PENINGKATAN
KEAKTIFAN DAN PRESTASI BELAJAR PENDIDIKAN KEWARGANEGARAAN MELALUI PENERAPAN METODE BELAJAR TIME
TOKEN AREND PADA SISWA KELAS VIII A SMP NEGERI 2 PILANGKENCENG KABUPATEN
MADIUN TAHUN PELAJARAN 2014/2015
|
|
Oleh: Siti
Fatimah, S.Pd
Guru SMPN 2
Pilangkenceng Kabupaten Madiun
|
ABSTRAK
Kata
kunci : keaktifan , prestasi belajar ,
metode belajar Time Token Arend
Penelitian ini bertujuan untuk
mengetahui upaya peningkatan keaktifan dan prestasi belajar siswa kelas VIII A
di SMP Negeri 2 Pilangkenceng dengan
menggunakan metode pembelajaran kooperatif tipe Time Token Arend dalam
pembelajaran.
Penelitian ini merupakan penelitian
tindakan kelas (classroom action research) yaitu bentuk penelitian yang
bersifat reflektif dengan melakukan tindakan–tindakan tertentu agar dapat
memperbaiki dan meningkatkan praktek pembelajaran di kelas. Subjek penelitian
ini siswa kelas VIII A di SMP Negeri 2 Pilangkenceng yang keaktifan dan prestasi belajar siswa
dalam mata pelajaran PKn masih rendah atau kurang dari 75 sesuai dengan
kriteria ketuntasan minimal (KKM) 75. Teknik pengumpulan data yang digunakan
dalam penelitian ini adalah observasi, tes dan dokumentasi. Untuk menganalisis
data dari hasil lembar observasi keaktifan dan nilai rata – rata kelas
menggunakan statistik deskriptif.
Berdasarkan penelitian yang telah
dilakukan , dapat disimpulkan bahwa terdapat peningkatan hasil belajar siswa
terhadap mata pelajaran Pendidikan Kewarganegaraan dari perolehan Pre Tes
dengan rerata 67,33 pada tahap Siklus I rata – rata yang diperoleh 72,08 naik
menjadi rata – rata 81,94 pada tahap Siklus II. Dari rata – rata tersebut dapat
diketahui terjadi peningkatan rata – rata 9,86 dari siklus I ke siklus II. Hal
ini menunjukan dengan adanya peroleh nilai siswa rata – rata dari siklus I (
72,08 ) meningkat pada siklus II dengan nilai rata – rata ( 81,94 )
Latar Belakang Masalah
Pendidikan mempunyai peran sangat penting dalam
meningkatkankualitas sumber daya manusia dan upaya mewujudkan cita – cita
bangsa Indonesia dalam mewujudkan kesejahteraan umum dan mencerdaskan khidupan
bangsa. Sebagaimana tercantum pada Undang – Undang RI No 20 Tahun 2003 tentang
Sistem Pendidikan Nasional menjelaskan fungsi dan tujuan dari Pendidikan
Nasional, yaitu :
“Pendidikan nasional berfungsi mengembangkan kemampuan dan
membentuk watak serta peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangka
mencerdaskan kehidupan bangsa bertujuan untuk berkembangnya potensi peserta
didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertaqwa kepada Tuhan YME,
berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri dan menjadi warga
negara yang demokratis serta bertanggung jawab “(Depdiknas, 2003: 8).
Pendidikan di sekolah merupakan salah satu jalur yang sangat
penting dalam rangka meningkatkan kualitas sumber daya manusia Indonesia.
Pendidikan di sekolah diharapkan dapat menciptakan manusia Indonesia
berkualitas, manusia yang cerdas berketrampilan dan berwatak. Cerdas dalam arti
memiliki pengetahuan dan teknologi serta terdidik sehingga dapat menggunakan
nalar dan intelektualnya. Berketrampilan artinya mampu melaksanakan berbagai
tugas dan kewajibannya yang memerlukan ketrampilan fisikal, sedangkan berwatak
berarti memiliki kepribadian dan sikap yang sesuai dengan jiwa dan pandangan
hidup bangsa.
Namun pada kenyataannya disaat upaya peningkatan kualitas
pendidikan sedang dilaksanakan justru terlihat bahwa kualitas lulusan dan
Prestasi Belajar para siswa cenderung menunjukkan gejala penurunan. Terlebih
pada era globalisasi saat ini yang menghadapkan manusia pada perubahan –
perubahan yang tidak menentu akan mem-berikan dampak pada kemajuan ilmu penge-tahuan
dan teknologi. Perubahan-perubahan ini tentu memberi dampak pada lembaga
pemeritahan, salah satunya adalah lembaga pendidikan. Lembaga Pendidikan
dituntut untuk dapat menyelenggarakan proses pendidikan secara optimal dan
aktif sebagai upaya untuk meningkatkan kualitas dan mutu pendidikan yang sesuai
dengan harapan atau berjalan sebagaimana mestinya.
Pendidikan Kewarganegaraan (PKn) sendiri merupakan mata pelajaran
yang diwajibkan untuk kurikulum di jenjang pendidikan dasar, menengah dan mata
kuliah wajib untuk kurikulum pendidikan tinggi, sebagaimana yang diamanatkan
dalam Undang -Undang No. 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional Pasal
37.
Berdasarkan hal tersebut Pendidikan Kewarganegaraan tidak bisa
dianggap remeh karena merupakan pelajaran yang diwajibkan, sehingga upaya–upaya
untuk memperbaiki proses pembelajaran PKn di sekolah–sekolah maupun pergu-ruan
tinggi harus terus ditingkatkan.
Sebagai ilmu yang bersifat abstrak dan verbal, tentunya PKn
berbeda dengan ilmu–ilmu terapan yang bersifat pasti. Hal ini akan menjadikan
siswa terkadang merasa kesulitan dalam mengikuti proses pembelajaran.
Akibatnya, sering terda pat siswa yang menampakkan sikap acuh dan malas dalam
proses belajar mengajar sehingga hasil belajar kurang memuaskan karena siswa
banyak melakukan kekeliruan dan kesalahan. Kekeliruan dan kesalahan yang
dilakukan siswa ini disebabkan oleh kurangnya kemampuan siswa dalam
pembelajaran PKn tetapi juga karena faktor lain seperti gaya atau metode
mengajar guru, lingkungan, sarana dan prasarana belajar, motivasi siswa dan
lain–lain.
Secara umum guru dan siswa merupa-kan komponen yang vital dalam
pembelajaran, karena mereka saling terkait satu sama lain dengan tugas dan
peranan yang berbeda, sehingga guru bertugas memberikan penge-tahuan dan siswa
menerimanya. Mereka juga berperan penting menyukseskan proses pembelajaran yang
sedang dijalankan. Dalam proses pembelajaran guru tidak hanya berperan sebagai
instruktur atau pelatih melainkan juga sebagai fasilitator, pemberi arah, dan
sekaligus teman siswa. Sehingga diharapkan prestasi belajar siswa dapat
meningkat dengan doro-ngan dan kesempatan yang diberikan kepada siswa untuk
bekerja sama selama proses pembelajaran berlangsung.
Dalam pembelajaran yang aktif, siswa dituntut untuk mengalami
sendiri, berlatih, berkegiatan, sehingga baik daya pikir, emosional, dan
keterampilan mereka dalam belajar terus terlatih. Siswa juga harus
berpartisipasi dalam proses pembelajaran dengan melibatkan diri dalam berbagai
jenis kegiatan sehingga secara fisik mereka merupakan bagian dari pembelajaran
tersebut.
Siswa harus aktif dalam melakukan kegiatan belajar, oleh karena
itu guru seharusya menciptakan strategi yang efektif dan efisien, sehingga
siswa mempunyai motivasi yang tinggi untuk belajar. Guru juga harus peka ketika
kegiatan belajar mengajar sudah membosankan bagi siswa, maka guru harus segera
memodifikasikan metode pengajaran, sehingga siswa tetap berada dalam suasana
yang kondusif untuk belajar. Namun pada kenyatannya, saat ini cukup banyak guru
yang kesulitan untuk menciptakan suasana belajar yang kondusif dan mendorong
motivasi, sehingga siswa menjadi kurang aktif dalam kegiatan belajar mengajar
dan akibatnya siswa kurang berkembang secara optimal. Hal ini disebabkan salah
satunya karena kurangnya kreativitas dalam menemukan metode pembe-lajaran baru
yang menarik.
Selain itu, proses pembelajaran di ruang kelas juga harus
terkondisi secara dua arah, baik antara guru dengan peserta didik maupun
sebaliknya. Agar komunikasi dua arah tersebut dapat terwujud tentu guru sebagai
fasilitator pendidikan harus mampu dalam mengembangkan metode mengajarnya. Metode
mengajar diartikan sebagai suatu cara atau teknik yang dipakai oleh guru dalam
menyajikan bahan ajar kepada siswa untuk mencapai tujuan pengajaran. Dalam hal
ini adalah metode untuk menunjang proses belajar mengajar PKn.
Pemilihan metode yang tepat akan menciptakan situasi belajar yang
menyenangkan dan mendukung kelancaran proses belajar mengajar sehingga siswa
akan lebih termotivasi untuk belajar. Pemilihan metode tersebut, perlu
memperhatikan beberapa hal seperti materi yang disampaikan, tujuannya, waktu
yang tersedia, dan banyaknya siswa serta hal–hal yang berkaitan dengan proses
belajar mengajar. Guru yang baik harus mampu menguasai bermacam–macam metode
mengajar sehingga dapat memilih dan menen-tukan metode yang tepat untuk
diterapkan pada materi pembelajaran tertentu.
Berdasarkan observasi sementara yang dilakukan peneliti, diketahui
bahwa keaktifan siswa kelas VIII A SMPN 2 Pilangkenceng pada saat mata
pelajaran PKn terlihat masih kurang sehingga belum terwujud prestasi belajar
yang optimal. Hal ini terlihat saat mata pelajaran Pendidikan Kewar-ganegaraan
berlangsung, masih ada siswa yang tidak fokus pada saat guru sedang menjelaskan
materi. Mereka terlihat mengobrol dan bercanda dengan teman sebangkunya.
Apabila guru bertanyamereka tidak tahu harus menjawab apa, dan jika ada materi
yang kurang jelas, siswa cenderung diam dan malas untuk bertanya. Pada saat
diskusi berlangsung siswa kurang memperhatikan ketika kelompok lainnya sedang
mempresentasikan hasil kerja kelompoknya. Mereka lebih terlihat asyik bercanda
dan mengobrol dengan temannya. Selain itu pada saat diskusi berlangsung mereka
tidak mau mengeluarkan pendapat dan menanggapi pendapat kelompok lain, mereka
terlihat diam. Apabila diminta untuk menge-mukakan pendapatnya mereka tidak
bisa menjawab. Hanya beberapa anak yang mau bertanya dan mengeluarkan pendapat
atau ide pada saat mata pelajaran berlangsung. Dari beberapa hal di atas
menunjukkan para siswa kurang aktif saat pelajaran berlangsung.
Hal ini disebabkan karena tidak adanya motivasi siswa pada saat
belajar dan strategi pembelajaran yang kurang mampu membangkitkan ketrampilan
berpikir kritis siswa. Mereka hanya mendengarkan ceramah dari guru dan tidak
mau bertanya apa yang mereka tidak ketahui. Jadi mereka cenderung pasif pada
saat pembelajaran berlangsung sehingga aktivitas mereka belum terlihat. Hal
inilah yang menyebabkan prestasi belajar mereka belum optimal. Hal ini
ditunjukkan dengan hasil belajar siswa yang masih rendah. Terlihat masih ada
beberapa siswa yang hasil belajarnya belum sesuai dengan kriteria ketuntasan
minimum (KKM). Proses pembelajaran satu arah juga ditemukan di SMPN 2
Pilangkenceng pada saat mata pelajaran PKn yang pembelajarannya umumnya masih
bersifat text book dan metode ceramah.
Dengan melihat kurangnya keaktifan dan belum optimalnya prestasi
belajar siswa, maka perlu dicari jalan keluar untuk memecah-kan persoalan
tersebut. Hal yang harus dilakukan adalah dengan menggunakan metode yang cocok
dengan kondisi siswa, agar siswa dapat berfikir kritis, logis dan dapat memecahkan
masalah dengan sikap terbuka, kreatif dan inovatif. Dalam pembelajaran dikenal
berbagai model pembelajaran salah satunya adalah pembelajaran kooperatif (cooperative
learning). yang memasukkan unsur unsur keterlibatan siswa secara lang-sung.
Dalam metode terdapat penggabu-ngan kegiatan yaitu membaca, menulis,
mendengarkan dan berbicara. Metode pembelajaran kooperatif memberikan
kesempatan pada siswa untuk bekerja sama antara siswa yang mempunyai kemampuan
heterogen. Pembela-jaran kooperatif merupakan salah satu model pembelajaran
yang memiliki potensi lebih dibandingkan dengan pembelajaran ceramah.
Maka dari itu, perlu dikenalkan Metode Time Token Arend.
Metode Time Token Arend dapat membuat siswa berpartisi-pasi pada saat
proses pembelajaran berlangsung. Di sini siswa dapat mengem-bangkan
keterampilannya dalam mengemu-kakan pendapat dan dapat mengeluarkan ide masing
– masing. Mereka juga bisa saling bertukar ide dan menyanggah ide dari orang
lain. Jadi tidak hanya siswa yang dianggap pintar yang mengemukakan
pendapatnya, di sini semua siswa diharapkan untuk menge-luarkan pendapatny.
Maka siswa cenderung tidak hanya diam saja, tetapi mereka juga ikut aktif pada
saat pembelajaran berlangsung.
Metode Time Token Arend merupakan salah satu dari metode pembelajaran
aktif. Metode pembelajaran aktif pada hakekatnya yaitu suatu metode
pembelajaran yang mengarahkan atensi peserta didik terhadap materi yang
dipelajarinya (Agus Suprijono, 2011: 111). Metode pembelajaran Time Token
Arend adalah salah satu metode pembelajaran yang secara langsung maupun
tidak langsung menuntut peran aktif dari tiap siswa untuk berpartisipasi dalam
kegiatan belajar mengajar yang sedang berlangsung.
Berdasarkan latar belakang di atas, dan mengingat pentingnya
proses pembelajaran PKn sebagai langkah untuk meningkatkan keaktifan dan
prestasi belajar siswa maka kelemahan–kelemahan dalam proses pembelajaran harus
diperbaiki. Oleh karena itu perlu dilakukan Penelitian Tindakan Kelas. Maka
peneliti tertarik melakukan Penelitian tentang Penerapan Metode Time Token
Arend dalam upaya meningkatkan keaktifan dan prestasi belajar siswa dalam
pembelajaran PKn.
Rumusan Masalah
1. Bagaimana keefektifan
metode Time Token Arend dalam meningkatkan keaktifan belajar siswa kelas
VIII A pada pembelajaran PKn di SMP Negeri 2 Pilangkenceng
2. Bagaimana keefektifan
metode Time Token Arend dalam meningkatkanprestasi belajar siswa kelas
VIII A pada pembelajaran PKn di SMP Negeri 2 Pilangkenceng.
Tujuan Penelitian
1.
Untuk mengetahui keefektifan metode Time Token Arend dalam
mening-katkan keaktifan belajar siswa kelas VIII A SMP Negeri 2 Pilangkenceng pada
mata pelajaran PKn.
2.
Untuk mengetahui keefektifan meto-de Time Token Arend dalam
mening-katkan prestasi belajar siswa kelas VIII A SMP Negeri 2 Pilankenceng pada
mata pelajaran PKn.
Manfaat Penelitian
1.
Untuk Peneliti
a. Untuk menambah
pengetahuan kepada peneliti tentang dunia pendidikan sebelum terjun di lapangan
pendidikan.
b. Untuk menambah wawasan
bagi peneliti tentang keefektifan penggunaan metode pembelajaran dalam proses
belajar mengajar khususnya mata pelajaran PKn.
2.
Untuk Guru
a. Memotivasi guru untuk
mengembangkan metode pembelajaran melalui penerapan metode pembe lajaran di
kelas.
b. Membantu guru menemukan
metode-metode baru yang dapat meningkatkan keaktifan siswa dalam proses
belajar.
3.
Untuk Siswa
a.
Melatih siswa untuk mengembangkan keaktifan diri dalam belajar,
sehingga siswa tidak malu untuk bertanya.
b.
Membantu siswa untuk mengembangkan kemampuan diri, sehingga siswa
mampu mengaitkan penetahuan baru dengan pengetahuan yang didapatkan di kelas.
c.
Melatih siswa agar lebih berani mengungkapkan pendapat atau
pertanyaan di kelas sesuai dengan pemahaman siswa.
Kajian Teori
Keaktifan Siswa
Aktif menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia ( 2005: 23 ) berarti giat.
Aktivitas siswa pada saat proses pembelajaran perlu diperhatikan oleh guru,
agar proses belajar mengajar yang ditempuh mendapatkan hasil yang maksimal.
Maka guru perlu mencari cara untuk meningkat-kan keaktifan siswa. Keaktifan
peserta didik dalam belajar secara efektif itu dapat dinyatakan sebagai
berikut:
a.
Hasil belajar peserta didik umumnya hanya sampai tingkat
penguasaan, merupakan bentuk hasil belajar terendah.
b.
Sumber-sumber belajar yang digunakan pada umumnya terbatas pada guru
(catatan penjelasan dari guru) dan satu dua buku catatan.
c.
Guru dalam mengajar kurang merangsang aktivitas belajar peserta
didik secara optimal. (Tabrani,1989: 128)
Keaktifan
sendiri merupakan motor dalam kegiatan pembelajaran maupun kegiatan belajar,
siswa di tuntut untuk selalu aktif memproses dan mengolah hasil belajarnya.
Untuk dapat memproses dan mengolah hasil belajarnya secara efektif, siswa
dituntut untuk aktif secara fisik, intelektual dan emosional. Sardiman (2009 :
100) berpendapat bahwa aktifitas disini yang baik yang bersifat fisik maupun
mental. Dalam kegiatan belajar kedua aktifitas itu harus saling terkait. Kaitan
antara keduanya akan membuahkan aktifitas belajar yang optimal.
Klasifikasi keaktifan siswa
Menurut
Sardiman (2009 : 100–101) keaktifan siswa dalam belajar dapat diklasifikasikan
sebagai berikut :
a)
Visual activities, Membaca, melihat gambar-gambar, mengamati eksperimen, demonstrasi,
dan mengamati orang lain bekerja.
b)
Oral activities,Mengemukakan suatu fakta atau prinsip, menghubungkan suatu
kejadian, mengajukan perta-nyaan, memberi saran, mengemu-kakan pendapat, wawancara,
diskusi dan interupsi.
c)
Listening activities, Mendengarkan penyajian bahan, mendengarkan percakapan atau diskusi
kelompok, mendengarkan musik, pidato.
d)
Writing activities, Menulis cerita, menulis laporan, karangan, angket, menyalin.
e)
Drawing activities, Menggambar, membuat grafik, diagram, peta.
f)
Motor activities, Melakukan perco-baan, memilih alat-alat, melaksanakan pameran, membuat
model, menyelenggarakan permainan, menari dan berkebun.
g)
Mental activities, Merenung, mengingat, memecahkan masalah, menganalisis
faktor-faktor, melihat hubungan-hubungan dan membuat kepu-tusan.
h)
Emotional activities, Minat, membe-dakan, berani, tenang dan lain-lain.
Prinsip-prinsip Keaktifan
a)
Prinsip motivasi, di mana guru berperan sebagai motivator yang merangsang
dan membangkitkan motif-motif yang positif dari siswa dalam pembelajarannya.
b)
Prinsip latar atau konteks, yaitu prinsip keterhubungan bahan baru
dengan apa yang telah diperoleh siswa sebelumnya. Dengan perolehan yang ada inilah
siswa dapat memperoleh bahan baru.
c)
Prinsip keterarahan, yaitu adanya pola pengajaran yang menghubung
– hubungkan seluruh aspek pengajaran.
d)
Prinsip belajar sambil bekerja, yaitu mengintegrasikan pengalaman
dengan kegiatan fisik dan pengalaman dengan kegaiatan intelektual.
e)
Prinsip perbedaan perorangan, yaitu kegiatan bahwa ada perbedaan-perbedaan
tertentu di dalam diri setiap siswa, sehingga mereka tidak diperlakukan secara
klasikal.
f)
Prinsip menemukan, yaitu membiarkan sendiri siswa menemukan informasi
yang dibutuhkan dengan pengarahan seperlunya dari guru.
g)
Prinsip pemecahan masalah, yaitu mengarahkan siswa untuk peka
terhadap masalah dan mempunyai kegiatan untuk mampu menyelesaikannya.
Model Pembelajaran Cooperative Learning
Model pembelajaran kooperatif merupakan teknik – teknik pembelajaran
di kelas yang praktis, dapat digunakan guru setiap hari untuk membantu
ketrampilan dasar sampai pemecahan masalah yang kompleks. Dalam pembelajaran
kooperatif siswa belajar dalam suatu kelompok kecil dan dikehendaki untuk
saling memberi penjelasan yang baik, menjadi pendengar yang baik, mengajukan
pertanyaan yang benar.
Pembelajaran kooperatif adalah konsep yang lebih luas meliputi semua
jenis kerja kelompok termasuk bentuk-bentuk yang lebih dipimpin oleh guru atau
diarahkan oleh guru. (Agus Suprijono, 2011: 54) Cooperative learning adalah
strategi pembelajaran yang cukup berhasil pada kelompok – kelompok kecil , di
mana pada tiap kelompok tersebut terdiri dari siswa-siswi dari berbagai tingkat
kemampuan, melakukan berbagai kegia-tan untuk meningkatkan pemahaman mereka
tentang materi pembelajaran yang sedang dipelajari.
Pembelajaran kooperatif merupakan strategi pembelajaran yang menitik
beratkan pada pengelompokan siswa dengan tingkat kemampuan akademik yang
berbeda kedalam kelompok kecil, dimana siswa diajarkan ketrampilan –
ketrampilan khusus agar dapat bekerjasama dengan baik dalam kelompoknya,
seperti menjelaskan kepada teman sekelompoknya, menghargai pendapat teman,
berdiskusi dengan teratur, siswa yang pandai membantu teman yang lemah dalam
belajar, dan sebagainya.
Pembelajaran yang menggunakan model kooperatif dapat memiliki ciri
– ciri sebagai berikut :
a)
Siswa bekerja di dalam kelompok secara kooperatif untuk menun-taskan
materi belajarnya.
b)
Kelompok dibentuk dari siswa yang memiliki kemampuan tertinggi, sedang
dan rendah.
c)
Bilamana mungkin, anggota kelompok berasal dari ras budaya, suku,
jenis kelamin berbeda – beda.
d)
Penghargaan lebih berorientasi pada kelompok daripada individu.
(Arends dalam Trianto 2010: 65-66)
Metode Time Token Arend
Belajar atau pembelajaran merupakan sebuah kegiatan yang wajib
kita lakukan dan kita berikan kepada anak didik kita. Belajar merupakan kunci sukses
untuk menggapai masa depan yang cerah, mempersiapkan generasi bangsa, negara
dan agama. Melihat peran yang begitu vital, maka menerapkan metode yang efektif
dan efisien adalah sebuah keharusan. Dengan harapan proses belajar akan
berjalan menyenangkan dan tidak membosankan. Metode adalah cara yang di dalam
fungsinya alat untuk mencapai tujuan. Dalam kegiatan pembelajaran diperlukan
metode, sesuai dengan situasi dan kondisi.
Metode pembelajaran seharusnya tepat guna, maksudnya adalah metode itu mampu
mengfungsikan si anak didik belajar sendiri sesuai dengan student active
learning.
Proses belajar mengajar dan kerja sama guru – siswa mencapai sasaran
dan tujuan belajar, ialah melalui cara atau metode, yang pada hakekatnya ialah
jalan mencapai sasaran dan tujuan pendidikan - pengajaran.
Menurut Oemar Hamalik alasan atau nalar guru memilih atau
menetapkan suatu metode dalam proses belajar mengajar ialah :
a.
Metode ini sesuai dengan pokok bahasan, dalam makna lebih menjadi mencapai
sasaran dan tujuan instruksional.
b.
Metode ini menjadi kegiatan siswa dalam belajar dan mening-katkan prestasi
atau semangat belajar.
c.
Metode ini memperjelas dasar, kerangka, isi dan tujuan dari pokok bahasan
sehingga pemaha-man siswa makin jelas.
Model pembelajaran Time Token Arend merupakan model pembelajaran
yang bertujuan agar masing-masing anggota kelompok diskusi mendapatkan
kesempatan untuk memberikan konstribusi mereka dan mendengarkan pandangan serta
pemikiran anggota lain. Model ini memiliki struktur pengajaran yang sangat cocok
digunakan untuk mengajarkan keterampilan sosial, serta untuk menghindari siswa
mendominasi pembicaraan atau siswa diam sama sekali. Time Token Arend merupakan
metode pembelajaran yang mengharuskan siswa untuk aktif berpartisipasi dalam
kegiatan belajar mengajar. Partisipasi aktif siswa tersebut dapat dilihat salah
satunya saat siswa mengemukakan pendapat, menyanggah pendapat dari teman lain,
atau bahkan memberi masukan dan menyampaikan informasi-informasi yang
berhubungan dengan materi pelajaran kepada teman-temannya.
Hipotesis Tindakan
1.
Metode pembelajaran Time Token Arend efektif dalam
meningkatkan keaktifan siswa kelas VIII SMPN 2 Pilangkenceng pada mata pelajaran Pendidikan
Kewarganegaraan.
2.
Metode pembelajaran Time Token Arend efektif dalam meningkatkan
prestasi belajar siswa kelas VIII SMPN 2 Pilangkenceng pada mata pelajaran Pendidikan Kewarganegaraan.
Metode Penelitian
Penelitian ini merupakan penelitian tindakan kelas (classroom
action research) penelitian indikan kelas bersifat partisipatori dan
kolaboratif. Kolaboratif artinya peneliti berkolaborasi atau bekerja sama
dengan guru mata pelajaran Pendidikan Kewarganegaraan, yang tergabung dalam
satu tim untuk melakukan penelitian dengan tujuan untuk memperbaiki
kekurangan–kekurangan dalam praktik pembelajaran.
Kemmis dalam Rochiati w. ( 2005: 12 ) menjelaskan bahwa penelitian
tindakan kelas adalah sebuah bentuk inkuiri reflektif yang dilakukan secara kemitraan
mengenai situasi sosial (termasuk pendidikan) untuk mening-katkan rasionalitas
dan keadilan dari :
Sedangkan menurut Suharsimi Arikunto ( 2006: 3). Penelitian
Tindakan Kelas merupakan suatu pencermatan terhadap kegiatan belajar berupa
sebuah tindakan yang sengaja dimunculkan dan terjadi dalam sebuah kelas secara
bersama.
Berdasarkan beberapa pendapat dapat disimpulkan bahwa Penelitian Tindakan
kelas merupakan salah satu cara yang dilakukan oleh guru pada saat kegiatan
belajar dengan menggunakan tindakan – tindakan tertentu agar dapat meningkatkan
praktik pembelajaran dikelas.
Desain penelitian yang dikembangkan dalam penelitian ini adalah
desain penelitian yang diadaptasi dari Suharsimi Arikunto (2006: 16) yang menggambarkan
bahwa penelitian tindakan kelas dilaksanakan melalui beberapa siklus dan
masing–masing siklus terdiri dari empat tahap. Bagan desain penelitian menurut
Suharsimi Arikunto digambarkan sebagai berikut :
1.
Perencanaan ( planning )
Kegiatan yang dilakukan
dalam proses perencanaan ialah menentukan focus penelitian yaitu mencari sisi
kelemahan yang timbul kemudian kelemahan tersebut diidentifikasi dan dianalisis
kelayakannya untuk diatasi dengan Penelitian Tindakan Kelas.
2.
Pelaksanaan tindakan ( action )
Tindakan yang dimaksud
adalah tindakan yang dilakukan secara sadar dan terkendali yang merupakan
variasi praktek yang cermat dan bijaksana. Tindakan bersifat tidak tetap dan
dinamis serta memerlukan keputusan cepat tentang apa yang perlu dilakukan dan
penelitian praktis.
3.
Observasi ( observation )
Pada tahap observasi
ini, peneliti mengamati, mencatat dan mengdokumen-tasikan hal-hal yang terjadi
selama tindakan berlangsung untuk mengetahui kesesuaian antara pelaksanaan
tindakan dengan rencana tindakan yang telah ditetapkan.
4. Refleksi
( reflection )
Setelah dilakukan
pengamatan, peneliti mengingat dan merenungkan hasil pengamatan yang telah
dilakukan. Kekurangan yang ditemui dalam siklus terdahulu dapat digunakan
sebagai dasar penyusunan rencana tindakan kelas pada siklus selanjutnya,
sehingga siklus berikutnya akan menjadi lebih baik.
Siklus I
a.
Perencanaan
1) Menetapkan materi
pembelajaran PKn yang akan disajikan dengan model pembelajaran kooperatif Time
Token Arend yaitu Makna Kedaulatan Rakyat.
2) Membuat Rencana
Pelaksana Pembela-jaran (RPP) tentang materi yang diajarkan yaitu tentang Makna
Kedaulatan Rakyat.
3) Membuat dan menyiapkan
lembar observasi untuk mengetahui keaktifan siswa dalam penerapan pembelajaran Time
Token Arend pada saat pembelajaran berlangsung. Lembar observasi ini
digunakan peneliti sebagai pedoman dalam mengobservasi kelas dan untuk mengetahui
perubahan–perubahan yang telah dimiliki siswa selama kegiatan pembelajaran
berlang-sung apakah terjadi peningkatan atau tidak.
4) Penyusunan media
pembelajaran yang akan digunakan pada saat pembelajaran berlangsung.
5) Menyusun dan menyiapkan
soal yang digunakan untuk mengetahui sejauh mana pengetahuan dan pemahaman
siswa terhadap materi yang akan diajarkan dan tes setelah pembelajaran
berlangsung (post test) untuk mengetahui prestasi siswa sesudah
diterapkannya metode Time Token Arend, apakah setelah proses
pembelajaran terjadi perubahan dan peningkatan atau tidak. Soal tersebut
disusun oleh peneliti dan guru mata pelajaran dengan konsultasi pada dosen
pembimbing.
Pelaksanaan Siklus I
1. Pertemuan pertama
a).
Kegiatan awal
Guru
memberikan penjelasan serentetan kegiatan yang akan dilakukan siswa dan guru
menyiapkan sarana pembelajaran dan mengkondisikan siswa agar siap mengikuti
kegiatan pembelajaran.
b).
Kegiatan inti
1. Siswa mendengarkan
penjelasan guru tentang tujuan pembelaja-ran yang akan dicapai.
2. Siswa mendengarkan
penjelasan guru tentang model pembelaja-ran yang akan digunakan.
3. Siswa mendengarkan
penjelasan guru tentang materi yang akan dipelajari.
4. Lalu guru membagi
kelompok, setiap kelompok terdiri dari 2 orang.
5. Setiap kelompok
diberikan kartu kupon,di dalam kupon tersebut terdiri dari 2 soal untuk
dikerjakan. Soal dikerjakan setelah pembelajaran selesai.
6. Setelah selesai
dikerjakan lalu jawaban mempresentasikan di depan kelas.
7. Setelah selesai
mempresen-tasikan kupon tersebut diberikan kepada guru. Setiap maju satu kupon.
8. Bagi kelompok yang
masih memegang kartu diharuskan berbicara.
c).
Kegiatan akhir
1.
Guru menyimpulkan materi yang telah diberikan
2.
Guru menutup pelajaran dengan mengucap salam.
2. Tindakan pertemuan kedua
a) Kegiatan
awal
1.
Guru membuka kegiatan dengan mungucapkan salam.
2.
Setelah itu guru menunjuk salah satu siswa untuk maju ke depan
kelas menyayikan salah satu lagu nasional bersama–sama.
3.
Guru mengecek presensi atau kegiatan siswa
4.
Guru menyiapkan sarana pembe-lajaran dan mengkondisikan siswa agar
siap mengikuti kegiatan pembelajaran.
5.
Guru memberikan acuan
kepada siswa dengan cara menyampaikan semua tujuan pembelajaran yang ingin dicapai.
6.
Guru menjelaskan tentang diskusi kelas yang akan dilakukan nanti.
7.
Kemudian guru memberikan apersepsi dengan cara mengulang materi pembelajaran
minggu lalu.
b) Kegiatan
inti
1.
Guru menunjuk salah satu kelompok untuk membacakan hasil jawabannya
ke depan kelas. Kelom-pok yang lain mendengarkan hasil jawaban dari siswa
tersebut. Setelah kelompok tersebut selesai memba-cakan hasil jawabannya siswa
yang lain diberi waktu untuk bertanya atau menyanggah hasil jawaban tersebut.
2.
Guru membimbing jalannya diskusi kelas dan memberikan kesempatan kepada
siswa untuk bertanya. Setelah diskusi kelas selesai guru bersama sama siswa
menyimpulkan hasil diskusi.
c). Penutup
1.
Guru bersama–sama dengan siswa menarik kesimpulan tentang materi yang
dipelajari pada hari ini. Guru memancing siswa dengan perta-nyaan pertanyaan
yang mengarah pada kesimpulan tentang materi pada hari ini.
2.
Guru mengakhiri pelajaran dengan berdoa dan mengucapkan salam.
3. Tindakan pertemuan ketiga
a) Kegiatan
awal
1.
Guru membuka kegiatan dengan mungucapkan salam.
2.
Setelah itu guru menunjuk salah satu siswa untuk maju kedepan
kelas menyayikan salah satu lagu nasional bersama–sama.
3.
Guru mengecek presensi atau kegiatan siswa
4.
Guru menyiapkan sarana pembela-jaran dan mengkondisikan siswa agar
siap mengikuti kegiatan pembelajaran.
5.
Guru menjelaskan tentang kegiatan yang kegiatan yang akan
dilakukan yaitu melanjutkan diskusi kelas pertemuan sebelumnya.
b) Kegiatan
inti
1.
Guru menunjuk salah satu kelompok untuk membacakan hasil jawabannya
ke depan kelas. Kelom-pok yang lain mendengarkan hasil jawaban dari kelompok
tersebut. Setelah kelompok tersebut selesai membacakan hasil jawabannya
kelompok yang lain diberi waktu untuk bertanya atau menyanggah hasil jawaban
tersebut.
2.
Guru membimbing jalannya diskusi kelas dan memberikan kesempatan kepada
siswa untuk bertanya. Setelah diskusi kelas selesai guru bersama– sama siswa
menyimpulkan hasil diskusi.
3.
Guru memberikan post tes siklus I kepada siswa. Tes tersebut ber-bentuk
20 soal pilihan ganda yang berisi materi pembelajaran yang diajarkan pada
siklus I.
4.
Guru dibantu peneliti membagi lembar soal kepada masing–masing siswa,
guru memperingatkan kepada siswa dalam mengerjakan soal tidak diperbolehkan
membantu atau meminta jawaban kepada teman lainnya.
5.
Setelah selesai mengerjakan soal jawaban dan soal dikumpulkan.
c) Penutup
1.
Guru bersama–sama dengan siswa menarik kesimpulan tentang materi yang
dipelajari pada hari ini.
2.
Guru memancing siswa dengan pertanyaan–pertanyaan yang mengarah
pada kesimpulan tentang
3.
materi pada hari ini.
4.
Guru mengakhiri pelajaran dengan berdoa dan mengucapkan salam.
Hasil Tindakan
Keaktifan siswa
Dalam melakukan observasi peneliti menggunakan lembar
observasiyang telah disiapkan. Subyek yang diamati yaitu keaktifan siswa. Hasil
observasi pada keaktifan siswa dilihat dari hasil pengamatan yang diamati dalam
setiap aspeknya, yang ada pada indikator .Disimpulkan bahwa skor keaktifan
siswa yang diperoleh masing– masing siswa siklus 1 menunjukkan bahwa dari 36
siswa, 20 siswa yang belum berhasil dalam pencapaian kriteria dalam keaktifan,
belum dapat dikatakan aktif belajar, karena skor yang diperoleh ≤ 70. Sedangkan
siswa yang aktif hanya 16 siswa. Jadi pada siklus pertama ini keaktifan siswa
belum dikatakan meningkat karena belum sesuai dengan kriteria keberhasilan yang
dicapai, dimana kriteria tersebut minimanl 25 orang siswa aktif dengan
mendapatkan skor minimal 70. Faktor yang menyebabkan tidak tercapainya
keaktifan siswa dipengaruhi pada saat menjelaskan kurang menarik perhatian siswa.
Jadi siswa terlihat malah lesu pada saat pembelajaran.,banyak siswa yang masih berbicara
sendiri–sendiri sehingga menunjukkan siswa kurang antusias dalam memperhatikan
guru. Hal ini disebabkan karena kelas kurang kondusif, sehingga konsentrasi
siswa pada saat pembelajaran terpecah.
Refleksi
Pada tahap refleksi peneliti mengevaluasi hasil dari tes dan
lembar observasi. Berdasarkan lembar pengamatan untuk mengetahui keaktifan
siswa pada siklus I, keaktifan yang telah di peroleh dalam proses pembelajaran
di siklus I belum mengalami peningkatan karena jumlah siswa yang masuk dalam
kriteria keberhasilan dalam melakukan aktivitas hanya sebanyak 16 siswa yang
ikut berpartisipasi dengan memperoleh nilai minimal 70 dari hasil lembar
pengamatan, sedangkan siswa yang belum mencapai criteria partisipasi aktif
sebanyak 20 siswa, skor yang diperoleh dari lembar pengamatan masih dibawah 70.
Jadi dalam pencapaian keaktifan siswa belum dapat dikatakan meningkat karena
belum memenuhi kriteria yang telah ditentukan dimana siswa yang harus melakukan
keaktifan belajarnya minimal 25 siswa dengan memperoleh nilai dari lembar
pengamatan minimal 70.
Berdasarkan hasil tindakan pada siklus I terjadi peningkatan
mencapai rata- rata 72,08. Namun belum semua siswa mencapai ketuntasan yang
telah ditetapkan yaitu memperoleh nilai ≥ 75 untuk masing–masing siswa, masih ada
12 siswa yang belum mencapai kriteria ketuntasan, untuk itu masih perlu ditingkatkan
lagi.
Pada pelaksanaan pembelajaran dengan model pembelajaran kooperatif
tipe Time Token Arend pada siklus I belum sepenuhnya terlaksana dengan baik.
Dari hasil refleksi yang dilakukan masih terdapat banyak kekurangan yang
disebabkan oleh faktor guru dan siswa. Guru baru pertama kali menggunakan model
pembelajaran tipe Time Token Arend dan juga siswa baru pertama kali
menerima pelajaran dengan menggunakan model pembelajaran Time Token Arend,
sehingga siswa masih kurang aktif.
Kekurangan yang ditemukan pada pelaksanaan tindakan pada siklus I antara lain:
1.
Dalam penerapan model tersebut guru kurang memotivasi siswa
sehingga siswa kurang semangat dalam proses pembelajaran.
2.
Siswa belum terbiasa dengan pembelajaran menggunakan model pembelajaran
kooperatif tipe Time Token Arend. Hal ini terlihat pada saat awal
diskusi kelas, dimana siswa masih binggung dalam memahami cara kerja dengan
menggunakan model pembelajaran tersebut.
3.
Keadaan kelas yang ramai dan tidak kondusif mengakibatkan siswa kurang
serius dalam proses belajar mengajar, hal tersebut dapat terlihat masih banyak
siswa yang mengobrol pada saat guru menerangkan materi sehingga siswa kurang
memahami materi yang diterangkan guru.
4.
Siswa masih kurang berani dalam memberikan pendapat ketika siswa dari
kelompok lain mempresentasikan hasil diskusi di depan kelas.
Siklus II
Perencanaan Tindakan
1.
Menetapkan materi pembelajaran PKn yang akan disajikan dengan
model pembelajaran kooperatif Time Token Arend yaitu Sistem Pemerintahan
Indonesia dan peran Lembaga Negara.
2.
Membuat Rencana Pelaksana Pem-belajaran (RPP) tentang materi yang diajarkan
yaitu tentang Sistem Peme-rintahan Indonesia dan peran Lembaga Negara. Rencana
Pelaksana Pembelajaran disusun oleh peneliti dan guru mata pelajaran dengan
konsultasi pembimbing.
3.
Membuat dan menyiapkan lembar observasi untuk mengetahui keaktifan
siswa dalam penerapan pembelajaran Time Token Arend pada saat pembelajaran
berlangsung. Lembar observasi ini digunakan peneliti sebagai pedoman dalam
mengobservasi kelas dan untuk mengetahui perubahan – perubahan yang telah
dimiliki siswa selama kegiatan pembelajaran berlangsung apakah terjadi
peningkatan atau tidak. Lembar ini diisi pada setiap pertemuan dan dibuat oleh
peneliti dengan konsultasi pada dosen pembimbing.
4.
Penyusunan media pembelajaran yang akan digunakan pada saat pembelajaran
berlangsung.
5.
Menyusun dan menyiapkan soal yang digunakan untuk mengetahui
sejauh mana pengetahuan dan pemahaman siswa terhadap materi yang akan diajarkan
dan tes setelah pembelajaran berlangsung (post test) untuk mengetahui
prestasi siswa sesudah diterapkannya metode Time Token Arend, apakah
setelah proses pembelajaran terjadi perubahan dan peningkatan atau tidak. Soal
tersebut disusun oleh peneliti dan guru mata pelajaran dengan konsultasi pada
dosen pembimbing.
Pelaksanaan Tindkan
Siklus II
Pertemuan pertama
a)
Kegiatan awal
1. Guru membuka kegiatan
dengan mungucapkan salam.
2. Setelah itu guru
menunjuk salah satu siswa untuk maju kedepan kelas menyayikan salah satu lagu
nasional bersama–sama.
3. Guru mengecek presensi
atau kegiatan siswa
4. Guru menyiapkan sarana
pembe-lajaran dan mengkondisikan siswa agar siap mengikuti kegiatan pem-belajaran.
5. Guru memberikan
penjelasan seren-tetan kegiatan yang akan dilakukan siswa dan guru menyiapkan
sarana pembelajaran dan mengkondisikan siswa agar siap mengikuti kegiatan
pembelajaran.
b)
Kegiatan inti
1. Siswa mendengarkan
penjelasan guru tentang tujuan pembelajaran yang akan dicapai.
2. Siswa mendengarkan
penjelasan guru tentang model pembelajaran yang akan digunakan.
3. Siswa mendengarkan
penjelasan guru tentang materi yang akan dipelajari.
4. Lalu guru membagi
kelompok, setiap kelompok terdiri dari 2 orang
5. Setiap kelompok
diberikan kartu kupon,di dalam kupon tersebut terdiri dari 2 soal untuk
dikerjakan. Soal dikerjakan setelah pembelajaran selesai.
6. Setelah selesai
dikerjakan lalu jawaban mempresentasikan di depan kelas.
7. Setelah selesai
mempresentasikan kupon tersebut diberikan kepada guru. Setiap maju satu kupon.
8. Bagi kelompok yang
masih memegang kartu diharuskan bebrbicara.
c)
Kegiatan akhir
1. Guru menyimpilkan
materi yang telah diberikan
2. Guru menutup pelajaran
dengan mengucap salam.
Tindakan pertemuan
kedua
a)
Kegiatan awal
1. Guru membuka kegiatan
dengan mungucapkan salam.
2. Setelah itu guru menunjuk
salah satu siswa untuk maju kedepan kelas menyayikan salah satu lagu nasional
bersama–sama.
3. Guru mengecek presensi
atau kegiatan siswa
4. Guru menyiapkan sarana
pembelajaran dan mengkondisikan siswa agar siap mengikuti kegiatan
pembelajaran. Guru memberikan acuan kepada siswa dengan cara menyampaikan semua
tujuan pembelajaran yang ingin dicapai.
5. Guru menjelaskan
tentang diskusi kelas yang akan dilakukan nanti.
6. Kemudian guru
memberikan apersepsi dengan cara mengulang materi pembelajaran minggu lalu.
b)
Kegiatan inti
1. Guru menunjuk salah
satu kelompok untuk membacakan hasil jawabannya ke depan kelas. Kelompok yang
lain mendengarkan hasil jawaban dari kelompok tersebut. Setelah kelompok
tersebut selesai membacakan hasil jawabannya, kelompok yang lain diberi waktu
untuk bertanya atau menyanggah hasil jawaban tersebut.
2. Guru membimbing
jalannya diskusi kelas dan memberikan kesempatan kepada siswa untuk bertanya.
Setelah diskusi kelas selesai guru bersama –sama siswa menyimpulkan hasil
diskusi.
c)
Penutup
1.
Guru bersama–sama dengan siswa menarik kesimpulan tentang materi yang
dipelajari pada hari ini. Guru memancing siswa dengan pertanyaan –pertanyaan
yang mengarah pada kesimpulan tentang materi pada hari ini.
2.
Guru mengakhiri pelajaran dengan berdoa dan mengucapkan salam.
Tindakan pertemuan
ketiga
a)
Kegiatan awal
1. Guru membuka kegiatan
dengan mungucapkan salam.
2. Setelah itu guru
menunjuk salah satu siswa untuk maju kedepan kelas menyayikan salah satu lagu
nasional bersama–sama.
3. Guru mengecek presensi
atau kegiatan siswa
4. Guru menyiapkan sarana
pembelajaran dan mengkondisikan siswa agar siap mengikuti kegiatan
pembelajaran.
5. Guru menjelaskan
tentang kegiatan yang kegiatan yang akan dilakukan yaitu melanjutkan diskusi
kelas pertemuan sebelumnya.
b)
Kegiatan inti
1. Guru menunjuk salah
satu kelompok untuk membacakan hasil jawabannya kedepan kelas. Kelompok yang
lain mendengarkan hasil jawaban dari kelompok tersebut. Setelah kelompok
tersebut selesai membacakan hasil jawabannya kelompok yang lain diberi waktu
untuk bertanya atau menyanggah hasil jawaban tersebut.
2. Guru membimbing
jalannya diskusi kelas dan memberikan kesempatan kepada siswa untuk bertanya.
Setelah diskusi kelas selesai guru bersama– sama siswa menyim-pulkan hasil
diskusi.
3. Guru memberikan post
tes siklus I kepada siswa. Tes tersebut berbentuk 20 soal pilihan ganda yang
berisi materi pembelajaran yang diajarkan pada siklus II.
4. Guru dibantu peneliti
membagi lembar soal kepada masing–masing siswa, guru memperingatkan kepada
siswa dalam mengerjakan soal tidak diperbolehkan membantu atau meminta jawaban
kepada teman lainnya. Setelah selesai mengerjakan soal jawaban dan soal
dikumpulkan.
c)
Penutup
1.
Guru bersama–sama dengan siswa menarik kesimpulan tentang materi yang
dipelajari pada hari ini. Guru memancing siswa dengan pertanyaan– pertanyaan
yang mengarah pada kesimpulan tentang materi pada hari ini.
2.
Guru mengakhiri pelajaran dengan berdoa dan mengucapkan salam.
Hasil tindakan siklus ke II
Pada siklus ini jumlah siswa yang hadir yaitu berjumlah 36 siswa.
Dari dengan jumlah siswa 27, dengan mendapatkan skor minimal 70 dari lembar
pengamatan. Sedangkan yang belum aktif berkurang menjadi 9 siswa, yang belum
mencapai kriteria keberhasilan, skor yang diperoleh dari lembar pengamatan
masih ≤ 70.
Dari pemaparan tersebut hasil observasi keaktifan siswa dengan menggunakan
model pembelajaran kooperatif tipe metode Time Token Arend yaitu semua
tahapan sudah dilaksanakan dengan optimal. Siswa juga lebih aktif dibandingkan
dengan sebelumnya. Hal tersebut menunjukkan bahwa dalam keaktifan siswa sudah
dapat dikatakan meningkat, karena semua indikator dalam keaktifan siswa sudah
mencapai kriteria yang telah ditentukan, yaitu minimal 25 siswa yang melakukan
keaktifan. Hal ini bisa terlihat dari adanya antusias pada mereka untuk
melaksanakan tugas yang diberikan pada mereka. Pada pertemuan kedua ini seluruh
siswa sudah memper-hatikan dan mendengarkan guru pada waktu guru ceramah, siswa
juga aktif menjawab pertanyaan sewaktu guru melemparkan pertanyaan.
Beberapa siswa sudah mencatata materi yang diberikan oleh guru
selama proses pembelajaran berlangsung.
Refleksi
Pada tahap refleksi peneliti bersama guru mengevaluasi hasil dari
tes dan observasi, dari hasil pengamatan dan refleksi di siklus II maka
penerapan metode kooperatif tipe Time Token Arend bisa dibilang dapat
meningkatkan keaktifan siswa dan prestasi belajar siswa. Pada hasil keaktifan
siswa, semua indikator dalam keaktifan siswa sudah memenuhi kriteria yang sudah
ditetapkan yaitu minimal 25 siswa telah melakukan keaktifan dalam pembelajaran
dan keaktifan siswa pada proses pembelajaran berlangsung bisa juga dilihat pada
dokumentasi berupa foto – foto yang telah terlampir pada lampiran, sedangkan
pada prestasi belajar semua siswa sudah mencapai ketuntasan yang telah ditetapkan
yaitu memperoleh nilai ≥ 70 untuk masing – masing siswa pada siklus ke II maka
penerapan metode kooperatif tipe Time Token Arend dapat meningkatakan
Keaktifan siswa dan prestasi belajar siswa. Keunggulan yang ada perlu
dipertahankan untuk mendukung peningkatan strategi pembelajaran selanjutnya.
Sedangkan beberapa kelemahan dalam metode pembelajaran kooperatif tipe Time
Token Arend perlu diperbaiki untuk pertemuan selanjutnya. Berdasarkan hasil
tes dan hasil observasi dari siklus II yang telah terjadi peningkatan dari
siklus I, peneliti dan guru sepakat bahwa penelitian ini tidak dilanjutkan ke
siklus III.
Pembahasan
Pembahsan dalam penelitian tindakan kelas ini didasarkan atas
hasil penelitian yang dilanjutkan dengan hasil refleksi pada akhir siklus.
Penelitian ini dilakukan selama dua siklus, di mana masing – masing siklus
dilakukan dengan prosedur Penelitian Tindakan Kelas (PTK) yaitu Perencanaan, Pengamatan,
Tindakan dan Refleksi secara umum proses pembelajaran yang berlangsung disetiap
akhir siklus sudah berjalan dengan baik. Sesuai dengan rumusan masalah dan
tujuan penelitian, maka penelitian ini bertujuan untuk melakukan perbaikan
proses pembelajaran dan meningkatkan prestasi belajar siswa pada mata pelajaran
PKn siswa kelas VIII A di SMPN 2 Pilangkenceng
.
Upaya yang dilakukan yaitu dengan menerapkan metode pembelajaran kooperatif
tipe Time Token Arend pada setiap siklus pembelajaran diharapkan dapat
membawa perubahan pada proses pembelajaran PKn di kelas VIII A di SMPN 2
Pilangkenceng Pembelajaran dengan
menggunakan metode kooperatif tipe Time Token Arend ini sangat membantu
siswa untuk belajar. Dengan pembelajaran yang variatif ini akan mendorong siswa
untuk meningkatkan Keaktifan siswa dan prestasi belajar siswa di kelas.
1. Keaktifan siswa dalam pembelajaran PKn
Hasil penelitian tindakan siklus I dan II dengan pembelajaran
kooperatif tipe Time Token Arend menunjukkan adanya peningkatan terhadap
keaktifan siswa. Peningkatan terjadi pada observasi siklus II dimana dalam
observasi ini yang diamati adalah Keaktifan siswa. Dari hasil observasi
diperoleh data keaktifan siswa sebagai berikut :
Pada siklus I siswa yang melakukan keaktifan keaktifan yang mencapai
kriteria cukup sebanyak 20 siswa, dimana nilai yang diperoleh masih dibawah 70.
Sedangkan yang mencapai kriteria baik 16 siswa mendapat skor dari lembar
pengamatan minimal 70. Pada siklus II yang mencapai criteria cukup hanya 9
orang, dan yang mendapat kriteria baik 27 orang. Dari data tersebut dapat
dilihat adanya peningkatan, dimana pada Siklus I yang mendapat kriteria cukup
dari 20 menurun menjadi 9 siswa pada siklus II, sedangkan yang mendapat
kriteria Baik dari siklus I sebanyak 16 siswa, naik menjadi 27 siswa.
Dari hasil peningkatan tersebut maka dapat dikatakan bahwa
penerapan metode pembalajaran kooperatif tipe Time Token Arend sudah
dapat dikatakan meningkat keaktifan siswa karena sudah memenuhi kriteria yang
telah ditentukan, dimana siswa yang aktif 25 siswa dengan memperoleh skor minimal 70.
2. Prestasi belajar siswa dalam pembelajaran PKn
Penilaian yang dilakukan pada setiap siklus adalah dengan tes
siklus I pada akhir pertemuan 3 dan tes siklus II pada pertemuan 6 di mana
materi tes adalah mengenai makna kedaulatan rakyat, sistem pemerintahan di Indonesia
dan peran lembaga negara. Hal ini bertujuan mengukur sejauh mana siswa dapat
menguasai materi yang telah disampaikan atau diajarkan oleh guru dengan
menggunakan metode pembelajaran koope-ratif tipe Time Token Arend.
Setelah dilaksanakan penelitian mulai dari tahapan siklus I,
sampai pada siklus II dapat dilihat adanya peningkatan keaktifan siswa dan
prestasi belajar siswa terhadap mata pelajaran PKn dengan menggunakan metode pembelajaran
koo-peratif tipe Time Token Arend, serta berdasarkan pemaparan data –
data hasil penelitian diatas maka dapat diberikan penjelasan bahwa telah
terjadi peningkatan prestasi belajar siswa terhadap mata pelajaran PKn dari
siklus I mencapai rata – rata 72,08 naik menjadi rata – rata 81,94 pada tahap
siklus II. Dari rata–rata tersebut dapat diketahui terjadi peningkatan rata–rata
9,86 dari siklus I ke siklus II.
Kesimpulan
1. Dengan penggunaan
metode pembelajaran kooperatif tipe Time Token Arend dapat meningkatkan
keaktifan belajar PKn siswa di kelas dilihat adanya peningkatan, dimana pada
Siklus I yang mendapat kriteria sedang 20 menurun menjadi 9 siswa pada siklus
II, sedangkan yang mendapat criteria baik dari siklus I sebanyak 16 siswa, naik
menjadi 27 siswa. Dari hasil peningkatan tersebut maka dapat dikatakan bahwa
penerapan metode pembelajaran kooperatif tipe Time Token Arend sudah
dapat dikatakan meningkat keaktifan siswa karena sudah meme-nuhi kriteria yang
telah ditentukan, dimana yang mengikuti keaktifan minimal 25 siswa dengan memperoleh
nilai minimal 70. Hal ini menunjukkan bahwa terjadi peningkatan terhadap
keaktifan siswa pada mata pelajaran PKn.
2. Dengan penggunaan
metode pembe-lajaran kooperatif tipe Time Token Arend dapat meningkatkan
prestasi belajar PKn siswa di kelas. Peningkatan prestasi belajar ini dapat
dilihat dari adanya perubahan nilai rata–rata yang diperoleh siswa pada setiap
akhir siklus. niali rata–rata yang diperoleh siswa pada tahap siklus I 72,08
naik menjadi rata–rata 81,94 pada tahap siklus II. Dari rata–rata tersebut
dapat diketahui terjadi peningkatan siklus I dan peningkatan 9,86 dari siklus I
ke siklus II.
Saran
1.
Di dalam proses belajar mengajar telah terbukti bahwa dengan menggunakan
metode pembelajaran kooperatif tipe Time Token Arend dapat meningkatkan
keaktifan siswa, diharapkan guru dapat menggembangkan metode pembe-lajaran
kooperatif tipe Time Token Arend dalam proses belajar mengajar khususnya
Pendidikan Kewarganegaraan.
2.
Di dalam proses belajar mengajar telah terbukti bahwa dengan menggunakan
metode pembelajaran kooperatif tipe Time Token Arend dapat meningkatkan
prestasi belajar siswa, diharapkan guru dapat menggembangkan metode
pembelajaran kooperatif tipe Time Token Arend dalam proses belajar
mengajar khususnya Pendidikan Kewarganegaraan.
DAFTAR PUSTAKA
Agus Suprijono. 2011. Cooperative Learning. Pustaka
Belajar. Surabaya Anita Lie. 2004. Cooperative Learning “mempraktikkan
cooperative learning di ruang – ruang kelas”. Jakarta: Grasindo
Cholisin. (2004 ). Pendidikan Kewarganegaraan ( Civic Education
). Yogyakarta: AdicitaKarya Nusa
Departemen Pendidikan nasional.( 2005 ). Kamus Besar Bahasa Indonesia
PusatBahasa. Jakarta: PT.GramediaPustakaUtama.
Gulo W. 2002.Strategi Belajar Mengajar. Jakarta: PT
GramediaWidia Muhibbin Syah. 2010. Psikologi Pendidikan dengan Pendekatan
Baru. Bandung: PT Remaja Rosdakarya
MukhammadMurdiono.2006.PenggunaanPortofolioDalamPembelajaran Kewarganegaraan.
Tesis, Yogyakarta: Program PascaSarjana UNY
Moh.Uzer Umar dan Lilis Setyowati. 1993. Upaya Optimalisasi Kegiatan
Belajar Mengajar. Bandung: PT Remaja Rosdakarya .
Nana Syaodih Sukmadinata. 2005. Landasan Psikologi Proses Pendidikan.
Bandung: PT RemajaRosdakarya Nana Syaodih Sukmadinata. 2007. Metode
Penelitian Pendidikan. Bandung: PT Remaja Rosdakarya
Ngalim Purwanto. 2007. Psikologi Pendidikan. Bandung: PT
Remaja Rosdakarya
Peraturan Menteri Pendidikan Nasional Republik Indonesia No. 22 Tahun
2006
Rochiati Wiriaatmadja. 2005. Metode Penelitian Tindakan Kelas.
Bandung. PascaSarjana UPI dan PT Remaja Rosdakarya
Sardiman. 2009. Interaksi dan Motivasi Belajar Mengajar.
Jakarta: PT Raja Grafindo Persada
Sudijono Anas. 2008. Pengantar Evaluasi Pendidikan. Jakarta: PT.
Raja Grafindo Persada
Suharsimi Arikunto. 2002. Manajemen Pendidikan.Jakarta
:Rineka Cipta
Suharsimi Arikunto. 2006. Dasar Evaluasi Pendidikan(
edisirevisi ). Jakarta: BumiAksara
Sumadi Suryabrata. 2002. Psikologi Pendidikan. Jakarta: PT
Raja
Grafindo Perkasa
Tabrani Rusyan, Atang Kusdinar&ZainalArifin. 1989. Pendekatan
dalam Proses BelajarMengajar. Bandung: PT RemajaRosdakarya
Trianto.2010. Mendesain Model Pembelajaran Inovatif –
Progresif. Jakarta: KencanaPrenada Media Group
Undang-Undang RI No. 20 Tahun 2003, Tentang Sistem Pendidikan Nasional.
http://snartombs.wordpress.com/2009/03/20/pengertian-cooperativelearning/
http://blog.muhfida.com/pembelajaran-cooperative-learning
Tidak ada komentar:
Posting Komentar