Senin, 01 Oktober 2018

PENERAPAN METODE DEMONSTRASI UNTUK MENINGKATKAN KETUNTASAN BELAJAR SISWA MATERI AKTIVITAS BELADIRI KELAS VIII-J SEMESTER GENAP TAHUN PELAJARAN 2017/2018 SMP NEGERI 1 DOLOPO KABUPATEN MADIUN


PENERAPAN METODE DEMONSTRASI UNTUK MENINGKATKAN
KETUNTASAN BELAJAR SISWA MATERI AKTIVITAS BELADIRI KELAS VIII-J
SEMESTER GENAP TAHUN PELAJARAN 2017/2018 SMP NEGERI 1 DOLOPO KABUPATEN MADIUN

Oleh : Dasuki
Guru SMP Negeri 1 Dolopo Kabupaten Madiun

abstrak

Kata kunci :  model demonstrasi, ketuntasan belajar

Model pembelajaran Demonstrasi adalah model pembelajaran dimana siswa dalam kelas dibagi dalam kelompok-kelompok kecil yang beranggotakan 4 sampai 5 dan setiap kelompok harus heterogen. Siswa dalam kelompok dituntut untuk dapat bekerjasama untuk menemukan ide pokok dan memberi tanggapan terhadap wacana yang telah diberikan oleh guru. Dengan menggunakan model pembelajaran tersebut diharapkan peserta didik mampu mencari, menganalisis dan menggunakan informasi dengan sedikit atau bahkan tanpa bantuan guru.
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui: (1) pelaksanaan pendekatan kontekstual dengan model pembelajaran Demonstrasi, (2) respon siswa terhadap penerapan model pembelajaran Demonstrasi bila ditinjau dari minat siswa pada mata pelajaran Pendidikan PJOK, dan (3) ketuntasan hasil belajar siswa dengan menggunakan model pembelajaran Demonstrasi.
Penelitian ini menggunakan rancangan penelitian tindakan kelas (PTK, dengan RPP dan LKS sebagai perangkat pembelajaran. Instrumen penelitian yang digunakan: Tes Hasil Belajar, Lembar pengamatan pengelolaan pembelajaran, lembar pengamatan aktivitas siswa dan angket respon siswa.
Hasil pengamatan dan pembahasan, diperoleh kesimpulan bahwa: (1) Kemampuan guru dalam mengelola KBM dengan model pembelajaran Demonstrasi juga mengalami peningkatan, yaitu dari nilai rata-rata 2,47 dengan kualifikasi cukup baik. (2) Model pembelajaran Demonstrasi dapat menarik siswa untuk senang belajar sebesar 90% dan membantu memahami pelajaran sebesar 76,67%. Sehingga pembelajaran Demonstrasi merupakan model pembelajaran yang efektif jika digunakan, (3) Hasil belajar siswa meningkat pada setiap siklus yaitu pada siklus  I diperoleh ketuntasan klasikal sebesar 33,33% dengan nilai rata-rata 65,10; siklus II diperoleh ketuntasan klasikal sebesar 66,67% dengan nilai rata-rata 78,77; dan siklus III diperoleh ketuntasan klasikal sebesar 93,33% dengan nilai rata-rata 86,33. Sehingga penerapan model pembelajaran Demonstrasi ini efektif jika diterapkan.



Latar Belakang
Dalam pendekatan pembelajaran kontekstual, program pembelajaran lebih merupakan rencana kegiatan kelas yang dirancang guru yang berisi skenario tahap demi tahap tentang apa yang akan dilakukan bersama siswanya sehubungan dengan topik yang akan dipelajarinya. Dengan bercermin pada konteks tersebut, maka sebagai guru, peneliti ingin menerapkan model pembelajaran yang efektif, dan model pembelajaran yang digunakan adalah model pembelajaran Demonstrasi dimana pada metode pembelajaran Demonstrasi siswa dalam kelas dibagi dalam kelompok-kelompok kecil yang beranggotakan 4 sampai 5 dan setiap kelompok harus heterogen. Siswa dalam kelompok dituntut untuk dapat bekerjasama untuk menemukan ide pokok dan memberi tanggapan terhadap wacana yang telah diberikan oleh guru. Dengan menggunakan model pembelajaran tersebut diharapkan peserta didik mampu mencari, menganalisis dan menggunakan informasi dengan sedikit atau bahkan tanpa bantuan guru.
Berdasarkan latar belakang yang telah diuraikan di atas, peneliti ingin mengambil judul penelitian  Penerapan Metode Demonstrasi untuk Meningkatkan Ketuntasan Belajar Siswa Materi Aktivitas Beladiri Kelas VIII-J Semester Genap Tahun Pelajaran 2017/2018 SMP Negeri 1 Dolopo Kabupaten Madiun

Kajian Pustaka
Pengertian Belajar
Menurut Muhibbin (2005 : 89) "Belajar adalah kegiatan yang berproses dan merupakan unsur yang sangat fundamental dalam setiap penyelenggara jenis dan jenjang pendidikan". Ini berarti bahwa berhasil atau gagalnya pencapaian tujuan pendidikan itu amat bergantung pada proses belajar yang dialami siswa, baik ketika ia berada di sekolah maupun di lingkungan rumah atau keluarganya sendiri.
"Belajar adalah suatu proses adaptasi atau penyesuaian tingkah laku yang berlangsung secara progresif". Skinner (dalam Muhibbin, 2005 : 90). Dari pengertian ini dapat diartikan bahwa proses adaptasi yang berupa belajar akan mendatangkan hasil yang optimal apabila diberi penguatan (reinforcer) secara terus menerus.
Menurut Sardinian (dalam Djamarah, 2002 : 21) "Belajar adalah sebagai rangkaian kegiatan jiwa dan raga, psikofisik menuju ke perkembangan pribadi manusia seutuhnya yang menyangkut unsur cipta, rasa dan karsa, rana kognitif, afektif dan psikomotorik." Sebagai hasil dari aktivitas belajar ini akan dapat dilihat dari perubahan tingkah laku sebagai hasil dari pengalaman yang diperolehnya, dan pada dasarnya pengalaman inilah yang nantinya akan membentuk pribadi individu ke arah kedewasaan.
Dari beberapa pengertian belajar di atas maka dapat kita ambil suatu kesimpulan bahwa belajar adalah serangkaian kegiatan jiwa dan raga untuk memperoleh suatu perubahan tingkah laku sebagai hasil dari pengalaman individu dalam interaksi dengan lingkungannya yang menyangkut ranah kognitif, afektif dan psikomotorik. Pada dasarnya untuk melaksanakan kegiatan belajar ada beberapa prinsip yang harus diketahui dan dipahami.

Prinsip Belajar
a.    Dalam belajar setiap siswa harus diupayakan berpartisipasi aktif untuk meningkatkan minat dan bimbingan untuk mencapai tujuan instruksional.
b.   Belajar bersifat keseluruhan dan materi itu harus memiliki struktur, penyajian yang sederhana sehingga siswa mudah menangkap pengertiannya.
c.    Belajar harus dapat menimbulkan reinforcement dan motivasi yang kuat pada siswa untuk mencapai tujuan instruksional.
d.   Belajar itu harus kontinyu, artinya harus tahap demi tahap menurut perkembangannya.
e.    Belajar adalah suatu proses organisasi, adaptasi, eksplorasi dan discoveri.
f.    Belajar harus dapat mengembangkan kemampuan tertentu sesuai dengan tujuan instruksional yang akan dicapai.
g.   Belajar memerlukan sarana yang cukup sehingga siswa dapat belajar dengan tenang.
h.   Belajar perlu lingkungan yang menantang dimana anak dapat mengembangkan kemampuannya bereksplorasi dan belajar dengan efektif.
i.    Belajar memerlukan adanya interaksi antara siswa dengan lingkungan.
j.    Belajar adalah suatu proses kontinyuitas (hubungan antara yang satu dengan yang lain) sehingga akan mendapatkan pengertian yang diharapkan dan stimulus yang diberikan akan mendapatkan respon yang diharapkan.
k.   Repetisi dalam proses belajar mengajar perlu adanya ulangan berkali-kali agar pemahaman, keterampilan dan sikap itu akan mendalam pada diri siswa. Slameto (dalam Rahmawati, 2006 : 19).
Dari beberapa prinsip belajar di atas, maka dapat kita ketahui bahwa belajar itu harus melalui prosedur agar dapat mencapai suatu hasil yang maksimal, dan untuk mencapai hasil yang maksimal maka harus melaksanakan prinsip-prinsip di atas, diantaranya adalah harus ada kemauan dan keinginan, harus ada binaan dan keaktifan baik dari guru maupun siswa.

Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Proses Belajar Mengajar
Menurut Nana Sudjana (1998 : 79) ada beberapa faktor yang dapat mempengaruhi keberhasilan proses belajar mengajar, antara lain sebagai berikut :
l.    Konsistensi kegiatan belajar mengajar dengan kurikulum
Kurikulum adalah program belajar mengajar yang telah ditemukan sebagai acuan apa yang dilakukan, sehingga jika suatu kegiatan belajar mengajar ingin berhasil, maka harus selalu mengacu pada kurikulum yang berlaku.
m.  Keterlaksanaannya oleh guru
Dalam hal ini adalah sejauh mana kegiatan dan program yang telah direncanakan dapat dilaksanakan oleh guru tanpa mengalami hambatan dan kesulitan yang berarti.
n.   Keterlaksanaannya oleh siswa
Dalam hal ini dinilai dari sejauh mana siswa melakukan kegiatan belajar sesuai dengan program yang telah dilaksanakan.
o.   Motivasi belajar siswa
Hal ini dapat dilihat dalam hal minat dan perhatian siswa terhadap pelajaran, semangat siswa untuk melakukan tugas-tugas belajarnya, tanggung jawab siswa dalam mengerjakan tugas-tugasnya, reaksi yang ditunjukkan siswa terhadap stimulus yang diberikan guru, rasa senang dan puas dalam mengerjakan tugas yang diberikan.
p.   Keaktifan para siswa dalam kegiatan belajar
Keaktifan siswa dapat dilihat dalam hal turut serta dalam melaksanakan tugas belajarnya, terlibat dalam pemecahan masalah, bertanya kepada siswa lain atau kepada guru apabila tidak memahami persoalan yang dihadapi, berusaha mencari berbagai informasi yang diperlukan untuk memecahkan masalah, melaksanakan diskusi kelompok sesuai dengan petunjuk guru, melatih diri memecahkan soal atau permasalahan yang telah diperolehnya dalam menyelesaikan tugas atau persoalan yang dihadapinya.
q.   Interaksi guru-siswa
Interaksi guru dan siswa berkenaan dengan komunikasi atau hubungan timbal balik atau hubungan dua arah antara siswa dengan guru atau siswa dengan siswa dalam melakukan kegiatan belajar mengajar.
r.    Kemampuan dan keterampilan guru dalam mengajar
Pada dasarnya ada beberapa hal yang dapat dijadikan sebagai acuan dalam menilai kemampuan guru, antara lain : menguasai bahan pelajaran yang disampaikan kepada siswa, menguasai kelas sehingga dapat mengendalikan kegiatan siswa, terampil menggunakan alat dan berbagai sumber belajar, terampil mengajukan pertanyaan baik lisan maupun tulisan.
Selain dari hal di atas ada satu lagi yang sangat penting dan harus diperhatikan secara serius oleh guru ketika melakukan kegiatan belajar mengajar, yaitu penggunaan metode pengajaran atau model pembelajaran. Seperti yang kita ketahui bahwa Indonesia telah menerapkan sistem Kurikulum 2013, yang mana dalam kurikulum yang menjadi fokus adalah keaktifan siswa, guru hanya sebagai fasilitator dan pemandu dalam kegiatan belajar mengajar, dan salah satu metode pembelajaran yang dapat dipergunakan adalah Metode pembelajaran Demonstrasi.

Ketuntasan Belajar
Ketuntasan belajar merupakan pencapaian hasil belajar yang ditetapkan dengan ukuran atau tingkat pencapaian kompetensi yang memadahi dan dapat dipertanggung jawabkan sebagai prasarat penguasaan kompetensi lebin lanjut

Hakikat Pembelajaran
Pembelajaran adalah suatu kombinasi yang tersusun meliputi unsur-unsur manusiawi, material fasilitas, perlengkapan dan prosedur yang saling mempengaruhi untuk mencapai tujuan pembelajaran. Dalam pembelajaran terdapat prosedur umum antara lain : kegiatan pendahuluan, kegiatan inti dan kegiatan akhir.
Dari teori pembelajaran di atas dapat disimpulkan bahwa pembelajaran merupakan proses belajar mengajar yang dimulai dengan kegiatan pendahuluan, kegiatan inti dan kemudian kegiatan penutup. Di mana kegiatan-kegiatan ini saling berhubungan dan berurutan.

Evaluasi Hasil Belajar
Evaluasi (penilaian) hasil belajar berbeda dengan pengukuran yang sifatnya kuantitatif. Evaluasi yaitu menafsirkan hasil pengukuran berdasarkan norma tertentu. Sehingga penilaian merupakan upaya untuk memeriksa sejauh mana siswa mencapai tujuan pembelajaran.
Tujuan evaluasi hasil belajar adalah untuk memberikan informasi yang berkenaan dengan kemajuan siswa, pembinaan kegiatan belajar mengajar, menerapkan kemampuan dan kesulitan untuk mendorong motivasi belajar, membantu perkembangan tingkah laku dan membimbing siswa untuk memilih sekolah ke tingkat selanjutnya.
Dari teori di atas dapat disimpulkan bahwa evaluasi hasil belajar adalah penilaian untuk mengetahui seberapa jauh pemahaman siswa akan materi pelajaran yang telah didapat.

Pendekatan Pembelajaran Kontekstual
Pembelajaran kontekstual melibatkan para siswa dalam aktivitas penting yang membantu mereka mengaitkan pelajaran akademis dengan konteks kehidupan nyata yang mereka hadapi. Tujuan utama metode pembelajaran Demonstrasi adalah membantu para siswa dengan cara yang tepat untuk mendemonstrasikan atau mempraktikkan pelajaran-pelajaran akademik mereka.

Karakteristik pembelajaran kontekstual
a.    Pembelajaran dilaksanakan dalam konteks autentik, yaitu pembelajaran yang diarahkan pada ketercapaian keterampilan dalam konteks kehidupan nyata atau pembelajaran yang dilaksanakan dalam lingkungan yang alamiah (learning in real life setting).
b.   Pembelajaran memberikan kesempatan kepada siswa untuk mengerjakan tugas-tugas yang bermakna (meaningful learning).
c.    Pembelajaran dilaksanakan dengan memberikan pengalaman bermakna kepada siswa (learning by doing).
d.   Pembelajaran dilaksanakan melalui kerja kelompok, berdiskusi, saling mengoreksi antar teman (learning in group).
e.    Pembelajaran memberikan kesempatan untuk menciptakan rasa kebersamaan, bekerjasama dan saling memahami antara satu dengan yang lain secara mendalam (learning to know each other deeply).
f.    Pembelajaran dilaksanakan secara aktif, kreatif, produktif dan mementingkan kerjasama (learning to ask, to inquiry, to work together).
g.   Pembelajaran dilaksanakan dalam situasi yang menyenangkan (learning as an enjoy activity). (Muslich, 2006 :42)
Sedangkan Nurhadi (dalam Muslich, 2006 : 43) mendeskrIPS Geografiikan karakteristik pembelajaran kontekstual dengan cara menderetkan sepuluh kata kunci, antara lain :
a.    Kerjasama
b.   Saling menunjang
c.    Menyenangkan, tidak membosankan
d.   Belajar dengan gairah
e.    Pembelajaran terintegrasi
f.    Menggunakan berbagai sumber
g.   Siswa aktif
h.   Sharing dengan teman
i.    Siswa kritis
j.    Guru kreatif
Dari dua diskripsi di atas dapat disimpulkan bahwa pada pembelajaran kontekstual siswa diarahkan untuk dapat saling bekerjasama dan secara mandiri membangun team work yang kuat dalam suasana belajar yang menyenangkan.

Komponen pembelajaran kontekstual 
Pembelajaran dengan pendekatan kontekstual melibatkan tujuh komponen utama, yaitu (1) contructivism (kontruktivisme, membangun, membentuk), (2) questioning (bertanya), (3) inquiry (menemukan, menyelidiki), (4) learning community (masyarakat belajar), (5) modelling (pemodelan), (6) reflection (refleksi atau umpan balik), (7) authentic assesment (penilaian sebenarnya). Apabila ketujuh komponen ini diterapkan dalam pembelajaran, terlihat pada realitas berikut:
a.    Kegiatan yang mengembangkan pemikiran bahwa pembelajaran akan lebih bermakna apabila siswa bekerja sendiri, menemukan, dan membangun sendiri pengetahuan dan keterampilan barunya.
b.   Kegiatan belajar yang mendorong sikap keingintahuan siswa lewat bertanya atau permasalahan yang akan dipelajari.
c.    Kegiatan belajar yang bisa mengkondisikan siswa untuk mengamati, menyelidiki, menganalisis topik atau permasalahan yang dihadapi sehingga ia berhasil menemukan sesuatu.
d.   Kegiatan belajar yang bisa menciptakan suasana belajar bersama atau kelompok sehingga ia bisa berdiskusi, curah pendapat, bekerjasama dan saling membantu dengan teman lain.
e.    Kegiatan belajar yang bisa menunjukkan model yang bisa dipakai rujukan atau panutan siswa dalam bentuk penampilan tokoh, demonstrasi kegiatan, penampilan hasil karya, cara pengoperasian sesuatu dan sebagainya.
f.    Kegiatan belajar yang memberikan refleksi atau umpan balik dalam bentuk tanya jawab dengan siswa tentang kesulitan yang dihadapi dan pemecahannya, merekontruksikan kegiatan yang telah dilakukan, kesan siswa selama melakukan kegiatan dan saran atau harapan siswa.
g.   Kegiatan belajar yang biasa diamati secara periodik perkembangan kompetensi siswa melalui kegiatan-kegiatan nyata ketika pembelajaran berlangsung. (Muslich, 2006 :43)

Metode Pembelajaran Demonstrasi
1.   Pengertian
Ditinjau dari segi etimologi (bahasa) metode berasal dari bahasa Yunani, yaitu “methodos”, yang terdiri dari kata ”metha” yang berarti melalui atau melewati dan “hodos” yang berarti jalan atau cara. Maka metode mempunyai arti suatu jalan yang dilalui untuk mencapai tujuan. Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, metode adalah cara kerja yang bersistem untuk memudahkan pelaksanaan kegiatan guna mencapai apa yang telah ditentukan.
Metode demonstrasi adalah cara penyajian bahan pelajaran dengan memperagakan atau mempertunjukkan kepada peserta didik suatu proses, situasi atau benda tertentu yang sedang dipelajari baik sebenarnya atau tiruan yang sering disertai penjelasan lisan.
Metode demonstrasi adalah metode mengajar di mana seorang guru atau orang lain yang sengaja diminta peserta didik sendiri memperlihatkan kepada seluruh anak di dalam kelas, suatu kaifiyah melakukan sesuatu.
Dari beberapa pengertian di atas disimpulkan bahwa metode demonstrasi adalah suatu metode mengajar dimana seorang guru atau orang lain bahkan murid sendiri memperlihatkan kepada seluruh kelas tentang suatu proses melakukan atau jalannya suatu proses perbuatan tertentu.

Langkah-Langkah Metode Demonstrasi
a.    Perencanaan
·     Merumuskan tujuan yang jelas baik dari sudut kecakapan atau kegiatan yang diharapkan dapat ditempuh setelah metode demonstrasi berakhir.
·     Menetapkan garis-garis besar langkah-langkah demonstrasi yang akan dilaksanakan.
·     Memperhitungkan waktu yang dibutuhkan.
·     Selama demonstrasi berlangsung, seorang guru hendaknya introspeksi diri apakah:
Ø Keterangan-keterangannya dapat didengar dengan jelas oleh peserta didik.
Ø Semua media yang digunakan ditempatkan pada posisi yang baik sehingga setiap  peserta didik dapat melihat.
Ø Peserta didik disarankan membuat catatan yang dianggap perlu.
·     Menetapkan rencana penilaian terhadap kemampuan peserta didik
b.   Pelaksanaan
·     Memeriksa hal-hal di atas untuk kesekian kalinya.
·     Memulai demonstrasi dengan menarik perhatian peserta didik.
·     Mengingat pokok-pokok materi yang akan didemonstrasikan agar demonstrasi mencapai sasaran.
·     Memperhatikan keadaan peserta didik, apakah semuanya mengikuti demonstrasi dengan baik.
·     Memberikan kesempatan kepada peserta didik untuk aktif memikirkan lebih lanjut tentang apa yang dilihat dan didengarnya dalam bentuk mengajukan pertanyaan.
·     Menghindari ketegangan, oleh karena itu guru hendaknya selalu menciptakan suasana yang harmonis.
c.    Evaluasi
Sebagai tindak lanjut setelah diadakannya demonstrasi sering diiringi dengan kegiatan-kegiatan belajar selanjutnya. Kegiatan ini dapat berupa pemberian tugas, seperti membuat laporan, menjawab pertanyaan, mengadakan latihan lebih lanjut. Selain itu, guru dan peserta didik mengadakan evaluasi terhadap demonstrasi yang dilakukan, apakah sudah berjalan efektif sesuai dengan yang diharapkan.
Langkah-langkah metode demonstrasi
·     Persiapkan alat-alat yang diperlukan.
·     Guru menjelaskan kepada anak-anak apa yang direncanakan dan apa yang akan dikerjakan.
·     Guru mendemonstrasikan kepada anak-anak secara perlahan-lahan, serta memberikan penjelasan yang cukup singkat.
·     Guru mengulang kembali selangkah demi selangkah dan menjelaskan alasan alasan setiap langkah.
·     Guru menugaskan kepada siswa agar melakukan demonstrasi sendiri langkah demi langkah dan disertai penjelasan.

Kelebihan Metode Demonstrasi
·     Terjadinya verbalisme akan dapat dihindari, siswa disuruh langsung memperhatikan bahan pelajaran yang dijelaskan.
·      Proses pembelajaran akan lebih menarik
·     Dengan cara mengamati secara langsung siswa akan memiliki kesempatan untuk membandingkan antara teori dan kenyataan.

Kekurangannya Metode Demonstrasi
·     Memerlukan keterampilan guru secara khusus. 
·     Memerlukan waktu yang banyak.
·     Memerlukan kematangan dalam perancangan atau persiapan.
·     Keterbatasan dalam sumber belajar, alat pelajaran, situasi yang harus dikondisikan dan waktu untuk mendemonstrasikan.

Pembelajaran Kooperatif
Pembelajaran kooperatif merupakan pembelajaran yang mempunyai kesamaan pandang untuk menuju tujuan yang sama. Dalam pembelajaran kooperatif siswa bekerja sama dalam kelompok kecil dengan tingkat kemampuan yang berbeda, saling membantu untuk memahami suatu pelajaran, memeriksa dan memperbaiki jawaban teman, serta kegiatan yang lainnya dengan tujuan mencapai hasil belajar tertinggi.
Pembelajaran kooperatif merupakan tempat siswa belajar bersama dalam kelompok-kelompok kecil yang terdiri dari 4-5 orang. Siswa yang berkemampuan tinggi, sedang, jenis kelamin, suku / ras yang berbeda, bekerja sama saling membantu satu sama lain dalam belajar.
Tujuan dari pembelajaran kooperatif adalah menciptakan situasi dimana  keberhasilan  individu  ditentukan /  dipengaruhi  oleh keberhasilan kelompoknya. beberapa hasil penelitian menunjukkan bahwa  teknik-teknik  pembelajaran  kooperatif lebih banyak meningkatkan hasil belajar daripada pengalaman pembelajaran individu. Ibrahim Muslimin (dalam Rahmawati, 2006 : 16).

Dasar-dasar Pembelajaran Kooperatif
a.    Siswa dalam kelompoknya harus beranggapan bahwa mereka "sehidup sepenanggungan bersama".
b.   Siswa bertanggung jawab atas segala sesuatu di dalam kelompok seperti milik sendiri.
c.    Siswa haruslah melihat bahwa semua anggota di dalam kelompoknya memiliki tujuan yang sama.
d.   Siswa haruslah membagi tugas dan tanggung jawab yang sama diantara anggota kelompoknya.
e.    Siswa akan dikenakan evaluasi atau diberikan hadiah/ penghargaan yang juga akan dikenakan untuk semua anggota kelompoknya.
f.    Siswa berbagi kepemimpinan dan mereka membutuhkan keterampilan untuk belajar bersama selama proses belajarnya.
g.   Siswa akan mempertanggungjawabkan secara individual materi yang akan ditangani dalam kelompok. Ibrahim Muslimin (dalam Rahmawati, 2006 : 17)

Ciri-Ciri Pembelajaran Kooperatif
·     Siswa bekerja dalam kelompok secara kooperatif untuk menuntaskan materi belajarnya.
·     Kelompok dibentuk dari siswa dengan kemampuan tinggi, sedang dan rendah.
·     Bila mungkin, anggota kelompok berasal dari ras, budaya, suku, jenis kelamin yang berbeda-beda.
·     Penghargaan lebih berorientasi kelompok daripada individu. Ibrahim Muslimin (dalam Rahmawati, 2006 : 18)
Dalam penerapan pembelajaran kooperatif, dua atau lebih individu saling tergantung satu sama lain untuk mencapai satu penghargaan bersama. Mereka akan berbagi penghargaan tersebut apabila mereka berhasil sebagai kelompok.

Metode Penelitian
Dalam penelitian ini, peneliti sebagai pengajar di kelas yang akan meneliti mata pelajaran PJOK , oleh karena itu penelitian ini dilaksanakan sekaligus dalam rangka pembelajaran kelas. Secara langsung peneliti mengadakan pengamatan dan penelitian terhadap kemampuan  siswa  dalam  memahami mata pelajaran PJOK  dengan menggunakan metode pembelajaran Demonstrasi.
Pelaksanaan pengumpulan data dalam penelitian ini dilakukan dalam tiga kali putaran. Pada penelitian ini terbagi menjadi empat tahapan pokok yaitu tahap planning (rencana awal), tahap tindakan / observasi, tahap refleksi, tahap revisi sebagai berikut : 
1.   Tahap Planning (Rencana Awal)
Langkah-langkah yang ditempuh dalam tahap ini adalah :
a.    Menentukan materi pokok, tujuan pembelajaran dan tugas-tugas pembelajaran.
b.   Menyusun instrumen penelitian yang dipakai untuk mengumpulkan data penelitian yang terdiri dari :
1)   Perangkat pembelajaran meliputi satuan pembelajaran, rencana pembelajaran (RP), lembar observasi, dan lembar tes.
2)   Menyusun butir-butir soal tes (pre test dan post test). 3) Membuat Lembar pengamatan aktivitas guru dan siswa serta lembar pengelolaan.
c.    Menetapkan pengamat selama proses belajar mengajar yaitu kelas VIII-J semester genap Tahun Pelajaran 2017/2018   SMPN 1 Dolopo Kab. Madiun
2.   Tahap Pelaksanaan
Pada tahap ini peneliti membagi beberapa bagian, karena memperhatikan alokasi waktu yang ada dan materi pokok yang dipilih, maka pelaksanaan ini di bagi menjadi 3 putaran (tiga siklus). Secara ringkas pelaksanaan tiap putaran sebagai berikut :
a.    Melaksanakan proses belajar mengajar sesuai dengan rencana pelajaran yang telah disampaikan dengan menerapkan metode pembelajaran Demonstrasi dengan pendekatan kontekstual yang di dalamnya terdapat beberapa tahapan yaitu : (1) Pendahuluan dengan menekankan konsep yang akan dipelajari, (2) Mengembangkan materi pembelajaran sesuai dengan model pembelajaran, (3) Membimbing siswa dalam kelompok kooperatif, (4) Menelaah pemahaman dan memberikan umpan balik, (5) Mengevaluasi hasil dan membimbing membuat rangkuman.
b.   Mengobservasi proses belajar mengajar oleh pengamat dengan mengisi lembar pengamatan aktivitas guru dan siswa.
c.    Mengadakan diskusi dengan pengamat yang melakukan pengamatan, sesuai dengan hasil pengamatan ketika proses pembelajaran langsung.
d.   Menerangkan hasil diskusi dan menganalisis penyelesaian / pemecahan jika terdapat masalah yang timbul dalam pembelajaran sehingga menghasilkan refleksi dan revisi untuk putaran selanjutnya.
e.    Di awal proses belajar mengajar siswa diberi tes awal (pre-tes), kemudian dilaksanakan proses belajar mengajar sesuai dengan yang telah direncanakan, setelah proses pembelajaran selesai, siswa diberi tes akhir dalam setiap putaran (post-test) untuk mengetahui ketuntasan belajar siswa secara individual.
3.   Tahap Refleksi
Peneliti mengkaji hasil pembelajaran berdasarkan hasil pengamatan dengan para pengamat mengenai kekurangan tindakan guru dalam kelas selama proses belajar mengajar berlangsung. Peneliti menganalisis solusi yang dapat menyelesaikan permasalahan yang sedang dihadapi dalam kegiatan belajar mengajar untuk memperbaiki kinerja guru dalam penerapan metode pembelajaran Demonstrasi pada pertemuan selanjutnya.
4.   Tahap Revisi
Berdasarkan hasil refleksi, peneliti membuat rancangan pembelajaran untuk putaran berikutnya, dengan mengupayakan adanya pemantauan dan pemecahan masalah yang timbul selama pembelajaran, untuk memperbaiki kekurangan-kekurangan pada putaran sebelumnya.

Hasil Penelitian
Pada putaran I ini diperoleh hasil tes siswa yang secara singkat ditunjukkan pada tabel berikut :
Tabel  Rangkuman Hasil Tes Siklus  I
Berdasarkan tabel di atas dapat ditunjukkan pada siklus I ini diperoleh ketuntasan klasikal sebesar  33,33% (10 siswa yang tuntas dari 30 siswa) dengan nilai rata-rata kelas 65,10 menurut standar penilaian (DIKNAS 2006) bahwa pada putaran ini ketuntasan klasikal belum tercapai. Hal ini disebabkan siswa belum terbiasa dengan kegiatan metode pembelajaran Demonstrasi.
Pada siklus II ini diperoleh hasil tes siswa yang secara singkat ditunjukkan pada table berikut
Berdasarkan tabel di atas dapat ditunjukkan pada siklus II ini diperoleh ketuntasan klasikal sebesar 66,67% (20 siswa yang tuntas dari 30 siswa) dengan nilai rata-rata kelas 78,77 menurut standar penilaian (DIKNAS 2004) bahwa pada putaran ini ketuntasan klasikal belum tercapai namun sudah lebih baik dari siklus I. Hal ini disebabkan siswa sudah terbiasa dengan kegiatan metode pembelajaran Demonstrasi.
Penilaian pada pembelajaran kooperatif Dengan Metode Pembelajaran Demonstrasi dapat dilihat pada perkembangan individu maupun kelompok. Nilai ini digunakan untuk memberikan penghargaan pada prestasi siswa baik secara individu maupun kelompok. Pada putaran ini semua kelompok mendapatkan penghargaan sebagai kelompok hebat, kecuali kelompok IV dan VI yang mendapatkan penghargaan sebagai kelompok baik dan kelompok V dan VII  sebagai kelompok super.
Pada siklus III ini diperoleh hasil tes siswa yang secara singkat ditunjukkan pada tabel berikut :
Tabel  Rangkuman Hasil Tes Siklus III Siswa
Berdasarkan tabel di atas  dapat ditunjukkan pada putaran III ini diperoleh ketuntasan klasikal sebesar 93,33% dengan nilai rata-rata kelas 86,33 menurut standar penilaian (DIKNAS 2006) bahwa pada putaran ini ketuntasan klasikal sudah tercapai. Hal ini disebabkan siswa sudah terbiasa dengan kegiatan metode pembelajaran Demonstrasi.
Penilaian pada pembelajaran kooperatif tipe Dengan Metode Pembelajaran Demonstrasi dapat dilihat pada perkembangan individu maupun kelompok. Nilai ini digunakan untuk memberikan penghargaan pada prestasi siswa baik secara individu maupun kelompok. Pada putaran ini semua kelompok mendapatkan penghargaan sebagai kelompok hebat, kecuali kelompok
IV yang mendapatkan penghargaan sebagai kelompok baik dan kelompok II dari  VIII-J sebagai kelompok super.
Pada penelitian ini akan dijabarkan hasil ketuntasan belajar siswa yang dapat kita lihat pada tabel  sebagai berikut:
Tabel  Hasil Tes Belajar Siswa Pada Putaran I, II dan III

Kesimpulan
Berdasarkan hasil penelitian dan pembahasan, maka dapat disimpulkan sebagai berikut:
1. Aktifitas guru yang dominan muncul pada putaran I, II dan III adalah memberikan petunjuk/ membimbing siswa (32,5%, 27,5%, 25%). Mendorong dan melatih keterampilan kooperatif (20%, 25%, 27,5%). Aktifitas siswa yang dominan muncul adalah berdiskusi antar siswa (22%, 23%, 24%), presentasi kelompok (15%, 18%, 20%). Sehingga kebiasaan guru untuk memberikan ceramah cenderung menurun, karena guru bertindak sebagai fasilitator dan motivator dalam pelaksanaan KBM. Kemampuan guru dalam mengelola KBM dengan metode pembelajaran Demonstrasi pada materi pokok Aktivitas Beladiri juga mengalami peningkatan, yaitu pada siklus I rata-rata nilai 65,10 menjadi 78,77 pada siklus II berarti meningkat sebesar 13,67 dan pada siklus III rata-rata nilainya 86,33 berarti dari siklus II ke siklus III meningkat sebesar 7,57. Dengan demikian terjadi peningkatan kualitas pembelajaran dengan metode pembelajaran Demonstrasi.
2. Metode pembelajaran Demonstrasi dapat menarik siswa untuk senang belajar sebesar 90% dan membantu memahami pelajaran sebesar 77,5%. Sehingga pembelajaran Demonstrasi merupakan model pembelajaran yang efektif jika digunakan.
3. Hasil/prestasi belajar siswa meningkat pada setiap putaran yaitu pada siklus I diperoleh ketuntasan klasikal sebesar 33,33% dengan nilai rata-rata 65,10; siklus  II diperoleh ketuntasan klasikal sebesar 66,67% dengan nilai rata-rata 78,77; dan siklus  III diperoleh ketuntasan klasikal sebesar 93,33% dengan nilai rata-rata 86,33. Ketuntasan belajar meningkat 33,34% dari siklus I ke siklus II dan meningkat sebesar 26,66% dari siklus II ke siklus III. Sehingga penerapan metode pembelajaran Demonstrasi ini efektif jika diterapkan.


DAFTAR PUSTAKA
Globallavebookx.blogspot.go.id/2015/3/pengertian-dan-tujuan-metode demonstrasi.html
Ardiana, Leo Idra. 1998. Penelitian Tindakan Kelas. Depdiknas
Arikunto, Suharsimi. 2001. Prosedur Penelitian Suatu Pendekatan Praktek. Jakarta: Rineka Cipta
Dalyono. 1996. Psikologi Pendidikan. Jakarta : Rineka Cipta
Djamarah, Syaiful Bahri. 2002. Psikologi belajar. Jakarta : Rineka Cipta
Johnson, Elaine B. 2002. CTL (Contextual Teaching and Learning). Bandung : Mizan Learning Center
Kisyani-Laksono. 2006. Penelitian Tindakan Kelas. Unesa
Muslich, Masnur. 2006. KTSP : Pembelajaran Berbasis Kompetensi dan Kontekstual Jakarta: Bumi Aksara
Slavin, Robert. 1997. Effect of Bilingual Cooperative Reading and Composition onp Students Transitioning From Spanish to English, report No.10. www.links.jstor.org
Steven, Robert., Madden dkk. 1987. Journal of Cooperative Reading and Composition: Two Field Experiment Volume 22 No.4. www.links.jstor.org
Sudjana, Nana. 1998. Dasar-Dasar Proses Belajar Mengajar. Bandung Algesindo
Sudjana, Nana. 1998. Penilaian Hasil Proses Belajar Mengajar. Bandung Remaja Rosdakarya
Syah, Muhibbin. 2001. Psikologi Pendidikan Dengan Pendekatan Baru. Bandung Remaja Rosda Karya
Tim Pustaka Yustisia. 2006. Panduan Lengkap KTSP. Yogyakarta : Pustaka Yustisia



                                                  

Tidak ada komentar:

Posting Komentar