Senin, 01 Oktober 2018

MENINGKATKAN AKTIVITAS DAN HASIL BELAJAR IPS PADA KOMPETENSI DASAR PERMINTAAN DAN PENAWARAN SERTA TERBENTUKNYA HARGA PASAR DENGAN METODE TUTOR SEBAYA KELAS VIII SMP NEGERI 1 JIWAN TAPEL 2014/2015


MENINGKATKAN AKTIVITAS DAN HASIL BELAJAR IPS
PADA KOMPETENSI DASAR PERMINTAAN DAN PENAWARAN
SERTA TERBENTUKNYA HARGA PASAR DENGAN METODE TUTOR SEBAYA KELAS VIII SMP NEGERI 1 JIWAN TAPEL 2014/2015

Oleh : Suparmi, S.Pd.,
Guru SMP Negeri 1 Jiwan Kabupaten Madiun

ABSTRAK
Kata kunci: aktivitas belajar, hasil belajar, metode tutor sebaya

Awal proses yang menjadi kendala di SMPNegeri 1 Jiwan adalah keaktifan siswa dalam proses pembelajaran masih belum optimal, siswa masih cenderung diam dan kurang aktif pada saat proses pembelajaran, guru cenderung menggunakan metode pembelajaran konvensional. Berdasarkan observasi awal di SMPNegeri 1 Jiwan kelas VIII D, diperoleh data bahwa kelas VIII D memiliki rata-rata nilai ulangan harian sebesar 69,83 yang berarti masih di bawah KKM. Hal ini disebabkan perlu adanya penggunaan metode yang tepat dan bervariasi dalam proses belajar mengajar, salah satu alternatifnya dengan menerapkan metode pembelajaran tutor sebaya. Subjek penelitian ini adalah siswa kelas VIII D SMPNegeri 1 Jiwan tahun ajaran 2014/2015. Rancangan penelitian ini merupakan penelitian tindakan kelas dengan dua siklus, setiap siklus meliputi perencanaan, pelaksanaan, pengamatan dan refleksi.
Hasil penelitian pada siklus I menunjukkan rata-rata hasil belajar siswa sebesar 70,51 dengan ketuntasan klasikal 44,33%, aktivitas siswa sebesar 77,5% dalam kategori tinggi, aktivitas guru dalam pembelajaran sebesar 72,5% atau kategori tinggi. Untuk hasil penelitian siklus II menunjukkan rata-rata hasil belajar siswa sebesar 79,33 dengan ketuntasan klasikal 83,33%, aktivitas siswa 90% atau aktivitas siswa dalam kategori sangat tinggi, untuk aktivitas guru sebesar 92,5% dengan kriteria sangat tinggi. Berdasarkan hasil penelitian diatas, dapat disimpulkan terjadi peningkatan hasil belajar siswa kelas VIII D SMPNegeri 1 Jiwan pada materi permintaan dan penawaran serta terbentuknya harga pasar dengan menggunakan metode pembelajaran tutor sebaya. Saran yang berkaitan dengan hasil penelitian adalah perlu adanya kesiapan guru sebelum memulai pelajaran, guru dapat melakukan perbaikan pembelajaran bagi siswa yang belum tuntas belajar, guru juga ada baiknya meningkatkan penguasaan terhadap berbagai jenis metode pembelajaran dengan mengikuti berbagai kegiatan seperti diklat atau seminar pendidikan, sekolah bisa lebih mengembangkan dan memanfaatkansarana prasarana dalam proses pembelajaran.



Latar Belakang
Dalam keseluruhan proses pendidikan, kegiatan belajar mengajar adalah proses pokok yang harus dilalui oleh seorang pendidik atau guru. Berhasil tidaknya suatu tujuan pendidikan bergantung kepada bagaimana proses belajar dan mengajar disajikan. Tenaga kependidikan merupakan suatu komponen yang penting dalam pendidikan, yang bertugas menyelenggarakan kegiatan mengajar, melatih, mengembangkan, mengelola dan memberikan pelayanan tehnis dalam pendidikan. Salah satu unsur tenaga kependidikan adalah tenaga pengajar yang tugas utamanya adalah mengajar dan sekaligus membimbing. Berkaitan dengan ini, sebenarnya guru memiliki peranan yang unik dan sangat kompleks di dalam proses belajar-mengajar, dalam usahanya untuk mengantarkan siswa atau anak didik ke taraf yang dicita-citakan (Sardiman,2012:125).
Pada mata pelajaran IPS terpadu sebagian besar materinya berisi deskriptif, biasanya metode yang digunakan oleh guru adalah metode ceramah. Guru dalam melaksanakan pembelajaran IPS terpadu ini menularkan pengetahuan dan informasi dengan menggunakan lisan. Dari hal ini dapat dilihat bahwa keaktifan siswa kurang berperan, sehingga untuk berfikir kreatifpun siswa mengalami hambatan, selain itu metode ceramah ini menimbulkan rasa bosan pada siswa, sehingga metode ini dirasa kurang efektif. Oleh karena itu dalam proses belajar-mengajar perlu adanya pendekatan pembelajaran yang lebih efektif dan mampu menciptakan suasana yang dapat mengaktifkan siswa khususnya pada mata pelajaran IPS terpadu.
Jumlah siswa kelas VIII yang berjumlah 254 siswa terdapat 44 siswa yang mendapatkan nilai dibawah KKM padahal nilai ketuntasan untuk mata pelajaran ekonomi adalah 75. Rendahnya hasil belajar ini merupakan indikator rendahnya kemampuan siswa dalam pemecahan masalah (menjawab soal).
Berdasarkan teori belajar tuntas, seorang peserta didik dianggap tuntas belajar jika ia mampu menyelesaikan, menguasai kompetensi ataupun mencapai tujuan belajar minimal 65%, sekurang-kurangnya 85% dari jumlah peserta didik yang ada di kelas tersebut dari data diatas dapat diketahui bahwa 64,5% mampu memenuhi standar nilai yang ditetapkan sehingga dapat disimpulkan bahwa siswa kelas VIII SMPN 1 Jiwan belum mampu memenuhi standar ketuntasan belajar ekonomi.
Sekarang ini berkembang model-model pembelajaran pelajaran IPS terpadu yang dimaksudkan untuk lebih memberikan kesempatan kepada siswa untuk aktif belajar. Dapat juga dikatakan model-model tersebut untuk mengupayakan agar pembelajaran terpusat pada guru (Teacher Oriented) berubah menjadi terpusat kepada siswa ( Student Oriented).
Salah satu model pembelajaran yang dapat dilakukan untuk mengatasi kendala-kendala di atas adalah model pembelajaran teman sebaya (model pembelajaran tutor sebaya). Kita tahu bahwa kenyataannya, anak yang belajar dari anak-anak lain yang memiliki status dan umur yang sama, kematangan / harga diri yang tidak jauh berbeda, maka siswa tidak akan merasa terpaksa untuk menerima ide-ide dan sikap-sikap dari teman sebayanya yang bertindak sebagai guru tersebut. Anak bebas mencari hubungan yang bersifat pribadi dan bebas pula menguji dirinya dengan teman-teman lain. Dengan perasaan bebas yang dimiliki itu maka diharapkan anak dapat lebih aktif dalam berkomunikasi, sehingga dapat mempermudah mereka dalam memahami konsep / materi yang sedang diajarkan oleh guru. Dengan demikian penggunaan model pembelajaran tutor sebaya ini selain dapat meningkatkan kecakapan siswa dalam berkomunikasi juga dapat memberi solusi kepada siswa dalam memahami suatu konsep mata pelajaran sehingga dapat meningkatkan hasil belajar mereka.
Pembelajaran tutor sebaya merupakan strategi belajar dengan sejumlah siswa sebagai anggota kelompok kecil yang tingkat kemampuannya berbeda. Dalam pembelajaran, setiap siswa harus bekerja sama dan saling membantu dalam memahami materi pembelajaran.
Sehingga pada pembelajaran tutor sebaya ini dikatakan belum selesai apabila salah satu teman dalam kelompoknya belum menguasai materi pelajaran.
Menurut Suryono dan Amin (Djamarah, 2006:35) menyatakan ada beberapa kelebihan bimbingan tutor sebaya antara lain :
1.   Adanya suasana hubungan yang lebih akrab dan dekat antara siswa yang dibantu dengan siswa sebagai tutor yang membantu.
2.   Bagi tutor sendiri kegiatannya merupakan pengayaan dan menambah motivasi belajar.
3.   Bersifat efisien, artinya bisa lebih banyak yang dibantu.
4.   Dapat meningkatkan rasa tanggung jawab akan kepercayaan.
Maka dari itu peneliti tertarik untuk melakukan penelitian pembelajaran IPS Terpadu dengan pendekatan pembelajaran Tutor Sebaya dengan berdasarkan uraian di atas maka peneliti akan mengadakan penelitian dengan judul “Meningkatkan Aktivitas dan Hasil Belajar IPS pada Kompetensi Dasar Permintaan dan Penawaran serta Terbentuknya Harga Pasar dengan Model Pembelajaran Tutor Sebaya Kelas VIII SMPNegeri 1 Jiwan”.

PERUMUSAN MASALAH
1.   Apakah model pembelajaran tutor sebaya dapat meningkatkan aktivitas siswa dan hasil belajar siswa pada kompetensi dasar permintaan dan penawaran serta terbentuknya harga pasar kelas VIII di SMPN 1 Jiwan ?
2.   Seberapa besar peningkatan aktivitas siswa dan hasil belajarpada kompetensi dasar permintaan dan penawaran sertaterbentuknya harga pasar kelas VIII di SMPN 1 Jiwan  melalui model pembelajaran tutor sebaya?

TUJUAN PENELITIAN
1.   Untuk mengetahui apakah penerapan model pembelajaran Tutor Sebaya dapat meningkat­kan aktivitas siswa dan hasil belajar padakompetensi dasar permintaan dan penawaran serta terbentuknya harga pasar kelas VIII SMPN 1 Jiwan .
2.   Untuk mengetahui seberapa besar peningkatan aktivitas siswa dan hasil belajar siswa pada kompetensi dasar permintaan dan penawaran serta terbentuknya harga pasar kelas VIII SMPN 1 Jiwan melalui model pembelajaran Tutor Sebaya.

MANFAAT PENELITIAN
o  Manfaat Teoritis
Hasil penelitian ini dapat dijadikan sebagai masukan bagi pengembangan ilmu pengetahuan terutama yang berkaitan dengan dunia pendidikan.
o  Manfaat Praktis
1.   Manfaat bagi siswa
Dapat mengurangi kebosanan siswa dalam pelajaran yang sifatnya teoritis dan meningkatkan keaktifan siswa, sehingga hasil belajar siswa dapat meningkat.
2.   Manfaat bagi guru
Dapat menambah pengetahuan guru dalam memilih strategi dan model pembelajaran yang tepat agar hasil belajar siswa bisa meningkat, serta memberikan input (masukan) serta gambaran kepada guru mengenai motode pembelajaran untuk materi permintaan dan penawaran serta terbentuknya harga pasar, selanjutnya dapat digunakan sebagai bahan pertimbangan untuk meningkatkan hasil belajar siswa.

HIPOTESA TINDAKAN
Berdasarkan kerangka berfikir diatas, maka hipotesis penelitian ini adalah “Adanya Peningkatan Aktivitas dan Hasil Belajar Permintaan dan penawaran serta Terbentuknya Harga Pasar dengan menerapkan model pembelajaran Tutor Sebaya pada Siswa Kelas VIII SMP Negeri 1 Jiwan Tahun Ajaran 2014/2015.”

KAJIAN PUSTAKA
Pengertian Belajar
Belajar adalah ciri khas manusia, menurut Skiner berpandangan bahwa pada saat orang belajar, responnya menjadi kuat. Apabila ia tidak belajar, responnya menurun. Dalam belajarditemukan (1) kesempatan terjadinya peristiwa yang menimbulkan respon belajar; (2) respon pembelajaran; (3) konsekuensi yang bersifat menguatkan respon tersebut. Belajar adalah proses usaha yang dilakukan seseorang untuk memperoleh perubahan tingkah laku yang baru secara keseluruhan, sebagai hasil pengalamannya sendiri dalam interaksi dengan lingkungannya (Hamdani, 2010: 17-20).
Belajar merupakan proses penting bagi perubahan perilaku setiap orang dan belajar itu mencakup segala sesuatu yang dipikirkan dan dikerjakan oleh seseorang. Menurut Slavin dalam Rifa’I (1994: 3) menyatakan bahwa belajar merupakan perubahan individu yang disebabkan oleh pengalaman. Dari pendapat para ahli diatas dapat disimpulkan bahwa belajar merupakan proses atau tahapan yang harus dilakukan untuk memperoleh perubahan tingkah laku yang dipikirkan secara individu agar memperoleh hasil yang sesuai dengan apa yang harapan.

Aktivitas Belajar
Menurut Poerwadarminta (2003:23), aktivitas belajar adalah kegiatan-kegiatan siswa yang menunjang keberhasilan belajar. Aktivitas dalam proses pembelajaran tidak hanya guru yang melakukan aktivitas dan siswa hanya mendengarkan dan menerima saja apa yang diberikan oleh guru sehingga dapat dilihat menurut guru siswa yang baik adalah siswa yang duduk diam, mendengarkan ceramah guru dengan penuh perhatian, tidak bertanya, tidak mengemukakan masalah. Siswa percaya saja dengan kebenaran kata-kata guru sehingga menjadikan siswa kurang kritis dan tidak ikut aktif dalam proses belajar. Jadi berdasarkan uraian di atas, aktivitas belajar adalah segala cara yang digunakan untuk meningkatkan keaktifan yang dilakukan secara sadar oleh seseorang yang mengakibatkan perubahan tingkah laku sebagai suatu hasil latihan atas pengetahuan, baik jasmani maupun rohani.
Menurut Anton M. Mulyono (2001: 26), aktivitas artinya “kegiatan/keaktifan”. Segala sesuatu yang dilakukan atau kegiatan–kegiatan yang terjadi baik fisik maupun non-fisik, merupakan suatu aktifitas. Sedangkan menurut Oemar Hamalik (2001: 28), belajar adalah suatu proses perubahan tingkah laku individu melalui interaksi dengan lingkungan. Aspek tingkah laku tersebut adalah pengetahuan, pengertian, kebiasaan, keterampilan, sikap dan sebagainya, jika seseorang telah belajarmaka akan terlihat perubahan pada salah satu atau beberapa aspek tingkah laku tersebut.
Berdasarkan aktivitas tersebut di atas, dapat disimpulkan bahwa dalam belajar sangat dituntut keaktifan siswa, siswa yang lebih banyak melakukan kegiatan sedangkan guru lebih banyak membimbing dan mengarahkan.

Tinjauan Hasil Belajar
Hasil belajar merupakan perubahan perilaku yang diperoleh peserta didik setelah mengalami kegiatan belajar. Perolehan aspek – aspek perubahan perilaku tersebut tergantung pada apa yang dipelajari oleh peserta didik. Oleh karena itu apabila peserta didik mempelajari pengetahuan tentang konsep, maka perubahan perilaku yang diperoleh adalah berupa penguasaan konsep. Dalam peserta didikan, perubahan perilaku yang harus dicapai oleh peserta didik setelah melaksanakan kegiatan belajar dirumuskan dalam tujuan peserta didikan.
Perumusan tujuan peserta didikan itu, yakni hasil belajar yangdi inginkan pada diri peserta didik, lebih rumit karena tidak dapat diukur secara langsung. Tujuan peserta didikan merupakan bentuk harapan yang dikomunikasi­kan melalui pernyataan dengan cara menggambarkan perubahan yang diinginkan pada diri peserta didik, yakni pernyataan tentang apa yang diinginkan peserta didik setelah menyelesaikan pengalaman belajar. Kerumitan pengukuran hasil belajar itu karena bersifat psikologis. Dalam kegiatan belajar, tujuan yang harus dicapai oleh setiap individu dalam belajar memiliki beberapa peranan penting, yaitu :
1.   Memberikan arah pada kegiatan peserta didikan. Bagi pendidik, tujuan peserta didikan akan mengarahkan pemilihan strategi danjenis kegiatan yang tepat. Kemudian bagi peserta didik, tujuan itu mengarahkan peserta didik untuk melakukan kegiatan belajar yang diharapkan dan mampu menggunakan waktu seefisien mungkin.
2.   Untuk mengetahui kemajuan belajar dan perlu tidaknya pemberian peserta didikan pembinaan bagi peserta didikan (remidial teaching).
3.   Sebagai bahan komunikasi.
Hasil belajar juga merupakan pola-pola perbuatan, nilai-nilai, pengertian-pengertian, sikap-sikap, apresiasi dan keterampilan-keterampilan.
Menurut Gagne dalam Anni (2011:90), hasil belajar berupa :
1.   Informasi verbal, yaitu kapabilitas mengungkapkan pengetahuandalam bentuk bahasa baik lisan maupun tertulis.
2.   Kemampuan intelektual yaitu kemampuan mempresentasikan konsep dan lambang.
3.   Strategi kognitif yaitu kecakapan menyalurkan dan mengarahkan aktivitas kognitifnya sendiri.
4.   Ketrampilan motorik yaitu kemampuan melakukan serangkaian gerak jasmani dalam rangka urusan dan koordinasi, sehingga terwujud otomatisme gerak jasmani.
5.   Sikap adalah kemampuan menerima atau menolak objek berdasarkan penilaian terhadap objek tersebut.
Menurut Benyamin S. Bloom dalam Sardiman (2012:23) menyampaikan tiga taksonomi yang disebut dengan ranah belajar, yaitu: ranah kognitif (cognitive domain), ranah afekif (affective domain), dan ranah psikomotorik (psychomotoric domain). Ranah kognitif berkaitan dengan hasil berupa pengetahuan, kemampuan dan kemahiran intelektual. Ranah kognitif mencakup kategori pengetahuan (knowledge), pemahaman (comprehension), penerapan (application), analisis (analysis), sintesis (synthesis), dan penilaian (evaluation). Ranah afektif berkaitan dengan perasaan, sikap, minat dan nilai

Metode Pembelajaran Tutor Sebaya
Menurut etimologi tutor adalah guru pribadi, mengajar ekstra atau memberi les / pengajaran. Pendidik adalah tenaga kependidikan yang berkualifikasi sebagai guru, dosen, konselor, pamong belajar, tutor dan sebutan lain yang sesuai dengan kekhususannya serta partisipasinya dalam menyelenggarakan pendidikan. Dimana tutor merupakan sebutan bagi orang yang mengajar dalam pendidikan non-formal, walaupun yang menjadi tutor adalah seorang guru dalam pendidikan formal. Metode tutorial merupakan cara penyampaian bahan pelajaran yang telah dikembangkan dalam bentuk modul untuk dipelajari siswa secara mandiri.Siswa dapat mengkonsultasikan tentang masalah yang ditemui secara periodik.
Menurut dedi Supriyadi mengemukakan, bahwa tutor sebaya adalah seorang atau beberapa orang siswa yang ditunjuk dan ditugaskan untuk membantu siswa yang mengalami kesulitan (Suherman 2003:276). Tutor Sebaya artinya siswa yang mengalami kesulitan belajar diberi bantuan oleh teman-teman mereka sekelas yang mempunyai umur sebaya dengan dia.
Berdasarkan definisi tentang tutor sebaya diatas, maka dapat disimpulkan bahwa istilah tutor sebaya yang dimadsud dalam penelitian ini yaitu bagaimana mengoptimalkan kemampuan siswa yang berprestasi dalam satu kelas untuk mengajarkan atau menularkan kepada teman sebaya mereka yang kurang berprestasi sehingga siswa kurang berprestasi bisa mengatasi ketertinggalan pembimbingan dalam pelajaran yang diberikan oleh siswa kepada yang siswa lain, sedangkan antara pembimbing dan yang dibimbing adalah teman sekelas atau teman sebangku yang usianya relatif sama dan siswa yang kurang paham bisa bertanya langsung kepada teman sebangkunya atau tutor yang ditunjuk sehingga kondisi kelas bisa hidup karena siswa tidak malu bertanya ketika mereka tidak paham.

METODE DAN OBYEK PENELITIAN
Obyek penelitian ini adalah siswa kelas VIII D SMPN 1 Jiwan dan penelitian ini mencakup rangkaian kegiatan tahapan penelitian dari awal hingga akhir penelitian. Penelitian dalaksanakan dalam bentuk 4 tahapan yaitu (1) persiapan, (2) studi/survei awal. (3) pelaksanaan siklus, dan (4) penyusunan laporan.

RENCANA PENELITIAN
Penelitian ini direncanakan dengan melewati beberapa siklus, setiap siklus terdiri dari 4 tahapan : 1) Tahap perencanaan, 2) Tahap tindakan, 3) Tahap observasi, 4) Tahap refleksi.
1) Perencanaan
Perencanaan merupakan persiapan yang dilakukan sehubungan dengan pelaksanaan pembelajaran dengan metode pembelajaran tutor sebaya untuk menyelesaikan masalah. Rencana kegiatan yang akan dilakukan pada tahap ini adalah:
a)   Menyiapkan Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP) yang sesuai dengan Standar Kompetensi dan Kompetensi dasar untuk matapelajaran IPS Ekonomi kelas VIII permintaan dan penawaran serta terbentuknya harga pasar.
b)   Menyusun Lembar kerja siswa
c)   Menyusun format penilaian (unjuk kerja) dan observasi.
d)   Mengadakan tes awal untuk menentukan kelompok yang menjadi tutor dan kelompok teman.
e)   Membagi kelompok dan menjelaskan maksud pembagian kelompok dan rencana pembelajaran yang akan dilakukan.
2) Pelaksanaan dan Pengamatan
A. Pendahuluan
a.    Menyiapkan RPP
b.   Menyiapkan materi IPS terpadu tentang permintaan dan penawaran serta terbentuk­nya harga pasar yang terangkum dalam modul pembelajaran
c.    Membuat instrumen penelitian
d.   Melakukan pembagian kelompok
e.    Membagi kelompok antara tutor dengan anggota kelompoknya
f.    Presentasi kelompok
B. Inti
a.    Mendengarkan saat guru sedang menerangkan materi pembelajaran.
b.   Menanyakan apa yang belum paham dari materi permintaan dan penawaran serta terbentuknya harga pasar, yang disampaikan oleh guru.
c.    Melaksanakan atau mengerjakan tugas yang diberikan oleh guru, dengan penuh rasa tanggung jawab, cermat dan cepat.
C. Penutup
a.    Guru dengan siswa mengadakan refleksi terhadap proses dan hasil belajar hari itu.
b.   Guru memberi kesempatan siswa untuk bertanya, apabila siswa tersebut merasa kurang paham atas materi yang disampaikan.
Pelaksanaan tindakan merupakan suatu kegiatan dilaksanakannya tahapan pembelajaran yang telah direncanakan, dalam hal ini sesuai dengan RPP yang telah disiapkan.
3). Refleksi
“Refleksi adalah kegiatan untuk mengemukakan kembali apa yangsudah terjadi” (Suharsimi, 2006: 99). Kegiatan mengulas secarakritis tentang perubahan yang terjadi pada siswa, guru, dan suasanakelas. Berdasarkan hasil refleksi ini, peneliti dapat melakukan revisi terhadap rencana kegiatan selanjutnya atau terhadap rencana siklus II. Pada tahap ini, peneliti menganalisis tes siklus I. Dari hasil tersebut yang nantinya akan dibandingkan dengan hasil tes siklus II. Masalah-masalah yang timbul pada sikus I akan dicarikan alternatif pemecahanya pada siklus II. Sedangkan kelebihanya akan dipertahankan dan ditingkatkan lagi

HASIL PENELITIAN
1.   Kondisi Awal Siswa
Kondisi awal siswa yaitu pada saat siswa belum menerima pembelajaran dengan menggunakan metode pembelajaran tutorsebaya. Data awal yang digunakan adalah data nilai ulangan harian siswa yang dilakukan oleh guru mata pelajaran ekonomi. Sebelum dilaksanakan penelitian tindakan kelas ini, pembelajaran masih menggunakan metode yang kurang inovatif yaitu pembelajaran masih berpusat pada guru sehingga aktivitas siswa kurang optimal. Guru menggunakan media pendukung berupa buku paket ekonomi dalam menyampaikan materi permintaan, penawaran serta terbentuknya harga pasar kepada siswa sehingga hasilnya kurang optimal. Hal ini terlihat dari nilai ulangan harian siswa yang masih rendah dan banyak yang belum tuntas dari kriteria ketuntasan minimal (KKM),yaitu sebesar 45% siswa tidak mencapai ketuntasan.
Dalam proses pembelajaran guru belum menggunakan model pembelajaran, sehingga siswa menjadi bosan. Pada saat proses pembelajaran siswa kurang aktif, kurang memperhatikan, siswa juga takut untuk bertanya dan mengutarakan pendapatnya, sehingga siswa kurang optimal dalam memahami materi pelajara nkhususnya pada pokok bahasan permintaan, penawaran serta terbentuknya harga pasar terbukti nilai hasil ulangan harian belum mencapai nilai kriteria ketuntasan minimal (KKM). Penelitian tindakan kelas ini menggunakan metode pembelajaran tutor sebaya diharapkan dapat meningkatkan aktivitas dan hasil belajar siswa.
2.   Hasil Penelitian Siklus I
A. Perencanaan
Pada tahap ini peneliti mempersiapkan perangkat pembelajaran terdiri  dari silabus, rencana pelaksanaan pembelajaran, 1 Lembar Kerja Siswa (LKS), lembar observasi siswa, kisi-kisi soal soal tes serta tes evaluasi 1. Selain itu jugaguru memberitahukan kepada siswa kelas VIII D SMP Negeri 1 Jiwan, bahwa pelaksanaan pembelajaran dengan menggunakan metode pembelajaran tutor sebaya serta memberikan pengertian sedikit tentang metode tersebut. Guru juga mengupayakan agar kondisi kelas kondusif sehingga proses pembelajaran dapat berjalan dengan baik, lancar dansesuai dengan rencana pembelajaran yang telah disusun sebelumnya.
B. Pelaksanaan SIKLUS I
Hasil pengamatan siklus I dicatat dalam lembar observasi yang telah dipersiapkan. Pengamatan siklus I diperoleh hasil bahwa 77,5% siswa aktif dalam kegiatan pembelajaran dengan menggunakan metode pembelajaran tutor sebaya. Hasil Observasi Aktivitas Kemampuan Guru pada Siklus I Hasil pengamatan aktivitas guru dengan metode pembelajaran tutor sebaya pada siklus I  Berdasarkan presentase hasil observasi guru pada siklus I sebesar 72,5%.
C.  Refleksi
Mendiskusikan hasil observasi dengan menggunakan Metode Pembelajaran Tutor Sebaya yaitu tindakan kelas siklus I dapat diketahui adanya peningkatan hasil belajar di kelas VIII D. Adapun faktor-faktor kendala yang terdapat pada Siklus I dari hasil observasi adalah:
1.   Guru kurang maksimal dalam memotivasi siswa dan dalam menyampaikan tujuan pembelajaran.
2.   Guru kurang maksimal dalam pengelolaan waktu, siswa kurang aktif selama pembelajaran berlangsung.
3.   Siswa belum terbiasa dengan metode yang diberikan oleh guru yaitu Metode Tutor Sebaya.
4.   Pada saat diskusi dengan tutor beberapa siswa yang gaduh, karena ada siswa yang menjadikan kesempatan ini untuk berbicara dengan teman yang lain.
5.   Siswa masih cenderung takut dan malu untuk mempresentasikan hasil diskusi dan ada siswa yang terlihat hanya diam dan mendengarkan kelompok lain yang sedang presentasi di depan kelas.
6.   Berdasarkan hasil data observasi siswa dapat dilihat keaktifan siswa mencapai 77,5%. hal ini menunjukan bahwa siswa sudah mulai aktif dalam proses pembelajaran dengan menggunakan metode pembelajaran tutor sebaya. Tetapi dalam proses diskusi masih terdapat siswa yang kurang fokus saat tutor menjelaskan kepada anggota yang masih belum jelas.
7.   Situasi kelas masih didominasi oleh siswa yang pandai atau tutor, siswa yang kurang pandai tidak pernah menjawab pertanyaan dari guru. Hasil evaluasi pembelajaran pada siklus I dengan metode pembelajaran Tutor Sebaya dapat diketahui hasil belajar sebagai berikut :

Tabel 4.3 Data Hasil Belajar Sebelum dan Sesudah Siklus 1
Berdasarkan hasil tes evaluasi pada siklus I, pada kelas dengan menggunakan Model Pembelajaran Tutor Sebaya presentase ketuntasan belajar klasikal sebesar 43,33% dimana jumlah siswa sebanyak 30 yang tidak tuntas belajarnya adalah 16 siswa. Hasil belajar pada siklus I belum mencapai indicator yang telah ditentukan sehingga perlu dilanjutkan ke siklus II.
3.   Hasil Penelitian Siklus II
A. Perencanaan
 Pada tahap ini peneliti membuat perencanaan berdasarkan hasil refleksi  peneliti bersama guru dan siswa. Pada siklus I masih terdapat kekurangan di beberapa aspek atau belum sesuai dengan indikator penelitian. Aspek tersebut antara lain kemampuan guru dalam memotivasi siswa masih kurang, dalam mengatur jalannya diskusi dan presentasi masih belum maksimal. Dilihat dari hasil belajarnya sudah menunjukan adanya peningkatan, hal ini karena proses belajar mengajar juga berjalan dengan efektif. Walaupun demikian masih ada siswa yang memiliki kesadaran belajar rendah, sehingga perlu ditingkatkan. Persiapan siklus II antara lain : mempersiapkan perangkat pembelajaran terdiri dari silabus, rencana pelaksanaan pembelajaran, 1 LKS, soal tes evaluasi dan alatalat pengajaran yang mendukung. Selain itu juga guru memberitahukan kepada siswa kelas VIII D SMPN 1 Jiwan, bahwa pelaksanaan pembelajaran dengan menggunakan metode pembelajaran tutor sebaya serta memberikan pengertian sedikit tentang metode tersebut.
B. Pelaksanaan
a)   Pada pelakasanaan Siklus II kesiapan siswa mengikuti pelajaran sangat baik dan mengalami peningkatan, terlihat 73% atau 22 siswa yang dapat menjawab pertanyaan yang telah diberikan oleh guru. Pada saat guru menjelaskan materi pelajaran terlihat 86% atau 26 siswa yang terlihat tenang dan fokus saat guru menjelaskan materi pelajaran, suasana kelas terlihat kondusif.
b)   Terlihat 80% atau 24 siswa menjawab pertanyaan yang diberikan oleh guru, hal ini disebabkan karena pertanyaan yang diberikan guru lebih mudah dibandingkan dengan pertanyaan pada siklus I. selain itu siswa juga sudah mempelajari sebelumnya pada siklus I. suasana dikelas terlihat sangat tenang.
c)   Pada tahap ini suasana kelas tetap tenang saat tutor masing-masing kelompok menjelaskan atau mulai berdiskusi, sebanyak 80% atau 24 siswa yang terlihat tenang dan tidak gaduh.Tahap diskusi terlihat 86% atau 26 siswa saling mengeluarkan pendapatnya masing-masing untuk didiskusikan dan tutor menjelaskan kesulitan teman di dalam kelompoknya, agar siswa yang belum mengerti menjadi lebih jelas.
d)   Pada  saaat unjuk kerja  ini terlihat 83% atau 25 siswa mempersentasikan hasil diskusi didepan dengan baik dan dapat 70 menjawab pertanyaan dari siswa kelompok lain yang masih belum jelas. Pada saat presentasi berlangsung, terdapat peningkatan dibandingkan siklus I. Sebesar 63% atau 19 siswa yang mengangkat tangan untuk menanyakan apa yang belum dipahami, bukan hanya siswa yang pandai saja, siswa yang mulanya diam mulai berani bertanya dan mengutarakan pendapatnya.
e)   Saat proses pembelajaran terlihat 80% atau 24 siswa yang mencatat hasil diskusi.
C.  Refleksi
1.   Hasil belajar penelitian siklus II mengalami peningkatan dibandingkan siklus I. Peningkatan hasil belajar dilihat dari ketuntasan hasil belajar yang mencapai 83,33% dapat dikatakan bahwa siswa sudah mampu memahami materi permintaan dan penawaran serta terbentuknya harga pasar.
2.   Hasil evaluasi pembelajaran pada siklus II dengan metode pembelajaran tutor sebaya dapat diketahui hasil belajar sebagai berikut :
Berdasarkan hasil tabel diatas dapat dilihat bahwa terdapat peningkatan pada setiap tahap, baik siklus I maupun siklus II. Rata-rata nilai siswa sebelum diadakan tindakan sebesar 69,83 kemudian mengalami peningkatan pada siklus I sebesar 70,51 dan 79,33 pada siklus II. Ketuntasan belajar siswa secara klasikal juga mengalami peningkatan dari 40% sebelum dilakukannya tindakan, setelah dilakukan tindakan meningkat menjadi 43,33% pada akhir siklus I dan pada akhir siklus II juga mengalami peningkatan menjadi 83,33%. Karena hasil penelitian pada siklus II sudah sesuai dengan harapan, maka tidak dilanjutkan untuk siklus berikutnya.

Pembahasan Siklus I Dan Siklus II
Hasil penelitian yang dilakukan di SMPN 1 Jiwan, Kabupaten Madiun   menunjukan bahwa hasil belajar permintaan dan penawaran serta terbentuknya harga pasar setelah diterapkan tindakan yaitu pembelajaran dengan menggunakan metode pembelajaran tutor sebaya cenderung mengalami peningkatan dengan rata-rata tertinggi 79,33. Berdasarkan peningkatan tersebut menunjukan bahwa pembelajaran menggunakan metode pembelajaran tutor sebaya dapat meningkatkan aktivitas dan hasil belajar siswa.
Hasil pengamatan pada siklus I diketahui bahwa pelaksanaan metode pembelajaran tutor sebaya masih kurang baik, hal ini dikarenakan siswa masih banyak yang belum menerima teman sebayanya menjadi tutornya dikelompok tersebut. Siswa yang aktif dalam pembelajaran belum merata, hal ini disebabkan keberanian siswa untuk mengungkapkan pendapat belum menyeluruh. Terlihat siswa masih takut dan malu untuk bertanya atau maju kedepan dengan kelompoknya untuk presentasi. Hasil belajar siswa sebelum diadakannya tindakan nilai rata-rata hanya 69,83 dan baru mencapai ketuntasan sebesar 40%. Setelah dilakukan tindakan pada siklus I hasil belajar siswa nilai rata-rata meningkat menjadi 70,51 dengan ketuntasan sebesar 43,33% dimana ketuntasan belajar dapat dicapai oleh 16 siswa, sedangkan yang belum mencapai ketuntasan belajar sebanyak 14 siswa. Hasil observasi siswa siklus I terlihat keaktifan siswa mencapai 72,55%, ini menunjukan bahwa keaktifan siswa sudah mulai ada dalam proses pembelajaran menggunakan metode pembelajaran tutor sebaya. Aktivitas guru dalam proses pembelajaran dengan metode pembelajaran tutor sebaya sudah baik, terlihat dari hasil observasi terhadap guru dalam menggunakan metode pembelajaran tutor sebaya pada siklus I mencapai 72,5%. Walaupun sudah baik, namun ada beberapa aspek yang belum dilakukan dengan optimal. Salah satunya guru belum memberikan tanggapan yang memuaskan, karena keadaan siswa yang belum paham tentang maksud dan tujuan yang mereka lakukan. Siswa banyak yang gaduh berbicara dengan temannya padahal proses pembelajaran sedang berlangsung, selain itu guru kurang memotivasi siswa pada saat proses pembelajaran berlangsung.
. Pada siklus II nilai rata-rata yang diperoleh semakin meningkat dibandingkan siklus I yang tadinya sebesar 70,51 menjadi 79,33 dengan ketuntasan belajar juga meningkat dari siklus I sebesar 43,33% menjadi 83,33% dimana ketuntasan belajar siklus II dapat dicapai 25 siswa, sedangkan 5 siswa lainnya belum mencapai ketuntasan belajar. Selain hasil belajar yang meningkat aktivitas siswa dan guru juga meningkat. Aktivitas siswa mengalami peningkatan dibanding siklus I sebesar 77,5% menjadi 90%, karena siswa semakin semangat mengikuti proses pembelajaran dengan metode pembelajaran tutor sebaya. Siswa semakin antusias untuk mengemukakan pendapatnya dan mengerjakan tugas yang diberikan guru. Hasil pengamatan aktivitas guru pada siklus II juga mengalami peningkatan dibandingkan siklus I sebesar 72,5% menjadi 92,5% karena sebelum dilaksanakannya siklus II guru melakukan perencanaan pembelajaran yang lebih matang agar hasil yang diperoleh dapat maksimal. Salah satunya guru mampu mengatur suasana kelas agar tertib dan tenang saat proses pembelajaran berlangsung, guru juga sudah bertindak sebagai fasilitator serta memberikan bimbingan kepada siswa secara keseluruhan. Secara keseluruhan tanggapan guru baik terhadap penerapan metode pembelajaran tutor sebaya, hal ini disebabkan metode pembelajaran tutor sebaya dapat meningkatkan aktivitas dan hasil belajar siswa.

Kesimpulan
Proses pembelajaran dengan mengguna­kan model pembelajaran tutor sebaya   terbukti dapat meningkatkan hasil belajar siswa. Hal ini terlihat pada nilai tes siswa mulai dari siklus I sampai dengan siklus II terus mengalami peningkatan yang pasti. Adapun pencapaian rata-rata nilai evaluasi kelas yaitu pada siklus I rata-rata nilai 70,51 dan pada siklus II meningkat menjadi 79,33. Ketuntasan klasikal kelas pada siklus I yaitu 43,33 % dan pada siklus II meningkat menjadi 83,33%. Lembar pengamatan aktivitas belajar siswa dan lembar pengamatan aktivitas guru. Pada siklus I dan siklus II yang menunjukan bahwa dengan penerapan metode tutor sebaya aktivitas siswa mencapai 72,5% pada siklus I dan 92,5 pada siklus II.

Saran
1.   Untuk melaksanakan metode pembelajaran tutor sebaya memerlukan kesiapan yang cukup matang, sehingga guru harus mampu menentukan atau memilih topik yang benar-benar bisa diterapkan dengan metode tutor sebaya dalam proses belajar mengajar sehingga diperoleh hasil yang optimal.
2.   Dalam rangka meningkatkan prestasi belajar siswa, guru hendaknya lebih sering melatih siswa dengan berbagai metode pengajaran, walau dari taraf sederhana sehingga nantinya siswa menemukan pengetahuan yang baru, memperoleh konsep dan ketrampilan sehingga siswa dapat lebih terampil dan mampu memecahkan masalah yang dihadapi.
3.   Perlu adanya penelitian lebih lanjut, agar sekolah lain dapat menerapkan metode pembelajaran tutor sebaya dengan lebih baik


DAFTAR PUSTAKA
Arikunto, Suharsimi. 2006. Prosedur Penelitian Suatu Pendekatan Praktek. Jakarta: Rineka Cipta.
Amirrudin, Moh. 2010. Implementasi Metode Tutor Sebaya Dalam Meningkatkan Prestasi Belajar Siswa Pada Mata Pelajaran IPS Terpadu Kelas VIII A MTS- AL- MA’ARIF 01 Singosari Malang. Skripsi. Malang: Pendidikan IPS Tarbiah UIN Maulana Malik Ibrahim Malang.
Catharina Tri Anni,Achmad Rifa’i. 2011. Psikologi Pendidikan. Unnes Press.
Drs Slameto. 2010. Belajar dan Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi. Jakarta: Rineka Cipta.
Djamarah.2010. Strategi Belajar Mengajar. Jakarta:Rinneka Cipta.
Harianto, Dedy. Jurnal Efektivitas Model Pembelajaran Tutor Sebaya Terhadap Hasil Belajar Siswa Dalam Belajar Microsoft Excel Kelas VIII SMP DUA MEI BANJARAN. Jurnal UPI Bandung. 2009.
Isjoni. 2012. Cooperative Learning Mengembangkan Kemampuan Belajar Berkelompok. Bandung:Alfabeta.
Mudjiono, Dimyati. 2009. Belajar dan Pembelajaran.Jakarta:Rinneka Cipta.
Oemar, Hamalik.2007.Kurikulum dan pembelajaran. Jakarta:Bumi aksara.
Poerwadarminta. 2003. Kamus Umum Bahasa Indonesia. Jakarta : Balai Pustaka.
Sardiman. 2011. Interaksi Dan Motivasi Belajar-mengajar. Jakarta:Rajawali Pers.
S, Nasution. 2003. Berbagai Pendekatan dalam Proses Belajar Mengajar. Jakarta: Bumi Aksara.
Suprijono, Agus. 2012. Cooperative Learning Teori & Aplikasi Paikem. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.
Suherman. E, dkk. 2003. Strategi Pembelajaran Matematika Kontemporer. Bandung: UPI.
Trianto.2007. Model Pembelajaran Inovatif Berorientasi Konstrustik. Jakarta: Prestasi Pustaka Publisher.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar