Senin, 01 Oktober 2018

MENINGKATKAN PRESTASI BELAJAR IPS MELALUI METODE STAD (STUDENT TEAM ACHIEVEMENT DIVISION) SISWA KELAS II SDN NGETREP KECAMATAN JIWAN KABUPATEN MADIUN TAHUN PELAJARAN 2017/2018


MENINGKATKAN PRESTASI BELAJAR IPS MELALUI  METODE STAD
(STUDENT TEAM  ACHIEVEMENT DIVISION) SISWA KELAS II SDN NGETREP KECAMATAN JIWAN KABUPATEN MADIUN TAHUN PELAJARAN 2017/2018

Oleh : UMI MALIKATI, S.Pd.,
Guru SDN Ngetrep Kecamatan Jiwan Kabupaten Madiun

ABSTRAK
Kata kunci : Meningkatkan Prestasi Belajar IPS, Metode STAD (Student Team  Achievement Division)

Masalah siswa yang sampai sekarang dihadapkan pada kemerosotan moral karena tidak adanya penuntun moral walaupun pendidikan moral dan ajaran agama diajarkan akan tetapi tidak menyentuh pada perilaku psikomotorik yang seharusnya dijadikan ukuran pendidikan.
Berdasarkan hal tersebut maka perlu ditetapkan metode pembelajaran yang sesuai pada setiap kompotensi dasar agar bisa memotivasi siswa dan meningkatkan pemahaman terhadap kesiapan dan ketuntasan belajar pada mata pelajaran IPS siswa SDN Ngetrep Kecamatan Jiwan Kabupaten Madiun. Salah satu metode yang dapat dipergunakan sebagai alternatif dalam membangkitkan minat dan ketuntasan belajar IPS adalah metode Student Team Achievement Division (STAD). Dengan adanya permasalahan diatas guru membuat sebuah penelitian dengan judul : Meningkatkan Prestasi Belajar IPS Melalui  Metode Stad (Student Team  Achievement Division) Siswa Kelas II SDN Ngetrep Kecamatan Jiwan Kabupaten Madiun Tahun Pelajaran 2017/2018.
Rumusan masalah dalam penelitian tindakan kelas ini adalah:  Adakah peningkatan Prestasi Belajar IPS Melalui  Metode STAD (Student Team  Achievement Division) Siswa Kelas II SDN Ngetrep Kecamatan Jiwan Kabupaten Madiun Tahun Pelajaran 2017/2018  .
Metode penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah penelitian tindakan kelas. Dalam penelitian ini peneliti  berkolaborasi dengan guru lain serta dengan kepala sekolah. Peneliti terlibat langsung dalam penelitian mulai dari awal sampai penelitian berakhir. Peneliti berusaha melihat, mengamati, merasakan, menghayati, merefleksi dan mengevaluasi kegiatan pembelajaran yang berlangsung. Tahap-tahap pelaksanaan penelitian tindakan terdiri dari perencanaan (planning), pelaksanaan (acting), observasi (observing), dan refleksi (reflecting). Untuk mendapatkan hasil penelitian yang akurat maka data yang telah terkumpul dianalisis secara statistik yaitu menggunakan rumus mean.
Dari hasil pelaksanaan dan pengamatan siswa dan guru cenderung lebih baik setiap nilai rata-rata siklus I 70 (66.67%) dan Siklus II 75 (91.67%), maka dapat disimpulkan bahwa ; Ada peningkatan Prestasi Belajar IPS Melalui  Metode Stad (Student Team  Achievement Division) Siswa Kelas II SDN Ngetrep Kecamatan Jiwan Kabupaten Madiun Tahun Pelajaran 2017/2018”.



Latar Belakang Masalah

Setiap manusia ingin mengembangkan dirinya menjadi insan yang berpotensi dan berkualitas tentu mempunyai tujuan hidup yang diharapkan. Keinginan, harapan, cita-cita, hasrat, dan minat selalu mewarnai kehidupan yang selanjutnya akan mendorong seseorang untuk melakukan berbagai aktivitas dan akan meningkatkan kemampuan berfikir dan berkreasi. Minat adalah faktor yang penting dalam suatu usaha atau kegiatan manusia yang sangat subjektif, dimana minat sebagai aspek psikis manusia mempunyai potensi besar untuk mencapai tujuan tertentu.
Fuad hasan (1981:64) mengatakan “Minat adalah adanya intensitas perhatian yang tinggi seseorang terhadap suatu hal, peristiwa, keadaan barang atau benda”. Sedangkan As’ad (1987:4) menyatakan: Minat adalah sikap yang membuat senang akan objek situasi atau ide ide tertentu, Hal ini diikuti oleh rasa senang dan kecenderungan untuk mencari objek yang disenangi itu. Pola-pola minat seseorang merupakans alah satu faktor yang menentukan kesesuaian orang dengan pekerjaannya. Minat orang terhadap jenis pekerjaan berbeda-beda. Tingkat prestasi kerja seseorang ditentukan oleh perpaduan antara minat dan bakat.
Soetimah (1978:71) mengartikan minat sebagai berikut: Minat adalah kesadaran seseorang, bahwa sesuatu objek atau situasi mengandung sangkut paut dengan dirinya. Rupa-rupa minat harusdipandang sebagai sambutan yang sadar, sebab kalau tidak demikian minat tidak berarti apa-apa.
Sedangkan minat menurut Effendi (1976:71): Minat itu timbul apabila individu tertarik kepada sesuatu, karena sesuatu itu dirasakan sangat bermakna bagi dirinya. Sebab sangat penting peranannya dalam pendidikan, sebab merupakan sumber motivasi. Minat akan timbul dari individu sebagai kebutuhan akan merupakan suatu pendorong bagi individu tersebut dalam melakukan berbagai usaha.
Berdasarkan definisi di atas, maka dapat dikatakan bahwasanya ada kesamaan pendapat yang menetapkan minat sebagai gejala psikis. Dan pendapat-pendapat itu dapat ditentukan beberapa unsure yang mempengaruhi minat antara lain perhatian, kesadaran individu, kekuatan motif dan harapan serta perasaan senang yang membuat individu itu cenderung berhubungan lebih aktif lagi terhadap objek yang menjadi perhatiannya.
Minat secara umum diartikan sebagai suatu keadaan mental yang menghasilkan respon terarah pada situasi atau ojek tertentu, yang menyenangka dan memberikan objek kepuasan kepadanya. Dengan demikian minat dapat menimbulkan dan merupakan sikap yang menunjukkan suatu kesiapan berbuat bila ada situasi khusus yang sesuai dengan keadaan mental seseorang Cony Semiawan (1982). Minat menyangkut aktivitas-aktivitas yang dipeilih secara bebas oleh individu, Doyles Frayer dalam Nurkancana (1986:229) mengemukakan bahwa minat atau interes adalah gejala psikis yang berkaitan dengan objeka tau aktivitas yang menstimulis perasaan. Dengan demikian minat senantiasa erat hubungannya dengan perasaan, individu, aktifitas, dan situasi.
Bagi pelaku atau pemerhati pendidikan, tentu saja hal tersebut mendorong untuk melibatkan diri dalam mencari sekaligus mencari formulasi apa yang dapat dijadikan alternatif pengelolaan pendidikan. Metode yang tepat guna yang mengandung nilai-nilai intrinsik  dan ekstrinsik sejalan dengan materi pelajaran dan secara fungsional dapat dipakai untuk merealisasikan nilai-nilai ideal yang terkandung dalam tujuan pendidikan
Sebagai salah satu komponen operasional dalam ilmu pendidikan, metode harus mengandung potensi yang bersifat mengarahkan materi pelajaran kepada tujuan pendidikan yang hendak dicapai melalui proses tahap demi tahap, baik dalam kelembagaan formal, nonformal ataupun informal. Dengan demikian menurut pendidikan, suatu metode yang baik adalah memiliki waktu dan relevansi dengan tujuan pendidikan .
Akibat semua konsep dari permasalahan guru terhadap proses belajar mengajar adalah motivasi rendah, pehatian tugas pokok terabaikan dan secara tidak langsung proses belajar mengajar tidak menarik dan tidak membangkitkan daya kritis siswa.
Masalah siswa yang sampai sekarang dihadapkan pada kemerosotan moral karena tidak adanya penuntun moral walaupun pendidikan moral dan ajaran agama diajarkan akan tetapi tidak menyentuh pada perilaku psikomotorik yang seharusnya dijadikan ukuran pendidikan.
Berdasarkan hal tersebut maka perlu ditetapkan metode pembelajaran yang sesuai pada setiap kompotensi dasar agar bisa memotivasi siswa dan meningkatkan pemahaman terhadap kesiapan dan ketuntasan belajar pada mata pelajaran IPS siswa SDN Ngetrep Kecamatan Jiwan Kabupaten Madiun. Salah satu metode yang dapat dipergunakan sebagai alternatif dalam membangkitkan minat dan ketuntasan belajar IPS adalah metode Student Team Achievement Division (STAD). Dengan adanya permasalahan diatas guru membuat sebuah penelitian dengan judul : Meningkatkan Prestasi Belajar IPS Melalui  Metode Stad (Student Team  Achievement Division) Siswa Kelas II SDN Ngetrep Kecamatan Jiwan Kabupaten Madiun Tahun Pelajaran 2017/2018.

 

Identifikasi Masalah

1.   Apakah metode Student Team - Achievement Division (STAD) berpengaruh terhadap peningkatan minat belajar IPS pada siswa SDN Ngetrep Kecamatan Jiwan Kabupaten Madiun ?
2.   Apakah penggunaan metode kooperatif STAD dapat meningkatkan motivasi dan ketuntasan belajar IPS  pada kompetensi dasar memelihara dokumen dan koleksi benda berharga miliknya?
3.   Apakah metode STAD lebih mengefektifkan pengelolaan kelas, sehingga prestasi belajar IPS meningkat?
4.   Apakah penggunaan metode STAD dapat memotifasi guru untuk mengembangkan metode lain pada kompetensi yang lain?

Rumusan Masalah

 “Adakah peningkatan prestasi belajar IPS melalui metode STAD (Student Team Achievement Division) siswa Kelas II SDN Ngetrep Kecamatan Jiwan Kabupaten Madiun  tahun pelajaran 2017/2018?”.

Tujuan Penelitian
1.   Meningkatkan peran aktif siswa dalam proses belajar mengajar.
2.   Meningkatkan ketuntasan belajar IPS siswa melalui metode pembelajaran STAD pada kompetensi dasar memelihara dokumen dan koleksi benda berharga miliknya.
3.   Memotifasi guru untuk mengembangkan metode pembelajaran pada setiap kompetensi dasar
4.   Menjadikan pembelajaran pada kompetensi dasar memelihara dokumen dan koleksi benda berharga miliknya melalui STAD agar mempunyai makna.

Manfaat Hasil Penelitian
1.   Bagi Siswa
a.    Siswa lebih berperan aktif dalam proses pembelajaran
b.   Malatih siswa untuk saling menghargai sesama siswa yang lain
c.    Meningkatkan hasil belajar IPS
2.   Bagi Guru
a.    Memperkaya wawasan pembelajaran dalam proses pembelajaran
b.   Meningkatkan ketepatan pemilihan model pembelajarn dalam proses pembelajaran
c.    Memperoleh seperangkat pengalaman dalam inovasi pembelajaran  untuk meningkatkan profesionalitas guru.

 

Kajian Pustaka

Mutu Pembelajaran
Pembelajaran mengandung arti suatu kegiatan yang dilakukan guru dan siswa secara bersama-sama. Dalam konsep pembelajaran dengan pendekatan konsep guru berperans sebagai fasilitator dan siswa sebagai subjek belajar.
Sebagai fasilitator guru berperan memberi kemudahan siswa untuk memperoleh kemampuan tertentu sesuai dengan rumusan tujuan yang telah direncanakan. Siswa secara aktif untuk membangun pengetahuannya dengan sedikit mungkin bantuan guru. Indikator keberhasilan pembelajaran yang efektif dan bermakna adalah bila proses pembelajaran dapat memberikan keberhasilan dan kepuasan baik bagi siswa maupun guru.
Dalam  peraturan pemerintah No 29 Tahun 1990 tentang Pendidikan menengah, Pasal 20 ayat (1) menyebutkan: “ Penilaian kegiatan dan memajukan belajar siswa dilakukan untuk mengetahui hasil belajar dan membantu perkembangan siswa”. Dari pasal di atas nampak dengan jelas bahwa hasil penilaian harus dapat digunakan untuk membina dan memberikan dorongan semua siswa dalam meningkatkan hasil belajar. Karena itu hasil belajar harus dinyatakan dan dapat dirasakan sebagai  penghargaan bagi siswa yang berhasil dan sebaliknya merupakan peringatan bagi siswa yang kurang atau tidak berhasil.
Selain itu hasil yang dicantumkan dalam raport dapat dijadikan bahan pertanggung jawaban kepada orang tua siswa yang telah memberi kesempatan untuk memperoleh pendidikan.
Dalam setiap proses pembelajaran diketemukan berbagai masalah yang bermuara pada rendahnya prestasi siswa. Tindakan perbaikan mutlak adanya dan mungkin telah dilakukan oleh guru dengan jalan bertabya kepada sejawat atau sesama guru dan mengkaji pedoman yang sudah ada seperti kurikulum, GBPP dan lain-lain.
Menurut Natawijaya (1999), Penelitian tindakan kelas (PTK) atau class room action research adalah sebagai bentuk kajian bersifat reflektif oleh pelaku tindakan, yang dilakukan untuk meningkatkan kemantapan rasional dari tindakan-tindakan yang dilakukan itu, serta memperbaiki kondisi dimana praktek-praktek pembelajran tersebut dilakukan.

Fungsi dan peranan Penelitian Tindakan kelas (PTK)
a.    Meningkatkan kerja sama antar guru, terutama guru antar mata pelajaran.
b.   Saling bertukar pikiran dan berdiskusi mengenai masalah-masalah pembelajaran yang dihadapi bersama.
c.    Menjadi sarana komunikasi dan kolaborasi antara guru sebidang studi.
Penilaian proses dan hasil belajar bertujuan untuk menentukan tingkat ketercapaian tujuan pendidikan dan atau tujuan pembelajaran yang telah diterapkan dalam kutrikulum Garis-Garis Besar Program Pengajaran atau dalam perangkat perencanaan kegiatan pembelajaran lainnya (Buku Petunjuk Pelaksanaan Penilaian Kurikulum SMP, 1994).
 Dari tujuan penilaian yang telah dikemukakan di atas maka dapat kita kemukakan beberapa fungsi penilaian:
a.    Sebagai pedoman untuk mengetahui apakan anak didik terdapat kemajuan atau sebaliknya.
b.   Sebagai alat untuk mengetahui penguasaan siswa terhadap meteri pelajaran yang telah diberikan guru.
c.    Sebagai alat untuk memberi motivasi belajar anak didik, siswa yang mendapat angka kurang supaya lebih giat belajar, sedangkan siswa yang mendapat angka baik supaya berusaha mempertahankan.
d.   Sebagai bahan laporan pada orang tua siswa yang telah mempercayakan pendidikan anaknya  kepala sekolah yang berbentuk laporan pendidikan.
e.    Sebagai alat seleksi, misalnya siapa yang dapat naik kelas dan tidak dapat naik kelas, pengajuan beasiswa, pengajuan siswa teladan dsb.
Dari uraian tersebut penilaian fungsinya sangat tinggi baik bagi anak didik, guru, maupun orang tua, karena melalui penilaian akan mudah diketahui perkembangan siswa maupun pencapaian sasaran pendidikan.

Prinsip-Prinsip Penilaian
Ada sejumlah prinsip yang harus diperhatikan dalam kegiatan penilaian sehubungan dengan fungsinya sebagai alat penyempurnaan kegiatan belajar, penentuan kenaikan kelas dan pelulusan, penempatan seleksi maupun motivasi melalui prinsip berikut:
a.    Menyeluruh
Perubahan perilaku yang telah diterapkan dalam tujuan pembelajaran perlu dicapai secara menyeluruh baik yang menyangkut pengetahuan, sikap perilaku, dan nilai serta ketrampilan. Penilaian baru bersifat menyeluruh apabila penilaian yang digunakan mencakup aspek proses dan hasil belajar yang bertahap menggambarkan perubahan perilaku. Berkaitan dengan bahan pelajaran, penilaian menyeluruh berarti bahan kajian yang dicakup oleh alat penilaian dapat mewakili seluruh bahan pelajaran yang dipelajari siswa.
b.   Berkesinambungan
Penilaian dilakukan secara berencana, betahap dan terus menerus untuk memperoleh gambaran tentang perkembangan hasil belajar siswa  sebagai hasil kegiatan belajar mengajar.
c.    Berorientasi pada tujuan
Hasil belajar siswa yang diharapkan dicapai dalam kegiatan belajar mengajar suatu mata pelajaran yan telah dirumuskan dalam bentuk tujuan pengajaran pada garis-garis besar program pengajaran untuk pelajaran bersangkutan. Oleh karen itu, penilaian harus dapat menentukan sejauh mana siswa telah mencapai tujuan pelajaran tersebut.
d.   Objektif
Penilaian harus dapat menghindari  sifat subjektifitas sehingga menggambarkan aspek-aspek yang sebenar­nya hendak diukur. Hasil penilaian harus dapat mencerminkan tingkat keberhasilan siswa sebenarnya.
e.    Terbuka
Proses hasil penilaian perlu diketahui dan diterima oleh semua pihak terkait (siswa, orang tua, masyarakat dan sekolah)
f.    Kebermaknaan
Hasil penilaian harus memiliki kebermaknaan bagi orang yang menggunakannya, bagi guru, hasil penilaian selain bermakna dan  berguna untuk meningkatkan hasil belajar siswa, memberikan laporan hasil belajar siswa, juga bermakna berguna bagi dirinya sendiri. Sebagai umpan balik untuk perbaikan proses belajar mengajar. Sementara untuk memperbaiki atau meningkatkan cara belajarnya.
g.   Kesesuaian
Penilaian harus sesuai dengan pendekatan kegiatan belajar mengajar yang diikuti dalam pelaksanaan kurikulum digunakan pendekatan eksperimen maka kegiatan melakukan percobaan harus menjadi salah satu aspek yang dinilai. Apabila pendekatan ketrampilan proses digunakan maka ketrampilan proses juga harus menjadi objek yang harus dinilai.
h.   Mendidik
Hasil penilaian harus dapat digunakan umtuk membina dan memberikan dorongan kepada semua siswa dalam meningkatkan hasil belajar, Karen itu, hasil penilaian harus dinyatakan dan dapat dirasakan sebagai penghargaan bagi siswa yang berhasil atau sebaliknya merupakan peringatan bagi siswa yang tidak berhasil. Selain itu hasil penilaian yang dicantumkan dalam raport dapat dijadikan sebagai bahan pertanggungjawaban siswa kepada orang tua yang telah memberikan kesempatan untuk memperoleh pendidikan. Dengan demikian usaha penilaian dapat memperkuat perilaku dan sikap yang positif.

Minat Belajar
Minat seseorang ditinjau dari awal mulanya dapat dibedakan menjadi dua. Pertama minat yang berasal dari pembawaan, kedua minat yang muncul karena pengeruh dari luar.  Minat sering tumbuh karena adanya bakat, yang merupakan aspek pembwaaan , sehingga dapat disimpulkan bahwa minat tertentu berasal dari pembawaan. Minat juga dapat tumbuh melaui proses panjang karena pengaruh lingkungan dan kebutuhan.
Minat seseorang dapat pula tumbuh karena motifatau insentif. Perbuatan atau tingkah laku seseorang dapat didorong dengan memberi insentif –insentif. Berdasarkan ketahanan minat yang dibangkitkan oleh motif lebih kuat daripada minat yang dibangkitkan oleh insentif.
Ada tujuh ciri minat yang dikemukakan oleh Hurlock (1990:155), yaitu:
a.    Minat tumbuh bersamaan dengan perkembangan fisik dan mental. Minat di semua bidang berubah selama terjadi perubahan fisik dan mental.
b.   Minat bergantung pada persiapan belajar, seseorang tidak akan mempunyai minat sebelum mereka siap secara fisik dan mental.
c.    Minat bergantung kepada kesempatan minat. Dengan bertumbuhnya lingkungan sosial seseorang menjadi terkait pada minat orang diluar yang mereka kenal.
d.   Perkembangan minatmungkin terbatas. Ketidak mampuan fisik mental secara pengalaman sosial yang terbatas membatasi seseorang.
e.    Minat dipengaruhi oleh pengaruh budaya yang ada pada sekitar orang tersebut hidup dan berinteraksi dengan masyarakat yang ada di sekelilingnya.
f.    Minat berobot emosional. Bobot emosional aspek avektif dari minat menentukan kekuatan minat tersebut.
g.   Minat dan egosentris.

Aspek-Aspek Minat
Menurut Hurlock (1990:16) minat mempunyai dua aspek yaitu aspek kognitif dan aspek avektif. Aspek kognitif didasarkan pada konsep yang dikembangkan individu mengenai bidang yang berkaiatan dengan minat. Karena minat cenderung egosentris aspek kognitif berdasarkan pada pernyataan apa saja keuntunga kad prbadi yang diperoleh dari minat itu.
Konsep yang membangun aspek kognitif minat didasarkan atas pengalaman pribadi dan apa yang dipelakjari dirumah, disekolah, dan di masyarakat, serta berbagai jenis media masa.
Aspek afektif atau bobot emosional konsep yang membangun aspek koginitf minat dinyatakan dengan sikap kegiatan yang ditimbulkan dari minat itu.
Seperti yang telah dikemukakan ke depan, minat secara umum diartikan sebagai suatu keadaan mental yang menghasilkan respon terarah kepada situasi atau objek tertentu yang menyenangkan dan memberikan kepuasan kepadanya. Dengan demikian minat dapat menumbuhkan dan merupakan sikap yang menunjukkan suatu kesiapan bila da sitiasi khusus yang sesuai dengan keasaan mental seseorang.
Dari pendapat dan uraian diatas dikatakan bahwa spek-aspek minat adalah aspek kognitif yang dekat dengan keadaan mental seseorang yang dapat menimbulkanrespon terendah dan menimbulkan sikap yang sudah masuk pada aspek afektif.

Pentingnya pengukuran Minat
Menurut Nurkancana (1986:230-231) terdapat beberapa alasan mengapa seorang guru perlu mengadakan pengukuran minat. Alasan tersebut adalah:
a.      Untuk meningkatkan minat
Setiap guru mempunnyai kewajiban untuk meningkatkan minat anakdidik. Minat merupakan komonen yang penting dalam kehidupan pada umumnya dan daam pendidikan dan pengajaran khususnya.
b.     Memelihara Minat yang baru timbul
Apabila anak-anak menunjukkan minat yang kecil, maka merupakan tugas bagi guru untuk memelihara minat tersebut. Anak yang baru masuk ke suatu sekolah mungkin belumbegitu banyak menaruh minat pada aktivitas-aktivitas tertentu. Dalam hal ini guru wajib memperkenalkan aktifitas-aktifitas tersebut pada anak, apanila nak menunjukkan minatnya maka guru wajib memelihara minat anak yang baru tumbuh tersbut.
c.    Mencegah timbulnya minat terhadap hal-hal yang kurang baik.
Oleh karena sekolah merupakan lembaga yang menyiapkan anak untuk hidup dalam masyarakat, maka sekolah harus mengembangkan aspek-aspek ideal agar anak menjadi anggota asyarakat yang baik.
d.   Sebagai persiapan untuk memberikan bimbingan kepada anak tentang lanjutan studi atau pekerjaan yang cocok baginya. Walaupun minat bukan merupakan indikasi yang pasti, tentang sukses tidaknya anak dalam pendidikan itu akan datang atau dalam jabatan, namun miinat merupakan pertimbangan yang cukup berarti kalau dihubungkan dengan data-data yang lain.

Metode Student Team - Achievement Division (STAD).
Metode Student Team Achievement Division (STAD) adalah metode pembelajaran yang dikembangkan oleh Slavin pada tahun 1995, yang pada garis besarnya adalah  metode pembelajaran yang yang menggunakan langkah langkah sebagai berikut:
a.    Membentuk kelompok yang anggotanya 4 siswa atau sesuai dengan keadaan kelas secara heterogen
b.   Guru menyajikan pelajaran sesuai dengan topik bahasan
c.    Guru memberi tugas kepada kelompok untuk dikerjakan oleh anggota-anggota kelompok. Anggota yang lebih tahu menjelaskan kepada anggota yang lainnya sehingga semua anggota dalam kelompok itu mengerti.
d.   Guru memberi pertanyaan kepada seluruh siswa, dan siswa tidak boleh saling membantu
e.    Memberi evaluasi berdasar materi yang dan disesuaikan dengan kemampuan siswa.
f.    Penutup dan memberikan kesimpulan dari materi yang telah dibahas.

Rencana Tindakan

Pada tahap proses rencana tindakan ini, mula-mula guru mendefinisikan konsep-konsep Memelihara dokumen dan koleksi benda berharga miliknya  yang sukar dikuasai siswa.
Berdasarkan masalah tersebut, sebagai acuan implementasi tindakan yang dipilih pada konsep tersebut dipelajari dan diidentifikasi, kemudian guru menyusun rencana pembelajaran. Rencana pembelajaran ini memuat :
1.   Pengalaman belajar siswa dengan konsep kejian pustaka tentang  Memelihara dokumen dan koleksi benda berharga miliknya .
2.   Sistem pembelajaran dengan cara siswa dibagi dalam kelompok kecil yang terdiri dari 4 orang siswa dengan salah seorang menjadi ketua.
3.   Dalam satu kelompok tersebut diberi permasalahan yang terkait dengan Memelihara dokumen dan koleksi benda berharga miliknya  yang mengarah pada kemampuan dasar tertentu.
4.   Kemudian masing-masing kelompok mengidentifikasikan permasalahan dengan sesama temanya untuk membahas materi yang telah dipegang sesuai dengan topik yang dihadapi.
5.   Semua kelompok untuk mengungkapkan hasil bahasannya dalam kelompok diskusi pleno kelas.
6.   Guru memberikan penekanan dan kesimpulan pada akhir diskusi.

Hipotesis Penelitian
 “Ada Peningkatan Prestasi Belajar IPS Melalui  Metode Stad (Student Team  Achievement Division) Siswa Kelas II SDN Ngetrep Kecamatan Jiwan Kabupaten Madiun Tahun Pelajaran 2017/2018”.

Tempat Penelitian

Penelitian dilaksanakan di SDN Ngetrep Kecamatan Jiwan Kabupaten Madiun   tahun pelajaran 2017/2018  Semester I, dengan mengambil objek penelitian siswa Kelas II. Penelitian tindakan kelas ini mengambil mata pelajaran IPS.


Waktu Penelitian
Penelitian ini dilaksanakan pada tahun pelajaran 2017/2018 Semester I bulan September, Oktober dan Nopember tahun 2017.

Sampel Penelitian
Dalam penelitian ini peneliti mengambil sampel Kelas II SDN Ngetrep dengan jumlah siswa 12 anak.

 

Seting Penelitian

Penelitian dilaksanakan di SDN Ngetrep Kecamatan Jiwan Kabupaten Madiun  tahun pelajaran 2017/2018  semester I, dengan mengambil objek penelitian siswa Kelas II. Penelitian Tindakan Kelas ini mengambil mata pelajaran IPS.
Kondisi siswa  SDN Ngetrep Kecamatan Jiwan Kabupaten Madiun kurang lebih 70% siswa berasal dari keluarga dengan keadaan ekonomi menengah ke atas. Kebanyakan mereka adalah anak pegawai yang kebanyakan selalu ditinggal orang tuanya bekerja. Dari kondisi inilah menyebabkan perhatian orang tua terhadap anak sangatlah kurang. Kurangnya perhatian orang tua ini juga menyebabkan kurangnya minat belajar pada siswa.

 

Desain Penelitian

1.   Perencanaan (Planning)
Pada tahap ini penelitian dan guru secara kolaboratif mengadakan kegiatan sebagai berikut:
a. Mengamati teknik pembelajaran yang digunakan guru dalam pembelajaran  sebelumnya,
b. Mengidentifikasi faktor-faktor hambatan dan kemudahan yang ditemui guru dalam pembelajaran  sebelumnya,
c. Merumuskan alternatif tindakan yang akan dilakasanakan dalam pembelajaran  sebagai upaya untuk meningkatkan kemampuan siswa dalam minat belajar IPS, dan meningkatkan kerjasama siswa dalam pembelajaran di kelas,
d. Menyusun rancangan pelaksanaan pembelajaran dengan teknik STAD meliputi (1) pemilihan tema bacaan dengan benar-benar relevan dengan kehidupan sekitar siswa,  menarik perhatian siswa, dan memberi wawasan dan pengetahuan baru yang menantang kreatifitas berfikir, (2) pemilihan prosedur yang benar-benar efektif, efisien, dan kreatif; (3) mengatur tata letak dan tempat duduk yang dapat menimbulkan suasana aman, nyaman dan relaks, sehingga suasana pembelajaran menjadi menyenangkan; dan (4) panduan teknik STAD.
2.   Pelaksanaan (Acting)
Dalam tahap pelaksanaan, peran peneliti adalah (1) merancang intervensi yang berkaitan dengan pelaksanaan bacaan Memelihara dokumen dan koleksi benda berharga miliknya dengan metode teknik STAD dengan cara mengkomunikasikan dan bernegosiasi dengan praktisi (guru) sehingga diperoleh kesempatan tentang rancangan tindakan yang direncanakan; (2) bekerja dengan praktisi dalam melaksanakan tindakan yang direncanakan; (3) peneliti berperan sebagai pendamping praktisi (guru) untuk memberikan pengarahan, motivasi dan stimulus agar praktisi (guru) untuk melaksanakan perannya berdasarkan rencana.
3. Pengamatan (Observing)
Pemantauan secara menyeluruh (komperhensif) terhadap pelaksanaan tindakan dengan menggunakan instrumen pengumpul data yang telah dibuat sehingga diperoleh data empirik pelakasanaan tindakan pembelajaran, kendala yang dihadapi, serta kesempatan dan peluang yang berkaitan dengan penggunaan teknik STAD dalam pembelajaran, khususnya kemampuan Memelihara dokumen dan koleksi benda berharga miliknya. Data tersebut dijadikan sebagai bahan untuk melakukan refleksi.
4.   Refleksi (Reflecting)
Peneliti dan praktisi mendiskusikan hasil pengamatan tindakan yang telah dilaksanakan. Hal-hal yang dibahas adalah (1) analisis tentang tindakan yang dilakukan; (2) mengulas dan menjelaskan perbedaan rencana dengan pelaksanaan tindakan yang telah dilakukan; (3) melakukan intervensi, pemaknaan dan penyimpulan data yang telah diproses, serta melihat hubungan dengan teori dan rencana yang telah ditetapkan.

 

Instrumen Penelitian

a.    Lembar observasi untuk memperoleh data secara akurat.
b.   Tes hasil belajar untuk memperoleh tingkat keberhasilan metode pembelajaran.
Dimana keberhasilan metode ini meliputi:
1.   Keaktifan siswa dalam mengikuti kegiatan belajar mengajar
2.   Peningkatan hasil belajar, khususnya mata pelajaran IPS.
3.   Peningkatan minat siswa terhadap mata pelajaran IPS khususnya pada kompetensi memelihara dokumen dan koleksi benda berharga miliknya.

 

Teknik Analisis Data

Data yang diperoleh akan dianalisis dengan statistik deskriptif secara persentase yaitu dengan menginventarisasi dan memadukan seluruh informasi yang diperoleh dari tiap siklus. Data yang diperoleh berdasarkan :
1.   Hasil observasi keaktifan siswa selama proses pembelajaran berlangsung.
2.   Hasil lembar pendapat dan tanggapan yang ditulis siswa.
Agar mendapat gambaran yang jelas, maka teknik statistik yang  digunakan dengan rumus mean (rata-rata), yaitu: M =
Keterangan:      M    = Nilai rata-rata
                          x  = Jumlah nilai siswa
                        N     = Jumlah siswa
Untuk mengetahui prosentase ketuntasan belajar dengan rumus:
      Jumlah siswa tuntas
% ketuntasan  =  ------------------------   x 100
       Jumlah seluruh kelas

Hasil Penelitian

Siklus Pertama

a.   Perencanaan (Planning)
Pada tahap proses rencana tindakan ini, mula-mula guru mengidentifikasikan konsep-konsep IPS pada kompetensi dasar memelihara dokumen dan koleksi benda berharga miliknya  yang sukar dipahami siswa.
Berdasarkan masalah tersebut, sebagai acuan implementasi tindakan yang dipilih pada konsep tersebut dipelajari dan diidentifikasi, maka guru menyusun rencana pembelajaran yang memuat :
1)   Pengalaman belajar dengan konsep kajian pustaka
2)   Sistem pembelajaran dengan cara siswa dibagi dalam kelompok-kelompok kecil yang terdiri dari 8 orang siswa dengan salah seorang menjadi ketua
3)   Dalam satu kelompok tersebut diberi permasalahan yang terkait dengan pokok bahasan yang mengarah pada kemampuan dasar tertentu dalam hal ini kompetensi dasar memelihara dokumen dan koleksi benda berharga miliknya.
4)   Kemudian masing-masing kelompok mengidentifikasikan permasalahan dengan sesama temanya untuk membahas materi yang telah dipegang sesuai dengan topik yang dihadapi.
5)   Semua kelompok diminta untuk mengungkapkan hasil pembahasannya dalam kelompok diskusi pleno kelas
6)   Guru memberikan penekanan dan kesimpulan pada akhir diskusi terkait dengan bacaan.
b.   Pelaksanaan (Acting)
Penelitian tindakan kelas (PTK) ini dilakukan pada saat kegiatan belajar mengajar IPS di sekolah. Hasil Pelaksanaan pada siklus  I adalah rata-rata nilai 70 dan ketuntasan belajar 66.67%
c.    Observasi (Observing)
Teknik observasi dilakukan secara terus menerus dalam proses pembelajaran maupun pada hasil belajar. Evaluasi dilakukan terhadap dampak dari pemberian metode STAD selama proses belajar mengajar terhadap hasil belajar dan peningkatan minat sisiwa.
Hasil pengamatan pada siklus I :
d.   Refleksi
Adapun hasil penelitian pada siklus I adalah sebagai berikut: Pada siklus pertama proses kegiatan belajar mengajar tidak seperti yang diharapkan, hal ini mungkin disebabkan dari:
1.   Penyebaran anak-anak pandai tidak merata dalam setiap kelompok. Hal ini disebabkan pembagian kelompok  diatus secara acak.
2.   Jumlah kelompok pada siklus I mungkin terlalu banyak dimana satu kelompok terdiri dari 6 siswa. Hal ini tidak sesuai dengan teori yang diungkapkan Selvin dimana setiap kelompok terdiri dari 4 heterogen menurut prestasi, jenis kelamin, suku dan sebagainya.
3.   Tidak ada sarana dan prasarana penunjang lain seperti buku paket penunjang yang sesuai sehingga kesiapan siswa kurang baik.
4.   Tidak cukup waktu bagi siswa untuk memahami modul atau diktat karena dibagikan secara mendadak.
Dengan asumasi kurang efektifan dalam proses belajar mengajar yang meliputi 4 faktor tersebut, maka hal ini diperbaiki pada siklus II.

Siklus Kedua

a.    Perencanaan
Pada tahap proses rencana tindakan ini, mula-mula guru mengidentifikasikan konsep-konsep IPS yang sukar dipahami siswa.
Berdasarkan masalah tersebut, sebagai acuan implementasi tindakan yang dipilih pada konsep tersebut dipelajari dan didentifikasi, maka guru menyusun rencana pembelajaran yang memuat :
1)   Pengalaman belajar dengan konsep kajian pustaka
2)   Sistem pembelajaran dengan cara siswa dibagi dalam kelompok-kelompok kecil yang terdiri dari 4 orang siswa dengan salah seorang menjadi ketua sama dengan pada siklus I.
3)   Dalam satu kelompok tersebut diberi permasalahan yang terkait dengan pokok bahasan yang mengarah pada kemampuan dasar tertentu dalam hal ini kompetensi dasar memelihara dokumen dan koleksi benda berharga miliknya.
4)   Kemudian masing-masing kelompok mengidentifikasikan permasalahan dengan sesama temanya untuk membahas materi yang telah dipegang sesuai dengan topik yang dihadapi.
5)   Semua kelompok untuk mengungkapkan hasil bahasannya dalam kelompok diskusi pleno kelas
6)   Guru memberikan penekanan dan kesimpulan pada akhir diskusi
b.   Pelaksanaan
Tindakan utama pada siklus II adalah pemberian modul tentang bacaan untuk meningkatkan kemampuan awal  siswa dan merevisi kesalahan konsep pada siklus I, yang menyebabkan hambatan bagi pengembangan pemahaman siswa atas konsep-konsep yang akan dipelajari. 
Hasil penilaian pada siklus II adalah rata-rata nilai 75 dan ketuntasan belajar 91.67%
c.    Observasi (Obseving).
1)   Teknik observasi dilakukan secara terus menerus dalam proses pembelajaran maupun pada hasil belajar
2)   Keaktifan anggota kelompok dalam menyelesaikan tugas.
3)   Peningkatan kemampuan pada setiap kelompok.
4)   Peningkatan minat siswa terhadap mata pelajaran IPS khusunya kompetensi dasar memelihara dokumen dan koleksi benda berharga miliknya.
Hasil pengamatan siklus II sebagai berikut:
d.   Refleksi
Pada siklus II proses kegiatan belajar mengajar sudah lebih baik dari siklus I hal ini disebabkan kelemahan-kelemahan pada siklus I sudah diperbaiki antara lain :
1)   Penyebaran anak disesuaikan dengan kemampuan anak dalam kelas tersebut.
2)   Kelompok siswa diperbaki dengan pengertian penyebaran heterogen satu kelompok terdiri dari 4 siswa.
3)   Sarana media pembelajaran dilengkapi
4)   Modul atau materi pembelajaran diberikan lebih awal sehingga siswa lebih siap dalam proses belajar mengajar.

Pembahasan dan Pengambilan Kesimpulan
Berdasarkan hasil penilaian dan pengamatan siswa guru menunjukkan bahwa dengan menggunakan STAD dapat membantu siswa dalam meningkatkan Memahami kehidupan sosial manusia  dari bacaan.
Data perbandingan nilai rata-rata dan ketuntasan belajar setiap siklus

Siklus I
Siklus II
Rata-rata
70
75
Ketuntasan belajar
66.67%
91.67%
Dari hasil pelaksanaan dan pengamatan siswa dan guru cenderung lebih baik setiap siklus, maka dapat disimpulkan bahwa ada peningkatan Prestasi Belajar IPS Melalui  Metode STAD Siswa Kelas II SDN Ngetrep Kecamatan Jiwan Kabupaten Madiun Tahun Pelajaran 2017/2018”.

 

Kesimpulan

Metode STAD dapat meningkatkan prestasi belajar IPS Siswa Kelas II SDN Ngetrep Kecamatan Jiwan Kabupaten Madiun Tahun Pelajaran 2017/2018.

Saran-Saran

1.     Modul/diktat bahan ajar  diberikan lebih awal, sehingga ada cukup waktu bagi siswa untuk memahami
2.     Tugas diberikan pada siswa dalam bentuk eksperimen
3.     Pada akhir pelaksanaan STAD hendaknya diadakan penegasan konsep.


DAFTAR PUSTAKA
A.M. Sadirman, 1996, Interaksi dan Motivasi Belajar Mengajar, Jakarta: Raja Grafindo Persada.
Budi Sulistyo, Hasan, dkk. 2004. IPS Untuk SD/MI.  Jakarta: Erlangga
Buku Workshop di Batu Malang. 2005. Pedoman Pelaksanaan penelitian Tindakan kelas. Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Propinsi Jawa Timur.
Departemen Pendidkan Nasional. Kurikulum 2004,  SMP. Pedoman Khusus Silabus Dan Penilaian.
S. Alam, M.M. 2001. IPS untuk SD. Jakarta: Erlangga.
Slameto, 1995, Belajar dan Faktor-Faktor yang Mempengaruhinya. Jakarta: Rineka Cipta.
Undang-Undang RI No. 20 Tahun 2003, Bandung: Citra Umbara, 2003.
Tim Pelatih Proyek PGSM. 1999. Penelitian Tindakan Kelas (Classroom Action Reseach). Departemen Pendidikan Dan Kebudayaan. Proyek Pengembangan Guru Sekolah Menengah.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar