Senin, 01 Oktober 2018

PENINGKATAN KETERAMPILAN SPEAKING BAHASA INGGRIS MELALUI METODE ROLE PLAYING BAGI SISWA KELAS VII C SMP NEGERI 2 PILANGKENCENG KABUPATEN MADIUN TAHUN AJARAN 2014/2015


PENINGKATAN KETERAMPILAN SPEAKING BAHASA INGGRIS MELALUI METODE ROLE PLAYING BAGI SISWA KELAS VII C SMP NEGERI 2 PILANGKENCENG KABUPATEN MADIUN TAHUN AJARAN 2014/2015

Oleh : Wardji, S.Pd,
Guru SMPN 2 Pilangkenceng Kabupaten Madiun

ABSTRAK
Kata kunci : keterampilan speaking, Bahasa Inggris, Role Playing

Penelitian ini bertujuan untuk meningkatkan keterampilan speaking Bahasa Inggris melalui metode Role Playing pada siswa kelas VII C SMP N 2 Pilangkenceng  Jenis penelitian ini adalah Penelitian Tindakan Kelas (PTK) model Kemmis dan Taggart.
Penelitian ini dilaksanakan dalam dua siklus dan masing-masing siklus terdiri dari dua kali pertemuan. Subjek penelitian adalah siswa kelas VII C SMP N 2 Pilangkenceng  tahun ajaran 2014/2015 yang berjumlah 21 siswa.
Metode pengumpulan data mengunakan lembar observasi aktivitas siswa dan soal tes unjuk kerja speaking. Teknik analisis data yang digunakan pada penelitian ini adalah analisis deskriptif kuantitatif dan kualitatif.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa melalui penggunaan Role Playing dapat meningkatkan keterampilan speaking Bahasa Inggris pada siswa kelas VII C SMP N 2 Pilangkenceng  . Peningkatan dibuktikan dengan hasil skor rata-rata pre test sebesar 53,23 (kategori kurang); siklus I sebesar 64,69 (kategori cukup); siklus II sebesar 75 (kategori baik). Selain hasil tersebut, siswa juga menjadi lebih lancar dalam berbicara menggunakan kosa kata Bahasa Inggris di depan siswa lain.


Latar Belakang
Bahasa Inggris merupakan bahasa internasional yang digunakan oleh banyak negara-negara di dunia untuk bersosialisasi satu dengan lainnya. Oleh sebab itulah Pembelajaran Bahasa Inggris sangat penting khususnya di SMP yang mana Bahasa Inggris dijadikan maple yang harus dikuasai siswa . Sama halnya seperti pembelajaran bahasa pada umumnya, pembelajaran Bahasa Inggris juga diarahkan untuk mengembangkan keterampilan-keterampilan bahasa sesuai dengan Lampiaran Peremndiknas No. 22 Tahun 2006 tenatang Standar Isi yaitu: mendengarkan (listening)  membaca (reading), menulis (writing) dan yang terakhir berbicara (speaking) (Badan Standar Nasional Pendidikan, 2006: 357). Keempat keterampilan diatas hendaknya dapat disampaikan guru dengan strategi pembelajaran menarik yang dapat mengembangkan pemahaman dan keterampilan siswa.
Guru tidak hanya merencanakan pembelajaran tetapi juga mengembangkan keahlian dan metode baru, dan membuat siswa lebih tertarik. Guru hendaknya tidak hanya berfokus pada satu aspek pembelajaran tetapi juga pada setiap aspek, karena keterampilan satu aspek akan mendukung keterampilan aspek lainnya.
Pelaksanaan program pembelajaran Bahasa Inggris sebagai mata pelajaran  baru bagi siswa kelas VII mengapa dikatakan baru karena mayoritas  SD di sekitar SMP Negeri 2 Pilangkenceng tidak menggunakan bahsa Inggris sebagai muatan local ,maka pembelajaran bahasa Inggris disini perlu disusun dengan baik sebagai bekal siswa nantinya dalam menghadapi perkembangan zaman. Bahasa Inggris bisa menjadi salah satu mata pelajaran wajib di tingkat SMP  untuk mengenalkan siswa pada Bahasa Inggris yang sudah dipakai di banyak negara. Dengan mengenalkan siswa pada Bahasa Inggris lebih awal, siswa juga mempunyai pengetahuan lebih tentang Bahasa Inggris untuk melanjutkan ke jenjang yang lebih tinggi.
Standar Kompetensi dan Kompetensi Dasar Bahasa Inggris untuk SMP . Pembelajaran bahasa Inggris di SMP/MTs ditargetkan agar peserta didik dapat mencapai tingkat functional yakni berkomunikasi secara lisan dan tulis untuk menyelesaikan masalah sehari-hari, sedangkan untuk SMA/MA diharapkan dapat mencapai tingkat informational karena mereka disiapkan untuk melanjutkan pendidikannya ke perguruan tinggi. Tingkat literasi epistemic dianggap terlalu tinggi untuk dapat dicapai oleh peserta didik SMA/MA karena bahasa Inggris di Indonesia berfungsi sebagai bahasa asing..
Tapi siswa kelas VII SMP Negeri 2 Pilangkenceng masih mengalami kesulitan dalam pelajaran bahsa Inggris khususnya ketrampilan berbicara ( speaking ) mereka menganggap ketrampilan speaking sangat sulit dan hal yang baru dalam pembelajaran bahasa Inggris .Hal tersebut menyebabkan nilai mata pelajaran Bahasa Inggris siswa yang menurun.
Metode pembelajaran akan sangat berpengaruh agar siswa tertarik untuk mengikuti suatu pembelajaran. Cepat atau lambatnya seorang siswa dalam mempelajari Bahasa Inggris harus banyak diberikan praktek berbicara atau speaking. Oleh karena itu Saat belajar Bahasa Inggris, siswa perlu menggunakan kegiatan atau interaksi yang efektif dan menyenangkan agar siswa tidak bosan dengan pembelajaran. Banyak siswa yang sudah bosan dengan kegiatan-kegiatan pembelajaran. Hal itu menjadi salah satu penyebab turunnya motivasi siswa untuk belajar Bahasa Inggris.
Berdasarkan penelitian Dra. Charlotte A. Harun, MPd. & Siti Nadiroh, SPd. Role Play dalam Pembelajaran speaking di Kelas VIII  laboratorium UPI kampus Cibiru kecamatan Cileunyi kabupaten Bandung, kemampuan lisan siswa khususnya speaking sangat rendah, sehingga mengakibatkan minimnya prestasi siswa dalam mata pelajaran Bahasa Inggris. agar pembelajaran speaking Bahasa Inggris memperoleh hasil yang baik, Dra. Charlotte A. Harun, MPd. & Siti Nadiroh, SPd.menyampaikan bahwa para guru perlu menciptakan proses belajar-mengajar yang lebih menyenangkan dan lebih praktis.
Hal tersebut juga terjadi di SMP Negeri 2 Pilangkenceng  tahun ajaran 2014/2015. Berdasarkan hasil observasi pada tanggal 4 dan 6 Pebruari 2015, ditemukan bahwa kemampuan speaking siswa di SMP 2 Pilangkenceng masih rendah. Hal tersebut dibuktikan dengan banyaknya siswa yang belum memenuhi nilai KKM pada aspek speaking. Banyak nilai siswa yang kurang dari 70. Sejumlah  10 siswa yang memenuhi KKM  diantara 24 siswa.
Saat kegiatan pembelajaran Bahasa Inggris berlangsung banyak siswa yang gaduh tidak memperhatikan pembelajaran. kegiatan pembelajaran cenderung berpusat pada guru. Pembelajaran Bahasa Inggris lebih serinng dilakukan dengan mengerjakan soal di buku atau di papan tulis. Guru jarang melakukan praktek speaking Bahasa Inggris untuk meningkatkan keterampilan speaking Bahasa Inggris siswa. Padahal untuk meningkatkan keterampilan speaking Bahasa Inggris siswa, guru perlu mengajarkan keterampilan speaking dari yang termudah menuju yang lebih sulit agar siswa cepat mengalami perkembangan dalam aspek-aspek seperti pronunciation, fluency, intonation, dan expression.
Keterampilan speaking Bahasa Inggris bukan merupakan suatu hal yang mudah untuk dipelajari bagi siswa karena masih merupakan hal yang asing bagi mereka. Butuh waktu yang lebih untuk mempelajarinya agar kemampuan speaking menjadi meningkat karena Bahasa Inggris merupakan hal yang masih baru bagi siswa. Siswa masih terpengaruh dengan kebiasaan menggunakan bahasa sehari-hari yang mereka gunakan untuk berbicara yang mempunyai pelafalan yang berbeda yang juga berbeda arti dan pelafalannya. Siswa juga masih banyak yang lupa kata-kata dalam Bahasa Inggris. Tetapi banyak siswa yang masih takut dan malas untuk mempelajari keterampilan speaking Bahasa Inggris. Hal itulah yang membuat kekhawatiran siswa akan membuat kesalahan dan takut jika siswa lain tidak paham atau menertawakannya menjadi tidak hilang. Karena itulah banyak siswa masih takut untuk melakukan praktek speaking Bahasa Inggris. Hal tersebut menyebabkan kemampuan speaking Bahasa Inggris menjadi rendah.
Dalam rangka mengembangkan pembelajaran speaking Bahasa Inggris siswa, maka perlu adanya metode yang menarik. Salah satunya yaitu metode Role Playing. Dengan menggunakan metode Role Playing, siswa menjadi aktif karena terlibat langsung dalam mata pelajaran hal tersebut akan membuat siswa tertarik pada materi atau suatu mata pelajaran. Selain membuat siswa tertarik pada mata pelajaran, keterampilan speaking Bahasa Inggris siswa juga akan meningkat karena metode tersebut dapat meningkatkan keterampilan speaking siswa dengan mempraktekkan secara langsung sesuai peran yang diberikan. Dengan Role Playing siswa bisa secara langsung masuk dalam aktivitas komunikasi menggunakan Bahasa Inggris yang akan mengembangkan keterampilan penggunaan Bahasa Inggris mereka.
Minimnya praktek speaking yang dilakukan oleh siswa, mengakibatkan keterampilan speaking siswa kelas VII SMP N 2 Pilangkenceng  menjadi lebih rendah daripada keterampilan writing maupun listening. Berdasarkan uraian di atas, peneliti memilih metode Role Playing untuk meningkatkan keterampilan speaking dalam kegiatan pembelajaran Bahasa Inggris, karena metode tersebut dapat digunakan untuk menciptakan suasana pembelajaran Bahasa Inggris yang aktif.

Rumusan Masalah
Bagaimana meningkatkan keterampilan speaking Bahasa Inggris siswa kelas VII SMP N 2 Pilangkenceng  melalui metode Role Playing?

Tujuan Penelitian
Penelitian ini bertujuan untuk meningkatkan keterampilan speaking Bahasa Inggris melalui metode Role Playing pada kelas VII SMP N 2 Pilangkenceng  .

Manfaat Penelitian
1.   Bagi Siswa:
a.    Dapat memberikan pengalaman baru dalam belajar Bahasa Inggris khususnya speaking dengan menggunakan metode Role Playing.
b.   Melatih siswa untuk berbicara Bahasa Inggris dengan menggunakan metode Role Playing.
c.    Kegiatan pembelajaran diharapkan lebih menarik bagi siswa sekaligus untuk mengurangi rasa takut siswa pada pelajaran Bahasa Inggris.
2.   Bagi Guru
a.    Guru dapat menggunakan metode Role Playing dalam pembelajaran Bahasa Inggris khususnya untuk belajar speaking.
b.   Dapat dijadikan alternatif bagi guru agar dalam kegiatan pembelajaran tidak hanya dengan metode ceramah dan fokus pada soal-soal. Karena jika guru lebih banyak berbicara, siswa akan menjadi pasif.
3.   Bagi Sekolah
a.    Dapat menjadi masukan bagi sekolah dalam mendukung kegiatan pembelajaran pembelajaran Bahasa Inggris di VII SMP N 2 Pilangkenceng 

Kajian Pustaka
Keterampilan Berbahasa
Salah satu fungsi utama bahasa adalah untuk menyampaikan pesan darisatu orang ke orang lainnya. Setiap manusia di dunia ini harus mempunyaiketerampilan berbahasa untuk bersosialisasi dengan lingkungan sekitarmereka. Dengan bahasa, kita dapat menyampaikan perasaan, pikiran, salamdan rasa simpati kepada mereka. Berbicara untuk mengungkapkan keinginiansudah diperoleh oleh manusia sejak mereka asih bayi. Iskandarwassid danDadang Suhendar (2009: 241) menyatakan bahwa keterampilan berbicara pada hakikatnya merupakan keterampilan memproduksi arus sistem bunyi artikulasi untuk menyampaikan kehendak, kebutuhan perasaan dan keinginan kepada orang lain. Manusia belajar menggunakan bahasa ibu untuk berkomunikasi dengan sekitar­nya sejak ia bayi. Kegiatan belajar bahasa dipengaruhi beberapa tahapan. Dari mulai mendengarkan, memikirkan, lalu menirukan­nya.
Jenjang pendidikan Sekolah Menegah adalah jenjang dimana siswa mempunyai rasa ingin tahu dan motivasi yang tinggi. Hal tersebut dapat dimanfaatkan dalam kegiatan pembelajaran Bahasa Inggris karena Bahasa Inggris masih baru bagi siswa. Untuk menarik siswa agar tertarik dengan pembelajaran Bahasa Inggris dibutuhkan kerjasama guru dengan siswa. Wina Sanjaya (2010: 26) mengungkapkan bahwa proses kerja sama antara guru dansiswa dalam memanfaatkan segala potensi dan sumber yang ada baik potensiyang bersumber dari dalam diri siswa itu sendiri seperti minat, bakat, dankemampuan dasar yang dimiliki termasuk gaya belajar maupun potensi yangada di luar diri siswa seperti lingkungan, sarana dan sumber belajar sebagaiupaya untuk mencapai tujuan belajar tertentu.
Berdasarkan pendapat Wina Sanjaya tersebut, guru bisa memanfaatkanguru dan siswa bisa bersama-sama untuk mencapai tujuan pembelajarandengan proses yang telah dirancang. Dimyati dan mudjono (2002: 157) mengungkapkan pembelajaran merupakan proses yang diselenggarakan olehguru untuk mendidik siswa dalam memperoleh pengetahuan, keterampilan,dan sikap. Pengetahuan tidak hanya difokuskan pada satu aspek saja, tetapisemua aspek yang ada dalam diri siswa.
Berbagai aspek dalam Bahasa Inggris harus dikuasai siswa untuk mendukung siswa dalam bersosialisasi di kehidupan zaman yang semakinmaju. James Paul Gee (2014: 2) mengungkapkan,
language serves a greatfunction in our lives. Giving and getting information is by no means the onlyone. Of course, language does allow us to-inform each other.
Berdasarkan pendapat James tersebut, bahasa merupakan salah satu hal yang penting dalama kehidupan manusia. Dengan bahasa, manusia dapat bertukar informasisatu dengan lainnya.
Dalam era globalisasi yang semakin maju, manusia tidak hanyamembutuhkan bahasa ibu untuk berkomunikasi. Hal tersebut jugadiungkapkan oleh Rebecca Galbeano (2011: 324),
Because a multiculturalworld needs citizens with language proficiency, language specialistsencourage the maintenance and development of native-language skills inbilingual children.
Dalam perkembangan zaman yang semakin maju siswa juga harus diberikan keterampilan berbahasa tidak hanya Bahasa ibu saja. Bahasa Inggris membantu siswa menghadapi era yang semakin maju apalagi di kota kita yang sering berdatangan turis asing. James (2014: 2) mencontokan jika ada oranglain memberikan salam pada kita “how are you”, tetapi kemudian kita tidak bisa membalas salam dari mereka maka apa yang ada dipikiran orang tersebut? Bisa saja mereka berpikir bahwa kita adalah orang yang sombong.
Keterampilan menggunakan Bahasa Inggris dimulai sejak Sekolah Dasar bahkan kanak-kanak karena Bahasa Inggris sudah dianggap sebagai bahasa global. Pengalaman belajar Bahasa Inggris di Indonesia cenderung kurang menyenangkan bagi siswa. Anak-anak memandang bahwa Bahasa Inggris merupakan bahasa yang sulit bagi siswa di Indonesia. Banyak siswa dikelas yang memilih lebih baik diam daripada berbuat kesalahan. Padahal membuat kesalahan merupakan hal yang wajar bagi orang yang sedang belajar.

Metode Role Playing
Bahasa Inggris khususnya speaking banyak dianggap sebagai pelajaran yang sulit karena Bahasa Inggris merupakan suatu bahasa yang masih asing bagi siswa. Tetapi ada pula yang menganggap pelajaran tersebut merupakan pelajaran favorit. Salah satu yang membuat Bahasa Inggris menjadi pelajaran yang menarik adalah kegiatan pembelajarannya. Jeremy Harmer (2001:271) menyebutkan bahwa salah satu kegiatan yang bisa diterapkan guru dalam kegiatan berbicara yaitu simulation and Role Playing .
Dengan mendengarkan Bahasa Inggris, anak akan mampu menirukan ucapan yang ia dengarkan. Karena dengan mendengarkan, siswa bisa belajar berbicara Bahasa Inggris lebih banyak karena cenderung berbeda antara penulisan dan pengucapan. Ada banyak cara yang bisa digunakan untuk meningkatkan keterampilan berbicara Bahasa Inggris salah satunya dengan berdialog. Berdialog juga bisa suatu latihan atau praktek penggunaan Bahasa Inggris karena pembelajaran Bahasa Inggris tidak cukup hanya pada teori saja.
Salah satu latihan atau praktek yang bisa digunakan dalam kegiatan  pembelajaran Bahasa Inggris adalah Role Playing. Siswa bisa belajar sambil bermain dengan metode Role Playing.
Martha Taylor Dever (2001: 3) mengungkapkan
Adults play an important role in childrens sociodramatic play. They assist children in extending their play themes and interests, enrich their language and plot development, and facilitate as children explore and practice literacy.
Pada intinya Role Playing merupakan sebuah contoh dari “learning by doing”. Role atau peran adalah siswa yang harus aktif mengaplikasikan pengetahuan, keterampilan, dan pemahaman untuk dapat berbicara dan bertindak dengan baik. Dan play yang artinya bermain adalah siswa menggunakan imajinasi mereka dan bersenang-senang dalam memperaagakan bagian mereka pada sebuah lingkungan.
Helena Ceranic (2011: 71) mengatakan Memberikan peran karakter tertenu kepada siswa dapat membantu mereka mengembangkan bahasa dan ide yang tepat terhadap tugas – hal ini juga memastikan bahwa ada cukup pandangan dan posisi kontradiktif untuk mengembangkan dan mempertahankan debat dalam sebuah penampilan. Misalnya, untuk tugas ulasan film, saya mengubahnya menjadi suatu format dimana satu siswa menjadi presenter, mewawancarai para tamu, siswa lain menjadi sutradara film dan kemudian dua siswanya berperan sebagai guru Bahasa Inggris dan siswa GCSE. Cara ini memberikan konteks yang lebih besar kepada tugas untuk dikerjakan, dan tidak membuat siswa merasa seolah-olah mereka hanya melakukan percakapan tidak resmi tentang pandangan mereka sendiri.
Menurut pendapat Helena tersebut siswa bisa belajar untuk berperan sebagai orang lain dan memahami pekerjaan orang tersebut. Prasetyo (2001: 72) mengatakan pembelajaran dengan Role Playing adalah suatu cara penguasaan bahan-bahan pelajaran melalui pengembangan imajinasi dan penghayatan siswa. Pengembangan imajinasi dan penghayatan itu dilakukan siswa dengan memerankannya sebagai tokoh hidup atau benda mati. Metode ini banyak melibatkan siswa dan membuat siswa senang belajar serta metode ini mempunyai nilai tambah, yaitu: a) dapat menjamin partisipasi seluruh siswa dan memberi kesempatan yang sama untuk menunjukkan kemampuannya dalam bekerjasama hingga berhasil, dan b) permainan merupakan pengalaman yang menyenangkan bagi siswa .
Dengan kegiatan Role Playing, siswa juga tidak hanya bisa belajar berbicara, tetapi juga bisa belajar berinteraksi dengan berdialog menggunakan Bahasa Inggris. Tukiran juga menyatakan bahwa Role Playing merupakan sosiodrama yang berasal dari kata sosio dan drama, sosio berarti masyarakat menunjukkan pada kegiatan-kegiatan sosial. Dan drama adalah mempertontonkan atau memperlihatkan.
Hal tersebut jika Role Playing dilakukan oleh siswa dalam Bahasa Inggris, diharapkan agar siswa bisa berlatih untuk bersosialisasi dengan masyarakat tidak hanya menggunakan bahasa ibu saja melainkan juga dengan menggunakan bahasa luar dengan baik.

Metode Role Playing dalam Pembelajaran Speaking Bahasa Inggris
Dalam kegiatan pembelajaran Bahasa Inggris, banyak guru yang masih menguasai kelas sehingga siswa kurang mendapatkan kesempatan untuk meningkatkan kemampuan berbicara Bahasa Inggris mereka. Kebanyakan guru hanya mengutamakan nilai daripada keterampilan siswa. Padahal, dengan meningkatnya keterampilan siswa akan meningkatkan nilai mereka. Semakin banyak praktek yang dilakukan siswa akan semakin mudah siswa untuk mendapatkan kelancaran Bahasa Inggris. Kelancaran (fluency) adalah suatu yang didambakan oleh semua pelajar yang belajar Bahasa Inggris. Siswa ingin berbicara Bahasa Inggris seperti orang Inggris atau Amerika. Metode adalah salah satu faktor yang penting dalam peningkatan kemampuan berbicara siswa. Dengan metode Role Playing siswa tidak bosan karena bisa belajar sambil bermain. Lesley Hendy (2001: 2) mengatakan
using drama activities with young children puts them on the path of a creative journey and helps them to develop their social, cognitive, and language skills.
Berdasarkan pendapat Lesley Hendy tersebut, siswa tidak hanya belajar ber Bahasa Inggrisdengan lancar  tetapi juga belajar untuk bersosialisasi dengan yang lain. Kelebihan menggunakan metode role play dalam belajar Bahasa Inggris adalah:
1)   Para siswa akan merasa lebih bebas dalam berbicara, relatif tidak ada rasa takut salah, bahkan seringkali timbul canda tawa pada saat mempraktekkan role play.
2)   Siswa pendiam bisa mendapat kesempatan untuk mengekspresikan diri dan berbicara dengan lebih terbuka.
3)   Mengajak berpikir kreatif dengan berkreasi membuat dialog.
4)   Memberi kebebasan bagi siswa untuk mempraktekkan kemampuan berbicaranya dalam situasi yang menyenangkan.
5)   Membangun motivasi dan partisipasi yang intens.
6)   Ruangan kelas yang terbatas seolah-olah menjadi dunia yang tak terbatas dengan kesempatan yang luas untuk membangun percakapan.
7)   Tetapi untuk siswa Sekolah Dasar tentu saja jangan dipaksakan untuk mengajarkan mereka berbicara lancar seperti orang Inggris karena yang penting bagi siswa seusia mereka menurut saya adalah mereka mampu berkomunikasi yang didengarkan dan dimengrti oleh siswa lain atau dengan kata lain prakomunikatif.
8)   Prakomunikatif adalah aktifitas komunikasi yang belum dapat disebut komunikatif benar-benar karena belum ada unsur yang diperlukan agar komunikasi itu disebut wajar.

Hipotesis Tindakan
 “Metode Role Playing dapat meningkatkan Keterampilan Speaking Siswa Kelas VII C SMP N 2 Pilangkenceng ”

Metode Penelitian
Jenis penelitian ini merupakan Penelitian Tindakan Kelas (PTK) secara kolaboratif. Suharsimi Arikunto (2002:82) menyatakan bahwa penelitian tindakan adalah penelitian tentang hal-hal yang terjadi di masyarakat atau sekelompok sasaran dan hasilnya langsung dapat dikenakan pada masyarakat yang bersangkutan. Pada umumnya, penelitian tindakan dilakukan untuk memperbaiki atau meningkatkan kondisi sebelum dilakukan penelitian tindakan. Penelitian ini dilakukan untuk meningkatkan keterampilan speaking Bahasa Inggris siswa kelas VII C SMP N 2 Pilangkenceng.
Partisipan yang terlibat dalam penelitian ini adalah peneliti, Guru Bahasa Inggris Kelas VII C, Ibu Alis, S.Pd seabagai kolaborator dan siswa kelas VII C SMP N 2 Pilangkenceng . Peneliti dan kolaborator bersepakat subjek kelas VII C yang berjumlah 21 siswa karena mempunyai kemampuan yang rendah dalam ketrampilan menulis. Desain penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah model penelitian tindkan  Kemmis dan Taggart yang merupakan pengembangan dari konsep dasar yang diperkenalkan oleh Kurt Lewin. Model yang dikemukakan oleh Kemmis dan Taggart ada 3 tahap yaitu: perencanaan, tindakan & pengamatan, dan refleksi. Adapun gambaran pelaksanaan model yang disampaikan oleh Kemmis dan Taggart tersebut dapat dilihat dari gambar sebagai berikut:
Tahapan-tahapan di atas berbentuk siklus yang dapat berlangsung secara berulang-ulang sampai tujuan penelitian tercapai yaitu sebagai berikut:
Pada tahap perencanaan, menjelaskan apa, mengapa, kapan, di mana, oleh siapa, dan dan bagaimana tindakan tersebut dilakukan. Dalam pelaksanaan rencana tindakan ini dituangkan dalam bentuk Rencana Pelaksanaan Pembelajaran. Pada tahap Pelaksanaan berisi tentang implementasi atau penerapan tindakan di kelas yang diteliti. Pada tahap ini guru harus selalu ingat dan berusaha mentaati apa yang sudah dirumuskan dalam rencana tindakan.
Kegiatan pengamatan yang dilakukan oleh pengamat pada saat berlangsungnya tindakan. Tindakan diberikan oleh guru sedangkan peneliti menjadi observer. Refleksi tindakan merupakan kegiatan untuk mengemukakan kembali apa yang sudah dilakukan. Kegiatan ini lebih tepat dilaksanakan ketika guru pelaksana sudah selesai melakukan tindakan , kemudian mengimplementasikan rancangan tindakan.

Rencana Tindakan
Pra Tindakan
Sebelum melakukan tindakan penelitian, peneliti melakukan tahap pra tindakan terlebih dahulu yang berupa observasi terhadap aktivitas belajar siswa dalam proses pembelajaran Bahasa Inggris yang dilakukan oleh kelas VII C SMP N 2 Pilangkenceng. Tahap observasi ini dilakukan untuk mengetahui aktivitas belajar siswa sebelum dilakukan penelitian.
Sebelum penerapan metode Role Playing, kegiatan pembelajaran masih berpusat pada guru. Beberapa siswa sangat gaduh dan tidak memperhatikan guru saat memberikan penjelasan. Guru ( ibu Alis /kolaborator ) sangat sulit untuk mengkondisikan beberapa siswa laki-laki yang gaduh di kelas. Ada pula  siswa yang tidak fokus pada pembelajaran saat dilakukan observasi dikarenakan ada peneliti yang ikut masuk ke dalam kelas. Ada juga siswa yang melakukan kegiatan lain seperti menggambar saat pelajaran berlangsung.
Dari data yang diambil saat pra tindakan dapat dilihat bahwa keterampilan speaking siswa lebih rendah dibandingkan dengan keterampilan reading. Rata-rata keterampilan reading adalah 70,33 sedangkan rata-rata keterampilan speaking hanya 54.08. Jika dikategorikan, keterampilan reading siswa adalah dalam kategori cukup dan keterampilan speaking siswa masih dalam kategori kurang karena Nilai KKM yang diharapkan adalah 70. Sebanyak 70.83% siswa sudah memenuhi nilai KKM reading dan hanya 16.64% siswa yang memenuhi nilai KKM speaking.

Pelaksanaan Penelitian Tindakan Siklus I
Perencanaan
a)   Menetapkan waktu yang akan digunakan untuk pelaksanaan penelitian tindakan kelas
b)   Menyusun Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP) tentang Kompetensi Dasar yang harus dicapai oleh siswa dengan menggunakan metode Role Playing.
c)   Mempersiapkan sumber dan alat pembelajaran yang akan digunakan dalam setiap kali pelaksanaan tindakan yaitu naskah Role Playing, dan lembar observasi siswa .
d)   Melaksanakan simulasi kegiatan Role Playing agar siswa mengerti bagaimana pelaksanaan kegiatan belajar dengan metode Role Playing.
1) Pelaksanaan tindakan siklus I pertemuan 1
Materi yang digunakan untuk penerapan metode Role Playing adalah tentang bertanya dan memberi informasi yang sederhana. Banyak siswa yang masih takut dan belum siap untuk melakukan kegiatan pembelajaran dengan mengguna­kan metode Role Playing karena siswa belum pernah menggunakan metode tersebut selama pembelajaran berlangsung.
Guru membagikan setiap siswa selembar kertas berupa naskah dialog yang akan dilakukan siswa. Naskah dialog tersebut berisi tentang cara memberi salam, meminta informasi, memberi informasi seperti Hello, how do you do?” “Im fine” “I have to do my homework” Sebelum siswa melakukan Role Playing tersebut, siswa diminta oleh guru untuk membaca bersama-sama membacakan naskah drama yang diberikan. Siswa diminta untuk mengikuti guru berbicara sesuai dengan peran yang ada dalam naskah drama. Saat berlatih dengan guru membaca bersama-sama, Suara yang dikeluarkan siswa terdengar keras. Setelah berlatih membaca naskah drama bersama-sama, guru bertanya kepada siswa tentang isi dari cerita yang ada dalam dialog yang baru saja diberikan. Banyak siswa yang menjawab pertanyaan guru dengan tepat.
Setelah selesai berlatih dengan guru, dan mendengarkan tujuan yang  disampaikan oleh guru, peneliti memperkenalkan diri kepada siswa. Siswa telah dibagi menjadi 10 kelompok secara heterogen oleh guru yang akan diminta untuk mempraktekkan Role Playing di depan kelas. Sebelum melakukan praktek di depan kelas, setiap siswa pindah tempat duduk sesuai dengan kelompok masingmasing.Siswa berlatih secara individu dengan kelompok mereka masing-masing. Setelah itu dilanjutkan dengan praktek setiap kelompok bergantian di depan kelas. Banyak kelompok yang mempunyai nilai kurang dalam kegiatan pertama Role Playing, misalnya:eye contact pada lawan bicara, kurang percaya diri, siswa masih lambat dalam mengucapkan kalimat berBahasa Inggris, banyak jeda saat melakukan dialog, ekspresi yang tidak sesuai dengan isi cerita, gerakan yang masih kaku, tidak menggunakan gesture saat berbicara, kepala menunduk dan sebagainya.Peneliti mengamati kegiatan Role Playing siswa dari belakang. Tetapi saat peneliti mengamati dari bangku belakang, suara siswa tidak dapat terdengar sampai belakang. Peneliti tidak dapat mendengarkan pengucapan Bahasa Inggris siswa secara jelas maupun tepat karena banyak suara siswa yang sangat kecil, sehingga peneliti harus mengamati siswa dari kursi depan.Pembagian kelompok diatur oleh guru sesuai dengan kemampuankemampuan siswa. Guru membagi secara acak, siswa yang mempunyai kemampuan lebih dalam Bahasa Inggris dengan siswa yang mempunyai kemampuan kurang dalam pembelajaran Bahasa Inggis. Banyak siswa yang menolak dengan pilihan kelompok guru, ada pula siswa-siswa yang mematuhi perintah guru. Setiap kelompok berjumlah 2 siswa untuk melakukan dialog dengan menggunakan Bahasa Inggis. Pada saat pertama melakukan dialog dalam Role Playing, siswa belum bisa berdialog tanpa menggunakan naskah. Siswa masih membaca dan masih takut melakukan kesalahan-kesalahan sehingga suara siswa masih terdengar kecil. Meskipun masih membaca naskah, siswa masih banyak membuat kesalahan dalam melakukan Role Playing. Banyak siswa yang masih sulit untuk mengucapkan kata dalam Bahasa Inggris dengan lafal yang tepat. Selain itu, intonasi dan interaksi dengan teman dialog juga kurang.  Hasil Siklus I Pertemuan I, terlihat banyak siswa masih kurang mempelajari materi yang dipraktekkan. hal tersebut menyebakan banyak siswa yang belum mencapai nilai nilai cukup. Rata-rata siswa dalam aspek lafal 52,57, rata-rata aspek kelancaran 49,04, rata-rata aspek intonasi 61,42, dan rata-rata aspek 54,52. Hasil tersebut mengalami peningkatan hanya sebesar 2% dari sebelumnya 53,23. Banyak siswa juga masih sulit untuk tidak memegang naskah saat melakukan praktek.
2) Pelaksanaan tindakan siklus I pertemuan 2
Guru meminta siswa untuk duduk sebangku dengan kelompok masingmasing agar bisa dengan mudah untuk berlatih dengan teman sekelompoknya. Naskah yang akan digunakan oleh siswa masih sama seperti sebelumnya. Sebelum itu guru meminta siswa untuk mempelajari dan menghafal di rumah sebelum mempraktekkannya lagi di depan kelas. Setelah itu, satu per satu kelompok dipanggil oleh guru untuk maju ke depan mempraktekkan apa yang telah di pelajari di rumah.
Hasil dari tindakan Siklus I pertemuan ke dua , telah terjadi peningkatan dalam setiap aspek dibandingkan dengan siklus sebelumnya aspek lafal 64,28, aspek kelancaran 64,52, aspek intonasi 66,90, dan aspek ekspresi 63,09. Hal ini telah mengalami peningkatan 15% dari siklus sebelumnya.

Refleksi Tindakan Siklus I
a)   Siswa masih menggunakan kertas saat maju ke depan melakukan Role Playing, hal ini dikarenakan siswa masih belum hafal dan belum paham isi cerita yang akan ia bawakan.
b)   Banyak siswa yang kurang percaya diri saat di depan kelas melakukan Role Playing sehingga ada siswa yang membelakangi penonton, menutup muka mereka dengan kertas, suara yang di keluarkan sangat kecil dan sebagainya.
c)   Keadaan kelas yang sangat gaduh saat teman mereka maju ke depan kelas. Banyak siswa yang menertawakan, mengolok-olok, dan asyik bermain sendiri.
d)   Siswa masih banyak yang kurang tertarik dengan pelajaran Bahasa Inggris, karena merasa pelajaran Bahasa Inggris sulit untuk dipelajari.
e)   Jam pelajaran Bahasa Inggris yang kurang, padahal kegiatan Role Playing membutuhkan waktu yang cukup banyak untuk berlatih agar siswa bisa memahami isi cerita.
Setelah ditemukan beberapa masalah seperti diatas, peneliti dan guru berdiskusi untuk mencari jalan keluar agar pertemuan berikutnya kendala-kendala yang ada dalam siklus I menjadi berkurang. Solusi pertama adalah guru mewajibkan siswa untuk melakukan praktek Role Playing di depan kelas tanpa menggunakan teks. Guru membebaskan untuk berlatih dengan teman sesuai pilihannya agar timbul rasa percaya diri untuk lebih giat berlatih.
Banyak siswa yang mempunyai minat kurang dan rasa percaya diri yang kurang terhadap Bahasa Inggris. Siswa masih takut atau malu saat melakukan kesalahan pengucapan Bahasa Inggris. Oleh karena itu solusi yang kedua adalah guru memberikan motivasi dan meningkatkan rasa percaya diri siswa agar siswa tidak takut dan malu untuk melakukan kesalahan saat belajar Bahasa Inggris dengan metode Role Playing. Selain itu, pada pertemuan sebelumnya guru menjelaskan tentang isi cerita dan memberikan contoh cara menggunakan ekspresi yang benar saat berkomunikasi. Solusi ketiga adalah guru meminta siswa untuk berlatih di rumah sebelum praktek di sekolah sehingga, jam pelajaran Bahasa Inggris tidak banyak berkurang untuk berlatih sebelum melakukan praktek.

Pelaksanaan Tindakan Siklus II
1)   Pelaksanaan tindakan siklus II pertemuan 1
Dalam pelaksanaan Tindakan Siklus II umumnya masih sama dengan pelaksanaan tindakan siklus I. Peneliti dan guru merancang pelaksanaan pembelajaran dengan menggunakan metode Role Playing dengan mengacu hasil belajar siswa pada pelaksanaan tindakan siklus I. Hal tersebut untuk mengurangi berbagai kendala yang ada pada siklus I. Berdasarkan hasil refleksi siklus I,  peneliti dan guru merancang kegiatan pembelajaran. Peneliti dan guru menyusun Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP) tentang Kompetensi Dasar yang harus dicapai siswa dengan menggunakan metode Role Playing.
Sebelum memulai pembelajaran, siswa berdoa dan dilanjutkan dengan menyanyikan salah satu lagu wajib nasional. Setelah itu guru mengucapkan salam dan mengkondisikan siswa untuk memulai pembelajaran. Guru mulai membagikan selembar kertas yang berisi naskah Role Playing yang baru yang akan dipraktekkan siswa pada siklus ke II. Setelah kertas dibagikan, guru meminta siswa untuk membaca cerita tersebut bersama-sama. Setelah siswa selesai membaca bersama-sama, guru bertanya kepada murid apa isi dari cerita yang ada dalam naskah drama tersebut. Siswa saling menjawab pertanyaan dari guru. Kemudian guru meminta siswa untuk berpindah tempat duduk sesuai dengan pasangan mereka seperti sebelumnya, agar bisa berlatih bersama. Guru memberikan contoh tentang pengucapan Bahasa Inggris dengan lafal dan intonasi yang benar saat nanti akan maju ke depan. Guru dan peneliti memberikan contoh bagaimana cara melakukan Role Playing di depan kelas agar siswa bisa memahami dan tidak banyak membuang waktu karena siswa kurang paham bagaimana cara memerankannya di depan kelas. Setelah siswa memahami bagaimana cara mempraktekkannya, siswa tiap kelompok maju dan peneliti menilai bagaimana perkembangan Speaking siswa.
Sebagai hasil Siklus II Pertemuan 1 aspek ekspresi, 11 siswa baik dan 13 siswa dan tergolong cukup. Siswa mengalami banyak kesalahan pada ekspresi muka dan gestur pada saat melakukan Role Playing. Banyak siswa hanya menunduk dan malu untuk saling bertatap muka dengan lawan bicara.. Aspek lafal 69,52, aspek kelancaran 71,42, aspek intonasi 69,28, dan aspek ekspresi 67,61.
2)   Pelaksanaan tindakan siklus II pertemuan 2
Seperti sebelumnya, peneliti mengobservasi bagaimana perkembangan Speaking siswa daripada saat Role Playing pertemuan sebelumnya. Menurut peneliti, siswa mengalami peningkatan dalam aspek-aspek yang dinilai yaitu pelafalan, intonasi, kelancaran dan interaksi saat melakukan Role Playing. Siswa sudah banyak mempelajari kosa kata dari Role Playing yang mereka bawakan.Berdasarkan hasil observasi yang dilakukan oleh peneliti melalui  lembar observasi, telah ada perubahan yang lebih baik dari kegiatan Role Playing sebelumnya yang dilakukan oleh siswa. Siswa sudah merasa lebih percaya diri saat melakukan Role Playing dan banyak peningkatan dalam pengucapan Bahasa Inggris siswa daripada sebelum dilakukan tindakan. Berikut diagram akhir kegiatan Role Playing siswa kelas VII C SMP N 2 Pilangkenceng :
Hasil dari siklus II pertemuan 2 terlihat peningkatan-peningkatan dalam Speaking Bahasa Inggris menggunakan metode Role Playing. Dalam aspek pronunciation, 85% siswa telah memenuhi KKM, dalam aspek fluency 90% siswa telah memenuhi KKM, dalam aspek intonation 90% siswa telah memenuhi KKM dan yang terakhir aspek expression 76% siswa telah memenuhi nilai KKM. Secara keseluruhan, keterampilan speaking siswa dari keempat aspek telah meningkat dari mulai sebelum tindakan sampai dengan siklus II, meskipun ada beberapa siswa yang masih dibawah KKM. Rata-rata nilai siswa juga telah memenuhi KKM yang diharapkan
3)   Refleksi
Setelah dilakukan analisis dalam dua siklus dan berdiskusi dengan guru, penerapan metode Role Playing dalam mata Pelajaran Bahasa Inggris sudah berjalan sesuai rencana dan sudah terlihat hasilnya dengan adanya peningkatan skor siswa dari mulai pra tindakan sampai dengan siklus 2. Jika pada siklus 1 hanya beberapa siswa yang mau mengikuti kegiatan pembelajaran dengan Role Playing, tetapi pada siklus 2 hampir semua siswa sudah bisa mengikuti dan menikmati kegiatan pembelajaran dengan menggunakan metode Role Playing. Pada siklus 1 siswa juga banyak yang tidak mau untuk bekerja sama dengan kelompok yang telah dipilih oleh guru sehingga siswa tidak banyak waktu untuk berlatih bersama. Tetapi pada siklus 2 terjadi peningkatan dalam kerjasama siswa.
Guru memacu keaktifan dan rasa percaya diri siswa agar siswa mau bekerja sama dengan semua teman mereka tanpa pilih-pilih.
Berdasarkan penelitian yang dilakukan pada siklus 1 dan siklus 2, diperoleh refleksi dan perbaikan sebagai berikut:
Refleksi :
·     Siswa masih membaca dan tidak bersuara keras yang membuat siswa lain tidak mendengar, hal ini karena siswa tidak percaya diri.
·     Siswa menutup muka mereka dengan kertas saat melakukan praktek di depan kelas karena merasa malu banyak yang menertawakan.
·     Jam pelajaran Bahasa Inggris yang kurang menyebabkan  iswa kurang dalam mempelajari naskah yang akan mereka  raktekkan.
Siswa memilih teman kelompok mereka sendiri-sendiri dan enyebabkan waktu latihan menjadi berkurang.

Perbaikan :
·     Sebelum melakukan praktek di depan kelas, siswa diberikan waktu untuk berlatih terlebih dahulu.
·     Siswa yang gaduh, menertawakan siswa yang di depan, dan asyik main sendiri diharuskan menggantikan siswa di depan kelas.
·     Siswa diminta untuk mempelajari naskah dengan teman mereka tidak hanya di sekolah.
·     Anggota kelompok dibagi oleh guru sehingga siswa tidak pilihpilih anggota kelompok mereka
Pada akhir siklus 2 juga terjadi peningkatan keterampilan Speaking siswa dengan menggunakan metode Role Playing. Hal tersebut dapat dilihat dengan hasil belajar siswa yang meningkat dari siklus 1 sampai siklus 2. Sebanyak 90% siswa sudah memenuhi kriteria ketuntasan atau lebih dari 75% dari 21 siswa bahwa telah terjadi peningkatan keterampilan Speaking siswa dari mulai siklus 1 menuju siklus 2. Dan telah tercapai target yang telah diinginkan pada siklus 2, maka penelitian dihentikan pada siklus 2.

Pembahasan
Secara keseluruhan, hasil penelitian menunjukkan bahwa dengan menggunakan metode Role Playing terjadi peningkatan keterampilan speaking Bahasa Inggris siswa kelas VII C SMP N 2 Pilangkenceng  Misalnya dalam aspek pronunciation siswa menjadi lebih jelas dalam mengucapkan kata excuse me, who is this?, what are you doing here?, can i borrowdengan bunyi vocal dan konsonan Bahasa Inggris. peningkatan tersebut terjadi setelah siswa melakukan praktek speaking menggunakan metode Role Playing. Sebelum menggunakan metode Role Playing, siswa kurang jelas dalam aspek lafal, kelancaran maupun intonasi karena kurang berlatih.
Pada siklus 1 pertemuan pertama, hampir belum ada peningkatan dalam kegiatan speaking siswa. Masih banyak kesalahan yang dilakukan oleh siswa dalam mengucapkan kosa kata seperti excuse mewho is this” dan sebagainya.
Siswa masih mengucapkan berbagai kosa kata Bahasa Inggris seperti saat mereka mengucapkan kosa kata dalam Bahasa Indonesia. Hal tersebut dikarenakan dalam pertemuan pertama, waktu untuk berlatih sebelum melakukan praktek speaking kurang sehingga siswa kurang berlatih untuk mengucapkan kosa kata-kosa kata Bahasa Inggris. Kurangnya waktu ini disebabkan karena pembagian kelompok siswa dan perkenalan metode Role Playing kepada siswa. Dalam pembagian kelompok, banyak siswa yang sulit untuk bekerja sama. Banyak siswa yang pilihpilih teman kelompok. Setelah dilakukan praktek Role Playing, guru memberikan petunjuk tentang cara pengucapan dan ekspresi yang tepat saat berkomunikasi menggunakan kosa kata Bahasa Inggris.
Pada pertemuan kedua, kegiatan pembelajaran langsung menuju topic pembelajaran. sebelumnya, siswa telah diberi kesempatan seminggu untuk berlatih sebelum melakukan praktek kembali. Guru juga telah memberikan petunjuk tenang pengucapan-pengucapan dan ekspresi dalam berkomunikasi menggunakan Bahasa Inggris dengan tepat. Setelah peneliti menganalisis hasil observasi pada pertemuan kedua, banyak siswa masih tidak bisa berkomunikasi menggunakan Bahasa Inggris dengan aspek-aspek yang sesuai. Banyak siswa masih tidak bisa lepas dari catatan dan kurang menggunakan laal yang sesuai.
Nilai rata-rata siswa juga masih belum mencapai KKM, meskipun sudah ada peningkatan dalam setiap aspek dari sebelumnya. Dari aspek pronunciation sebelumnya hanya 14% siswa yang memenuhi KKM, pada pertemuan kedua naik menjadi 42% siswa memenuhi KKM. Aspek fluency pada pertemuan pertama hanya 23% yang memenuhi KKM, pada pertemuan kedua menjadi 28%. Aspek intonation pada pertemuan pertama sebanyak 47% yang memenuhi KKM, pada pertemuan kedua meningkat menjadi 66,66% yang memenuhi KKM, dan yang terakhir aspek expression pada pertemuan pertama sebanyak 23% siswa memenuhi KKM kemudian meningkat menjadi 38,09% pada pertemuan kedua.
Pada pertemuan pertama di siklus II, dilakukan beberapa perubahan. Pada siklus 1 siswa masih banyak yang membawa catatan untuk dibaca, tetapi pada siklus ke II, catatan yang dimiliki siswa diambil dan siswa diharuskan untuk praktek speaking tanpa menggunakan catatan. Siswa juga sudah diberikan arahan oleh guru tentang pelafalan, ekspresi dan intonasi pada akhir siklus I. Meskipun tidak melihat catatan, banyak siswa sudah bisa praktek dan siswa juga sudah banyak hafal apa yang akan dikatakan. Tetapi ada pula siswa yang tidak hafal kalimat yang akan dikatakan sehingga menjadi kurang percaya diri yang menyebabkan kesalahan terjadi saat ditengah-tengah praktek. Siswa menjadi gugup dan berhenti berbicara karena lupa.
Pada pertemuan kedua siklus II, siswa melakukan praktek Role Playing tanpa bantuan catatan. Sesuai rencana sebelumnya, pada pertemuan kedua siklus II ini siswa sudah banyak yang melakukan praktek speaking tanpa menggunakan catatan dan telah berhasil memenuhi KKM yang telah ditentukan. Hal tersebut karena pada pertemuan pertama siswa sudah diberi peringatan oleh guru bahwa pada pertemuan berikutnya siswa tidak boleh menggunakan catatan untuk berbicara. Siswa diberi kesempatan untuk berlatih selama seminggu. Pada pertemuan kedua siklus kedua, terjadi peningkatan dalam aspek pronunciation dari siklus sebelumnya. Jika sebelumnya pembelajaran Bahasa Inggris khususnya aspek pronunciation pembelajaran hanya dilakukan dengan menggunakan buku saja, tetapi setelah menggunakan kegiatan Role Playing, keterampilan pronunciation siswa juga mengalami peningkatan. Keterampilan tersebut menningkat setelah pembelajaran dilakukan dengan pendekatan komunikasi.  Setelah diterapkan metode Role Playing dalam kegiatan Pembelajaran Bahasa Inggris, terlihat terjadinya peningkatan dalam keterampilan Speaking siswa dan hasil belajar mulai dari siklus 1 menuju siklus 2. Siklus 1 siswa masih kurang jelas dalam mengucapkan kata excuse me, how do yo do?, setelah siklus ke 2 keterampilan siswa sudah meningkat dalam pengucapan meminta tolong dan memberi informasi dalam Bahasa Inggris. Hal tersebut telah mencapai nilai KKM yaitu 70. Meskipun mencapai hasil yang telah diharapkan, masih ada 2 siswa yang masih dibawah KKM.
Melalui Role Playing, siswa bisa meningkatkan aspek fluency dan intonation karena praktek mengucapkan Bahasa Inggris tidak hanya mendengarkan dari guru saja. Semakin banyak siswa berlatih berbicara dalam Bahasa Inggris, semakin lancar ia akan berbicara Bahasa Inggris. siswa dapat mengucapkan kosa kata Bahasa Inggris dengan lancar dan dimengerti oleh pendengar. Dalam aspek expression, siswa berbicara tidak disertai dengan ekspresi yang sesuai dengan kalimat yang dikatakan. Siswa tidak melakukan ekspresi yang sesuai dengan lawan bicara. Padahal, sesuai dengan pendapat dari Souhila Benabadji (2007:44) in terms of social interaction & cultural awareness, roleplay have affective effects since they bring the outside world into the classroom”
Dengan menerapkan metode Role Playing dalam kegiatan pembelajaran Bahasa Inggris, keterampilan speaking dalam aspek expression juga meningkat karena siswa dapat belajar bersosialisasi seperti saat di luar sekolah ke dalam kelas dengan menggunakan Bahasa Inggris. siswa tidak hanya belajar bahasa melalui buku atau kata-kata saja tetapi juga sekaligus belajar menyatukan ekspresi dan bahasa tersebut, sesuai dengan pendapat Heldenbrand (2003:31) “Incorporate speaking with their bodies and words” Sesuai pendapat Heldenbrand tersebut, komunikasi dengan orang lain tidak hanya menggunakan bibir saja, tetapi juga membaurkan antara pembicaraan dan gerak tubuh atau ekspresi.

Kesimpulan
Berdasarkan hasil penelitian dan pembahasan, dapat disimpulkan bahwa metode Role Playing dapat meningkatkan keterampilan speaking Bahasa Inggris kelas VII C SMP N 2 Pilangkenceng Kaupaten Madiun Oleh karena itu sekolah perlu menyediakan sarana dan prasarana yang mendukung untuk melakukan kegiatan belajar dengan menggunakan metode Role Playing, karena dengan menggunakan metode Role Playing minat siswa dalam belajar meningkat. Hal tersebut dapat dilihat dari bagaimana peningkatan keterampilan speaking Bahasa Inggris setelah menggunakan metode Role Playing. Keterampilan speaking siswa mulai mengalami peningkatan mulai dari siklus I setelah dilakukan metode Role Playing dengan langkah-langkah: persiapan, menjelaskan langkah kegiatan pembelajaran, pembagian kelompok, latihan kelompok, pelaksanaan pembelajaran, dan observasi.

Saran
1. Bagi Sekolah
Pihak sekolah diharapkan membeikan sarana dan prasaran bagi sekolah agar guru dapat melakukan kegiatan pembelajaran dengan menggunakan metode Role Playing.
2. Bagi siswa
Siswa diharapkan tidak bosan dan lebih berani dalam menuangkan ekspresi dalam kegiatan pembelajarn. Role Playing tidak hanya salah satu metode agar keterampilan speaking siswa juga lebih meningkat, selain itu siswa juga lebih aktif dan berani dalam menuangkan ekspresi saat kegiatan pembelajaran.
3. Bagi guru
Metode Role Playing telah berhasil meningkatkan keaktifan siswa dalam kegiatan pembelajaran. oleh karena itu diharapkan guru tidak hanya menerapkan metode Role Playing dalam mata pelajaran Bahasa Inggris saja, tetapi juga dalam mata pelajaran lainnya.


DAFTAR PUSTAKA
AR, Syamsudin & Damaianti, Vismaia. (2007). Metode Penelitian Pendidikan. Bandung: Bahasa. Rosda.
Benabadji, Souhila.(2006). Improving Students’ Fluency through Role- Playing/. Oran. University of Oran.
Brown, Douglas. (2007). Prinsip Pembelajaran dan Pengajaran Bahasa. Amerika: Pearson Education.
Celce, Murcia Mariane, Brintn, M. Donna, & Goodwin,
Janet. (2008). Teaching Pronunciation. United States of America: Cambridge University Press.
Ceranic, Hellena. (2011). Panduan Bagi Guru Bahasa Inggris. Erlangga: Jakarta.
Colombo, Michaela. (2012). Teaching English Language Learners. SAGE publications: Singapore.
Dimyati & Moedjono.(2002). Belajar dan Pembelajaran. Rineka Cipta: Jakarta.
Djiwandono, Soenardi.(2008).Tes Bahasa: Pegangan Bagi Guru Bahasa. Indeks: Jakarta.
Elizabert E. Barkley, K & Patricia, Cross. (2012) Collaborative Learning techniques ., Claire Howell Major. 2012. Penerbit Nusa Media: Ujung Berung Bandung.
Galeano, Rebbeca. (2011). Scaffolding Productive Language Skills trough Sociodramatic Play.The trong:Amerika: Amerika.
Harmer, Jeremy. (2002). The Practice of English Language Teaching. Longman: England.
Heldenbrand. (2003). Drama Technique in english Language Learning. The Korea TESOL Journal. Vol 6.
Hendy Lesley & Toon. (2001). Supporting Drama and Imaginative play in the Early Years.Buckingham:Open University Press.
Iskandarwassid & Suhendar, Dadang. (2008). Strategi Pembelajaran Bahasa. PT Remaja Rosdakarya: Bandung.
Izzan, Ahmad..(2010). Metodologi Pembelajaran Bahasa Inggris. Humaniora: Bandung.
Joyce, Bruce, Weil Marsha & Calhoun Emily. (2015. Models of Teaching: Pearson: Amerika.
K.E., Suyanto. (2008). English for Young Learner: Melejitkan Potensi Siswa melalui English Class yang Fun, Asik, dan Menarik. Bumi Aksara: Jakarta.
Kelly, Gerald. (2004). How To Teach Pronunciation. Bluestone Press: Oxfordshire.
Kurniasih, Eka.(2011).Teaching the Four Language Skills in Primary EFL Classroom:Some Considerations.Sekolah Pelangi Kasih National- Plus:Jakarta.
Mulyasa ,Dr E  (2006) Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan ,Bumi Aksara: Jakarta
Paul Gee, James. (2014). An Introduction to Discourse Analysis Theory an Method. Routledge: London.
PP. No 19 Tahun 2005 ,BSNP Jakarta
Rachmawati, Yuli, Muanayah Mukhlisatun & Alamsari Endah. (2013).Teaching Speaking Skills By Using Role Playing of The Seventh Grade Students of Minu KH. Mukmin Sidoarjo.Jurnal Pendidikan Bahasa Inggris STKIP PGRI Sidoarjo: Sidoarjo.
Riddell, David. (2003). Teaching English as a Foreign Language. Contempory Books: Chicago.
Rusajadi, Jodih.(2010). Terampil BerBahasa Inggris. PT Indeks: Jakarta.
Sanjaya, Wina.(2009). Penelitian Tindakan Kelas. Kencana:Jakarta.
Siberman, Mel. (2010). 101 Cara Pelatihan & Pembelajaran Aktif. PT Indeks. Jakarta.
Siberman, Mel & Aurbach, Carol. (2013). Active Training , Pedoman Praktis Tentang Teknik, Desain, Contoh Kasus, & Kiat. Nusa Media. Bandung.
Suharsimi, Arikunto. (2002). Prosedur Penelitian Suatu Pendekatan Praktik. Rineka Cipta: Jakarta.
Taylor Dever Martha. 2001. Socio-Dramatic Play as a Vehicle for Curriculum Integration in First Grade. Merrill-Cazier Library: Utah State University.
Wicaksono, A., dkk. 2016. Teori Pembelajaran Bahasa: Suatu Catatan Singkat Edisi Revisi. Yogyakarta: Garudhawaca. Diakses dari https://portal-ilmu.com/metode-role-playing/ pada tanggal 26 Mei 2017, pukul 08:51.



Tidak ada komentar:

Posting Komentar