Senin, 01 Oktober 2018

PENINGKATAN KEAKTIFAN DAN PRESTASI BELAJAR PENDIDIKAN KEWARGANEGARAAN MELALUI PENERAPAN METODE BELAJAR TIME TOKEN AREND PADA SISWA KELAS VIII A SMP NEGERI 2 PILANGKENCENG KABUPATEN MADIUN TAHUN PELAJARAN 2014/2015


PENINGKATAN KEAKTIFAN DAN PRESTASI BELAJAR PENDIDIKAN KEWARGANEGARAAN  MELALUI PENERAPAN METODE BELAJAR  TIME TOKEN AREND PADA SISWA KELAS VIII A SMP NEGERI 2 PILANGKENCENG KABUPATEN MADIUN TAHUN PELAJARAN 2014/2015

Oleh: Siti Fatimah, S.Pd
Guru SMPN 2 Pilangkenceng Kabupaten Madiun

ABSTRAK
Kata kunci : keaktifan  , prestasi belajar , metode belajar Time Token Arend

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui upaya peningkatan keaktifan dan prestasi belajar siswa kelas VIII A di SMP Negeri 2 Pilangkenceng  dengan menggunakan metode pembelajaran kooperatif tipe Time Token Arend dalam pembelajaran.
Penelitian ini merupakan penelitian tindakan kelas (classroom action research) yaitu bentuk penelitian yang bersifat reflektif dengan melakukan tindakan–tindakan tertentu agar dapat memperbaiki dan meningkatkan praktek pembelajaran di kelas. Subjek penelitian ini siswa kelas VIII A di SMP Negeri 2 Pilangkenceng  yang keaktifan dan prestasi belajar siswa dalam mata pelajaran PKn masih rendah atau kurang dari 75 sesuai dengan kriteria ketuntasan minimal (KKM) 75. Teknik pengumpulan data yang digunakan dalam penelitian ini adalah observasi, tes dan dokumentasi. Untuk menganalisis data dari hasil lembar observasi keaktifan dan nilai rata – rata kelas menggunakan statistik deskriptif.
Berdasarkan penelitian yang telah dilakukan , dapat disimpulkan bahwa terdapat peningkatan hasil belajar siswa terhadap mata pelajaran Pendidikan Kewarganegaraan dari perolehan Pre Tes dengan rerata 67,33 pada tahap Siklus I rata – rata yang diperoleh 72,08 naik menjadi rata – rata 81,94 pada tahap Siklus II. Dari rata – rata tersebut dapat diketahui terjadi peningkatan rata – rata 9,86 dari siklus I ke siklus II. Hal ini menunjukan dengan adanya peroleh nilai siswa rata – rata dari siklus I ( 72,08 ) meningkat pada siklus II dengan nilai rata – rata ( 81,94 )


Latar Belakang Masalah
Pendidikan mempunyai peran sangat penting dalam meningkatkankualitas sumber daya manusia dan upaya mewujudkan cita – cita bangsa Indonesia dalam mewujudkan kesejahteraan umum dan mencerdaskan khidupan bangsa. Sebagaimana tercantum pada Undang – Undang RI No 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional menjelaskan fungsi dan tujuan dari Pendidikan Nasional, yaitu :
“Pendidikan nasional berfungsi mengembangkan kemampuan dan membentuk watak serta peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa bertujuan untuk berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertaqwa kepada Tuhan YME, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab “(Depdiknas, 2003: 8).
Pendidikan di sekolah merupakan salah satu jalur yang sangat penting dalam rangka meningkatkan kualitas sumber daya manusia Indonesia. Pendidikan di sekolah diharapkan dapat menciptakan manusia Indonesia berkualitas, manusia yang cerdas berketrampilan dan berwatak. Cerdas dalam arti memiliki pengetahuan dan teknologi serta terdidik sehingga dapat menggunakan nalar dan intelektualnya. Berketrampilan artinya mampu melaksanakan berbagai tugas dan kewajibannya yang memerlukan ketrampilan fisikal, sedangkan berwatak berarti memiliki kepribadian dan sikap yang sesuai dengan jiwa dan pandangan hidup bangsa.
Namun pada kenyataannya disaat upaya peningkatan kualitas pendidikan sedang dilaksanakan justru terlihat bahwa kualitas lulusan dan Prestasi Belajar para siswa cenderung menunjukkan gejala penurunan. Terlebih pada era globalisasi saat ini yang menghadapkan manusia pada perubahan – perubahan yang tidak menentu akan mem-berikan dampak pada kemajuan ilmu penge-tahuan dan teknologi. Perubahan-perubahan ini tentu memberi dampak pada lembaga pemeritahan, salah satunya adalah lembaga pendidikan. Lembaga Pendidikan dituntut untuk dapat menyelenggarakan proses pendidikan secara optimal dan aktif sebagai upaya untuk meningkatkan kualitas dan mutu pendidikan yang sesuai dengan harapan atau berjalan sebagaimana mestinya.
Pendidikan Kewarganegaraan (PKn) sendiri merupakan mata pelajaran yang diwajibkan untuk kurikulum di jenjang pendidikan dasar, menengah dan mata kuliah wajib untuk kurikulum pendidikan tinggi, sebagaimana yang diamanatkan dalam Undang -Undang No. 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional Pasal 37.
Berdasarkan hal tersebut Pendidikan Kewarganegaraan tidak bisa dianggap remeh karena merupakan pelajaran yang diwajibkan, sehingga upaya–upaya untuk memperbaiki proses pembelajaran PKn di sekolah–sekolah maupun pergu-ruan tinggi harus terus ditingkatkan.
Sebagai ilmu yang bersifat abstrak dan verbal, tentunya PKn berbeda dengan ilmu–ilmu terapan yang bersifat pasti. Hal ini akan menjadikan siswa terkadang merasa kesulitan dalam mengikuti proses pembelajaran. Akibatnya, sering terda pat siswa yang menampakkan sikap acuh dan malas dalam proses belajar mengajar sehingga hasil belajar kurang memuaskan karena siswa banyak melakukan kekeliruan dan kesalahan. Kekeliruan dan kesalahan yang dilakukan siswa ini disebabkan oleh kurangnya kemampuan siswa dalam pembelajaran PKn tetapi juga karena faktor lain seperti gaya atau metode mengajar guru, lingkungan, sarana dan prasarana belajar, motivasi siswa dan lain–lain.
Secara umum guru dan siswa merupa-kan komponen yang vital dalam pembelajaran, karena mereka saling terkait satu sama lain dengan tugas dan peranan yang berbeda, sehingga guru bertugas memberikan penge-tahuan dan siswa menerimanya. Mereka juga berperan penting menyukseskan proses pembelajaran yang sedang dijalankan. Dalam proses pembelajaran guru tidak hanya berperan sebagai instruktur atau pelatih melainkan juga sebagai fasilitator, pemberi arah, dan sekaligus teman siswa. Sehingga diharapkan prestasi belajar siswa dapat meningkat dengan doro-ngan dan kesempatan yang diberikan kepada siswa untuk bekerja sama selama proses pembelajaran berlangsung.
Dalam pembelajaran yang aktif, siswa dituntut untuk mengalami sendiri, berlatih, berkegiatan, sehingga baik daya pikir, emosional, dan keterampilan mereka dalam belajar terus terlatih. Siswa juga harus berpartisipasi dalam proses pembelajaran dengan melibatkan diri dalam berbagai jenis kegiatan sehingga secara fisik mereka merupakan bagian dari pembelajaran tersebut.
Siswa harus aktif dalam melakukan kegiatan belajar, oleh karena itu guru seharusya menciptakan strategi yang efektif dan efisien, sehingga siswa mempunyai motivasi yang tinggi untuk belajar. Guru juga harus peka ketika kegiatan belajar mengajar sudah membosankan bagi siswa, maka guru harus segera memodifikasikan metode pengajaran, sehingga siswa tetap berada dalam suasana yang kondusif untuk belajar. Namun pada kenyatannya, saat ini cukup banyak guru yang kesulitan untuk menciptakan suasana belajar yang kondusif dan mendorong motivasi, sehingga siswa menjadi kurang aktif dalam kegiatan belajar mengajar dan akibatnya siswa kurang berkembang secara optimal. Hal ini disebabkan salah satunya karena kurangnya kreativitas dalam menemukan metode pembe-lajaran baru yang menarik.
Selain itu, proses pembelajaran di ruang kelas juga harus terkondisi secara dua arah, baik antara guru dengan peserta didik maupun sebaliknya. Agar komunikasi dua arah tersebut dapat terwujud tentu guru sebagai fasilitator pendidikan harus mampu dalam mengembangkan metode mengajarnya. Metode mengajar diartikan sebagai suatu cara atau teknik yang dipakai oleh guru dalam menyajikan bahan ajar kepada siswa untuk mencapai tujuan pengajaran. Dalam hal ini adalah metode untuk menunjang proses belajar mengajar PKn.
Pemilihan metode yang tepat akan menciptakan situasi belajar yang menyenangkan dan mendukung kelancaran proses belajar mengajar sehingga siswa akan lebih termotivasi untuk belajar. Pemilihan metode tersebut, perlu memperhatikan beberapa hal seperti materi yang disampaikan, tujuannya, waktu yang tersedia, dan banyaknya siswa serta hal–hal yang berkaitan dengan proses belajar mengajar. Guru yang baik harus mampu menguasai bermacam–macam metode mengajar sehingga dapat memilih dan menen-tukan metode yang tepat untuk diterapkan pada materi pembelajaran tertentu.
Berdasarkan observasi sementara yang dilakukan peneliti, diketahui bahwa keaktifan siswa kelas VIII A SMPN 2 Pilangkenceng pada saat mata pelajaran PKn terlihat masih kurang sehingga belum terwujud prestasi belajar yang optimal. Hal ini terlihat saat mata pelajaran Pendidikan Kewar-ganegaraan berlangsung, masih ada siswa yang tidak fokus pada saat guru sedang menjelaskan materi. Mereka terlihat mengobrol dan bercanda dengan teman sebangkunya. Apabila guru bertanyamereka tidak tahu harus menjawab apa, dan jika ada materi yang kurang jelas, siswa cenderung diam dan malas untuk bertanya. Pada saat diskusi berlangsung siswa kurang memperhatikan ketika kelompok lainnya sedang mempresentasikan hasil kerja kelompoknya. Mereka lebih terlihat asyik bercanda dan mengobrol dengan temannya. Selain itu pada saat diskusi berlangsung mereka tidak mau mengeluarkan pendapat dan menanggapi pendapat kelompok lain, mereka terlihat diam. Apabila diminta untuk menge-mukakan pendapatnya mereka tidak bisa menjawab. Hanya beberapa anak yang mau bertanya dan mengeluarkan pendapat atau ide pada saat mata pelajaran berlangsung. Dari beberapa hal di atas menunjukkan para siswa kurang aktif saat pelajaran berlangsung.
Hal ini disebabkan karena tidak adanya motivasi siswa pada saat belajar dan strategi pembelajaran yang kurang mampu membangkitkan ketrampilan berpikir kritis siswa. Mereka hanya mendengarkan ceramah dari guru dan tidak mau bertanya apa yang mereka tidak ketahui. Jadi mereka cenderung pasif pada saat pembelajaran berlangsung sehingga aktivitas mereka belum terlihat. Hal inilah yang menyebabkan prestasi belajar mereka belum optimal. Hal ini ditunjukkan dengan hasil belajar siswa yang masih rendah. Terlihat masih ada beberapa siswa yang hasil belajarnya belum sesuai dengan kriteria ketuntasan minimum (KKM). Proses pembelajaran satu arah juga ditemukan di SMPN 2 Pilangkenceng pada saat mata pelajaran PKn yang pembelajarannya umumnya masih bersifat text book dan metode ceramah.
Dengan melihat kurangnya keaktifan dan belum optimalnya prestasi belajar siswa, maka perlu dicari jalan keluar untuk memecah-kan persoalan tersebut. Hal yang harus dilakukan adalah dengan menggunakan metode yang cocok dengan kondisi siswa, agar siswa dapat berfikir kritis, logis dan dapat memecahkan masalah dengan sikap terbuka, kreatif dan inovatif. Dalam pembelajaran dikenal berbagai model pembelajaran salah satunya adalah pembelajaran kooperatif (cooperative learning). yang memasukkan unsur unsur keterlibatan siswa secara lang-sung. Dalam metode terdapat penggabu-ngan kegiatan yaitu membaca, menulis, mendengarkan dan berbicara. Metode pembelajaran kooperatif memberikan kesempatan pada siswa untuk bekerja sama antara siswa yang mempunyai kemampuan heterogen. Pembela-jaran kooperatif merupakan salah satu model pembelajaran yang memiliki potensi lebih dibandingkan dengan pembelajaran ceramah.
Maka dari itu, perlu dikenalkan Metode Time Token Arend. Metode Time Token Arend dapat membuat siswa berpartisi-pasi pada saat proses pembelajaran berlangsung. Di sini siswa dapat mengem-bangkan keterampilannya dalam mengemu-kakan pendapat dan dapat mengeluarkan ide masing – masing. Mereka juga bisa saling bertukar ide dan menyanggah ide dari orang lain. Jadi tidak hanya siswa yang dianggap pintar yang mengemukakan pendapatnya, di sini semua siswa diharapkan untuk menge-luarkan pendapatny. Maka siswa cenderung tidak hanya diam saja, tetapi mereka juga ikut aktif pada saat pembelajaran berlangsung.
Metode Time Token Arend merupakan salah satu dari metode pembelajaran aktif. Metode pembelajaran aktif pada hakekatnya yaitu suatu metode pembelajaran yang mengarahkan atensi peserta didik terhadap materi yang dipelajarinya (Agus Suprijono, 2011: 111). Metode pembelajaran Time Token Arend adalah salah satu metode pembelajaran yang secara langsung maupun tidak langsung menuntut peran aktif dari tiap siswa untuk berpartisipasi dalam kegiatan belajar mengajar yang sedang berlangsung.
Berdasarkan latar belakang di atas, dan mengingat pentingnya proses pembelajaran PKn sebagai langkah untuk meningkatkan keaktifan dan prestasi belajar siswa maka kelemahan–kelemahan dalam proses pembelajaran harus diperbaiki. Oleh karena itu perlu dilakukan Penelitian Tindakan Kelas. Maka peneliti tertarik melakukan Penelitian tentang Penerapan Metode Time Token Arend dalam upaya meningkatkan keaktifan dan prestasi belajar siswa dalam pembelajaran PKn.

Rumusan Masalah
1.   Bagaimana keefektifan metode Time Token Arend dalam meningkatkan keaktifan belajar siswa kelas VIII A pada pembelajaran PKn di SMP Negeri 2 Pilangkenceng
2.   Bagaimana keefektifan metode Time Token Arend dalam meningkatkanprestasi belajar siswa kelas VIII A pada pembelajaran PKn di SMP Negeri 2 Pilangkenceng.

Tujuan Penelitian
1.   Untuk mengetahui keefektifan metode Time Token Arend dalam mening-katkan keaktifan belajar siswa kelas VIII A SMP Negeri 2 Pilangkenceng pada mata pelajaran PKn.
2.   Untuk mengetahui keefektifan meto-de Time Token Arend dalam mening-katkan prestasi belajar siswa kelas VIII A SMP Negeri 2 Pilankenceng pada mata pelajaran PKn.

Manfaat Penelitian
1.   Untuk Peneliti
a.    Untuk menambah pengetahuan kepada peneliti tentang dunia pendidikan sebelum terjun di lapangan pendidikan.
b.   Untuk menambah wawasan bagi peneliti tentang keefektifan penggunaan metode pembelajaran dalam proses belajar mengajar khususnya mata pelajaran PKn.
2.   Untuk Guru
a.    Memotivasi guru untuk mengembangkan metode pembelajaran melalui penerapan metode pembe lajaran di kelas.
b.   Membantu guru menemukan metode-metode baru yang dapat meningkatkan keaktifan siswa dalam proses belajar.
3.   Untuk Siswa
a.    Melatih siswa untuk mengembangkan keaktifan diri dalam belajar, sehingga siswa tidak malu untuk bertanya.
b.   Membantu siswa untuk mengembangkan kemampuan diri, sehingga siswa mampu mengaitkan penetahuan baru dengan pengetahuan yang didapatkan di kelas.
c.    Melatih siswa agar lebih berani mengungkapkan pendapat atau pertanyaan di kelas sesuai dengan pemahaman siswa.

Kajian Teori
Keaktifan Siswa
Aktif menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia ( 2005: 23 ) berarti giat. Aktivitas siswa pada saat proses pembelajaran perlu diperhatikan oleh guru, agar proses belajar mengajar yang ditempuh mendapatkan hasil yang maksimal. Maka guru perlu mencari cara untuk meningkat-kan keaktifan siswa. Keaktifan peserta didik dalam belajar secara efektif itu dapat dinyatakan sebagai berikut:
a.    Hasil belajar peserta didik umumnya hanya sampai tingkat penguasaan, merupakan bentuk hasil belajar terendah.
b.   Sumber-sumber belajar yang digunakan pada umumnya terbatas pada guru (catatan penjelasan dari guru) dan satu dua buku catatan.
c.    Guru dalam mengajar kurang merangsang aktivitas belajar peserta didik secara optimal. (Tabrani,1989: 128)
Keaktifan sendiri merupakan motor dalam kegiatan pembelajaran maupun kegiatan belajar, siswa di tuntut untuk selalu aktif memproses dan mengolah hasil belajarnya. Untuk dapat memproses dan mengolah hasil belajarnya secara efektif, siswa dituntut untuk aktif secara fisik, intelektual dan emosional. Sardiman (2009 : 100) berpendapat bahwa aktifitas disini yang baik yang bersifat fisik maupun mental. Dalam kegiatan belajar kedua aktifitas itu harus saling terkait. Kaitan antara keduanya akan membuahkan aktifitas belajar yang optimal.

Klasifikasi keaktifan siswa
Menurut Sardiman (2009 : 100–101) keaktifan siswa dalam belajar dapat diklasifikasikan sebagai berikut :
a)   Visual activities, Membaca, melihat gambar-gambar, mengamati eksperimen, demonstrasi, dan mengamati orang lain bekerja.
b)   Oral activities,Mengemukakan suatu fakta atau prinsip, menghubungkan suatu kejadian, mengajukan perta-nyaan, memberi saran, mengemu-kakan pendapat, wawancara, diskusi dan interupsi.
c)   Listening activities, Mendengarkan penyajian bahan, mendengarkan percakapan atau diskusi kelompok, mendengarkan musik, pidato.
d)   Writing activities, Menulis cerita, menulis laporan, karangan, angket, menyalin.
e)   Drawing activities, Menggambar, membuat grafik, diagram, peta.
f)    Motor activities, Melakukan perco-baan, memilih alat-alat, melaksanakan pameran, membuat model, menyelenggarakan permainan, menari dan berkebun.
g)   Mental activities, Merenung, mengingat, memecahkan masalah, menganalisis faktor-faktor, melihat hubungan-hubungan dan membuat kepu-tusan.
h)   Emotional activities, Minat, membe-dakan, berani, tenang dan lain-lain.

Prinsip-prinsip Keaktifan
a)   Prinsip motivasi, di mana guru berperan sebagai motivator yang merangsang dan membangkitkan motif-motif yang positif dari siswa dalam pembelajarannya.
b)   Prinsip latar atau konteks, yaitu prinsip keterhubungan bahan baru dengan apa yang telah diperoleh siswa sebelumnya. Dengan perolehan yang ada inilah siswa dapat memperoleh bahan baru.
c)   Prinsip keterarahan, yaitu adanya pola pengajaran yang menghubung – hubungkan seluruh aspek pengajaran.
d)   Prinsip belajar sambil bekerja, yaitu mengintegrasikan pengalaman dengan kegiatan fisik dan pengalaman dengan kegaiatan intelektual.
e)   Prinsip perbedaan perorangan, yaitu kegiatan bahwa ada perbedaan-perbedaan tertentu di dalam diri setiap siswa, sehingga mereka tidak diperlakukan secara klasikal.
f)    Prinsip menemukan, yaitu membiarkan sendiri siswa menemukan informasi yang dibutuhkan dengan pengarahan seperlunya dari guru.
g)   Prinsip pemecahan masalah, yaitu mengarahkan siswa untuk peka terhadap masalah dan mempunyai kegiatan untuk mampu menyelesaikannya.

Model Pembelajaran Cooperative Learning
Model pembelajaran kooperatif merupakan teknik – teknik pembelajaran di kelas yang praktis, dapat digunakan guru setiap hari untuk membantu ketrampilan dasar sampai pemecahan masalah yang kompleks. Dalam pembelajaran kooperatif siswa belajar dalam suatu kelompok kecil dan dikehendaki untuk saling memberi penjelasan yang baik, menjadi pendengar yang baik, mengajukan pertanyaan yang benar.
Pembelajaran kooperatif adalah konsep yang lebih luas meliputi semua jenis kerja kelompok termasuk bentuk-bentuk yang lebih dipimpin oleh guru atau diarahkan oleh guru. (Agus Suprijono, 2011: 54) Cooperative learning adalah strategi pembelajaran yang cukup berhasil pada kelompok – kelompok kecil , di mana pada tiap kelompok tersebut terdiri dari siswa-siswi dari berbagai tingkat kemampuan, melakukan berbagai kegia-tan untuk meningkatkan pemahaman mereka tentang materi pembelajaran yang sedang dipelajari.
Pembelajaran kooperatif merupakan strategi pembelajaran yang menitik beratkan pada pengelompokan siswa dengan tingkat kemampuan akademik yang berbeda kedalam kelompok kecil, dimana siswa diajarkan ketrampilan – ketrampilan khusus agar dapat bekerjasama dengan baik dalam kelompoknya, seperti menjelaskan kepada teman sekelompoknya, menghargai pendapat teman, berdiskusi dengan teratur, siswa yang pandai membantu teman yang lemah dalam belajar, dan sebagainya.
Pembelajaran yang menggunakan model kooperatif dapat memiliki ciri – ciri sebagai berikut :
a)   Siswa bekerja di dalam kelompok secara kooperatif untuk menun-taskan materi belajarnya.
b)   Kelompok dibentuk dari siswa yang memiliki kemampuan tertinggi, sedang dan rendah.
c)   Bilamana mungkin, anggota kelompok berasal dari ras budaya, suku, jenis kelamin berbeda – beda.
d)   Penghargaan lebih berorientasi pada kelompok daripada individu. (Arends dalam Trianto 2010: 65-66)

Metode Time Token Arend
Belajar atau pembelajaran merupakan sebuah kegiatan yang wajib kita lakukan dan kita berikan kepada anak didik kita. Belajar merupakan kunci sukses untuk menggapai masa depan yang cerah, mempersiapkan generasi bangsa, negara dan agama. Melihat peran yang begitu vital, maka menerapkan metode yang efektif dan efisien adalah sebuah keharusan. Dengan harapan proses belajar akan berjalan menyenangkan dan tidak membosankan. Metode adalah cara yang di dalam fungsinya alat untuk mencapai tujuan. Dalam kegiatan pembelajaran diperlukan metode, sesuai dengan  situasi dan kondisi. Metode pembelajaran seharusnya tepat guna, maksudnya adalah metode itu mampu mengfungsikan si anak didik belajar sendiri sesuai dengan student active learning.
Proses belajar mengajar dan kerja sama guru – siswa mencapai sasaran dan tujuan belajar, ialah melalui cara atau metode, yang pada hakekatnya ialah jalan mencapai sasaran dan tujuan pendidikan - pengajaran.
Menurut Oemar Hamalik alasan atau nalar guru memilih atau menetapkan suatu metode dalam proses belajar mengajar ialah :
a.    Metode ini sesuai dengan pokok bahasan, dalam makna lebih menjadi mencapai sasaran dan tujuan instruksional.
b.   Metode ini menjadi kegiatan siswa dalam belajar dan mening-katkan prestasi atau semangat belajar.
c.    Metode ini memperjelas dasar, kerangka, isi dan tujuan dari pokok bahasan sehingga pemaha-man siswa makin jelas.
Model pembelajaran Time Token Arend merupakan model pembelajaran yang bertujuan agar masing-masing anggota kelompok diskusi mendapatkan kesempatan untuk memberikan konstribusi mereka dan mendengarkan pandangan serta pemikiran anggota lain. Model ini memiliki struktur pengajaran yang sangat cocok digunakan untuk mengajarkan keterampilan sosial, serta untuk menghindari siswa mendominasi pembicaraan atau siswa diam sama sekali. Time Token Arend merupakan metode pembelajaran yang mengharuskan siswa untuk aktif berpartisipasi dalam kegiatan belajar mengajar. Partisipasi aktif siswa tersebut dapat dilihat salah satunya saat siswa mengemukakan pendapat, menyanggah pendapat dari teman lain, atau bahkan memberi masukan dan menyampaikan informasi-informasi yang berhubungan dengan materi pelajaran kepada teman-temannya.

Hipotesis Tindakan
1.   Metode pembelajaran Time Token Arend efektif dalam meningkatkan keaktifan siswa kelas VIII SMPN 2 Pilangkenceng  pada mata pelajaran Pendidikan Kewarganegaraan.
2.   Metode pembelajaran Time Token Arend efektif dalam meningkatkan prestasi belajar siswa kelas VIII SMPN 2 Pilangkenceng  pada mata pelajaran Pendidikan Kewarganegaraan.

Metode Penelitian
Penelitian ini merupakan penelitian tindakan kelas (classroom action research) penelitian indikan kelas bersifat partisipatori dan kolaboratif. Kolaboratif artinya peneliti berkolaborasi atau bekerja sama dengan guru mata pelajaran Pendidikan Kewarganegaraan, yang tergabung dalam satu tim untuk melakukan penelitian dengan tujuan untuk memperbaiki kekurangan–kekurangan dalam praktik pembelajaran.
Kemmis dalam Rochiati w. ( 2005: 12 ) menjelaskan bahwa penelitian tindakan kelas adalah sebuah bentuk inkuiri reflektif yang dilakukan secara kemitraan mengenai situasi sosial (termasuk pendidikan) untuk mening-katkan rasionalitas dan keadilan dari :
Sedangkan menurut Suharsimi Arikunto ( 2006: 3). Penelitian Tindakan Kelas merupakan suatu pencermatan terhadap kegiatan belajar berupa sebuah tindakan yang sengaja dimunculkan dan terjadi dalam sebuah kelas secara bersama.
Berdasarkan beberapa pendapat dapat disimpulkan bahwa Penelitian Tindakan kelas merupakan salah satu cara yang dilakukan oleh guru pada saat kegiatan belajar dengan menggunakan tindakan – tindakan tertentu agar dapat meningkatkan praktik pembelajaran dikelas.
Desain penelitian yang dikembangkan dalam penelitian ini adalah desain penelitian yang diadaptasi dari Suharsimi Arikunto (2006: 16) yang menggambarkan bahwa penelitian tindakan kelas dilaksanakan melalui beberapa siklus dan masing–masing siklus terdiri dari empat tahap. Bagan desain penelitian menurut Suharsimi Arikunto digambarkan sebagai berikut :
1. Perencanaan ( planning )
Kegiatan yang dilakukan dalam proses perencanaan ialah menentukan focus penelitian yaitu mencari sisi kelemahan yang timbul kemudian kelemahan tersebut diidentifikasi dan dianalisis kelayakannya untuk diatasi dengan Penelitian Tindakan Kelas.
2. Pelaksanaan tindakan ( action )
Tindakan yang dimaksud adalah tindakan yang dilakukan secara sadar dan terkendali yang merupakan variasi praktek yang cermat dan bijaksana. Tindakan bersifat tidak tetap dan dinamis serta memerlukan keputusan cepat tentang apa yang perlu dilakukan dan penelitian praktis.
3. Observasi ( observation )
Pada tahap observasi ini, peneliti mengamati, mencatat dan mengdokumen-tasikan hal-hal yang terjadi selama tindakan berlangsung untuk mengetahui kesesuaian antara pelaksanaan tindakan dengan rencana tindakan yang telah ditetapkan.
4. Refleksi ( reflection )
Setelah dilakukan pengamatan, peneliti mengingat dan merenungkan hasil pengamatan yang telah dilakukan. Kekurangan yang ditemui dalam siklus terdahulu dapat digunakan sebagai dasar penyusunan rencana tindakan kelas pada siklus selanjutnya, sehingga siklus berikutnya akan menjadi lebih baik.

Siklus I
a. Perencanaan
1)   Menetapkan materi pembelajaran PKn yang akan disajikan dengan model pembelajaran kooperatif Time Token Arend yaitu Makna Kedaulatan Rakyat.
2)   Membuat Rencana Pelaksana Pembela-jaran (RPP) tentang materi yang diajarkan yaitu tentang Makna Kedaulatan Rakyat.
3)   Membuat dan menyiapkan lembar observasi untuk mengetahui keaktifan siswa dalam penerapan pembelajaran Time Token Arend pada saat pembelajaran berlangsung. Lembar observasi ini digunakan peneliti sebagai pedoman dalam mengobservasi kelas dan untuk mengetahui perubahan–perubahan yang telah dimiliki siswa selama kegiatan pembelajaran berlang-sung apakah terjadi peningkatan atau tidak.
4)   Penyusunan media pembelajaran yang akan digunakan pada saat pembelajaran berlangsung.
5)   Menyusun dan menyiapkan soal yang digunakan untuk mengetahui sejauh mana pengetahuan dan pemahaman siswa terhadap materi yang akan diajarkan dan tes setelah pembelajaran berlangsung (post test) untuk mengetahui prestasi siswa sesudah diterapkannya metode Time Token Arend, apakah setelah proses pembelajaran terjadi perubahan dan peningkatan atau tidak. Soal tersebut disusun oleh peneliti dan guru mata pelajaran dengan konsultasi pada dosen pembimbing.

Pelaksanaan Siklus I
1.   Pertemuan pertama
a). Kegiatan awal
Guru memberikan penjelasan serentetan kegiatan yang akan dilakukan siswa dan guru menyiapkan sarana pembelajaran dan mengkondisikan siswa agar siap mengikuti kegiatan pembelajaran.
b). Kegiatan inti
1.   Siswa mendengarkan penjelasan guru tentang tujuan pembelaja-ran yang akan dicapai.
2.   Siswa mendengarkan penjelasan guru tentang model pembelaja-ran yang akan digunakan.
3.   Siswa mendengarkan penjelasan guru tentang materi yang akan dipelajari.
4.   Lalu guru membagi kelompok, setiap kelompok terdiri dari 2 orang.
5.   Setiap kelompok diberikan kartu kupon,di dalam kupon tersebut terdiri dari 2 soal untuk dikerjakan. Soal dikerjakan setelah pembelajaran selesai.
6.   Setelah selesai dikerjakan lalu jawaban mempresentasikan di depan kelas.
7.   Setelah selesai mempresen-tasikan kupon tersebut diberikan kepada guru. Setiap maju satu kupon.
8.   Bagi kelompok yang masih memegang kartu diharuskan berbicara.
c). Kegiatan akhir
1.   Guru menyimpulkan materi yang telah diberikan
2.   Guru menutup pelajaran dengan mengucap salam.

2.   Tindakan pertemuan kedua
a) Kegiatan awal
1.   Guru membuka kegiatan dengan mungucapkan salam.
2.   Setelah itu guru menunjuk salah satu siswa untuk maju ke depan kelas menyayikan salah satu lagu nasional bersama–sama.
3.   Guru mengecek presensi atau kegiatan siswa
4.   Guru menyiapkan sarana pembe-lajaran dan mengkondisikan siswa agar siap mengikuti kegiatan pembelajaran.
5.    Guru memberikan acuan kepada siswa dengan cara menyampaikan semua tujuan pembelajaran yang ingin dicapai.
6.   Guru menjelaskan tentang diskusi kelas yang akan dilakukan nanti.
7.   Kemudian guru memberikan apersepsi dengan cara mengulang materi pembelajaran minggu lalu.
b) Kegiatan inti
1.   Guru menunjuk salah satu kelompok untuk membacakan hasil jawabannya ke depan kelas. Kelom-pok yang lain mendengarkan hasil jawaban dari siswa tersebut. Setelah kelompok tersebut selesai memba-cakan hasil jawabannya siswa yang lain diberi waktu untuk bertanya atau menyanggah hasil jawaban tersebut.
2.   Guru membimbing jalannya diskusi kelas dan memberikan kesempatan kepada siswa untuk bertanya. Setelah diskusi kelas selesai guru bersama sama siswa menyimpulkan hasil diskusi.
c). Penutup
1.   Guru bersama–sama dengan siswa menarik kesimpulan tentang materi yang dipelajari pada hari ini. Guru memancing siswa dengan perta-nyaan pertanyaan yang mengarah pada kesimpulan tentang materi pada hari ini.
2.   Guru mengakhiri pelajaran dengan berdoa dan mengucapkan salam.
3.   Tindakan pertemuan ketiga
a) Kegiatan awal
1.   Guru membuka kegiatan dengan mungucapkan salam.
2.   Setelah itu guru menunjuk salah satu siswa untuk maju kedepan kelas menyayikan salah satu lagu nasional bersama–sama.
3.   Guru mengecek presensi atau kegiatan siswa
4.   Guru menyiapkan sarana pembela-jaran dan mengkondisikan siswa agar siap mengikuti kegiatan pembelajaran.
5.   Guru menjelaskan tentang kegiatan yang kegiatan yang akan dilakukan yaitu melanjutkan diskusi kelas pertemuan sebelumnya.
b) Kegiatan inti
1.   Guru menunjuk salah satu kelompok untuk membacakan hasil jawabannya ke depan kelas. Kelom-pok yang lain mendengarkan hasil jawaban dari kelompok tersebut. Setelah kelompok tersebut selesai membacakan hasil jawabannya kelompok yang lain diberi waktu untuk bertanya atau menyanggah hasil jawaban tersebut.
2.   Guru membimbing jalannya diskusi kelas dan memberikan kesempatan kepada siswa untuk bertanya. Setelah diskusi kelas selesai guru bersama– sama siswa menyimpulkan hasil diskusi.
3.   Guru memberikan post tes siklus I kepada siswa. Tes tersebut ber-bentuk 20 soal pilihan ganda yang berisi materi pembelajaran yang diajarkan pada siklus I.
4.   Guru dibantu peneliti membagi lembar soal kepada masing–masing siswa, guru memperingatkan kepada siswa dalam mengerjakan soal tidak diperbolehkan membantu atau meminta jawaban kepada teman lainnya.
5.   Setelah selesai mengerjakan soal jawaban dan soal dikumpulkan.
c) Penutup
1.   Guru bersama–sama dengan siswa menarik kesimpulan tentang materi yang dipelajari pada hari ini.
2.   Guru memancing siswa dengan pertanyaan–pertanyaan yang mengarah pada kesimpulan tentang
3.   materi pada hari ini.
4.   Guru mengakhiri pelajaran dengan berdoa dan mengucapkan salam.

Hasil Tindakan
Keaktifan siswa
Dalam melakukan observasi peneliti menggunakan lembar observasiyang telah disiapkan. Subyek yang diamati yaitu keaktifan siswa. Hasil observasi pada keaktifan siswa dilihat dari hasil pengamatan yang diamati dalam setiap aspeknya, yang ada pada indikator .Disimpulkan bahwa skor keaktifan siswa yang diperoleh masing– masing siswa siklus 1 menunjukkan bahwa dari 36 siswa, 20 siswa yang belum berhasil dalam pencapaian kriteria dalam keaktifan, belum dapat dikatakan aktif belajar, karena skor yang diperoleh ≤ 70. Sedangkan siswa yang aktif hanya 16 siswa. Jadi pada siklus pertama ini keaktifan siswa belum dikatakan meningkat karena belum sesuai dengan kriteria keberhasilan yang dicapai, dimana kriteria tersebut minimanl 25 orang siswa aktif dengan mendapatkan skor minimal 70. Faktor yang menyebabkan tidak tercapainya keaktifan siswa dipengaruhi pada saat menjelaskan kurang menarik perhatian siswa. Jadi siswa terlihat malah lesu pada saat pembelajaran.,banyak siswa yang masih berbicara sendiri–sendiri sehingga menunjukkan siswa kurang antusias dalam memperhatikan guru. Hal ini disebabkan karena kelas kurang kondusif, sehingga konsentrasi siswa pada saat pembelajaran terpecah.

Refleksi
Pada tahap refleksi peneliti mengevaluasi hasil dari tes dan lembar observasi. Berdasarkan lembar pengamatan untuk mengetahui keaktifan siswa pada siklus I, keaktifan yang telah di peroleh dalam proses pembelajaran di siklus I belum mengalami peningkatan karena jumlah siswa yang masuk dalam kriteria keberhasilan dalam melakukan aktivitas hanya sebanyak 16 siswa yang ikut berpartisipasi dengan memperoleh nilai minimal 70 dari hasil lembar pengamatan, sedangkan siswa yang belum mencapai criteria partisipasi aktif sebanyak 20 siswa, skor yang diperoleh dari lembar pengamatan masih dibawah 70. Jadi dalam pencapaian keaktifan siswa belum dapat dikatakan meningkat karena belum memenuhi kriteria yang telah ditentukan dimana siswa yang harus melakukan keaktifan belajarnya minimal 25 siswa dengan memperoleh nilai dari lembar pengamatan minimal 70.
Berdasarkan hasil tindakan pada siklus I terjadi peningkatan mencapai rata- rata 72,08. Namun belum semua siswa mencapai ketuntasan yang telah ditetapkan yaitu memperoleh nilai ≥ 75 untuk masing–masing siswa, masih ada 12 siswa yang belum mencapai kriteria ketuntasan, untuk itu masih perlu ditingkatkan lagi.
Pada pelaksanaan pembelajaran dengan model pembelajaran kooperatif tipe Time Token Arend pada siklus I belum sepenuhnya terlaksana dengan baik. Dari hasil refleksi yang dilakukan masih terdapat banyak kekurangan yang disebabkan oleh faktor guru dan siswa. Guru baru pertama kali menggunakan model pembelajaran tipe Time Token Arend dan juga siswa baru pertama kali menerima pelajaran dengan menggunakan model pembelajaran Time Token Arend, sehingga siswa masih kurang aktif.
Kekurangan yang ditemukan pada   pelaksanaan tindakan pada siklus I antara lain:
1.   Dalam penerapan model tersebut guru kurang memotivasi siswa sehingga siswa kurang semangat dalam proses pembelajaran.
2.   Siswa belum terbiasa dengan pembelajaran menggunakan model pembelajaran kooperatif tipe Time Token Arend. Hal ini terlihat pada saat awal diskusi kelas, dimana siswa masih binggung dalam memahami cara kerja dengan menggunakan model pembelajaran tersebut.
3.   Keadaan kelas yang ramai dan tidak kondusif mengakibatkan siswa kurang serius dalam proses belajar mengajar, hal tersebut dapat terlihat masih banyak siswa yang mengobrol pada saat guru menerangkan materi sehingga siswa kurang memahami materi yang diterangkan guru.
4.   Siswa masih kurang berani dalam memberikan pendapat ketika siswa dari kelompok lain mempresentasikan hasil diskusi di depan kelas.

Siklus  II
Perencanaan Tindakan
1.   Menetapkan materi pembelajaran PKn yang akan disajikan dengan model pembelajaran kooperatif Time Token Arend yaitu Sistem Pemerintahan Indonesia dan peran Lembaga Negara.
2.   Membuat Rencana Pelaksana Pem-belajaran (RPP) tentang materi yang diajarkan yaitu tentang Sistem Peme-rintahan Indonesia dan peran Lembaga Negara. Rencana Pelaksana Pembelajaran disusun oleh peneliti dan guru mata pelajaran dengan konsultasi pembimbing.
3.   Membuat dan menyiapkan lembar observasi untuk mengetahui keaktifan siswa dalam penerapan pembelajaran Time Token Arend pada saat pembelajaran berlangsung. Lembar observasi ini digunakan peneliti sebagai pedoman dalam mengobservasi kelas dan untuk mengetahui perubahan – perubahan yang telah dimiliki siswa selama kegiatan pembelajaran berlangsung apakah terjadi peningkatan atau tidak. Lembar ini diisi pada setiap pertemuan dan dibuat oleh peneliti dengan konsultasi pada dosen pembimbing.
4.   Penyusunan media pembelajaran yang akan digunakan pada saat pembelajaran berlangsung.
5.   Menyusun dan menyiapkan soal yang digunakan untuk mengetahui sejauh mana pengetahuan dan pemahaman siswa terhadap materi yang akan diajarkan dan tes setelah pembelajaran berlangsung (post test) untuk mengetahui prestasi siswa sesudah diterapkannya metode Time Token Arend, apakah setelah proses pembelajaran terjadi perubahan dan peningkatan atau tidak. Soal tersebut disusun oleh peneliti dan guru mata pelajaran dengan konsultasi pada dosen pembimbing.

Pelaksanaan Tindkan Siklus II
Pertemuan pertama
a) Kegiatan awal
1.   Guru membuka kegiatan dengan mungucapkan salam.
2.   Setelah itu guru menunjuk salah satu siswa untuk maju kedepan kelas menyayikan salah satu lagu nasional bersama–sama.
3.   Guru mengecek presensi atau kegiatan siswa
4.   Guru menyiapkan sarana pembe-lajaran dan mengkondisikan siswa agar siap mengikuti kegiatan pem-belajaran.
5.   Guru memberikan penjelasan seren-tetan kegiatan yang akan dilakukan siswa dan guru menyiapkan sarana pembelajaran dan mengkondisikan siswa agar siap mengikuti kegiatan pembelajaran.
b) Kegiatan inti
1.   Siswa mendengarkan penjelasan guru tentang tujuan pembelajaran yang akan dicapai.
2.   Siswa mendengarkan penjelasan guru tentang model pembelajaran yang akan digunakan.
3.   Siswa mendengarkan penjelasan guru tentang materi yang akan dipelajari.
4.   Lalu guru membagi kelompok, setiap kelompok terdiri dari 2 orang
5.   Setiap kelompok diberikan kartu kupon,di dalam kupon tersebut terdiri dari 2 soal untuk dikerjakan. Soal dikerjakan setelah pembelajaran selesai.
6.   Setelah selesai dikerjakan lalu jawaban mempresentasikan di depan kelas.
7.   Setelah selesai mempresentasikan kupon tersebut diberikan kepada guru. Setiap maju satu kupon.
8.   Bagi kelompok yang masih memegang kartu diharuskan bebrbicara.
c) Kegiatan akhir
1.   Guru menyimpilkan materi yang telah diberikan
2.   Guru menutup pelajaran dengan mengucap salam.

Tindakan pertemuan kedua
a) Kegiatan awal
1.   Guru membuka kegiatan dengan mungucapkan salam.
2.   Setelah itu guru menunjuk salah satu siswa untuk maju kedepan kelas menyayikan salah satu lagu nasional bersama–sama.
3.   Guru mengecek presensi atau kegiatan siswa
4.   Guru menyiapkan sarana pembelajaran dan mengkondisikan siswa agar siap mengikuti kegiatan pembelajaran. Guru memberikan acuan kepada siswa dengan cara menyampaikan semua tujuan pembelajaran yang ingin dicapai.
5.   Guru menjelaskan tentang diskusi kelas yang akan dilakukan nanti.
6.   Kemudian guru memberikan apersepsi dengan cara mengulang materi pembelajaran minggu lalu.
b) Kegiatan inti
1.   Guru menunjuk salah satu kelompok untuk membacakan hasil jawabannya ke depan kelas. Kelompok yang lain mendengarkan hasil jawaban dari kelompok tersebut. Setelah kelompok tersebut selesai membacakan hasil jawabannya, kelompok yang lain diberi waktu untuk bertanya atau menyanggah hasil jawaban tersebut.
2.   Guru membimbing jalannya diskusi kelas dan memberikan kesempatan kepada siswa untuk bertanya. Setelah diskusi kelas selesai guru bersama –sama siswa menyimpulkan hasil diskusi.
c) Penutup
1.   Guru bersama–sama dengan siswa menarik kesimpulan tentang materi yang dipelajari pada hari ini. Guru memancing siswa dengan pertanyaan –pertanyaan yang mengarah pada kesimpulan tentang materi pada hari ini.
2.   Guru mengakhiri pelajaran dengan berdoa dan mengucapkan salam.

Tindakan pertemuan ketiga
a) Kegiatan awal
1.   Guru membuka kegiatan dengan mungucapkan salam.
2.   Setelah itu guru menunjuk salah satu siswa untuk maju kedepan kelas menyayikan salah satu lagu nasional bersama–sama.
3.   Guru mengecek presensi atau kegiatan siswa
4.   Guru menyiapkan sarana pembelajaran dan mengkondisikan siswa agar siap mengikuti kegiatan pembelajaran.
5.   Guru menjelaskan tentang kegiatan yang kegiatan yang akan dilakukan yaitu melanjutkan diskusi kelas pertemuan sebelumnya.
b) Kegiatan inti
1.   Guru menunjuk salah satu kelompok untuk membacakan hasil jawabannya kedepan kelas. Kelompok yang lain mendengarkan hasil jawaban dari kelompok tersebut. Setelah kelompok tersebut selesai membacakan hasil jawabannya kelompok yang lain diberi waktu untuk bertanya atau menyanggah hasil jawaban tersebut.
2.   Guru membimbing jalannya diskusi kelas dan memberikan kesempatan kepada siswa untuk bertanya. Setelah diskusi kelas selesai guru bersama– sama siswa menyim-pulkan hasil diskusi.
3.   Guru memberikan post tes siklus I kepada siswa. Tes tersebut berbentuk 20 soal pilihan ganda yang berisi materi pembelajaran yang diajarkan pada siklus II.
4.   Guru dibantu peneliti membagi lembar soal kepada masing–masing siswa, guru memperingatkan kepada siswa dalam mengerjakan soal tidak diperbolehkan membantu atau meminta jawaban kepada teman lainnya. Setelah selesai mengerjakan soal jawaban dan soal dikumpulkan.
c) Penutup
1.   Guru bersama–sama dengan siswa menarik kesimpulan tentang materi yang dipelajari pada hari ini. Guru memancing siswa dengan pertanyaan– pertanyaan yang mengarah pada kesimpulan tentang materi pada hari ini.
2.   Guru mengakhiri pelajaran dengan berdoa dan mengucapkan salam.

Hasil tindakan siklus ke II
Pada siklus ini jumlah siswa yang hadir yaitu berjumlah 36 siswa. Dari dengan jumlah siswa 27, dengan mendapatkan skor minimal 70 dari lembar pengamatan. Sedangkan yang belum aktif berkurang menjadi 9 siswa, yang belum mencapai kriteria keberhasilan, skor yang diperoleh dari lembar pengamatan masih ≤ 70.
Dari pemaparan tersebut hasil observasi keaktifan siswa dengan menggunakan model pembelajaran kooperatif tipe metode Time Token Arend yaitu semua tahapan sudah dilaksanakan dengan optimal. Siswa juga lebih aktif dibandingkan dengan sebelumnya. Hal tersebut menunjukkan bahwa dalam keaktifan siswa sudah dapat dikatakan meningkat, karena semua indikator dalam keaktifan siswa sudah mencapai kriteria yang telah ditentukan, yaitu minimal 25 siswa yang melakukan keaktifan. Hal ini bisa terlihat dari adanya antusias pada mereka untuk melaksanakan tugas yang diberikan pada mereka. Pada pertemuan kedua ini seluruh siswa sudah memper-hatikan dan mendengarkan guru pada waktu guru ceramah, siswa juga aktif menjawab pertanyaan sewaktu guru melemparkan pertanyaan.
Beberapa siswa sudah mencatata materi yang diberikan oleh guru selama proses pembelajaran berlangsung.

Refleksi
Pada tahap refleksi peneliti bersama guru mengevaluasi hasil dari tes dan observasi, dari hasil pengamatan dan refleksi di siklus II maka penerapan metode kooperatif tipe Time Token Arend bisa dibilang dapat meningkatkan keaktifan siswa dan prestasi belajar siswa. Pada hasil keaktifan siswa, semua indikator dalam keaktifan siswa sudah memenuhi kriteria yang sudah ditetapkan yaitu minimal 25 siswa telah melakukan keaktifan dalam pembelajaran dan keaktifan siswa pada proses pembelajaran berlangsung bisa juga dilihat pada dokumentasi berupa foto – foto yang telah terlampir pada lampiran, sedangkan pada prestasi belajar semua siswa sudah mencapai ketuntasan yang telah ditetapkan yaitu memperoleh nilai ≥ 70 untuk masing – masing siswa pada siklus ke II maka penerapan metode kooperatif tipe Time Token Arend dapat meningkatakan Keaktifan siswa dan prestasi belajar siswa. Keunggulan yang ada perlu dipertahankan untuk mendukung peningkatan strategi pembelajaran selanjutnya. Sedangkan beberapa kelemahan dalam metode pembelajaran kooperatif tipe Time Token Arend perlu diperbaiki untuk pertemuan selanjutnya. Berdasarkan hasil tes dan hasil observasi dari siklus II yang telah terjadi peningkatan dari siklus I, peneliti dan guru sepakat bahwa penelitian ini tidak dilanjutkan ke siklus III.

Pembahasan
Pembahsan dalam penelitian tindakan kelas ini didasarkan atas hasil penelitian yang dilanjutkan dengan hasil refleksi pada akhir siklus. Penelitian ini dilakukan selama dua siklus, di mana masing – masing siklus dilakukan dengan prosedur Penelitian Tindakan Kelas (PTK) yaitu Perencanaan, Pengamatan, Tindakan dan Refleksi secara umum proses pembelajaran yang berlangsung disetiap akhir siklus sudah berjalan dengan baik. Sesuai dengan rumusan masalah dan tujuan penelitian, maka penelitian ini bertujuan untuk melakukan perbaikan proses pembelajaran dan meningkatkan prestasi belajar siswa pada mata pelajaran PKn siswa kelas VIII A di SMPN 2 Pilangkenceng  .
Upaya yang dilakukan yaitu dengan menerapkan metode pembelajaran kooperatif tipe Time Token Arend pada setiap siklus pembelajaran diharapkan dapat membawa perubahan pada proses pembelajaran PKn di kelas VIII A di SMPN 2 Pilangkenceng   Pembelajaran dengan menggunakan metode kooperatif tipe Time Token Arend ini sangat membantu siswa untuk belajar. Dengan pembelajaran yang variatif ini akan mendorong siswa untuk meningkatkan Keaktifan siswa dan prestasi belajar siswa di kelas.
1. Keaktifan siswa dalam pembelajaran PKn
Hasil penelitian tindakan siklus I dan II dengan pembelajaran kooperatif tipe Time Token Arend menunjukkan adanya peningkatan terhadap keaktifan siswa. Peningkatan terjadi pada observasi siklus II dimana dalam observasi ini yang diamati adalah Keaktifan siswa. Dari hasil observasi diperoleh data keaktifan siswa sebagai berikut :
Pada siklus I siswa yang melakukan keaktifan keaktifan yang mencapai kriteria cukup sebanyak 20 siswa, dimana nilai yang diperoleh masih dibawah 70. Sedangkan yang mencapai kriteria baik 16 siswa mendapat skor dari lembar pengamatan minimal 70. Pada siklus II yang mencapai criteria cukup hanya 9 orang, dan yang mendapat kriteria baik 27 orang. Dari data tersebut dapat dilihat adanya peningkatan, dimana pada Siklus I yang mendapat kriteria cukup dari 20 menurun menjadi 9 siswa pada siklus II, sedangkan yang mendapat kriteria Baik dari siklus I sebanyak 16 siswa, naik menjadi 27 siswa.
Dari hasil peningkatan tersebut maka dapat dikatakan bahwa penerapan metode pembalajaran kooperatif tipe Time Token Arend sudah dapat dikatakan meningkat keaktifan siswa karena sudah memenuhi kriteria yang telah ditentukan, dimana siswa yang aktif  25 siswa dengan memperoleh skor  minimal 70.
2. Prestasi belajar siswa dalam pembelajaran PKn
Penilaian yang dilakukan pada setiap siklus adalah dengan tes siklus I pada akhir pertemuan 3 dan tes siklus II pada pertemuan 6 di mana materi tes adalah mengenai makna kedaulatan rakyat, sistem pemerintahan di Indonesia dan peran lembaga negara. Hal ini bertujuan mengukur sejauh mana siswa dapat menguasai materi yang telah disampaikan atau diajarkan oleh guru dengan menggunakan metode pembelajaran koope-ratif tipe Time Token Arend.
Setelah dilaksanakan penelitian mulai dari tahapan siklus I, sampai pada siklus II dapat dilihat adanya peningkatan keaktifan siswa dan prestasi belajar siswa terhadap mata pelajaran PKn dengan menggunakan metode pembelajaran koo-peratif tipe Time Token Arend, serta berdasarkan pemaparan data – data hasil penelitian diatas maka dapat diberikan penjelasan bahwa telah terjadi peningkatan prestasi belajar siswa terhadap mata pelajaran PKn dari siklus I mencapai rata – rata 72,08 naik menjadi rata – rata 81,94 pada tahap siklus II. Dari rata–rata tersebut dapat diketahui terjadi peningkatan rata–rata 9,86 dari siklus I ke siklus II.

Kesimpulan
1.   Dengan penggunaan metode pembelajaran kooperatif tipe Time Token Arend dapat meningkatkan keaktifan belajar PKn siswa di kelas dilihat adanya peningkatan, dimana pada Siklus I yang mendapat kriteria sedang 20 menurun menjadi 9 siswa pada siklus II, sedangkan yang mendapat criteria baik dari siklus I sebanyak 16 siswa, naik menjadi 27 siswa. Dari hasil peningkatan tersebut maka dapat dikatakan bahwa penerapan metode pembelajaran kooperatif tipe Time Token Arend sudah dapat dikatakan meningkat keaktifan siswa karena sudah meme-nuhi kriteria yang telah ditentukan, dimana yang mengikuti keaktifan minimal 25 siswa dengan memperoleh nilai minimal 70. Hal ini menunjukkan bahwa terjadi peningkatan terhadap keaktifan siswa pada mata pelajaran PKn.
2.   Dengan penggunaan metode pembe-lajaran kooperatif tipe Time Token Arend dapat meningkatkan prestasi belajar PKn siswa di kelas. Peningkatan prestasi belajar ini dapat dilihat dari adanya perubahan nilai rata–rata yang diperoleh siswa pada setiap akhir siklus. niali rata–rata yang diperoleh siswa pada tahap siklus I 72,08 naik menjadi rata–rata 81,94 pada tahap siklus II. Dari rata–rata tersebut dapat diketahui terjadi peningkatan siklus I dan peningkatan 9,86 dari siklus I ke siklus II.

Saran
1.   Di dalam proses belajar mengajar telah terbukti bahwa dengan menggunakan metode pembelajaran kooperatif tipe Time Token Arend dapat meningkatkan keaktifan siswa, diharapkan guru dapat menggembangkan metode pembe-lajaran kooperatif tipe Time Token Arend dalam proses belajar mengajar khususnya Pendidikan Kewarganegaraan.
2.   Di dalam proses belajar mengajar telah terbukti bahwa dengan menggunakan metode pembelajaran kooperatif tipe Time Token Arend dapat meningkatkan prestasi belajar siswa, diharapkan guru dapat menggembangkan metode pembelajaran kooperatif tipe Time Token Arend dalam proses belajar mengajar khususnya Pendidikan Kewarganegaraan.


DAFTAR PUSTAKA
Agus Suprijono. 2011. Cooperative Learning. Pustaka Belajar. Surabaya Anita Lie. 2004. Cooperative Learning “mempraktikkan cooperative learning di ruang – ruang kelas”. Jakarta: Grasindo
Cholisin. (2004 ). Pendidikan Kewarganegaraan ( Civic Education ). Yogyakarta: AdicitaKarya Nusa
Departemen Pendidikan nasional.( 2005 ). Kamus Besar Bahasa Indonesia PusatBahasa. Jakarta: PT.GramediaPustakaUtama.
Gulo W. 2002.Strategi Belajar Mengajar. Jakarta: PT GramediaWidia Muhibbin Syah. 2010. Psikologi Pendidikan dengan Pendekatan Baru. Bandung: PT Remaja Rosdakarya
MukhammadMurdiono.2006.PenggunaanPortofolioDalamPembelajaran Kewarganegaraan. Tesis, Yogyakarta: Program PascaSarjana UNY
Moh.Uzer Umar dan Lilis Setyowati. 1993. Upaya Optimalisasi Kegiatan Belajar Mengajar. Bandung: PT Remaja Rosdakarya .
Nana Syaodih Sukmadinata. 2005. Landasan Psikologi Proses Pendidikan. Bandung: PT RemajaRosdakarya Nana Syaodih Sukmadinata. 2007. Metode Penelitian Pendidikan. Bandung: PT Remaja Rosdakarya
Ngalim Purwanto. 2007. Psikologi Pendidikan. Bandung: PT Remaja Rosdakarya
Peraturan Menteri Pendidikan Nasional Republik Indonesia No. 22 Tahun 2006
Rochiati Wiriaatmadja. 2005. Metode Penelitian Tindakan Kelas. Bandung. PascaSarjana UPI dan PT Remaja Rosdakarya
Sardiman. 2009. Interaksi dan Motivasi Belajar Mengajar. Jakarta: PT Raja Grafindo Persada
Sudijono Anas. 2008. Pengantar Evaluasi Pendidikan. Jakarta: PT. Raja Grafindo Persada
Suharsimi Arikunto. 2002. Manajemen Pendidikan.Jakarta :Rineka Cipta
Suharsimi Arikunto. 2006. Dasar Evaluasi Pendidikan( edisirevisi ). Jakarta: BumiAksara
Sumadi Suryabrata. 2002. Psikologi Pendidikan. Jakarta: PT Raja
Grafindo Perkasa
Tabrani Rusyan, Atang Kusdinar&ZainalArifin. 1989. Pendekatan dalam Proses BelajarMengajar. Bandung: PT RemajaRosdakarya
Trianto.2010. Mendesain Model Pembelajaran Inovatif – Progresif. Jakarta: KencanaPrenada Media Group
Undang-Undang RI No. 20 Tahun 2003, Tentang Sistem Pendidikan Nasional.
http://snartombs.wordpress.com/2009/03/20/pengertian-cooperativelearning/
http://blog.muhfida.com/pembelajaran-cooperative-learning

Tidak ada komentar:

Posting Komentar