PENINGKATAN PRESTASI BELAJAR
IPS MELALUI METODE STAD (STUDENT TEAM
ACHIEVEMENT DIVISION) SISWA KELAS VIII-E SMPN 1 BALEREJO KABUPATEN
MADIUN SEMESTER GANJIL TAHUN PELAJARAN 2015/2016
![]() |
Oleh : Dra. LILIS SURYANI,
Guru SMPN 1 Balerejo Kabupaten Madiun
|
ABSTRAK
Kata kunci : Peningkatan
Prestasi Belajar IPS, metode STAD (student team achievement
division)
Minat adalah kesadaran seseorang,
bahwa sesuatu objek atau situasi mengandung sangkut paut dengan dirinya.
Rupa-rupa minat harus dipandang
sebagai sambutan yang sadar, sebab kalau
tidak demikian minat tidak berarti apa-apa. Minat itu timbul apabila individu
tertarik kepada sesuatu, karena sesuatu itu dirasakan sangat bermakna bagi dirinya.
Sebab sangat penting peranannya dalam pendidikan, sebab merupakan sumber
motivasi. Minat akan timbul dari individu sebagai kebutuhan akan merupakan
suatu pendorong bagi individu tersebut dalam melakukan berbagai usaha. Salah
satu metode yang dapat dipergunakan sebagai alternatif dalam membangkitkan
minat dan ketuntasan belajar IPS adalah metode Student Team Achievement Division (STAD).
Rumusan
masalah dalam penelitian tindakan kelas ini adalah: Adakah Peningkatan
Prestasi Belajar IPS Melalui Metode STAD (Student Team
Achievement Division) Siswa Kelas VIII-E SMPN 1 Balerejo Kabupaten
Madiun Semester Ganjil Tahun Pelajaran 2015/2016.
Metode
penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah penelitian tindakan
kelas. Dalam penelitian ini peneliti
berkolaborasi dengan guru lain serta dengan kepala sekolah. Peneliti terlibat
langsung dalam penelitian mulai dari awal sampai penelitian berakhir. Peneliti
berusaha melihat, mengamati, merasakan, menghayati, merefleksi dan mengevaluasi
kegiatan pembelajaran yang berlangsung. Tahap-tahap pelaksanaan penelitian
tindakan terdiri dari perencanaan (planning),
pelaksanaan (acting), observasi (observing), dan refleksi (reflecting). Untuk
mendapatkan hasil penelitian yang akurat maka data yang telah terkumpul
dianalisis secara statistik yaitu mengunakan rumus mean.
Dari
hasil pelaksanaan dan pengamatan siswa dan guru cenderung lebih baik setiap
siklus, maka dapat disimpulkan bahwa ; Ada Peningkatan
Prestasi Belajar IPS Melalui Metode STAD (Student Team
Achievement Division) Siswa Kelas VIII-E SMPN 1 Balerejo Kabupaten
Madiun Semester Ganjil Tahun Pelajaran 2015/2016”.
Latar Belakang Masalah
Setiap manusia ingin mengembangkan
dirinya menjadi insan yang berpotensi dan berkualitas tentu mempunyai tujuan
hidup yang diharapkan. Keinginan, harapan, cita-cita, hasrat, dan minat selalu mewarnai
kehidupan yang selanjutnya akan mendorong seseorang untuk melakukan berbagai
aktivitas dan akan meningkatkan kemampuan berfikir dan berkreasi. Minat adalah
faktor yang penting dalam suatu usaha atau kegiatan manusia yang sangat
subjektif, dimana minat sebagai aspek psikis manusia mempunyai potensi besar
untuk mencapai tujuan tertentu.
Fuad
hasan (1981:64) mengatakan “Minat adalah adanya intensitas perhatian yang
tinggi seseorang terhadap suatu hal, peristiwa, keadaan barang atau benda”.
Sedangkan As’ad (1987:4) menyatakan: Minat adalah sikap yang membuat senang
akan objek situasi atau ide ide tertentu, Hal ini diikuti oleh rasa senang dan
kecenderungan untuk mencari objek yang disenangi itu. Pola-pola minat seseorang
merupakans alah satu faktor yang menentukan kesesuaian orang dengan
pekerjaannya. Minat orang terhadap jenis pekerjaan berbeda-beda. Tingkat
prestasi kerja seseorang ditentukan oleh perpaduan antara minat dan bakat.
Soetimah
(1978:71) mengartikan minat sebagai berikut: Minat adalah kesadaran seseorang,
bahwa sesuatu objek atau situasi mengandung sangkut paut dengan dirinya.
Rupa-rupa minat harusdipandang sebagai sambutan yang sadar, sebab kalau tidak
demikian minat tidak berarti apa-apa.
Sedangkan
minat menurut Effendi (1976:71): Minat itu timbul apabila individu tertarik
kepada sesuatu, karena sesuatu itu dirasakan sangat bermakna bagi dirinya.
Sebab sangat penting peranannya dalam pendidikan, sebab merupakan sumber
motivasi. Minat akan timbul dari individu sebagai kebutuhan akan merupakan
suatu pendorong bagi individu tersebut dalam melakukan berbagai usaha.
Berdasarkan
definisi di atas, maka dapat dikatakan bahwasanya ada kesamaan pendapat yang
menetapkan minat sebagai gejala psikis. Dan pendapat-pendapat itu dapat
ditentukan beberapa unsure yang mempengaruhi minat antara lain perhatian,
kesadaran individu, kekuatan motif dan harapan serta perasaan senang yang
membuat individu itu cenderung berhubungan lebih aktif lagi terhadap objek yang
menjadi perhatiannya.
Minat
secara umum diartikan sebagai suatu keadaan mental yang menghasilkan respon
terarah pada situasi atau ojek tertentu, yang menyenangka dan memberikan objek
kepuasan kepadanya. Dengan demikian minat dapat menimbulkan dan merupakan sikap
yang menunjukkan suatu kesiapan berbuat bila ada situasi khusus yang sesuai
dengan keadaan mental seseorang Cony Semiawan (1982). Minat menyangkut
aktivitas-aktivitas yang dipeilih secara bebas oleh individu, Doyles Frayer
dalam Nurkancana (1986:229) mengemukakan bahwa minat atau interes adalah gejala
psikis yang berkaitan dengan objeka tau aktivitas yang menstimulis perasaan.
Dengan demikian minat senantiasa erat hubungannya dengan perasaan, individu,
aktifitas, dan situasi.
Bagi pelaku atau pemerhati
pendidikan, tentu saja hal tersebut mendorong untuk melibatkan diri dalam
mencari sekaligus mencari formulasi apa yang dapat dijadikan alternatif
pengelolaan pendidikan. Metode yang tepat guna yang mengandung
nilai-nilai intrinsik dan ekstrinsik
sejalan dengan materi pelajaran dan secara fungsional dapat dipakai untuk
merealisasikan nilai-nilai ideal yang terkandung dalam tujuan pendidikan
Sebagai
salah satu komponen operasional dalam ilmu pendidikan, metode harus mengandung
potensi yang bersifat mengarahkan materi pelajaran kepada tujuan pendidikan
yang hendak dicapai melalui proses tahap demi tahap, baik dalam kelembagaan
formal, nonformal ataupun informal. Dengan demikian menurut pendidikan, suatu
metode yang baik adalah memiliki waktu dan relevansi dengan tujuan pendidikan .
Akibat
semua konsep dari permasalahan guru terhadap proses belajar mengajar adalah
motivasi rendah, pehatian tugas pokok terabaikan dan secara tidak langsung
proses belajar mengajar tidak menarik dan tidak membangkitkan daya kritis
siswa.
Masalah
siswa yang sampai sekarang dihadapkan pada kemerosotan moral karena tidak
adanya penuntun moral walaupun pendidikan moral dan ajaran agama diajarkan akan
tetapi tidak menyentuh pada perilaku psikomotorik yang seharusnya dijadikan
ukuran pendidikan.
Berdasarkan hal tersebut maka perlu ditetapkan
metode pembelajaran yang sesuai pada setiap kompotensi dasar agar bisa
memotivasi siswa dan meningkatkan pemahaman terhadap kesiapan dan ketuntasan
belajar pada mata pelajaran IPS siswa SMPN 1 Balerejo Kecamatan Balerejo Kabupaten Madiun .
Salah satu metode yang dapat dipergunakan sebagai
alternatif dalam membangkitkan minat dan ketuntasan belajar IPS adalah metode Student Team Achievement Division (STAD).
Identifikasi Masalah
1.
Apakah metode STAD berpengaruh terhadap
peningkatan prestasi belajar IPS pada siswa SMPN 1 Balerejo Kecamatan Balerejo Kabupaten Madiun ?
2.
Apakah penggunaan metode kooperatif
STAD dapat meningkatkan motivasi dan ketuntasan belajar IPS pada kompetensi dasar mendiskripsikan kondisi
fisik wilayah dan penduduk?
3.
Apakah metode STAD lebih mengefektifkan
pengelolaan kelas, sehingga prestasi belajar IPS meningkat?
4.
Apakah penggunaan metode STAD dapat
memotifasi guru untuk mengembangkan metode lain pada kompetensi yang lain?
Rumusan Masalah
“Adakah peningkatan prestasi belajar IPS
melalui metode STAD (Student Team
Achievement Division) siswa Kelas VIII-E SMPN 1 Balerejo Kecamatan Balerejo Kabupaten Madiun tahun pelajaran 2015/2016?”.
Tujuan Penelitian
1.
Meningkatkan peran aktif siswa dalam
proses belajar mengajar.
2.
Meningkatkan ketuntasan belajar IPS
siswa melalui metode pembelajaran STAD pada kompetensi dasar mendiskripsikan
kondisi fisik wilayah dan penduduk.
3.
Memotifasi guru untuk mengembangkan
metode pembelajaran pada setiap kompetensi dasar
4.
Menjadikan pembelajaran pada kompetensi
dasar mendiskripsikan kondisi fisik wilayah dan penduduk melalui metode STAD agar mempunyai makna.
Manfaat Hasil Penelitian
1. Bagi Siswa
a.
Siswa lebih berperan aktif dalam proses
pembelajaran
b.
Malatih siswa untuk saling menghargai
sesama siswa yang lain
c. Meningkatkan hasil belajar IPS
2. Bagi Guru
a.
Memperkaya wawasan pembelajaran dalam
proses pembelajaran
b.
Meningkatkan ketepatan pemilihan model
pembelajarn dalam proses pembelajaran
c.
Memperoleh seperangkat pengalaman dalam
inovasi pembelajaran untuk meningkatkan
profesionalitas guru.
Kajian Pustaka
Mutu Pembelajaran
Pembelajaran
mengandung arti suatu kegiatan yang dilakukan guru dan siswa secara
bersama-sama. Dalam konsep pembelajaran dengan pendekatan konsep guru berperans
sebagai fasilitator dan siswa sebagai subjek belajar.
Sebagai
fasilitator guru berperan memberi kemudahan siswa untuk memperoleh kemampuan
tertentu sesuai dengan rumusan tujuan yang telah direncanakan. Siswa secara
aktif untuk membangun pengetahuannya dengan sedikit mungkin bantuan guru. Indikator
keberhasilan pembelajaran yang efektif dan bermakna adalah bila proses
pembelajaran dapat memberikan keberhasilan dan kepuasan baik bagi siswa maupun
guru.
Dalam peraturan pemerintah No 29 Tahun 1990 tentang
Pendidikan menengah, Pasal 20 ayat (1) menyebutkan: “ Penilaian kegiatan dan
memajukan belajar siswa dilakukan untuk mengetahui hasil belajar dan membantu
perkembangan siswa”. Dari pasal di atas nampak dengan jelas bahwa hasil
penilaian harus dapat digunakan untuk membina dan memberikan dorongan semua
siswa dalam meningkatkan hasil belajar. Karena itu hasil belajar harus
dinyatakan dan dapat dirasakan sebagai
penghargaan bagi siswa yang berhasil dan sebaliknya merupakan peringatan
bagi siswa yang kurang atau tidak berhasil.
Selain itu hasil yang dicantumkan dalam raport dapat
dijadikan bahan pertanggung jawaban kepada orang tua siswa yang telah memberi
kesempatan untuk memperoleh pendidikan.
Dalam setiap
proses pembelajaran diketemukan berbagai masalah yang bermuara pada rendahnya
prestasi siswa. Tindakan perbaikan mutlak adanya dan mungkin telah dilakukan
oleh guru dengan jalan bertabya kepada sejawat atau sesama guru dan mengkaji
pedoman yang sudah ada seperti kurikulum, GBPP dan lain-lain.
Menurut
Natawijaya (1999), Penelitian tindakan kelas (PTK) atau class room action
research adalah sebagai bentuk kajian bersifat reflektif oleh pelaku
tindakan, yang dilakukan untuk meningkatkan kemantapan rasional dari
tindakan-tindakan yang dilakukan itu, serta memperbaiki kondisi dimana
praktek-praktek pembelajran tersebut dilakukan.
Fungsi dan
peranan Penelitian Tindakan kelas (PTK)
a. Meningkatkan
kerja sama antar guru, terutama guru antar mata pelajaran.
b. Saling
bertukar pikiran dan berdiskusi mengenai masalah-masalah pembelajaran yang
dihadapi bersama.
c. Menjadi
sarana komunikasi dan kolaborasi antara guru sebidang studi.
Penilaian proses
dan hasil belajar bertujuan untuk menentukan tingkat ketercapaian tujuan
pendidikan dan atau tujuan pembelajaran yang telah diterapkan dalam kutrikulum
Garis-Garis Besar Program Pengajaran atau dalam perangkat perencanaan kegiatan
pembelajaran lainnya (Buku Petunjuk Pelaksanaan Penilaian Kurikulum SMP, 1994).
Dari tujuan penilaian yang telah dikemukakan
di atas maka dapat kita kemukakan beberapa fungsi penilaian:
a. Sebagai
pedoman untuk mengetahui apakan anak didik terdapat kemajuan atau sebaliknya.
b. Sebagai
alat untuk mengetahui penguasaan siswa terhadap meteri pelajaran yang telah
diberikan guru.
c. Sebagai
alat untuk memberi motivasi belajar anak didik, siswa yang mendapat angka
kurang supaya lebih giat belajar, sedangkan siswa yang mendapat angka baik
supaya berusaha mempertahankan.
d. Sebagai
bahan laporan pada orang tua siswa yang telah mempercayakan pendidikan
anaknya kepala sekolah yang berbentuk
laporan pendidikan.
e. Sebagai
alat seleksi, misalnya siapa yang dapat naik kelas dan tidak dapat naik kelas,
pengajuan beasiswa, pengajuan siswa teladan dsb.
Dari uraian
tersebut penilaian fungsinya sangat tinggi baik bagi anak didik, guru, maupun
orang tua, karena melalui penilaian akan mudah diketahui perkembangan siswa
maupun pencapaian sasaran pendidikan.
Prinsip-Prinsip
Penilaian
a. Menyeluruh
Perubahan
perilaku yang telah diterapkan dalam tujuan pembelajaran perlu dicapai secara
menyeluruh baik yang menyangkut pengetahuan, sikap perilaku, dan nilai serta
ketrampilan. Penilaian baru bersifat menyeluruh apabila penilaian yang
digunakan mencakup aspek proses dan hasil belajar yang bertahap menggambarkan
perubahan perilaku. Berkaitan dengan bahan pelajaran, penilaian menyeluruh berarti
bahan kajian yang dicakup oleh alat penilaian dapat mewakili seluruh bahan
pelajaran yang dipelajari siswa.
b. Berkesinambungan
Penilaian
dilakukan secara berencana, betahap dan terus menerus untuk memperoleh gambaran
tentang perkembangan hasil belajar siswa
sebagai hasil kegiatan belajar mengajar.
c. Berorientasi pada tujuan
Hasil
belajar siswa yang diharapkan dicapai dalam kegiatan belajar mengajar suatu
mata pelajaran yan telah dirumuskan dalam bentuk tujuan pengajaran pada
garis-garis besar program pengajaran untuk pelajaran bersangkutan. Oleh
karen itu, penilaian harus dapat menentukan sejauh mana siswa telah mencapai
tujuan pelajaran tersebut.
d. Objektif
Penilaian harus dapat menghindari dari sifat subjektifitas sehingga
menggambarkan aspek-aspek yang sebenarnya hendak diukur. Hasil penilaian harus dapat
mencerminkan tingkat keberhasilan siswa sebenarnya.
e. Terbuka
Proses hasil penilaian perlu diketahui dan diterima
oleh semua pihak terkait (siswa, orang tua, masyarakat dan sekolah)
f. Kebermaknaan
Hasil
penilaian harus memiliki kebermaknaan bagi orang yang menggunakannya, bagi
guru, hasil penilaian selain bermakna dan
berguna untuk meningkatkan hasil belajar siswa, memberikan laporan hasil
belajar siswa, juga bermakna berguna bagi dirinya sendiri. Sebagai
umpan balik untuk perbaikan proses belajar mengajar. Sementara untuk
memperbaiki atau meningkatkan cara belajarnya.
g. Kesesuaian
Penilaian
harus sesuai dengan pendekatan kegiatan belajar mengajar yang diikuti dalam
pelaksanaan kurikulum digunakan pendekatan eksperimen maka kegiatan melakukan
percobaan harus menjadi salah satu aspek yang dinilai. Apabila
pendekatan ketrampilan proses digunakan maka ketrampilan proses juga harus
menjadi objek yang harus dinilai.
h. Mendidik
Hasil
penilaian harus dapat digunakan umtuk membina dan memberikan dorongan kepada
semua siswa dalam meningkatkan hasil belajar, Karen itu, hasil penilaian harus
dinyatakan dan dapat dirasakan sebagai penghargaan bagi siswa yang berhasil
atau sebaliknya merupakan peringatan bagi siswa yang tidak berhasil. Selain itu
hasil penilaian yang dicantumkan dalam raport dapat dijadikan sebagai bahan
pertanggungjawaban siswa kepada orang tua yang telah memberikan kesempatan
untuk memperoleh pendidikan. Dengan demikian usaha penilaian dapat
memperkuat perilaku dan sikap yang positif.
Minat Belajar
Minat seseorang ditinjau dari awal mulanya dapat
dibedakan menjadi dua. Pertama minat yang berasal dari pembawaan, kedua minat
yang muncul karena pengeruh dari luar.
Minat sering tumbuh karena adanya bakat, yang merupakan aspek pembwaaan
, sehingga dapat disimpulkan bahwa minat tertentu berasal dari pembawaan. Minat
juga dapat tumbuh melaui proses panjang karena pengaruh lingkungan dan
kebutuhan.
Minat seseorang dapat pula tumbuh karena motifatau
insentif. Perbuatan atau tingkah laku seseorang dapat didorong dengan memberi
insentif –insentif. Berdasarkan ketahanan minat yang dibangkitkan oleh motif
lebih kuat daripada minat yang dibangkitkan oleh insentif.
Ada
tujuh ciri minat yang dikemukakan oleh Hurlock (1990:155), yaitu :
a.
Minat tumbuh bersamaan dengan
perkembangan fisik dan mental. Minat di semua bidang berubah selama terjadi
perubahan fisik dan mental.
b.
Minat bergantung pada persiapan belajar,
seseorang tidak akan mempunyai minat sebelum mereka siap secara fisik dan
mental.
c.
Minat bergantung kepada kesempatan
minat. Dengan bertumbuhnya lingkungan sosial seseorang menjadi terkait pada
minat orang diluar yang mereka kenal.
d.
Perkembangan minatmungkin terbatas.
Ketidak mampuan fisik mental secara pengalaman sosial yang terbatas membatasi
seseorang.
e.
Minat dipengaruhi oleh pengaruh budaya
yang ada pada sekitar orang tersebut hidup dan berinteraksi dengan masyarakat
yang ada di sekelilingnya.
f.
Minat berobot emosional. Bobot emosional
aspek avektif dari minat menentukan kekuatan minat tersebut.
g. Minat dan egosentris.
Aspek-Aspek Minat
Menurut Hurlock (1990:16) minat mempunyai dua aspek
yaitu aspek kognitif dan aspek avektif. Aspek kognitif didasarkan pada konsep
yang dikembangkan individu mengenai bidang yang berkaiatan dengan minat. Karena
minat cenderung egosentris aspek kognitif berdasarkan pada pernyataan apa saja
keuntunga kad prbadi yang diperoleh dari minat itu.
Konsep yang membangun aspek kognitif minat
didasarkan atas pengalaman pribadi dan apa yang dipelakjari dirumah, disekolah,
dan di masyarakat, serta berbagai jenis media masa.
Aspek afektif atau bobot emosional konsep yang
membangun aspek koginitf minat dinyatakan dengan sikap kegiatan yang
ditimbulkan dari minat itu.
Seperti yang telah dikemukakan ke depan, minat
secara umum diartikan sebagai suatu keadaan mental yang menghasilkan respon
terarah kepada situasi atau objek tertentu yang menyenangkan dan memberikan
kepuasan kepadanya. Dengan demikian minat dapat menumbuhkan dan merupakan sikap
yang menunjukkan suatu kesiapan bila da sitiasi khusus yang sesuai dengan
keasaan mental seseorang.
Dari pendapat dan uraian diatas dikatakan bahwa
spek-aspek minat adalah aspek kognitif yang dekat dengan keadaan mental
seseorang yang dapat menimbulkanrespon terendah dan menimbulkan sikap yang
sudah masuk pada aspek afektif.
Pentingnya
pengukuran Minat
Menurut Nurkancana (1986:230-231) terdapat beberapa
alasan mengapa seorang guru perlu mengadakan pengukuran minat. Alasan tersebut
adalah:
a. meningkatkan minat
Setiap guru mempunnyai kewajiban untuk meningkatkan
minat anakdidik. Minat merupakan komonen yang penting dalam kehidupan pada
umumnya dan daam pendidikan dan pengajaran khususnya.
b.
Memelihara Minat yang baru timbul
Apabila anak-anak menunjukkan minat yang kecil, maka
merupakan tugas bagi guru untuk memelihara minat tersebut. Anak yang baru masuk
ke suatu sekolah mungkin belumbegitu banyak menaruh minat pada
aktivitas-aktivitas tertentu. Dalam hal ini guru wajib memperkenalkan
aktifitas-aktifitas tersebut pada anak, apanila nak menunjukkan minatnya maka
guru wajib memelihara minat anak yang baru tumbuh tersbut.
c.
Mencegah timbulnya minat terhadap
hal-hal yang kurang baik.
Oleh karena sekolah merupakan lembaga yang
menyiapkan anak untuk hidup dalam masyarakat, maka sekolah harus mengembangkan
aspek-aspek ideal agar anak menjadi anggota asyarakat yang baik.
d.
Sebagai persiapan untuk memberikan
bimbingan kepada anak tentang lanjutan studi atau pekerjaan yang cocok baginya.
Walaupun minat bukan merupakan indikasi yang pasti, tentang sukses tidaknya
anak dalam pendidikan itu akan datang atau dalam jabatan, namun miinat
merupakan pertimbangan yang cukup berarti kalau dihubungkan dengan data-data
yang lain.
Metode Student Team -
Achievement Division (STAD).
Metode Student Team -
Achievement Division (STAD) adalah metode pembelajaran yang dikembangkan
oleh Slavin pada tahun 1995, yang pada garis besarnya adalah metode pembelajaran yang yang menggunakan
langkah langkah sebagai berikut:
a.
Membentuk kelompok yang anggotanya 4
siswa atau sesuai dengan keadaan kelas secara heterogen
b.
Guru menyajikan pelajaran sesuai dengan
topik bahasan
c.
Guru memberi tugas kepada kelompok untuk
dikerjakan oleh anggota-anggota kelompok. Anggota yang lebih tahu menjelaskan
kepada anggota yang lainnya sehingga semua anggota dalam kelompok itu mengerti.
d.
Guru memberi pertanyaan kepada seluruh
siswa, dan siswa tidak boleh saling membantu
e.
Memberi evaluasi berdasar materi yang
dan disesuaikan dengan kemampuan siswa.
f.
Penutup dan memberikan kesimpulan dari
materi yang telah dibahas.
Rencana Tindakan
Pada
tahap proses rencana tindakan ini, mula-mula guru mendefinisikan konsep-konsep
mendiskripsikan kondisi fisik wilayah dan penduduk yang sukar dikuasai siswa.
Berdasarkan
masalah tersebut, sebagai acuan implementasi tindakan yang dipilih pada konsep
tersebut dipelajari dan diidentifikasi, kemudian guru menyusun rencana
pembelajaran. Rencana pembelajaran ini memuat :
1.
Pengalaman belajar siswa dengan konsep
kejian pustaka tentang Mendiskripsikan
kondisi fisik wilayah dan penduduk.
2.
Sistem pembelajaran dengan cara siswa
dibagi dalam kelompok kecil yang terdiri dari 4 orang siswa dengan salah
seorang menjadi ketua.
3.
Dalam satu kelompok tersebut diberi
permasalahan yang terkait dengan Mendiskripsikan kondisi fisik wilayah dan
penduduk yang mengarah pada kemampuan dasar tertentu.
4.
Kemudian masing-masing kelompok
mengidentifikasikan permasalahan dengan sesama temanya untuk membahas materi
yang telah dipegang sesuai dengan topik yang dihadapi.
5.
Semua kelompok untuk mengungkapkan hasil
bahasannya dalam kelompok diskusi pleno kelas.
6.
Guru memberikan penekanan dan kesimpulan
pada akhir diskusi.
METODE
PENELITIAN
Subjek
Penelitian
Penelitian dilaksanakan di SMPN 1 Balerejo Kecamatan Balerejo Kabupaten Madiun tahun pelajaran 2015/2016 semester I, dengan mengambil objek penelitian
siswa Kelas VIII-E dengan jumlah sampel penelitian 31 siswa.
Penelitian tindakan kelas ini mengambil mata pelajaran IPS.
Seting
Penelitian
Setting atau
konteks akan menjelaskan tentang lokasi sekolah, kelas, mata pelajaran, waktu,
karakteristik sekolah, karakteristik subyek penelitian (siswa), dan
karakteristik peneliti.
Penelitian dilaksanakan di SMPN 1
Balerejo Kecamatan Balerejo Kabupaten Madiun tahun pelajaran 2015/2016 semester I, dengan mengambil objek penelitian
siswa Kelas VIII-E. Penelitian Tindakan Kelas ini mengambil mata pelajaran IPS.
Penelitian tindakan kelas ini dilaksanakan pada bulan Oktober sampai dengan
Nopember 2015.
Kondisi siswa
SMPN 1 Balerejo Kecamatan
Balerejo Kabupaten Madiun kurang lebih
60% siswa berasal dari keluarga dengan keadaan ekonomi menengah ke atas.
Kebanyakan mereka adalah anak pegawai yang kebanyakan selalu ditinggal orang
tuanya bekerja. Dari kondisi inilah menyebabkan perhatian orang tua terhadap anak
sangatlah kurang. Kurangnya perhatian orang tua ini juga menyebabkan kurangnya
minat belajar pada siswa.
Desain
Penelitian
Penelitian ini merupakan penelitian
tindakan kelas yang dilakukan untuk meningkatkan kemampuan minat belajar dan
meningkatkan kerjasama siswa dalam pembelajaran di kelas. Proses
pelaksanaan tindakan kelas melalui empat tahap (dalam 2 siklus) mulai dari (1)
perencanaan (planning), (2) tindakan
(acting), (3) pengamatan (observing), dan (4) refleksi (reflecting) (Depdikbud, 2005 : 4).
1. Perencanaan (Planning)
Pada tahap ini penelitian dan guru secara kolaboratif
megadakan kegiatan sebagai berikut:
a. Mengamati teknik pembelajaran yang digunakan guru dalam
pembelajaran sebelumnya,
b. Mengidentifikasi faktor-faktor hambatan dan kemudahan yang ditemui
guru dalam pembelajaran sebelumnya,
c. Merumuskan alternatif tindakan
yang akan dilakasanakan dalam pembelajaran
sebagai upaya untuk meningkatkan kemampuan siswa dalam minat belajar
IPS, dan meningkatkan kerjasama siswa dalam pembelajaran di kelas,
d. Menyusun rancangan pelaksanaan
pembelajaran dengan teknik STAD meliputi (1) pemilihan tema bacaan dengan
benar-benar relevan dengan kehidupan sekitar siswa, menarik perhatian siswa, dan memberi wawasan
dan pengetahuan baru yang menantang kreatifitas berfikir, (2) pemilihan
prosedur yang benar-benar efektif, efisien, dan kreatif; (3) mengatur tata
letak dan tempat duduk yang dapat menimbulkan suasana aman, nyaman dan relaks,
sehingga suasana pembelajaran menjadi menyenangkan; dan (4) panduan teknik
STAD.
2.
Pelaksanaan (Acting)
Dalam tahap pelaksanaan, peran
peneliti adalah (1) merancang intervensi yang berkaitan dengan pelaksanaan
bacaan Mendiskripsikan kondisi fisik wilayah dan pendudukdengan metode teknik
STAD dengan cara mengkomunikasikan dan bernegosiasi dengan praktisi (guru)
sehingga diperoleh kesempatan tentang rancangan tindakan yang direncanakan; (2)
bekerja dengan praktisi dalam melaksanakan tindakan yang direncanakan; (3)
peneliti berperan sebagai pendamping praktisi (guru) untuk memberikan
pengarahan, motivasi dan stimulus agar praktisi (guru) untuk melaksanakan
perannya berdasarkan rencana.
3. Pengamatan (Observing)
Pemantauan secara menyeluruh (komperhensif) terhadap pelaksanaan
tindakan dengan menggunakan instrumen pengumpul data yang telah dibuat sehingga
diperoleh data empirik pelaksanaan tindakan pembelajaran, kendala yang
dihadapi, serta kesempatan dan peluang yang berkaitan dengan penggunaan teknik
STAD dalam pembelajaran, khususnya kemampuan Mendiskripsikan kondisi fisik wilayah
dan penduduk. Data tersebut dijadikan sebagai bahan untuk melakukan refleksi.
4. Refleksi (Reflecting)
Peneliti dan praktisi
mendiskusikan hasil pengamatan tindakan yang telah dilaksanakan. Hal-hal yang
dibahas adalah (1) analisis tentang tindakan yang dilakukan; (2) mengulas dan
menjelaskan perbedaan rencana dengan pelaksanaan tindakan yang telah dilakukan;
(3) melakukan intervensi, pemaknaan dan penyimpulan data yang telah diproses,
serta melihat hubungan dengan teori dan rencana yang telah ditetapkan.
Instrumen
Penelitian
a.
Untuk penulisan data yang valid maka
disiapkan:
b. Lembar observasi untuk memperoleh
data secara akurat.
c. Tes
hasil belajar untuk memperoleh tingkat keberhasilan metode pembelajaran. Dimana
keberhasilan metode ini meliputi:
1.
Keaktifan siswa dalam mengikuti kegiatan
belajar mengajar
2.
Peningkatan hasil belajar, khususnya
mata pelajaran IPS.
3.
Peningkatan minat siswa terhadap mata
pelajaran IPS khususnya pada kompetensi mendiskripsikan kondisi fisik wilayah
dan penduduk.
Teknik Analisis Data
Hal-Hal
yang dilakukan adalah (1) analisis tentang tindakan yang dilakukan; (2)
mengulas dan menjelaskan perbedaan rencana dengan pelaksanaan tindakan yang
telah dilaksanakan; (3) melakukan intervensi, pemaknaann, dan penyimpulan data
yang telah diperoleh, serta melihat hubungan dengan teori dan rencana yang
telah ditetapkan.
Data yang diperoleh dalam penelitian ini adalah data
kuantitatif yang berasal dari nilai kemampuan minat belajar IPS, nilai afektif
siswa, dan hasil post test dilihat dari pencapaian standar ketuntasan belajar
minimal (SKM).
Agar mendapat gambaran yang jelas, maka
teknik statistik yang digunakan dengan
rumus mean (rata-rata), yaitu: M = 
Keterangan: M = Nilai rata-rata
∑
x = Jumlah nilai siswa
N
= Jumlah siswa
Untuk mengetahui prosentase ketuntasan belajar dengan rumus:
Jumlah siswa tuntas
%
ketuntasan = ------------------------- x 100
Jumlah
seluruh siswa
Hasil
Penelitian
Siklus Pertama
a.
Perencanaan (Planning)
Pada tahap proses rencana tindakan
ini, mula-mula guru mengidentifikasikan konsep-konsep IPS pada kompetensi dasar
mendiskripsikan kondisi fisik wilayah dan penduduk yang sukar dipahami siswa.
Berdasarkan masalah tersebut,
sebagai acuan implementasi tindakan yang dipilih pada konsep tersebut
dipelajari dan diidentifikasi, maka guru menyusun rencana pembelajaran. Rencana pembelajaran ini memuat:
1)
Pengalaman belajar dengan konsep kajian
pustaka
2)
Sistem pembelajaran dengan cara siswa
dibagi dalam kelompok-kelompok kecil yang terdiri dari 4 orang siswa dengan
salah seorang menjadi ketua
3)
Dalam satu kelompok tersebut diberi
permasalahan yang terkait dengan pokok bahasan yang mengarah pada kemampuan
dasar tertentu dalam hal ini kompetensi dasar mendiskripsikan kondisi fisik
wilayah dan penduduk.
4)
Kemudian masing-masing kelompok
mengidentifikasikan permasalahan dengan sesama temanya untuk membahas materi
yang telah dipegang sesuai dengan topik yang dihadapi.
5)
Semua kelompok diminta untuk
mengungkapkan hasil pembahasannya dalam kelompok diskusi pleno kelas
6)
Guru memberikan penekanan dan kesimpulan
pada akhir diskusi terkait dengan bacaan.
b.
Pelaksanaan (Acting)
Pelaksanaan penelitian tindakan
kelas (PTK) ini dilakukan pada saat kegiatan belajar mengajar IPS di sekolah.
Hasil pelaksanaan siklus I adalah rata-rata nilai 75 dan ketuntasan
belajar 53.85%
c.
Observasi (Observing)
Observasi dilakukan secara terus
menerus dalam proses pembelajaran maupun pada hasil belajar. Evaluasi dilakukan
terhadap dampak dari pemberian metode STAD selama proses belajar mengajar
terhadap hasil belajar dan peningkatan minat sisiwa.
Dari hasil evaluasi diketahui
keefektifan metode STAD yang telah disusun, untuk memperbaiki akan diberikan
pada siklus II. Selain itu hasil observasi juga memberikan petunjuk apakah
pengajaran remidi perlu dilakukan pada akhir siklus II.
Hasil pengamatan pada siklus I sebagai berikut:


d. Refleksi
Adapun hasil penelitian pada
siklus I adalah sebagai berikut: Pada siklus pertama proses kegiatan belajar
mengajar tidak seperti yang diharapkan, hal ini mungkin disebabkan dari:
1) Penyebaran
anak-anak pandai tidak merata dalam setiap kelompok. Hal ini disebabkan pembagian
kelompok diatus secara acak.
2)
Jumlah kelompok pada siklus I mungkin
terlalu banyak dimana satu kelompok terdiri dari 7 siswa. Hal ini tidak sesuai
dengan teori yang diungkapkan Selvin dimana setiap kelompok terdiri dari 4
heterogen menurut prestasi, jenis kelamin, suku dan sebagainya.
3)
Tidak ada sarana dan prasarana penunjang
lain seperti buku paket penunjang yang sesuai sehingga kesiapan siswa kurang
baik.
4)
Tidak cukup waktu bagi siswa untuk
memahami modul atau diktat karena dibagikan secara mendadak.
Dengan asumasi kurang efektifan
dalam proses belajar mengajar yang meliputi 4 faktor tersebut, maka hal ini
diperbaiki pada siklus II.
Siklus Kedua
a.
Perencanaan
Pada tahap proses rencana
tindakan ini, mula-mula guru mengidentifikasikan konsep-konsep IPS yang sukar
dipahami siswa.
Berdasarkan masalah tersebut,
sebagai acuan implementasi tindakan yang dipilih pada konsep tersebut
dipelajari dan didentifikasi, maka guru menyusun rencana pembelajaran yang memuat:
1)
Pengalaman belajar dengan konsep kajian
pustaka
2)
Sistem pembelajaran dengan cara siswa
dibagi dalam kelompok-kelompok kecil yang terdiri dari 4 orang siswa dengan
salah seorang menjadi ketua sama dengan pada siklus I.
3)
Dalam satu kelompok tersebut diberi
permasalahan yang terkait dengan pokok bahasan yang mengarah pada kemampuan
dasar tertentu dalam hal ini kompetensi dasar mendiskripsikan kondisi fisik
wilayah dan penduduk.
4)
Kemudian masing-masing kelompok
mengidentifikasikan permasalahan dengan sesama temanya untuk membahas materi
yang telah dipegang sesuai dengan topik yang dihadapi.
5)
Semua kelompok untuk mengungkapkan hasil
bahasannya dalam kelompok diskusi pleno kelas
6)
Guru memberikan penekanan dan kesimpulan
pada akhir diskusi
b.
Pelaksanaan
Tindakan utama pada siklus II adalah pemberian modul/diktat
tentang bacaan untuk meningkatkan kemampuan awal siswa dan merevisi kesalahan-kesalahan konsep
pada siklus I, yang mungkin menyebabkan hambatan-hambatan bagi pengembangan
pemahaman siswa atas konsep-konsep yang akan dipelajari.
Hasil penilaian pada siklus II
adalah rata-rata nilai 82.58 dan
ketuntasan belajar 96.77%
c.
Observasi (Observing).
Observasi dilakukan secara
kontinue dalam proses pembelajaran maupun pada hasil belajar. Evaluasi
dilakukan terhadap dampak dari pemberian metode STAD selama proses belajar
mengajar terhadap hasil belajar dan peningkatan minat siswa.
Hasil pengamatan siklus II sebagai berikut:


d.
Refleksi
Pada siklus II proses kegiatan
belajar mengajar sudah lebih baik dari siklus I hal ini disebabkan
kelemahan-kelemahan pada siklus I sudah diperbaiki antara lain :
1)
Penyebaran anak disesuaikan dengan
kemampuan anak dalam kelas tersebut.
2)
Kelompok siswa diperbaki dengan pengertian
penyebaran heterogen satu kelompok terdiri dari 4 siswa.
3)
Sarana media pembelajaran dilengkapi
4)
Modul atau materi pembelajaran diberikan
lebih awal sehingga siswa lebih siap dalam proses belajar mengajar.
Pembahasan
Berdasarkan hasil penilaian dan pengamatan siswa
guru menunjukkan bahwa dengan menggunakan STAD dapat membantu siswa dalam
meningkatkan mendiskripsikan kondisi fisik wilayah dan penduduk.
Tabel
Perbandingan Rata-rata Nilai dan
ketuntasan Belajar Setiap Siklus
|
|
Siklus I
|
Siklus
II
|
|
Rata-rata
|
75
|
82.58
|
|
Ketuntasan belajar
|
53.85%
|
96.77%
|
Dari hasil pelaksanaan dan pengamatan
siswa dan guru cenderung lebih baik setiap siklus, maka dapat disimpulkan bahwa
; Ada Peningkatkan Prestasi Belajar IPS Melalui
Metode STAD (Student Team
Achievement Division) Siswa Kelas VIII-E SMPN 1 Balerejo Kabupaten
Madiun Semester Ganjil Tahun Pelajaran 2015/2016”.
Kesimpulan
Pada
kegiatan belajar mengajar akan berlangsung dengan baik dan kondusif apabila
suasana dan kondisi proses belajar mengajar yang terkait akan tercapai. Hal ini
dipengaruhi oleh guru, aktifitas siswa, pihak sekolah dan orang tua serta
lingkungan yang kondusif dan mendukung pendidikan itu khusunya dalam pendidikan
formal bahwa guru dan mutu pembelajaran serta keaktivan siswa dalam merespon informasi
yang ada.
Adapun proses perubahan yang diharapkan adalah dari
aspek:
1. Guru
Guru mendominasi di kelas menjadi
fasilitator
2. Siswa
Siswa yang dianggap sama (prestasi sama) menjadi
pelayan perbedaan perseorangan (prestasi sesuai dengan kemampuan masing-masing)
3.
Pengelolaan kelas dari klasikal menjadi
individual dan individual menuju klasikal, individual, kelompok dan berpasangan
4.
Interaksi satu arah (dari guru ke murid
berubah menjadi dua arah (guru – murid dan murid – guru)
Melihat
hasil penelitian tindakan kelas dengan metode STAD dapat membangkitlkan minat
siswa terhadap mata pelajaran IPS, hal ini tercermin dari:
1.
Proses belajar mengajar berlangsung di
kelas
2.
Tanggapan siswa positif. Hal ini
tercermin dari hasil evaluasi yang dilaksanakan di kelas
3.
Pengelolaan kelas lebih kondusif dan
dinamis.
Saran-Saran
1.
Dalam menggunakan metode STAD sebaiknya:
2.
Modul/diktat bahan ajar diberikan lebih awal, sehingga ada cukup
waktu bagi siswa untuk memahami
3.
Tugas diberikan pada siswa dalam bentuk
eksperimen
4.
Pada akhir pelaksanaan STAD hendaknya
diadakan penegasan konsep.
DAFTAR
PUSTAKA
A.M.
Sadirman, 1996, Interaksi dan Motivasi Belajar Mengajar, Jakarta: Raja
Grafindo Persada.
Budi Sulistyo, Hasan, dkk. 2004. IPS Untuk SD/MI. Jakarta: Erlangga
Buku Workshop di Batu Malang. 2005. Pedoman
Pelaksanaan penelitian Tindakan kelas. Dinas Pendidikan dan Kebudayaan
Propinsi Jawa Timur.
Departemen
Pendidkan Nasional. Kurikulum 2004, SMP.
Pedoman Khusus Silabus Dan Penilaian.
S. Alam, M.M. 2001. IPS untuk SD. Jakarta: Erlangga.
Slameto,
1995, Belajar dan Faktor-Faktor yang Mempengaruhinya. Jakarta: Rineka
Cipta.
Undang-Undang
RI No. 20 Tahun 2003, Bandung: Citra Umbara, 2003.
Tim Pelatih
Proyek PGSM. 1999. Penelitian Tindakan
Kelas (Classroom Action Reseach).
Departemen Pendidikan Dan Kebudayaan. Proyek Pengembangan Guru Sekolah
Menengah.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar