PENINGKATAN
PRESTASI BELAJAR BAHASA INGGRIS
MELALUI METODE
PEMBELAJARAN MODEL NUMBERED HEADS
TOGETHER
SISWA KELAS IX-A
SMP NEGERI 1 BALEREJO MADIUN SEMESTER II
TAHUN PELAJARAN
2017/2018
![]() |
Oleh : Dra. Rahayu Hartini Andayani,
Guru SMP Negeri 1
Balerejo Madiun
|
ABSTRAK
Kata kunci : Prestasi
belajar Bahasa Inggris, Numbered Head Together
Pembelajaran
kooperatif adalah suatu sistem yang di dalamnya terdapat elemen – elemen yang
saling terkait. Salah satu elemen tersebut adalah adanya saling ketergantungan
positif. Numbered Heads Together merupakan salah satu model pembelajaran
yang melibatkan siswa, suatu metode yang merangsang siswa untuk aktif
mengemukakan gagasan sehingga menimbulkan suasana yang menyenangkan. Jika siswa
senang maka perhatian terhadap tugas besar atau penuh sehingga hasil belajar
akan meningkat.
Rumusan
masalah dalam penelitian ini adalah: Adakah Peningkatan Prestasi Belajar Bahasa Inggris
Melalui Metode Pembelajaran Model Numbered Heads Together Siswa Kelas IX-A SMP
Negeri 1 Balerejo Madiun Semester II Tahun Pelajaran 2017/2018.
Pendekatan
yang digunakan dalam penelitian ini adalah pendekatan kuantitatif, dengan jenis
penelitian tindakan. Dalam penelitian ini peneliti berkolaborasi dengan guru lain serta dengan
kepala sekolah. Peneliti terlibat langsung dalam penelitian mulai dari awal
sampai penelitian berakhir. Peneliti berusaha melihat, mengamati, merasakan,
menghayati, merefleksi dan mengevaluasi kegiatan pembelajaran yang berlangsung.
Tahap-tahap pelaksanaan penelitian tindakan terdiri dari perencanaan (planning), pelaksanaan (acting), observasi (observing), dan refleksi (reflecting). Untuk mendapatkan hasil penelitian yang akurat maka
data yang telah terkumpul dianalisis secara statistik yaitu menggunakan rumus mean atau rata-rata.
Dari hasil penelitian didapatkan bahwa nilai
rata-rata pada siklus I 76.79 dan pada siklus II
diperoleh nilai rata-rata 82.45. Mengacu pada hipotesis
tindakan yang diajukan dalam penelitian tindakan kelas ini maka dapat
disimpulkan bahwa : ada Peningkatan Prestasi Belajar Bahasa Inggris Melalui Metode Pembelajaran
Model Numbered Heads Together Siswa Kelas IX-A SMP Negeri 1 Balerejo Madiun
Semester II Tahun Pelajaran 2017/2018.
Latar Belakang Masalah
Mata
pelajaran Bahasa Inggris mempunyai karakteristik yang berbeda dengan mata
pelajaran eksakta atau mata pelajaran ilmu sosial yang lain. Perbedaan ini
terletak pada fungsi bahasa sebagai alat komunikasi. Hal ini mengindikasikan
bahwa belajar Bahasa Inggris bukan saja belajar kosakata dan tatabahasa dalam
arti pengetahuannya, tetapi harus berupaya menggunakan atau mengaplikasikan
pengetahuan tersebut dalam kegiatan komunikasi. Seorang siswa belum dapat
dikatakan menguasai Bahasa Inggris kalau dia belum dapat menggunakan Bahasa
Inggris untuk keperluan komunikasi, meskipun dia mendapat nilai yang bagus pada
penguasaan kosakata dan tatabahasanya. Memang diakui bahwa seseorang tidak
mungkin akan dapat berkomunikasi dengan baik kalau pengetahuan kosakatanya
rendah. Oleh karena itu, penguasaan kosakata memang tetap diperlukan tetapi
yang lebih penting bukan semata-mata pada penguasaan kosakata tersebut tetapi
memanfaatkan pengetahuan kosakata tersebut dalam kegiatan komunikasi dengan
Bahasa Inggris.
Dalam
belajar bahasa, orang mengenal keterampilan reseptif dan keterampilan
produktif. Keterampilan reseptif meliputi keterampilan menyimak (listening)
dan keterampilan membaca (reading), sedangkan keterampilan produktif
meliputi keterampilan berbicara (speaking) dan keterampilan menulis (writing).
Baik keterampilan reseptif maupun keterampilan produktif perlu dikembangkan
dalam proses pembelajaran Bahasa Inggris.
Bahasa
Inggris merupakan ilmu universal yang mendasari perkembangan teknologi modern,
mempunyai peran penting dalam berbagai disiplin dan mengembangkan daya pikir
manusia. Perkembangan pesat di bidang teknologi informasi dan
komunikasi dewasa ini dilandasi oleh perkembangan bahasa inggris di bidang
teori bilangan, aljabar, analisis, teori peluang dan bahasa inggris
diskrit. Untuk menguasai dan mencipta
teknologi di masa depan diperlukan penguasaan Bahasa Inggris yang kuat sejak
dini.
Mata
pelajaran Bahasa Inggris perlu diberikan kepada semua peserta didik mulai dari
sekolah dasar sampai sekolah tingkat atas untuk membekali peserta didik dengan
kemampuan berpikir logis, analitis, sistematis, kritis, dan kreatif, serta
kemampuan bekerjasama. Kompetensi tersebut diperlukan agar peserta didik dapat
memiliki kemampuan memperoleh, mengelola, dan memanfaatkan informasi untuk
bertahan hidup pada keadaan yang selalu berubah, tidak pasti, dan kompetitif.
Agar
dapat menguasai keterampilan tersebut di atas dengan baik, siswa perlu dibekali
dengan unsur-unsur bahasa, misalnya kosakata. Penguasaan kosakata hanya
merupakan salah satu unsur yang diperlukan dalam penguasaan keterampilan
berbahasa. Unsur lain yang tidak kalah pentingnya adalah penguasaan tatabahasa.
Telah dipahami bahwa tatabahasa membantu seseorang untuk mengungkapkan
gagasannya dan membantu si pendengar untuk memahami gagasan yang diungkapkan
oleh orang lain. Sekali lagi perlu ditekankan bahwa tatabahasa hanyalah sebagai
unsur pembantu dalam penguasaan keterampilan berbahasa. Oleh karenanya,
pengajaran yang menekankan semata-mata pada pengetahuan tatabahasa hendaknya
ditinggalkan. Tatabahasa hendaknya diajarkan dalam rangka memfasilitasi
penguasaan keempat keterampilan yang telah disebutkan di muka.
Kemampuan
seseorang dalam berkomunikasi dapat ditunjukkan dalam dua cara, yaitu
komunikasi lisan dan komunikasi
tertulis. Kalau komunikasi berlangsung secara lisan, ada unsur yang lain yang
perlu diperhatikan oleh guru, dan tentu saja perlu diajarkan kepada para
siswanya, yaitu mengenai ucapan atau pronunciation. Lebih-lebih Bahasa
Inggris yang antara ejaan dan ucapannya kadang-kadang berbeda jauh. Kesalahan
dalam ucapan akan menyebabkan seseorang tidak akan dapat mengemukakan
gagasannya dengan tepat. Atau, kalau dia dalam posisi mendengarkan pembicaraan
orang lain, maka kesalahan dalam ucapannya juga akan berpengaruh terhadap
kemampuannya untuk memahami apa yang dia dengar. Sebagai contoh, seseorang yang mengucapkan
kata procedure dengan ucapan /prosidur/ tentu tidak akan dapat dipahami
oleh orang yang mengucapkan kata tersebut dengan benar /prəsi:djə/. Demikian
pula kalau orang tersebut mendengarkan pembicaraan orang lain yang mengucapkan
dengan benar, tentu kata yang dia tangkap bukan kata tersebut.
Pembelajaran kooperative atau cooperative learning mengacu pada metode pengajaran dimana siswa
bekerja sama dalam kelompok kecil saling membantu dalam belajar. Pendekatan cooperative learning ini melibatkan
siswa dalam kelompok yang terdiri dari 4 (empat) siswa dengan kemampuan yang
berbeda – beda. Para siswa bekerja sebagai kelompok yang sedang berupaya
menemukan sesuatu. Setelah jam pelajaran yang resmi terjadwal itu habis, siswa
dapat bekerja sebagai kelompok- kelompok diskusi. Akhirnya siswa mendapat
kesempatan bekerja sama untuk memastikan bahwa seluruh anggota kelompok telah
menguasai segala sesuatu tentang
pembelajaran tersebut dalam persiapan untuk tes.
Adapun ciri-ciri pembelajaran kooperatif adalah :
(1) belajar dengan teman (2) tatap muka antara teman (3) mendengarkan diantara
anggota (4) belajar dari teman sendiri dalam kelompok (5) belajar dalam
kelompok kecil (6) produktif berbicara atau mengemukakan pendapat (7) siswa
membuat keputusan dan (8) siswa aktif.
Dengan memperhatikan kenyataan tersebut, maka
penulis mencoba mencari pemecahan dari masalah tersebut dengan menggunakan
salah satu model pembelajaran yaitu model pembelajaran dengan numbered heads together. Maka dalam
rangka peningkatan mutu pendidikan khususnya pada mata pelajaran bahasa
inggris, penulis mengadakan penelitian dengan judul “Peningkatan Prestasi Belajar Bahasa Inggris Melalui Metode Pembelajaran
Model Numbered Heads Together Siswa Kelas IX-A SMP Negeri 1 Balerejo Madiun
Semester II Tahun Pelajaran 2017/2018.”
Identifikasi
Masalah
1.
Bagaimanakah aktifitas siswa dalam
pembelajaran Bahasa Inggris ?
2.
Bagaimana ketuntasan belajar siswa dalam
mempelajari Kompetensi Dasar Merespon makna yang terdapatdalam percakapan
transaksional (to get
things done) dan interpersonal (bersosialisasi) pendek sederhana secara akurat, lancar dan
berterima kasih untuk berinteraksi dalam kontek kehidupan sehari-hari yang
melibatkan tindak
tutur memberi berita yang menarik perhatian dan memberi komentar
terhadap berita ?
Pembatasan Masalah
Masalah dalam penelitian
ini dibatasai pada peningkatan prestasi belajar
Bahasa Inggris pada kompetensi dasar Kompetensi Dasar Merespon makna yang
terdapatdalam percakapan transaksional (to get things done) dan interpersonal (bersosialisasi)
pendek sederhana secara
akurat, lancar dan berterima kasih untuk berinteraksi dalam kontek kehidupan
sehari-hari yang melibatkan tindak tutur memberi berita yang menarik perhatian
dan memberi komentar
terhadap berita dengan Numbered Heads
Together siswa kelas IX-E SMP Negeri 1 Balerejo Madiun tahun pelajaran
2017/2018.
Rumusan Masalah.
Adakah Peningkatan Prestasi Belajar Bahasa Inggris
Melalui Metode Pembelajaran Model Numbered Heads Together Siswa Kelas IX-A SMP
Negeri 1 Balerejo Madiun Semester II Tahun Pelajaran 2017/2018.
Rencana Tindakan
Kegiatan penelitian dilaksanakan dalam 2 siklus,
tiap siklus 2 jam pelajaran (tatap muka). Dan setiap siklus meliputi tahap :
1. Perencanaan
2. Tindakan
3. Evaluasi
4. Analisis dan
Refleksi
Hasil siklus I di analisis dan di
refleksi, jika hasilnya kurang dari 75% maka dilanjutkan dengan siklus 2 dengan
adanya perbaikan atau penyempurnaan.
Tujuan Penelitian
Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui apakah dengan
model pembelajaran kooperatif melalui media Numbered
Heads Together dapat meningkatkan motivasi belajar Bahasa Inggris siswa. Lebih
khusus penelitian ini bertujuan untuk :
1.
Meningkatkan profesionalisme guru atau kompetensi guru.
2.
Mengoptimalkan aktifitas siswa dalam meningkatkan motivasi
siswa dalam pembelajaran bahasa inggris.
3.
Meningkatkan hasil belajar siswa khususnya pada kompetensi
dasar memahami instruksi-instruksi sederhana.
Manfaat Penelitian
1. Bagi siswa :
a. Lebih berperan aktif dalam pembelajaran
bahasa inggris.
b. Melatih siswa bekerja sama dalam sebuah
kelompok
c. Meningkatkan motivasi belajar siswa,
sehingga ketuntasan belajar akan tercapai
2. Bagi guru :
a. Meningkatkan kualitas pembelajaran
bahasa inggris.
b. Meningkatkan profesionalisme guru.
c.
Mengembangkan gagasan untuk untuk
memilih model pembelajaran yang sesuai.
3. Bagi sekolah :
a.
Memberikan kontribusi mengenai kualitas
pembelajaran.
b.
Sebagai masukan dalam upaya peningkatan
kualitas guru.
c.
Meningkatkan mutu pembelajaran untuk
meningkatkan mutu lulusan.
Kajian Pustaka
Prestasi Belajar
Kemampuan
intelektual siswa sangat menentukan keberhasilan siswa dalam memperoleh
prestasi. Untuk mengetahui berhasil tidaknya seseorang dalam belajar maka perlu
dilakukan suau evaluasi, tujuannya untuk mengetahui prestasi yang diperoleh
siswa setelah proses belajar mengajar berlangsung. Adapun prestasi dapat
diartikan hasil diperoleh karena adanya aktivitas belajar yang telah dilakukan.
Namun banyak orang beranggapan bahwa yang dimaksud dengan belajar adalah
mencari ilmu dan menuntut ilmu. Ada lagi yang lebih khusus mengartikan bahwa
belajar adalah menyerap pengetahuan. Belajar adalah perubahan yang terjadi
dalam tingkah laku manusia. Proses tersebut tidak akan terjadi apabila tidak
ada suatu yang mendorong pribadi yang bersangkutan.
Prestasi
belajar merupakan hal yang tidak dapat dipisahkan dari kegiatan belajar, karena
kegiatan belajar mengajar merupakan proses, sedangkan prestasi merupakan hasil
dari proses belajar. Memahami pengertian prestasi belajar secara garis besar
harus bertitik tolak kepada pengertian belajar itu sendiri. Untuk itu para ahli
mengemukakan pendapatnya yang berbeda-beda sesuai dengan pandangan yang mereka
anut. Namun dari pendapat yang berbeda itu dapat kita temukan satu titik
persamaan.
Sehubungan
dengan prestasi belajar, Purwanto (1995: 28) memberikan pengertian prestasi
belajar yaitu “hasil yang dicapai oleh seseorang dalam usaha belajar
sebagaimana yang dinyatakan dalam raport.”
Selanjutnya
Winkel (1998: 162) mengatakan bahwa “prestasi belajar adalah suatu bukti
keberhasilan belajar atau kemampuan seseorang siswa dalam melakukan kegiatan
belajarnya sesuai dengan bobot yang dicapainya.” Sedangkan menurut S. Nasution
(1988: 17) prestasi belajar adalah: “Kesempurnaan yang dicapai seseorang dalam
berfikir, merasa dan berbuat. Prestasi belajar dikatakan sempurna apabila
memenuhi tiga aspek yakni: kognitif, afektif dan psikomotor, sebaliknya
dikatakan prestasi kurang memuaskan jika seseorang belum mampu memenuhi target
dalam ketiga kriteria tersebut.”
Berdasarkan
pendapat di atas, maka dapat disimpulkan bahwa prestasi belajar merupakan
tingkat kemanusiaan yang dimiliki siswa dalam menerima, menolak dan menilai
informasi-informasi yang diperoleh dalam proses belajar mengajar. Prestasi
belajar seseorang sesuai dengan tingkat keberhasilan sesuatu dalam mempelajari
materi pelajaran yang dinyatakan dalam bentuk nilai atau raport setiap bidang
studi setelah mengalami proses belajar mengajar. Prestasi belajar siswa dapat
diketahui setelah diadakan evaluasi. Hasil dari evaluasi dapat memperlihatkan
tentang tinggi atau rendahnya prestasi belajar siswa.
Proses
pembelajaran akan berhasil manakala siswa mempunyai motivasi dalam belajar.
Oleh sebab itu, guru perlu menumbuhkan motivasi belajar siswa, sehingga
terbentuk perilaku belajar siswa yang efektif. Mengingat begitu kompleksnya
masalah-masalah yang berkaitan dengan perilaku individu (siswa), baik yang
terkait dengan factor-faktor internal dari individu itu sendiri maupun keadaan
eksternal yang mempengaruhinya.
Adapun
faktor-faktor yang mendorong peningkatan prestasi belajar siswa adalah:
a.
Faktor
Intern (dari dalam siswa sendiri), meliputi:
1)
Sikap terhadap belajar
2)
Motivasi belajar
3)
Konsentrasi belajar
4)
Mengolah bahan belajar
5)
Menyimpan pengolahan hasil belajar
6)
Menggali hasil belajar yang tersimpan
7)
Kemampuan berprestasi atau unjuk hasil kerja
8)
Rasa percaya diri siswa
9)
Intelegensi dan keberhasilan belajar
10)
Kebiasaan belajar
11)
Cita-cita siswa
b.
Faktor
Ekstern (dari luar siswa), meliputi:
1)
Guru sebagai Pembina siswa belajar
2)
Sarana dan prasarana pembelajaran
3)
Kebijakan penilaian
4)
Lingkungan sosial siswa di sekolah
5)
Kurikulum di sekolah
(Dimyati dan Mudjiono, 2006: 245-247)
Berdasarkan
uraian di atas dapat disimpulkan bahwa prestasi belajar adalah hasil yang telah
dicapai siswa dalam pembelajaran dengan didukung oleh dua faktor, baik faktor
intern maupun ekstern.
Belajar
Kooperatif
Menurut Holubec (2001) dalam Nurhadi, Burhan
Yasin, Agus Gerrad Senduk (2004 : 61) pengajaran kooperatif memerlukan
pendekatan pengajaran melalui penggunaan kelompok kecil siswa untuk bekerja
sama dalam memaksimalkan kondisi belajar dalam mencapai tujuan belajar.
Dari penjelasan diatas, terkandung arti bahwa dalam
pembelajaran kooperatif secara sadar menciptakan interaksi yang saling
mencerdaskan sehingga sumber belajar bagi siswa bukan hanya guru dan buku ajar
tetapi juga sesama siswa.
Menurut Abdurrahman dan Bintoro (dalam Nurhadi dkk,
2004 : 61) pembelajaran kooperatif adalah suatu sistem yang di dalamnya
terdapat elemen-elemen yang saling terkait. Salah satu elemen tersebut adalah
adanya saling ketergantungan positif. Dengan pembelajaran kelompok kecil, akan
tercipta suasana yang saling mendorong agar siswa merasa saling membutuhkan.
Hubungan yang saling membutuhkan inilah yang dimaksud dengan saling ketergantungan
positif. Dan ketergantungan positif menuntut adanya interaksi promotif yang
memungkinkan sesama siswa saling memberikan motivasi untuk meraih hasil belajar
yang optimal. Selain itu dengan pembelajaran kelompok kecil menimbulkan
interaksi tatap muka dan interaksi tatap muka menuntut siswa dalam kelompok
dapat saling bertatap muka sehingga mereka dapat melakukan dialog, tidak hanya
dengan guru, tetapi juga dengan sesama siswa. Interaksi semacam itu
memungkinkan para siswa dapat saling menjadi sumber belajar sehingga sumber
belajar lebih bervariasi. Interaksi semacam itu sangat penting karena ada siswa
yang merasa lebih mudah belajar dari sesamanya.
Hasil penelitian melalui metode meta – analisis yang
dilakukan oleh Johnson dan Johnson 1984, (dalam Nurhadi dkk, 2004 : 63),
menunjukkan adanya berbagai keunggulan pembelajaran kooperatif, antara lain :
a.
Memudahkan siswa melakukan penyesuaian
sosial
b. Mengembangkan kegembiraan belajar
yang sejati
c.
Menungkinkan para siswa saling belajar
mengenai sikap, keterampilan, informasi, perilaku sosial, dan pandangan.
d. Meningkatkan kepekaan dan
kesetiakawanan sosial
e. Meningkatkan motivasi belajar
intrinsik
f. Meningkatkan rasa harga diri (self – esteem) dan penerimaan diri (self – acceptance)
Dari penjelasan tersebut diatas, pembelajaran kelompok kecil
dapat menumbuhkan perasaan yang nyaman bagi siswa, suasana yang menyenangkan
sehingga dapat mengikutkan motivasi belajar intrinsik.
Numbered Heads Together (Kepala Bernomor)
Pada dasarnya, Numbered Head Together (NHT) merupakan
varian dari diskusi kelompok. Menurut Slavin (1995), metode yang dikembangkan
oleh Russ Frank ini cocok untuk memastikan akuntabilitas individu dalam diskusi
kelompok. Tujuan dari NHT adalah memberik kesempatan kepada siswa untuk saling
berbagi gagasan dan mempertimbangkan jawaban yang paling tepat. Selain untuk
meningkatkan kerja sama siswa, NHT juga bisa diterapkan untuk semua mata
pelajaran dan tingkatan kelas. Adapun
langkah-langkah pembelajaran ini adalah sebagai berikut:
a. Siswa dibagi dalam kelompok, setiap siswa dalam
setiap kelompok mendapat nomor
b. Guru memberikan tugas dan masing-masing kelompok
mengerjakannya
c. Kelompok mendiskusikan jawaban yang benar dan
memastikan tiap anggota kelompok dapat mengerjakannya / mengetahui jawabannya
d. Guru memanggil salah satu nomor siswa dengan nomor
yang dipanggil melaporkan hasil kerjasama mereka
e. Tanggapan dari teman yang lain, kemudian guru
menunjuk nomor yang lain
f.
Kesimpulan
Belajar adalah
suatu proses aktif membangun makna atau pemahaman dari informasi dan pengalaman
oleh siswa. Oleh karena
itu siswa harus lebih berperan aktif, dan untuk itu guru harus lebih berkreatif
mengupayakan agar dalam pembelajaran siswa lebih banyak dilibatkan.
NHT merupakan
salah satu model pembelajaran yang melibatkan siswa, suatu metode yang merangsang
siswa untuk aktif mengemukakan gagasan sehingga menimbulkan suasana yang
menyenangkan. Jika siswa senang maka perhatian terhadap tugas besar
atau penuh sehingga hasil belajar akan meningkat.
Model
pembelajaran inovatif dengan NHT membutuhkan media sebagai berikut :
a. Kartu soal
b. Kartu jawaban/lembar jawaban
c. Media/alat bantu
Adapun langkah – langkahnya
sebagai berikut :
a. Membentuk kelompok + 4 orang
secara heterogen
b.
Kartu soal dibagikan pada masing –
masing kelompok, sedangkan Kartu jawaban disimpan oleh guru..
c.
Setiap kelompok mengerjakan soal dari
kartu yang telah dibagikan dengan cara bekerja sama.
d. Apabila
ada kelompok yang telah selesai mengerjakan kartu pertama, diberikan kartu soal
yang kedua. Begitu
seterusnya untuk kelompok yang lain yang sudah selesai
e.
Setelah selesai sampai dengan kartu yang
disiapkan semua lembar jawaban dikumpulkan kemudian diadakan pembahasan.
f.
Setiap kelompok menunjuk satu anak
menjelaskan jawaban dari hasil kerja kelompok.
g.
Apabila ada pertanyaan dari kelompok
lain, ketua kelompok menjelaskan dan dibantu oleh anggota kelompok yang lain.
h.
Setiap kelompok boleh mengajukan
pertanyaan dari soal-soal yang dikerjakan dan dirasa sulit.
i.
Guru membantu menjelaskan apabila ada
penjelasan dari ketua kelompok yang kurang jelas atau salah.
Hipotesis Tindakan
Ada Peningkatan Prestasi Belajar Bahasa Inggris
Melalui Metode Pembelajaran Model Numbered Heads Together Siswa Kelas IX-A SMP
Negeri 1 Balerejo Madiun Semester II Tahun Pelajaran 2017/2018.
Metode
Penelitian
Penelitian
ini menggunakan rancangan penelitian tindakan kelas (classroom action research) dengan peningkatan pada unsur desain
untuk memungkinkan diperolehnya gambaran keefektifan tindakan yang dilakukan.
Seting Penelitian
1.
Subjek Penelitian
Penelitian ini dilakukan di SMP Negeri 1 Balerejo Madiun.
Subjek yang diteliti siswa Kelas IX-A sebanyak 29 siswa, Siswa SMP Negeri 1
Balerejo Madiun sangat beragam dan dari
latar belakang yang heterogen, terutama dari
status sosial ekonominya. Kehadiran siswa dan guru hampir 99%.
2.
Sampel Penelitian
Sampel penelitian ini mengambil
siswa kelas IX-A dengan Jumlah siswa 29 anak. Semua siswa dijadikan sampel
habis penelitian.
3.
Waktu penelitian
Pelaksanaan penelitian
dilaksanakan pada semester II tahun pelajaran 2017/2018. Pada bulan Pebruari
sampai dengan April 2018.
Perencanaan Penelitian
Kegiatan pelaksanaan tindakan akan dilaksanakan
untuk menerapkan rencana pembelajaran yang telah ditetapkan dan disertai
observasi terhadap aktivitas siswa. Siswa juga akan diberi lembaran pendapat
dan tanggapan siswa terhadap model pembelajaran kooperatif melalui NHT yang diterapkan pada materi memahami instruksi-instruksi
sederhana.
Penelitian ini akan dilakukan dalam 2 siklus. Tiap
siklus mempunyai 4 tahap yaitu : perencanaan tindakan (plan), pelaksanaan tindakan (action), observasi (observation) dan refleksi (reflection).
Siklus Penelitian
Siklus
Ke-1 (Pertama)
a. Perencanaan Tindakan
Peneliti akan menyiapkan rancangan pembelajaran
dengan kooperatif melalui NHT pada
materi memahami
instruksi-instruksi sederhana. Peneliti juga menyiapkan lembar
penilaian keaktifan siswa serta lembaran pendapat dan tanggapan dari siswa.
b. Pelaksanaan Tindakan
Selama proses pembelajaran berlangsung, guru
mengajar sesuai dengan rencana pembelajaran yang telah dibuat dan diterapkan
dengan model pembelajaran kooperatif melalui NHT.
c. Observasi
Observasi akan dilakukan untuk merekam semua
aktivitas dan kemampuan yang ditunjukkan siswa selama kegiatan pembelajaran di
kelas meliputi keaktifan siswa, kemampuan bertanya, menjawab dan mengeluarkan
pendapat. Observasi dilakukan oleh peneliti sekaligus sebagai guru yang membina
pembelajaran tersebut. Hal ini bertujuan untuk menjamin validitas data.
d. Refleksi
Data yang diperoleh pada tahap observasi akan
dianalisis untuk melihat kegiatan di kelas sesuai dengan metode yang digunakan,
kemudian dibahas/didiskusikan antara siswa, peneliti dan guru bahasa inggris
yang lain. Hasil penilaian keaktifan siswa dan hasil pendapat dan tanggapan
siswa juga akan dijadikan bahan pertimbangan.
Diskusi tersebut bertujuan untuk
mengetahui hasil dari pelaksanaan tindakan dan untuk mencari jalan keluar
terhadap masalah yang ada sehingga dapat dibuat rencana tindakan pada siklus-2
agar siswa menjadi lebih aktif menampilkan kemampuannya dalam kegiatan pembelajaran
di kelas.
Siklus ke-2
(Kedua)
a. Perencanaan Tindakan
Persiapan yang akan dilakukan pada siklus-2 adalah
dengan melihat hasil refleksi dari siklus-1. Peneliti akan menyiapkan rencana
pembelajaran berdasarkan hasil refleksi siklus-1. Materi pokok yang akan
digunakan dalam siklus-2 adalah memahami instruksi-instruksi sederhana.
b. Pelaksanaan Tindakan
Tindakan yang akan dilakukan pada siklus-2 sama
seperti pada siklus-1, yaitu guru mengajar sesuai dengan rencana pembelajaran
yang telah dibuat sedangkan peneliti mengobservasi keaktifan siswa (disini guru
sekaligus sebagai peneliti). Pada akhir siklus-2 siswa juga diberi lembar
pendapat dan tanggapan dari siswa.
c. Observasi
Kegiatan observasi pada siklus-2 sama dengan
observasi pada siklus-1 yaitu merekam keaktifan dan kemampuan yang ditampilkan
siswa dalam kegiatan pembelajaran.
d. Refleksi
Refleksi yang akan dilakukan pada siklus-2 adalah
untuk mengetahui hasil yang telah diperoleh pada siklus-1 dan siklus-2.
Hasilnya kemudian akan dibandingkan antara siklus-1 dan siklus-2, apakah
terjadi peningkatan terhadap keaktifan siswa dalam proses pembelajaran di
kelas.
Metode
Pengumpulan Data
1.
Jenis Data
Data yang akan diambil pada penelitian ini meliputi,
aktivitas siswa di kelas dan tanggapan siswa terhadap model pembelajaran
kooperatif melalui NHT pada materi
pokok memahami
instruksi-instruksi sederhana. Adapun instrumen yang akan digunakan
adalah :
a.
Lembar penilaian untuk menilai aktivitas
siswa dalam pembelajaran di kelas.
b.
Lembar pendapat dan tanggapan siswa
terhadap model pembelajaran kooperatif melalui NHT
2.
Teknik Pengumpulan Data
Teknik pengumpulan data untuk keaktifan siswa
diambil dengan cara menilai langsung pada saat proses pembelajaran dengan
lembar penilaian yang telah disiapkan, sedangkan pendapat dan tanggapan siswa
dengan cara siswa mengisi lembaran pendapat dan tanggapan.
Tolok ukur keberhasilan penelitian ini adalah :
1)
Terjadi peningkatan keaktifan siswa
selama proses pembelajaran berlangsung pada siklus-2 dibanding dengan pada
siklus-1.
2)
Adanya tanggapan positip dari sebagian
besar siswa selama teselenggaranya model pembelajaran kooperatif melalui NHT.
Teknik Analisis Data
Data yang diperoleh akan dianalisis dengan statistik
deskriptif secara persentase yaitu dengan menginventarisasi dan memadukan
seluruh informasi yang diperoleh dari tiap siklus. Data yang diperoleh
berdasarkan :
1. Hasil observasi keaktifan siswa
selama proses pembelajaran berlangsung.
2.
Hasil lembar pendapat dan tanggapan yang
ditulis siswa.
Agar mendapat gambaran yang jelas, maka teknik
statistik yang digunakan dengan rumus
mean (rata-rata), yaitu: M = 
Keterangan: M = Nilai rata-rata
∑ x = Jumlah nilai siswa
N = Jumlah siswa
Untuk mengetahui prosentase ketuntasan belajar dengan rumus:
Jumlah
siswa tuntas
%
ketuntasan = ------------------------ x 100
Jumlah
seluruh kelas
Hasil Penelitian
Siklus I
a. Tahap Perencanaan
Pada tahap ini peneliti mempersiapkan pembelajaran yang
terdiri dari rencana pelajaran 1, soal tes evaluasi 1 dan alat-alat pengajaran
yang mendukung serta lembar observasi pengelolahan pembelajaran model NHT dan lembar observasi aktivitas siswa.
b. Tahap kegiatan dan
Pelaksanaan
Guru menyusun rencana pembelajaran yang memuat :
1)
Pengalaman belajar dengan konsep kajian
pustaka
2)
Sistem pembelajaran dengan cara siswa
dibagi dalam kelompok-kelompok kecil yang terdiri dari + 4 orang siswa dengan salah seorang
menjadi ketua.
3)
Setiap siswa dalam satu
kelompok diberi nomor kepala yang berbeda untuk dipasang.
4)
Dalam satu kelompok tersebut
diberi permasalahan yang terkait dengan pokok bahasan yang mengarah pada
kemampuan dasar tertentu.
5)
Siswa yang mendapat nomor
kepala yang sama diminta berkumpul untuk mendapatkan tugas
dari guru dan kembali ke kelompoknya.
6)
Kemudian masing-masing
kelompok mengidentifikasi permasalahan dengan anggota kelompoknya
untuk membahas materi yang telah dipegang sesuai dengan topik yang dihadapi.
7) Guru
memanggil salah satu nomor kepala siswa untuk melaporkan hasil diskusi.
8) Siswa
menanggapi hasil presentasi, kemudian guru menunjuk nomor kepala yang lain.
9) Guru
memberikan penekanan dan kesimpulan pada akhir diskusi.
Pada akhir proses belajar mengajar siswa diberi tes evaluasi
I dengan tujuan untuk mengetahui keberhasilan siswa dalam proses belajar mengajar
yang telah dilakukan. Adapun data hasil penelitian pada siklus I adalah rata-rata
nilai 76.79 dan ketuntasan
belajar 65.52%
Tabel berikut adalah hasil observasi aktivitas guru dan siswa
:
|
No No
|
Aktivitas Guru yang Diamati
|
Hasil
|
|
1
|
Menyampaikan tujuan
|
Cukup
|
|
2
|
Memotivasi siswa / merumuskan masalah
|
Cukup
|
|
3
|
Mengkaitkan dengan pelajaran berikutnya
|
Baik
|
|
4
|
Menyampaikan materi / langkah-langkah / strategi
|
Baik
|
|
5
|
Menjelaskan materi yang sulit
|
Cukup
|
|
6
|
Membimbing dan mengamati siswa dalam menemukan konsep
|
Kurang
|
|
7
|
Meminta siswa menyajikan dan mendiskusikan hasil
kegiatan
|
Cukup
|
|
8
|
Memberikan umpan balik
|
Cukup
|
|
9
|
Membimbing siswa merangkum pelajaran
|
Cukup
|
|
No
|
Aktivitas Siswa yang
Diamati
|
Hasil
|
|
1
|
Mendengarkan/memperhatikan penjelasan guru
|
Kurang
|
|
2
|
Membaca buku siswa
|
Cukup
|
|
3
|
Bekerja dengan sesama anggota kelompok
|
Kurang
|
|
4
|
Diskusi antar siswa/antara siswa dengan guru
|
Kurang
|
|
5
|
Menyajikan hasil pembelajaran
|
Cukup
|
|
6
|
Mengajukan/menanggapi pertanyaan/ide
|
Cukup
|
|
7
|
Menulis yang relevan dengan KBM
|
Cukup
|
|
8
|
Merangkum pembelajaran
|
Baik
|
|
9
|
Mengerjakan tes evaluasi
|
Kurang
|
Berdasarkan tabel di atas tampak bahwa aktivitas guru yang
paling dominant pada siklus I adalah menjelaskan materi yang sulit (cukup), membimbing dan mengamati siswa
dalam menemukan konsep (kurang). Aktivitas lain yang hasilnya baik adalah Mengkaitkan dengan pelajaran
berikutnya, dan menyampaikan materi/langkah-langkah/strategi. Sedangkan aktivitas
siswa yang paling baik adalah hanya merangkum
pembelajaran.
Pada siklus I, secara garis besar kegiatan belajar mengajar
dengan metode pembelajaran kooperatif model NHT
sudah dilaksanakan dengan baik, walaupun peran guru masih cukup dominan untuk
memberikan penjelasan dan arahan karena model tersebut masih dirasakan baru
oleh siswa.
c. Refleksi
Dalam pelaksanaan kegiatan belajar mengajar diperoleh
informasi dari hasil pengamatan sebagai berikut:
1. Perlu lebih intensif dalam
pemotivasian dan penyampaian tujuan pembelajaran.
2. Perlu lebih efektif dalam
pengelolaan waktu
3. Siswa kurang aktif selama
pembelajaran berlangsung
d. Refisi
1. Guru perlu lebih terampil dalam
memotivasi siswa lebih jelas dalam menyampaikan tujuan pembelajaran. Dimana
siswa diajak untuk terlibat langsung dalam setiap kegiatan yang akan dilakukan.
2. Guru perlu mendistribusikan
waktu secara baik dengan menambahkan informasi-informasi yang dirasa perlu dan
memberi catatan.
3. Guru harus lebih terampil dan
bersemangat dalam memotivasi siswa sehingga siswa bias lebih antusias.
Siklus II
a. Tahap perencanaan
Pada tahap in peneliti mempersiapkan perangkat pembelajaran
yang terdiri dari rencana pelajaran 2, soal tes evaluasi 2 dan alat-alat
pengajaran yang mendukung. Selain itu juga dipersiapkan lembar observasi
pengelolaan pembelajaran model NHT
dan lembar observasi siswa.
b. Tahap kegiatan dan pelaksanaan
Proses belajar mengajar mengacu pada rencana pelajaran dengan
memperhatikan revisi pada siklus I, sehingga kesalahan atau kekurangan pada
siklus I tidak terulang lagi pada siklus II. Pengamatan dilaksanakan bersamaan
dengan pelaksanaan belajar mengajar.
Sebagai acuan implementasi tindakan yang dipilih pada konsep
tersebut dipelajari dan diidentifikasi, maka guru menyusun rencana
pembelajaran. Rencana pembelajaran ini memuat:
1)
Sistem pembelajaran dengan cara siswa
dibagi dalam kelompok-kelompok kecil yang terdiri dari + 4 orang siswa dengan salah seorang
menjadi ketua.
2)
Setiap siswa dalam satu
kelompok diberi nomor berkepala yang berbeda untuk
dipasang.
3)
Dalam satu kelompok tersebut diberi
permasalahan yang terkait dengan pokok bahasan yang mengarah pada kemampuan
dasar tertentu.
4)
Siswa yang mendapat nomor kepala yang
sama diminta berkumpul untuk mendapatkan tugas dari guru dan kembali
ke kelompoknya.
5)
Kemudian masing-masing kelompok
mengidentifikasikan permasalahan dengan anggota kelompoknya untuk membahas
materi yang telah dipegang sesuai dengan topik yang dihadapi.
6)
Guru memanggil salah satu nomor kepala
siswa untuk melaporkan hasil diskusi.
7)
Siswa menanggapi hasil presentasi,
kemudian guru menunjuk nomor kepala yang lain.
8)
Guru memberikan penekanan dan kesimpulan
pada akhir diskusi.
Pada akhir proses belajar mengajar siswa diberi tes evaluasi
II dengan tujuan untuk mengetahui keberhasilan siswa dalam proses belajar
mengajar yang telah dilakukan. Adapun data hasil penelitian pada siklus II
adalah rata-rata nilai 82.45 dan ketuntasan
belajar 96.55%
Hasil
observasi aktivitas guru dan siswa seperti pada tabel berikut :
|
No No
|
Aktivitas Guru yang Diamati
|
Hasil
|
|
1
|
Menyampaikan tujuan
|
Cukup
|
|
2
|
Memotivasi siswa / merumuskan masalah
|
Baik
|
|
3
|
Mengkaitkan dengan pelajaran berikutnya
|
Baik
|
|
4
|
Menyampaikan materi / langkah-langkah / strategi
|
Baik
|
|
5
|
Menjelaskan materi yang sulit
|
Baik
|
|
6
|
Membimbing dan mengamati siswa dalam menemukan
konsep
|
Cukup
|
|
7
|
Meminta siswa menyajikan dan mendiskusikan hasil
kegiatan
|
Baik
|
|
8
|
Memberikan umpan balik
|
Baik
|
|
9
|
Membimbing siswa merangkum pelajaran
|
Baik
|
|
No
|
Aktivitas Siswa yang
Diamati
|
Hasil
|
|
1
|
Mendengarkan/memperhatikan penjelasan guru
|
Baik
|
|
2
|
Membaca buku siswa
|
Baik
|
|
3
|
Bekerja dengan sesama anggota kelompok
|
Baik
|
|
4
|
Diskusi antar siswa/antara siswa dengan guru
|
Baik
|
|
5
|
Menyajikan hasil pembelajaran
|
Baik
|
|
6
|
Mengajukan/menanggapi pertanyaan/ide
|
Baik
|
|
7
|
Menulis yang relevan dengan KBM
|
Baik
|
|
8
|
Merangkum pembelajaran
|
Baik
|
|
9
|
Mengerjakan tes evaluasi
|
Baik
|
Aktivitas guru rata-rata baik, hanya aktivitas
menyampaikan tujuan dan membimbing dan mengamati siswa dalam menemukan konsep. Sedangkan
aktivitas siswa semua baik.
Hasil ini menunjukkan
bahwa pada siklus II ini minat belajar siswa lebih baik dari siklus I. Adanya peningkatan hasil belajar dan minat belajar siswa ini karena setelah guru menginformaskan bahwa
setiap akhir pelajaran akan selalu diadakan tes sehingga pada pertemuan
berikutnya siswa lebih termotivasi untuk belajar. Selain itu siswa juga sudah
mulai mengerti apa yang dimaksudkan dan diinginkan guru dengan menerapkan
metode pembelajaran kooperatif model NHT.
c. Refleksi
Dalam pelaksanaan kegiatan belajar diperoleh informasi dari
hasil pengamatan sebagai berikut:
1. Memotivasi siswa
2. Membimbing siswa merumuskan kesimpulan/menemukan konsep
3. Pengelolaan waktu
d. Refisi Pelaksanaan
Pada siklus II guru telah menerapkan pembelajaran model NHT
dengan baik dan dilihat dari aktivitas siswa serta hasil belajar siswa
pelaksanaan proses belajar mengajar sudah berjalan dengan baik. Maka tidak
diperlukan revisi terlalu banyak, tetapi yang perlu diperhatikan untuk tindakan
selanjutnya adalah memaksimalkan dan mempertahankan apa yang telah ada dengan
tujuan agar pada pelaksanaan proses belajar mengajar selanjutnya penerapan
pembelajaran model NHT dapat
meningkatkan proses belajar mengajar sehingga tujuan pembelajaran dapat
tercapai.
Pembahasan
1. Prestasi Belajar Siswa
Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa pembelajaran model NHT memiliki dampak positif dalam
meningkatkan minat belajar siswa. Hal ini dapat dilihat dari semakin mantapnya pemahaman
siswa terhadap materi yang disampaikan guru (prestasi belajar dan
ketuntasan belajar meningkat
dari siklus I dan II) yaitu masing-masing 76.79 (65.52%)
untuk siklus I dan siklus II sebesar 82.45
(96.55%).
2. Kemampuan Guru dalam
Mengelola Pembelajaran
Berdasarkan analisis data, diperoleh aktivitas siswa dalam
proses belajar mengajar dengan menerapkan metode pembelajaran kooperatif model NHT dalam setiap siklus mengalami
peningkatan. Hal ini berdampak positif terhadap prestasi belajar siswa
yaitu dapat ditunjukkan dengan
meningkatnya nilai rata-rata siswa pada setiap siklus yang terus mengalami
peningkatan.
3. Aktivitas Siswa dalam Pembelajaran
Berdasarkan analisis data, diperoleh aktivitas siswa dalam
proses pembelajaran Bahasa Inggris
pada dengan pembelajaran model NHT semua baik. Jadi dapat dikatakan bahwa
aktivitas siswa dapat dikategorikan aktif.
Sedangkan untuk aktivitas guru selama pembelajaran telah melaksanakan
langkah-langkah kegiatan belajar
mengajar dengan menerapkan metode pembelajaran kooperatif model NHT cenderung baik. Hal ini terlihat dari
aktivitas guru yang muncul di antaranya memotivasi siswa/merumuskan masalah, menjelaskan materi yang sulit, meminta siswa menyajikan dan
mendiskusikan hasil kegiatan, memberikan umpan balik dan membimbing siswa merangkum pelajaran
dimana hasilnya baik.
Berdasarkan hasil analisis pada
siklus I dan siklus II data perbandingan nilai rata-rata setiap siklus sebagai berikut
:
Tabel Perbandingan Rata-rata dan
Ketuntasan Belajar Setiap Siklus
|
|
Siklus I
|
Siklus II
|
|
Rata-rata
|
76.79
|
82.45
|
|
Ketuntasan belajar
|
65.52%
|
96.55%
|
Dari hasil pengamatan siswa dan guru
cenderung lebih baik setiap siklus, maka dapat disimpulkan bahwa ; Ada
peningkatan prestasi belajar Bahasa Inggris melalui metode pembelajaran model Numbered Heads Together siswa kelas IX-A
SMP Negeri 1 Balerejo Madiun tahun pelajaran 2017/2018.
Kesimpulan
Melalui
pembelajaran kooperatif NHT dapat menumbuhkan :
1.
Rasa senang siswa belajar Bahasa inggris
2. Antusias siswa dalam kegiatan
pembelajaran
3. Keberanian dalam mengemukakan ide
4. Keaktifan siswa mengikuti
pembelajaran
5.
Sikap kritis terhadap setiap
permasalahan yang ada
6. Sikap demokratis
7. Sikap
kerjasama dengan kelompok dalam menyelesaikan tugas selama proses pembelajaran.
Sehingga pembelajaran
tidak didominasi oleh guru.
Dari hasil analisis dan observasi dapat
disimpulkan ada peningkatan prestasi belajar Bahasa Inggris melalui
metode pembelajaran model Numbered Heads
Together siswa Kelas IX-A SMP Negeri 1 Balerejo Madiun Semester II Tahun
Pelajaran 2017/2018.
Saran-saran
1. Bagi Guru :
a. Guru diharapkan lebih mampu melakukan
pengelolaan pembelajaran yang berkualitas, baik dari perencanaan, pelaksanaan
maupun tindak lanjut. Dan tidak segan-segan untuk selalu merefleksi diri untuk
perbaikan pembelajaran yang akan dilaksanakan berikutnya.
b. Untuk setiap topik pembelajaran
membutuhkan penyiapan bahan ajar yang spesifik, karena itu perlu persiapan yang
baik dalam menyiapkan bahan pembelajaran yang dipakai sangat menentukan
keberhasilan kegiatan belajar mengajar.
c. Guru diharapkan dapat mengembangkan
media pembelajaran, model pembelajaran yang inovatif untuk topik-topik yang
lain.
2. Bagi Siswa :
Siswa diharapkan dapat selalu berperan aktif dalam setiap
kegiatan belajar mengajar. Karena sebagai salah satu objek dalam kegiatan
belajar mengajar agar dalam proses pengkonstruksian pengetahuan dalam dirinya
dapat lebih permanen dan bermakna, dan diharapkan siswa mencari strategi
belajar sendiri yang sesuai dengan kondisi pribadinya masing-masing.
3. Bagi Sekolah :
Sekolah diharapkan dapat mendukung dalam kegiatan penelitian
tindakan kelas dan pengadaan buku, media pembelajaran dan sarana penunjang
pendidikan yang lain.
DAFTAR PUSTAKA
Dimyati & Mujiono, 2006.
Teori Belajar Mengajar. Bandung: P.T
Remaja Rosdakarya.
Dinas P dan K Prov.
Jatim, Gentengkali Jurnal Pendidikan
Dasar dan Menengah. 2001. Surabaya : Proyek Perluasan dan Peningkatan Mutu
SLTP.
Endang Ekowati. Model – model Pembelajaran Inovatif. Surabaya : Kartika.
Hisyam Zaini, dkk. 2005. Strategi
Pembelajaran Aktif. Yogjakarta :
CTSD
Nasution, S. 1988. Metode Penelitian Naturulistik Kualitatif. Bandung
: Penerbit Tarsito.
Nurhadi, dkk.
2004. Pembelajaran Kontekstual dan
Penerapannya dalam KBK. Malang : Universitas Negeri Malang.
Pendidikan
Tinggi. Proyek Pengembangan Guru Sekolah
Menengah.
Purwanto, Ngalim, M.
1995. Ilmu Pendidikan Teoritis dan
Praktis. Edisi Kedua. Bandung : PT. Remaja Rosdakarya.
Slavin, R.
1995. Cooperative Learning. Theory, Research,
and Practice (edisi ke-2). USA: Alyn and Bacon.
Suharsimi
Arikunto. 2000. Manajemen Penelitian. Jakarta : Rineka Cipta.
Suryobroto.
1986. Mengenal Metode Pembelajaran di Sekolah dan Pendekatan Baru Dalam Proses Belajar Mengajar. Yogjakarta : Amarta Buku.
Tim Pelatih
Proyek PGSM. 1999. Penelitian Tindakan
Kelas (Classroom Action Research). Departemen Pendidikan dan
Kebudayaan. Direktorat Jenderal
Walgito, B.
1981. Bimbingan Penyuluhan di Sekolah.
Yogyakarta : Yayasan Penerbit Fakultas Psikologi UGM.
Winkel, W.S. 1998. Psikologi Pengajaran. Yogyakarta :
Gramedia.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar