Senin, 01 Oktober 2018

MENINGKATKAN PRESTASI BELAJAR MATEMATIKA MATERI TEOREMA PYTHAGORAS DENGAN PENERAPAN MODEL PEMBELAJARAN TEAM GAME TOURNAMENT (TGT) SISWA KELAS VIII-I SEMESTER GENAP TAHUN PELAJARAN 2017–2018 SMP NEGERI 1 DOLOPO KABUPATEN MADIUN


MENINGKATKAN PRESTASI BELAJAR MATEMATIKA MATERI TEOREMA PYTHAGORAS DENGAN PENERAPAN MODEL PEMBELAJARAN TEAM GAME TOURNAMENT (TGT)  SISWA KELAS VIII-I SEMESTER GENAP TAHUN PELAJARAN 2017–2018 SMP NEGERI 1 DOLOPO KABUPATEN MADIUN

Oleh : Djoko Setyarso
Guru SMP Negeri 1 Dolopo Kabupaten Madiun


abstrak

Kata kunci : inkuiri, Team Game Turnamen (TGT), , hasil belajar

Salah satu permasalahan mendasar dalam proses pembelajaran Matematika adalah masih banyak teori yang dikemukakan oleh para tokoh. Sedangkan guru ketika menjelaskan teori-teori tersebut hanya menggunakan metode ceramah (hasil dengar pendapat guru yang tergabung dalam MGMPS Matematika SMP Negeri 1 Dolopo. Hal inilah yang menyebabkan perhatian siswa menjadi kurang dan siswa menjadi malas serta jenuh ketika harus belajar teori-teori tersebut. Kurangnya perhatian siswa berimbas pada lemahnya motivasi belajar dan yang pada akhirnya berpengaruh terhadap rendahnya hasil belajar. Oleh karena itu, pada penelitian ini dicoba untuk menangani masalah rendahnya  hasil belajar siswa dengan mengembangkan model pembelajaranTeam Game Turnamen (TGT) melalui Penelitian Tindakan Kelas (PTK).
Penelitian ini dilakukan selama selama 3 bulan, yaitu pada bulan Januari  sampai bulan Maret  2018. Adapun pelaksanaan tindakan dilakukan  bulan akhir Januari  sampai Februari 2018. Penelitian ini menggunakan desain Penelitian Tindakan Kelas dengan model Kemmis dan Taggart yang terdiri dari empat fase, yaitu : perencanaan, pelaksanaan tindakan, observasi dan refleksi. Subyek penelitian adalah siswa kelas VIII-I SMP Negeri 1 Dolopo  yang berjumlah 30 siswa.
Prosedur pengumpulan data dengan menggunakan teknik observasi dan tes. Pengecekan keabsahan data dalam penelitian ini menggunakan teknik triangulasi dan teknik pemeriksaan sejawat melalui diskusi. Sedangkan analisis data dengan menggunakan analisis kualitatif model alir (flow).
Hasil penelitian ini menunjukkan adanya peningkatan perhatian, motivasi belajar siswa juga meningkat, yang pada akhirnya meningkatkan  hasil belajar siswa.  Peningkatan ini dapat dilihat dari rerata 76,13 (siklus I) menjadi 83,07 (siklus II)  meningkat sebesar 16,93. Sedangkan ketuntasan belejar meningkat dari 60% pada siklus I menjadi 90% pada siklus II, meningkat sebesar 30 %



Latar Belakang
Salah satu pelajaran yang diujikan secara nasional mempunyai peranan yang sangat penting adalah mata pelajaran Matematika. Nilai matematika hasil Ujian Nasional  dipakai sebagai salah satu barometer kelulusan siswa tingkat SMP/MTs disamping nilai bahasa Indonesia dan bahasa Inggris. Mengingat pentingnya matematika dalam penentuan kelulusan siswa, maka diperlukan upaya untuk meningkatkan prestasi belajar matematika. Data nilai ulangan harian pelajaran matematika siswa kelas VIII-I pada kompetensi dasar Memahami Teorema Pythagoras melalui alat peraga, dan penyelidikan berbagai pola  bilangan menunjukkan 14 siswa memperoleh nilai ≥ 76 dan 16 siswa mendapat nilai < 76.  Dengan Kriteria Ketuntasan  Minimal (KKM) 76 maka baru 46,67% yang tuntas belajar. Hal ini menunjukkan bahwa prestasi belajar materi teorema Pythagoras pada siswa kelas VIII-I SMP Negeri I Dolopo  masih perlu ditingkatkan.
Matematika merupakan salah satu pelajaran yang masih menjadi momok bagi siswa. Banyak siswa sudah merasa takut terlebih dahulu sebelum belajar matematika. Image sebagai mata pelajaran sulit dan guru yang seram begitu melekat pada matematika. Kesemuanya itu berakibat pada rendahnya motivasi siswa dalam belajar matematika. Banyak siswa hanya menulis  atau menyalin apa yang ditulis guru di papan tulis tanpa mengetahui apa yang dipelajari dan mengapa suatu materi perlu dipelajari. Siswa tidak bertanya meskipun belum paham terhadap materi yang dijelaskan guru, dan siswa sering tidak mengerjakan tugas yang diberikan oleh guru.
Motivasi merupakan faktor pendorong dalam pencapaian prestasi seseorang. Seseorang melakuan suatu usaha karena adanya motivasi. Adanya motivasi yang baik dalam belajar akan menunjukkan hasil yang baik. Menurut Sardiman (1992:84), hasil belajar akan menjadi optimal, kalau ada motivasi.  Dengan kata lain bahwa dengan adanya usaha yang tekun dan terutama di dasari adanya motivasi, maka seseorang yang belajar itu dimungkinkan akan melahirkan prestasi yang baik. Intensitas motivasi seorang siswa akan sangat menentukan tingkat pencapaian prestasi belajarnya. Jadi jelas bahwa rendahnya motivasi belajar siswa akan berakibat pada rendahnya tingkat pencapaian prestasi belajarnya.
Selain itu kurang bervariasinya model pembelajaran yang digunakan seorang guru merupakan penyebab lain rendahnya prestasi belajar matematika siswa. Seiring dengan dikembangkannya Kurikulum 2013, guru diharapkan memiliki inovasi-inovasi yang kreatif dalam pembelajaran. Dalam kenyataannya, guru guru masih terpaku pada satu model pembelajaran saja. Sebaiknya seorang guru harus mencoba menggunakan model-model pembelajaran yang bervariasi. Lingkungan dan suasana pembelajaran perlu diubah, karena lingkungan dan suasana pembelajaran yang tetap/monoton akan membosankan dan menimbulkan kejenuhan. Ini sesuai dengan pendapat Wuryani (2002:366), lingkungan yang tidak berubah akan sangat membosankan. Hal ini tentunya akan berdampak negatif pada prestasi belajar matematika siswa.
Dewasa ini model pembelajaran kooperatif adalah inovasi pembelajaran yang dianjurkan dalam Kurikulum 2013. Banyak model pembelajaran kooperatif yang dapat digunakan oleh guru, antara lain : model STAD, Jigsaw (tim Ahli), Make A Match (Mencari Pasangan), Team Games Tournament (TGT) dan lian-lain. Dalam penelitian ini, peneliti menggunakan model pembelajaran Team Games Tournament (TGT) sebagai alternatif untuk meningkatkan prestasi belajar matematika siswa. Dalam model pembelajaran ini siswa dikelompokkan dalam beberapa kelompok yang heterogen. Siswa diarahkan untuk bekerja sama secara aktif dalam kelompoknya. Peneliti memilih menggunakan model pembelajaran Team Games Tournament (TGT) karena dalam model pembelajaran ini ada semacam kompetisi, sehingga siswa akan termotivasi untuk membantu teman satu tim yang berkemampuan lebih rendah dengan tujuan sama yaitu menang dalam turnamen.
Dengan model pembelajaran Team Games Tournament ini peneliti berharap motivasi siswa untuk belajar matematika meningkat. Hal ini akan terlihat dari respon siswa terhadap model pembelajaran ini. Siswa yang selama ini pasif, diharapkan aktif, berani mengeluarkan pendapat, bertanya dan berkomunikasi. Pada akhirnya diharapkan prestasi belajar matematika siswa meningkat.
Dengan adanya latar belakang tersebut di atas Maka penulis mencoba melakukan Penelitian Tindakan kelas yang ber judul ” Meningkatkan Prestasi Belajar Matematika Materi Teorema Pythagoras dengan Penerapan Model Pembelajaran Team Game Tournament (TGT)  Siswa Kelas VIII-I Semester Genap Tahun Pelajaran 2017–2018 SMP Negeri 1 Dolopo Kabupaten Madiun

Kajian Pustaka
Pembelajaran Matematika
Pembelajaran matematika tidaklah sama  maknanya dengan mengajar matematika. Para ahli psikologi pendidikan memberikan batasan yang berbeda-beda rumusannya. Perbedaan tersebut disebabkan oleh perbedaan sudut pandang terhadap makna mengajar. Pandangan pertama melihatnya dari segi pelakunya, yaitu pengajarnya. Menurut  pandangan ini, dalam mengajar tentu ada obyek yang diberi pelajaran yaitu peserta didik dan ada subyek yang mengajar yaitu pengajar atau guru. Sehingga mengajar adalah suatu kegiatan dimana pengajar menyampaikan pengetahuan atau pengalaman yang dimiliki kepada peserta didik. Pandangan ini telah lama dianut oleh kalangan pendidik dari jenjang pendidikan dasar sampai dengan jenjang perguruan tinggi.Pandangan ini menempatkan siswa sebagai obyek pendidikan.siswa hanya pasif menerima apa yang disampaikan oleh guru.
Pandangan kedua melihat mengajar bukan dari sudut pelaku yang mengajar, tetapi dari sudut siswa yang belajar. Sehingga mengajar dalam konteks ini adalah membimbing kegiatan siswa belajar. Mengajar adalah mengatur dan mengorganisasi lingkungan yang ada di sekitar siswa, sehingga dapat mendorong dan menumbuhkan minat siswa melakukan kegiatan belajar.
Paradigma baru memandang siswa bukan sebagai obyek, tetapi siswa menjadi subyek dalam pembelajaran. Konsep matematika tidak dipandang sebagai barang jadi yang hanya menjadi bahan informasi untuk siswa. Namun, guru diharapkan merancang pembelajaran matematika, sehingga memberikan kesempatan yang seluas-luasnya kepada siswa untuk berperan aktif dalam membangun konsep secara mandiri atau bersama-sama.
Siswa diharapkan dapat menemukan kembali akan konsep, aturan, ataupun algoritma. Algoritma yang dulu diberikan begitu saja oleh guru kepada siswa untuk menambah pengetahuan, sekarang selain untuk itu, siswa diberi kesempatan untuk menemukan sendiri algoritma tersebut, dan tidak menutup kemungkinan siswa menemukan cara lain yang belum diketahui guru.
Pembelajaran matematika yang demikian, akan dapat menimbulkan rasa bangga pada diri siswa, menumbuhkan minat, rasa percaya diri, memupuk dan mengembangkan imajinasi dan daya cipta siswa.
                 
Pembelajaran Kooperatif
Pembelajaran kooperatif merupakan salah satu pendekatan pembelajaran yang sangat populer saat ini, termasuk dalam pembelajaran matematika. Dalam pembelajaran kooperatif, siswa belajar bersama dalam kelompok-kelompok kecil yang dirancang untuk memperoleh keberhasilan bersama-sama. Siswa tidak hanya dituntut secara individual berusaha mencapai sukses, melainkan siswa dituntut untuk biasa bekerjasama untuk mencapai sukses bersama.
Ada beberapa definisi tentang pembelajaran kooperatif yang dikemukakan oleh ahli pendidikan. Slavin (dalam Rahayu, 1998:156) mendefinisikan bahwa dalam pembelajaran kooperatif  siswa belajar bersama, saling menyumbangkan pikiran dan tanggung jawab terhadap pencapaian hasil belajar secara individu maupun kelompok.
Metode pembelajaran kooperatif akan dapat melatih siswa untuk mendengarkan pendapat dari orang lain dan merangkum pendapat atau temuan dalam bentuk tulisan. Tugas-tugas kelompok yang dirancang dalam pembelajaran kooperatif akan dapat memicu para siswa untuk bekerjasama dan saling membantu satu sama lain dalam mengintegrasikan pengetahuan-pengetahuan baru yang dimiliki.
Menurut Rogers dan David Johnson (dalam Anita Lie,2002:30 ) pembelajaran kooperatif memiliki 5 unsur sebagai berikut :
a.    Adanya saling ketergantungan positif (positif interdependence)
b.   Tanggung jawab perorangan (individual accountability), setiap anggota kelompok akan bertanggung jawab terhadap hasil kelompok.
c.    Tatap muka antar siswa (face-to-face interaction), siswa bertatap muka satu dengan yang lain dan berinteraksi secara langsung.
d.   Keterampilan kolaborasi komunikasi antar individu dan kelompok.
e.    Evaluasi pemrosesan kelompok (group processing), siswa memproses keefektifan kelompok belajar dengan menjelaskan tindakan mana yang dapat menyeimbangkan belajar dan mana yang tidak.
Untuk menerapkan pembelajaran kooperatif maka seorang guru hendaknya terlebih dahulu harus mengetahui langkah-langkah dalam pembelajaran kooperatif. Menurut Sa’diyah (dalam Yuliati,2003:12-13) langkah-langkah pembelajaran kooperatif adalah sebagai berikut :
1.   Menyampaikan tujuan dan motivasi siswa
a.    Pembelajaran dimulai dengan melakukan penelaahan ulang, menjelaskan tujuan dari materi yang akan diajarkan, mengaitkan pembelajaran itu dengan materi sebelunnya.
b.   Memberitahukan kriteria keberhasilan secara terbuka
2.   Menyajikan informasi
3.   Mengorganisasikan siswa dalam kelompok-kelompok belajar. hal ini dilakukan guru dengan menjelaskan kepada siswa bagaimana caranya membentuk kelompok belajar dan membantu setiap kelompok agar melakukan transisi secara efisien
4.   Membandingkan kelompok belajar pada saat mereka mengerjakan tugas
5.     Mengevaluasi. Kegiatan mengevaluasi dilakukan guru dengan melakukan tes atau perlombaan tentang materi yang dipelajari, atau dengan masing-masing kelompok mempresentasikan hasil kerjanya
6.     Memberi penghargaan kelompok. Jenis penghargaan biasa berupa sertifikat, uang dan lain-lain, hal ini dalam rangka untuk memotivasi siswa agar belajar lebih giat.
            Sedangkan menurut Arends ( dalam Karuru,2001:3) disebutkan ada 6 fase atau langkah untama dalam pembelajaran kooperatif.
Fase 1 : Menyampaikan tujuan dan memotivasi siswa
Fase 2 : Manyajikan informasi
Fase 3 : mengoraganisasikan siswa kedalam kelompok-kelompok belajar
Fase 4 : Membantu kerja kelompok dalam belajar
Fase 5 : Mangetes materi
Fase 6 : Mamberikan penghargaan
Setiap bentuk pendekatan pembelajaran selalu mempunyai keuntungan dan kerugian. Secara umum, keuntungan pembelajaran kooperatif adalah sebagai berikut :
1.   Siswa bertanggung jawab terhadap proses belajarnya, terlibat secara aktif dan memiliki usaha yang lebih besar untuk berprestasi dalam belajar.
2.   Siswa dapat mengembangkan ketrampilan berpikir tingkat tinggi dan berpikir kritis.
3.   Siswa yang secara aktif terlibat dalam pembelajaran kooperatif memiliki konsentrasi belajar yang lebih baik dibandingkan siswa yang hanya mendengarkan ceramah. Hal ini disebabkan karena waktu mereka lebih banyak digunakan untuk mensintesis dan mengintegrasikan berbagai konsep yang terdapat dalam materi.
4.   Hubungan yang lebih positif antar siswa dan kesehatan psikologis yang lebih besar. Hal ini mencakup hubungan akademik secara perorangan dan kelompok, menghormati perbedaan dan pandangan antar siswa. Dengan adanya dukungan antar teman dan saling mendengarkan pendapat, maka siswa dapat meningkatkan rasa percaya diri, kemampuan bersosialisasi, serta kemampuan mengatasi kesulitan.
Sedangkan kerugian dari pembelajaran kooperatif adalah :
1.   Keberhasilan kelompok belajar sangat ditentukan oleh kemampuan siswa untuk kerja sama dalam kelompok.
2.   Memakan waktu yang relatif lama.
3.   Materi tidak dapat diselesaikan sesuai dengan kurikulum.
4.   Guru membutuhkan persiapan yang matang dan pengalaman yang lama untuk dapat menerapkan metode belajar kelompok dengan baik.
5.   Kontribusi dari siswa yang berprestasi rendah menjadi kurang dan siswa yang memiliki prestasi tinggi akan mengarah pada kekecewaan. Hal ini disebabkan peran anggota kelompok pandai yang lebih dominan (Slavin dalam Jufri, 2000).
6.   Adanya pertentangan antar kelompok yang memiliki nilai lebih tinggi dengan kelompok yang memiliki nilai rendah (Johson dalam Jufri, 2000).
     
Pembelajaran Kooperatif  Model TGT ( Team Games Tournament )
                  Model pembelajaran TGT pada dasarnya hampir sama dengan model pembelajaran kooperatif model STAD (Student Team Achievement Division). Perbedaannya pada model pembelajaran kooperatif TGT tidak ada kuis tetapi ada pertandingan akademik atau perlombaan. Aktivitas belajar dengan perlombaan atau pertandingan yang dirancang dalam model pembelajaran kooperatif model TGT memungkinkan siswa dapat belajar lebih semangat dan bergairah di samping menumbuhkan tanggung jawab, kerja sama, persaingan sehat serta keterlibatan belajar.
            Seperti karakteristik pembelajaran kooperatif yang lainnya, model TGT juga memunculkan adanyan kelompok-kelompok belajar. Dalam model TGT, siswa yang mempunyai kemampuan dan jenis kelamin berbeda dijadikan dalam sebuah kelompok yang terdiri dari 4-5 orang. Dari masing-masing anggota kelompok tersebut akan dipertandingkan dengan anggota-anggota kelompok lainnya yang berkemampuan homogen dalam meja-meja turnamen.
            Secara garis besar langkah-langkah pembelajaran disusun dalam dua tahap, yaitu pra kegiatan pembelajaran dan detil kegiatan pembelajaran (Kahfi,2003:8). Pra kegiatan pembelajaran menggambarkan hal yang perlu disiapkan dan rencana kegiatan. Detil pembelajaran menggambarkan secara rinci aktivitas pembelajaran yang tercantum dalam rencana kegiatan. Langkah-langkah penerapan pembelajaran kooperatif model TGT akan diuraikan di bawah ini :
Pra Kegiatan Pembelajaran
a.    Persiapan
1)   Materi
Materi dalam pembelajaran kooperatif model TGT dirancang sedemikian rupa untuk pembelajaran secara berkelompok. Oleh karena itu, sebelum penyajian materi maka guru harus mempersiapkan terlebih dahulu lember kegiatan siswa (LKS) yang akan dipelajari saat belajar kelompok, dan lembar jawaban dari LKS tersebut. Selain itu perlu dipersiapkan soal-soal turnamen untuk kegiatan turnamen dan lembar jawaban dari soal tersebut.
2)   Membagi siswa ke dalam kelompok belajar
Kelompok dalam pembelajaran kooperatif model TGT ini terdiri dari 5 orang siswa dengan kemampuan yang heterogen. Cara pembentukan kelompok dilakukan dengan mengurutkan siswa dari atas ke bawah berdasarkan kemampuan akademiknya dan daftar siswa yang telah diurutkan tersebut dibagi menjadi 5 bagian yaitu kelompok tinggi, sedang 1, sedang 2, agak rendah, dan rendah. Kemudian dari tiap bagian diambil satu siswa sebagai anggota kelompok. Kelompok-kelompok yang terbentuk diusahakan berimbang baik dalam hal kemampuan akademiknya maupun jenis kelamin dan rasnya.
3)   Membagi siswa ke dalam meja turnamen
Dalam pembelajaran kooperatif model TGT ini tiap meja turnamen terdiri dari 4-5 orang siswa yang berkemampuan homogen. Gambaran dari pembagian siswa dalam meja turnamen dibawah ini :
-     Kelompok A terdiri dari 4 siswa yaitu A1, A2, A3, A4, kelompok B terdiri dari 4 siawa yaitu B1, B2, B3, B4, sedangkan kelompok C juga terdiri dari 4 siswa yaitu C1, C2, C3, C4. kelompok A, B, dan C merupakan kelompok belajar.
-     A1, B1, dan C1 saling dipertandingkan dimeja 1 karena ketiganya mempunyai kemampuan yang sama yaitu berkemampuan tinggi semuanya.
-     A2, B2, dan C2 saling dipertandingkan di meja 2 karena ketiganya mempunyai kemampuan yang sama yaitu berkemampuan sedang 1 semuanya.
-     A3, B3, dan C3 saling dipertandingkan di meja 3 karena ketiganya mempunyai kemampuan yang sama yaitu berkemampuan sedang 2 semuanya.
-     A4, B4, dan C4 saling dipertandingkan di meja 4 karena ketiganya mampunyai kemampuan yang sama yaitu berkemampuan rendah semuanya.
-     Setelah selesai turnamen, semua peserta turnamen kembali pada kelompoknya semula.

Detil Kegiatan pembelajaran
a.    Penyajian materi
Setiap pembelajaran kooperatif model TGT dimulai dengan kegiatan penyajian materi oleh guru yang mencakup kegiatan pembukaan, pengembangan, dan latihan terbimbing (kahfi,2003:9).
1)   Pembukaan
-     Beritahu siswa apa yang akan mereka pelajari, mengapa itu penting, dan kaitkan dengan masalah sehari-hari.
-     Minta siswa berkelompok
-     Kaji secara singkat segala macam ketrampilan dan informasi prasyarat.
2)   Pengembangan
-      Tetapkan fokus ke tujuan yang ingin dicapai.
-      Pusatkan kepada pemahaman bukan hafalan.
-      Demonstrasikan konsep atau keterampilan secara aktif dengan menggunakan alat bantu atau bahan manipulatif lain.
-      Saling menilai kemajuan siswa dengan mengajukan banyak pertanyaan.
-      Jelaskan mengapa suatu jawaban siswa benar atau salah.
-      Melanjutkan materi jika siswa telah memahami pokok masalahnya.
3)   Latihan terbimbing
-      minta siswa mengerjakan soal atau contoh.
-      Panggil siswa secara acak untuk mengerjakan soal atau contoh.
-      Jangan berikan tugas kelas yang memerlukan waktu panjang.
b.   Belajar kelompok
Kegiatan yang dilakukan dalam belajar kelompok adalah mempelajari materi yang telah disajikan secara mendalam dengan menggunakan LKS. Setiap kelompok memperoleh 2 lembar LKS. Soal-soal yang ada di LKS harus dikerjakan secara bersama-sama oleh anggota dalam satu kelompok. Apabila ada satu anggota yang tidak bisa mengerjakan soal atau memiliki pertanyaan yang berkaitan dengan soal tersebut, maka teman kelompoknya mempunyai tanggung jawab untuk menjelaskan soal atau pertanyaan tersebut. Apabila dalam satu kelompok tidak ada yang bisa menjelaskan maka siswa bisa meminta bimbingan kepada guru. Selama kegiatan belajar kelompok guru bertugas mengamati jalannya diskusi dan membimbing siswa yang mengalami kesulitan dalam mengerjakan soal LKS.
Setelah belajar kelompok selesai, tetapi masih ada pertanyaan yang sulit diselesaikan oleh semua kelompok atau sebagian besar kelompok maka guru bisa melakukan presentasi dengan menunjuk perwakilan salah satu kelompok untuk menjelaskan kedepan kemudian diadakan pembahasan bersama-sama.
c.    Turnamen
Sebelum turnamen dilakukan, guru membagi siswa ke dalam meja-meja turnamen. Kemudian guru membagi satu set perangkat turnamen kepada masing-masingkelompok. Satu set perangkat turnamen terdiri dari soal turnamen, kartu soal, lembar jawaban, dan skor turnamen. Semua perangkat untuk tiap meja adalah sama termasuk soal, kartu soal, dan lembar skor turnamen. Untuk mengatasi kecurangan yang mungkin dilakukan siswa, maka lembar jawaban bisa dipegang oleh guru. Dalam turnamen ini yang bertanding adalah antar anggota dalam satu meja turnamen bukan antar meja turnamen.
Bentuk turnamen secara rinci diuraikan sebagai berikut :
1)   Dalam tiap meja turnamen telah disediakan satu set perangkat pembelajaran yang sama untuk semua meja turnamen.
2)   Guru menunjuk satu orang siswa untuk mengocok kartu, nomor soal yang keluar merupakan nomor soal yang harus dikerjakan dalam meja tersebut. Kemudian siswa yang bertugas mengocok tadi harus membacakan pada anggota lainnya dalan satu meja tersebut.
3)   Jika soal pertama telah selesai dikerjakan oleh salah satu anggota dalam meja turnamen meka sesegera mungkin menyesuaikan jawabannya dengan lembar jawaban yang dipegang oleh guru. Jika benar maka akan mendapat skor. Misal pada saat yang bersamaan ada dua orang atau lebih siswa yang bersamaan maju ke depan maka yang benar dan tercepat yang menang dan memperoleh “ bintang “.
4)   Siswa yang mendapat skor menuliskan skor tersebut pada lembar skor yang telah tersedia.
5)   Bagi meja yang telah menyelesaikan soal pertama, segera lanjutkan ke soal berikutnya dengan mengocok kartu lagi. Siswa yang mengocok kartu bergantian sesuai dengan urutan tempat duduk dalam meja tersebut. Kemudian dilanjutkan dengan pertandingan seperti pada langkah b sampai d.
6)   Misalkan pada akhir pertandingan ada beberapa kelompok yang belum selesai maka maka kelompok yang sudah memyelesaikan semua soal turnamen harus menunggu temannya yang lain.
7)   Jika semua kelompok telah selesai maka guru bertugas mengumpulkan lembar skor turnamen. Nilai yang diperoleh anggota dalam turnamen akan digabungkan dengan anggota kelompok belajar yang lainnya. Kemudian dijumlah total dan dirata-rata. Sedangkan contoh lembar penghitungan skor turnamen dan kelompok dapat dilihat pada lampiran.
d.   Penghargaan Kelompok
Setelah skor kelompok dijumlah total dan dirata-rata maka kelompok yang mendapat skor rata-rata tertinggi adalah juara I. Sedangkan juara II dan III adalah kelompok dengan nilai rata-rata di bawahnya. Jika pada saat penghitungan ada beberapa kelompok yang mempunyai nilai rata-rata yang sama maka diadakan turnamen tambahan untuk menentukan kelompok yang menang. Penghargaan yang diberikan bagi kelompok yang mendapat juara I, II dan III bisa berupa sertifikat, benda, makanan, atau benda lainnya.
Dalam setiap model pembelajaran kooperatif selalu ditandai 3 hal (Kahfi,2003:7) yaitu struktur tugas, struktur tujuan dan struktur penghargaan. Model pembelajaran TGT juga memiliki masing-masing struktur tersebut antara lain :
1.   Tujuan kognitif : informasi yang sederhana
2.   Tujuan sosial : kerja sama dan kerja kelompok
3.   Struktur tugas : siswa menggunakan LKS dan saling membantu untuk menuntaskan materi belajarnya.
4.   Struktur penghargaan : penghargaan diberikan berdasarkan hasil turnamen, yang berupa sertifikat atau benda lainnya.
Kelebihan dan kekurangan yang dimiliki oleh model pembelajaran kooperatif TGT adalah sebagai berikut :
Kelebihan :
1.   Keterlibatan siswa dalam belajar sangat tinggi.
2.   Siswa menjadi bersemangat dalam belajar.
3.   Pengetahuan yang diperoleh siswa tidak hanya sekedar informasi dari guru saja, tetapi siswa mengkonstruksi sendiri pengetahuan tersebut.
4.   Dapat menumbuhkan sikap-sikap positip dalam diri siswa yaitu : kerja sama, toleransi, menghargai pendapat orang lain, dan bisa menerima pendapat orang lain.
Kelemahan :
1.   Model pembelajaran TGT memerlukan waktu yang cukup lama.
2.   Membutuhkan sarana dan prasarana yang memadai.
3.   Siswa terbiasa belajar dengan imbalan hadiah.

Kajian  Hasil  Penelitian
Ada banyak penelitian yang telah dilakukan berkaitan dengan pembelajaran kooperatif model Team Games Tournamen (TGT). Berikut ini disajikan beberapa penelitian dan hasil penelitiannya :
1.   Azizah (2004) melakukan penelitian dengan judul “Perbandingan hasil belajar matematika siswa antara siswa yang diajar dengan pembelajaran kooperatif model TGT dan siswa yang diajar dengan pembelajaran konvensional pada pokok bahasan statistika siswa kelas II SLTP 2 Malang tahun ajaran 2003/2004 “. Hasil dari penelitian itu adalah hasil belajar matematika yang diajar dengan pembelajaran kooperatif model TGT lebih baik dibandingkan dengan hasil belajar matematika siswa yang diajar dengan pembelajaran konvensional.
2.  Brohim (2002) melakukan penelitian dengan judul “Peningkatan Hasil Belajar Siswa Dengan Model Pembelajaran Team Games Tournament Pada SLTP 2 Tugumulyo Musi Rawas“. Hasil penelitiannya adalah bahwa model pembelajaran TGT dapat mengaktifkan siswa dan meningkatkan hasil belajar siswa.
        Dari hasil penelitian tersebut nampaknya pembelajarn dengan model TGT sangat bisa meningkatkan prestasi belajar siswa. Sebagai tambahan dalam penelitian ini adalah adanya keinginan peneliti untuk mengetahui respon siswa setelah mengikuti pembelajaran dengan model TGT.

Metode Penelitian
Metode Pengumpulan Data
1.   Observasi
Dalam penelitian ini, peneliti menggunakan observasi secara langsung. Observasi pada penelitian ini ditekankan pada proses pembelajaran dan aktivitas siswa selama proses pembelajaran.
2.  Wawancara
Dalam penelitian ini peneliti mengguankan metode wawancara secara informal. Dengan metode ini pertanyaan sangat fleksibel yang ditentukan oleh beberapa factor seperti waktu, keadan yang disesuaikan dengan posisi responden itu sendiri. Dengan demikian peneliti dapat mengadakan wawancara secara alamiah. Dari wawancara ini diharapkan diperoleh data tentang model-model pembelajaran yang digunakan sebelum penelitian dan aktivitas siswa selama dalam proses pembelajaran sebelum penelitian.
3.   Tes
Dalam penelitian ini menggunakan tes tertulis yang berbentuk tes uraian. Bentuk tes ini dipilih karena bentuk tes ini memberikan kesempatan kepada peserta didik untuk mengorganisasikan gagasan dan atau hal-hal yang sudah dipelajari dengan menggunakan kata-katanya sendiri. Soal tes dibuat oleh peneliti dengan terlebih dahulu menyusun kisi-kisi naskah soal.
Tes akan diberikan pada pertemuan ke-3 pada tiap siklus. Jumlah soal ada 10  butir dengan alokasi waktu 2 jam pelajaran atau 2 X 40 menit. Dari hasil tes tersebut diharapkan diperoleh gambaran tentang prestasi belajar siswa kelas  VIII-I SMP Negeri I Dolopo pada materi teorema Pythagoras dengan menggunakan model pembelajaran Team Games Tournament (TGT).
4.   Kuesioner
Kuesioner adalah alat pengumpulan informasi dengan cara menyampaikan sejumlah pertanyaan tertulis untuk dijawab secara tertulis pula oleh responden. Seperti halnya wawancara, kuesioner dimaksudkan untuk memperoleh informasi tentang diri responden atau informasi orang lain. Dalam penelitian ini peneliti menggunakan kuesioner berstruktur yaitu kuesioner yang berisi pertanyaan-pertanyaan yang disertai dengan sejumlah alternatif jawaban yang disediakan. Dari hasil kuesioner ini diharapkan akan diperoleh gambaran yang jelas tentang tanggapan/respon siswa terhadap model pembelajaran Team Games Tournament (TGT).

Metode Analisis Data
Menurut Moleong (dalam Sukardi, 2006:72) tehnik analisa data terdiri dari tiga kegiatan yang saling terkait yaitu :  a) kegiatan mereduksi data, b) menampilkan data, c) melakukan penarikan kesimpulan. Tahap-tahap analisa data tersebut dapat diuraikan sebagai berikut :
1.   Reduksi Data
Proses analisa data ini dimulai dengan menelaah seluruh data yang tersedia dari berbagi sumber. Setelah data dikaji berikutnya adalah membuat rangkuman untuk setiap kontak atau pertemuan dengan responden. Dari rangkuman tadi kemudian peneliti melakukan reduksi data yang kegiatannya mencakup unsur-unsur : a) proses memilih data atas dasar tingkat relevansi dan kaitannya dengan kelompok data, b) menyusun data dalam satuan-satuan sejenis, c) membuat koding (kode data). Setelah itu kegiatan dilanjutkan dengan memfokuskan, menyederhanakan data yang berkaitan dengan pemahaman siswa terhadap konsep persamaan dan pertidaksamaan linear satu variabel, aktivitas dan tanggapan siswa terhadap model pembelajaran TGT.
2.   Menampilkan data
Pada tahap analisa data ini peneliti menyusun data yang relevan, sehingga menjadi informasi yang dapat disimpulkan dan memiliki makna tertentu dengan menampilkannya. Dari tampilan data akan dapat dilihat apa yang terjadi selama penelitian dan apa yang perlu ditindak lanjuti untuk mencapai tujuan penelitian.
3.   Penarikan kesimpulan
Penarikan kesimpulan merupakan kegiatan akhir dari analisa data. Penarikan kesimpulan merupakan proses memberi makna pada data yang disajikan atau ditampilkan.

Hasil Penelitian
Pelaksanaan siklus I
a.   Proses pembelajaran
Observasi terhadap proses pembelajaran siklus I menunjukkan bahwa secara umum proses pembelajaran mulai dari perencanaan, tindakan, observasi sampai refleksi sudah berjalan dengan cukup baik.
        Pada tahap perencanaan, semua perangkat mulai dari rencana pelaksanaan pembelajaran (RPP), pembagian kelompok, LKS, soal-soal turnamen, format skor turnamen telah disiapkan. Pada tahap tindakan, khususnya pada pembagian kelompok belajar dan kelompok turnamen banyak memerlukan waktu. Sebagian waktu tersita untuk penjelasan langkah-langkah pembelajaran dengan model pembelajaran Team Game Tournament (TGT). Hal ini berakibat pada berkurangnya alokasi waktu untuk penyampaian materi dan diskusi kelompok.
Pada kegiatan diskusi kelompok  kurang dapat berjalan dengan baik. Masing-masing anggota kelompok masih bekerja secara individual. Motivasi dan bimbingan guru saat diskusi kelompok sangat penting untuk memacu semangat siswa untuk saling menbantu teman dalam satu kelompoknya. Beberapa kelompok mengalami kesulitan dalam menyelesaikan soal terutama pada saat menentukan kisaran nilai teorema Pythagoras, siswa sulit menentukan banyaknya kejadian dan banyaknya semua kejadian yang mungkin. Dari hasil refleksi pada siklus I diperoleh data sebagian besar kesulitan siswa dalam mengerjakan soal, khususnya pada pengertian dan mengidentifikasi suatu kejadian untuk menentukan semua kejadian yang mungkin dari kajadian yang telah ditentukan.
b.   Aktivitas siswa
Aktivitas siswa selama proses pembelajaran terekam dalam lembar observasi. Dari observasi yang dilakukan didapat hasil tentang aktivitas/ sikap siswa selama proses pembelajaran baik dalam diskusi kelompok maupun dalam turnamen adalah sebagai berikut:
Dari sejumlah 30 siswa, 15 siswa antusias dan aktif bertanya, 9 siswa hanya mencatat dan menyalin  hasil pekerjaan teman, 6 siswa hanya diam tanpa melakukan usaha.

Pelaksanaan Siklus II
a.    Proses pembelajaran
Proses pembelajaran pada siklus II sudah berjalan sesuai dengan perencanaan yang telah disusun. Berdasarkan hasil refleksi pada siklus I, diadakan beberapa perubahan pada siklus II yaitu pada tindakan II.     Pada pelaksanaan tindakan II diadakan penekanan pada pemahaman tentang menemukan dan memeriksa Tripel Pythagoras. Untuk itu siswa harus menguasai materi tersebut. Untuk mengecek pemahaman siswa tentang prasyarat tersebut diberikan beberapa contoh soal.
Diskusi kelompok pada siklus II ini berjalan lebih baik dari siklus I. Pamahaman terhadap jenis Segitiga sudah cukup baik, hal ini terlihat dari hasil diskusi kelompok, dimana dari 5 kelompok belajar, 5 kelompok dapat mengerjakan 80%-90% soal dengan benar, sementara 1 kelompok dapat mengerjakan 70%-80% soal dengan benar.
Dari refleksi siklus II diketahui, kesalahan yang sering terjadi adalah siswa kesulitan mengidentifikasi mana yang merupakan kejadian dan mana yang  merupakan semua kemungkinan kejadian dari  suatu kejadian apabila diberikan .
b.   Aktivitas siswa
Aktivitas dan sikap siswa selam proses pembelajaran siklus II terekam dalam lembar observasi II. Dari hasil observasi yang dilakukan pada tahap ini adalah sebagai berikut: dari 30 siswa 24 siswa antusias dan aktif bertanya, 3 siswa hanya menulis dan menyalin pekerjaan teman, 3 siswa hanya diam tanpa berusaha. Meningkatnya siswa yang berani bertanya baik pada teman dan guru menyebabkan diskusi kelompok menjadi lebih optimal. Suasana kelas menjadi lebih gaduh sebagai akibat dari aktivitas dalam kelompok. Pelaksanaan turnamen memberikan motivasi pada anggota kelompok yang berkemampuan tinggi untuk membantu anggota yang berkemampuan rendah. Dari 4 soal yang diberikan semua dapat terjawab dengan benar.
c.    Tes
Setelah siklus I selesai maupun II selesai, peneliti mengadakan tes ulangan harian. Tes ini bertujuan untuk mengetahui prestasi belajar siswa kelas VIII-I SMP Negeri I Dolopo setelah mengikuti pembelajaran dengan model Team Games Tournament (TGT). Soal yang diberikan berbentuk uraian yang berjumlah 10 butir soal untuk masing – masing siklus. Dari tes yang dilakukan diperoleh data sebagai berikut: dari 21 siswa yang mendapat nilai ≥ 76 sebanyak 20 dan 1 siswa mendapat nilai 70 sedangkan  skor maksimal 90. Dengan KKM 76 ini berarti 95,24% siswa tuntas belajar.
d.   Respon siswa terhadap model pembelajaran TGT
Tanggapan atau respon siswa terhadap model pembelajaran TGT yang dilaksanakan terekam dalam lembar kuesioner / angket yang diberikan kepada siswa. Angket yang diberikan kepada siswa tediri dari 7 pertanyaan dengan masing-masing memiliki beberapa pilihan jawaban. Dari hasil angket yang diberikan pada akhir siklus II diperoleh  data sebagai berikut:
Tabel 4.1 Respon SiswaTerhadap TGT
Proses Menganalisis Data
Data yang direkam dalam penelitian ini adalah prestasi belajar matematika yang direkam melalui tes dan data respon siswa terhadap pembelajaran yang menggunakan model TGT yang direkam dengan angket. Untuk memperkuat kedua data tersebut diadakan pengamatan dalam proses pembelajaran yang direkam melalui lembar observasi. Data yang telah diperoleh tersebut dianalisa per siklus dengan pendekatan kualitatif sehingga dapat diketahui perkembangan prestasi belajar matematika dan respon siswa terhadap pembelajaran dengan model TGT.

Pembahasan dan Pengambilan Kesimpulan
Berdasarkan paparan data diatas, baik pada tindak pendahuluan siklus I maupun siklus II, ditemukan beberapa hal penting. Temuan-temuan tersebut dapat dipaparkan sebagai berikut:
1.   Temuan penelitian siklus I
a. Pembelajaran kooperatif model TGT telah dilaksanakan sesuai dengan rencana pelaksanaan pembelajaran yang telah disusun.
a.    Alokasi waktu pada kegiatan pembelajaran, banyak tersita untuk pembagian kelompok dan penjelasan tentang langkah-langkah pembelajaran TGT.
b.   Pemahaman konsep persamaan linear satu variabel sudah cukup baik, akan tetapi pada aspek penalaran dan pemecahan masalah terkait dengan persamaan linear satu variabel, siswa banyak mengalami kesulitan terutama pada persamaan yang mempunyai koefisien-koefisien berbentuk pecahan.
c.    Diskusi kelompok kurang dapat berjalan secara optimal karena masing-masing anggota kelompok belum terbiasa bekeja secara kelompok pada kelompok heterogen. Dalam kelompok masih terlihat  masing-masing anggota  bekerja sendiri-sendiri.
2.   Temuan siklus II
a.    Proses pembelajaran pada siklus II sudah berjalan sesuai dengan rencana pelaksanaan pembelajaran (RPP) yang disusun.
b.   Penekanan pada penguasaan prasyarat sebelum kegiatan pembelajaran pada pertidaksamaan linear satu variabel memudahkan siswa dalam penguasaan materi pertidaksamaan.
c.    Diskusi kelompok berjalan cukup baik, hal ini terlihat dari meningkatnya aktivitas belajar siswa, dimana dari 20 siswa, 16 siswa antusias dan aktif bertanya, 3 siswa hanya menyalin pekerjaan teman dan 1 siswa hanya diam tanpa berusaha.
d.   Siswa lebih bersemangat dalam mengikuti turnamen yang diadakan pada siklus II. Penghargaan yang diberikan kepada pemenang pada turnamen I memberikan motivasi bagi kelompok-kelompok yang lain untuk menang.
e.    Hasil ulangan yang dilakukan pada siklus I diperoleh hasil dari 30 siswa. 18 siswa mendapat skor ≥76 dan 12 siswa mendapat skor <76. Dengan KKM yang ditetapkan sebesar 76 maka siswa kelas VIII-I SMP Negeri I Dolopo belum tuntas belajar secara klasikal karena ketuntasan yang diperoleh 60.00,%. Adapun hasil tersebut dapat dilihat di tabel 4.2 berikut ini
f.    Hasil ulangan yang dilakukan pada siklus II diperoleh hasil dari 30 siswa. 27 siswa mendapat skor ≥76 dan 3 siswa mendapat skor <76. Dengan KKM yang ditetapkan sebesar 76 maka siswa kelas VIII-I SMP Negeri I Dolopo sudah memcapai  tuntas belajar secara klasikal karena ketuntasan yang diperoleh 90.00,%.
Dari data dan temuan penelitian yang dilaksanakan di kelas VIII-I SMP Negeri I Dolopo tahun pelajaran 2017/2018 semester genap dengan jumlah siswa 30 orang yang terdiri dari 14 perempuan dan 16 laki-laki dapat diambil beberapa kesimpulan sebagai berikut:
1.   Pada siklus I sebagian siswa kelas VIII-I SMP Negeri I Dolopo mengalami kesulitan dalam memahami konsep-konsep matematika. Dari data skor ulangan harian pada materi teorema Pythagoras diketahui dari 30 siswa, 18 orang mendapatkan nilai ≥ 76 dan 12 orang siswa mendapat nilai < 76 dari skor maksimal 100. Dengan KKM sebesar 76 berarti 60% siswa tuntas belajar dan 40 % siswa tidak tuntas belajar. Ini berarti siswa kelas VIII-I SMP Negeri I Dolopo secara klasikal belum tuntas, karena suatu kelas dikatakan tuntas belajar secara klasikal apabila ≥ 85 % siswa dalam kelas itu tuntas belajar.
2.   Sebelum diadakannya penelitian ini aktivitas siswa dalam proses pembelajaran hanya mendengarkan penjelasan guru, kemudian mencatat dan mengerjakan soal latihan. Hal ini sejalan dengan model pembelajaran yang diterapkan oleh guru yaitu dengan metode ceramah, Tanya jawab dan pemberian tugas. Langkah-langkah pembelajarannya meliputi penyampaian materi pelajaran oleh guru dengan ceramah, kemudian guru memberikan contoh soal untuk dibahas bersama. Setelah itu guru memberikan soal untuk dikerjakan oleh siswa. Kegiatan pembelajaran diakhiri dengan pemberian PR.
3.   Pada siklus II sebagian siswa kelas VIII-I SMP Negeri I Dolopo sudah tidak mengalami kesulitan dalam memahami konsep-konsep matematika. Dari data skor ulangan harian pada materi teorema Pythagoras diketahui dari 30 siswa, 27 orang mendapatkan nilai ≥ 76 dan 3 orang siswa mendapat nilai < 76 dari skor maksimal 100. Dengan KKM sebesar 76 berarti 90% siswa tuntas belajar dan 10 % siswa tidak tuntas belajar. Ini berarti siswa kelas VIII-I SMP Negeri I Dolopo secara klasikal sudah tuntas, karena suatu kelas dikatakan tuntas belajar secara klasikal apabila ≥ 85 % siswa dalam kelas itu tuntas belajar.
4.  Pada model pembelajaran TGT, siswa dikondisikan agar siswa berkesempatan secara aktif mengikuti kegiatan pembelajaran. Hasil observasi pada siklus I dan II menunjukkan adanya peningkatan aktivitas belajar pada siswa. Dengan model pembelajaran TGT aktivitas siswa tidak hanya mendengarkan, mencatat dan mengerjakan soal saja, tetapi secara aktif belajar menemukan konsep-konsep matematika sendiri, berlatih bekerja sama dan berkomunikasi. Dalam hal ini, arahan ,bimbingan dan motivasi guru memegang peranan yang sangat penting.
4.   Dari hasil analisis ulangan harian yang dilakukan setelah selesainya siklus I dan siklus  II diperoleh data, pada siklus I dari 30 siswa 18  siswa  mendapatkan nilai  76 dan 12 siswa mendapat nilai  < 76 dari skor maksimal 80. Dengan KKM yang ditetapkan sebesar 76 sedangkan pada siklus II dari 30 siswa 27 siswa mendapatkan nilai ≥ 76 sedangkan 3 siswa mendapata nilai <76 berarti 90,00% siswa tuntas belajar dan 10,00% tidak tuntas. Dengan menggunakan model pembelajaran ini terjadi peningkatan rerata skor yang diperoleh siswa pada siklus I (66,13) menjadi (83,07) pada siklus II, meningkat sebesar (16,39). Sedangkan ketuntasan yang diperoleh pada siklus I (60,00%) menjadi (90,00%) pada siklus II, meningkat sebesar 30%. Hal ini menunjukkan bahwa pembelajaran dengan model TGT dapat meningkatkan prestasi belajar siswa.
5.  Hasil analisis terhadap angket yang diberikan kepada siswa menunjukkan bahwa :
a.  Sebesar 60% siswa mengatakan bahwa model pembelajaran TGT mempermudah pemahaman konsep matematika.
b.  Sebesar 70% siswa merasa senang belajar dengan model pembelajaran TGT.
c.  Sebesar 76.67% siswa menyatakan model TGT perlu dikembangkan pada materi yang lain atau mungkin pada pelajaran yang lain.
d.  Sebesar 33,33% siswa menyatakan kurang dapat bekerja sama dalam kelompok yang heterogen. Prosentase ini cukup besar sehingga perlu lebih diberikan motivasi kepada siswa tentang pentingnya kerja sama dalam kelompok.
e.  Sebesar 60% siswa memilih bertanya kepada teman apabila mengalami kesulitan.
f.   Sebesar 66.67 % siswa menyatakan belajar dengan model TGT menarik.
g.  Sebesar 76.67% siswa menyatakan TGT dapat meningkatkan minat belajar matematika.

Kesimpulan
Berdasarkan paparan data dan temuan selama penelitian serta pembahasan pada hasil penelitian di SMP Negeri I Dolopo kelas VIII-I  ini, dapat ditarik kesimpulan sebagai berikut :
1.   Model pembelajaran Team Game Tournament (TGT) dapat meningkatkan prestasi belajar siswa kelas VIII-I SMP Negeri I Dolopo tahun pelajaran 2017/2018. Hal ini terlihat dari adanya peninkatan ketuntasan belajar sebesar 30% dan reratanya meningkat sebesar 16,93.
2.   Secara umum siswa kelas VIII-I SMP Negeri I Dolopo merespon positip model pembelajaran TGT ini. Dengan model pembelajaran ini siswa berani mengemukakan pendapat / pertanyaan, berkomunikasi, dan berlatih bekerja sama. Sebagian siswa mengharapkan model pembelajaran TGT dikembangkan pada materi yang lain.



DAFTAR PUSTAKA
Azizah. 2004. Perbandingan Hasil Belajar Matematika Siswa Antara Siswa Yang Diajar Dengan Pembelajaran Kooperatif Model TGT dan Siswa Yang Diajar Dengan Pembelajaran Konvensional Pada Pokok Bahasan Statistika Siswa Kelas II SLTP 2 Malang Tahun Pelajaran 2003/2004. Skripsi tidak diterbitkan.Malang.FPMIPA UM

Brohim, 2002. Peningkatan Hasil Belajar Siswa Dengan Model Pembelajaran Team Games Tournament Pada SLTP 2 Tugumulyo Musi Rawas. Makalah Simposium Guru. Depdiknas.

Rochiati wiriaatmaja 2008, Metode Penelitian Tindakan Kelas. Bandung: Program Pascasarjana Universitas Pendidikan Indonesia & remaja Rosdakarya.

Kahfi, M. Shohibul. 2003. Pembelajaran Kooperatif dan Pelaksanaannya dalam Pembelajaran Matematika. Malang:FPMIPA UM.

Karuru, Perdy. 2001. Penerapan Pendekatan Ketrampilan Proses Dalam Setting Pembelajaran Kooperatif Tipe STAD untuk Meningkatkan Kualitas Belajar IPA Siswa SLTP. Jakarta:Balitbang Dikdasmen Dikti PLPS Kebudayaan Setjen Itjen.

Margono. 2004. Metodologi Penelitian Pendidikan. Jakarta:Rineka Cipta.

Rahayu, Sri.1998. Pembelajaran Kooperatif dalam Pendidikan IPA. Jurnal MIPA dan Pengajarannya 27(II):153-169.

Sardiman. 1992. Interaksi dan Motivasi Belajar Mengajar. Jakarta:Raja Grafindo Persada.

Supriyadi, Edi. 1995. Pengembangan Pembelajaran Pemprograman Komputer dengan Metode Kooperatif. Cakrawala Pendidikan,XIV(1):53-63.

Sukardi. 2006. Penelitian Kualitatif-Naturalistik dalam Pendidikan. Jogjakarta:Usaha Keluarga.

.Yulianti, Endah. 2003. Upaya Meningkatkan Prestasi Belajar Matematika Siswa SMU Kelas I Melalui Pembelajaran Kooperatif Model STAD. Skripsi tidak dierbitkan. Malang:FPMIPA UM.

Anita Lie. 2002. Mempraktekkan Cooperative Learning di Ruang-Ruang Kelas. Jakarta:Grasindo

---------------. 2005. Penelitian Tindakan Kelas. Bahan Pelatihan Terintegrasi   Berbasis Kompetensi. Dinas Pendidikan Nasional.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar