MENINGKATKAN AKTIVITAS DAN HASIL
BELAJAR IPS
PADA KOMPETENSI DASAR PERMINTAAN DAN
PENAWARAN
SERTA TERBENTUKNYA HARGA PASAR DENGAN
METODE TUTOR SEBAYA KELAS VIII SMP NEGERI 1 JIWAN TAPEL 2014/2015
![]() |
Oleh : Suparmi, S.Pd.,
Guru SMP Negeri 1 Jiwan Kabupaten
Madiun
|
ABSTRAK
Kata kunci: aktivitas belajar, hasil
belajar, metode tutor sebaya
Awal proses yang
menjadi kendala di SMPNegeri 1 Jiwan adalah keaktifan siswa dalam proses
pembelajaran masih belum optimal, siswa masih cenderung diam dan kurang aktif
pada saat proses pembelajaran, guru cenderung menggunakan metode pembelajaran
konvensional. Berdasarkan observasi awal di SMPNegeri 1 Jiwan kelas VIII D,
diperoleh data bahwa kelas VIII D memiliki rata-rata nilai ulangan harian
sebesar 69,83 yang berarti masih di bawah KKM. Hal ini disebabkan perlu adanya
penggunaan metode yang tepat dan bervariasi dalam proses belajar mengajar,
salah satu alternatifnya dengan menerapkan metode pembelajaran tutor sebaya.
Subjek penelitian ini adalah siswa kelas VIII D SMPNegeri 1 Jiwan tahun ajaran
2014/2015. Rancangan penelitian ini merupakan penelitian tindakan kelas
dengan dua siklus, setiap siklus meliputi perencanaan, pelaksanaan, pengamatan
dan refleksi.
Hasil penelitian pada
siklus I menunjukkan rata-rata hasil belajar siswa sebesar 70,51 dengan
ketuntasan klasikal 44,33%, aktivitas siswa sebesar 77,5% dalam kategori
tinggi, aktivitas guru dalam pembelajaran sebesar 72,5% atau kategori tinggi.
Untuk hasil penelitian siklus II menunjukkan rata-rata hasil belajar siswa
sebesar 79,33 dengan ketuntasan klasikal 83,33%, aktivitas siswa 90% atau
aktivitas siswa dalam kategori sangat tinggi, untuk aktivitas guru sebesar
92,5% dengan kriteria sangat tinggi. Berdasarkan hasil penelitian diatas, dapat disimpulkan terjadi peningkatan
hasil belajar siswa kelas VIII D SMPNegeri 1 Jiwan pada materi permintaan dan
penawaran serta terbentuknya harga pasar dengan menggunakan metode pembelajaran
tutor sebaya. Saran yang berkaitan dengan hasil penelitian adalah perlu adanya
kesiapan guru sebelum memulai pelajaran, guru dapat melakukan perbaikan
pembelajaran bagi siswa yang belum tuntas belajar, guru juga ada baiknya
meningkatkan penguasaan terhadap berbagai jenis metode pembelajaran dengan
mengikuti berbagai kegiatan seperti diklat atau seminar pendidikan, sekolah
bisa lebih mengembangkan dan memanfaatkansarana prasarana dalam proses
pembelajaran.
Latar Belakang
Dalam keseluruhan proses pendidikan, kegiatan belajar mengajar
adalah proses pokok yang harus dilalui oleh seorang pendidik atau guru.
Berhasil tidaknya suatu tujuan pendidikan bergantung kepada bagaimana
proses belajar dan mengajar disajikan. Tenaga kependidikan merupakan suatu
komponen yang penting dalam pendidikan, yang bertugas menyelenggarakan kegiatan
mengajar, melatih, mengembangkan, mengelola dan memberikan pelayanan tehnis
dalam pendidikan. Salah satu unsur tenaga kependidikan adalah tenaga pengajar
yang tugas utamanya adalah mengajar dan sekaligus membimbing. Berkaitan dengan
ini, sebenarnya guru memiliki peranan yang unik dan sangat kompleks di dalam
proses belajar-mengajar, dalam usahanya untuk mengantarkan siswa atau anak
didik ke taraf yang dicita-citakan (Sardiman,2012:125).
Pada mata pelajaran IPS terpadu sebagian besar materinya berisi
deskriptif, biasanya metode yang digunakan oleh guru adalah metode ceramah.
Guru dalam melaksanakan pembelajaran IPS terpadu ini menularkan pengetahuan dan
informasi dengan menggunakan lisan. Dari hal ini dapat dilihat bahwa keaktifan
siswa kurang berperan, sehingga untuk berfikir kreatifpun siswa mengalami
hambatan, selain itu metode ceramah ini menimbulkan rasa bosan pada siswa,
sehingga metode ini dirasa kurang efektif. Oleh karena itu dalam proses
belajar-mengajar perlu adanya pendekatan pembelajaran yang lebih efektif dan
mampu menciptakan suasana yang dapat mengaktifkan siswa khususnya pada mata
pelajaran IPS terpadu.
Jumlah siswa kelas VIII yang berjumlah 254 siswa terdapat 44 siswa
yang mendapatkan nilai dibawah KKM padahal nilai ketuntasan untuk mata
pelajaran ekonomi adalah 75. Rendahnya hasil belajar ini merupakan indikator
rendahnya kemampuan siswa dalam pemecahan masalah (menjawab soal).
Berdasarkan teori belajar tuntas, seorang peserta didik dianggap
tuntas belajar jika ia mampu menyelesaikan, menguasai kompetensi ataupun
mencapai tujuan belajar minimal 65%, sekurang-kurangnya 85% dari jumlah peserta
didik yang ada di kelas tersebut dari data diatas dapat diketahui bahwa 64,5%
mampu memenuhi standar nilai yang ditetapkan sehingga dapat disimpulkan bahwa
siswa kelas VIII SMPN 1 Jiwan belum mampu memenuhi standar ketuntasan belajar
ekonomi.
Sekarang ini berkembang model-model pembelajaran pelajaran IPS
terpadu yang dimaksudkan untuk lebih memberikan kesempatan kepada siswa untuk
aktif belajar. Dapat juga dikatakan model-model tersebut untuk mengupayakan
agar pembelajaran terpusat pada guru (Teacher
Oriented) berubah menjadi terpusat kepada siswa ( Student Oriented).
Salah satu model pembelajaran yang dapat dilakukan untuk mengatasi
kendala-kendala di atas adalah model pembelajaran teman sebaya (model
pembelajaran tutor sebaya). Kita tahu bahwa kenyataannya, anak yang belajar
dari anak-anak lain yang memiliki status dan umur yang sama, kematangan / harga
diri yang tidak jauh berbeda, maka siswa tidak akan merasa terpaksa untuk
menerima ide-ide dan sikap-sikap dari teman sebayanya yang bertindak sebagai
guru tersebut. Anak bebas mencari hubungan yang bersifat pribadi dan bebas pula
menguji dirinya dengan teman-teman lain. Dengan perasaan bebas yang dimiliki
itu maka diharapkan anak dapat lebih aktif dalam berkomunikasi, sehingga dapat
mempermudah mereka dalam memahami konsep / materi yang sedang diajarkan oleh
guru. Dengan demikian penggunaan model pembelajaran tutor sebaya ini selain
dapat meningkatkan kecakapan siswa dalam berkomunikasi juga dapat memberi
solusi kepada siswa dalam memahami suatu konsep mata pelajaran sehingga dapat
meningkatkan hasil belajar mereka.
Pembelajaran tutor sebaya merupakan strategi belajar dengan
sejumlah siswa sebagai anggota kelompok kecil yang tingkat kemampuannya
berbeda. Dalam pembelajaran, setiap siswa harus bekerja sama dan saling
membantu dalam memahami materi pembelajaran.
Sehingga pada pembelajaran tutor sebaya ini dikatakan belum
selesai apabila salah satu teman dalam kelompoknya belum menguasai materi
pelajaran.
Menurut Suryono dan Amin (Djamarah, 2006:35) menyatakan ada
beberapa kelebihan bimbingan tutor sebaya antara lain :
1.
Adanya suasana hubungan yang lebih akrab dan dekat antara siswa
yang dibantu dengan siswa sebagai tutor yang membantu.
2.
Bagi tutor sendiri kegiatannya merupakan pengayaan dan menambah
motivasi belajar.
3.
Bersifat efisien, artinya bisa lebih banyak yang dibantu.
4.
Dapat meningkatkan rasa tanggung jawab akan kepercayaan.
Maka dari itu peneliti tertarik untuk melakukan penelitian
pembelajaran IPS Terpadu dengan pendekatan pembelajaran Tutor Sebaya dengan
berdasarkan uraian di atas maka peneliti akan mengadakan penelitian dengan
judul “Meningkatkan Aktivitas dan Hasil Belajar IPS pada Kompetensi Dasar
Permintaan dan Penawaran serta Terbentuknya Harga Pasar dengan Model
Pembelajaran Tutor Sebaya Kelas VIII SMPNegeri 1 Jiwan”.
PERUMUSAN MASALAH
1.
Apakah model pembelajaran tutor sebaya dapat meningkatkan
aktivitas siswa dan hasil belajar siswa pada kompetensi dasar permintaan dan
penawaran serta terbentuknya harga pasar kelas VIII di SMPN 1 Jiwan ?
2.
Seberapa besar peningkatan aktivitas siswa dan hasil belajarpada
kompetensi dasar permintaan dan penawaran sertaterbentuknya harga pasar kelas
VIII di SMPN 1 Jiwan melalui model
pembelajaran tutor sebaya?
TUJUAN PENELITIAN
1.
Untuk mengetahui apakah penerapan model pembelajaran Tutor Sebaya
dapat meningkatkan aktivitas siswa dan hasil belajar padakompetensi dasar
permintaan dan penawaran serta terbentuknya harga pasar kelas VIII SMPN 1 Jiwan
.
2.
Untuk mengetahui seberapa besar peningkatan aktivitas siswa dan
hasil belajar siswa pada kompetensi dasar permintaan dan penawaran serta
terbentuknya harga pasar kelas VIII SMPN 1 Jiwan melalui model pembelajaran
Tutor Sebaya.
MANFAAT PENELITIAN
o Manfaat Teoritis
Hasil penelitian ini
dapat dijadikan sebagai masukan bagi pengembangan ilmu pengetahuan terutama
yang berkaitan dengan dunia pendidikan.
o Manfaat Praktis
1. Manfaat bagi siswa
Dapat mengurangi kebosanan siswa dalam pelajaran yang sifatnya
teoritis dan meningkatkan keaktifan siswa, sehingga hasil belajar siswa dapat
meningkat.
2. Manfaat bagi guru
Dapat menambah pengetahuan guru dalam memilih strategi dan model
pembelajaran yang tepat agar hasil belajar siswa bisa meningkat, serta
memberikan input (masukan) serta gambaran kepada guru mengenai motode
pembelajaran untuk materi permintaan dan penawaran serta terbentuknya harga
pasar, selanjutnya dapat digunakan sebagai bahan pertimbangan untuk
meningkatkan hasil belajar siswa.
HIPOTESA TINDAKAN
Berdasarkan kerangka
berfikir diatas, maka hipotesis penelitian ini adalah “Adanya Peningkatan
Aktivitas dan Hasil Belajar Permintaan dan penawaran serta Terbentuknya Harga
Pasar dengan menerapkan model pembelajaran Tutor Sebaya pada Siswa Kelas VIII
SMP Negeri 1 Jiwan Tahun Ajaran 2014/2015.”
KAJIAN PUSTAKA
Pengertian Belajar
Belajar adalah ciri
khas manusia, menurut Skiner berpandangan bahwa pada saat orang belajar, responnya
menjadi kuat. Apabila ia tidak belajar, responnya menurun. Dalam
belajarditemukan (1) kesempatan terjadinya peristiwa yang menimbulkan respon
belajar; (2) respon pembelajaran; (3) konsekuensi yang bersifat menguatkan
respon tersebut. Belajar adalah proses usaha yang dilakukan seseorang untuk
memperoleh perubahan tingkah laku yang baru secara keseluruhan, sebagai hasil
pengalamannya sendiri dalam interaksi dengan lingkungannya (Hamdani, 2010:
17-20).
Belajar merupakan
proses penting bagi perubahan perilaku setiap orang dan belajar itu mencakup
segala sesuatu yang dipikirkan dan dikerjakan oleh seseorang. Menurut Slavin
dalam Rifa’I (1994: 3) menyatakan bahwa belajar merupakan perubahan individu
yang disebabkan oleh pengalaman. Dari pendapat para ahli diatas dapat
disimpulkan bahwa belajar merupakan proses atau tahapan yang harus dilakukan
untuk memperoleh perubahan tingkah laku yang dipikirkan secara individu agar
memperoleh hasil yang sesuai dengan apa yang harapan.
Aktivitas Belajar
Menurut Poerwadarminta (2003:23), aktivitas belajar adalah
kegiatan-kegiatan siswa yang menunjang keberhasilan belajar. Aktivitas dalam
proses pembelajaran tidak hanya guru yang melakukan aktivitas dan siswa hanya
mendengarkan dan menerima saja apa yang diberikan oleh guru sehingga dapat
dilihat menurut guru siswa yang baik adalah siswa yang duduk diam, mendengarkan
ceramah guru dengan penuh perhatian, tidak bertanya, tidak mengemukakan
masalah. Siswa percaya saja dengan kebenaran kata-kata guru sehingga menjadikan
siswa kurang kritis dan tidak ikut aktif dalam proses belajar. Jadi berdasarkan
uraian di atas, aktivitas belajar adalah segala cara yang digunakan untuk
meningkatkan keaktifan yang dilakukan secara sadar oleh seseorang yang
mengakibatkan perubahan tingkah laku sebagai suatu hasil latihan atas
pengetahuan, baik jasmani maupun rohani.
Menurut Anton M. Mulyono (2001: 26), aktivitas artinya
“kegiatan/keaktifan”. Segala sesuatu yang dilakukan atau kegiatan–kegiatan yang
terjadi baik fisik maupun non-fisik, merupakan suatu aktifitas. Sedangkan
menurut Oemar Hamalik (2001: 28), belajar adalah suatu proses perubahan tingkah
laku individu melalui interaksi dengan lingkungan. Aspek tingkah laku tersebut
adalah pengetahuan, pengertian, kebiasaan, keterampilan, sikap dan sebagainya,
jika seseorang telah belajarmaka akan terlihat perubahan pada salah satu atau
beberapa aspek tingkah laku tersebut.
Berdasarkan aktivitas tersebut di atas, dapat disimpulkan bahwa
dalam belajar sangat dituntut keaktifan siswa, siswa yang lebih banyak
melakukan kegiatan sedangkan guru lebih banyak membimbing dan mengarahkan.
Tinjauan Hasil Belajar
Hasil belajar merupakan perubahan perilaku yang diperoleh peserta
didik setelah mengalami kegiatan belajar. Perolehan aspek – aspek perubahan
perilaku tersebut tergantung pada apa yang dipelajari oleh peserta didik. Oleh
karena itu apabila peserta didik mempelajari pengetahuan tentang konsep, maka
perubahan perilaku yang diperoleh adalah berupa penguasaan konsep. Dalam
peserta didikan, perubahan perilaku yang harus dicapai oleh peserta didik
setelah melaksanakan kegiatan belajar dirumuskan dalam tujuan peserta didikan.
Perumusan tujuan peserta didikan itu, yakni hasil belajar yangdi
inginkan pada diri peserta didik, lebih rumit karena tidak dapat diukur secara
langsung. Tujuan peserta didikan merupakan bentuk harapan yang dikomunikasikan
melalui pernyataan dengan cara menggambarkan perubahan yang diinginkan pada
diri peserta didik, yakni pernyataan tentang apa yang diinginkan peserta didik
setelah menyelesaikan pengalaman belajar. Kerumitan pengukuran hasil belajar
itu karena bersifat psikologis. Dalam kegiatan belajar, tujuan yang harus
dicapai oleh setiap individu dalam belajar memiliki beberapa peranan penting,
yaitu :
1.
Memberikan arah pada kegiatan peserta didikan. Bagi pendidik,
tujuan peserta didikan akan mengarahkan pemilihan strategi danjenis kegiatan
yang tepat. Kemudian bagi peserta didik, tujuan itu mengarahkan peserta didik
untuk melakukan kegiatan belajar yang diharapkan dan mampu menggunakan waktu
seefisien mungkin.
2.
Untuk mengetahui kemajuan belajar dan perlu tidaknya pemberian
peserta didikan pembinaan bagi peserta didikan (remidial teaching).
3.
Sebagai bahan komunikasi.
Hasil belajar juga merupakan pola-pola perbuatan, nilai-nilai,
pengertian-pengertian, sikap-sikap, apresiasi dan keterampilan-keterampilan.
Menurut Gagne dalam Anni (2011:90), hasil belajar berupa :
1.
Informasi verbal, yaitu kapabilitas mengungkapkan pengetahuandalam
bentuk bahasa baik lisan maupun tertulis.
2.
Kemampuan intelektual yaitu kemampuan mempresentasikan konsep dan
lambang.
3.
Strategi kognitif yaitu kecakapan menyalurkan dan mengarahkan
aktivitas kognitifnya sendiri.
4.
Ketrampilan motorik yaitu kemampuan melakukan serangkaian gerak
jasmani dalam rangka urusan dan koordinasi, sehingga terwujud otomatisme gerak
jasmani.
5.
Sikap adalah kemampuan menerima atau menolak objek berdasarkan
penilaian terhadap objek tersebut.
Menurut Benyamin S. Bloom dalam Sardiman (2012:23) menyampaikan
tiga taksonomi yang disebut dengan ranah belajar, yaitu: ranah kognitif (cognitive
domain), ranah afekif (affective domain), dan ranah psikomotorik (psychomotoric
domain). Ranah kognitif berkaitan dengan hasil berupa pengetahuan, kemampuan
dan kemahiran intelektual. Ranah kognitif mencakup kategori pengetahuan (knowledge),
pemahaman (comprehension), penerapan (application), analisis (analysis),
sintesis (synthesis), dan penilaian (evaluation). Ranah afektif
berkaitan dengan perasaan, sikap, minat dan nilai
Metode Pembelajaran Tutor Sebaya
Menurut etimologi tutor adalah guru pribadi, mengajar ekstra atau
memberi les / pengajaran. Pendidik adalah tenaga kependidikan yang
berkualifikasi sebagai guru, dosen, konselor, pamong belajar, tutor dan sebutan
lain yang sesuai dengan kekhususannya serta partisipasinya dalam
menyelenggarakan pendidikan. Dimana tutor merupakan sebutan bagi orang yang
mengajar dalam pendidikan non-formal, walaupun yang menjadi tutor adalah
seorang guru dalam pendidikan formal. Metode tutorial merupakan cara
penyampaian bahan pelajaran yang telah dikembangkan dalam bentuk modul untuk
dipelajari siswa secara mandiri.Siswa dapat mengkonsultasikan tentang masalah
yang ditemui secara periodik.
Menurut dedi Supriyadi mengemukakan, bahwa tutor sebaya adalah
seorang atau beberapa orang siswa yang ditunjuk dan ditugaskan untuk membantu
siswa yang mengalami kesulitan (Suherman 2003:276). Tutor Sebaya artinya siswa
yang mengalami kesulitan belajar diberi bantuan oleh teman-teman mereka sekelas
yang mempunyai umur sebaya dengan dia.
Berdasarkan definisi tentang tutor sebaya diatas, maka dapat
disimpulkan bahwa istilah tutor sebaya yang dimadsud dalam penelitian ini yaitu
bagaimana mengoptimalkan kemampuan siswa yang berprestasi dalam satu kelas
untuk mengajarkan atau menularkan kepada teman sebaya mereka yang kurang
berprestasi sehingga siswa kurang berprestasi bisa mengatasi ketertinggalan
pembimbingan dalam pelajaran yang diberikan oleh siswa kepada yang siswa lain,
sedangkan antara pembimbing dan yang dibimbing adalah teman sekelas atau teman
sebangku yang usianya relatif sama dan siswa yang kurang paham bisa bertanya
langsung kepada teman sebangkunya atau tutor yang ditunjuk sehingga kondisi
kelas bisa hidup karena siswa tidak malu bertanya ketika mereka tidak paham.
METODE
DAN OBYEK PENELITIAN
Obyek penelitian ini
adalah siswa kelas VIII D SMPN 1 Jiwan dan penelitian ini mencakup rangkaian
kegiatan tahapan penelitian dari awal hingga akhir penelitian. Penelitian
dalaksanakan dalam bentuk 4 tahapan yaitu (1) persiapan, (2) studi/survei awal.
(3) pelaksanaan siklus, dan (4) penyusunan laporan.
RENCANA PENELITIAN
Penelitian ini direncanakan dengan melewati beberapa siklus,
setiap siklus terdiri dari 4 tahapan : 1) Tahap perencanaan, 2) Tahap tindakan,
3) Tahap observasi, 4) Tahap refleksi.
1) Perencanaan
Perencanaan
merupakan persiapan yang dilakukan sehubungan dengan pelaksanaan pembelajaran
dengan metode pembelajaran tutor sebaya untuk menyelesaikan masalah. Rencana
kegiatan yang akan dilakukan pada tahap ini adalah:
a) Menyiapkan Rencana
Pelaksanaan Pembelajaran (RPP) yang sesuai dengan Standar Kompetensi dan
Kompetensi dasar untuk matapelajaran IPS Ekonomi kelas VIII permintaan dan
penawaran serta terbentuknya harga pasar.
b) Menyusun Lembar kerja
siswa
c) Menyusun format
penilaian (unjuk kerja) dan observasi.
d) Mengadakan tes awal
untuk menentukan kelompok yang menjadi tutor dan kelompok teman.
e) Membagi kelompok dan
menjelaskan maksud pembagian kelompok dan rencana pembelajaran yang akan
dilakukan.
2) Pelaksanaan dan Pengamatan
A. Pendahuluan
a.
Menyiapkan RPP
b.
Menyiapkan materi IPS terpadu tentang permintaan dan penawaran
serta terbentuknya harga pasar yang terangkum dalam modul pembelajaran
c.
Membuat instrumen penelitian
d.
Melakukan pembagian kelompok
e.
Membagi kelompok antara tutor dengan anggota kelompoknya
f.
Presentasi kelompok
B. Inti
a. Mendengarkan saat guru
sedang menerangkan materi pembelajaran.
b. Menanyakan apa yang
belum paham dari materi permintaan dan penawaran serta terbentuknya harga
pasar, yang disampaikan oleh guru.
c. Melaksanakan atau
mengerjakan tugas yang diberikan oleh guru, dengan penuh rasa tanggung jawab,
cermat dan cepat.
C. Penutup
a.
Guru dengan siswa mengadakan refleksi terhadap proses dan hasil
belajar hari itu.
b.
Guru memberi kesempatan siswa untuk bertanya, apabila siswa
tersebut merasa kurang paham atas materi yang disampaikan.
Pelaksanaan tindakan
merupakan suatu kegiatan dilaksanakannya tahapan pembelajaran yang telah
direncanakan, dalam hal ini sesuai dengan RPP yang telah disiapkan.
3). Refleksi
“Refleksi
adalah kegiatan untuk mengemukakan kembali apa yangsudah terjadi” (Suharsimi,
2006: 99). Kegiatan mengulas secarakritis tentang perubahan yang terjadi pada
siswa, guru, dan suasanakelas. Berdasarkan hasil refleksi ini, peneliti dapat
melakukan revisi terhadap rencana kegiatan selanjutnya atau terhadap rencana
siklus II. Pada tahap ini, peneliti menganalisis tes siklus I. Dari hasil
tersebut yang nantinya akan dibandingkan dengan hasil tes siklus II.
Masalah-masalah yang timbul pada sikus I akan dicarikan alternatif pemecahanya
pada siklus II. Sedangkan kelebihanya akan dipertahankan dan ditingkatkan lagi
HASIL PENELITIAN
1.
Kondisi Awal Siswa
Kondisi awal siswa yaitu pada saat siswa
belum menerima pembelajaran dengan menggunakan metode pembelajaran tutorsebaya.
Data awal yang digunakan adalah data nilai ulangan harian siswa yang dilakukan
oleh guru mata pelajaran ekonomi. Sebelum dilaksanakan penelitian tindakan
kelas ini, pembelajaran masih menggunakan metode yang kurang inovatif yaitu
pembelajaran masih berpusat pada guru sehingga aktivitas siswa kurang optimal.
Guru menggunakan media pendukung berupa buku paket ekonomi dalam menyampaikan
materi permintaan, penawaran serta terbentuknya harga pasar kepada siswa sehingga
hasilnya kurang optimal. Hal ini terlihat dari nilai ulangan harian siswa yang
masih rendah dan banyak yang belum tuntas dari kriteria ketuntasan minimal
(KKM),yaitu sebesar 45% siswa tidak mencapai ketuntasan.
Dalam
proses pembelajaran guru belum menggunakan model pembelajaran, sehingga siswa
menjadi bosan. Pada saat proses pembelajaran siswa kurang aktif, kurang
memperhatikan, siswa juga takut untuk bertanya dan mengutarakan pendapatnya,
sehingga siswa kurang optimal dalam memahami materi pelajara nkhususnya pada
pokok bahasan permintaan, penawaran serta terbentuknya harga pasar terbukti
nilai hasil ulangan harian belum mencapai nilai kriteria ketuntasan minimal
(KKM). Penelitian tindakan kelas ini menggunakan metode pembelajaran tutor
sebaya diharapkan dapat meningkatkan aktivitas dan hasil belajar siswa.
2.
Hasil Penelitian Siklus I
A. Perencanaan
Pada tahap
ini peneliti mempersiapkan perangkat pembelajaran terdiri dari silabus, rencana pelaksanaan
pembelajaran, 1 Lembar Kerja Siswa (LKS), lembar observasi siswa, kisi-kisi
soal soal tes serta tes evaluasi 1. Selain itu jugaguru memberitahukan kepada
siswa kelas VIII D SMP Negeri 1 Jiwan, bahwa pelaksanaan pembelajaran dengan
menggunakan metode pembelajaran tutor sebaya serta memberikan pengertian
sedikit tentang metode tersebut. Guru juga mengupayakan agar kondisi kelas
kondusif sehingga proses pembelajaran dapat berjalan dengan baik, lancar
dansesuai dengan rencana pembelajaran yang telah disusun sebelumnya.
B. Pelaksanaan SIKLUS I
Hasil
pengamatan siklus I dicatat dalam lembar observasi yang telah dipersiapkan.
Pengamatan siklus I diperoleh hasil bahwa 77,5% siswa aktif dalam kegiatan
pembelajaran dengan menggunakan metode pembelajaran tutor sebaya. Hasil
Observasi Aktivitas Kemampuan Guru pada Siklus I Hasil pengamatan aktivitas
guru dengan metode pembelajaran tutor sebaya pada siklus I Berdasarkan presentase hasil observasi guru
pada siklus I sebesar 72,5%.
C. Refleksi
Mendiskusikan hasil
observasi dengan menggunakan Metode Pembelajaran Tutor Sebaya yaitu tindakan
kelas siklus I dapat diketahui adanya peningkatan hasil belajar di kelas VIII
D. Adapun faktor-faktor kendala yang terdapat pada Siklus I dari hasil
observasi adalah:
1.
Guru kurang maksimal dalam memotivasi siswa dan dalam menyampaikan
tujuan pembelajaran.
2.
Guru kurang maksimal dalam pengelolaan waktu, siswa kurang aktif
selama pembelajaran berlangsung.
3.
Siswa belum terbiasa dengan metode yang diberikan oleh guru yaitu
Metode Tutor Sebaya.
4.
Pada saat diskusi dengan tutor beberapa siswa yang gaduh, karena
ada siswa yang menjadikan kesempatan ini untuk berbicara dengan teman yang
lain.
5.
Siswa masih cenderung takut dan malu untuk mempresentasikan hasil
diskusi dan ada siswa yang terlihat hanya diam dan mendengarkan kelompok lain
yang sedang presentasi di depan kelas.
6.
Berdasarkan hasil data observasi siswa dapat dilihat keaktifan
siswa mencapai 77,5%. hal ini menunjukan bahwa siswa sudah mulai aktif dalam
proses pembelajaran dengan menggunakan metode pembelajaran tutor sebaya. Tetapi
dalam proses diskusi masih terdapat siswa yang kurang fokus saat tutor
menjelaskan kepada anggota yang masih belum jelas.
7.
Situasi kelas masih didominasi oleh siswa yang pandai atau tutor,
siswa yang kurang pandai tidak pernah menjawab pertanyaan dari guru. Hasil
evaluasi pembelajaran pada siklus I dengan metode pembelajaran Tutor Sebaya
dapat diketahui hasil belajar sebagai berikut :
Tabel 4.3 Data Hasil Belajar Sebelum dan
Sesudah Siklus 1

Berdasarkan
hasil tes evaluasi pada siklus I, pada kelas dengan menggunakan Model Pembelajaran
Tutor Sebaya presentase ketuntasan belajar klasikal sebesar 43,33% dimana
jumlah siswa sebanyak 30 yang tidak tuntas belajarnya adalah 16 siswa. Hasil
belajar pada siklus I belum mencapai indicator yang telah ditentukan sehingga
perlu dilanjutkan ke siklus II.
3. Hasil Penelitian Siklus
II
A. Perencanaan
Pada tahap ini peneliti membuat perencanaan
berdasarkan hasil refleksi peneliti
bersama guru dan siswa. Pada siklus I masih terdapat kekurangan di beberapa
aspek atau belum sesuai dengan indikator penelitian. Aspek tersebut antara lain
kemampuan guru dalam memotivasi siswa masih kurang, dalam mengatur jalannya
diskusi dan presentasi masih belum maksimal. Dilihat dari hasil belajarnya
sudah menunjukan adanya peningkatan, hal ini karena proses belajar mengajar
juga berjalan dengan efektif. Walaupun demikian masih ada siswa yang memiliki
kesadaran belajar rendah, sehingga perlu ditingkatkan. Persiapan siklus II
antara lain : mempersiapkan perangkat pembelajaran terdiri dari silabus,
rencana pelaksanaan pembelajaran, 1 LKS, soal tes evaluasi dan alatalat pengajaran
yang mendukung. Selain itu juga guru memberitahukan kepada siswa kelas VIII D
SMPN 1 Jiwan, bahwa pelaksanaan pembelajaran dengan menggunakan metode
pembelajaran tutor sebaya serta memberikan pengertian sedikit tentang metode
tersebut.
B. Pelaksanaan
a)
Pada pelakasanaan Siklus II kesiapan siswa mengikuti pelajaran
sangat baik dan mengalami peningkatan, terlihat 73% atau 22 siswa yang dapat
menjawab pertanyaan yang telah diberikan oleh guru. Pada saat guru menjelaskan
materi pelajaran terlihat 86% atau 26 siswa yang terlihat tenang dan fokus saat
guru menjelaskan materi pelajaran, suasana kelas terlihat kondusif.
b)
Terlihat 80% atau 24 siswa menjawab pertanyaan yang diberikan oleh
guru, hal ini disebabkan karena pertanyaan yang diberikan guru lebih mudah dibandingkan
dengan pertanyaan pada siklus I. selain itu siswa juga sudah mempelajari
sebelumnya pada siklus I. suasana dikelas terlihat sangat tenang.
c)
Pada tahap ini suasana kelas tetap tenang saat tutor masing-masing
kelompok menjelaskan atau mulai berdiskusi, sebanyak 80% atau 24 siswa yang
terlihat tenang dan tidak gaduh.Tahap diskusi terlihat 86% atau 26 siswa saling
mengeluarkan pendapatnya masing-masing untuk didiskusikan dan tutor menjelaskan
kesulitan teman di dalam kelompoknya, agar siswa yang belum mengerti menjadi
lebih jelas.
d)
Pada saaat unjuk kerja ini terlihat 83% atau 25 siswa
mempersentasikan hasil diskusi didepan dengan baik dan dapat 70 menjawab
pertanyaan dari siswa kelompok lain yang masih belum jelas. Pada saat
presentasi berlangsung, terdapat peningkatan dibandingkan siklus I. Sebesar 63%
atau 19 siswa yang mengangkat tangan untuk menanyakan apa yang belum dipahami,
bukan hanya siswa yang pandai saja, siswa yang mulanya diam mulai berani
bertanya dan mengutarakan pendapatnya.
e)
Saat proses pembelajaran terlihat 80% atau 24 siswa yang mencatat
hasil diskusi.
C.
Refleksi
1.
Hasil belajar penelitian siklus II mengalami peningkatan
dibandingkan siklus I. Peningkatan hasil belajar dilihat dari ketuntasan hasil
belajar yang mencapai 83,33% dapat dikatakan bahwa siswa sudah mampu memahami
materi permintaan dan penawaran serta terbentuknya harga pasar.
2.
Hasil evaluasi pembelajaran pada siklus II dengan metode
pembelajaran tutor sebaya dapat diketahui hasil belajar sebagai berikut :

Berdasarkan
hasil tabel diatas dapat dilihat bahwa terdapat peningkatan pada setiap
tahap, baik siklus I maupun siklus II. Rata-rata nilai siswa sebelum
diadakan tindakan sebesar 69,83 kemudian mengalami peningkatan pada
siklus I sebesar 70,51 dan 79,33 pada siklus II. Ketuntasan belajar
siswa secara klasikal juga mengalami peningkatan dari 40% sebelum
dilakukannya tindakan, setelah dilakukan tindakan meningkat menjadi
43,33% pada akhir siklus I dan pada akhir siklus II juga mengalami
peningkatan menjadi 83,33%. Karena hasil penelitian pada siklus II sudah
sesuai dengan harapan, maka tidak dilanjutkan untuk siklus berikutnya.
Pembahasan Siklus I Dan
Siklus II
Hasil penelitian yang dilakukan di SMPN 1 Jiwan, Kabupaten
Madiun menunjukan bahwa hasil belajar
permintaan dan penawaran serta terbentuknya harga pasar setelah diterapkan
tindakan yaitu pembelajaran dengan menggunakan metode pembelajaran tutor sebaya
cenderung mengalami peningkatan dengan rata-rata tertinggi 79,33. Berdasarkan
peningkatan tersebut menunjukan bahwa pembelajaran menggunakan metode
pembelajaran tutor sebaya dapat meningkatkan aktivitas dan hasil belajar siswa.
Hasil pengamatan pada siklus I diketahui bahwa pelaksanaan metode
pembelajaran tutor sebaya masih kurang baik, hal ini dikarenakan siswa masih
banyak yang belum menerima teman sebayanya menjadi tutornya dikelompok
tersebut. Siswa yang aktif dalam pembelajaran belum merata, hal ini disebabkan
keberanian siswa untuk mengungkapkan pendapat belum menyeluruh. Terlihat siswa
masih takut dan malu untuk bertanya atau maju kedepan dengan kelompoknya untuk
presentasi. Hasil belajar siswa sebelum diadakannya tindakan nilai rata-rata
hanya 69,83 dan baru mencapai ketuntasan sebesar 40%. Setelah dilakukan
tindakan pada siklus I hasil belajar siswa nilai rata-rata meningkat menjadi
70,51 dengan ketuntasan sebesar 43,33% dimana ketuntasan belajar dapat dicapai
oleh 16 siswa, sedangkan yang belum mencapai ketuntasan belajar sebanyak 14
siswa. Hasil observasi siswa siklus I terlihat keaktifan siswa mencapai 72,55%,
ini menunjukan bahwa keaktifan siswa sudah mulai ada dalam proses pembelajaran
menggunakan metode pembelajaran tutor sebaya. Aktivitas guru dalam proses
pembelajaran dengan metode pembelajaran tutor sebaya sudah baik, terlihat dari
hasil observasi terhadap guru dalam menggunakan metode pembelajaran tutor
sebaya pada siklus I mencapai 72,5%. Walaupun sudah baik, namun ada beberapa
aspek yang belum dilakukan dengan optimal. Salah satunya guru belum memberikan
tanggapan yang memuaskan, karena keadaan siswa yang belum paham tentang maksud
dan tujuan yang mereka lakukan. Siswa banyak yang gaduh berbicara dengan
temannya padahal proses pembelajaran sedang berlangsung, selain itu guru kurang
memotivasi siswa pada saat proses pembelajaran berlangsung.
. Pada siklus II nilai rata-rata yang diperoleh semakin meningkat
dibandingkan siklus I yang tadinya sebesar 70,51 menjadi 79,33 dengan
ketuntasan belajar juga meningkat dari siklus I sebesar 43,33% menjadi 83,33%
dimana ketuntasan belajar siklus II dapat dicapai 25 siswa, sedangkan 5 siswa
lainnya belum mencapai ketuntasan belajar. Selain hasil belajar yang meningkat
aktivitas siswa dan guru juga meningkat. Aktivitas siswa mengalami peningkatan
dibanding siklus I sebesar 77,5% menjadi 90%, karena siswa semakin semangat mengikuti
proses pembelajaran dengan metode pembelajaran tutor sebaya. Siswa semakin
antusias untuk mengemukakan pendapatnya dan mengerjakan tugas yang diberikan
guru. Hasil pengamatan aktivitas guru pada siklus II juga mengalami peningkatan
dibandingkan siklus I sebesar 72,5% menjadi 92,5% karena sebelum
dilaksanakannya siklus II guru melakukan perencanaan pembelajaran yang lebih
matang agar hasil yang diperoleh dapat maksimal. Salah satunya guru mampu
mengatur suasana kelas agar tertib dan tenang saat proses pembelajaran
berlangsung, guru juga sudah bertindak sebagai fasilitator serta memberikan
bimbingan kepada siswa secara keseluruhan. Secara keseluruhan tanggapan guru
baik terhadap penerapan metode pembelajaran tutor sebaya, hal ini disebabkan
metode pembelajaran tutor sebaya dapat meningkatkan aktivitas dan hasil belajar
siswa.
Kesimpulan
Proses pembelajaran dengan menggunakan model pembelajaran tutor
sebaya terbukti dapat meningkatkan
hasil belajar siswa. Hal ini terlihat pada nilai tes siswa mulai dari siklus I
sampai dengan siklus II terus mengalami peningkatan yang pasti. Adapun
pencapaian rata-rata nilai evaluasi kelas yaitu pada siklus I rata-rata nilai
70,51 dan pada siklus II meningkat menjadi 79,33. Ketuntasan klasikal kelas
pada siklus I yaitu 43,33 % dan pada siklus II meningkat menjadi 83,33%. Lembar
pengamatan aktivitas belajar siswa dan lembar pengamatan aktivitas guru. Pada
siklus I dan siklus II yang menunjukan bahwa dengan penerapan metode tutor
sebaya aktivitas siswa mencapai 72,5% pada siklus I dan 92,5 pada siklus II.
Saran
1.
Untuk melaksanakan metode pembelajaran tutor sebaya memerlukan
kesiapan yang cukup matang, sehingga guru harus mampu menentukan atau memilih
topik yang benar-benar bisa diterapkan dengan metode tutor sebaya dalam proses
belajar mengajar sehingga diperoleh hasil yang optimal.
2.
Dalam rangka meningkatkan prestasi belajar siswa, guru hendaknya
lebih sering melatih siswa dengan berbagai metode pengajaran, walau dari taraf
sederhana sehingga nantinya siswa menemukan pengetahuan yang baru, memperoleh
konsep dan ketrampilan sehingga siswa dapat lebih terampil dan mampu memecahkan
masalah yang dihadapi.
3.
Perlu adanya penelitian lebih lanjut, agar sekolah lain dapat
menerapkan metode pembelajaran tutor sebaya dengan lebih baik
DAFTAR PUSTAKA
Arikunto, Suharsimi.
2006. Prosedur Penelitian Suatu Pendekatan Praktek. Jakarta: Rineka
Cipta.
Amirrudin, Moh. 2010.
Implementasi Metode Tutor Sebaya Dalam Meningkatkan Prestasi Belajar Siswa Pada
Mata Pelajaran IPS Terpadu Kelas VIII A MTS- AL- MA’ARIF 01 Singosari Malang. Skripsi.
Malang: Pendidikan IPS Tarbiah UIN Maulana Malik Ibrahim Malang.
Catharina Tri
Anni,Achmad Rifa’i. 2011. Psikologi Pendidikan. Unnes Press.
Drs Slameto. 2010. Belajar
dan Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi. Jakarta: Rineka Cipta.
Djamarah.2010. Strategi
Belajar Mengajar. Jakarta:Rinneka Cipta.
Harianto, Dedy. Jurnal
Efektivitas Model Pembelajaran Tutor Sebaya Terhadap Hasil Belajar Siswa Dalam
Belajar Microsoft Excel Kelas VIII SMP DUA MEI BANJARAN. Jurnal UPI
Bandung. 2009.
Isjoni. 2012.
Cooperative Learning Mengembangkan Kemampuan Belajar Berkelompok.
Bandung:Alfabeta.
Mudjiono, Dimyati.
2009. Belajar dan Pembelajaran.Jakarta:Rinneka Cipta.
Oemar, Hamalik.2007.Kurikulum
dan pembelajaran. Jakarta:Bumi aksara.
Poerwadarminta. 2003. Kamus
Umum Bahasa Indonesia. Jakarta : Balai Pustaka.
Sardiman. 2011. Interaksi
Dan Motivasi Belajar-mengajar. Jakarta:Rajawali Pers.
S, Nasution. 2003. Berbagai
Pendekatan dalam Proses Belajar Mengajar. Jakarta: Bumi Aksara.
Suprijono, Agus. 2012.
Cooperative Learning Teori & Aplikasi Paikem. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.
Suherman. E, dkk. 2003.
Strategi Pembelajaran Matematika Kontemporer. Bandung: UPI.
Trianto.2007. Model
Pembelajaran Inovatif Berorientasi Konstrustik. Jakarta: Prestasi Pustaka
Publisher.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar