PENERAPAN METODE DEMONSTRASI
UNTUK MENINGKATKAN
KETUNTASAN BELAJAR SISWA MATERI
AKTIVITAS BELADIRI KELAS VIII-J
SEMESTER GENAP TAHUN PELAJARAN 2017/2018 SMP NEGERI 1 DOLOPO KABUPATEN MADIUN
|
|
Oleh
: Dasuki
Guru
SMP Negeri 1 Dolopo Kabupaten Madiun
|
abstrak
Kata
kunci : model demonstrasi, ketuntasan
belajar
Model pembelajaran Demonstrasi
adalah model pembelajaran dimana siswa dalam kelas dibagi dalam
kelompok-kelompok kecil yang beranggotakan 4 sampai 5 dan setiap kelompok harus
heterogen. Siswa dalam kelompok dituntut untuk dapat bekerjasama untuk
menemukan ide pokok dan memberi tanggapan terhadap wacana yang telah diberikan
oleh guru. Dengan menggunakan model pembelajaran tersebut diharapkan peserta
didik mampu mencari, menganalisis dan menggunakan informasi dengan sedikit atau
bahkan tanpa bantuan guru.
Penelitian ini bertujuan untuk
mengetahui: (1) pelaksanaan pendekatan kontekstual dengan model pembelajaran
Demonstrasi, (2) respon siswa terhadap penerapan model pembelajaran Demonstrasi
bila ditinjau dari minat siswa pada mata pelajaran Pendidikan PJOK, dan (3)
ketuntasan hasil belajar siswa dengan menggunakan model pembelajaran
Demonstrasi.
Penelitian ini menggunakan
rancangan penelitian tindakan kelas (PTK, dengan RPP dan LKS sebagai perangkat
pembelajaran. Instrumen penelitian yang digunakan: Tes Hasil Belajar, Lembar
pengamatan pengelolaan pembelajaran, lembar pengamatan aktivitas siswa dan
angket respon siswa.
Hasil pengamatan dan pembahasan,
diperoleh kesimpulan bahwa: (1) Kemampuan guru dalam mengelola KBM dengan model
pembelajaran Demonstrasi juga mengalami peningkatan, yaitu dari nilai rata-rata
2,47 dengan kualifikasi cukup baik. (2) Model pembelajaran Demonstrasi dapat
menarik siswa untuk senang belajar sebesar 90% dan membantu memahami pelajaran
sebesar 76,67%. Sehingga pembelajaran Demonstrasi merupakan model pembelajaran
yang efektif jika digunakan, (3) Hasil belajar siswa meningkat pada setiap
siklus yaitu pada siklus I diperoleh
ketuntasan klasikal sebesar 33,33% dengan nilai rata-rata 65,10; siklus II
diperoleh ketuntasan klasikal sebesar 66,67% dengan nilai rata-rata 78,77; dan
siklus III diperoleh ketuntasan klasikal sebesar 93,33% dengan nilai rata-rata
86,33. Sehingga penerapan model pembelajaran Demonstrasi ini efektif jika diterapkan.
Latar Belakang
Dalam
pendekatan pembelajaran kontekstual, program pembelajaran lebih merupakan
rencana kegiatan kelas yang dirancang guru yang berisi skenario tahap demi
tahap tentang apa yang akan dilakukan bersama siswanya sehubungan dengan topik
yang akan dipelajarinya. Dengan bercermin pada konteks tersebut, maka sebagai
guru, peneliti ingin menerapkan model pembelajaran yang efektif, dan model
pembelajaran yang digunakan adalah model pembelajaran Demonstrasi dimana pada metode pembelajaran Demonstrasi siswa dalam kelas dibagi
dalam kelompok-kelompok kecil yang beranggotakan 4 sampai 5 dan setiap kelompok
harus heterogen. Siswa dalam kelompok dituntut untuk dapat bekerjasama untuk
menemukan ide pokok dan memberi tanggapan terhadap wacana yang telah diberikan
oleh guru. Dengan menggunakan model pembelajaran tersebut diharapkan peserta
didik mampu mencari, menganalisis dan menggunakan informasi dengan sedikit atau
bahkan tanpa bantuan guru.
Berdasarkan
latar belakang yang telah diuraikan di atas, peneliti ingin mengambil judul
penelitian “Penerapan Metode Demonstrasi untuk Meningkatkan Ketuntasan Belajar Siswa Materi Aktivitas Beladiri Kelas
VIII-J Semester Genap Tahun Pelajaran 2017/2018 SMP
Negeri 1 Dolopo Kabupaten Madiun”
Kajian
Pustaka
Pengertian
Belajar
Menurut
Muhibbin (2005 : 89) "Belajar adalah kegiatan yang berproses dan merupakan
unsur yang sangat fundamental dalam setiap penyelenggara jenis dan jenjang
pendidikan". Ini berarti bahwa berhasil atau gagalnya pencapaian tujuan
pendidikan itu amat bergantung pada proses belajar yang dialami siswa, baik
ketika ia berada di sekolah maupun di lingkungan rumah atau keluarganya
sendiri.
"Belajar
adalah suatu proses adaptasi atau penyesuaian tingkah laku yang berlangsung
secara progresif". Skinner (dalam Muhibbin, 2005 : 90). Dari pengertian
ini dapat diartikan bahwa proses adaptasi yang berupa belajar akan mendatangkan
hasil yang optimal apabila diberi penguatan (reinforcer) secara terus
menerus.
Menurut
Sardinian (dalam Djamarah, 2002 : 21) "Belajar adalah sebagai rangkaian
kegiatan jiwa dan raga, psikofisik menuju ke perkembangan pribadi manusia
seutuhnya yang menyangkut unsur cipta, rasa dan karsa, rana kognitif, afektif
dan psikomotorik." Sebagai hasil dari aktivitas belajar ini akan dapat dilihat
dari perubahan tingkah laku sebagai hasil dari pengalaman yang diperolehnya,
dan pada dasarnya pengalaman inilah yang nantinya akan membentuk pribadi
individu ke arah kedewasaan.
Dari
beberapa pengertian belajar di atas maka dapat kita ambil suatu kesimpulan
bahwa belajar adalah serangkaian kegiatan jiwa dan raga untuk memperoleh suatu
perubahan tingkah laku sebagai hasil dari pengalaman individu dalam interaksi
dengan lingkungannya yang menyangkut ranah kognitif, afektif dan psikomotorik.
Pada dasarnya untuk melaksanakan kegiatan belajar ada beberapa prinsip yang
harus diketahui dan dipahami.
Prinsip
Belajar
a.
Dalam
belajar setiap siswa harus diupayakan berpartisipasi aktif untuk meningkatkan
minat dan bimbingan untuk mencapai tujuan instruksional.
b.
Belajar
bersifat keseluruhan dan materi itu harus memiliki struktur, penyajian yang
sederhana sehingga siswa mudah menangkap pengertiannya.
c.
Belajar
harus dapat menimbulkan reinforcement dan motivasi yang kuat pada siswa
untuk mencapai tujuan instruksional.
d.
Belajar
itu harus kontinyu, artinya harus tahap demi tahap menurut perkembangannya.
e.
Belajar
adalah suatu proses organisasi, adaptasi, eksplorasi dan discoveri.
f.
Belajar
harus dapat mengembangkan kemampuan tertentu sesuai dengan tujuan instruksional
yang akan dicapai.
g.
Belajar
memerlukan sarana yang cukup sehingga siswa dapat belajar dengan tenang.
h.
Belajar
perlu lingkungan yang menantang dimana anak dapat mengembangkan kemampuannya
bereksplorasi dan belajar dengan efektif.
i. Belajar
memerlukan adanya interaksi antara siswa dengan lingkungan.
j. Belajar
adalah suatu proses kontinyuitas (hubungan antara yang satu dengan yang lain)
sehingga akan mendapatkan pengertian yang diharapkan dan stimulus yang
diberikan akan mendapatkan respon yang diharapkan.
k.
Repetisi dalam proses belajar mengajar perlu adanya
ulangan berkali-kali agar pemahaman, keterampilan dan sikap itu akan mendalam
pada diri siswa. Slameto
(dalam Rahmawati, 2006 : 19).
Dari
beberapa prinsip belajar di atas, maka dapat kita ketahui bahwa belajar itu
harus melalui prosedur agar dapat mencapai suatu hasil yang maksimal, dan untuk
mencapai hasil yang maksimal maka harus melaksanakan prinsip-prinsip di atas,
diantaranya adalah harus ada kemauan dan keinginan, harus ada binaan dan
keaktifan baik dari guru maupun siswa.
Faktor-Faktor
Yang Mempengaruhi Proses Belajar Mengajar
Menurut
Nana Sudjana (1998 : 79) ada beberapa faktor yang dapat mempengaruhi
keberhasilan proses belajar mengajar, antara lain sebagai berikut :
l.
Konsistensi
kegiatan belajar mengajar dengan kurikulum
Kurikulum
adalah program belajar mengajar yang telah ditemukan sebagai acuan apa yang
dilakukan, sehingga jika suatu kegiatan belajar mengajar ingin berhasil, maka
harus selalu mengacu pada kurikulum yang berlaku.
m. Keterlaksanaannya oleh guru
Dalam
hal ini adalah sejauh mana kegiatan dan program yang telah direncanakan dapat
dilaksanakan oleh guru tanpa mengalami hambatan dan kesulitan yang berarti.
n.
Keterlaksanaannya
oleh siswa
Dalam
hal ini dinilai dari sejauh mana siswa melakukan kegiatan belajar sesuai dengan
program yang telah dilaksanakan.
o.
Motivasi
belajar siswa
Hal ini
dapat dilihat dalam hal minat dan perhatian siswa terhadap pelajaran, semangat
siswa untuk melakukan tugas-tugas belajarnya, tanggung jawab siswa dalam mengerjakan
tugas-tugasnya, reaksi yang ditunjukkan siswa terhadap stimulus yang diberikan
guru, rasa senang dan puas dalam mengerjakan tugas yang diberikan.
p.
Keaktifan
para siswa dalam kegiatan belajar
Keaktifan
siswa dapat dilihat dalam hal turut serta dalam melaksanakan tugas belajarnya,
terlibat dalam pemecahan masalah, bertanya kepada siswa lain atau kepada guru
apabila tidak memahami persoalan yang dihadapi, berusaha mencari berbagai
informasi yang diperlukan untuk memecahkan masalah, melaksanakan diskusi
kelompok sesuai dengan petunjuk guru, melatih diri memecahkan soal atau
permasalahan yang telah diperolehnya dalam menyelesaikan tugas atau persoalan
yang dihadapinya.
q.
Interaksi
guru-siswa
Interaksi
guru dan siswa berkenaan dengan komunikasi atau hubungan timbal balik atau
hubungan dua arah antara siswa dengan guru atau siswa dengan siswa dalam
melakukan kegiatan belajar mengajar.
r.
Kemampuan
dan keterampilan guru dalam mengajar
Pada
dasarnya ada beberapa hal yang dapat dijadikan sebagai acuan dalam menilai
kemampuan guru, antara lain : menguasai bahan pelajaran yang disampaikan kepada
siswa, menguasai kelas sehingga dapat mengendalikan kegiatan siswa, terampil
menggunakan alat dan berbagai sumber belajar, terampil mengajukan pertanyaan
baik lisan maupun tulisan.
Selain
dari hal di atas ada satu lagi yang sangat penting dan harus diperhatikan
secara serius oleh guru ketika melakukan kegiatan belajar mengajar, yaitu
penggunaan metode pengajaran atau model pembelajaran. Seperti yang kita ketahui
bahwa Indonesia telah menerapkan sistem Kurikulum 2013, yang mana dalam
kurikulum yang menjadi fokus adalah keaktifan siswa, guru hanya sebagai
fasilitator dan pemandu dalam kegiatan belajar mengajar, dan salah satu metode
pembelajaran yang dapat dipergunakan adalah Metode pembelajaran Demonstrasi.
Ketuntasan
Belajar
Ketuntasan belajar merupakan pencapaian hasil
belajar yang ditetapkan dengan ukuran atau tingkat pencapaian kompetensi yang
memadahi dan dapat dipertanggung jawabkan sebagai prasarat penguasaan kompetensi
lebin lanjut
Hakikat
Pembelajaran
Pembelajaran
adalah suatu kombinasi yang tersusun meliputi unsur-unsur manusiawi, material
fasilitas, perlengkapan dan prosedur yang saling mempengaruhi untuk mencapai
tujuan pembelajaran. Dalam pembelajaran terdapat prosedur umum antara lain :
kegiatan pendahuluan, kegiatan inti dan kegiatan akhir.
Dari
teori pembelajaran di atas dapat disimpulkan bahwa pembelajaran merupakan
proses belajar mengajar yang dimulai dengan kegiatan pendahuluan, kegiatan inti
dan kemudian kegiatan penutup. Di mana kegiatan-kegiatan ini saling berhubungan
dan berurutan.
Evaluasi
Hasil Belajar
Evaluasi
(penilaian) hasil belajar berbeda dengan pengukuran yang sifatnya kuantitatif.
Evaluasi yaitu menafsirkan hasil pengukuran berdasarkan norma tertentu.
Sehingga penilaian merupakan upaya untuk memeriksa sejauh mana siswa mencapai
tujuan pembelajaran.
Tujuan
evaluasi hasil belajar adalah untuk memberikan informasi yang berkenaan dengan
kemajuan siswa, pembinaan kegiatan belajar mengajar, menerapkan kemampuan dan
kesulitan untuk mendorong motivasi belajar, membantu perkembangan tingkah laku
dan membimbing siswa untuk memilih sekolah ke tingkat selanjutnya.
Dari
teori di atas dapat disimpulkan bahwa evaluasi hasil belajar adalah penilaian
untuk mengetahui seberapa jauh pemahaman siswa akan materi pelajaran yang telah
didapat.
Pendekatan
Pembelajaran Kontekstual
Pembelajaran
kontekstual melibatkan para siswa dalam aktivitas penting yang membantu mereka
mengaitkan pelajaran akademis dengan konteks kehidupan nyata yang mereka
hadapi. Tujuan utama metode pembelajaran Demonstrasi adalah membantu para siswa
dengan cara yang tepat untuk mendemonstrasikan atau mempraktikkan
pelajaran-pelajaran akademik mereka.
Karakteristik
pembelajaran kontekstual
a.
Pembelajaran
dilaksanakan dalam konteks autentik, yaitu pembelajaran yang diarahkan pada
ketercapaian keterampilan dalam konteks kehidupan nyata atau pembelajaran yang
dilaksanakan dalam lingkungan yang alamiah (learning in real life setting).
b.
Pembelajaran
memberikan kesempatan kepada siswa untuk mengerjakan tugas-tugas yang bermakna (meaningful
learning).
c.
Pembelajaran
dilaksanakan dengan memberikan pengalaman bermakna kepada siswa (learning by
doing).
d.
Pembelajaran
dilaksanakan melalui kerja kelompok, berdiskusi, saling mengoreksi antar teman (learning
in group).
e.
Pembelajaran
memberikan kesempatan untuk menciptakan rasa kebersamaan, bekerjasama dan
saling memahami antara satu dengan yang lain secara mendalam (learning to
know each other deeply).
f.
Pembelajaran
dilaksanakan secara aktif, kreatif, produktif dan mementingkan kerjasama (learning
to ask, to inquiry, to work together).
g.
Pembelajaran
dilaksanakan dalam situasi yang menyenangkan (learning as an enjoy
activity). (Muslich, 2006 :42)
Sedangkan
Nurhadi (dalam Muslich, 2006 : 43) mendeskrIPS Geografiikan karakteristik
pembelajaran kontekstual dengan cara menderetkan sepuluh kata kunci, antara
lain :
a.
Kerjasama
b.
Saling
menunjang
c.
Menyenangkan,
tidak membosankan
d.
Belajar
dengan gairah
e.
Pembelajaran
terintegrasi
f.
Menggunakan
berbagai sumber
g.
Siswa
aktif
h.
Sharing dengan teman
i.
Siswa
kritis
j.
Guru
kreatif
Dari
dua diskripsi di atas dapat disimpulkan bahwa pada pembelajaran kontekstual
siswa diarahkan untuk dapat saling bekerjasama dan secara mandiri membangun team
work yang kuat dalam suasana belajar yang menyenangkan.
Komponen
pembelajaran kontekstual
Pembelajaran
dengan pendekatan kontekstual melibatkan tujuh komponen utama, yaitu (1) contructivism
(kontruktivisme, membangun, membentuk), (2) questioning (bertanya), (3) inquiry
(menemukan, menyelidiki), (4) learning community (masyarakat belajar),
(5) modelling (pemodelan), (6) reflection (refleksi atau umpan
balik), (7) authentic assesment (penilaian sebenarnya). Apabila ketujuh
komponen ini diterapkan dalam pembelajaran, terlihat pada realitas berikut:
a.
Kegiatan
yang mengembangkan pemikiran bahwa pembelajaran akan lebih bermakna apabila
siswa bekerja sendiri, menemukan, dan membangun sendiri pengetahuan dan
keterampilan barunya.
b.
Kegiatan
belajar yang mendorong sikap keingintahuan siswa lewat bertanya atau
permasalahan yang akan dipelajari.
c.
Kegiatan
belajar yang bisa mengkondisikan siswa untuk mengamati, menyelidiki,
menganalisis topik atau permasalahan yang dihadapi sehingga ia berhasil
menemukan sesuatu.
d.
Kegiatan
belajar yang bisa menciptakan suasana belajar bersama atau kelompok sehingga ia
bisa berdiskusi, curah pendapat, bekerjasama dan saling membantu dengan teman
lain.
e.
Kegiatan
belajar yang bisa menunjukkan model yang bisa dipakai rujukan atau panutan
siswa dalam bentuk penampilan tokoh, demonstrasi kegiatan, penampilan hasil
karya, cara pengoperasian sesuatu dan sebagainya.
f.
Kegiatan
belajar yang memberikan refleksi atau umpan balik dalam bentuk tanya jawab
dengan siswa tentang kesulitan yang dihadapi dan pemecahannya, merekontruksikan
kegiatan yang telah dilakukan, kesan siswa selama melakukan kegiatan dan saran
atau harapan siswa.
g.
Kegiatan
belajar yang biasa diamati secara periodik perkembangan kompetensi siswa
melalui kegiatan-kegiatan nyata ketika pembelajaran berlangsung. (Muslich, 2006
:43)
Metode
Pembelajaran Demonstrasi
1.
Pengertian
Ditinjau dari segi etimologi
(bahasa) metode berasal dari bahasa Yunani, yaitu “methodos”, yang terdiri dari
kata ”metha” yang berarti melalui atau melewati dan “hodos” yang berarti jalan
atau cara. Maka metode mempunyai arti suatu jalan yang dilalui untuk mencapai
tujuan. Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, metode adalah cara kerja yang
bersistem untuk memudahkan pelaksanaan kegiatan guna mencapai apa yang telah
ditentukan.
Metode demonstrasi adalah cara
penyajian bahan pelajaran dengan memperagakan atau mempertunjukkan kepada
peserta didik suatu proses, situasi atau benda tertentu yang sedang dipelajari
baik sebenarnya atau tiruan yang sering disertai penjelasan lisan.
Metode demonstrasi adalah metode
mengajar di mana seorang guru atau orang lain yang sengaja diminta peserta
didik sendiri memperlihatkan kepada seluruh anak di dalam kelas, suatu kaifiyah
melakukan sesuatu.
Dari beberapa pengertian di atas
disimpulkan bahwa metode demonstrasi adalah suatu metode mengajar dimana
seorang guru atau orang lain bahkan murid sendiri memperlihatkan kepada seluruh
kelas tentang suatu proses melakukan atau jalannya suatu proses perbuatan
tertentu.
Langkah-Langkah Metode Demonstrasi
a. Perencanaan
·
Merumuskan
tujuan yang jelas baik dari sudut kecakapan atau kegiatan yang diharapkan dapat
ditempuh setelah metode demonstrasi berakhir.
·
Menetapkan
garis-garis besar langkah-langkah demonstrasi yang akan dilaksanakan.
· Memperhitungkan waktu yang
dibutuhkan.
· Selama demonstrasi berlangsung,
seorang guru hendaknya introspeksi diri apakah:
Ø Keterangan-keterangannya dapat
didengar dengan jelas oleh peserta didik.
Ø Semua media yang digunakan
ditempatkan pada posisi yang baik sehingga setiap peserta didik dapat
melihat.
Ø Peserta didik disarankan membuat
catatan yang dianggap perlu.
·
Menetapkan
rencana penilaian terhadap kemampuan peserta didik
b. Pelaksanaan
·
Memeriksa
hal-hal di atas untuk kesekian kalinya.
·
Memulai
demonstrasi dengan menarik perhatian peserta didik.
·
Mengingat
pokok-pokok materi yang akan didemonstrasikan agar demonstrasi mencapai
sasaran.
·
Memperhatikan
keadaan peserta didik, apakah semuanya mengikuti demonstrasi dengan baik.
·
Memberikan
kesempatan kepada peserta didik untuk aktif memikirkan lebih lanjut tentang apa
yang dilihat dan didengarnya dalam bentuk mengajukan pertanyaan.
·
Menghindari
ketegangan, oleh karena itu guru hendaknya selalu menciptakan suasana yang
harmonis.
c. Evaluasi
Sebagai tindak lanjut setelah
diadakannya demonstrasi sering diiringi dengan kegiatan-kegiatan belajar
selanjutnya. Kegiatan ini dapat berupa pemberian tugas, seperti membuat
laporan, menjawab pertanyaan, mengadakan latihan lebih lanjut. Selain itu, guru
dan peserta didik mengadakan evaluasi terhadap demonstrasi yang dilakukan,
apakah sudah berjalan efektif sesuai dengan yang diharapkan.
Langkah-langkah metode demonstrasi
·
Persiapkan
alat-alat yang diperlukan.
·
Guru
menjelaskan kepada anak-anak apa yang direncanakan dan apa yang akan
dikerjakan.
·
Guru
mendemonstrasikan kepada anak-anak secara perlahan-lahan, serta memberikan
penjelasan yang cukup singkat.
·
Guru
mengulang kembali selangkah demi selangkah dan menjelaskan alasan alasan setiap
langkah.
·
Guru
menugaskan kepada siswa agar melakukan demonstrasi sendiri langkah demi langkah
dan disertai penjelasan.
Kelebihan
Metode Demonstrasi
·
Terjadinya
verbalisme akan dapat dihindari, siswa disuruh langsung memperhatikan bahan
pelajaran yang dijelaskan.
·
Proses
pembelajaran akan lebih menarik
·
Dengan
cara mengamati secara langsung siswa akan memiliki kesempatan untuk
membandingkan antara teori dan kenyataan.
Kekurangannya Metode
Demonstrasi
·
Memerlukan
keterampilan guru secara khusus.
·
Memerlukan
waktu yang banyak.
·
Memerlukan
kematangan dalam perancangan atau persiapan.
·
Keterbatasan
dalam sumber belajar, alat pelajaran, situasi yang harus dikondisikan dan waktu
untuk mendemonstrasikan.
Pembelajaran
Kooperatif
Pembelajaran
kooperatif merupakan pembelajaran yang mempunyai kesamaan pandang untuk menuju
tujuan yang sama. Dalam pembelajaran kooperatif siswa bekerja sama dalam
kelompok kecil dengan tingkat kemampuan yang berbeda, saling membantu untuk
memahami suatu pelajaran, memeriksa dan memperbaiki jawaban teman, serta
kegiatan yang lainnya dengan tujuan mencapai hasil belajar tertinggi.
Pembelajaran
kooperatif merupakan tempat siswa belajar bersama dalam kelompok-kelompok kecil
yang terdiri dari 4-5 orang. Siswa yang berkemampuan tinggi, sedang, jenis
kelamin, suku / ras yang berbeda, bekerja sama saling membantu satu sama lain
dalam belajar.
Tujuan
dari pembelajaran kooperatif adalah menciptakan situasi dimana keberhasilan
individu ditentukan / dipengaruhi
oleh keberhasilan kelompoknya. beberapa hasil penelitian menunjukkan
bahwa teknik-teknik pembelajaran
kooperatif lebih banyak meningkatkan hasil belajar daripada pengalaman
pembelajaran individu. Ibrahim Muslimin (dalam Rahmawati, 2006 : 16).
Dasar-dasar
Pembelajaran Kooperatif
a.
Siswa
dalam kelompoknya harus beranggapan bahwa mereka "sehidup sepenanggungan
bersama".
b.
Siswa
bertanggung jawab atas segala sesuatu di dalam kelompok seperti milik sendiri.
c.
Siswa
haruslah melihat bahwa semua anggota di dalam kelompoknya memiliki tujuan yang
sama.
d.
Siswa
haruslah membagi tugas dan tanggung jawab yang sama diantara anggota
kelompoknya.
e.
Siswa
akan dikenakan evaluasi atau diberikan hadiah/ penghargaan yang juga akan
dikenakan untuk semua anggota kelompoknya.
f.
Siswa
berbagi kepemimpinan dan mereka membutuhkan keterampilan untuk belajar bersama
selama proses belajarnya.
g.
Siswa
akan mempertanggungjawabkan secara individual materi yang akan ditangani dalam
kelompok. Ibrahim Muslimin (dalam Rahmawati, 2006 : 17)
Ciri-Ciri
Pembelajaran Kooperatif
· Siswa
bekerja dalam kelompok secara kooperatif untuk menuntaskan materi belajarnya.
· Kelompok
dibentuk dari siswa dengan kemampuan tinggi, sedang dan rendah.
· Bila
mungkin, anggota kelompok berasal dari ras, budaya, suku, jenis kelamin yang
berbeda-beda.
·
Penghargaan lebih berorientasi kelompok daripada
individu. Ibrahim
Muslimin (dalam Rahmawati, 2006 : 18)
Dalam
penerapan pembelajaran kooperatif, dua atau lebih individu saling tergantung
satu sama lain untuk mencapai satu penghargaan bersama. Mereka akan berbagi
penghargaan tersebut apabila mereka berhasil sebagai kelompok.
Metode Penelitian
Dalam penelitian
ini, peneliti sebagai pengajar di kelas yang akan meneliti mata pelajaran PJOK
, oleh karena itu penelitian ini dilaksanakan sekaligus dalam rangka
pembelajaran kelas. Secara langsung peneliti mengadakan pengamatan dan
penelitian terhadap kemampuan siswa dalam
memahami mata pelajaran PJOK
dengan menggunakan metode pembelajaran Demonstrasi.
Pelaksanaan
pengumpulan data dalam penelitian ini dilakukan dalam tiga kali putaran. Pada
penelitian ini terbagi menjadi empat tahapan pokok yaitu tahap planning
(rencana awal), tahap tindakan / observasi, tahap refleksi, tahap revisi
sebagai berikut :
1.
Tahap
Planning (Rencana Awal)
Langkah-langkah
yang ditempuh dalam tahap ini adalah :
a. Menentukan
materi pokok, tujuan pembelajaran dan tugas-tugas pembelajaran.
b.
Menyusun
instrumen penelitian yang dipakai untuk mengumpulkan data penelitian yang
terdiri dari :
1) Perangkat
pembelajaran meliputi satuan pembelajaran, rencana pembelajaran (RP), lembar
observasi, dan lembar tes.
2)
Menyusun
butir-butir soal tes (pre test dan post test). 3) Membuat Lembar pengamatan
aktivitas guru dan siswa serta lembar pengelolaan.
c.
Menetapkan
pengamat selama proses belajar mengajar yaitu kelas VIII-J semester genap Tahun
Pelajaran 2017/2018 SMPN 1 Dolopo Kab.
Madiun
2.
Tahap
Pelaksanaan
Pada
tahap ini peneliti membagi beberapa bagian, karena memperhatikan alokasi waktu
yang ada dan materi pokok yang dipilih, maka pelaksanaan ini di bagi menjadi 3
putaran (tiga siklus). Secara ringkas pelaksanaan tiap putaran sebagai berikut
:
a.
Melaksanakan
proses belajar mengajar sesuai dengan rencana pelajaran yang telah disampaikan
dengan menerapkan metode pembelajaran Demonstrasi dengan pendekatan kontekstual
yang di dalamnya terdapat beberapa tahapan yaitu : (1) Pendahuluan dengan
menekankan konsep yang akan dipelajari, (2) Mengembangkan materi pembelajaran
sesuai dengan model pembelajaran, (3) Membimbing siswa dalam kelompok
kooperatif, (4) Menelaah pemahaman dan memberikan umpan balik, (5) Mengevaluasi
hasil dan membimbing membuat rangkuman.
b.
Mengobservasi
proses belajar mengajar oleh pengamat dengan mengisi lembar pengamatan
aktivitas guru dan siswa.
c.
Mengadakan
diskusi dengan pengamat yang melakukan pengamatan, sesuai dengan hasil
pengamatan ketika proses pembelajaran langsung.
d.
Menerangkan
hasil diskusi dan menganalisis penyelesaian / pemecahan jika terdapat masalah
yang timbul dalam pembelajaran sehingga menghasilkan refleksi dan revisi untuk
putaran selanjutnya.
e.
Di
awal proses belajar mengajar siswa diberi tes awal (pre-tes), kemudian
dilaksanakan proses belajar mengajar sesuai dengan yang telah direncanakan,
setelah proses pembelajaran selesai, siswa diberi tes akhir dalam setiap
putaran (post-test) untuk mengetahui ketuntasan belajar siswa secara individual.
3.
Tahap
Refleksi
Peneliti
mengkaji hasil pembelajaran berdasarkan hasil pengamatan dengan para pengamat
mengenai kekurangan tindakan guru dalam kelas selama proses belajar mengajar
berlangsung. Peneliti menganalisis solusi yang dapat menyelesaikan permasalahan
yang sedang dihadapi dalam kegiatan belajar mengajar untuk memperbaiki kinerja
guru dalam penerapan metode pembelajaran Demonstrasi pada pertemuan
selanjutnya.
4.
Tahap
Revisi
Berdasarkan
hasil refleksi, peneliti membuat rancangan pembelajaran untuk putaran
berikutnya, dengan mengupayakan adanya pemantauan dan pemecahan masalah yang
timbul selama pembelajaran, untuk memperbaiki kekurangan-kekurangan pada
putaran sebelumnya.
Hasil Penelitian
Pada
putaran I ini diperoleh hasil tes siswa yang secara singkat ditunjukkan pada
tabel berikut :
Tabel Rangkuman Hasil Tes Siklus I
Berdasarkan
tabel di atas dapat ditunjukkan pada siklus I ini diperoleh ketuntasan
klasikal sebesar 33,33% (10 siswa yang
tuntas dari 30 siswa) dengan nilai rata-rata kelas 65,10 menurut standar penilaian
(DIKNAS 2006) bahwa pada putaran ini ketuntasan klasikal belum tercapai. Hal
ini disebabkan siswa belum terbiasa dengan kegiatan metode pembelajaran
Demonstrasi.
Pada siklus II ini diperoleh hasil tes siswa yang secara singkat ditunjukkan pada table
berikut
Berdasarkan tabel di atas dapat ditunjukkan pada siklus II ini diperoleh ketuntasan klasikal
sebesar 66,67% (20 siswa yang tuntas dari 30 siswa) dengan nilai
rata-rata kelas 78,77 menurut standar penilaian (DIKNAS 2004) bahwa pada
putaran ini ketuntasan klasikal belum tercapai namun sudah lebih baik dari
siklus I. Hal ini disebabkan siswa sudah terbiasa dengan kegiatan metode
pembelajaran Demonstrasi.
Penilaian
pada pembelajaran kooperatif Dengan Metode Pembelajaran Demonstrasi dapat
dilihat pada perkembangan individu maupun kelompok. Nilai ini digunakan untuk
memberikan penghargaan pada prestasi siswa baik secara individu maupun
kelompok. Pada putaran ini semua kelompok mendapatkan penghargaan sebagai
kelompok hebat, kecuali kelompok IV dan VI yang mendapatkan penghargaan sebagai
kelompok baik dan kelompok V dan VII
sebagai kelompok super.
Pada siklus III ini diperoleh hasil tes siswa yang secara singkat ditunjukkan pada
tabel berikut :
Tabel Rangkuman Hasil Tes Siklus III Siswa
Berdasarkan tabel di atas dapat
ditunjukkan pada putaran III ini diperoleh ketuntasan klasikal sebesar 93,33%
dengan nilai rata-rata kelas 86,33 menurut standar penilaian (DIKNAS 2006)
bahwa pada putaran ini ketuntasan klasikal sudah tercapai. Hal ini disebabkan siswa
sudah terbiasa dengan kegiatan metode pembelajaran Demonstrasi.
Penilaian
pada pembelajaran kooperatif tipe Dengan Metode Pembelajaran Demonstrasi dapat
dilihat pada perkembangan individu maupun kelompok. Nilai ini digunakan untuk
memberikan penghargaan pada prestasi siswa baik secara individu maupun
kelompok. Pada putaran ini semua kelompok mendapatkan penghargaan sebagai
kelompok hebat, kecuali kelompok
IV yang mendapatkan penghargaan sebagai kelompok baik dan kelompok II dari VIII-J sebagai kelompok super.
IV yang mendapatkan penghargaan sebagai kelompok baik dan kelompok II dari VIII-J sebagai kelompok super.
Pada penelitian ini akan dijabarkan hasil ketuntasan belajar siswa yang
dapat kita lihat pada tabel sebagai
berikut:
Tabel Hasil Tes Belajar Siswa Pada
Putaran I, II dan III
Kesimpulan
Berdasarkan
hasil penelitian dan pembahasan, maka dapat disimpulkan sebagai berikut:
1. Aktifitas guru yang dominan muncul pada putaran
I, II dan III adalah memberikan petunjuk/ membimbing siswa (32,5%, 27,5%, 25%).
Mendorong dan melatih keterampilan kooperatif (20%, 25%, 27,5%). Aktifitas
siswa yang dominan muncul adalah berdiskusi antar siswa (22%, 23%, 24%),
presentasi kelompok (15%, 18%, 20%). Sehingga kebiasaan guru untuk memberikan
ceramah cenderung menurun, karena guru bertindak sebagai fasilitator dan
motivator dalam pelaksanaan KBM. Kemampuan guru dalam mengelola KBM dengan
metode pembelajaran Demonstrasi pada materi pokok Aktivitas
Beladiri juga
mengalami peningkatan, yaitu pada siklus I rata-rata nilai 65,10 menjadi 78,77
pada siklus II berarti meningkat sebesar 13,67 dan pada siklus III rata-rata
nilainya 86,33 berarti dari siklus II ke siklus III meningkat sebesar 7,57.
Dengan demikian terjadi peningkatan kualitas pembelajaran dengan metode
pembelajaran Demonstrasi.
2. Metode pembelajaran Demonstrasi dapat menarik
siswa untuk senang belajar sebesar 90% dan membantu memahami pelajaran sebesar
77,5%. Sehingga pembelajaran Demonstrasi merupakan model pembelajaran yang
efektif jika digunakan.
3. Hasil/prestasi belajar siswa meningkat pada
setiap putaran yaitu pada siklus I diperoleh ketuntasan klasikal sebesar 33,33%
dengan nilai rata-rata 65,10; siklus II
diperoleh ketuntasan klasikal sebesar 66,67% dengan nilai rata-rata 78,77; dan
siklus III diperoleh ketuntasan klasikal
sebesar 93,33% dengan nilai rata-rata 86,33. Ketuntasan belajar meningkat
33,34% dari siklus I ke siklus II dan meningkat sebesar 26,66% dari siklus II
ke siklus III. Sehingga penerapan metode pembelajaran Demonstrasi ini efektif
jika diterapkan.
DAFTAR PUSTAKA
Globallavebookx.blogspot.go.id/2015/3/pengertian-dan-tujuan-metode
demonstrasi.html
Ardiana,
Leo Idra. 1998. Penelitian Tindakan Kelas. Depdiknas
Arikunto,
Suharsimi. 2001. Prosedur Penelitian Suatu Pendekatan Praktek. Jakarta:
Rineka Cipta
Dalyono.
1996. Psikologi Pendidikan. Jakarta : Rineka Cipta
Djamarah, Syaiful Bahri. 2002. Psikologi belajar. Jakarta :
Rineka Cipta
Johnson, Elaine B. 2002. CTL (Contextual Teaching and
Learning). Bandung
: Mizan Learning Center
Kisyani-Laksono.
2006. Penelitian Tindakan Kelas. Unesa
Muslich,
Masnur. 2006. KTSP : Pembelajaran Berbasis Kompetensi dan Kontekstual
Jakarta: Bumi Aksara
Slavin,
Robert. 1997. Effect of Bilingual Cooperative Reading and Composition onp Students Transitioning From
Spanish to English,
report No.10. www.links.jstor.org
Steven,
Robert., Madden dkk. 1987. Journal of Cooperative Reading and Composition:
Two Field Experiment Volume 22 No.4. www.links.jstor.org
Sudjana,
Nana. 1998. Dasar-Dasar Proses Belajar Mengajar. Bandung Algesindo
Sudjana,
Nana. 1998. Penilaian Hasil Proses Belajar Mengajar. Bandung Remaja
Rosdakarya
Syah,
Muhibbin. 2001. Psikologi Pendidikan Dengan Pendekatan Baru. Bandung
Remaja Rosda Karya
Tim
Pustaka Yustisia. 2006. Panduan Lengkap KTSP. Yogyakarta : Pustaka
Yustisia
Tidak ada komentar:
Posting Komentar