adalah hasil belajar matematika yang diajar dengan pembelajaran
kooperatif model TGT lebih baik dibandingkan dengan hasil belajar matematika
siswa yang diajar dengan pembelajaran konvensional.
2. Brohim (2002)
melakukan penelitian dengan judul “Peningkatan Hasil Belajar Siswa Dengan Model
Pembelajaran Team Games Tournament Pada SLTP 2 Tugumulyo Musi Rawas“. Hasil
penelitiannya adalah bahwa model pembelajaran TGT dapat mengaktifkan siswa dan
meningkatkan hasil belajar siswa.
Dari hasil penelitian tersebut
nampaknya pembelajarn dengan model TGT sangat bisa
meningkatkan prestasi belajar siswa. Sebagai tambahan dalam penelitian ini
adalah adanya keinginan peneliti untuk mengetahui respon siswa setelah
mengikuti pembelajaran dengan model TGT.
Metode Penelitian
Metode Pengumpulan Data
1. Observasi
Dalam penelitian ini, peneliti menggunakan observasi
secara langsung. Observasi pada penelitian ini ditekankan pada proses
pembelajaran dan aktivitas siswa selama proses pembelajaran.
2. Wawancara
Dalam penelitian ini peneliti mengguankan metode
wawancara secara informal. Dengan metode ini pertanyaan sangat fleksibel yang
ditentukan oleh beberapa factor seperti waktu, keadan yang disesuaikan dengan
posisi responden itu sendiri. Dengan demikian peneliti dapat mengadakan
wawancara secara alamiah. Dari wawancara ini diharapkan diperoleh data tentang
model-model pembelajaran yang digunakan sebelum penelitian dan aktivitas siswa
selama dalam proses pembelajaran sebelum penelitian.
3.
Tes
Dalam
penelitian ini menggunakan tes tertulis yang berbentuk tes uraian. Bentuk tes
ini dipilih karena bentuk tes ini memberikan kesempatan kepada peserta didik
untuk mengorganisasikan gagasan dan atau hal-hal yang sudah dipelajari dengan
menggunakan kata-katanya sendiri. Soal tes dibuat oleh peneliti dengan terlebih
dahulu menyusun kisi-kisi naskah soal.
Tes akan diberikan pada pertemuan ke-3 pada tiap siklus.
Jumlah soal ada 10 butir dengan alokasi
waktu 2 jam pelajaran atau 2 X 40 menit. Dari hasil tes tersebut diharapkan
diperoleh gambaran tentang prestasi belajar siswa kelas VIII-I SMP Negeri I Dolopo pada materi
teorema Pythagoras dengan menggunakan model pembelajaran Team Games Tournament
(TGT).
4.
Kuesioner
Kuesioner
adalah alat pengumpulan informasi dengan cara menyampaikan sejumlah pertanyaan
tertulis untuk dijawab secara tertulis pula oleh responden. Seperti halnya
wawancara, kuesioner dimaksudkan untuk memperoleh informasi tentang diri
responden atau informasi orang lain. Dalam penelitian ini peneliti menggunakan
kuesioner berstruktur yaitu kuesioner yang berisi pertanyaan-pertanyaan yang
disertai dengan sejumlah alternatif jawaban yang disediakan. Dari hasil
kuesioner ini diharapkan akan diperoleh gambaran yang jelas tentang
tanggapan/respon siswa terhadap model pembelajaran Team Games Tournament (TGT).
Metode Analisis Data
Menurut
Moleong (dalam Sukardi, 2006:72) tehnik analisa data terdiri dari tiga kegiatan
yang saling terkait yaitu : a) kegiatan
mereduksi data, b) menampilkan data, c) melakukan penarikan kesimpulan. Tahap-tahap
analisa data tersebut dapat diuraikan sebagai berikut :
1.
Reduksi
Data
Proses
analisa data ini dimulai dengan menelaah seluruh data yang tersedia dari
berbagi sumber. Setelah data dikaji berikutnya adalah membuat rangkuman untuk
setiap kontak atau pertemuan dengan responden. Dari rangkuman tadi kemudian
peneliti melakukan reduksi data yang kegiatannya mencakup unsur-unsur : a)
proses memilih data atas dasar tingkat relevansi dan kaitannya dengan kelompok
data, b) menyusun data dalam satuan-satuan sejenis, c) membuat koding (kode
data). Setelah itu kegiatan dilanjutkan dengan memfokuskan, menyederhanakan
data yang berkaitan dengan pemahaman siswa terhadap konsep persamaan dan
pertidaksamaan linear satu variabel, aktivitas dan tanggapan siswa terhadap
model pembelajaran TGT.
2.
Menampilkan
data
Pada
tahap analisa data ini peneliti menyusun data yang relevan, sehingga menjadi
informasi yang dapat disimpulkan dan memiliki makna tertentu dengan
menampilkannya. Dari tampilan data akan dapat dilihat apa yang terjadi selama
penelitian dan apa yang perlu ditindak lanjuti untuk mencapai tujuan
penelitian.
3.
Penarikan
kesimpulan
Penarikan kesimpulan merupakan kegiatan akhir dari
analisa data. Penarikan kesimpulan merupakan proses memberi makna pada data
yang disajikan atau ditampilkan.
Hasil Penelitian
Pelaksanaan siklus I
a. Proses
pembelajaran
Observasi
terhadap proses pembelajaran siklus I menunjukkan bahwa secara umum proses
pembelajaran mulai dari perencanaan, tindakan, observasi sampai refleksi sudah
berjalan dengan cukup baik.
Pada tahap perencanaan, semua perangkat
mulai dari rencana pelaksanaan pembelajaran (RPP), pembagian kelompok, LKS,
soal-soal turnamen, format skor turnamen telah disiapkan. Pada tahap tindakan,
khususnya pada pembagian kelompok belajar dan kelompok turnamen banyak
memerlukan waktu. Sebagian waktu tersita untuk penjelasan langkah-langkah
pembelajaran dengan model pembelajaran Team Game Tournament (TGT). Hal ini
berakibat pada berkurangnya alokasi waktu untuk penyampaian materi dan diskusi
kelompok.
Pada
kegiatan diskusi kelompok kurang dapat
berjalan dengan baik. Masing-masing anggota kelompok masih bekerja secara
individual. Motivasi dan bimbingan guru saat diskusi kelompok sangat penting
untuk memacu semangat siswa untuk saling menbantu teman dalam satu kelompoknya.
Beberapa kelompok mengalami kesulitan dalam menyelesaikan soal terutama pada
saat menentukan kisaran nilai teorema Pythagoras, siswa sulit menentukan
banyaknya kejadian dan banyaknya semua kejadian yang mungkin. Dari hasil
refleksi pada siklus I diperoleh data sebagian besar kesulitan siswa dalam
mengerjakan soal, khususnya pada pengertian dan mengidentifikasi suatu kejadian
untuk menentukan semua kejadian yang mungkin dari kajadian yang telah
ditentukan.
b.
Aktivitas
siswa
Aktivitas siswa selama proses pembelajaran terekam
dalam lembar observasi. Dari observasi yang dilakukan didapat hasil tentang
aktivitas/ sikap siswa selama proses pembelajaran baik dalam diskusi kelompok
maupun dalam turnamen adalah sebagai berikut:
Dari sejumlah 30 siswa, 15 siswa antusias dan aktif
bertanya, 9 siswa hanya mencatat dan menyalin
hasil pekerjaan teman, 6 siswa hanya diam tanpa melakukan usaha.
Pelaksanaan Siklus II
a.
Proses
pembelajaran
Proses
pembelajaran pada siklus II sudah berjalan sesuai dengan perencanaan yang telah
disusun. Berdasarkan hasil refleksi pada siklus I, diadakan beberapa perubahan
pada siklus II yaitu pada tindakan II. Pada
pelaksanaan tindakan II diadakan penekanan pada pemahaman tentang menemukan dan
memeriksa Tripel Pythagoras. Untuk itu siswa harus menguasai materi tersebut.
Untuk mengecek pemahaman siswa tentang prasyarat tersebut diberikan beberapa
contoh soal.
Diskusi kelompok pada siklus II ini berjalan lebih baik
dari siklus I. Pamahaman terhadap jenis Segitiga sudah cukup baik, hal ini
terlihat dari hasil diskusi kelompok, dimana dari 5 kelompok belajar, 5
kelompok dapat mengerjakan 80%-90% soal dengan benar, sementara 1 kelompok
dapat mengerjakan 70%-80% soal dengan benar.
Dari refleksi siklus II diketahui, kesalahan yang sering
terjadi adalah siswa kesulitan mengidentifikasi mana yang merupakan kejadian
dan mana yang merupakan semua
kemungkinan kejadian dari suatu kejadian
apabila diberikan .
b.
Aktivitas
siswa
Aktivitas
dan sikap siswa selam proses pembelajaran siklus II terekam dalam lembar
observasi II. Dari hasil observasi yang dilakukan pada tahap ini adalah sebagai
berikut: dari 30 siswa 24 siswa antusias dan aktif bertanya, 3 siswa hanya
menulis dan menyalin pekerjaan teman, 3 siswa hanya diam tanpa berusaha.
Meningkatnya siswa yang berani bertanya baik pada teman dan guru menyebabkan
diskusi kelompok menjadi lebih optimal. Suasana kelas menjadi lebih gaduh
sebagai akibat dari aktivitas dalam kelompok. Pelaksanaan turnamen memberikan
motivasi pada anggota kelompok yang berkemampuan tinggi untuk membantu anggota
yang berkemampuan rendah. Dari 4 soal yang diberikan semua dapat terjawab
dengan benar.
c.
Tes
Setelah
siklus I selesai maupun II selesai, peneliti mengadakan tes ulangan harian. Tes
ini bertujuan untuk mengetahui prestasi belajar siswa kelas VIII-I SMP Negeri I
Dolopo setelah mengikuti pembelajaran dengan model Team Games Tournament (TGT).
Soal yang diberikan berbentuk uraian yang berjumlah 10 butir soal untuk masing
– masing siklus. Dari tes yang dilakukan diperoleh data sebagai berikut: dari
21 siswa yang mendapat nilai ≥ 76
sebanyak 20 dan 1 siswa mendapat nilai 70 sedangkan skor maksimal 90. Dengan KKM 76 ini berarti 95,24% siswa tuntas
belajar.
d.
Respon
siswa terhadap model pembelajaran TGT
Tanggapan
atau respon siswa terhadap model pembelajaran TGT yang dilaksanakan terekam
dalam lembar kuesioner / angket yang diberikan kepada siswa. Angket
yang diberikan kepada siswa tediri dari 7 pertanyaan dengan masing-masing
memiliki beberapa pilihan jawaban. Dari hasil angket yang diberikan pada akhir
siklus II diperoleh data sebagai
berikut:
Tabel 4.1 Respon SiswaTerhadap TGT
Proses Menganalisis Data
Data
yang direkam dalam penelitian ini adalah prestasi belajar matematika yang
direkam melalui tes dan data respon siswa terhadap pembelajaran yang
menggunakan model TGT yang direkam dengan angket. Untuk memperkuat kedua data
tersebut diadakan pengamatan dalam proses pembelajaran yang direkam melalui
lembar observasi. Data yang telah diperoleh tersebut dianalisa per siklus
dengan pendekatan kualitatif sehingga dapat diketahui perkembangan prestasi
belajar matematika dan respon siswa terhadap pembelajaran dengan model TGT.
Pembahasan dan Pengambilan
Kesimpulan
Berdasarkan paparan data diatas, baik pada
tindak pendahuluan siklus I maupun siklus II, ditemukan beberapa hal penting.
Temuan-temuan tersebut dapat dipaparkan sebagai berikut:
1.
Temuan
penelitian siklus I
a.
Pembelajaran kooperatif model TGT telah dilaksanakan sesuai dengan rencana
pelaksanaan pembelajaran yang telah disusun.
a.
Alokasi
waktu pada kegiatan pembelajaran, banyak tersita untuk pembagian kelompok dan
penjelasan tentang langkah-langkah pembelajaran TGT.
b.
Pemahaman
konsep persamaan linear satu variabel sudah cukup baik, akan tetapi pada aspek
penalaran dan pemecahan masalah terkait dengan persamaan linear satu variabel,
siswa banyak mengalami kesulitan terutama pada persamaan yang mempunyai koefisien-koefisien
berbentuk pecahan.
c.
Diskusi
kelompok kurang dapat berjalan secara optimal karena masing-masing anggota
kelompok belum terbiasa bekeja secara kelompok pada kelompok heterogen. Dalam
kelompok masih terlihat masing-masing
anggota bekerja sendiri-sendiri.
2.
Temuan
siklus II
a.
Proses
pembelajaran pada siklus II sudah berjalan sesuai dengan rencana pelaksanaan
pembelajaran (RPP) yang disusun.
b.
Penekanan
pada penguasaan prasyarat sebelum kegiatan pembelajaran pada pertidaksamaan
linear satu variabel memudahkan siswa dalam penguasaan materi pertidaksamaan.
c.
Diskusi
kelompok berjalan cukup baik, hal ini terlihat dari meningkatnya aktivitas
belajar siswa, dimana dari 20
siswa, 16 siswa antusias dan aktif bertanya, 3 siswa hanya menyalin pekerjaan
teman dan 1 siswa hanya diam tanpa berusaha.
d. Siswa
lebih bersemangat dalam mengikuti turnamen yang diadakan pada siklus II.
Penghargaan yang diberikan kepada pemenang pada turnamen I memberikan motivasi
bagi kelompok-kelompok yang lain untuk menang.
e. Hasil
ulangan yang dilakukan pada siklus I diperoleh hasil dari 30 siswa. 18 siswa
mendapat skor ≥76 dan
12 siswa mendapat skor <76.
Dengan KKM yang ditetapkan sebesar 76 maka siswa kelas VIII-I SMP Negeri I Dolopo belum tuntas
belajar secara klasikal karena ketuntasan yang diperoleh 60.00,%. Adapun
hasil tersebut dapat dilihat di tabel 4.2 berikut ini
f. Hasil
ulangan yang dilakukan pada siklus II diperoleh hasil dari 30 siswa. 27 siswa
mendapat skor ≥76 dan 3
siswa mendapat skor <76.
Dengan KKM yang ditetapkan sebesar 76 maka siswa kelas VIII-I SMP Negeri I Dolopo sudah
memcapai tuntas belajar secara klasikal
karena ketuntasan yang diperoleh 90.00,%.
Dari data dan
temuan penelitian yang dilaksanakan di kelas VIII-I SMP Negeri I Dolopo tahun
pelajaran 2017/2018 semester genap dengan jumlah siswa 30 orang
yang terdiri dari 14 perempuan dan 16 laki-laki dapat diambil beberapa
kesimpulan sebagai berikut:
1. Pada siklus I
sebagian siswa kelas VIII-I SMP Negeri I Dolopo mengalami
kesulitan dalam memahami konsep-konsep matematika. Dari data skor ulangan
harian pada materi teorema Pythagoras diketahui dari 30 siswa, 18 orang
mendapatkan nilai ≥ 76 dan
12 orang siswa mendapat nilai < 76 dari skor maksimal 100. Dengan KKM sebesar 76 berarti 60%
siswa tuntas belajar dan 40 % siswa tidak tuntas belajar. Ini berarti siswa
kelas VIII-I SMP Negeri I Dolopo secara klasikal belum tuntas, karena suatu
kelas dikatakan tuntas belajar secara klasikal apabila ≥ 85 % siswa dalam kelas
itu tuntas belajar.
2. Sebelum
diadakannya penelitian ini aktivitas siswa dalam proses pembelajaran hanya
mendengarkan penjelasan guru, kemudian mencatat dan mengerjakan soal latihan.
Hal ini sejalan dengan model pembelajaran yang diterapkan oleh guru yaitu
dengan metode ceramah, Tanya jawab dan pemberian tugas. Langkah-langkah
pembelajarannya meliputi penyampaian materi pelajaran oleh guru dengan ceramah,
kemudian guru memberikan contoh soal untuk dibahas bersama. Setelah itu guru
memberikan soal untuk dikerjakan oleh siswa. Kegiatan pembelajaran diakhiri
dengan pemberian PR.
3. Pada siklus II
sebagian siswa kelas VIII-I SMP Negeri I Dolopo sudah tidak mengalami
kesulitan dalam memahami konsep-konsep matematika. Dari data skor ulangan
harian pada materi teorema Pythagoras diketahui dari 30 siswa, 27 orang
mendapatkan nilai ≥ 76 dan 3
orang siswa mendapat nilai < 76 dari
skor maksimal 100. Dengan KKM sebesar 76 berarti 90% siswa tuntas belajar dan 10 % siswa tidak
tuntas belajar. Ini berarti siswa kelas VIII-I SMP Negeri I Dolopo secara
klasikal sudah tuntas, karena suatu kelas dikatakan tuntas belajar secara
klasikal apabila ≥ 85 % siswa dalam kelas itu tuntas belajar.
4. Pada model
pembelajaran TGT, siswa dikondisikan agar siswa berkesempatan secara aktif
mengikuti kegiatan pembelajaran. Hasil observasi pada siklus I dan II
menunjukkan adanya peningkatan aktivitas belajar pada siswa. Dengan model
pembelajaran TGT aktivitas siswa tidak hanya mendengarkan, mencatat dan
mengerjakan soal saja, tetapi secara aktif belajar menemukan konsep-konsep
matematika sendiri, berlatih bekerja sama dan berkomunikasi. Dalam hal ini,
arahan ,bimbingan dan motivasi guru memegang peranan yang sangat penting.
4. Dari hasil
analisis ulangan harian yang dilakukan setelah selesainya siklus I dan
siklus II diperoleh data, pada siklus I
dari 30 siswa 18 siswa
mendapatkan nilai ≥ 76 dan 12 siswa
mendapat nilai < 76 dari skor
maksimal 80. Dengan KKM yang ditetapkan sebesar 76 sedangkan
pada siklus II dari 30 siswa 27 siswa mendapatkan nilai ≥ 76 sedangkan 3 siswa mendapata nilai
<76
berarti 90,00% siswa tuntas belajar dan 10,00% tidak tuntas. Dengan
menggunakan model pembelajaran ini terjadi peningkatan rerata skor yang
diperoleh siswa pada siklus I (66,13) menjadi (83,07) pada siklus II, meningkat
sebesar (16,39). Sedangkan ketuntasan yang diperoleh pada siklus I (60,00%)
menjadi (90,00%) pada siklus II, meningkat sebesar 30%. Hal ini menunjukkan
bahwa pembelajaran dengan model TGT dapat meningkatkan prestasi belajar siswa.
5. Hasil analisis
terhadap angket yang diberikan kepada siswa menunjukkan bahwa :
a. Sebesar 60%
siswa mengatakan bahwa model pembelajaran TGT mempermudah pemahaman konsep
matematika.
b. Sebesar 70%
siswa merasa senang belajar dengan model pembelajaran TGT.
c. Sebesar 76.67%
siswa menyatakan model TGT perlu dikembangkan pada materi yang lain atau
mungkin pada pelajaran yang lain.
d. Sebesar 33,33%
siswa menyatakan kurang dapat bekerja sama dalam kelompok yang heterogen.
Prosentase ini cukup besar sehingga perlu lebih diberikan motivasi kepada siswa
tentang pentingnya kerja sama dalam kelompok.
e. Sebesar 60%
siswa memilih bertanya kepada teman apabila mengalami kesulitan.
f. Sebesar 66.67 %
siswa menyatakan belajar dengan model TGT menarik.
g. Sebesar 76.67%
siswa menyatakan TGT dapat meningkatkan minat belajar matematika.
Kesimpulan
Berdasarkan
paparan data dan temuan selama penelitian serta pembahasan pada hasil
penelitian di SMP Negeri I Dolopo kelas VIII-I
ini, dapat ditarik kesimpulan sebagai berikut :
1.
Model
pembelajaran Team Game Tournament (TGT) dapat meningkatkan prestasi belajar
siswa kelas VIII-I SMP Negeri I Dolopo tahun pelajaran 2017/2018. Hal ini
terlihat dari adanya peninkatan ketuntasan belajar sebesar 30% dan reratanya
meningkat sebesar 16,93.
2.
Secara
umum siswa kelas VIII-I SMP Negeri I Dolopo merespon positip model pembelajaran
TGT ini. Dengan model pembelajaran ini siswa berani mengemukakan pendapat /
pertanyaan, berkomunikasi, dan berlatih bekerja sama. Sebagian siswa
mengharapkan model pembelajaran TGT dikembangkan pada materi yang lain.
DAFTAR PUSTAKA
Azizah. 2004. Perbandingan Hasil Belajar Matematika Siswa
Antara Siswa Yang Diajar Dengan Pembelajaran Kooperatif Model TGT dan Siswa
Yang Diajar Dengan Pembelajaran Konvensional Pada Pokok Bahasan Statistika
Siswa Kelas II SLTP 2 Malang Tahun Pelajaran 2003/2004. Skripsi tidak
diterbitkan.Malang.FPMIPA UM
Brohim, 2002. Peningkatan Hasil Belajar Siswa Dengan Model
Pembelajaran Team Games Tournament Pada SLTP 2 Tugumulyo Musi Rawas.
Makalah Simposium Guru. Depdiknas.
Rochiati wiriaatmaja
2008, Metode Penelitian Tindakan Kelas. Bandung: Program Pascasarjana
Universitas Pendidikan Indonesia & remaja Rosdakarya.
Kahfi, M. Shohibul. 2003. Pembelajaran
Kooperatif dan Pelaksanaannya dalam Pembelajaran
Matematika. Malang:FPMIPA UM.
Karuru, Perdy. 2001. Penerapan
Pendekatan Ketrampilan Proses Dalam Setting Pembelajaran Kooperatif Tipe STAD
untuk Meningkatkan Kualitas Belajar
IPA Siswa SLTP. Jakarta:Balitbang Dikdasmen Dikti PLPS Kebudayaan Setjen
Itjen.
Margono. 2004. Metodologi Penelitian
Pendidikan. Jakarta:Rineka Cipta.
Rahayu, Sri.1998. Pembelajaran
Kooperatif dalam Pendidikan IPA. Jurnal MIPA dan Pengajarannya
27(II):153-169.
Sardiman. 1992. Interaksi dan
Motivasi Belajar Mengajar. Jakarta:Raja Grafindo Persada.
Supriyadi, Edi. 1995. Pengembangan
Pembelajaran Pemprograman Komputer dengan
Metode Kooperatif. Cakrawala Pendidikan,XIV(1):53-63.
Sukardi. 2006. Penelitian
Kualitatif-Naturalistik dalam Pendidikan. Jogjakarta:Usaha Keluarga.
.Yulianti, Endah. 2003. Upaya
Meningkatkan Prestasi Belajar Matematika Siswa SMU Kelas I Melalui Pembelajaran Kooperatif Model STAD. Skripsi tidak dierbitkan.
Malang:FPMIPA UM.
Anita Lie. 2002. Mempraktekkan Cooperative Learning di
Ruang-Ruang Kelas. Jakarta:Grasindo
---------------. 2005. Penelitian Tindakan Kelas. Bahan
Pelatihan Terintegrasi Berbasis
Kompetensi. Dinas Pendidikan Nasional.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar