Senin, 01 Oktober 2018

PENINGKATAN PRESTASI BELAJAR BAHASA INGGRIS MELALUI METODE PEMBELAJARAN MODEL NUMBERED HEADS TOGETHER SISWA KELAS IX-A SMP NEGERI 1 BALEREJO MADIUN SEMESTER II TAHUN PELAJARAN 2017/2018


PENINGKATAN PRESTASI BELAJAR BAHASA INGGRIS
MELALUI METODE PEMBELAJARAN MODEL NUMBERED HEADS TOGETHER
SISWA KELAS IX-A SMP NEGERI 1 BALEREJO MADIUN SEMESTER II
TAHUN PELAJARAN 2017/2018

Oleh : Dra. Rahayu Hartini Andayani,
Guru SMP Negeri 1 Balerejo Madiun


ABSTRAK
Kata kunci : Prestasi belajar Bahasa Inggris,  Numbered Head Together

Pembelajaran kooperatif adalah suatu sistem yang di dalamnya terdapat elemen – elemen yang saling terkait. Salah satu elemen tersebut adalah adanya saling ketergantungan positif. Numbered Heads Together merupakan salah satu model pembelajaran yang melibatkan siswa, suatu metode yang merangsang siswa untuk aktif mengemukakan gagasan sehingga menimbulkan suasana yang menyenangkan. Jika siswa senang maka perhatian terhadap tugas besar atau penuh sehingga hasil belajar akan meningkat.
Rumusan masalah dalam penelitian ini adalah: Adakah Peningkatan Prestasi Belajar Bahasa Inggris Melalui Metode Pembelajaran Model Numbered Heads Together Siswa Kelas IX-A SMP Negeri 1 Balerejo Madiun Semester II Tahun Pelajaran 2017/2018.
Pendekatan yang digunakan dalam penelitian ini adalah pendekatan kuantitatif, dengan jenis penelitian tindakan. Dalam penelitian ini peneliti  berkolaborasi dengan guru lain serta dengan kepala sekolah. Peneliti terlibat langsung dalam penelitian mulai dari awal sampai penelitian berakhir. Peneliti berusaha melihat, mengamati, merasakan, menghayati, merefleksi dan mengevaluasi kegiatan pembelajaran yang berlangsung. Tahap-tahap pelaksanaan penelitian tindakan terdiri dari perencanaan (planning), pelaksanaan (acting), observasi (observing), dan refleksi (reflecting). Untuk mendapatkan hasil penelitian yang akurat maka data yang telah terkumpul dianalisis secara statistik yaitu menggunakan rumus mean atau rata-rata.
 Dari hasil penelitian didapatkan bahwa nilai rata-rata pada siklus I 76.79 dan pada siklus II diperoleh nilai rata-rata 82.45. Mengacu pada hipotesis tindakan yang diajukan dalam penelitian tindakan kelas ini maka dapat disimpulkan bahwa : ada Peningkatan Prestasi Belajar Bahasa Inggris Melalui Metode Pembelajaran Model Numbered Heads Together Siswa Kelas IX-A SMP Negeri 1 Balerejo Madiun Semester II Tahun Pelajaran 2017/2018.



Latar Belakang Masalah
Mata pelajaran Bahasa Inggris mempunyai karakteristik yang berbeda dengan mata pelajaran eksakta atau mata pelajaran ilmu sosial yang lain. Perbedaan ini terletak pada fungsi bahasa sebagai alat komunikasi. Hal ini mengindikasikan bahwa belajar Bahasa Inggris bukan saja belajar kosakata dan tatabahasa dalam arti pengetahuannya, tetapi harus berupaya menggunakan atau mengaplikasikan pengetahuan tersebut dalam kegiatan komunikasi. Seorang siswa belum dapat dikatakan menguasai Bahasa Inggris kalau dia belum dapat menggunakan Bahasa Inggris untuk keperluan komunikasi, meskipun dia mendapat nilai yang bagus pada penguasaan kosakata dan tatabahasanya. Memang diakui bahwa seseorang tidak mungkin akan dapat berkomunikasi dengan baik kalau pengetahuan kosakatanya rendah. Oleh karena itu, penguasaan kosakata memang tetap diperlukan tetapi yang lebih penting bukan semata-mata pada penguasaan kosakata tersebut tetapi memanfaatkan pengetahuan kosakata tersebut dalam kegiatan komunikasi dengan Bahasa Inggris.
Dalam belajar bahasa, orang mengenal keterampilan reseptif dan keterampilan produktif. Keterampilan reseptif meliputi keterampilan menyimak (listening) dan keterampilan membaca (reading), sedangkan keterampilan produktif meliputi keterampilan berbicara (speaking) dan keterampilan menulis (writing). Baik keterampilan reseptif maupun keterampilan produktif perlu dikembangkan dalam proses pembelajaran Bahasa Inggris.
Bahasa Inggris merupakan ilmu universal yang mendasari perkembangan teknologi modern, mempunyai peran penting dalam berbagai disiplin dan mengembangkan daya pikir manusia. Perkembangan pesat di bidang teknologi informasi dan komunikasi dewasa ini dilandasi oleh perkembangan bahasa inggris di bidang teori bilangan, aljabar, analisis, teori peluang dan bahasa inggris diskrit.  Untuk menguasai dan mencipta teknologi di masa depan diperlukan penguasaan Bahasa Inggris yang kuat sejak dini.
Mata pelajaran Bahasa Inggris perlu diberikan kepada semua peserta didik mulai dari sekolah dasar sampai sekolah tingkat atas untuk membekali peserta didik dengan kemampuan berpikir logis, analitis, sistematis, kritis, dan kreatif, serta kemampuan bekerjasama. Kompetensi tersebut diperlukan agar peserta didik dapat memiliki kemampuan memperoleh, mengelola, dan memanfaatkan informasi untuk bertahan hidup pada keadaan yang selalu berubah, tidak pasti, dan kompetitif.
Agar dapat menguasai keterampilan tersebut di atas dengan baik, siswa perlu dibekali dengan unsur-unsur bahasa, misalnya kosakata. Penguasaan kosakata hanya merupakan salah satu unsur yang diperlukan dalam penguasaan keterampilan berbahasa. Unsur lain yang tidak kalah pentingnya adalah penguasaan tatabahasa. Telah dipahami bahwa tatabahasa membantu seseorang untuk mengungkapkan gagasannya dan membantu si pendengar untuk memahami gagasan yang diungkapkan oleh orang lain. Sekali lagi perlu ditekankan bahwa tatabahasa hanyalah sebagai unsur pembantu dalam penguasaan keterampilan berbahasa. Oleh karenanya, pengajaran yang menekankan semata-mata pada pengetahuan tatabahasa hendaknya ditinggalkan. Tatabahasa hendaknya diajarkan dalam rangka memfasilitasi penguasaan keempat keterampilan yang telah disebutkan di muka.
Kemampuan seseorang dalam berkomunikasi dapat ditunjukkan dalam dua cara, yaitu komunikasi lisan  dan komunikasi tertulis. Kalau komunikasi berlangsung secara lisan, ada unsur yang lain yang perlu diperhatikan oleh guru, dan tentu saja perlu diajarkan kepada para siswanya, yaitu mengenai ucapan atau pronunciation. Lebih-lebih Bahasa Inggris yang antara ejaan dan ucapannya kadang-kadang berbeda jauh. Kesalahan dalam ucapan akan menyebabkan seseorang tidak akan dapat mengemukakan gagasannya dengan tepat. Atau, kalau dia dalam posisi mendengarkan pembicaraan orang lain, maka kesalahan dalam ucapannya juga akan berpengaruh terhadap kemampuannya untuk memahami apa yang dia dengar.  Sebagai contoh, seseorang yang mengucapkan kata procedure dengan ucapan /prosidur/ tentu tidak akan dapat dipahami oleh orang yang mengucapkan kata tersebut dengan benar /prəsi:djə/. Demikian pula kalau orang tersebut mendengarkan pembicaraan orang lain yang mengucapkan dengan benar, tentu kata yang dia tangkap bukan kata tersebut.
Pembelajaran kooperative atau cooperative learning mengacu pada metode pengajaran dimana siswa bekerja sama dalam kelompok kecil saling membantu dalam belajar. Pendekatan cooperative learning ini melibatkan siswa dalam kelompok yang terdiri dari 4 (empat) siswa dengan kemampuan yang berbeda – beda. Para siswa bekerja sebagai kelompok yang sedang berupaya menemukan sesuatu. Setelah jam pelajaran yang resmi terjadwal itu habis, siswa dapat bekerja sebagai kelompok- kelompok diskusi. Akhirnya siswa mendapat kesempatan bekerja sama untuk memastikan bahwa seluruh anggota kelompok telah menguasai segala  sesuatu tentang pembelajaran tersebut dalam persiapan untuk tes.
Adapun ciri-ciri pembelajaran kooperatif adalah : (1) belajar dengan teman (2) tatap muka antara teman (3) mendengarkan diantara anggota (4) belajar dari teman sendiri dalam kelompok (5) belajar dalam kelompok kecil (6) produktif berbicara atau mengemukakan pendapat (7) siswa membuat keputusan dan (8) siswa aktif.
Dengan memperhatikan kenyataan tersebut, maka penulis mencoba mencari pemecahan dari masalah tersebut dengan menggunakan salah satu model pembelajaran yaitu model pembelajaran dengan numbered heads together. Maka dalam rangka peningkatan mutu pendidikan khususnya pada mata pelajaran bahasa inggris, penulis mengadakan penelitian dengan judul    Peningkatan Prestasi Belajar Bahasa Inggris Melalui Metode Pembelajaran Model Numbered Heads Together Siswa Kelas IX-A SMP Negeri 1 Balerejo Madiun Semester II Tahun Pelajaran 2017/2018.

Identifikasi Masalah
1.   Bagaimanakah aktifitas siswa dalam pembelajaran Bahasa Inggris ?
2.   Bagaimana ketuntasan belajar siswa dalam mempelajari Kompetensi Dasar Merespon makna yang terdapatdalam percakapan transaksional (to get things done) dan interpersonal (bersosialisasi) pendek  sederhana secara akurat, lancar dan berterima kasih untuk berinteraksi dalam kontek kehidupan sehari-hari yang melibatkan tindak tutur memberi berita yang menarik perhatian dan memberi komentar terhadap berita ?

Pembatasan Masalah
Masalah dalam penelitian ini dibatasai pada peningkatan prestasi belajar Bahasa Inggris pada kompetensi dasar Kompetensi Dasar Merespon makna yang terdapatdalam percakapan transaksional (to get things done) dan interpersonal (bersosialisasi) pendek  sederhana secara akurat, lancar dan berterima kasih untuk berinteraksi dalam kontek kehidupan sehari-hari yang melibatkan tindak tutur memberi berita yang menarik perhatian dan memberi komentar terhadap berita dengan Numbered Heads Together siswa kelas IX-E SMP Negeri 1 Balerejo Madiun tahun pelajaran 2017/2018.

Rumusan Masalah.
Adakah Peningkatan Prestasi Belajar Bahasa Inggris Melalui Metode Pembelajaran Model Numbered Heads Together Siswa Kelas IX-A SMP Negeri 1 Balerejo Madiun Semester II Tahun Pelajaran 2017/2018.

Rencana Tindakan
Kegiatan penelitian dilaksanakan dalam 2 siklus, tiap siklus 2 jam pelajaran (tatap muka). Dan setiap siklus meliputi tahap :
1. Perencanaan
2. Tindakan
3. Evaluasi
4. Analisis dan Refleksi
Hasil siklus I di analisis dan di refleksi, jika hasilnya kurang dari 75% maka dilanjutkan dengan siklus 2 dengan adanya perbaikan atau penyempurnaan.

Tujuan  Penelitian
Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui apakah dengan model pembelajaran kooperatif melalui media Numbered Heads Together dapat meningkatkan motivasi belajar Bahasa Inggris siswa. Lebih khusus penelitian ini bertujuan untuk :

1.   Meningkatkan profesionalisme guru atau kompetensi guru.

2.   Mengoptimalkan aktifitas siswa dalam meningkatkan motivasi siswa dalam pembelajaran bahasa inggris.

3.   Meningkatkan hasil belajar siswa khususnya pada kompetensi dasar memahami instruksi-instruksi sederhana.


Manfaat Penelitian
1.   Bagi siswa :
a. Lebih berperan aktif dalam pembelajaran bahasa inggris.
b. Melatih siswa bekerja sama dalam sebuah kelompok
c. Meningkatkan motivasi belajar siswa, sehingga ketuntasan belajar akan tercapai
2.   Bagi guru :
a.    Meningkatkan kualitas pembelajaran bahasa inggris.
b.   Meningkatkan profesionalisme guru.
c.    Mengembangkan gagasan untuk untuk memilih model pembelajaran yang sesuai.
3.   Bagi sekolah :
a.    Memberikan kontribusi mengenai kualitas pembelajaran.
b.   Sebagai masukan dalam upaya peningkatan kualitas guru.
c.    Meningkatkan mutu pembelajaran untuk meningkatkan mutu lulusan.

 

Kajian Pustaka

Prestasi Belajar
Kemampuan intelektual siswa sangat menentukan keberhasilan siswa dalam memperoleh prestasi. Untuk mengetahui berhasil tidaknya seseorang dalam belajar maka perlu dilakukan suau evaluasi, tujuannya untuk mengetahui prestasi yang diperoleh siswa setelah proses belajar mengajar berlangsung. Adapun prestasi dapat diartikan hasil diperoleh karena adanya aktivitas belajar yang telah dilakukan. Namun banyak orang beranggapan bahwa yang dimaksud dengan belajar adalah mencari ilmu dan menuntut ilmu. Ada lagi yang lebih khusus mengartikan bahwa belajar adalah menyerap pengetahuan. Belajar adalah perubahan yang terjadi dalam tingkah laku manusia. Proses tersebut tidak akan terjadi apabila tidak ada suatu yang mendorong pribadi yang bersangkutan.
Prestasi belajar merupakan hal yang tidak dapat dipisahkan dari kegiatan belajar, karena kegiatan belajar mengajar merupakan proses, sedangkan prestasi merupakan hasil dari proses belajar. Memahami pengertian prestasi belajar secara garis besar harus bertitik tolak kepada pengertian belajar itu sendiri. Untuk itu para ahli mengemukakan pendapatnya yang berbeda-beda sesuai dengan pandangan yang mereka anut. Namun dari pendapat yang berbeda itu dapat kita temukan satu titik persamaan.
Sehubungan dengan prestasi belajar, Purwanto (1995: 28) memberikan pengertian prestasi belajar yaitu “hasil yang dicapai oleh seseorang dalam usaha belajar sebagaimana yang dinyatakan dalam raport.”
Selanjutnya Winkel (1998: 162) mengatakan bahwa “prestasi belajar adalah suatu bukti keberhasilan belajar atau kemampuan seseorang siswa dalam melakukan kegiatan belajarnya sesuai dengan bobot yang dicapainya.” Sedangkan menurut S. Nasution (1988: 17) prestasi belajar adalah: “Kesempurnaan yang dicapai seseorang dalam berfikir, merasa dan berbuat. Prestasi belajar dikatakan sempurna apabila memenuhi tiga aspek yakni: kognitif, afektif dan psikomotor, sebaliknya dikatakan prestasi kurang memuaskan jika seseorang belum mampu memenuhi target dalam ketiga kriteria tersebut.”
Berdasarkan pendapat di atas, maka dapat disimpulkan bahwa prestasi belajar merupakan tingkat kemanusiaan yang dimiliki siswa dalam menerima, menolak dan menilai informasi-informasi yang diperoleh dalam proses belajar mengajar. Prestasi belajar seseorang sesuai dengan tingkat keberhasilan sesuatu dalam mempelajari materi pelajaran yang dinyatakan dalam bentuk nilai atau raport setiap bidang studi setelah mengalami proses belajar mengajar. Prestasi belajar siswa dapat diketahui setelah diadakan evaluasi. Hasil dari evaluasi dapat memperlihatkan tentang tinggi atau rendahnya prestasi belajar siswa.
Proses pembelajaran akan berhasil manakala siswa mempunyai motivasi dalam belajar. Oleh sebab itu, guru perlu menumbuhkan motivasi belajar siswa, sehingga terbentuk perilaku belajar siswa yang efektif. Mengingat begitu kompleksnya masalah-masalah yang berkaitan dengan perilaku individu (siswa), baik yang terkait dengan factor-faktor internal dari individu itu sendiri maupun keadaan eksternal yang mempengaruhinya.
Adapun faktor-faktor yang mendorong peningkatan prestasi belajar siswa adalah:
a.    Faktor Intern (dari dalam siswa sendiri), meliputi:
1)   Sikap terhadap belajar
2)   Motivasi belajar
3)   Konsentrasi belajar
4)   Mengolah bahan belajar
5)   Menyimpan pengolahan hasil belajar
6)   Menggali hasil belajar yang tersimpan
7)   Kemampuan berprestasi atau unjuk hasil kerja
8)   Rasa percaya diri siswa
9)   Intelegensi dan keberhasilan belajar
10)    Kebiasaan belajar
11)    Cita-cita siswa
b.   Faktor Ekstern (dari luar siswa), meliputi:
1)   Guru sebagai Pembina siswa belajar
2)   Sarana dan prasarana pembelajaran
3)   Kebijakan penilaian
4)   Lingkungan sosial siswa di sekolah
5)   Kurikulum di sekolah
(Dimyati dan Mudjiono, 2006: 245-247)
Berdasarkan uraian di atas dapat disimpulkan bahwa prestasi belajar adalah hasil yang telah dicapai siswa dalam pembelajaran dengan didukung oleh dua faktor, baik faktor intern maupun ekstern.

Belajar Kooperatif
Menurut Holubec (2001) dalam Nurhadi, Burhan Yasin, Agus Gerrad Senduk (2004 : 61) pengajaran kooperatif memerlukan pendekatan pengajaran melalui penggunaan kelompok kecil siswa untuk bekerja sama dalam memaksimalkan kondisi belajar dalam mencapai tujuan belajar.
Dari penjelasan diatas, terkandung arti bahwa dalam pembelajaran kooperatif secara sadar menciptakan interaksi yang saling mencerdaskan sehingga sumber belajar bagi siswa bukan hanya guru dan buku ajar tetapi juga sesama siswa.
Menurut Abdurrahman dan Bintoro (dalam Nurhadi dkk, 2004 : 61) pembelajaran kooperatif adalah suatu sistem yang di dalamnya terdapat elemen-elemen yang saling terkait. Salah satu elemen tersebut adalah adanya saling ketergantungan positif. Dengan pembelajaran kelompok kecil, akan tercipta suasana yang saling mendorong agar siswa merasa saling membutuhkan. Hubungan yang saling membutuhkan inilah yang dimaksud dengan saling ketergantungan positif. Dan ketergantungan positif menuntut adanya interaksi promotif yang memungkinkan sesama siswa saling memberikan motivasi untuk meraih hasil belajar yang optimal. Selain itu dengan pembelajaran kelompok kecil menimbulkan interaksi tatap muka dan interaksi tatap muka menuntut siswa dalam kelompok dapat saling bertatap muka sehingga mereka dapat melakukan dialog, tidak hanya dengan guru, tetapi juga dengan sesama siswa. Interaksi semacam itu memungkinkan para siswa dapat saling menjadi sumber belajar sehingga sumber belajar lebih bervariasi. Interaksi semacam itu sangat penting karena ada siswa yang merasa lebih mudah belajar dari sesamanya.
Hasil penelitian melalui metode meta – analisis yang dilakukan oleh Johnson dan Johnson 1984, (dalam Nurhadi dkk, 2004 : 63), menunjukkan adanya berbagai keunggulan pembelajaran kooperatif, antara lain :
a.    Memudahkan siswa melakukan penyesuaian sosial
b.   Mengembangkan kegembiraan belajar yang sejati
c.    Menungkinkan para siswa saling belajar mengenai sikap, keterampilan, informasi, perilaku sosial, dan pandangan.
d.   Meningkatkan kepekaan dan kesetiakawanan sosial
e.    Meningkatkan motivasi belajar intrinsik
f.    Meningkatkan rasa harga diri (self – esteem) dan penerimaan diri (self – acceptance)
Dari penjelasan tersebut diatas, pembelajaran kelompok kecil dapat menumbuhkan perasaan yang nyaman bagi siswa, suasana yang menyenangkan sehingga dapat mengikutkan motivasi belajar intrinsik.

Numbered Heads Together (Kepala Bernomor)
Pada dasarnya, Numbered Head Together (NHT) merupakan varian dari diskusi kelompok. Menurut Slavin (1995), metode yang dikembangkan oleh Russ Frank ini cocok untuk memastikan akuntabilitas individu dalam diskusi kelompok. Tujuan dari NHT adalah memberik kesempatan kepada siswa untuk saling berbagi gagasan dan mempertimbangkan jawaban yang paling tepat. Selain untuk meningkatkan kerja sama siswa, NHT juga bisa diterapkan untuk semua mata pelajaran dan tingkatan kelas. Adapun langkah-langkah pembelajaran ini adalah sebagai berikut:
a.    Siswa dibagi dalam kelompok, setiap siswa dalam setiap kelompok mendapat nomor
b.   Guru memberikan tugas dan masing-masing kelompok mengerjakannya
c.    Kelompok mendiskusikan jawaban yang benar dan memastikan tiap anggota kelompok dapat mengerjakannya / mengetahui jawabannya
d.   Guru memanggil salah satu nomor siswa dengan nomor yang dipanggil melaporkan hasil kerjasama mereka
e.    Tanggapan dari teman yang lain, kemudian guru menunjuk nomor yang lain
f.    Kesimpulan
Belajar adalah suatu proses aktif membangun makna atau pemahaman dari informasi dan pengalaman oleh siswa. Oleh karena itu siswa harus lebih berperan aktif, dan untuk itu guru harus lebih berkreatif mengupayakan agar dalam pembelajaran siswa lebih banyak dilibatkan.
NHT merupakan salah satu model pembelajaran yang melibatkan siswa, suatu metode yang merangsang siswa untuk aktif mengemukakan gagasan sehingga menimbulkan suasana yang menyenangkan. Jika siswa senang maka perhatian terhadap tugas besar atau penuh sehingga hasil belajar akan meningkat.
Model pembelajaran inovatif dengan NHT membutuhkan media sebagai berikut :
a.    Kartu soal
b.   Kartu jawaban/lembar jawaban
c.    Media/alat bantu
Adapun langkah – langkahnya sebagai berikut :
a.    Membentuk kelompok + 4 orang secara heterogen
b.   Kartu soal dibagikan pada masing – masing kelompok, sedangkan Kartu jawaban disimpan oleh guru..
c.    Setiap kelompok mengerjakan soal dari kartu yang telah dibagikan dengan cara bekerja sama.
d.   Apabila ada kelompok yang telah selesai mengerjakan kartu pertama, diberikan kartu soal yang kedua. Begitu seterusnya untuk kelompok yang lain yang sudah selesai
e.    Setelah selesai sampai dengan kartu yang disiapkan semua lembar jawaban dikumpulkan kemudian diadakan pembahasan.
f.    Setiap kelompok menunjuk satu anak menjelaskan jawaban dari hasil kerja kelompok.
g.   Apabila ada pertanyaan dari kelompok lain, ketua kelompok menjelaskan dan dibantu oleh anggota kelompok yang lain.
h.   Setiap kelompok boleh mengajukan pertanyaan dari soal-soal yang dikerjakan dan dirasa sulit.
i.    Guru membantu menjelaskan apabila ada penjelasan dari ketua kelompok yang kurang jelas atau salah.

Hipotesis Tindakan
Ada Peningkatan Prestasi Belajar Bahasa Inggris Melalui Metode Pembelajaran Model Numbered Heads Together Siswa Kelas IX-A SMP Negeri 1 Balerejo Madiun Semester II Tahun Pelajaran 2017/2018.

 

Metode Penelitian

Penelitian ini menggunakan rancangan penelitian tindakan kelas (classroom action research) dengan peningkatan pada unsur desain untuk memungkinkan diperolehnya gambaran keefektifan tindakan yang dilakukan.

Seting Penelitian

1.   Subjek Penelitian
Penelitian ini dilakukan di SMP Negeri 1 Balerejo Madiun. Subjek yang diteliti siswa Kelas IX-A sebanyak 29 siswa, Siswa SMP Negeri 1 Balerejo Madiun  sangat beragam dan dari latar belakang yang heterogen, terutama dari  status sosial ekonominya. Kehadiran siswa dan guru hampir 99%.
2.   Sampel Penelitian
Sampel penelitian ini mengambil siswa kelas IX-A dengan Jumlah siswa 29 anak. Semua siswa dijadikan sampel habis penelitian.
3.   Waktu penelitian
Pelaksanaan penelitian dilaksanakan pada semester II tahun pelajaran 2017/2018. Pada bulan Pebruari sampai dengan April 2018.

Perencanaan Penelitian
Kegiatan pelaksanaan tindakan akan dilaksanakan untuk menerapkan rencana pembelajaran yang telah ditetapkan dan disertai observasi terhadap aktivitas siswa. Siswa juga akan diberi lembaran pendapat dan tanggapan siswa terhadap model pembelajaran kooperatif melalui NHT yang diterapkan pada materi memahami instruksi-instruksi sederhana.
Penelitian ini akan dilakukan dalam 2 siklus. Tiap siklus mempunyai 4 tahap yaitu : perencanaan tindakan (plan), pelaksanaan tindakan (action), observasi (observation) dan refleksi (reflection).

Siklus Penelitian
Siklus Ke-1 (Pertama)
a. Perencanaan Tindakan
Peneliti akan menyiapkan rancangan pembelajaran dengan kooperatif melalui NHT pada materi memahami instruksi-instruksi sederhana. Peneliti juga menyiapkan lembar penilaian keaktifan siswa serta lembaran pendapat dan tanggapan dari siswa.
b. Pelaksanaan Tindakan
Selama proses pembelajaran berlangsung, guru mengajar sesuai dengan rencana pembelajaran yang telah dibuat dan diterapkan dengan model pembelajaran kooperatif melalui NHT.
c. Observasi
Observasi akan dilakukan untuk merekam semua aktivitas dan kemampuan yang ditunjukkan siswa selama kegiatan pembelajaran di kelas meliputi keaktifan siswa, kemampuan bertanya, menjawab dan mengeluarkan pendapat. Observasi dilakukan oleh peneliti sekaligus sebagai guru yang membina pembelajaran tersebut. Hal ini bertujuan untuk menjamin validitas data.
d.  Refleksi
Data yang diperoleh pada tahap observasi akan dianalisis untuk melihat kegiatan di kelas sesuai dengan metode yang digunakan, kemudian dibahas/didiskusikan antara siswa, peneliti dan guru bahasa inggris yang lain. Hasil penilaian keaktifan siswa dan hasil pendapat dan tanggapan siswa juga akan dijadikan bahan pertimbangan.
Diskusi tersebut bertujuan untuk mengetahui hasil dari pelaksanaan tindakan dan untuk mencari jalan keluar terhadap masalah yang ada sehingga dapat dibuat rencana tindakan pada siklus-2 agar siswa menjadi lebih aktif menampilkan kemampuannya dalam kegiatan pembelajaran di kelas.

Siklus ke-2 (Kedua)
a. Perencanaan Tindakan
Persiapan yang akan dilakukan pada siklus-2 adalah dengan melihat hasil refleksi dari siklus-1. Peneliti akan menyiapkan rencana pembelajaran berdasarkan hasil refleksi siklus-1. Materi pokok yang akan digunakan dalam siklus-2 adalah memahami instruksi-instruksi sederhana.
b. Pelaksanaan Tindakan
Tindakan yang akan dilakukan pada siklus-2 sama seperti pada siklus-1, yaitu guru mengajar sesuai dengan rencana pembelajaran yang telah dibuat sedangkan peneliti mengobservasi keaktifan siswa (disini guru sekaligus sebagai peneliti). Pada akhir siklus-2 siswa juga diberi lembar pendapat dan tanggapan dari siswa.
c. Observasi
Kegiatan observasi pada siklus-2 sama dengan observasi pada siklus-1 yaitu merekam keaktifan dan kemampuan yang ditampilkan siswa dalam kegiatan pembelajaran.
d. Refleksi
Refleksi yang akan dilakukan pada siklus-2 adalah untuk mengetahui hasil yang telah diperoleh pada siklus-1 dan siklus-2. Hasilnya kemudian akan dibandingkan antara siklus-1 dan siklus-2, apakah terjadi peningkatan terhadap keaktifan siswa dalam proses pembelajaran di kelas.

Metode Pengumpulan Data
1. Jenis Data
Data yang akan diambil pada penelitian ini meliputi, aktivitas siswa di kelas dan tanggapan siswa terhadap model pembelajaran kooperatif melalui NHT pada materi pokok memahami instruksi-instruksi sederhana. Adapun instrumen yang akan digunakan adalah :
a.    Lembar penilaian untuk menilai aktivitas siswa dalam pembelajaran di kelas.
b.   Lembar pendapat dan tanggapan siswa terhadap model pembelajaran kooperatif melalui NHT
2. Teknik Pengumpulan Data
Teknik pengumpulan data untuk keaktifan siswa diambil dengan cara menilai langsung pada saat proses pembelajaran dengan lembar penilaian yang telah disiapkan, sedangkan pendapat dan tanggapan siswa dengan cara siswa mengisi lembaran pendapat dan tanggapan.
Tolok ukur keberhasilan penelitian ini adalah :
1)   Terjadi peningkatan keaktifan siswa selama proses pembelajaran berlangsung pada siklus-2 dibanding dengan pada siklus-1.
2)   Adanya tanggapan positip dari sebagian besar siswa selama teselenggaranya model pembelajaran kooperatif melalui NHT.

Teknik Analisis Data
Data yang diperoleh akan dianalisis dengan statistik deskriptif secara persentase yaitu dengan menginventarisasi dan memadukan seluruh informasi yang diperoleh dari tiap siklus. Data yang diperoleh berdasarkan :
1.   Hasil observasi keaktifan siswa selama proses pembelajaran berlangsung.
2.   Hasil lembar pendapat dan tanggapan yang ditulis siswa.
Agar mendapat gambaran yang jelas, maka teknik statistik yang  digunakan dengan rumus mean (rata-rata), yaitu: M =
Keterangan:      M    = Nilai rata-rata
                          x  = Jumlah nilai siswa
                        N     = Jumlah siswa
Untuk mengetahui prosentase ketuntasan belajar dengan rumus:
      Jumlah siswa tuntas
% ketuntasan  =  ------------------------   x 100
       Jumlah seluruh kelas

Hasil Penelitian
Siklus I
a.  Tahap Perencanaan
Pada  tahap  ini peneliti mempersiapkan pembelajaran yang terdiri dari rencana pelajaran 1, soal tes evaluasi 1 dan alat-alat pengajaran yang mendukung serta lembar observasi pengelolahan pembelajaran model NHT dan lembar observasi aktivitas siswa.
b.  Tahap kegiatan dan Pelaksanaan
Guru menyusun rencana pembelajaran yang memuat :
1)     Pengalaman belajar dengan konsep kajian pustaka
2)     Sistem pembelajaran dengan cara siswa dibagi dalam kelompok-kelompok kecil yang terdiri dari + 4 orang siswa dengan salah seorang menjadi ketua.
3)     Setiap siswa dalam satu kelompok diberi nomor kepala yang berbeda untuk dipasang.
4)     Dalam satu kelompok tersebut diberi permasalahan yang terkait dengan pokok bahasan yang mengarah pada kemampuan dasar tertentu.
5)     Siswa yang mendapat nomor kepala yang sama diminta berkumpul untuk mendapatkan tugas dari guru dan kembali ke kelompoknya.
6)     Kemudian masing-masing kelompok mengidentifikasi permasalahan dengan anggota kelompoknya untuk membahas materi yang telah dipegang sesuai dengan topik yang dihadapi.
7)     Guru memanggil salah satu nomor kepala siswa untuk melaporkan hasil diskusi.
8)     Siswa menanggapi hasil presentasi, kemudian guru menunjuk nomor kepala yang lain.
9)     Guru memberikan penekanan dan kesimpulan pada akhir diskusi.
Pada akhir proses belajar mengajar siswa diberi tes evaluasi I dengan tujuan untuk mengetahui keberhasilan siswa dalam proses belajar mengajar yang telah dilakukan. Adapun data hasil penelitian pada siklus I adalah rata-rata nilai 76.79 dan ketuntasan belajar 65.52%
Tabel berikut adalah hasil observasi aktivitas guru dan siswa :
No                No
Aktivitas Guru yang Diamati
Hasil
1
Menyampaikan tujuan
Cukup
2
Memotivasi siswa / merumuskan masalah
Cukup
3
Mengkaitkan dengan pelajaran berikutnya
Baik
4
Menyampaikan materi / langkah-langkah / strategi
Baik
5
Menjelaskan materi yang sulit
Cukup
6
Membimbing dan mengamati siswa dalam menemukan konsep
Kurang
7
Meminta siswa menyajikan dan mendiskusikan hasil kegiatan
Cukup
8
Memberikan umpan balik
Cukup
9
Membimbing siswa merangkum pelajaran
Cukup

No
Aktivitas Siswa yang Diamati
Hasil
1
Mendengarkan/memperhatikan penjelasan guru
Kurang
2
Membaca buku siswa
Cukup
3
Bekerja dengan sesama anggota kelompok
Kurang
4
Diskusi antar siswa/antara siswa dengan guru
Kurang
5
Menyajikan hasil pembelajaran
Cukup
6
Mengajukan/menanggapi pertanyaan/ide
Cukup
7
Menulis yang relevan dengan KBM
Cukup
8
Merangkum pembelajaran
Baik
9
Mengerjakan tes evaluasi
Kurang
Berdasarkan tabel di atas tampak bahwa aktivitas guru yang paling dominant pada siklus I adalah menjelaskan materi yang sulit (cukup), membimbing dan mengamati siswa dalam menemukan konsep (kurang). Aktivitas lain yang hasilnya baik adalah Mengkaitkan dengan pelajaran berikutnya, dan menyampaikan materi/langkah-langkah/strategi. Sedangkan aktivitas siswa  yang paling baik adalah hanya merangkum pembelajaran.
Pada siklus I, secara garis besar kegiatan belajar mengajar dengan metode pembelajaran kooperatif model NHT sudah dilaksanakan dengan baik, walaupun peran guru masih cukup dominan untuk memberikan penjelasan dan arahan karena model tersebut masih dirasakan baru oleh siswa.
c.  Refleksi
Dalam pelaksanaan kegiatan belajar mengajar diperoleh informasi dari hasil pengamatan sebagai berikut:
1.  Perlu lebih intensif dalam pemotivasian dan penyampaian tujuan pembelajaran.
2.  Perlu lebih efektif dalam pengelolaan waktu
3.  Siswa kurang aktif selama pembelajaran berlangsung
d.  Refisi
1.  Guru perlu lebih terampil dalam memotivasi siswa lebih jelas dalam menyampaikan tujuan pembelajaran. Dimana siswa diajak untuk terlibat langsung dalam setiap kegiatan yang akan dilakukan.
2.  Guru perlu mendistribusikan waktu secara baik dengan menambahkan informasi-informasi yang dirasa perlu dan memberi catatan.
3.  Guru harus lebih terampil dan bersemangat dalam memotivasi siswa sehingga siswa bias lebih antusias.

Siklus II
a.  Tahap perencanaan
Pada tahap in peneliti mempersiapkan perangkat pembelajaran yang terdiri dari rencana pelajaran 2, soal tes evaluasi 2 dan alat-alat pengajaran yang mendukung. Selain itu juga dipersiapkan lembar observasi pengelolaan pembelajaran model NHT dan lembar observasi siswa.
b.  Tahap kegiatan dan pelaksanaan
Proses belajar mengajar mengacu pada rencana pelajaran dengan memperhatikan revisi pada siklus I, sehingga kesalahan atau kekurangan pada siklus I tidak terulang lagi pada siklus II. Pengamatan dilaksanakan bersamaan dengan pelaksanaan belajar mengajar.
Sebagai acuan implementasi tindakan yang dipilih pada konsep tersebut dipelajari dan diidentifikasi, maka guru menyusun rencana pembelajaran. Rencana pembelajaran ini memuat:
1)   Sistem pembelajaran dengan cara siswa dibagi dalam kelompok-kelompok kecil yang terdiri dari + 4 orang siswa dengan salah seorang menjadi ketua.
2)   Setiap siswa dalam satu kelompok diberi nomor berkepala yang berbeda untuk dipasang.
3)   Dalam satu kelompok tersebut diberi permasalahan yang terkait dengan pokok bahasan yang mengarah pada kemampuan dasar tertentu.
4)   Siswa yang mendapat nomor kepala yang sama diminta berkumpul untuk mendapatkan tugas dari guru dan kembali ke kelompoknya.
5)   Kemudian masing-masing kelompok mengidentifikasikan permasalahan dengan anggota kelompoknya untuk membahas materi yang telah dipegang sesuai dengan topik yang dihadapi.
6)   Guru memanggil salah satu nomor kepala siswa untuk melaporkan hasil diskusi.
7)   Siswa menanggapi hasil presentasi, kemudian guru menunjuk nomor kepala yang lain.
8)   Guru memberikan penekanan dan kesimpulan pada akhir diskusi.
Pada akhir proses belajar mengajar siswa diberi tes evaluasi II dengan tujuan untuk mengetahui keberhasilan siswa dalam proses belajar mengajar yang telah dilakukan. Adapun data hasil penelitian pada siklus II adalah rata-rata nilai 82.45 dan ketuntasan belajar 96.55%
Hasil observasi aktivitas guru dan siswa seperti pada tabel berikut :
No                No
Aktivitas Guru yang Diamati
Hasil
1
Menyampaikan tujuan
Cukup
2
Memotivasi siswa / merumuskan masalah
Baik
3
Mengkaitkan dengan pelajaran berikutnya
Baik
4
Menyampaikan materi / langkah-langkah / strategi
Baik
5
Menjelaskan materi yang sulit
Baik
6
Membimbing dan mengamati siswa dalam menemukan konsep
Cukup
7
Meminta siswa menyajikan dan mendiskusikan hasil kegiatan
Baik
8
Memberikan umpan balik
Baik
9
Membimbing siswa merangkum pelajaran
Baik

No
Aktivitas Siswa yang Diamati
Hasil
1
Mendengarkan/memperhatikan penjelasan guru
Baik
2
Membaca buku siswa
Baik
3
Bekerja dengan sesama anggota kelompok
Baik
4
Diskusi antar siswa/antara siswa dengan guru
Baik
5
Menyajikan hasil pembelajaran
Baik
6
Mengajukan/menanggapi pertanyaan/ide
Baik
7
Menulis yang relevan dengan KBM
Baik
8
Merangkum pembelajaran
Baik
9
Mengerjakan tes evaluasi
Baik
Aktivitas guru rata-rata baik, hanya aktivitas menyampaikan tujuan dan membimbing dan mengamati siswa dalam menemukan konsep. Sedangkan aktivitas siswa  semua baik.
Hasil ini menunjukkan  bahwa pada siklus II ini minat belajar siswa lebih baik dari  siklus I. Adanya peningkatan hasil belajar dan  minat belajar siswa ini karena setelah guru menginformaskan bahwa setiap akhir pelajaran akan selalu diadakan tes sehingga pada pertemuan berikutnya siswa lebih termotivasi untuk belajar. Selain itu siswa juga sudah mulai mengerti apa yang dimaksudkan dan diinginkan guru dengan menerapkan metode pembelajaran kooperatif model NHT.
c.  Refleksi
Dalam pelaksanaan kegiatan belajar diperoleh informasi dari hasil pengamatan sebagai berikut:
1.  Memotivasi siswa
2.  Membimbing  siswa merumuskan kesimpulan/menemukan konsep
3.  Pengelolaan waktu
d.  Refisi Pelaksanaan
Pada siklus II guru telah menerapkan pembelajaran model  NHT dengan baik dan dilihat dari aktivitas siswa serta hasil belajar siswa pelaksanaan proses belajar mengajar sudah berjalan dengan baik. Maka tidak diperlukan revisi terlalu banyak, tetapi yang perlu diperhatikan untuk tindakan selanjutnya adalah memaksimalkan dan mempertahankan apa yang telah ada dengan tujuan agar pada pelaksanaan proses belajar mengajar selanjutnya penerapan pembelajaran model NHT dapat meningkatkan proses belajar mengajar sehingga tujuan pembelajaran dapat tercapai.

Pembahasan
1.  Prestasi  Belajar Siswa
Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa pembelajaran model NHT memiliki dampak positif dalam meningkatkan minat belajar siswa. Hal ini dapat dilihat dari semakin mantapnya pemahaman siswa terhadap materi yang disampaikan guru (prestasi belajar dan ketuntasan belajar meningkat dari siklus I dan II) yaitu masing-masing 76.79 (65.52%) untuk siklus I dan siklus II sebesar 82.45 (96.55%).
2.  Kemampuan Guru dalam Mengelola Pembelajaran
Berdasarkan analisis data, diperoleh aktivitas siswa dalam proses belajar mengajar dengan menerapkan metode pembelajaran kooperatif model NHT dalam setiap siklus mengalami peningkatan. Hal ini berdampak positif terhadap prestasi belajar siswa yaitu  dapat ditunjukkan dengan meningkatnya nilai rata-rata siswa pada setiap siklus yang terus mengalami peningkatan.
3.  Aktivitas Siswa  dalam Pembelajaran
Berdasarkan analisis data, diperoleh aktivitas siswa dalam proses  pembelajaran Bahasa Inggris pada  dengan pembelajaran model NHT semua baik. Jadi dapat dikatakan bahwa aktivitas siswa dapat dikategorikan aktif.
Sedangkan untuk aktivitas guru selama pembelajaran telah melaksanakan langkah-langkah kegiatan belajar mengajar dengan menerapkan metode pembelajaran kooperatif model NHT cenderung baik. Hal ini terlihat dari aktivitas guru yang muncul di antaranya memotivasi siswa/merumuskan masalah, menjelaskan materi yang sulit, meminta siswa menyajikan dan mendiskusikan hasil kegiatan, memberikan umpan balik dan membimbing siswa merangkum pelajaran dimana hasilnya baik.
Berdasarkan hasil analisis pada siklus I dan siklus II data perbandingan nilai rata-rata setiap siklus sebagai berikut :
Tabel Perbandingan Rata-rata dan Ketuntasan Belajar Setiap Siklus

Siklus I
Siklus II
Rata-rata
76.79
82.45
Ketuntasan belajar
65.52%
96.55%
Dari hasil pengamatan siswa dan guru cenderung lebih baik setiap siklus, maka dapat disimpulkan bahwa ; Ada peningkatan prestasi belajar Bahasa Inggris melalui metode pembelajaran model Numbered Heads Together siswa kelas IX-A SMP Negeri 1 Balerejo Madiun tahun pelajaran 2017/2018.

Kesimpulan
Melalui pembelajaran kooperatif NHT dapat menumbuhkan :
1.   Rasa senang siswa belajar Bahasa inggris
2.   Antusias siswa dalam kegiatan pembelajaran
3.   Keberanian dalam mengemukakan ide
4.   Keaktifan siswa mengikuti pembelajaran
5.   Sikap kritis terhadap setiap permasalahan yang ada
6.   Sikap demokratis
7.   Sikap kerjasama dengan kelompok dalam menyelesaikan tugas selama proses pembelajaran. Sehingga pembelajaran tidak didominasi oleh guru.
Dari hasil analisis dan observasi dapat disimpulkan ada peningkatan prestasi belajar Bahasa Inggris melalui metode pembelajaran model Numbered Heads Together siswa Kelas IX-A SMP Negeri 1 Balerejo Madiun Semester II Tahun Pelajaran 2017/2018.

Saran-saran
1.   Bagi Guru :
a.    Guru diharapkan lebih mampu melakukan pengelolaan pembelajaran yang berkualitas, baik dari perencanaan, pelaksanaan maupun tindak lanjut. Dan tidak segan-segan untuk selalu merefleksi diri untuk perbaikan pembelajaran yang akan dilaksanakan berikutnya.
b.   Untuk setiap topik pembelajaran membutuhkan penyiapan bahan ajar yang spesifik, karena itu perlu persiapan yang baik dalam menyiapkan bahan pembelajaran yang dipakai sangat menentukan keberhasilan kegiatan belajar mengajar.
c.    Guru diharapkan dapat mengembangkan media pembelajaran, model pembelajaran yang inovatif untuk topik-topik yang lain.
2.   Bagi Siswa :
Siswa diharapkan dapat selalu berperan aktif dalam setiap kegiatan belajar mengajar. Karena sebagai salah satu objek dalam kegiatan belajar mengajar agar dalam proses pengkonstruksian pengetahuan dalam dirinya dapat lebih permanen dan bermakna, dan diharapkan siswa mencari strategi belajar sendiri yang sesuai dengan kondisi pribadinya masing-masing.
3.   Bagi Sekolah :
Sekolah diharapkan dapat mendukung dalam kegiatan penelitian tindakan kelas dan pengadaan buku, media pembelajaran dan sarana penunjang pendidikan yang lain.

 

DAFTAR PUSTAKA

Dimyati & Mujiono, 2006. Teori Belajar Mengajar. Bandung: P.T Remaja Rosdakarya.
Dinas P dan K Prov. Jatim, Gentengkali Jurnal Pendidikan Dasar dan Menengah. 2001. Surabaya : Proyek Perluasan dan Peningkatan Mutu SLTP.
Endang Ekowati. Model – model Pembelajaran Inovatif. Surabaya : Kartika.
Hisyam Zaini, dkk. 2005. Strategi Pembelajaran Aktif. Yogjakarta  : CTSD
Nasution, S. 1988. Metode Penelitian Naturulistik Kualitatif. Bandung : Penerbit Tarsito.
Nurhadi, dkk. 2004. Pembelajaran Kontekstual dan Penerapannya dalam KBK. Malang : Universitas Negeri Malang.
Pendidikan Tinggi. Proyek Pengembangan Guru Sekolah Menengah.
Purwanto, Ngalim, M. 1995. Ilmu Pendidikan Teoritis dan Praktis. Edisi Kedua. Bandung : PT. Remaja Rosdakarya.
Slavin, R. 1995. Cooperative Learning. Theory, Research, and Practice (edisi ke-2). USA: Alyn and Bacon.
Suharsimi Arikunto. 2000. Manajemen Penelitian. Jakarta : Rineka Cipta.
Suryobroto. 1986. Mengenal Metode Pembelajaran di Sekolah dan Pendekatan Baru Dalam Proses Belajar Mengajar. Yogjakarta : Amarta Buku.
Tim Pelatih Proyek PGSM. 1999. Penelitian Tindakan Kelas (Classroom Action Research). Departemen Pendidikan dan Kebudayaan. Direktorat Jenderal
Walgito, B. 1981. Bimbingan Penyuluhan di Sekolah. Yogyakarta : Yayasan Penerbit Fakultas Psikologi UGM.
Winkel, W.S. 1998. Psikologi Pengajaran. Yogyakarta : Gramedia.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar