MENINGKATKAN PRESTASI
BELAJAR SISWA DENGAN PENERAPAN
MODEL PEMBELAJARAN CIRC
(COOPERATIVE INTEGRATED READING AND COMPOSITION) SISWA KELAS VII-C SEMESTER GASAL
TAHUN PELAJARAN 2015/2016 SMP NEGERI 2 DAGANGAN KABUPATEN MADIUN
|
|
Oleh
: Margono Hadi Aminoto
Guru
SMP Negeri 2 Dagangan Kabupaten Madiun
|
Abstrak
Kata
kunci : Model CIRC, ketuntasan belajar
Model pembelajaran CIRC (Cooperative
Integrated Reading and Composition) adalah model pembelajaran dimana siswa
dalam kelas dibagi dalam kelompok-kelompok kecil yang beranggotakan 4 sampai 5
dan setiap kelompok harus heterogen. Siswa dalam kelompok dituntut untuk dapat
bekerjasama untuk menemukan ide pokok dan memberi tanggapan terhadap wacana
yang telah diberikan oleh guru. Dengan menggunakan model pembelajaran tersebut
diharapkan peserta didik mampu mencari, menganalisis dan menggunakan informasi
dengan sedikit atau bahkan tanpa bantuan guru.
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui:
(1) pelaksanaan pendekatan kontekstual dengan model pembelajaran CIRC (Cooperative
Integrated Reading and Composition), (2) respon siswa terhadap penerapan
model pembelajaran CIRC (Cooperative Integrated Reading and Composition)
bila ditinjau dari minat siswa pada mata pelajaran Pendidikan IPS, dan (3)
ketuntasan hasil belajar siswa dengan menggunakan model pembelajaran CIRC (Cooperative
Integrated Reading and Composition).
Penelitian ini menggunakan
rancangan penelitian tindakan kelas (PTK, dengan RPP dan LKS sebagai perangkat
pembelajaran. Instrumen penelitian yang digunakan: Tes Hasil Belajar, Lembar
pengamatan pengelolaan pembelajaran, lembar pengamatan aktivitas siswa dan
angket respon siswa.
Hasil pengamatan dan pembahasan,
diperoleh kesimpulan bahwa: (1) Kemampuan guru dalam mengelola KBM dengan model
pembelajaran CIRC juga mengalami peningkatan, yaitu dari nilai rata-rata 3,63
dengan kualifikasi cukup baik. (2) Model pembelajaran CIRC dapat menarik siswa
untuk senang belajar sebesar 90,9% dan membantu memahami pelajaran sebesar
77,27%. Sehingga pembelajaran CIRC merupakan model pembelajaran yang efektif
jika digunakan, (3) Hasil belajar siswa meningkat pada setiap putaran yaitu
pada putaran I diperoleh ketuntasan klasikal sebesar 59,09,38% dengan nilai
rata-rata 62,36; putaran II diperoleh ketuntasan klasikal sebesar 77,27% dengan
nilai rata-rata 75,68; dan putaran III diperoleh ketuntasan klasikal sebesar
90,91% dengan nilai rata-rata 82,27. Sehingga penerapan model pembelajaran CIRC
ini efektif jika diterapkan.
Latar Belakang
Pendekatan
pembelajaran yang melibatkan siswa secara aktif masih perlu dikembangkan,
pembelajaran yang memberi kesempatan kepada siswa untuk membuat hubungan antara
pengetahuan yang dimilikinya dengan penerapannya dalam kehidupan mereka
sehari-hari khususnya pada mata pelajaran IPS. Salah satu pendekatan
pembelajaran yang sesuai dengan konteks itu adalah pendekatan pembelajaran
kontekstual. Pendekatan pembelajaran kontekstual (Contextual Teaching and
Learning/CTL) adalah konsep belajar yang membantu guru mengaitkan antara
materi yang diajarkan dengan situasi dunia nyata siswa dan mendorong siswa
membuat hubungan antara pengetahuan yang dimilikinya dengan penerapannya dalam
kehidupan sehari-hari, dengan melibatkan tujuh komponen utama pembelajaran
efektif, antara lain : kontruktivisme (constructivism), bertanya (questioning),
menemukan (inquiry), masyarakat belajar (learning community),
pemodelan (modeling), dan penilaian sebenarnya (authentic
assessment). (Pustaka Yustisia, 2006 : 162)
Dalam
pendekatan pembelajaran kontekstual, program pembelajaran lebih merupakan
rencana kegiatan kelas yang dirancang guru yang berisi skenario tahap demi
tahap tentang apa yang akan dilakukan bersama siswanya sehubungan dengan topik
yang akan dipelajarinya. Dengan bercermin pada konteks tersebut, maka sebagai
guru, peneliti ingin menerapkan model pembelajaran yang efektif, dan model
pembelajaran yang digunakan adalah model pembelajaran CIRC (Cooperative
Integrated Reading and Composition), dimana pada model pembelajaran CIRC (Cooperative
Integrated Reading and Composition) siswa dalam kelas dibagi dalam
kelompok-kelompok kecil yang beranggotakan 4 sampai 5 dan setiap kelompok harus
heterogen. Siswa dalam kelompok dituntut untuk dapat bekerjasama untuk
menemukan ide pokok dan memberi tanggapan terhadap wacana yang telah diberikan
oleh guru. Dengan menggunakan model pembelajaran tersebut diharapkan peserta
didik mampu mencari, menganalisis dan menggunakan informasi dengan sedikit atau
bahkan tanpa bantuan guru.
Berdasarkan
latar belakang yang telah diuraikan di atas, peneliti ingin mengambil judul penelitian
“Meningkatkan Prestasi Belajar
Siswa dengan Penerapan Model Pembelajaran CIRC (Cooperative
Integrated Reading And Composition)
Siswa
Kelas VII-C Semester Gasal Tahun Pelajaran 2015/2016 SMP Negeri 2 Dagangan Kabupaten
Madiun”
Kajian
Pustaka
Penelitian
Terdahulu
Dalam
landasan filosofis CTL (Contextual Teaching and Learning) adalah
kontruktivisme, yaitu filosofis belajar yang menekankan bahwa belajar tidak
hanya sekadar menghafal, tetapi merekontruksikan atau membangun pengetahuan dan
keterampilan baru lewat fakta-fakta atau proposisi yang mereka alami dalam
kehidupannya.
Pada
pendekatan kontekstual, siswa dituntut untuk dapat melakukan aktivitas
pembelajaran mandiri.
Pembelajaran
mandiri adalah suatu proses belajar yang mengajak siswa melakukan tindakan
mandiri yang melibatkan terkadang satu orang, biasanya satu kelompok. Tindakan
mandiri ini dirancang untuk menghubungkan pengetahuan akademik dengan kehidupan
siswa sehari-hari secara sedemikian rupa untuk mencapai tujuan bermakna. Tujuan
ini mungkin menghasilkan hasil yang nyata maupun yang tidak nyata. (Johnson,
2002 : 152)
Penelitian
yang dilakukan oleh Brooks (1993) di sebuah sekolah di New Hampshire memberikan
kesimpulan bahwa :
Pembelajaran mandiri
membangkitkan antusiasme yang sama pada anak-anak dari taman kanak-kanak hingga
universitas. Bebas menggambarkan gagasan, minat, dan bakat mereka. Para siswa
dengan pembelajaran mandiri dari segala usia ini dengan bersemangat mengajukan
pertanyaan, mengadakan penyelidikan, dan melakukan berbagai percobaan. Brooks
(dalam Johnson, 2002 : 153)
Demikian juga dengan model
pembelajaran CIRC (Cooperative Integrated Reading and Composition) yang
menuntut siswa secara berkelompok untuk melakukan aktivitas belajar mandiri. Telaah literatur tentang
pembelajaran mandiri dengan model pembelajaran CIRC (Cooperative Integrated
Reading and Composition) yang dilakukan dan dikembangkan di Johnson Hopkins
University (Slavin, 1997 : 4) memberikan penjelasan bahwa dengan CIRC (Cooperative
Integrated Reading and Composition) siswa mampu mencari, menemukan dan
menggunakan informasi dengan sedikit atau bahkan tanpa bantuan guru.
Penelitian
yang dilakukan di Yaleta School District El Paso-Texas, tentang pengembangan
model pembelajaran CIRC (Cooperative Integrated Reading and Composition)
dapat meningkatkan aktivitas dan kreatifitas siswa dalam memahami mata
pelajaran bahasa Inggris dan Spanyol (dalam Slavin dkk,1997: 3)
Adapun
perbedaan penelitian terdahulu dengan penelitian saat ini adalah pada materi
yang digunakan, di mana pada penelitian saat ini menggunakan materi IPS dengan materi pokok Keadaan Alam dan Penduduk
di Indonesia yang dipergunakan pada penelitian ini.
Pendekatan
Pembelajaran Kontekstual
Pembelajaran
kontekstual melibatkan para siswa dalam aktivitas penting yang membantu mereka
mengaitkan pelajaran akademis dengan konteks kehidupan nyata yang mereka
hadapi. Tujuan utama CTL (Contextual Teaching and Learning) adalah
membantu para siswa dengan cara yang tepat untuk mengaitkan makna pada
pelajaran-pelajaran akademik mereka.
Karakteristik
pembelajaran kontekstual
a.
Pembelajaran
dilaksanakan dalam konteks autentik, yaitu pembelajaran yang diarahkan pada
ketercapaian keterampilan dalam konteks kehidupan nyata atau pembelajaran yang
dilaksanakan dalam lingkungan yang alamiah (learning in real life setting).
b.
Pembelajaran
memberikan kesempatan kepada siswa untuk mengerjakan tugas-tugas yang bermakna (meaningful
learning).
c.
Pembelajaran
dilaksanakan dengan memberikan pengalaman bermakna kepada siswa (learning by
doing).
d.
Pembelajaran
dilaksanakan melalui kerja kelompok, berdiskusi, saling mengoreksi antar teman (learning
in group).
e.
Pembelajaran
memberikan kesempatan untuk menciptakan rasa kebersamaan, bekerjasama dan
saling memahami antara satu dengan yang lain secara mendalam (learning to
know each other deeply).
f.
Pembelajaran
dilaksanakan secara aktif, kreatif, produktif dan mementingkan kerjasama (learning
to ask, to inquiry, to work together).
g.
Pembelajaran
dilaksanakan dalam situasi yang menyenangkan (learning as an enjoy
activity). (Muslich, 2006 :42)
Sedangkan
Nurhadi (dalam Muslich, 2006:43) mendeskrIPS Geografiikan karakteristik
pembelajaran kontekstual dengan cara menderetkan sepuluh kata kunci, antara
lain :
a.
Kerjasama
b.
Saling
menunjang
c.
Menyenangkan,
tidak membosankan
d.
Belajar
dengan gairah
e.
Pembelajaran
terintegrasi
f.
Menggunakan
berbagai sumber
g.
Siswa
aktif
h.
Sharing dengan teman
i.
Siswa
kritis
j.
Guru
kreatif
Dari
dua diskripsi di atas dapat disimpulkan bahwa pada pembelajaran kontekstual
siswa diarahkan untuk dapat saling bekerjasama dan secara mandiri membangun team
work yang kuat dalam suasana belajar yang menyenangkan.
Komponen
pembelajaran kontekstual
Pembelajaran
dengan pendekatan kontekstual melibatkan tujuh komponen utama, yaitu (1) contructivism
(kontruktivisme, membangun, membentuk), (2) questioning (bertanya), (3) inquiry
(menemukan, menyelidiki), (4) learning community (masyarakat belajar),
(5) modelling (pemodelan), (6) reflection (refleksi atau umpan
balik), (7) authentic assesment (penilaian sebenarnya). Apabila ketujuh
komponen ini diterapkan dalam pembelajaran, terlihat pada realitas berikut:
a. Kegiatan yang mengembangkan
pemikiran bahwa pembelajaran akan lebih bermakna apabila siswa bekerja sendiri,
menemukan, dan membangun sendiri pengetahuan dan keterampilan barunya.
b. Kegiatan belajar yang mendorong
sikap keingintahuan siswa lewat bertanya atau permasalahan yang akan
dipelajari.
c. Kegiatan belajar yang bisa
mengkondisikan siswa untuk mengamati, menyelidiki, menganalisis topik atau
permasalahan yang dihadapi sehingga ia berhasil menemukan sesuatu.
d. Kegiatan belajar yang bisa
menciptakan suasana belajar bersama atau kelompok sehingga ia bisa berdiskusi,
curah pendapat, bekerjasama dan saling membantu dengan teman lain.
e. Kegiatan belajar yang bisa
menunjukkan model yang bisa dipakai rujukan atau panutan siswa dalam bentuk
penampilan tokoh, demonstrasi kegiatan, penampilan hasil karya, cara
pengoperasian sesuatu dan sebagainya.
f. Kegiatan belajar yang memberikan
refleksi atau umpan balik dalam bentuk tanya jawab dengan siswa tentang
kesulitan yang dihadapi dan pemecahannya, merekontruksikan kegiatan yang telah
dilakukan, kesan siswa selama melakukan kegiatan dan saran atau harapan siswa.
g. Kegiatan belajar yang biasa diamati
secara periodik perkembangan kompetensi siswa melalui kegiatan-kegiatan nyata
ketika pembelajaran berlangsung. (Muslich, 2006 :43)
Prinsip
dasar setiap komponen utama CTL (Contextual
Teaching and Learning)
Menurut
Muslich (2006 : 44) setiap komponen utama CTL (Contextual Teaching and
Learning) mempunyai prinsip-prinsip dasar yang harus diperhatikan ketika
akan menerapkannya dalam pembelajaran. Prinsip-prinsip dasar tersebut antara
lain :
a. Kontruktivisme. Komponen ini merupakan landasan
filosofis pendekatan CTL. Pembelajaran yang berciri kontruktivisme menekankan
terbangunnya pemahaman sendiri secara aktif, kreatif dan produktif berdasarkan
pengetahuan dan pengetahuan terdahulu dan dari pengalaman belajar yang
bermakna. Karena itu, siswa perlu dibiasakan untuk memecahkan masalah,
menemukan sesuatu yang berguna bagi dirinya dan mengembangkan ide-ide yang ada
pada dirinya.
b. Bertanya (questioning). Komponen
ini merupakan strategi pembelajaran CTL. Belajar dalam pembelajaran CTL
dipandang sebagai upaya guru yang bisa mendorong siswa untuk mengetahui
sesuatu, mengarahkan siswa untuk memperoleh informasi, sekaligus mengetahui
perkembangan kemampuan berpikir siswa. Pada sisi lain, kenyataan menunjukkan
bahwa pemerolehan pengetahuan seseorang selalu bermula dari bertanya.
c.
Menemukan (inquiry). Komponen menemukan merupakan
kegiatan inti CTL. Kegiatan ini diawali dari pengamatan terhadap fenomena,
dilanjutkan dengan kegiatan-kegiatan bermakna untuk menghasilkan temuan yang
diperoleh sendiri oleh siswa. Dengan demikian, pengetahuan dan keterampilan
yang diperoleh siswa tidak dari hasil mengingat seperangkat fakta, tetapi hasil
menemukan sendiri dari fakta yang dihadapinya.
d.
Masyarakat belajar (learning community). Konsep
ini menyarankan bahwa hasil belajar sebaiknya diperoleh dari kerjasama dengan
orang lain. Hal ini berarti bahwa hasil belajar bisa diperoleh dengan sharing
antar teman, antar kelompok, dan antara yang tahu dengan yang tidak tahu, baik
di dalam maupun di luar kelas. Karena itu, pembelajaran yang dikemas dalam
diskusi kelompok yang anggotanya heterogen dengan jumlah yang bervariasi sangat
mendukung komponen learning community ini.
e.
Pemodelan (modeling). Komponen pendekatan CTL ini
menyarankan bahwa pembelajaran keterampilan dan pengetahuan tertentu diikuti
dengan model yang bisa ditiru siswa. Model yang dimaksud bisa berupa pemberian
contoh. Cara pembelajaran semacam ini akan lebih cepat dipahami siswa daripada
hanya mendengarkan penjelasan kepada siswa tanpa ditunjukkan modelnya atau
contohnya.
f.
Refleksi (reflection). Komponen yang merupakan
bagian terpenting dari pembelajaran dengan pendekatan CTL adalah perenungan
kembali atas pengetahuan yang baru dipelajari. Dengan memikirkan apa yang baru
saja dipelajari, menelaah dan merespon semua kejadian, aktivitas atau
pengalaman yang terjadi dalam pembelajaran bahkan memberikan masukan atau saran
jika diperlukan, siswa akan menyadari bahwa pengayaan atau bahkan revisi dari
pengetahuan yang telah dimiliki sebelumnya. Kesadaran semacam ini penting
ditanamkan kepada siswa agar ia bersikap terbuka terhadap
pengetahuan-pengetahuan baru.
g. Penilaian autentik (autentic
assesment). Komponen yang merupakan ciri khusus dari pendekatan kontekstual
adalah proses pengumpulan berbagai data yang bisa memberikan gambaran atau
informasi tentang perkembangan pengalaman siswa. Gambaran ini perlu diketahui
guru setiap saat agar bisa memastikan benar tidaknya proses belajar siswa.
Dengan demikian, penilaian autentik diarahkan pada proses mengamati,
menganalisis dan menafsirkan data yang telah terkumpul ketika atau dalam proses
pembelajaran siswa berlangsung, bukan semata-mata pada hasil pembelajaran
Strategi
pembelajaran kontekstual
Berdasarkan
pemahaman, karakteristik dan komponen pendekatan kontekstual, menurut Blancard
(dalam Muslich, 2006 : 49) ada beberapa strategi pengajaran yang dapat
dikembangkan oleh guru melalui pendekatan kontekstual, antara lain sebagai
berikut :
k.
Pembelajaran
berbasis masalah
Sebelum memulai proses
belajar mengajar di dalam kelas, siswa terlebih dahulu diminta untuk
mengobservasi suatu fenomena. Kemudian siswa diminta untuk mencatat
permasalahan-permasalahan yang muncul. Setelah itu, tugas guru adalah
merangsang siswa untuk berfikir kritis dalam memecahkan masalah yang ada. Tugas
guru adalah mengarahkan siswa untuk bertanya, membuktikan asumsi dan
mendengarkan perspektif yang berbeda dengan mereka.
l.
Memanfaatkan
lingkungan siswa untuk memperoleh pengalaman belajar
Guru memberikan
penugasan yang dapat dilakukan di berbagai konteks lingkungan siswa antara lain
di sekolah, keluarga dan masyarakat. Penugasan yang diberikan oleh guru adalah
memberikan kesempatan bagi siswa untuk belajar di luar kelas. Misalnya, siswa
keluar dari ruang kelas dan berinteraksi langsung untuk melakukan wawancara.
Siswa diharapkan dapat memperoleh pengalaman langsung tentang apa yang sedang
dipelajari. Pengalaman belajar merupakan aktivitas belajar yang harus dilakukan
siswa dalam rangka mencapai penguasaan standar kompetensi, kemampuan dasar, dan
meteri pembelajaran.
m. Memberikan aktivitas kelompok
Aktivitas belajar
secara kelompok dapat memperluas perspektif serta membangun kecakapan interpersonal
untuk berhubungan dengan orang lain. Guru dapat menyusun kelompok terdiri dari
tiga, lima maupun delapan siswa sesuai dengan tingkat kesulitan penugasan.
n.
Membuat
aktivitas belajar mandiri
Peserta didik mampu
mencari, menganalisis dan menggunakan informasi dengan sedikit atau bahkan
tanpa bantuan guru. Agar dapat melakukannya, siswa harus lebih memperhatikan
bagaimana mereka memproses informasi, menerapkan strategi pemecahan masalah dan
menggunakan pengetahuan yang telah mereka peroleh. Pengalaman pembelajaran
kontekstual harus mengikuti uji coba terlebih dahulu dengan menyediakan waktu
yang cukup dan menyusun refleksi serta berusaha tanpa meminta bantuan guru
supaya dapat melakukan proses pembelajaran secara mandiri (independent
learning),
o.
Membuat
aktivitas belajar bekerjasama dengan masyarakat
Sekolah dapat melakukan
kerjasama dengan orang tua siswa yang memiliki keahlian khusus untuk menjadi
guru tamu. Hal ini perlu dilakukan guna memberikan pengalaman belajar secara
langsung, dimana siswa dapat termotivasi untuk mengajukan pertanyaan. Selain
itu, kerjasama juga dapat dilakukan dengan institusi atau perusahaan tertentu
untuk memberikan pengalaman kerja.
p.
Menerapkan
penilaian autentik
Dalam pembelajaran
kontekstual, penilaian autentik dapat membantu siswa untuk menerapkan informasi
akademik dan kecakapan yang telah diperoleh pada situasi nyata untuk tujuan
tertentu. Menurut Johnson (dalam Muslich, 2006 : 51), penilaian autentik
memberikan kesempatan yang luas bagi para siswa untuk menunjukkan apa yang
telah mereka pelajari selama proses belajar mengajar. Adapun bentuk penilaian
yang dapat digunakan oleh guru yaitu penilaian portofolio, tugas kelompok,
demonstrasi dan laporan tertulis.
Pembelajaran
Kooperatif
Pembelajaran
kooperatif merupakan pembelajaran yang mempunyai kesamaan pandang untuk menuju
tujuan yang sama. Dalam pembelajaran kooperatif siswa bekerja sama dalam
kelompok kecil dengan tingkat kemampuan yang berbeda, saling membantu untuk
memahami suatu pelajaran, memeriksa dan memperbaiki jawaban teman, serta
kegiatan yang lainnya dengan tujuan mencapai hasil belajar tertinggi.
Pembelajaran
kooperatif merupakan tempat siswa belajar bersama dalam kelompok-kelompok kecil
yang terdiri dari 4-5 orang. Siswa yang berkemampuan tinggi, sedang, jenis
kelamin, suku / ras yang berbeda, bekerja sama saling membantu satu sama lain
dalam belajar. Tujuan dari pembelajaran kooperatif adalah menciptakan situasi
dimana keberhasilan individu
ditentukan / dipengaruhi oleh keberhasilan kelompoknya. beberapa hasil
penelitian menunjukkan bahwa
teknik-teknik pembelajaran kooperatif lebih banyak meningkatkan hasil
belajar daripada pengalaman pembelajaran individu. Ibrahim Muslimin (dalam
Rahmawati, 2006 : 16).
Dasar-dasar
Pembelajaran Kooperatif
1.
Siswa
dalam kelompoknya harus beranggapan bahwa mereka "sehidup sepenanggungan
bersama".
2.
Siswa
bertanggung jawab atas segala sesuatu di dalam kelompok seperti milik sendiri.
3.
Siswa
haruslah melihat bahwa semua anggota di dalam kelompoknya memiliki tujuan yang
sama.
4.
Siswa
haruslah membagi tugas dan tanggung jawab yang sama diantara anggota
kelompoknya.
5.
Siswa
akan dikenakan evaluasi atau diberikan hadiah/ penghargaan yang juga akan
dikenakan untuk semua anggota kelompoknya.
6.
Siswa
berbagi kepemimpinan dan mereka membutuhkan keterampilan untuk belajar bersama
selama proses belajarnya.
7.
Siswa
akan mempertanggungjawabkan secara individual materi yang akan ditangani dalam
kelompok. Ibrahim Muslimin (dalam Rahmawati, 2006 : 17)
Ciri-Ciri
Pembelajaran Kooperatif
a. Siswa
bekerja dalam kelompok secara kooperatif untuk menuntaskan materi belajarnya.
b. Kelompok
dibentuk dari siswa dengan kemampuan tinggi, sedang dan rendah.
c. Bila
mungkin, anggota kelompok berasal dari ras, budaya, suku, jenis kelamin yang
berbeda-beda.
d.
Penghargaan lebih berorientasi kelompok daripada
individu. Ibrahim
Muslimin (dalam Rahmawati, 2006 : 18)
Dalam
penerapan pembelajaran kooperatif, dua atau lebih individu saling tergantung
satu sama lain untuk mencapai satu penghargaan bersama. Mereka akan berbagi
penghargaan tersebut apabila mereka berhasil sebagai kelompok.
Model
Pembelajaran CIRC (Cooperative Integrated Reading and Composition)
CIRC (Cooperative Integrated
Reading and Composition) dikembangkan oleh Robert J.
Stevens dan Robert E. Slavin. Pada model pembelajaran ini guru mengacu pada
belajar kelompok siswa. Siswa dalam satu kelas dipecah menjadi beberapa
kelompok dengan anggota 4-5 orang secara heterogen. Dalam kerja kelompok ini, guru
memberikan sebuah topik permasalahan yang berupa materi bacaan. Kemudian siswa
berkoordinasi serta bekerjasama saling membacakan dan menemukan ide pokok dan
memberi tanggapan terhadap materi bacaan. Dan hasil dari
kerja kelompok tersebut dipresentasikan secara bergiliran di depan kelas
(Depdiknas, 2006).
Proses
pelaksanaan model pembelajaran CIRC (Cooperative Integrated Reading and
Composition) dilaksanakan dalam beberapa tahap sebagai berikut:
1.
Persiapan
a.
Materi
Materi pembelajaran CIRC (Cooperative
Integrated Reading and Composition) dirancang sedemikian rupa untuk
pembelajaran kelompok. Pada penelitian ini, materi pokok yang digunakan adalah
Keadaan Alam dan Aktivitas Penduduk Indonesia. Sebelum penyajian materi
pembelajaran dibuat lembar kegiatan siswa (LKS) yang dikerjakan oleh siswa
dalam kelompok-kelompok.
b.
Menetapkan
siswa dalam kelompok
Kelompok-kelompok dalam
pembelajaran ini beranggotakan 4-5 orang siswa yang terdiri dari siswa pandai,
sedang dan rendah. Disamping itu guru mempertimbangkan kriteria heterogenitas
yang lain seperti jenis kelamin, latar belakang sosial, dan sebagainya.
c.
Menentukan
skor awal
Skor awal merupakan skor rata-rata
secara individu pada test sebelumnya.
d.
Pembagian
lembar hasil (book report)
Guru memberikan lembar hasil, yang
mana lembar hasil ini digunakan oleh siswa pada saat mengerjakan tugas yang
berupa materi bacaan.
2.
Penyajian
Materi
a.
Pendahuluan
Pendahuluan menekankan pada konsep
yang akan dipelajari oleh siswa dalam kelompok dan menginformasikan mengapa hal
itu penting, informasi tersebut ditujukan untuk memotivasi rasa ingin tahu
siswa tentang konsep-konsep yang akan mereka pelajari.
b.
Pengembangan
1)
Mengembangkan
materi pembelajaran sesuai dengan apa yang akan dipelajari siswa dalam
kelompok.
2)
Pembelajaran
kontekstual menekankan bahwa belajar adalah memahami makna dan bukan menghafal.
3)
Saling
mengontrol pemahaman siswa dengan memberikan pertanyaan-pertanyaan.
4)
Memberikan
penjelasan mengapa jawaban pertanyaan tersebut benar atau salah.
c.
Latihan
terbimbing
1)
Siswa
disuruh mengerjakan soal-soal atas pertanyaan yang diberikan.
2) Pemberian tugas tidak boleh menyita
waktu yang terlalu lama. Guru memberikan waktu + 10 menit untuk memberikan
tugas kepada siswa.
3.
Kegiatan
Kelompok
a.
Guru
membagikan bahan diskusi yang berupa materi bacaan untuk siswa kepada setiap
anggota kelompok sebagai bahan yang akan dipelajari.
b.
Siswa
dalam kelompok diharuskan untuk berdiskusi mencari ide pokok yang terdapat
dalam materi bacaan yang telah diberikan oleh guru sebelumnya.
c.
Kelompok
menuliskan hasil pembahasan pada book report dan kemudian membacakan
hasil tersebut di depan kelas.
d.
Kelompok
yang lain diharuskan untuk memberikan umpan balik atas hasil pembahasan diskusi
kelompok lain.
4.
Evaluasi
Pada tahap
ini, guru memberikan evaluasi kepada siswa yang harus dikerjakan secara
individu dalam waktu yang telah ditentukan ±15 menit.
5.
Penghargaan
Kelompok
a.
Menghitung
skor individu
Skor
yang diperoleh siswa digunakan untuk menentukan nilai perkembangan individu dan
untuk menentukan skor kelompok. Untuk skor individu, sebelumnya kita harus
menetapkan skor berdasarkan hasil kuis yang lalu, menghitung skor berdasarkan
kuis yang diberikan saat itu, menghitung skor perkembangan yang didapatkan
siswa pada skor kuis yang terkini dengan skor awal mereka yang lalu apakah
nilai atau poin yang mereka dapatkan sama atau bahkan melampaui dengan
menggunakan skala pada tabel. Sedangkan skor kelompok dihitung dengan
menambahkan skor peningkatan tiap-tiap individu anggota kelompok dan membaginya
dengan jumlah anggota tim tersebut.
b.
Menghargai
prestasi kelompok
Dalam
memberikan penghargaan terhadap prestasi kelompok, terdapat tiga tingkat
penghargaan sebagai berikut;
1) Kelompok
dengan rata-rata skor 15 disebut sebagai kelompok baik (good team).
2) Kelompok
dengan rata-rata 20 disebut sebagai kelompok hebat (great team).
3)
Kelompok
dengan rata-rata skor 25 disebut kelompok super (super team).
Metode Penelitian
Dalam penelitian
ini, peneliti sebagai pengajar di kelas yang akan meneliti mata pelajaran IPS ,
oleh karena itu penelitian ini dilaksanakan sekaligus dalam rangka pembelajaran
kelas. Secara langsung peneliti mengadakan pengamatan dan penelitian terhadap
kemampuan siswa dalam
memahami mata pelajaran IPS
dengan menggunakan model pembelajaran CIRC (Cooperative Integrated
Reading and Composition).
Pada
penelitian ini terbagi menjadi empat tahapan pokok yaitu tahap planning
(rencana awal), tahap tindakan / observasi, tahap refleksi, tahap revisi
sebagai berikut :
1.
Tahap
Planning (Rencana Awal)
Langkah-langkah yang
ditempuh dalam tahap ini adalah :
a. Menentukan
materi pokok, tujuan pembelajaran dan tugas-tugas pembelajaran.
b.
Menyusun
instrumen penelitian yang dipakai untuk mengumpulkan data penelitian yang
terdiri dari :
1) Perangkat
pembelajaran meliputi satuan pembelajaran, rencana pembelajaran (RP), lembar
observasi, dan lembar tes.
2)
Menyusun
butir-butir soal tes (pre test dan post test). 3) Membuat Lembar pengamatan
aktivitas guru dan siswa serta lembar pengelolaan.
c.
Menetapkan
pengamat selama proses belajar mengajar yaitu kelas VII-C semester gasal Tahun
Pelajaran 2015/2016 SMP Negeri 2
Dagangan Kab. Madiun
2.
Tahap
Pelaksanaan
Pada
tahap ini peneliti membagi beberapa bagian, karena memperhatikan alokasi waktu
yang ada dan materi pokok yang dipilih, maka pelaksanaan ini di bagi menjadi 3
putaran (tiga kali pertemuan). Secara ringkas pelaksanaan tiap putaran sebagai
berikut :
a.
Melaksanakan
proses belajar mengajar sesuai dengan rencana pelajaran yang telah disampaikan
dengan menerapkan model pembelajaran CIRC dengan pendekatan kontekstual yang di
dalamnya terdapat beberapa tahapan yaitu : (1) Pendahuluan dengan menekankan
konsep yang akan dipelajari, (2) Mengembangkan materi pembelajaran sesuai
dengan model pembelajaran, (3) Membimbing siswa dalam kelompok kooperatif, (4)
Menelaah pemahaman dan memberikan umpan balik, (5) Mengevaluasi hasil dan
membimbing membuat rangkuman.
b.
Mengobservasi
proses belajar mengajar oleh pengamat dengan mengisi lembar pengamatan
aktivitas guru dan siswa.
c.
Mengadakan
diskusi dengan pengamat yang melakukan pengamatan, sesuai dengan hasil
pengamatan ketika proses pembelajaran langsung.
d.
Menerangkan
hasil diskusi dan menganalisis penyelesaian / pemecahan jika terdapat masalah
yang timbul dalam pembelajaran sehingga menghasilkan refleksi dan revisi untuk
putaran selanjutnya.
e.
Di
awal proses belajar mengajar siswa diberi tes awal (pre-tes), kemudian
dilaksanakan proses belajar mengajar sesuai dengan yang telah direncanakan,
setelah proses pembelajaran selesai, siswa diberi tes akhir dalam setiap
putaran (post-test) untuk mengetahui ketuntasan belajar siswa secara individual.
3.
Tahap
Refleksi
Peneliti
mengkaji hasil pembelajaran berdasarkan hasil pengamatan dengan para pengamat
mengenai kekurangan tindakan guru dalam kelas selama proses belajar mengajar
berlangsung. Peneliti menganalisis solusi yang dapat menyelesaikan permasalahan
yang sedang dihadapi dalam kegiatan belajar mengajar untuk memperbaiki kinerja
guru dalam penerapan model pembelajaran CIRC pada pertemuan selanjutnya.
4.
Tahap
Revisi
Berdasarkan
hasil refleksi, peneliti membuat rancangan pembelajaran untuk putaran
berikutnya, dengan mengupayakan adanya pemantauan dan pemecahan masalah yang
timbul selama pembelajaran, untuk memperbaiki kekurangan-kekurangan pada
putaran sebelumnya.
Hasil penelitian
Pada tahap kegiatan dan pengamatan dapat diperoleh gambaran mengenai
hasil pembelajaran CIRC pada materi Keadaan Alam dan Aktivitas Penduduk
Indonesia tampak bahwa
siswa belum terbiasa dengan kegiatan belajar mengajar dengan menggunakan metode
pembelajaran CIRC, sehingga guru lebih banyak membimbing siswa dalam kegiatan
belajar mengajar. Hal ini ditunjukkan dalam aktifitas guru yang dominan
membimbing siswa (32,5%), didukung aktifitas siswa berdiskusi antar siswa dan
guru (11%), dan kegiatan siswa berlatih keterampilan kooperatif (13%), siswa
kurang antusias dalam berdiskusi sehingga guru harus lebih tegas mengatasinya
ini ditunjukkan dalam perilaku siswa yang tidak relevan dalam kegiatan mengajar
(6%), perilaku guru yang tidak relevan dalam mengajar (2,5%). Dalam kegiatan
belajar mengajar guru mendorong dan melatih keterampilan kooperatif sebesar
(20%) sehingga diskusi antar siswa dapat berjalan dengan baik (22%), walaupun
diikuti dengan perilaku siswa yang tidak relevan dalam KBM (6%).
Pada putaran II, guru berperan sebagai fasilitator dalam mengaktifkan
kerja kelompok. Pada aktifitas guru dimana aktifitas yang berupa memberikan
petunjuk siswa menurun sebesar 5% seiring dengan meningkatnya aktifitas guru
dalam mendorong dan melatih keterampilan kooperatif sebesar 5%, memotivasi
siswa 2,5%, memberikan umpan balik 2,5%. Dan aktifitas siswa yang mendukung
adalah berlatih keterampilan kooperatif sebesar (14%) atau meningkat 1% dari
putaran I dan berdiskusi antar siswa (23%), perilaku siswa yang tidak relevan
dalam KBM masih ada meskipun telah turun menjadi 3% dan materi mengenal
batas-batas negara-negara Asia tenggara. Aktifitas ini akan lebih diminimalkan
pada putaran III.
Setelah tahap kegiatan pengamatan, dapat diperoleh gambaran mengenai
hasil model pembelajaran CIRC pada materi Keadaan Alam dan
Aktivitas Penduduk Indonesia. Dalam proses pembelajaran, tampak jelas bahwa kelas menunjukkan suasana
model pembelajaran CIRC, dimana kelas belajar dalam kelompok-kelompok kecil
untuk memahami materi dan menyelesaikan tugas terstruktur. Hal ini ditunjukkan
data aktifitas guru mendorong dan melatih keterampilan kooperatif (27,5%),
memberi petunjuk membimbing siswa (25%), didukung oleh aktifitas siswa yaitu
berdiskusi antar siswa (24%), berlatih melakukan keterampilan kooperatif (15%)
yang terus meningkat dari materi putaran I dan II, serta aktifitas presentasi
kelompok (16%). Walaupun pada putaran I dan II aktifitas guru dalam mendorong
dan melatih keterampilan kooperatif serta memberi petunjuk/ membimbing siswa
tetap. Hal ini didukung pula oleh penilaian keterampilan guru dalam mengelola
pembelajaran kooperatif, dimana aspek suasana kelas mendapat nilai rata-rata
3,3 (baik) dan aspek berpusat pada siswa mendapat nilai 3 (baik). Meskipun guru
telah berusaha semaksimal mungkin mengefektifkan kerja kelompok dengan banyak
memotivasi siswa (12,5%) dan memberi umpan balik (25%), perilaku siswa yang
tidak relevan dalam KBM masih ada (2%). Ini merupakan permasalahan yang
disarankan untuk diselesaikan pada penelitian berikutnya yaitu bagaimana
menghilangkan perilaku yang tidak relevan dalam KBM.
Tabel Hasil Tes Belajar Siswa Pada
Putaran I, II dan III
Respon siswa terhadap penerapan model pembelajaran
CIRC
Angket tanggapan ini diberikan
pada akhir materi putaran ke III. Angket ini dikelompokkan menjadi instrumen no
1 sampai dengan 5 untuk melihat hal-hal yang menyangkut tentang materi IPS
kemudian untuk melihat penerapan model pembelajaran kooperatif CIRC yang sudah
dilaksanakan dalam KBM pada no 6 sampai 10. Sedangkan pada no 11 sampai 15
untuk melihat minat siswa terhadap hal-hal yang menyangkut tentang IPS setelah
diterapkannya model pembelajaran CIRC dengan pendekatan kontekstual.
Berdasarkan tabel di atas dapat dianalisis bahwa:
a. Pada pembelajaran kooperatif CIRC materi Keadaan
Alam dan Aktivitas Penduduk Indonesia merupakan
materi yang mudah dipahami oleh siswa (90,91%). Hal ini dikarenakan mata
pelajaran IPS ditunjang dengan buku paket yang mudah dipahami ( 54,54% ), bahasa yang digunakan oleh guru
juga dapat dimengerti oleh siswa (86,36%) dan juga guru dalam menjelaskan
materi sudah mencakup semua aspek yang terkandung dalam materi (77,27%). Selain
itu materi yang diberikan berhubungan antara satu dengan yang lainnya (72,27%).
b. Pada penelitian ini model pembelajaran yang
digunakan yaitu model pembelajaran CIRC. Model ini merupakan model yang baik
digunakan pada mata pelajaran IPS (77,27%). Hal ini dikarenakan model tersebut
sudah terbukti dapat membantu siswa dalam memahami pelajaran IPS (77,27%) dan
membuat siswa tertarik pada mata pelajaran IPS (77,27%) selain dapat membantu
dalam memahami pelajaran IPS, model pembelajaran ini juga tidak membuat siswa
bingung (86,36%). Sehingga model pembelajaran CIRC ini dapat digunakan untuk
model pembelajaran selanjutnya (72,73%).
c. Selain aspek materi dan aspek model
pembelajaran, penelitian ini juga menghasilkan respon siswa terhadap minat
siswa terhadap mata pelajaran IPS dengan hasil sebagai berikut : Siswa merasa
senang dengan mata pelajaran IPS (72,73%). Selain itu siswa juga berminat untuk
berminat mengetahui materi lebih dalam lagi (54,55%) sehingga termotivasi untuk
mempelajari hal-hal yang berhubungan dengan Keadaan Alam dan Aktivitas Penduduk
Indonesia (77,27%) dan mencoba belajar sendiri di rumah (86,36%)
Hasil ketuntasan belajar siswa setelah diterapkan
model pembelajaran CIRC
Dari
data pada tabel 4.11 kita dapat mengetahui bahwa siswa yang tuntas pada putaran
I tidak mencapai ketuntasan klasikal karena hanya 13 siswa yang tuntas dengan
nilai diatas KKM. Hal ini dikarenakan siswa belum terbiasa dengan model
pembelajaran CIRC sehingga siswa yang tuntas kurang dari 85%. Walaupun pada
putaran I penelitian ini belum berhasil tetapi pada putaran II dan III
mengalami peningkatan dengan hasil ketuntasan belajar yaitu 59,09% atau
sebanyak 13 siswa pada siklus I, sebesar
77,27% atau sebanyak 17 siswa pada siklus II dan sebesar 90,91% atau sebanyak
20 siswa pada siklus III, ini
menunjukkan bahwa penerapan model pembelajaran CIRC merupakan model
pembelajaran yang efektif bila digunakan pada mata pelajaran IPS karena siswa
yang tuntas pada putaran III lebih dari 85%. Di bawah ini akan digambarkan
hasil rangkuman ketuntasan belajar siswa pada tiap-tiap materi pelajaran.
Kesimpulan
Berdasarkan
hasil penelitian dan pembahasan, maka dapat disimpulkan sebagai berikut:
1.
Aktifitas guru yang dominan muncul pada
putaran I, II dan III adalah memberikan petunjuk/ membimbing siswa (32,5%,
27,5%, 25%). Mendorong dan melatih keterampilan kooperatif (20%, 25%, 27,5%).
Aktifitas siswa yang dominan muncul adalah berdiskusi antar siswa (22%, 23%,
24%), presentasi kelompok (15%, 18%, 20%). Sehingga kebiasaan guru untuk
memberikan ceramah cenderung menurun, karena guru bertindak sebagai fasilitator
dan motivator dalam pelaksanaan KBM. Kemampuan guru dalam mengelola KBM dengan
model pembelajaran CIRC pada materi pokok Keadaan Alam
dan Aktivitas Penduduk Indonesia
juga mengalami peningkatan, yaitu pada siklus I rata-rata nilai 63,36 menjadi
75,68 pada siklus II berarti meningkat sebesar 13,32 dan pada siklus III
rata-rata nilainya 82,27 berarti dari siklus II ke siklus III meningkat sebesar
6,59. Dengan demikian terjadi peningkatan kualitas pembelajaran CIRC.
2.
Model pembelajaran CIRC dapat menarik
siswa untuk senang belajar sebesar 90,91% dan membantu memahami pelajaran
sebesar 77,27%. Sehingga pembelajaran CIRC merupakan model pembelajaran yang
efektif jika digunakan.
3.
Hasil/prestasi belajar siswa meningkat pada
setiap putaran yaitu pada siklus I diperoleh ketuntasan klasikal sebesar 59,09%
dengan nilai rata-rata 62,36; siklus II
diperoleh ketuntasan klasikal sebesar 77,27% dengan nilai rata-rata 75,68; dan
siklus III diperoleh ketuntasan klasikal
sebesar 90,91% dengan nilai rata-rata 82,27. Ketuntasan belajar meningkat
18,18% dari siklus I ke siklus II dan meningkat sebesar 13,64% dari siklus II
ke siklus III. Sehingga penerapan model pembelajaran CIRC ini efektif jika
diterapkan.
DAFTAR PUSTAKA
American
federation of Teacher. 1997. Cooperative Reading and Composition (CIRC).
www.csos.jhu.edu/sa/overcirc.html
Ardiana,
Leo Idra. 1998. Penelitian Tindakan Kelas. Depdiknas
Arikunto,
Suharsimi. 2001. Prosedur Penelitian Suatu Pendekatan Praktek. Jakarta:
Rineka Cipta
Dalyono.
1996. Psikologi Pendidikan. Jakarta : Rineka Cipta
Djamarah, Syaiful Bahri. 2002. Psikologi belajar. Jakarta :
Rineka Cipta
Johnson, Elaine B. 2002. CTL (Contextual Teaching and
Learning). Bandung
: Mizan Learning Center
Kisyani-Laksono.
2006. Penelitian Tindakan Kelas. Unesa
Muslich,
Masnur. 2006. KTSP : Pembelajaran Berbasis Kompetensi dan Kontekstual
Jakarta: Bumi Aksara
Slavin,
Robert. 1997. Effect of Bilingual Cooperative Reading and Composition onp Students Transitioning From
Spanish to English,
report No.10. www.links.jstor.org
Steven,
Robert., Madden dkk. 1987. Journal of Cooperative Reading and Composition:
Two Field Experiment Volume 22 No.4. www.links.jstor.org
Sudjana,
Nana. 1998. Dasar-Dasar Proses Belajar Mengajar. Bandung Algesindo
Sudjana,
Nana. 1998. Penilaian Hasil Proses Belajar Mengajar. Bandung Remaja
Rosdakarya
Syah,
Muhibbin. 2001. Psikologi Pendidikan Dengan Pendekatan Baru. Bandung
Remaja Rosda Karya
Tim
Pustaka Yustisia. 2006. Panduan Lengkap KTSP. Yogyakarta : Pustaka
Yustisia
Tidak ada komentar:
Posting Komentar