PENINGKATAN KETERAMPILAN SPEAKING BAHASA
INGGRIS MELALUI METODE ROLE PLAYING BAGI SISWA KELAS VII C SMP NEGERI 2
PILANGKENCENG KABUPATEN MADIUN TAHUN AJARAN 2014/2015
|
|
Oleh : Wardji, S.Pd,
Guru SMPN 2 Pilangkenceng
Kabupaten Madiun
|
ABSTRAK
Kata
kunci : keterampilan speaking, Bahasa Inggris, Role Playing
Penelitian ini bertujuan untuk
meningkatkan keterampilan speaking Bahasa Inggris melalui metode Role
Playing pada siswa kelas VII C SMP N 2 Pilangkenceng Jenis penelitian ini adalah Penelitian
Tindakan Kelas (PTK) model Kemmis dan Taggart.
Penelitian ini dilaksanakan dalam
dua siklus dan masing-masing siklus terdiri dari dua kali pertemuan. Subjek
penelitian adalah siswa kelas VII C SMP N 2 Pilangkenceng tahun ajaran 2014/2015 yang berjumlah 21
siswa.
Metode pengumpulan data mengunakan lembar
observasi aktivitas siswa dan soal tes unjuk kerja speaking. Teknik
analisis data yang digunakan pada penelitian ini adalah analisis deskriptif
kuantitatif dan kualitatif.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa
melalui penggunaan Role Playing dapat meningkatkan keterampilan speaking
Bahasa Inggris pada siswa kelas VII C SMP N 2 Pilangkenceng . Peningkatan dibuktikan dengan hasil skor
rata-rata pre test sebesar 53,23 (kategori kurang); siklus I sebesar
64,69 (kategori cukup); siklus II sebesar 75 (kategori baik). Selain hasil
tersebut, siswa juga menjadi lebih lancar dalam berbicara menggunakan kosa kata
Bahasa Inggris di depan siswa lain.
Latar Belakang
Bahasa Inggris merupakan bahasa internasional yang digunakan oleh
banyak negara-negara di dunia untuk bersosialisasi satu dengan lainnya. Oleh
sebab itulah Pembelajaran Bahasa Inggris sangat penting khususnya di SMP yang
mana Bahasa Inggris dijadikan maple yang harus dikuasai siswa . Sama halnya
seperti pembelajaran bahasa pada umumnya, pembelajaran Bahasa Inggris juga
diarahkan untuk mengembangkan keterampilan-keterampilan bahasa sesuai dengan
Lampiaran Peremndiknas No. 22 Tahun 2006 tenatang Standar Isi yaitu:
mendengarkan (listening) membaca
(reading), menulis (writing) dan yang terakhir berbicara (speaking)
(Badan Standar Nasional Pendidikan, 2006: 357). Keempat keterampilan diatas
hendaknya dapat disampaikan guru dengan strategi pembelajaran menarik yang
dapat mengembangkan pemahaman dan keterampilan siswa.
Guru tidak hanya merencanakan pembelajaran tetapi juga
mengembangkan keahlian dan metode baru, dan membuat siswa lebih tertarik. Guru
hendaknya tidak hanya berfokus pada satu aspek pembelajaran tetapi juga pada
setiap aspek, karena keterampilan satu aspek akan mendukung keterampilan aspek
lainnya.
Pelaksanaan program pembelajaran Bahasa Inggris sebagai mata
pelajaran baru bagi siswa kelas VII
mengapa dikatakan baru karena mayoritas
SD di sekitar SMP Negeri 2 Pilangkenceng tidak menggunakan bahsa Inggris
sebagai muatan local ,maka pembelajaran bahasa Inggris disini perlu disusun
dengan baik sebagai bekal siswa nantinya dalam menghadapi perkembangan zaman.
Bahasa Inggris bisa menjadi salah satu mata pelajaran wajib di tingkat SMP untuk mengenalkan siswa pada Bahasa Inggris
yang sudah dipakai di banyak negara. Dengan mengenalkan siswa pada Bahasa
Inggris lebih awal, siswa juga mempunyai pengetahuan lebih tentang Bahasa
Inggris untuk melanjutkan ke jenjang yang lebih tinggi.
Standar Kompetensi dan Kompetensi Dasar Bahasa Inggris untuk SMP .
Pembelajaran bahasa Inggris di SMP/MTs ditargetkan agar peserta
didik dapat mencapai tingkat functional yakni
berkomunikasi secara lisan dan tulis untuk menyelesaikan masalah sehari-hari,
sedangkan untuk SMA/MA diharapkan dapat mencapai tingkat informational
karena mereka disiapkan untuk melanjutkan pendidikannya ke
perguruan tinggi. Tingkat literasi epistemic dianggap
terlalu tinggi untuk dapat dicapai oleh peserta didik SMA/MA karena bahasa
Inggris di Indonesia berfungsi sebagai bahasa asing..
Tapi siswa kelas VII SMP Negeri 2 Pilangkenceng masih mengalami
kesulitan dalam pelajaran bahsa Inggris khususnya ketrampilan berbicara (
speaking ) mereka menganggap ketrampilan speaking sangat sulit dan hal yang
baru dalam pembelajaran bahasa Inggris .Hal tersebut menyebabkan nilai mata
pelajaran Bahasa Inggris siswa yang menurun.
Metode pembelajaran akan sangat berpengaruh agar siswa tertarik
untuk mengikuti suatu pembelajaran. Cepat atau lambatnya seorang siswa dalam
mempelajari Bahasa Inggris harus banyak diberikan praktek berbicara atau speaking.
Oleh karena itu Saat belajar Bahasa Inggris, siswa perlu menggunakan kegiatan
atau interaksi yang efektif dan menyenangkan agar siswa tidak bosan dengan
pembelajaran. Banyak siswa yang sudah bosan dengan kegiatan-kegiatan pembelajaran.
Hal itu menjadi salah satu penyebab turunnya motivasi siswa untuk belajar
Bahasa Inggris.
Berdasarkan penelitian Dra. Charlotte A. Harun, MPd. & Siti
Nadiroh, SPd. Role Play dalam Pembelajaran speaking di Kelas VIII laboratorium UPI kampus Cibiru kecamatan
Cileunyi kabupaten Bandung, kemampuan lisan siswa khususnya speaking sangat
rendah, sehingga mengakibatkan minimnya prestasi siswa dalam mata pelajaran
Bahasa Inggris. agar pembelajaran speaking Bahasa Inggris memperoleh
hasil yang baik, Dra. Charlotte A. Harun, MPd. & Siti Nadiroh,
SPd.menyampaikan bahwa para guru perlu menciptakan proses belajar-mengajar yang
lebih menyenangkan dan lebih praktis.
Hal tersebut juga terjadi di SMP Negeri 2 Pilangkenceng tahun ajaran 2014/2015. Berdasarkan hasil
observasi pada tanggal 4 dan 6 Pebruari 2015, ditemukan bahwa kemampuan speaking
siswa di SMP 2 Pilangkenceng masih rendah. Hal tersebut dibuktikan dengan
banyaknya siswa yang belum memenuhi nilai KKM pada aspek speaking.
Banyak nilai siswa yang kurang dari 70. Sejumlah 10 siswa yang memenuhi KKM diantara 24 siswa.
Saat kegiatan pembelajaran Bahasa Inggris berlangsung banyak siswa
yang gaduh tidak memperhatikan pembelajaran. kegiatan pembelajaran cenderung
berpusat pada guru. Pembelajaran Bahasa Inggris lebih serinng dilakukan dengan
mengerjakan soal di buku atau di papan tulis. Guru jarang melakukan praktek speaking
Bahasa Inggris untuk meningkatkan keterampilan speaking Bahasa
Inggris siswa. Padahal untuk meningkatkan keterampilan speaking Bahasa
Inggris siswa, guru perlu mengajarkan keterampilan speaking dari yang
termudah menuju yang lebih sulit agar siswa cepat mengalami perkembangan dalam
aspek-aspek seperti pronunciation, fluency, intonation, dan expression.
Keterampilan speaking Bahasa Inggris bukan merupakan suatu
hal yang mudah untuk dipelajari bagi siswa karena masih merupakan hal yang
asing bagi mereka. Butuh waktu yang lebih untuk mempelajarinya agar kemampuan speaking
menjadi meningkat karena Bahasa Inggris merupakan hal yang masih baru bagi
siswa. Siswa masih terpengaruh dengan kebiasaan menggunakan bahasa sehari-hari
yang mereka gunakan untuk berbicara yang mempunyai pelafalan yang berbeda yang
juga berbeda arti dan pelafalannya. Siswa juga masih banyak yang lupa kata-kata
dalam Bahasa Inggris. Tetapi banyak siswa yang masih takut dan malas untuk
mempelajari keterampilan speaking Bahasa Inggris. Hal itulah yang
membuat kekhawatiran siswa akan membuat kesalahan dan takut jika siswa lain
tidak paham atau menertawakannya menjadi tidak hilang. Karena itulah banyak
siswa masih takut untuk melakukan praktek speaking Bahasa Inggris. Hal
tersebut menyebabkan kemampuan speaking Bahasa Inggris menjadi rendah.
Dalam rangka mengembangkan pembelajaran speaking Bahasa
Inggris siswa, maka perlu adanya metode yang menarik. Salah satunya yaitu
metode Role Playing. Dengan menggunakan metode Role Playing,
siswa menjadi aktif karena terlibat langsung dalam mata pelajaran hal tersebut
akan membuat siswa tertarik pada materi atau suatu mata pelajaran. Selain
membuat siswa tertarik pada mata pelajaran, keterampilan speaking Bahasa
Inggris siswa juga akan meningkat karena metode tersebut dapat meningkatkan
keterampilan speaking siswa dengan mempraktekkan secara langsung sesuai
peran yang diberikan. Dengan Role Playing siswa bisa secara langsung
masuk dalam aktivitas komunikasi menggunakan Bahasa Inggris yang akan
mengembangkan keterampilan penggunaan Bahasa Inggris mereka.
Minimnya praktek speaking yang dilakukan oleh siswa,
mengakibatkan keterampilan speaking siswa kelas VII SMP N 2
Pilangkenceng menjadi lebih rendah
daripada keterampilan writing maupun listening. Berdasarkan
uraian di atas, peneliti memilih metode Role Playing untuk meningkatkan
keterampilan speaking dalam kegiatan pembelajaran Bahasa Inggris, karena
metode tersebut dapat digunakan untuk menciptakan suasana pembelajaran Bahasa
Inggris yang aktif.
Rumusan Masalah
Bagaimana
meningkatkan keterampilan speaking Bahasa
Inggris siswa kelas VII SMP N 2 Pilangkenceng
melalui metode Role Playing?
Tujuan Penelitian
Penelitian ini bertujuan untuk meningkatkan keterampilan speaking
Bahasa Inggris melalui metode Role Playing pada kelas VII SMP N 2
Pilangkenceng .
Manfaat Penelitian
1.
Bagi Siswa:
a. Dapat memberikan
pengalaman baru dalam belajar Bahasa Inggris khususnya speaking dengan
menggunakan metode Role Playing.
b. Melatih siswa untuk
berbicara Bahasa Inggris dengan menggunakan metode Role Playing.
c. Kegiatan pembelajaran
diharapkan lebih menarik bagi siswa sekaligus untuk mengurangi rasa takut siswa
pada pelajaran Bahasa Inggris.
2.
Bagi Guru
a. Guru dapat menggunakan
metode Role Playing dalam pembelajaran Bahasa Inggris khususnya untuk
belajar speaking.
b. Dapat dijadikan
alternatif bagi guru agar dalam kegiatan pembelajaran tidak hanya dengan metode
ceramah dan fokus pada soal-soal. Karena jika guru lebih banyak berbicara,
siswa akan menjadi pasif.
3.
Bagi Sekolah
a. Dapat menjadi masukan
bagi sekolah dalam mendukung kegiatan pembelajaran pembelajaran Bahasa Inggris
di VII SMP N 2 Pilangkenceng
Kajian Pustaka
Keterampilan Berbahasa
Salah satu fungsi utama bahasa adalah untuk menyampaikan pesan
darisatu orang ke orang lainnya. Setiap manusia di dunia ini harus
mempunyaiketerampilan berbahasa untuk bersosialisasi dengan lingkungan
sekitarmereka. Dengan bahasa, kita dapat menyampaikan perasaan, pikiran,
salamdan rasa simpati kepada mereka. Berbicara untuk mengungkapkan
keinginiansudah diperoleh oleh manusia sejak mereka asih bayi. Iskandarwassid
danDadang Suhendar (2009: 241) menyatakan bahwa keterampilan berbicara pada
hakikatnya merupakan keterampilan memproduksi arus sistem bunyi artikulasi
untuk menyampaikan kehendak, kebutuhan perasaan dan keinginan kepada orang
lain. Manusia belajar menggunakan bahasa ibu untuk berkomunikasi dengan sekitarnya
sejak ia bayi. Kegiatan belajar bahasa dipengaruhi beberapa tahapan. Dari mulai
mendengarkan, memikirkan, lalu menirukannya.
Jenjang pendidikan Sekolah Menegah adalah jenjang dimana siswa
mempunyai rasa ingin tahu dan motivasi yang tinggi. Hal tersebut dapat
dimanfaatkan dalam kegiatan pembelajaran Bahasa Inggris karena Bahasa Inggris
masih baru bagi siswa. Untuk menarik siswa agar tertarik dengan pembelajaran
Bahasa Inggris dibutuhkan kerjasama guru dengan siswa. Wina Sanjaya (2010: 26)
mengungkapkan bahwa proses kerja sama antara guru dansiswa dalam memanfaatkan
segala potensi dan sumber yang ada baik potensiyang bersumber dari dalam diri
siswa itu sendiri seperti minat, bakat, dankemampuan dasar yang dimiliki
termasuk gaya belajar maupun potensi yangada di luar diri siswa seperti
lingkungan, sarana dan sumber belajar sebagaiupaya untuk mencapai tujuan
belajar tertentu.
Berdasarkan pendapat Wina Sanjaya tersebut, guru bisa
memanfaatkanguru dan siswa bisa bersama-sama untuk mencapai tujuan
pembelajarandengan proses yang telah dirancang. Dimyati dan mudjono (2002: 157)
mengungkapkan pembelajaran merupakan proses yang diselenggarakan olehguru untuk
mendidik siswa dalam memperoleh pengetahuan, keterampilan,dan sikap.
Pengetahuan tidak hanya difokuskan pada satu aspek saja, tetapisemua aspek yang
ada dalam diri siswa.
Berbagai aspek dalam Bahasa Inggris harus dikuasai siswa untuk
mendukung siswa dalam bersosialisasi di kehidupan zaman yang semakinmaju. James
Paul Gee (2014: 2) mengungkapkan,
language serves a greatfunction in our
lives. Giving and getting information is by no means the onlyone. Of course,
language does allow us to-inform each other.
Berdasarkan pendapat James tersebut, bahasa merupakan salah satu
hal yang penting dalama kehidupan manusia. Dengan bahasa, manusia dapat
bertukar informasisatu dengan lainnya.
Dalam era globalisasi yang semakin maju, manusia tidak
hanyamembutuhkan bahasa ibu untuk berkomunikasi. Hal tersebut jugadiungkapkan
oleh Rebecca Galbeano (2011: 324),
Because a multiculturalworld needs
citizens with language proficiency, language specialistsencourage the
maintenance and development of native-language skills inbilingual children.
Dalam perkembangan zaman yang semakin maju siswa juga harus
diberikan keterampilan berbahasa tidak hanya Bahasa ibu saja. Bahasa Inggris
membantu siswa menghadapi era yang semakin maju apalagi di kota kita yang
sering berdatangan turis asing. James (2014: 2) mencontokan jika ada oranglain
memberikan salam pada kita “how are you”, tetapi kemudian kita tidak
bisa membalas salam dari mereka maka apa yang ada dipikiran orang tersebut?
Bisa saja mereka berpikir bahwa kita adalah orang yang sombong.
Keterampilan menggunakan Bahasa Inggris dimulai sejak Sekolah
Dasar bahkan kanak-kanak karena Bahasa Inggris sudah dianggap sebagai bahasa
global. Pengalaman belajar Bahasa Inggris di Indonesia cenderung kurang
menyenangkan bagi siswa. Anak-anak memandang bahwa Bahasa Inggris merupakan
bahasa yang sulit bagi siswa di Indonesia. Banyak siswa dikelas yang memilih
lebih baik diam daripada berbuat kesalahan. Padahal membuat kesalahan merupakan
hal yang wajar bagi orang yang sedang belajar.
Metode Role Playing
Bahasa Inggris khususnya speaking banyak dianggap sebagai
pelajaran yang sulit karena Bahasa Inggris merupakan suatu bahasa yang masih
asing bagi siswa. Tetapi ada pula yang menganggap pelajaran tersebut merupakan
pelajaran favorit. Salah satu yang membuat Bahasa Inggris menjadi pelajaran
yang menarik adalah kegiatan pembelajarannya. Jeremy Harmer (2001:271)
menyebutkan bahwa salah satu kegiatan yang bisa diterapkan guru dalam kegiatan
berbicara yaitu simulation and Role Playing .
Dengan mendengarkan Bahasa Inggris, anak akan mampu menirukan
ucapan yang ia dengarkan. Karena dengan mendengarkan, siswa bisa belajar
berbicara Bahasa Inggris lebih banyak karena cenderung berbeda antara penulisan
dan pengucapan. Ada banyak cara yang bisa digunakan untuk meningkatkan
keterampilan berbicara Bahasa Inggris salah satunya dengan berdialog. Berdialog
juga bisa suatu latihan atau praktek penggunaan Bahasa Inggris karena
pembelajaran Bahasa Inggris tidak cukup hanya pada teori saja.
Salah satu latihan atau praktek yang bisa digunakan dalam
kegiatan pembelajaran Bahasa Inggris
adalah Role Playing. Siswa bisa belajar sambil bermain dengan metode Role
Playing.
Martha Taylor Dever (2001: 3) mengungkapkan
Adults
play an important role in children’s sociodramatic play.
They assist children in extending their play themes and interests, enrich their
language and plot development, and facilitate as children explore and practice
literacy.
Pada intinya Role Playing merupakan sebuah contoh dari “learning
by doing”. Role atau peran adalah siswa yang harus aktif
mengaplikasikan pengetahuan, keterampilan, dan pemahaman untuk dapat berbicara
dan bertindak dengan baik. Dan play yang artinya bermain adalah siswa
menggunakan imajinasi mereka dan bersenang-senang dalam memperaagakan bagian
mereka pada sebuah lingkungan.
Helena Ceranic (2011: 71) mengatakan Memberikan peran karakter
tertenu kepada siswa dapat membantu mereka mengembangkan bahasa dan ide yang
tepat terhadap tugas – hal ini juga memastikan bahwa ada cukup pandangan dan
posisi kontradiktif untuk mengembangkan dan mempertahankan debat dalam sebuah
penampilan. Misalnya, untuk tugas ulasan film, saya mengubahnya menjadi suatu
format dimana satu siswa menjadi presenter, mewawancarai para tamu, siswa lain
menjadi sutradara film dan kemudian dua siswanya berperan sebagai guru Bahasa
Inggris dan siswa GCSE. Cara ini memberikan konteks yang lebih besar kepada
tugas untuk dikerjakan, dan tidak membuat siswa merasa seolah-olah mereka hanya
melakukan percakapan tidak resmi tentang pandangan mereka sendiri.
Menurut pendapat Helena tersebut siswa bisa belajar untuk berperan
sebagai orang lain dan memahami pekerjaan orang tersebut. Prasetyo (2001: 72)
mengatakan pembelajaran dengan Role Playing adalah suatu cara penguasaan
bahan-bahan pelajaran melalui pengembangan imajinasi dan penghayatan siswa.
Pengembangan imajinasi dan penghayatan itu dilakukan siswa dengan memerankannya
sebagai tokoh hidup atau benda mati. Metode ini banyak melibatkan siswa dan
membuat siswa senang belajar serta metode ini mempunyai nilai tambah, yaitu: a)
dapat menjamin partisipasi seluruh siswa dan memberi kesempatan yang sama untuk
menunjukkan kemampuannya dalam bekerjasama hingga berhasil, dan b) permainan
merupakan pengalaman yang menyenangkan bagi siswa .
Dengan kegiatan Role Playing, siswa juga tidak hanya bisa
belajar berbicara, tetapi juga bisa belajar berinteraksi dengan berdialog
menggunakan Bahasa Inggris. Tukiran juga menyatakan bahwa Role Playing merupakan
sosiodrama yang berasal dari kata sosio dan drama, sosio berarti masyarakat
menunjukkan pada kegiatan-kegiatan sosial. Dan drama adalah mempertontonkan
atau memperlihatkan.
Hal tersebut jika Role Playing dilakukan oleh siswa dalam
Bahasa Inggris, diharapkan agar siswa bisa berlatih untuk bersosialisasi dengan
masyarakat tidak hanya menggunakan bahasa ibu saja melainkan juga dengan
menggunakan bahasa luar dengan baik.
Metode Role Playing dalam Pembelajaran Speaking Bahasa
Inggris
Dalam
kegiatan pembelajaran Bahasa Inggris, banyak guru yang masih menguasai kelas
sehingga siswa kurang mendapatkan kesempatan untuk meningkatkan kemampuan
berbicara Bahasa Inggris mereka. Kebanyakan guru hanya mengutamakan nilai
daripada keterampilan siswa. Padahal, dengan meningkatnya keterampilan siswa
akan meningkatkan nilai mereka. Semakin banyak praktek yang dilakukan siswa
akan semakin mudah siswa untuk mendapatkan kelancaran Bahasa Inggris.
Kelancaran (fluency) adalah suatu yang didambakan oleh semua pelajar
yang belajar Bahasa Inggris. Siswa ingin berbicara Bahasa Inggris seperti orang
Inggris atau Amerika. Metode adalah salah satu faktor yang penting dalam
peningkatan kemampuan berbicara siswa. Dengan metode Role Playing siswa
tidak bosan karena bisa belajar sambil bermain. Lesley Hendy (2001: 2)
mengatakan
using
drama activities with young children puts them on the path of a creative
journey and helps them to develop their social, cognitive, and language skills.
Berdasarkan
pendapat Lesley Hendy tersebut, siswa tidak hanya belajar ber Bahasa
Inggrisdengan lancar tetapi juga belajar
untuk bersosialisasi dengan yang lain. Kelebihan menggunakan metode role play
dalam belajar Bahasa Inggris adalah:
1) Para siswa akan merasa
lebih bebas dalam berbicara, relatif tidak ada rasa takut salah, bahkan
seringkali timbul canda tawa pada saat mempraktekkan role play.
2) Siswa pendiam bisa
mendapat kesempatan untuk mengekspresikan diri dan berbicara dengan lebih
terbuka.
3) Mengajak berpikir
kreatif dengan berkreasi membuat dialog.
4) Memberi kebebasan bagi
siswa untuk mempraktekkan kemampuan berbicaranya dalam situasi yang
menyenangkan.
5) Membangun motivasi dan
partisipasi yang intens.
6) Ruangan kelas yang
terbatas seolah-olah menjadi dunia yang tak terbatas dengan kesempatan yang
luas untuk membangun percakapan.
7) Tetapi untuk siswa
Sekolah Dasar tentu saja jangan dipaksakan untuk mengajarkan mereka berbicara
lancar seperti orang Inggris karena yang penting bagi siswa seusia mereka
menurut saya adalah mereka mampu berkomunikasi yang didengarkan dan dimengrti
oleh siswa lain atau dengan kata lain prakomunikatif.
8) Prakomunikatif adalah
aktifitas komunikasi yang belum dapat disebut komunikatif benar-benar karena
belum ada unsur yang diperlukan agar komunikasi itu disebut wajar.
Hipotesis Tindakan
“Metode Role Playing dapat
meningkatkan Keterampilan Speaking Siswa Kelas VII C SMP N 2
Pilangkenceng ”
Metode Penelitian
Jenis penelitian ini merupakan Penelitian Tindakan Kelas (PTK)
secara kolaboratif. Suharsimi Arikunto (2002:82) menyatakan bahwa penelitian
tindakan adalah penelitian tentang hal-hal yang terjadi di masyarakat atau
sekelompok sasaran dan hasilnya langsung dapat dikenakan pada masyarakat yang
bersangkutan. Pada umumnya, penelitian tindakan dilakukan untuk memperbaiki
atau meningkatkan kondisi sebelum dilakukan penelitian tindakan. Penelitian ini
dilakukan untuk meningkatkan keterampilan speaking Bahasa Inggris siswa
kelas VII C SMP N 2 Pilangkenceng.
Partisipan
yang terlibat dalam penelitian ini adalah peneliti, Guru Bahasa Inggris Kelas
VII C, Ibu Alis, S.Pd seabagai kolaborator dan siswa kelas VII C SMP N 2
Pilangkenceng . Peneliti dan kolaborator bersepakat subjek kelas VII C yang
berjumlah 21 siswa karena mempunyai kemampuan yang rendah dalam ketrampilan
menulis. Desain
penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah model penelitian
tindkan Kemmis dan Taggart yang
merupakan pengembangan dari konsep dasar yang diperkenalkan oleh Kurt Lewin.
Model yang dikemukakan oleh Kemmis dan Taggart ada 3 tahap yaitu: perencanaan,
tindakan & pengamatan, dan refleksi. Adapun gambaran pelaksanaan model yang
disampaikan oleh Kemmis dan Taggart tersebut dapat dilihat dari gambar sebagai
berikut:
Tahapan-tahapan di atas berbentuk siklus yang dapat berlangsung
secara berulang-ulang sampai tujuan penelitian tercapai yaitu sebagai berikut:
Pada tahap perencanaan, menjelaskan apa, mengapa, kapan, di mana,
oleh siapa, dan dan bagaimana tindakan tersebut dilakukan. Dalam pelaksanaan
rencana tindakan ini dituangkan dalam bentuk Rencana Pelaksanaan Pembelajaran.
Pada tahap Pelaksanaan berisi tentang implementasi atau penerapan tindakan di
kelas yang diteliti. Pada tahap ini guru harus selalu ingat dan berusaha
mentaati apa yang sudah dirumuskan dalam rencana tindakan.
Kegiatan pengamatan yang dilakukan oleh pengamat pada saat
berlangsungnya tindakan. Tindakan diberikan oleh guru sedangkan peneliti
menjadi observer. Refleksi tindakan merupakan kegiatan untuk mengemukakan
kembali apa yang sudah dilakukan. Kegiatan ini lebih tepat dilaksanakan ketika
guru pelaksana sudah selesai melakukan tindakan , kemudian mengimplementasikan
rancangan tindakan.
Rencana Tindakan
Pra Tindakan
Sebelum melakukan tindakan penelitian, peneliti melakukan tahap
pra tindakan terlebih dahulu yang berupa observasi terhadap aktivitas belajar
siswa dalam proses pembelajaran Bahasa Inggris yang dilakukan oleh kelas VII C
SMP N 2 Pilangkenceng. Tahap observasi ini dilakukan untuk mengetahui aktivitas
belajar siswa sebelum dilakukan penelitian.
Sebelum penerapan metode Role Playing, kegiatan
pembelajaran masih berpusat pada guru. Beberapa siswa sangat gaduh dan tidak
memperhatikan guru saat memberikan penjelasan. Guru ( ibu Alis /kolaborator )
sangat sulit untuk mengkondisikan beberapa siswa laki-laki yang gaduh di kelas.
Ada pula siswa yang tidak fokus pada
pembelajaran saat dilakukan observasi dikarenakan ada peneliti yang ikut masuk
ke dalam kelas. Ada juga siswa yang melakukan kegiatan lain seperti menggambar
saat pelajaran berlangsung.
Dari data yang diambil saat pra tindakan dapat dilihat bahwa
keterampilan speaking siswa lebih rendah dibandingkan dengan
keterampilan reading. Rata-rata keterampilan reading adalah 70,33
sedangkan rata-rata keterampilan speaking hanya 54.08. Jika
dikategorikan, keterampilan reading siswa adalah dalam kategori cukup
dan keterampilan speaking siswa masih dalam kategori kurang karena Nilai
KKM yang diharapkan adalah 70. Sebanyak 70.83% siswa sudah memenuhi nilai KKM reading
dan hanya 16.64% siswa yang memenuhi nilai KKM speaking.
Pelaksanaan Penelitian Tindakan Siklus I
Perencanaan
a) Menetapkan waktu yang
akan digunakan untuk pelaksanaan penelitian tindakan kelas
b) Menyusun Rencana
Pelaksanaan Pembelajaran (RPP) tentang Kompetensi Dasar yang harus dicapai oleh
siswa dengan menggunakan metode Role Playing.
c) Mempersiapkan sumber
dan alat pembelajaran yang akan digunakan dalam setiap kali pelaksanaan
tindakan yaitu naskah Role Playing, dan lembar observasi siswa .
d) Melaksanakan simulasi
kegiatan Role Playing agar siswa mengerti bagaimana pelaksanaan kegiatan
belajar dengan metode Role Playing.
1) Pelaksanaan
tindakan siklus I pertemuan 1
Materi yang
digunakan untuk penerapan metode Role Playing adalah tentang bertanya
dan memberi informasi yang sederhana. Banyak siswa yang masih takut dan belum
siap untuk melakukan kegiatan pembelajaran dengan menggunakan metode Role
Playing karena siswa belum pernah menggunakan metode tersebut selama
pembelajaran berlangsung.
Guru
membagikan setiap siswa selembar kertas berupa naskah dialog yang akan
dilakukan siswa. Naskah dialog tersebut berisi tentang cara memberi salam,
meminta informasi, memberi informasi seperti “Hello, how do you do?” “I’m fine” “I have to do my
homework”
Sebelum siswa melakukan Role Playing tersebut, siswa diminta oleh guru
untuk membaca bersama-sama membacakan naskah drama yang diberikan. Siswa
diminta untuk mengikuti guru berbicara sesuai dengan peran yang ada dalam
naskah drama. Saat berlatih dengan guru membaca bersama-sama, Suara yang
dikeluarkan siswa terdengar keras. Setelah berlatih membaca naskah drama bersama-sama,
guru bertanya kepada siswa tentang isi dari cerita yang ada dalam dialog yang
baru saja diberikan. Banyak siswa yang menjawab pertanyaan guru dengan tepat.
Setelah
selesai berlatih dengan guru, dan mendengarkan tujuan yang disampaikan oleh guru, peneliti memperkenalkan
diri kepada siswa. Siswa telah dibagi menjadi 10 kelompok secara heterogen oleh
guru yang akan diminta untuk mempraktekkan Role Playing di depan kelas.
Sebelum melakukan praktek di depan kelas, setiap siswa pindah tempat duduk
sesuai dengan kelompok masingmasing.Siswa
berlatih secara individu dengan kelompok mereka masing-masing. Setelah itu
dilanjutkan dengan praktek setiap kelompok bergantian di depan kelas. Banyak
kelompok yang mempunyai nilai kurang dalam kegiatan
pertama Role Playing, misalnya:eye contact pada lawan bicara, kurang
percaya diri, siswa masih lambat dalam mengucapkan kalimat berBahasa Inggris,
banyak jeda saat melakukan dialog, ekspresi yang tidak sesuai dengan isi
cerita, gerakan yang masih kaku, tidak menggunakan gesture saat berbicara,
kepala menunduk dan sebagainya.Peneliti mengamati kegiatan Role Playing siswa
dari belakang. Tetapi saat peneliti mengamati dari bangku belakang, suara siswa
tidak dapat terdengar sampai belakang. Peneliti tidak dapat mendengarkan pengucapan
Bahasa Inggris siswa secara jelas maupun tepat karena banyak suara siswa yang
sangat kecil, sehingga peneliti harus mengamati siswa dari kursi
depan.Pembagian kelompok diatur oleh guru sesuai dengan kemampuankemampuan
siswa. Guru membagi secara acak, siswa yang mempunyai kemampuan lebih dalam
Bahasa Inggris dengan siswa yang mempunyai kemampuan kurang dalam pembelajaran
Bahasa Inggis. Banyak siswa yang menolak dengan pilihan kelompok guru, ada pula
siswa-siswa yang mematuhi perintah guru. Setiap kelompok berjumlah 2 siswa
untuk melakukan dialog dengan menggunakan Bahasa Inggis. Pada saat pertama
melakukan dialog dalam Role Playing, siswa belum bisa berdialog tanpa
menggunakan naskah. Siswa masih membaca dan masih takut melakukan
kesalahan-kesalahan sehingga suara siswa masih terdengar kecil. Meskipun masih
membaca naskah, siswa masih banyak membuat kesalahan dalam melakukan Role
Playing. Banyak siswa yang masih sulit untuk mengucapkan kata dalam Bahasa
Inggris dengan lafal yang tepat. Selain itu, intonasi dan interaksi dengan
teman dialog juga kurang. Hasil Siklus I
Pertemuan I, terlihat banyak siswa masih kurang mempelajari materi yang
dipraktekkan. hal tersebut menyebakan banyak siswa yang belum mencapai nilai
nilai cukup. Rata-rata siswa dalam aspek lafal 52,57, rata-rata aspek
kelancaran 49,04, rata-rata aspek intonasi 61,42, dan rata-rata aspek 54,52.
Hasil tersebut mengalami peningkatan hanya sebesar 2% dari sebelumnya 53,23.
Banyak siswa juga masih sulit untuk tidak memegang naskah saat melakukan praktek.
2)
Pelaksanaan tindakan siklus I pertemuan 2
Guru
meminta siswa untuk duduk sebangku dengan kelompok masingmasing agar bisa
dengan mudah untuk berlatih dengan teman sekelompoknya. Naskah yang akan
digunakan oleh siswa masih sama seperti sebelumnya. Sebelum itu guru meminta
siswa untuk mempelajari dan menghafal di rumah sebelum mempraktekkannya lagi di
depan kelas. Setelah itu, satu per satu kelompok dipanggil oleh guru untuk maju
ke depan mempraktekkan apa yang telah di pelajari di rumah.
Hasil dari
tindakan Siklus I pertemuan ke dua , telah terjadi peningkatan dalam setiap
aspek dibandingkan dengan siklus sebelumnya aspek lafal 64,28, aspek kelancaran
64,52, aspek intonasi 66,90, dan aspek ekspresi 63,09. Hal ini telah mengalami
peningkatan 15% dari siklus sebelumnya.
Refleksi Tindakan Siklus I
a)
Siswa masih menggunakan kertas saat maju ke depan melakukan Role
Playing, hal ini dikarenakan siswa masih belum hafal dan belum paham isi
cerita yang akan ia bawakan.
b)
Banyak siswa yang kurang percaya diri saat di depan kelas
melakukan Role Playing sehingga ada siswa yang membelakangi penonton,
menutup muka mereka dengan kertas, suara yang di keluarkan sangat kecil dan
sebagainya.
c)
Keadaan kelas yang sangat gaduh saat teman mereka maju ke depan
kelas. Banyak siswa yang menertawakan, mengolok-olok, dan asyik bermain
sendiri.
d)
Siswa masih banyak yang kurang tertarik dengan pelajaran Bahasa
Inggris, karena merasa pelajaran Bahasa Inggris sulit untuk dipelajari.
e)
Jam pelajaran Bahasa Inggris yang kurang, padahal kegiatan Role
Playing membutuhkan waktu yang cukup banyak untuk berlatih agar siswa bisa
memahami isi cerita.
Setelah ditemukan beberapa masalah seperti diatas, peneliti dan
guru berdiskusi untuk mencari jalan keluar agar pertemuan berikutnya
kendala-kendala yang ada dalam siklus I menjadi berkurang. Solusi pertama
adalah guru mewajibkan siswa untuk melakukan praktek Role Playing di
depan kelas tanpa menggunakan teks. Guru membebaskan untuk berlatih dengan
teman sesuai pilihannya agar timbul rasa percaya diri untuk lebih giat
berlatih.
Banyak siswa yang mempunyai minat kurang dan rasa percaya diri
yang kurang terhadap Bahasa Inggris. Siswa masih takut atau malu saat melakukan
kesalahan pengucapan Bahasa Inggris. Oleh karena itu solusi yang kedua adalah
guru memberikan motivasi dan meningkatkan rasa percaya diri siswa agar siswa
tidak takut dan malu untuk melakukan kesalahan saat belajar Bahasa Inggris
dengan metode Role Playing. Selain itu, pada pertemuan sebelumnya guru
menjelaskan tentang isi cerita dan memberikan contoh cara menggunakan ekspresi
yang benar saat berkomunikasi. Solusi ketiga adalah guru meminta siswa untuk
berlatih di rumah sebelum praktek di sekolah sehingga, jam pelajaran Bahasa
Inggris tidak banyak berkurang untuk berlatih sebelum melakukan praktek.
Pelaksanaan Tindakan Siklus II
1)
Pelaksanaan tindakan siklus II pertemuan 1
Dalam
pelaksanaan Tindakan Siklus II umumnya masih sama dengan pelaksanaan tindakan
siklus I. Peneliti dan guru merancang pelaksanaan pembelajaran dengan
menggunakan metode Role Playing dengan mengacu hasil belajar siswa pada
pelaksanaan tindakan siklus I. Hal tersebut untuk mengurangi berbagai kendala
yang ada pada siklus I. Berdasarkan hasil refleksi siklus I, peneliti dan guru merancang kegiatan
pembelajaran. Peneliti dan guru menyusun Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP)
tentang Kompetensi Dasar yang harus dicapai siswa dengan menggunakan metode Role
Playing.
Sebelum
memulai pembelajaran, siswa berdoa dan dilanjutkan dengan menyanyikan salah
satu lagu wajib nasional. Setelah itu guru mengucapkan salam dan mengkondisikan
siswa untuk memulai pembelajaran. Guru mulai membagikan selembar kertas yang
berisi naskah Role Playing yang baru yang akan dipraktekkan siswa pada
siklus ke II. Setelah kertas dibagikan, guru meminta siswa untuk membaca cerita
tersebut bersama-sama. Setelah siswa selesai membaca bersama-sama, guru
bertanya kepada murid apa isi dari cerita yang ada dalam naskah drama tersebut.
Siswa saling menjawab pertanyaan dari guru. Kemudian guru meminta siswa untuk
berpindah tempat duduk sesuai dengan pasangan mereka seperti sebelumnya, agar
bisa berlatih bersama. Guru memberikan contoh tentang pengucapan Bahasa Inggris
dengan lafal dan intonasi yang benar saat nanti akan maju ke depan. Guru dan
peneliti memberikan contoh bagaimana cara melakukan Role Playing di
depan kelas agar siswa bisa memahami dan tidak banyak membuang waktu karena
siswa kurang paham bagaimana cara memerankannya di depan kelas. Setelah siswa
memahami bagaimana cara mempraktekkannya, siswa tiap kelompok maju dan peneliti
menilai bagaimana perkembangan Speaking siswa.
Sebagai
hasil Siklus II Pertemuan 1 aspek ekspresi, 11 siswa baik dan 13 siswa dan
tergolong cukup. Siswa mengalami banyak kesalahan pada ekspresi muka dan gestur
pada saat melakukan Role Playing. Banyak siswa hanya menunduk dan malu
untuk saling bertatap muka dengan lawan bicara.. Aspek lafal 69,52, aspek
kelancaran 71,42, aspek intonasi 69,28, dan aspek ekspresi 67,61.
2)
Pelaksanaan tindakan siklus II pertemuan 2
Seperti
sebelumnya, peneliti mengobservasi bagaimana perkembangan Speaking siswa
daripada saat Role Playing pertemuan sebelumnya. Menurut peneliti, siswa
mengalami peningkatan dalam aspek-aspek yang dinilai yaitu pelafalan, intonasi,
kelancaran dan interaksi saat melakukan Role Playing. Siswa sudah banyak
mempelajari kosa kata dari Role Playing yang mereka bawakan.Berdasarkan
hasil observasi yang dilakukan oleh peneliti melalui lembar observasi, telah ada perubahan yang
lebih baik dari kegiatan Role Playing sebelumnya yang dilakukan oleh
siswa. Siswa sudah merasa lebih percaya diri saat melakukan Role Playing dan
banyak peningkatan dalam pengucapan Bahasa Inggris siswa daripada sebelum
dilakukan tindakan. Berikut diagram akhir kegiatan Role Playing siswa
kelas VII C SMP N 2 Pilangkenceng :
Hasil dari
siklus II pertemuan 2 terlihat peningkatan-peningkatan dalam Speaking Bahasa
Inggris menggunakan metode Role Playing. Dalam aspek pronunciation,
85% siswa telah memenuhi KKM, dalam aspek fluency 90% siswa telah
memenuhi KKM, dalam aspek intonation 90% siswa telah memenuhi KKM dan
yang terakhir aspek expression 76% siswa telah memenuhi nilai KKM.
Secara keseluruhan, keterampilan speaking siswa dari keempat aspek telah
meningkat dari mulai sebelum tindakan sampai dengan siklus II, meskipun ada
beberapa siswa yang masih dibawah KKM. Rata-rata nilai siswa juga telah
memenuhi KKM yang diharapkan
3)
Refleksi
Setelah
dilakukan analisis dalam dua siklus dan berdiskusi dengan guru, penerapan
metode Role Playing dalam mata Pelajaran Bahasa Inggris sudah berjalan
sesuai rencana dan sudah terlihat hasilnya dengan adanya peningkatan skor siswa
dari mulai pra tindakan sampai dengan siklus 2. Jika pada siklus 1 hanya
beberapa siswa yang mau mengikuti kegiatan pembelajaran dengan Role Playing,
tetapi pada siklus 2 hampir semua siswa sudah bisa mengikuti dan menikmati
kegiatan pembelajaran dengan menggunakan metode Role Playing. Pada
siklus 1 siswa juga banyak yang tidak mau untuk bekerja sama dengan kelompok
yang telah dipilih oleh guru sehingga siswa tidak banyak waktu untuk berlatih
bersama. Tetapi pada siklus 2 terjadi peningkatan dalam kerjasama siswa.
Guru memacu
keaktifan dan rasa percaya diri siswa agar siswa mau bekerja sama dengan semua
teman mereka tanpa pilih-pilih.
Berdasarkan
penelitian yang dilakukan pada siklus 1 dan siklus 2, diperoleh refleksi dan
perbaikan sebagai berikut:
Refleksi :
·
Siswa masih membaca dan tidak bersuara
keras yang membuat siswa lain tidak mendengar, hal ini karena siswa tidak
percaya diri.
·
Siswa menutup muka mereka dengan kertas
saat melakukan praktek di depan kelas karena merasa malu banyak yang
menertawakan.
·
Jam pelajaran Bahasa Inggris yang kurang
menyebabkan iswa kurang dalam
mempelajari naskah yang akan mereka
raktekkan.
Siswa
memilih teman kelompok mereka sendiri-sendiri dan enyebabkan waktu latihan
menjadi berkurang.
Perbaikan :
·
Sebelum melakukan praktek di depan kelas,
siswa diberikan waktu untuk berlatih terlebih dahulu.
·
Siswa yang gaduh, menertawakan siswa yang
di depan, dan asyik main sendiri diharuskan menggantikan siswa di depan kelas.
·
Siswa diminta untuk mempelajari naskah dengan
teman mereka tidak hanya di sekolah.
·
Anggota kelompok dibagi oleh guru sehingga
siswa tidak pilihpilih anggota kelompok mereka
Pada akhir
siklus 2 juga terjadi peningkatan keterampilan Speaking siswa dengan
menggunakan metode Role Playing. Hal tersebut dapat dilihat dengan hasil
belajar siswa yang meningkat dari siklus 1 sampai siklus 2. Sebanyak 90% siswa
sudah memenuhi kriteria ketuntasan atau lebih dari 75% dari 21 siswa bahwa
telah terjadi peningkatan keterampilan Speaking siswa dari mulai siklus
1 menuju siklus 2. Dan telah tercapai target yang telah diinginkan pada siklus
2, maka penelitian dihentikan pada siklus 2.
Pembahasan
Secara keseluruhan, hasil penelitian menunjukkan bahwa dengan
menggunakan metode Role Playing terjadi peningkatan keterampilan speaking
Bahasa Inggris siswa kelas VII C SMP N 2 Pilangkenceng Misalnya dalam aspek pronunciation siswa
menjadi lebih jelas dalam mengucapkan kata “excuse me”, “who is this?”, “what are you doing here?”, “can i borrow” dengan bunyi vocal dan
konsonan Bahasa Inggris. peningkatan tersebut terjadi setelah siswa melakukan
praktek speaking menggunakan metode Role Playing. Sebelum
menggunakan metode Role Playing, siswa kurang jelas dalam aspek lafal,
kelancaran maupun intonasi karena kurang berlatih.
Pada siklus 1 pertemuan pertama, hampir belum ada peningkatan
dalam kegiatan speaking siswa. Masih banyak kesalahan yang dilakukan
oleh siswa dalam mengucapkan kosa kata seperti “excuse me” “who is this” dan sebagainya.
Siswa masih mengucapkan berbagai kosa kata Bahasa Inggris seperti
saat mereka mengucapkan kosa kata dalam Bahasa Indonesia. Hal tersebut
dikarenakan dalam pertemuan pertama, waktu untuk berlatih sebelum melakukan
praktek speaking kurang sehingga siswa kurang berlatih untuk mengucapkan
kosa kata-kosa kata Bahasa Inggris. Kurangnya waktu ini disebabkan karena
pembagian kelompok siswa dan perkenalan metode Role Playing kepada
siswa. Dalam pembagian kelompok, banyak siswa yang sulit untuk bekerja sama.
Banyak siswa yang pilihpilih teman kelompok. Setelah dilakukan praktek Role
Playing, guru memberikan petunjuk tentang cara pengucapan dan ekspresi yang
tepat saat berkomunikasi menggunakan kosa kata Bahasa Inggris.
Pada pertemuan kedua, kegiatan pembelajaran langsung menuju topic
pembelajaran. sebelumnya, siswa telah diberi kesempatan seminggu untuk berlatih
sebelum melakukan praktek kembali. Guru juga telah memberikan petunjuk tenang
pengucapan-pengucapan dan ekspresi dalam berkomunikasi menggunakan Bahasa
Inggris dengan tepat. Setelah peneliti menganalisis hasil observasi pada
pertemuan kedua, banyak siswa masih tidak bisa berkomunikasi menggunakan Bahasa
Inggris dengan aspek-aspek yang sesuai. Banyak siswa masih tidak bisa lepas
dari catatan dan kurang menggunakan laal yang sesuai.
Nilai rata-rata siswa juga masih belum mencapai KKM, meskipun
sudah ada peningkatan dalam setiap aspek dari sebelumnya. Dari aspek pronunciation
sebelumnya hanya 14% siswa yang memenuhi KKM, pada pertemuan kedua naik
menjadi 42% siswa memenuhi KKM. Aspek fluency pada pertemuan pertama
hanya 23% yang memenuhi KKM, pada pertemuan kedua menjadi 28%. Aspek intonation
pada pertemuan pertama sebanyak 47% yang memenuhi KKM, pada pertemuan kedua
meningkat menjadi 66,66% yang memenuhi KKM, dan yang terakhir aspek expression
pada pertemuan pertama sebanyak 23% siswa memenuhi KKM kemudian meningkat
menjadi 38,09% pada pertemuan kedua.
Pada pertemuan pertama di siklus II, dilakukan beberapa perubahan.
Pada siklus 1 siswa masih banyak yang membawa catatan untuk dibaca, tetapi pada
siklus ke II, catatan yang dimiliki siswa diambil dan siswa diharuskan untuk
praktek speaking tanpa menggunakan catatan. Siswa juga sudah diberikan
arahan oleh guru tentang pelafalan, ekspresi dan intonasi pada akhir siklus I.
Meskipun tidak melihat catatan, banyak siswa sudah bisa praktek dan siswa juga
sudah banyak hafal apa yang akan dikatakan. Tetapi ada pula siswa yang tidak
hafal kalimat yang akan dikatakan sehingga menjadi kurang percaya diri yang
menyebabkan kesalahan terjadi saat ditengah-tengah praktek. Siswa menjadi gugup
dan berhenti berbicara karena lupa.
Pada pertemuan kedua siklus II, siswa melakukan praktek Role
Playing tanpa bantuan catatan. Sesuai rencana sebelumnya, pada pertemuan
kedua siklus II ini siswa sudah banyak yang melakukan praktek speaking tanpa
menggunakan catatan dan telah berhasil memenuhi KKM yang telah ditentukan. Hal
tersebut karena pada pertemuan pertama siswa sudah diberi peringatan oleh guru
bahwa pada pertemuan berikutnya siswa tidak boleh menggunakan catatan untuk
berbicara. Siswa diberi kesempatan untuk berlatih selama seminggu. Pada
pertemuan kedua siklus kedua, terjadi peningkatan dalam aspek pronunciation dari
siklus sebelumnya. Jika sebelumnya pembelajaran Bahasa Inggris khususnya aspek pronunciation
pembelajaran hanya dilakukan dengan menggunakan buku saja, tetapi setelah
menggunakan kegiatan Role Playing, keterampilan pronunciation siswa
juga mengalami peningkatan. Keterampilan tersebut menningkat setelah
pembelajaran dilakukan dengan pendekatan komunikasi. Setelah diterapkan metode Role Playing dalam
kegiatan Pembelajaran Bahasa Inggris, terlihat terjadinya peningkatan dalam
keterampilan Speaking siswa dan hasil belajar mulai dari siklus 1 menuju
siklus 2. Siklus 1 siswa masih kurang jelas dalam mengucapkan kata “excuse me”, “how do yo do?”, setelah siklus ke 2
keterampilan siswa sudah meningkat dalam pengucapan meminta tolong dan memberi
informasi dalam Bahasa Inggris. Hal tersebut telah mencapai nilai KKM yaitu 70.
Meskipun mencapai hasil yang telah diharapkan, masih ada 2 siswa yang masih
dibawah KKM.
Melalui Role Playing, siswa bisa meningkatkan aspek fluency
dan intonation karena praktek mengucapkan Bahasa Inggris tidak hanya
mendengarkan dari guru saja. Semakin banyak siswa berlatih berbicara dalam
Bahasa Inggris, semakin lancar ia akan berbicara Bahasa Inggris. siswa dapat
mengucapkan kosa kata Bahasa Inggris dengan lancar dan dimengerti oleh
pendengar. Dalam aspek expression, siswa berbicara tidak disertai dengan
ekspresi yang sesuai dengan kalimat yang dikatakan. Siswa tidak melakukan
ekspresi yang sesuai dengan lawan bicara. Padahal, sesuai dengan pendapat dari
Souhila Benabadji (2007:44) “in terms of social
interaction & cultural awareness, roleplay have affective effects since
they bring the outside world into the classroom”
Dengan menerapkan metode Role Playing dalam kegiatan
pembelajaran Bahasa Inggris, keterampilan speaking dalam aspek expression
juga meningkat karena siswa dapat belajar bersosialisasi seperti saat di
luar sekolah ke dalam kelas dengan menggunakan Bahasa Inggris. siswa tidak
hanya belajar bahasa melalui buku atau kata-kata saja tetapi juga sekaligus
belajar menyatukan ekspresi dan bahasa tersebut, sesuai dengan pendapat
Heldenbrand (2003:31) “Incorporate speaking with their bodies and words” Sesuai pendapat Heldenbrand tersebut, komunikasi dengan orang lain
tidak hanya menggunakan bibir saja, tetapi juga membaurkan antara pembicaraan
dan gerak tubuh atau ekspresi.
Kesimpulan
Berdasarkan hasil penelitian dan pembahasan, dapat disimpulkan
bahwa metode Role Playing dapat meningkatkan keterampilan speaking Bahasa
Inggris kelas VII C SMP N 2 Pilangkenceng Kaupaten Madiun Oleh karena itu
sekolah perlu menyediakan sarana dan prasarana yang mendukung untuk melakukan
kegiatan belajar dengan menggunakan metode Role Playing, karena dengan
menggunakan metode Role Playing minat siswa dalam belajar meningkat. Hal
tersebut dapat dilihat dari bagaimana peningkatan keterampilan speaking Bahasa
Inggris setelah menggunakan metode Role Playing. Keterampilan speaking
siswa mulai mengalami peningkatan mulai dari siklus I setelah dilakukan
metode Role Playing dengan langkah-langkah: persiapan, menjelaskan
langkah kegiatan pembelajaran, pembagian kelompok, latihan kelompok,
pelaksanaan pembelajaran, dan observasi.
Saran
1. Bagi
Sekolah
Pihak sekolah
diharapkan membeikan sarana dan prasaran bagi sekolah agar guru dapat melakukan
kegiatan pembelajaran dengan menggunakan metode Role Playing.
2. Bagi
siswa
Siswa diharapkan tidak
bosan dan lebih berani dalam menuangkan ekspresi dalam kegiatan pembelajarn. Role
Playing tidak hanya salah satu metode agar keterampilan speaking siswa
juga lebih meningkat, selain itu siswa juga lebih aktif dan berani dalam
menuangkan ekspresi saat kegiatan pembelajaran.
3. Bagi
guru
Metode Role Playing telah
berhasil meningkatkan keaktifan siswa dalam kegiatan pembelajaran. oleh karena
itu diharapkan guru tidak hanya menerapkan metode Role Playing dalam
mata pelajaran Bahasa Inggris saja, tetapi juga dalam mata pelajaran lainnya.
DAFTAR
PUSTAKA
AR, Syamsudin & Damaianti, Vismaia. (2007). Metode
Penelitian Pendidikan. Bandung: Bahasa. Rosda.
Benabadji, Souhila.(2006). Improving Students’ Fluency through Role- Playing/. Oran. University of Oran.
Brown, Douglas. (2007). Prinsip Pembelajaran dan Pengajaran
Bahasa. Amerika: Pearson Education.
Celce, Murcia Mariane, Brintn, M. Donna, & Goodwin,
Janet. (2008). Teaching Pronunciation. United States of America:
Cambridge University Press.
Ceranic, Hellena. (2011). Panduan Bagi Guru Bahasa Inggris.
Erlangga: Jakarta.
Colombo, Michaela. (2012). Teaching English Language Learners.
SAGE publications: Singapore.
Dimyati & Moedjono.(2002). Belajar dan Pembelajaran.
Rineka Cipta: Jakarta.
Djiwandono, Soenardi.(2008).Tes Bahasa: Pegangan Bagi Guru
Bahasa. Indeks: Jakarta.
Elizabert E. Barkley, K & Patricia, Cross. (2012) Collaborative
Learning techniques ., Claire Howell Major. 2012. Penerbit Nusa Media:
Ujung Berung Bandung.
Galeano, Rebbeca. (2011). Scaffolding Productive Language Skills
trough Sociodramatic Play.The trong:Amerika: Amerika.
Harmer, Jeremy. (2002). The Practice of English Language
Teaching. Longman: England.
Heldenbrand. (2003). Drama Technique in english Language
Learning. The Korea TESOL Journal. Vol 6.
Hendy Lesley & Toon. (2001). Supporting Drama and
Imaginative play in the Early Years.Buckingham:Open University Press.
Iskandarwassid & Suhendar, Dadang. (2008). Strategi
Pembelajaran Bahasa. PT Remaja Rosdakarya: Bandung.
Izzan, Ahmad..(2010). Metodologi Pembelajaran Bahasa Inggris. Humaniora:
Bandung.
Joyce, Bruce, Weil Marsha & Calhoun Emily. (2015. Models of
Teaching: Pearson: Amerika.
K.E., Suyanto. (2008). English for Young Learner: Melejitkan
Potensi Siswa melalui English Class yang Fun, Asik, dan Menarik. Bumi Aksara:
Jakarta.
Kelly, Gerald. (2004). How To Teach Pronunciation. Bluestone
Press: Oxfordshire.
Kurniasih, Eka.(2011).Teaching the Four Language Skills in
Primary EFL Classroom:Some Considerations.Sekolah Pelangi Kasih National-
Plus:Jakarta.
Mulyasa ,Dr E (2006) Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan
,Bumi Aksara: Jakarta
Paul Gee, James. (2014). An Introduction to Discourse Analysis
Theory an Method. Routledge: London.
PP. No 19 Tahun 2005 ,BSNP Jakarta
Rachmawati, Yuli, Muanayah Mukhlisatun & Alamsari Endah.
(2013).Teaching Speaking Skills By Using Role Playing of The Seventh Grade
Students of Minu KH. Mukmin Sidoarjo.Jurnal Pendidikan Bahasa Inggris STKIP
PGRI Sidoarjo: Sidoarjo.
Riddell, David. (2003). Teaching English as a Foreign Language.
Contempory Books: Chicago.
Rusajadi, Jodih.(2010). Terampil BerBahasa Inggris. PT
Indeks: Jakarta.
Sanjaya, Wina.(2009). Penelitian Tindakan Kelas.
Kencana:Jakarta.
Siberman, Mel. (2010). 101 Cara Pelatihan & Pembelajaran
Aktif. PT Indeks. Jakarta.
Siberman, Mel & Aurbach, Carol. (2013). Active Training ,
Pedoman Praktis Tentang Teknik, Desain, Contoh Kasus, & Kiat. Nusa
Media. Bandung.
Suharsimi, Arikunto. (2002). Prosedur Penelitian Suatu
Pendekatan Praktik. Rineka Cipta: Jakarta.
Taylor Dever Martha. 2001. Socio-Dramatic Play as a Vehicle for
Curriculum Integration in First Grade. Merrill-Cazier Library: Utah State
University.
Wicaksono, A., dkk. 2016. Teori Pembelajaran Bahasa: Suatu
Catatan Singkat Edisi Revisi. Yogyakarta: Garudhawaca. Diakses dari https://portal-ilmu.com/metode-role-playing/
pada
tanggal 26 Mei 2017, pukul 08:51.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar