Senin, 01 Oktober 2018

MENINGKATKAN PRESTASI BELAJAR SISWA DENGAN PENERAPAN MODEL PEMBELAJARAN CIRC (COOPERATIVE INTEGRATED READING AND COMPOSITION) SISWA KELAS VII-C SEMESTER GASAL TAHUN PELAJARAN 2015/2016 SMP NEGERI 2 DAGANGAN KABUPATEN MADIUN


MENINGKATKAN PRESTASI  BELAJAR SISWA  DENGAN PENERAPAN MODEL PEMBELAJARAN CIRC (COOPERATIVE INTEGRATED READING AND COMPOSITION)  SISWA KELAS VII-C SEMESTER GASAL TAHUN PELAJARAN 2015/2016 SMP NEGERI 2 DAGANGAN KABUPATEN MADIUN

Oleh : Margono Hadi Aminoto
Guru SMP Negeri 2 Dagangan Kabupaten Madiun

Abstrak

Kata kunci :  Model CIRC, ketuntasan belajar

Model pembelajaran CIRC (Cooperative Integrated Reading and Composition) adalah model pembelajaran dimana siswa dalam kelas dibagi dalam kelompok-kelompok kecil yang beranggotakan 4 sampai 5 dan setiap kelompok harus heterogen. Siswa dalam kelompok dituntut untuk dapat bekerjasama untuk menemukan ide pokok dan memberi tanggapan terhadap wacana yang telah diberikan oleh guru. Dengan menggunakan model pembelajaran tersebut diharapkan peserta didik mampu mencari, menganalisis dan menggunakan informasi dengan sedikit atau bahkan tanpa bantuan guru.
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui: (1) pelaksanaan pendekatan kontekstual dengan model pembelajaran CIRC (Cooperative Integrated Reading and Composition), (2) respon siswa terhadap penerapan model pembelajaran CIRC (Cooperative Integrated Reading and Composition) bila ditinjau dari minat siswa pada mata pelajaran Pendidikan IPS, dan (3) ketuntasan hasil belajar siswa dengan menggunakan model pembelajaran CIRC (Cooperative Integrated Reading and Composition).
Penelitian ini menggunakan rancangan penelitian tindakan kelas (PTK, dengan RPP dan LKS sebagai perangkat pembelajaran. Instrumen penelitian yang digunakan: Tes Hasil Belajar, Lembar pengamatan pengelolaan pembelajaran, lembar pengamatan aktivitas siswa dan angket respon siswa.
Hasil pengamatan dan pembahasan, diperoleh kesimpulan bahwa: (1) Kemampuan guru dalam mengelola KBM dengan model pembelajaran CIRC juga mengalami peningkatan, yaitu dari nilai rata-rata 3,63 dengan kualifikasi cukup baik. (2) Model pembelajaran CIRC dapat menarik siswa untuk senang belajar sebesar 90,9% dan membantu memahami pelajaran sebesar 77,27%. Sehingga pembelajaran CIRC merupakan model pembelajaran yang efektif jika digunakan, (3) Hasil belajar siswa meningkat pada setiap putaran yaitu pada putaran I diperoleh ketuntasan klasikal sebesar 59,09,38% dengan nilai rata-rata 62,36; putaran II diperoleh ketuntasan klasikal sebesar 77,27% dengan nilai rata-rata 75,68; dan putaran III diperoleh ketuntasan klasikal sebesar 90,91% dengan nilai rata-rata 82,27. Sehingga penerapan model pembelajaran CIRC ini efektif jika diterapkan.



Latar Belakang
Pendekatan pembelajaran yang melibatkan siswa secara aktif masih perlu dikembangkan, pembelajaran yang memberi kesempatan kepada siswa untuk membuat hubungan antara pengetahuan yang dimilikinya dengan penerapannya dalam kehidupan mereka sehari-hari khususnya pada mata pelajaran IPS. Salah satu pendekatan pembelajaran yang sesuai dengan konteks itu adalah pendekatan pembelajaran kontekstual. Pendekatan pembelajaran kontekstual (Contextual Teaching and Learning/CTL) adalah konsep belajar yang membantu guru mengaitkan antara materi yang diajarkan dengan situasi dunia nyata siswa dan mendorong siswa membuat hubungan antara pengetahuan yang dimilikinya dengan penerapannya dalam kehidupan sehari-hari, dengan melibatkan tujuh komponen utama pembelajaran efektif, antara lain : kontruktivisme (constructivism), bertanya (questioning), menemukan (inquiry), masyarakat belajar (learning community), pemodelan (modeling), dan penilaian sebenarnya (authentic assessment). (Pustaka Yustisia, 2006 : 162)
Dalam pendekatan pembelajaran kontekstual, program pembelajaran lebih merupakan rencana kegiatan kelas yang dirancang guru yang berisi skenario tahap demi tahap tentang apa yang akan dilakukan bersama siswanya sehubungan dengan topik yang akan dipelajarinya. Dengan bercermin pada konteks tersebut, maka sebagai guru, peneliti ingin menerapkan model pembelajaran yang efektif, dan model pembelajaran yang digunakan adalah model pembelajaran CIRC (Cooperative Integrated Reading and Composition), dimana pada model pembelajaran CIRC (Cooperative Integrated Reading and Composition) siswa dalam kelas dibagi dalam kelompok-kelompok kecil yang beranggotakan 4 sampai 5 dan setiap kelompok harus heterogen. Siswa dalam kelompok dituntut untuk dapat bekerjasama untuk menemukan ide pokok dan memberi tanggapan terhadap wacana yang telah diberikan oleh guru. Dengan menggunakan model pembelajaran tersebut diharapkan peserta didik mampu mencari, menganalisis dan menggunakan informasi dengan sedikit atau bahkan tanpa bantuan guru.
Berdasarkan latar belakang yang telah diuraikan di atas, peneliti ingin mengambil judul penelitian  Meningkatkan Prestasi  Belajar Siswa  dengan Penerapan Model Pembelajaran CIRC (Cooperative Integrated Reading And Composition)  Siswa Kelas VII-C Semester Gasal Tahun Pelajaran 2015/2016 SMP Negeri 2 Dagangan Kabupaten Madiun

Kajian Pustaka
Penelitian Terdahulu
Dalam landasan filosofis CTL (Contextual Teaching and Learning) adalah kontruktivisme, yaitu filosofis belajar yang menekankan bahwa belajar tidak hanya sekadar menghafal, tetapi merekontruksikan atau membangun pengetahuan dan keterampilan baru lewat fakta-fakta atau proposisi yang mereka alami dalam kehidupannya.
Pada pendekatan kontekstual, siswa dituntut untuk dapat melakukan aktivitas pembelajaran mandiri.
Pembelajaran mandiri adalah suatu proses belajar yang mengajak siswa melakukan tindakan mandiri yang melibatkan terkadang satu orang, biasanya satu kelompok. Tindakan mandiri ini dirancang untuk menghubungkan pengetahuan akademik dengan kehidupan siswa sehari-hari secara sedemikian rupa untuk mencapai tujuan bermakna. Tujuan ini mungkin menghasilkan hasil yang nyata maupun yang tidak nyata. (Johnson, 2002 : 152)
Penelitian yang dilakukan oleh Brooks (1993) di sebuah sekolah di New Hampshire memberikan kesimpulan bahwa :
Pembelajaran mandiri membangkitkan antusiasme yang sama pada anak-anak dari taman kanak-kanak hingga universitas. Bebas menggambarkan gagasan, minat, dan bakat mereka. Para siswa dengan pembelajaran mandiri dari segala usia ini dengan bersemangat mengajukan pertanyaan, mengadakan penyelidikan, dan melakukan berbagai percobaan. Brooks (dalam Johnson, 2002 : 153)
Demikian juga dengan model pembelajaran CIRC (Cooperative Integrated Reading and Composition) yang menuntut siswa secara berkelompok untuk melakukan aktivitas belajar mandiri. Telaah literatur tentang pembelajaran mandiri dengan model pembelajaran CIRC (Cooperative Integrated Reading and Composition) yang dilakukan dan dikembangkan di Johnson Hopkins University (Slavin, 1997 : 4) memberikan penjelasan bahwa dengan CIRC (Cooperative Integrated Reading and Composition) siswa mampu mencari, menemukan dan menggunakan informasi dengan sedikit atau bahkan tanpa bantuan guru.
Penelitian yang dilakukan di Yaleta School District El Paso-Texas, tentang pengembangan model pembelajaran CIRC (Cooperative Integrated Reading and Composition) dapat meningkatkan aktivitas dan kreatifitas siswa dalam memahami mata pelajaran bahasa Inggris dan Spanyol (dalam Slavin dkk,1997: 3)
Adapun perbedaan penelitian terdahulu dengan penelitian saat ini adalah pada materi yang digunakan, di mana pada penelitian saat ini menggunakan materi IPS  dengan materi pokok Keadaan Alam dan Penduduk di Indonesia yang dipergunakan pada penelitian ini.

Pendekatan Pembelajaran Kontekstual
Pembelajaran kontekstual melibatkan para siswa dalam aktivitas penting yang membantu mereka mengaitkan pelajaran akademis dengan konteks kehidupan nyata yang mereka hadapi. Tujuan utama CTL (Contextual Teaching and Learning) adalah membantu para siswa dengan cara yang tepat untuk mengaitkan makna pada pelajaran-pelajaran akademik mereka.

Karakteristik pembelajaran kontekstual
a.      Pembelajaran dilaksanakan dalam konteks autentik, yaitu pembelajaran yang diarahkan pada ketercapaian keterampilan dalam konteks kehidupan nyata atau pembelajaran yang dilaksanakan dalam lingkungan yang alamiah (learning in real life setting).
b.     Pembelajaran memberikan kesempatan kepada siswa untuk mengerjakan tugas-tugas yang bermakna (meaningful learning).
c.      Pembelajaran dilaksanakan dengan memberikan pengalaman bermakna kepada siswa (learning by doing).
d.     Pembelajaran dilaksanakan melalui kerja kelompok, berdiskusi, saling mengoreksi antar teman (learning in group).
e.      Pembelajaran memberikan kesempatan untuk menciptakan rasa kebersamaan, bekerjasama dan saling memahami antara satu dengan yang lain secara mendalam (learning to know each other deeply).
f.      Pembelajaran dilaksanakan secara aktif, kreatif, produktif dan mementingkan kerjasama (learning to ask, to inquiry, to work together).
g.     Pembelajaran dilaksanakan dalam situasi yang menyenangkan (learning as an enjoy activity). (Muslich, 2006 :42)
Sedangkan Nurhadi (dalam Muslich, 2006:43) mendeskrIPS Geografiikan karakteristik pembelajaran kontekstual dengan cara menderetkan sepuluh kata kunci, antara lain :
a.    Kerjasama
b.   Saling menunjang
c.    Menyenangkan, tidak membosankan
d.   Belajar dengan gairah
e.    Pembelajaran terintegrasi
f.    Menggunakan berbagai sumber
g.   Siswa aktif
h.   Sharing dengan teman
i.    Siswa kritis
j.    Guru kreatif
Dari dua diskripsi di atas dapat disimpulkan bahwa pada pembelajaran kontekstual siswa diarahkan untuk dapat saling bekerjasama dan secara mandiri membangun team work yang kuat dalam suasana belajar yang menyenangkan.

Komponen pembelajaran kontekstual 
Pembelajaran dengan pendekatan kontekstual melibatkan tujuh komponen utama, yaitu (1) contructivism (kontruktivisme, membangun, membentuk), (2) questioning (bertanya), (3) inquiry (menemukan, menyelidiki), (4) learning community (masyarakat belajar), (5) modelling (pemodelan), (6) reflection (refleksi atau umpan balik), (7) authentic assesment (penilaian sebenarnya). Apabila ketujuh komponen ini diterapkan dalam pembelajaran, terlihat pada realitas berikut:
a.    Kegiatan yang mengembangkan pemikiran bahwa pembelajaran akan lebih bermakna apabila siswa bekerja sendiri, menemukan, dan membangun sendiri pengetahuan dan keterampilan barunya.
b.   Kegiatan belajar yang mendorong sikap keingintahuan siswa lewat bertanya atau permasalahan yang akan dipelajari.
c.    Kegiatan belajar yang bisa mengkondisikan siswa untuk mengamati, menyelidiki, menganalisis topik atau permasalahan yang dihadapi sehingga ia berhasil menemukan sesuatu.
d.   Kegiatan belajar yang bisa menciptakan suasana belajar bersama atau kelompok sehingga ia bisa berdiskusi, curah pendapat, bekerjasama dan saling membantu dengan teman lain.
e.    Kegiatan belajar yang bisa menunjukkan model yang bisa dipakai rujukan atau panutan siswa dalam bentuk penampilan tokoh, demonstrasi kegiatan, penampilan hasil karya, cara pengoperasian sesuatu dan sebagainya.
f.    Kegiatan belajar yang memberikan refleksi atau umpan balik dalam bentuk tanya jawab dengan siswa tentang kesulitan yang dihadapi dan pemecahannya, merekontruksikan kegiatan yang telah dilakukan, kesan siswa selama melakukan kegiatan dan saran atau harapan siswa.
g.   Kegiatan belajar yang biasa diamati secara periodik perkembangan kompetensi siswa melalui kegiatan-kegiatan nyata ketika pembelajaran berlangsung. (Muslich, 2006 :43)

Prinsip dasar setiap komponen utama CTL (Contextual Teaching and Learning)
Menurut Muslich (2006 : 44) setiap komponen utama CTL (Contextual Teaching and Learning) mempunyai prinsip-prinsip dasar yang harus diperhatikan ketika akan menerapkannya dalam pembelajaran. Prinsip-prinsip dasar tersebut antara lain :
a.    Kontruktivisme. Komponen ini merupakan landasan filosofis pendekatan CTL. Pembelajaran yang berciri kontruktivisme menekankan terbangunnya pemahaman sendiri secara aktif, kreatif dan produktif berdasarkan pengetahuan dan pengetahuan terdahulu dan dari pengalaman belajar yang bermakna. Karena itu, siswa perlu dibiasakan untuk memecahkan masalah, menemukan sesuatu yang berguna bagi dirinya dan mengembangkan ide-ide yang ada pada dirinya.
b.   Bertanya (questioning). Komponen ini merupakan strategi pembelajaran CTL. Belajar dalam pembelajaran CTL dipandang sebagai upaya guru yang bisa mendorong siswa untuk mengetahui sesuatu, mengarahkan siswa untuk memperoleh informasi, sekaligus mengetahui perkembangan kemampuan berpikir siswa. Pada sisi lain, kenyataan menunjukkan bahwa pemerolehan pengetahuan seseorang selalu bermula dari bertanya.
c.    Menemukan (inquiry). Komponen menemukan merupakan kegiatan inti CTL. Kegiatan ini diawali dari pengamatan terhadap fenomena, dilanjutkan dengan kegiatan-kegiatan bermakna untuk menghasilkan temuan yang diperoleh sendiri oleh siswa. Dengan demikian, pengetahuan dan keterampilan yang diperoleh siswa tidak dari hasil mengingat seperangkat fakta, tetapi hasil menemukan sendiri dari fakta yang dihadapinya.
d.   Masyarakat belajar (learning community). Konsep ini menyarankan bahwa hasil belajar sebaiknya diperoleh dari kerjasama dengan orang lain. Hal ini berarti bahwa hasil belajar bisa diperoleh dengan sharing antar teman, antar kelompok, dan antara yang tahu dengan yang tidak tahu, baik di dalam maupun di luar kelas. Karena itu, pembelajaran yang dikemas dalam diskusi kelompok yang anggotanya heterogen dengan jumlah yang bervariasi sangat mendukung komponen learning community ini.
e.    Pemodelan (modeling). Komponen pendekatan CTL ini menyarankan bahwa pembelajaran keterampilan dan pengetahuan tertentu diikuti dengan model yang bisa ditiru siswa. Model yang dimaksud bisa berupa pemberian contoh. Cara pembelajaran semacam ini akan lebih cepat dipahami siswa daripada hanya mendengarkan penjelasan kepada siswa tanpa ditunjukkan modelnya atau contohnya.
f.    Refleksi (reflection). Komponen yang merupakan bagian terpenting dari pembelajaran dengan pendekatan CTL adalah perenungan kembali atas pengetahuan yang baru dipelajari. Dengan memikirkan apa yang baru saja dipelajari, menelaah dan merespon semua kejadian, aktivitas atau pengalaman yang terjadi dalam pembelajaran bahkan memberikan masukan atau saran jika diperlukan, siswa akan menyadari bahwa pengayaan atau bahkan revisi dari pengetahuan yang telah dimiliki sebelumnya. Kesadaran semacam ini penting ditanamkan kepada siswa agar ia bersikap terbuka terhadap pengetahuan-pengetahuan baru.
g.   Penilaian autentik (autentic assesment). Komponen yang merupakan ciri khusus dari pendekatan kontekstual adalah proses pengumpulan berbagai data yang bisa memberikan gambaran atau informasi tentang perkembangan pengalaman siswa. Gambaran ini perlu diketahui guru setiap saat agar bisa memastikan benar tidaknya proses belajar siswa. Dengan demikian, penilaian autentik diarahkan pada proses mengamati, menganalisis dan menafsirkan data yang telah terkumpul ketika atau dalam proses pembelajaran siswa berlangsung, bukan semata-mata pada hasil pembelajaran

Strategi pembelajaran kontekstual
Berdasarkan pemahaman, karakteristik dan komponen pendekatan kontekstual, menurut Blancard (dalam Muslich, 2006 : 49) ada beberapa strategi pengajaran yang dapat dikembangkan oleh guru melalui pendekatan kontekstual, antara lain sebagai berikut :
k.   Pembelajaran berbasis masalah
Sebelum memulai proses belajar mengajar di dalam kelas, siswa terlebih dahulu diminta untuk mengobservasi suatu fenomena. Kemudian siswa diminta untuk mencatat permasalahan-permasalahan yang muncul. Setelah itu, tugas guru adalah merangsang siswa untuk berfikir kritis dalam memecahkan masalah yang ada. Tugas guru adalah mengarahkan siswa untuk bertanya, membuktikan asumsi dan mendengarkan perspektif yang berbeda dengan mereka.
l.    Memanfaatkan lingkungan siswa untuk memperoleh pengalaman belajar
Guru memberikan penugasan yang dapat dilakukan di berbagai konteks lingkungan siswa antara lain di sekolah, keluarga dan masyarakat. Penugasan yang diberikan oleh guru adalah memberikan kesempatan bagi siswa untuk belajar di luar kelas. Misalnya, siswa keluar dari ruang kelas dan berinteraksi langsung untuk melakukan wawancara. Siswa diharapkan dapat memperoleh pengalaman langsung tentang apa yang sedang dipelajari. Pengalaman belajar merupakan aktivitas belajar yang harus dilakukan siswa dalam rangka mencapai penguasaan standar kompetensi, kemampuan dasar, dan meteri pembelajaran.
m.  Memberikan aktivitas kelompok
Aktivitas belajar secara kelompok dapat memperluas perspektif serta membangun kecakapan interpersonal untuk berhubungan dengan orang lain. Guru dapat menyusun kelompok terdiri dari tiga, lima maupun delapan siswa sesuai dengan tingkat kesulitan penugasan.
n.   Membuat aktivitas belajar mandiri
Peserta didik mampu mencari, menganalisis dan menggunakan informasi dengan sedikit atau bahkan tanpa bantuan guru. Agar dapat melakukannya, siswa harus lebih memperhatikan bagaimana mereka memproses informasi, menerapkan strategi pemecahan masalah dan menggunakan pengetahuan yang telah mereka peroleh. Pengalaman pembelajaran kontekstual harus mengikuti uji coba terlebih dahulu dengan menyediakan waktu yang cukup dan menyusun refleksi serta berusaha tanpa meminta bantuan guru supaya dapat melakukan proses pembelajaran secara mandiri (independent learning),
o.   Membuat aktivitas belajar bekerjasama dengan masyarakat
Sekolah dapat melakukan kerjasama dengan orang tua siswa yang memiliki keahlian khusus untuk menjadi guru tamu. Hal ini perlu dilakukan guna memberikan pengalaman belajar secara langsung, dimana siswa dapat termotivasi untuk mengajukan pertanyaan. Selain itu, kerjasama juga dapat dilakukan dengan institusi atau perusahaan tertentu untuk memberikan pengalaman kerja.
p.   Menerapkan penilaian autentik
Dalam pembelajaran kontekstual, penilaian autentik dapat membantu siswa untuk menerapkan informasi akademik dan kecakapan yang telah diperoleh pada situasi nyata untuk tujuan tertentu. Menurut Johnson (dalam Muslich, 2006 : 51), penilaian autentik memberikan kesempatan yang luas bagi para siswa untuk menunjukkan apa yang telah mereka pelajari selama proses belajar mengajar. Adapun bentuk penilaian yang dapat digunakan oleh guru yaitu penilaian portofolio, tugas kelompok, demonstrasi dan laporan tertulis.

Pembelajaran Kooperatif
Pembelajaran kooperatif merupakan pembelajaran yang mempunyai kesamaan pandang untuk menuju tujuan yang sama. Dalam pembelajaran kooperatif siswa bekerja sama dalam kelompok kecil dengan tingkat kemampuan yang berbeda, saling membantu untuk memahami suatu pelajaran, memeriksa dan memperbaiki jawaban teman, serta kegiatan yang lainnya dengan tujuan mencapai hasil belajar tertinggi.
Pembelajaran kooperatif merupakan tempat siswa belajar bersama dalam kelompok-kelompok kecil yang terdiri dari 4-5 orang. Siswa yang berkemampuan tinggi, sedang, jenis kelamin, suku / ras yang berbeda, bekerja sama saling membantu satu sama lain dalam belajar. Tujuan dari pembelajaran kooperatif adalah menciptakan situasi dimana  keberhasilan  individu  ditentukan /  dipengaruhi  oleh keberhasilan kelompoknya. beberapa hasil penelitian menunjukkan bahwa  teknik-teknik  pembelajaran  kooperatif lebih banyak meningkatkan hasil belajar daripada pengalaman pembelajaran individu. Ibrahim Muslimin (dalam Rahmawati, 2006 : 16).

Dasar-dasar Pembelajaran Kooperatif
1.   Siswa dalam kelompoknya harus beranggapan bahwa mereka "sehidup sepenanggungan bersama".
2.   Siswa bertanggung jawab atas segala sesuatu di dalam kelompok seperti milik sendiri.
3.   Siswa haruslah melihat bahwa semua anggota di dalam kelompoknya memiliki tujuan yang sama.
4.   Siswa haruslah membagi tugas dan tanggung jawab yang sama diantara anggota kelompoknya.
5.   Siswa akan dikenakan evaluasi atau diberikan hadiah/ penghargaan yang juga akan dikenakan untuk semua anggota kelompoknya.
6.   Siswa berbagi kepemimpinan dan mereka membutuhkan keterampilan untuk belajar bersama selama proses belajarnya.
7.   Siswa akan mempertanggungjawabkan secara individual materi yang akan ditangani dalam kelompok. Ibrahim Muslimin (dalam Rahmawati, 2006 : 17)

Ciri-Ciri Pembelajaran Kooperatif
a.    Siswa bekerja dalam kelompok secara kooperatif untuk menuntaskan materi belajarnya.
b.   Kelompok dibentuk dari siswa dengan kemampuan tinggi, sedang dan rendah.
c.    Bila mungkin, anggota kelompok berasal dari ras, budaya, suku, jenis kelamin yang berbeda-beda.
d.   Penghargaan lebih berorientasi kelompok daripada individu. Ibrahim Muslimin (dalam Rahmawati, 2006 : 18)
Dalam penerapan pembelajaran kooperatif, dua atau lebih individu saling tergantung satu sama lain untuk mencapai satu penghargaan bersama. Mereka akan berbagi penghargaan tersebut apabila mereka berhasil sebagai kelompok.

Model Pembelajaran CIRC (Cooperative Integrated Reading and Composition)
CIRC  (Cooperative  Integrated  Reading  and  Composition) dikembangkan oleh Robert J. Stevens dan Robert E. Slavin. Pada model pembelajaran ini guru mengacu pada belajar kelompok siswa. Siswa dalam satu kelas dipecah menjadi beberapa kelompok dengan anggota 4-5 orang secara heterogen. Dalam kerja kelompok ini, guru memberikan sebuah topik permasalahan yang berupa materi bacaan. Kemudian siswa berkoordinasi serta bekerjasama saling membacakan dan menemukan ide pokok dan memberi tanggapan terhadap materi bacaan. Dan hasil dari kerja kelompok tersebut dipresentasikan secara bergiliran di depan kelas (Depdiknas, 2006).
Proses pelaksanaan model pembelajaran CIRC (Cooperative Integrated Reading and Composition) dilaksanakan dalam beberapa tahap sebagai berikut:
1.   Persiapan
a.    Materi
Materi pembelajaran CIRC (Cooperative Integrated Reading and Composition) dirancang sedemikian rupa untuk pembelajaran kelompok. Pada penelitian ini, materi pokok yang digunakan adalah Keadaan Alam dan Aktivitas Penduduk Indonesia. Sebelum penyajian materi pembelajaran dibuat lembar kegiatan siswa (LKS) yang dikerjakan oleh siswa dalam kelompok-kelompok.
b.   Menetapkan siswa dalam kelompok
Kelompok-kelompok dalam pembelajaran ini beranggotakan 4-5 orang siswa yang terdiri dari siswa pandai, sedang dan rendah. Disamping itu guru mempertimbangkan kriteria heterogenitas yang lain seperti jenis kelamin, latar belakang sosial, dan sebagainya.
c.    Menentukan skor awal
Skor awal merupakan skor rata-rata secara individu pada test sebelumnya.
d.   Pembagian lembar hasil (book report)
Guru memberikan lembar hasil, yang mana lembar hasil ini digunakan oleh siswa pada saat mengerjakan tugas yang berupa materi bacaan.
2.   Penyajian Materi
a.    Pendahuluan
Pendahuluan menekankan pada konsep yang akan dipelajari oleh siswa dalam kelompok dan menginformasikan mengapa hal itu penting, informasi tersebut ditujukan untuk memotivasi rasa ingin tahu siswa tentang konsep-konsep yang akan mereka pelajari.
b.   Pengembangan
1)   Mengembangkan materi pembelajaran sesuai dengan apa yang akan dipelajari siswa dalam kelompok.
2)   Pembelajaran kontekstual menekankan bahwa belajar adalah memahami makna dan bukan menghafal.
3)   Saling mengontrol pemahaman siswa dengan memberikan pertanyaan-pertanyaan.
4)   Memberikan penjelasan mengapa jawaban pertanyaan tersebut benar atau salah.
c.    Latihan terbimbing
1)   Siswa disuruh mengerjakan soal-soal atas pertanyaan yang diberikan.
2)   Pemberian tugas tidak boleh menyita waktu yang terlalu lama. Guru memberikan waktu + 10 menit untuk memberikan tugas kepada siswa.
3.   Kegiatan Kelompok
a.    Guru membagikan bahan diskusi yang berupa materi bacaan untuk siswa kepada setiap anggota kelompok sebagai bahan yang akan dipelajari.
b.   Siswa dalam kelompok diharuskan untuk berdiskusi mencari ide pokok yang terdapat dalam materi bacaan yang telah diberikan oleh guru sebelumnya.
c.    Kelompok menuliskan hasil pembahasan pada book report dan kemudian membacakan hasil tersebut di depan kelas.
d.   Kelompok yang lain diharuskan untuk memberikan umpan balik atas hasil pembahasan diskusi kelompok lain.
4.   Evaluasi
Pada tahap ini, guru memberikan evaluasi kepada siswa yang harus dikerjakan secara individu dalam waktu yang telah ditentukan ±15 menit.
5.   Penghargaan Kelompok
a.    Menghitung skor individu
Skor yang diperoleh siswa digunakan untuk menentukan nilai perkembangan individu dan untuk menentukan skor kelompok. Untuk skor individu, sebelumnya kita harus menetapkan skor berdasarkan hasil kuis yang lalu, menghitung skor berdasarkan kuis yang diberikan saat itu, menghitung skor perkembangan yang didapatkan siswa pada skor kuis yang terkini dengan skor awal mereka yang lalu apakah nilai atau poin yang mereka dapatkan sama atau bahkan melampaui dengan menggunakan skala pada tabel. Sedangkan skor kelompok dihitung dengan menambahkan skor peningkatan tiap-tiap individu anggota kelompok dan membaginya dengan jumlah anggota tim tersebut.
b.   Menghargai prestasi kelompok
Dalam memberikan penghargaan terhadap prestasi kelompok, terdapat tiga tingkat penghargaan sebagai berikut;
1)   Kelompok dengan rata-rata skor 15 disebut sebagai kelompok baik (good team).
2)   Kelompok dengan rata-rata 20 disebut sebagai kelompok hebat (great team).
3)   Kelompok dengan rata-rata skor 25 disebut kelompok super (super team).

Metode Penelitian
Dalam penelitian ini, peneliti sebagai pengajar di kelas yang akan meneliti mata pelajaran IPS , oleh karena itu penelitian ini dilaksanakan sekaligus dalam rangka pembelajaran kelas. Secara langsung peneliti mengadakan pengamatan dan penelitian terhadap kemampuan  siswa  dalam  memahami mata pelajaran IPS  dengan menggunakan model pembelajaran CIRC (Cooperative Integrated Reading and Composition).
Pada penelitian ini terbagi menjadi empat tahapan pokok yaitu tahap planning (rencana awal), tahap tindakan / observasi, tahap refleksi, tahap revisi sebagai berikut : 
1.   Tahap Planning (Rencana Awal)
Langkah-langkah yang ditempuh dalam tahap ini adalah :
a.    Menentukan materi pokok, tujuan pembelajaran dan tugas-tugas pembelajaran.
b.   Menyusun instrumen penelitian yang dipakai untuk mengumpulkan data penelitian yang terdiri dari :
1)   Perangkat pembelajaran meliputi satuan pembelajaran, rencana pembelajaran (RP), lembar observasi, dan lembar tes.
2)   Menyusun butir-butir soal tes (pre test dan post test). 3) Membuat Lembar pengamatan aktivitas guru dan siswa serta lembar pengelolaan.
c.    Menetapkan pengamat selama proses belajar mengajar yaitu kelas VII-C semester gasal Tahun Pelajaran 2015/2016   SMP Negeri 2 Dagangan Kab. Madiun
2.   Tahap Pelaksanaan
Pada tahap ini peneliti membagi beberapa bagian, karena memperhatikan alokasi waktu yang ada dan materi pokok yang dipilih, maka pelaksanaan ini di bagi menjadi 3 putaran (tiga kali pertemuan). Secara ringkas pelaksanaan tiap putaran sebagai berikut :
a.    Melaksanakan proses belajar mengajar sesuai dengan rencana pelajaran yang telah disampaikan dengan menerapkan model pembelajaran CIRC dengan pendekatan kontekstual yang di dalamnya terdapat beberapa tahapan yaitu : (1) Pendahuluan dengan menekankan konsep yang akan dipelajari, (2) Mengembangkan materi pembelajaran sesuai dengan model pembelajaran, (3) Membimbing siswa dalam kelompok kooperatif, (4) Menelaah pemahaman dan memberikan umpan balik, (5) Mengevaluasi hasil dan membimbing membuat rangkuman.
b.   Mengobservasi proses belajar mengajar oleh pengamat dengan mengisi lembar pengamatan aktivitas guru dan siswa.
c.    Mengadakan diskusi dengan pengamat yang melakukan pengamatan, sesuai dengan hasil pengamatan ketika proses pembelajaran langsung.
d.   Menerangkan hasil diskusi dan menganalisis penyelesaian / pemecahan jika terdapat masalah yang timbul dalam pembelajaran sehingga menghasilkan refleksi dan revisi untuk putaran selanjutnya.
e.    Di awal proses belajar mengajar siswa diberi tes awal (pre-tes), kemudian dilaksanakan proses belajar mengajar sesuai dengan yang telah direncanakan, setelah proses pembelajaran selesai, siswa diberi tes akhir dalam setiap putaran (post-test) untuk mengetahui ketuntasan belajar siswa secara individual.
3.   Tahap Refleksi
Peneliti mengkaji hasil pembelajaran berdasarkan hasil pengamatan dengan para pengamat mengenai kekurangan tindakan guru dalam kelas selama proses belajar mengajar berlangsung. Peneliti menganalisis solusi yang dapat menyelesaikan permasalahan yang sedang dihadapi dalam kegiatan belajar mengajar untuk memperbaiki kinerja guru dalam penerapan model pembelajaran CIRC pada pertemuan selanjutnya.
4.   Tahap Revisi
Berdasarkan hasil refleksi, peneliti membuat rancangan pembelajaran untuk putaran berikutnya, dengan mengupayakan adanya pemantauan dan pemecahan masalah yang timbul selama pembelajaran, untuk memperbaiki kekurangan-kekurangan pada putaran sebelumnya.

Hasil penelitian
Pada tahap kegiatan dan pengamatan dapat diperoleh gambaran mengenai hasil pembelajaran CIRC pada materi Keadaan Alam dan Aktivitas Penduduk Indonesia tampak bahwa siswa belum terbiasa dengan kegiatan belajar mengajar dengan menggunakan metode pembelajaran CIRC, sehingga guru lebih banyak membimbing siswa dalam kegiatan belajar mengajar. Hal ini ditunjukkan dalam aktifitas guru yang dominan membimbing siswa (32,5%), didukung aktifitas siswa berdiskusi antar siswa dan guru (11%), dan kegiatan siswa berlatih keterampilan kooperatif (13%), siswa kurang antusias dalam berdiskusi sehingga guru harus lebih tegas mengatasinya ini ditunjukkan dalam perilaku siswa yang tidak relevan dalam kegiatan mengajar (6%), perilaku guru yang tidak relevan dalam mengajar (2,5%). Dalam kegiatan belajar mengajar guru mendorong dan melatih keterampilan kooperatif sebesar (20%) sehingga diskusi antar siswa dapat berjalan dengan baik (22%), walaupun diikuti dengan perilaku siswa yang tidak relevan dalam KBM (6%).
Pada putaran II, guru berperan sebagai fasilitator dalam mengaktifkan kerja kelompok. Pada aktifitas guru dimana aktifitas yang berupa memberikan petunjuk siswa menurun sebesar 5% seiring dengan meningkatnya aktifitas guru dalam mendorong dan melatih keterampilan kooperatif sebesar 5%, memotivasi siswa 2,5%, memberikan umpan balik 2,5%. Dan aktifitas siswa yang mendukung adalah berlatih keterampilan kooperatif sebesar (14%) atau meningkat 1% dari putaran I dan berdiskusi antar siswa (23%), perilaku siswa yang tidak relevan dalam KBM masih ada meskipun telah turun menjadi 3% dan materi mengenal batas-batas negara-negara Asia tenggara. Aktifitas ini akan lebih diminimalkan pada putaran III.
Setelah tahap kegiatan pengamatan, dapat diperoleh gambaran mengenai hasil model pembelajaran CIRC pada materi Keadaan Alam dan Aktivitas Penduduk Indonesia. Dalam proses pembelajaran, tampak jelas bahwa kelas menunjukkan suasana model pembelajaran CIRC, dimana kelas belajar dalam kelompok-kelompok kecil untuk memahami materi dan menyelesaikan tugas terstruktur. Hal ini ditunjukkan data aktifitas guru mendorong dan melatih keterampilan kooperatif (27,5%), memberi petunjuk membimbing siswa (25%), didukung oleh aktifitas siswa yaitu berdiskusi antar siswa (24%), berlatih melakukan keterampilan kooperatif (15%) yang terus meningkat dari materi putaran I dan II, serta aktifitas presentasi kelompok (16%). Walaupun pada putaran I dan II aktifitas guru dalam mendorong dan melatih keterampilan kooperatif serta memberi petunjuk/ membimbing siswa tetap. Hal ini didukung pula oleh penilaian keterampilan guru dalam mengelola pembelajaran kooperatif, dimana aspek suasana kelas mendapat nilai rata-rata 3,3 (baik) dan aspek berpusat pada siswa mendapat nilai 3 (baik). Meskipun guru telah berusaha semaksimal mungkin mengefektifkan kerja kelompok dengan banyak memotivasi siswa (12,5%) dan memberi umpan balik (25%), perilaku siswa yang tidak relevan dalam KBM masih ada (2%). Ini merupakan permasalahan yang disarankan untuk diselesaikan pada penelitian berikutnya yaitu bagaimana menghilangkan perilaku yang tidak relevan dalam KBM.
Tabel  Hasil Tes Belajar Siswa Pada Putaran I, II dan III

Respon siswa terhadap penerapan model pembelajaran CIRC
Angket tanggapan ini diberikan pada akhir materi putaran ke III. Angket ini dikelompokkan menjadi instrumen no 1 sampai dengan 5 untuk melihat hal-hal yang menyangkut tentang materi IPS kemudian untuk melihat penerapan model pembelajaran kooperatif CIRC yang sudah dilaksanakan dalam KBM pada no 6 sampai 10. Sedangkan pada no 11 sampai 15 untuk melihat minat siswa terhadap hal-hal yang menyangkut tentang IPS setelah diterapkannya model pembelajaran CIRC dengan pendekatan kontekstual.
Berdasarkan tabel  di atas dapat dianalisis bahwa:
a. Pada pembelajaran kooperatif CIRC materi Keadaan Alam dan Aktivitas Penduduk Indonesia merupakan materi yang mudah dipahami oleh siswa (90,91%). Hal ini dikarenakan mata pelajaran IPS ditunjang dengan buku paket yang mudah dipahami ( 54,54% ), bahasa yang digunakan oleh guru juga dapat dimengerti oleh siswa (86,36%) dan juga guru dalam menjelaskan materi sudah mencakup semua aspek yang terkandung dalam materi (77,27%). Selain itu materi yang diberikan berhubungan antara satu dengan yang lainnya (72,27%).
b. Pada penelitian ini model pembelajaran yang digunakan yaitu model pembelajaran CIRC. Model ini merupakan model yang baik digunakan pada mata pelajaran IPS (77,27%). Hal ini dikarenakan model tersebut sudah terbukti dapat membantu siswa dalam memahami pelajaran IPS (77,27%) dan membuat siswa tertarik pada mata pelajaran IPS (77,27%) selain dapat membantu dalam memahami pelajaran IPS, model pembelajaran ini juga tidak membuat siswa bingung (86,36%). Sehingga model pembelajaran CIRC ini dapat digunakan untuk model pembelajaran selanjutnya (72,73%).
c. Selain aspek materi dan aspek model pembelajaran, penelitian ini juga menghasilkan respon siswa terhadap minat siswa terhadap mata pelajaran IPS dengan hasil sebagai berikut : Siswa merasa senang dengan mata pelajaran IPS (72,73%). Selain itu siswa juga berminat untuk berminat mengetahui materi lebih dalam lagi (54,55%) sehingga termotivasi untuk mempelajari hal-hal yang berhubungan dengan Keadaan Alam dan Aktivitas Penduduk Indonesia (77,27%) dan mencoba belajar sendiri di rumah (86,36%)

Hasil ketuntasan belajar siswa setelah diterapkan model pembelajaran CIRC
Dari data pada tabel 4.11 kita dapat mengetahui bahwa siswa yang tuntas pada putaran I tidak mencapai ketuntasan klasikal karena hanya 13 siswa yang tuntas dengan nilai diatas KKM. Hal ini dikarenakan siswa belum terbiasa dengan model pembelajaran CIRC sehingga siswa yang tuntas kurang dari 85%. Walaupun pada putaran I penelitian ini belum berhasil tetapi pada putaran II dan III mengalami peningkatan dengan hasil ketuntasan belajar yaitu 59,09% atau sebanyak 13 siswa pada siklus I,  sebesar 77,27% atau sebanyak 17 siswa pada siklus II dan sebesar 90,91% atau sebanyak 20 siswa pada siklus III,  ini menunjukkan bahwa penerapan model pembelajaran CIRC merupakan model pembelajaran yang efektif bila digunakan pada mata pelajaran IPS karena siswa yang tuntas pada putaran III lebih dari 85%. Di bawah ini akan digambarkan hasil rangkuman ketuntasan belajar siswa pada tiap-tiap materi pelajaran.

Kesimpulan
Berdasarkan hasil penelitian dan pembahasan, maka dapat disimpulkan sebagai berikut:
1. Aktifitas guru yang dominan muncul pada putaran I, II dan III adalah memberikan petunjuk/ membimbing siswa (32,5%, 27,5%, 25%). Mendorong dan melatih keterampilan kooperatif (20%, 25%, 27,5%). Aktifitas siswa yang dominan muncul adalah berdiskusi antar siswa (22%, 23%, 24%), presentasi kelompok (15%, 18%, 20%). Sehingga kebiasaan guru untuk memberikan ceramah cenderung menurun, karena guru bertindak sebagai fasilitator dan motivator dalam pelaksanaan KBM. Kemampuan guru dalam mengelola KBM dengan model pembelajaran CIRC pada materi pokok Keadaan Alam dan Aktivitas Penduduk Indonesia juga mengalami peningkatan, yaitu pada siklus I rata-rata nilai 63,36 menjadi 75,68 pada siklus II berarti meningkat sebesar 13,32 dan pada siklus III rata-rata nilainya 82,27 berarti dari siklus II ke siklus III meningkat sebesar 6,59. Dengan demikian terjadi peningkatan kualitas pembelajaran CIRC.
2. Model pembelajaran CIRC dapat menarik siswa untuk senang belajar sebesar 90,91% dan membantu memahami pelajaran sebesar 77,27%. Sehingga pembelajaran CIRC merupakan model pembelajaran yang efektif jika digunakan.
3. Hasil/prestasi belajar siswa meningkat pada setiap putaran yaitu pada siklus I diperoleh ketuntasan klasikal sebesar 59,09% dengan nilai rata-rata 62,36; siklus  II diperoleh ketuntasan klasikal sebesar 77,27% dengan nilai rata-rata 75,68; dan siklus  III diperoleh ketuntasan klasikal sebesar 90,91% dengan nilai rata-rata 82,27. Ketuntasan belajar meningkat 18,18% dari siklus I ke siklus II dan meningkat sebesar 13,64% dari siklus II ke siklus III. Sehingga penerapan model pembelajaran CIRC ini efektif jika diterapkan.


DAFTAR PUSTAKA
American federation of Teacher. 1997. Cooperative Reading and Composition (CIRC). www.csos.jhu.edu/sa/overcirc.html
Ardiana, Leo Idra. 1998. Penelitian Tindakan Kelas. Depdiknas
Arikunto, Suharsimi. 2001. Prosedur Penelitian Suatu Pendekatan Praktek. Jakarta: Rineka Cipta
Dalyono. 1996. Psikologi Pendidikan. Jakarta : Rineka Cipta
Djamarah, Syaiful Bahri. 2002. Psikologi belajar. Jakarta : Rineka Cipta
Johnson, Elaine B. 2002. CTL (Contextual Teaching and Learning). Bandung : Mizan Learning Center
Kisyani-Laksono. 2006. Penelitian Tindakan Kelas. Unesa
Muslich, Masnur. 2006. KTSP : Pembelajaran Berbasis Kompetensi dan Kontekstual Jakarta: Bumi Aksara
Slavin, Robert. 1997. Effect of Bilingual Cooperative Reading and Composition onp Students Transitioning From Spanish to English, report No.10. www.links.jstor.org
Steven, Robert., Madden dkk. 1987. Journal of Cooperative Reading and Composition: Two Field Experiment Volume 22 No.4. www.links.jstor.org
Sudjana, Nana. 1998. Dasar-Dasar Proses Belajar Mengajar. Bandung Algesindo
Sudjana, Nana. 1998. Penilaian Hasil Proses Belajar Mengajar. Bandung Remaja Rosdakarya
Syah, Muhibbin. 2001. Psikologi Pendidikan Dengan Pendekatan Baru. Bandung Remaja Rosda Karya
Tim Pustaka Yustisia. 2006. Panduan Lengkap KTSP. Yogyakarta : Pustaka Yustisia


Tidak ada komentar:

Posting Komentar