Senin, 01 Oktober 2018

MENINGKATKAN PRESTASI BELAJAR TENTANG KERJA SAMA ANTARNEGARA DENGAN PENERAPAN MODEL PEMBELAJARAN KOOPERATIF “TUSE” SISWA KELAS IX-E SEMESTER GENAP TAHUN PELAJARAN 2017/2018 SMP NEGERI 1 DOLOPO KABUPATEN MADIUN


MENINGKATKAN PRESTASI BELAJAR TENTANG KERJA SAMA ANTARNEGARA DENGAN PENERAPAN MODEL PEMBELAJARAN KOOPERATIF  “TUSE” SISWA  KELAS IX-E  SEMESTER GENAP TAHUN PELAJARAN 2017/2018
SMP NEGERI 1 DOLOPO KABUPATEN MADIUN

Oleh : Sriani
Guru SMP Negeri 1 Dolopo Kabupaten Madiun

abstrak

Kata kunci: prestasi belajar, model  kooperatif, “TUSE”

Penelitian ini dilatar belakangi oleh rendahnya minat belajar IPS di Kelas IX-E SMPN 1 Dolopo Kabupaten Madiun. Rendahnya minat belajar berpengaruh pada prestasi belajar.
Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui apakah dengan menerapkan model pembelajaran kooperatif dengan “TUSE”  dalam proses pembelajaran akan meningkatkan prestasi belajar siswa dalam belajar IPS.
Metode dalam penelitian ini adalah Penelitian Tindakan Kelas (PTK) dengan menerapkan model pembelajaran kooperatif dengan “TUSE”  pada mata pelajaran IPS di Kelas IX-E SMPN 1 Dolopo Kabupaten Madiun. Teknik pengumpulan data yang digunakan adalah lembar observasi siswa, angket, dan tes. Sedangkan teknik analisis data menggunakan deskriptif kuantitatif dan kualitatif.
Penelitian ini menunjukkan bahwa hasil pembelajaran dengan menerapkan model pembelajaran kooperatif dengan “TUSE”  dapat meningkatkan minat dan aktivitas belajar siswa yang ditunjukkan meningkatnya kualitas belajar, antusias siswa dalam mengikuti setiap kegiatan dalam proses pembelajaran, keberanian siswa dalam berdiskusi, ketepatan mengerjakan tugas-tugas yang diberikan. Minat dan aktivitas belajar yang meningkat berpengaruh pada meningkatnya prestasi / hasil belajar. Keberhasilan itu ditunjukkan dengan adanya peningkatan nilai rata-rata kelas, yaitu 77,10 pada putaran pertama, 81,94  pada putaran kedua dan peningkatan ketuntasan belajarnya adalah 58,06% pada putaran pertama menjadi 87,10% pada putaran kedua.
Dengan penerapan model pembelajaran Kooperatif  “TUSE” dapat meningkatkan minat dan aktivitas belajar yang berpengaruh pada meningkatnya prestasi belajar siswa di Kelas IX-E



Latar Belakang
Sebagai seorang profesional, seorang guru harus mempunyai pengetahuan dan persediaan strategi-strategi pembelajaran. Tidak semua strategi yang diketahuinya harus dan bisa diterapkan dalam kenyataan sehari-hari di ruang kelas. Namun guru yang baik tidak akan terpaku pada satu strategi saja. Guru yang ingin maju dan berkembang perlu mempunyai persediaan strategi dan teknik-teknik pembelajaran yang pasti akan selalu bermanfaat dalam melaksanakan kegiatan pembelajaran.
Salah satu strategi tersebut adalah model kooperatif dengan “TUSE” mampu menciptakan atmosfer menggembirakan dan membebaskan kecerdasan penuh dan tidak terhalang dapat memberi banyak sumbangan, misalnya menyingkirkan keseriusan yang menghambat, menghilangkan stres, mengajak siswa terlibat penuh, dan meingkatkan proses belajar.
Berdasarkan hasil pengamatan dan kenyataan di lapangan,   peneliti menjumpai berbagai fenomena yang berkaitan dengan proses pembelajaran dan hasilnya, antara lain pada saat berlangsungnya proses pembelajaran khususnya pada mata pelajaran IPS  dijumpai siswa yang kurang aktif bahkan tidak aktif. Kemudian apabila diberi tugas masih belum dapat menyelesaikan dengan baik, kondisi yang demikian berpengaruh pada prestasi hasil belajar.
Bagi siswa di SMPN 1 Dolopo Kabupaten Madiun mata pelajaran IPS  dianggap sebagai mata pelajaran hafalan yang tidak bermakna, sehingga sering terabaikan bahkan tidak mendapat perhatian sama sekali. Hal ini dapat dimaklumi karena materi IPS  begitu padat, alokasi waktu yang tidak seimbang dengan jumlah materi yang disajikan, penyajian pembelajaran yang monoton, serta banyaknya tugas yang diberikan, sehingga beban siswa menjadi berat, akibatnya siswa menjadi pasif dan prestasi yang dihasilkan rata-rata masih rendah.
Untuk memperbaiki kualitas pembelajaran IPS  di SMPN 1 Dolopo Kabupaten Madiun guru-guru IPS  mengupayakannya berbagai model pembelajaran di antaranya dengan menerapkan model pembelajaran “TUSE” . Dengan model pembelajaran  “TUSE” ini tidak membosankan, mandiri, percaya diri, memiliki keberanian mengemukakan ide-idenya, aktif dan kreatif sehingga dapat meningkatkan kemampuan akademisnya atau prestasi hasil belajarnya.
Penelitian tindakan kelas ini berjudul “Meningkatkan Prestasi Belajar Tentang Kerja Sama Antarnegara dengan Penerapan Model Pembelajaran Kooperatif  “Tuse” Siswa  Kelas IX-E  Semester Genap Tahun Pelajaran 2017/2018 SMP Negeri 1 Dolopo Kabupaten Madiun”

Kajian Pustaka
Pengertian prestasi belajar
Berprestasi berarti dapat mencapai sesuatu hasil yang maksimum dari apa yang dilakukan. Karena faktor pertumbuhan dan kesempatan bagi setiap orang tidak sama, maka prestasi yang dicapai juga tidak sama. Yang dimaksud dengan prestasi adalah hasil yang dicapai atau dilakukan atau diajarkan dan sebagainya (Poerwodarminto, 1989:76).
Menurut Zainal Arifin (1990:3) mengatakan bahwa prestasi adalah suatu usaha dari seorang siswa atau kemampuan siswa terhadap apa yang dinilai, dapat dicapai dalam pemberian evaluasi.
Berdasarkan kurikulum 1994 yang dimaksud dengan prestasi adalah hasil tertinggi yang dapat dicapai dalam hal menguasai bahan-bahan pelajaran dalam waktu tertentu.
Menurut Nasution (1994:15) prestasi adalah suatu proses yang menimbulkan kelakuan baru atau mengubah kelakuan lama sehingga seseorang lebih mampu menghadapi situasi dalam hidupnya.
Dari beberapa pengertian di atas, dapat disimpulkan bahwa prestasi adalah hasil tertinggi yang dicapai seseorang atau siswa dengan melalui berbagai usaha dalam waktu tertentu.
Prestasi / hasil belajar adalah perubahan-perubahan dalam bidang pengetahuan atau pemahaman, keterampilan, nilai dan sikap yang diperoleh siswa terhadap pertanyaan, persoalan, tugas, yang diberikan guru dalam proses belajar (Winkel, 1989 : 102).
Prestasi hasil belajar merupakan hasil akhir dari kegiatan belajar dalam bentuk pembahan nilai atau perubahan sikap dari diri siswa. Dengan demikian secara global prestasi hasil belajar merupakan hasil pendidikan yang mempunyai fungsi utama sebagai berikut :
a.    sebagai indikator kualitas dan kuantitas pengetahuan yang dikuasai anak.
b.   sebagai lambang pemuas hasrat ingin tahu.
c.    merupakan bahan informasi inovasi yang dapat dijadikan pendorong bagi anak didik dalam meningkatkan ilmu pengetahuan dan teknologi serta berperan sebagai umpan balik dalam meningkatkan mutu pendidikan.
d.   sebagai indikator intern dalam lembaga pendidikan. Indikator intern dalam arti dapat dijadikan tingkat produktivitas suatu lembaga pendidikan dengan asumsi bahwa kurikulum yang digunakan relevan dengan kebutuhan masyarakat dan anak didik. Tinggi rendahnya prestasi hasil belajar dapat dijadikan indikator tingkat kesuksesan anak didik di masyarakat.
e.    sebagai indikator terhadap daya serap kecerdasan anak didik merupakan masalah utama dan pertama, karena anak didiklah yang diharapkan dapat menyerap seluruh materi pelajaran yang telah diprogramkan dalam kurikulum (Arifin, 1988:3).
Dengan memperhatikan fungsi prestasi hasil belajar seperti yang telah diuraikan di atas, maka prestasi hasil belajar anak didik tidak hanya merupakan indikator keberhasilan mata pelajaran tertentu, melainkan juga sebagai indicator keberhasilan suatu lembaga pendidikan.
Prestasi hasil belajar yang menjadi harapan guru dan orang tua dari kelas ekonomi manapun mulai dari menengah ke bawah maupun menengah ke atas tentulah prestasi hasil belajar yang terbaik. Bagi guru prestasi hasil belajar yang baik, yang berhasil dicapai siswa adalah sebagai indikator keberhasilan guru dalam mengajar. Sementara dari pihak orang tua merupakan suatu kebanggaaan apabila anaknya memiliki prestasi yang tinggi.
Untuk meraih prestasi hasil belajar yang maksimal tentunya membutuhkan berbagai sarana atau fasilitas yang dibutuhkan untuk keperluan sekolah. Bagi orang tua yang mampu hal ini tidak menjadi soal, tetapi bagi orang tua yang kurang mampu jangankan untuk menyekolahkan untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari saja sudah cukup sulit. Tidak jarang siswa yang berkemauan tinggi imtuk mengenyam tingkat pendidikan yang diharapkan untuk memperbaiki kehidupan, mereka mencari sendiri biaya untuk keperluan pendidikan dengan cara bekerja sambilan.
Pada umumnya bagi siswa yang semua kebutuhan pendidikannya ditanggung penuh oleh orang tua memiliki waktu yang lebih banyak untuk belajar sehingga prestasi hasil belajar yang dicapai tinggi, tinggal bagaimana siswa terebut menyikapi, karena memang tidak 100% siswa dari keluarga yang ekonominya mapan meraih prestasi yang tinggi.
Sebaliknya bagi siswa yang harus bekerja sambilan atau paruh waktu hanya mempunyai waktu yang terbatas untuk belajar, sehingga prestasi hasil belajar yang mereka capai pada umumnya rendah, walaupun tidak semuanya siswa yang bekerja selalu meraih prestasi yang rendah. Untuk itu perlu pembuktian salah satunya melalui penelitian ini.

Faktor-faktor yang mempengaruhi prestasi belajar
Prestasi hasil belajar siswa banyak dipengaruhi oleh berbagai faktor, baik yang berasal dan dalam dirinya (internal) maupun dari luar dirinya (eksternal). Prestasi hasil belajar yang dicapai siswa pada hakikatnya merupakan hasil interaksi antara berbagai faktor tersebut. Oleh karena itu, pengenalan guru terhadap faktor yang dapat mempengaruhi prestasi hasil belajar siswa penting sekali artinya dalam rangka membantu siswa mencapai prestasi belajar yang seoptimal mungkin sesuai dengan kemampuannya masing-masing.
Faktor-faktor yang berpengaruh terhadap prestasi belajar yang dimaksud meliputi hal-hal sebagai berikut :
a.    Faktor yang berasal dari diri siswa (faktor internal). Faktor yang berasal dari diri siswayang berpengaruh terhadap prestasi belajar siswa ini dikelompokkan menjadi dua, yaitu: faktor jasmaniah (fisiologi) dan faktor rohaniah (psikologi).
b.   Faktor jasmaniah (fisiologi) baik yang bersifat bawaan maupun yang diperoleh. Yang tennasuk faktor ini ialah pancaindera yang tidak berfungsi sebagaimana mestinya, seperti mengalami sakit, cacat tubuh atau perkembangan yang tidak sempurna, berfungsinya kelenjar tubuh yang membawa kelainan tingkah laku.
c.    Faktor psikologis, yang meliputi: intelegensi siswa, sikap siswa, bakat siswa, minat siswa, motivasi siswa.
1)   Intelegensi siswa
Intelegensi atau tingkat kecerdasan siswa tak dapat diragukan lagi sangat menentukan tingkat keberhasilan belajar siswa. ini bermakna, semakin tinggi kemampuan intelegensi seorang siswa maka semakin besar peluangnya untuk meraih sukses. Sebaliknya, semakin rendah intelegensi seorang siswa maka semakin kecil peluangnya untuk memperoleh sukses.
2)   Sikap Siswa
Sikap adalah gejala internal yang berdimensi afektif berupa kecenderungan untuk mereaksi atau merespon dengan cara yang relatif tetap temadap objek orang, barang, dan sebagainya, baik secara positif maupun negatif. Sikap positif siswa merupakan pertanda awal yang baik bagi proses belajar siswa, sebaliknya sikap negatif siswa yang disertai kebencian akan menimbulkan kesulitan belajar siswa tersebut.
3)   Bakat Siswa
Bakat adalah kemampuan yang dimiliki seseorang untuk mencapai keberhasilan pada masa yang akan datang. Bakat akan mempengaruhi tinggi rendahnya prestasi belajar pada mata pelajaran tertentu.
4)   Minat Siswa
Minat berarti kecenderungan dan kegairahan yang besar terhadap sesuatu. Minat dapat mempengaruhi kualitas pencapaian prestasi hasil belajar dalam bidang-bidang mata pelajaran tertentu.
5)   Motivasi Siswa
Motivasi berfungsi sebagai pendorong, pengarah, dan penggerak tingkah laku. Motivasi mempunyai nilai dalam menentukan prestasi dan dorongan untuk memiliki pengetahuan dan keterampilan.

d.   Faktor yang berasal dari luar diri (eksternal)
Faktor yang berasal dari luar siswa yang berpengaruh terhadap prestasi hasil belajar dapat dikelompokkan menjadi 3 faktor, yaitu: faktor keluarga, sekolah dan masyarakat.
1)   Faktor Keluarga
Siswa yang belajar akan menerima pengaruh dari keluarga berupa: cara orang tua mendidik, relasi antara anggota keluarga, suasana rumah tangga, keadaan ekonomi keluarga, dan latar belakang kebudayaan.
a)   Cara Orang Tua Mendidik
Orang tua yang kurang atau tidak memperhatikan pendidikan anaknya, misalnya mereka acuh tak acuh terhadap belajar anaknya, tidak memperhatikan sama sekali kepentingan-kepentingan dan kebutuhan anaknya dalam belajar, tidak mengatur waktu belajamya, tidak menyediakan atau melengkapi alat belajamya, tidak memperhatikan apakah anak belajar atau tidak, tidak mau tahu bagaimanakah kemajuan belajar anaknya, kesulitan-kesulian yang dialami dalam belajar dan lain-lain, dapat menyebabkan anak tidak/kurang berhasil dalam belajamya.
b)   Relasi Antara Anggota Keluarga
Demi kelancaran belajar serta keberhasilan ana, perlu diusahakan relasi yang baik dalam keluarga. Hubungan yang baik adalah hubungan yang penuh kasih sayang, disertai dengan bimbingan dan bila perlu hukuman-hukuman untuk mensukses­kan belajar anak sendiri.
c)   Suasana rumah
Agar anak dapat belajar dengan baik dan memperoleh prestasi hasil belajar yang baik perhi diciptkan suasana rumah yang tenang dan tenteram. Di dalam suasana rumah yang tenang dan tenteram selain anak betah tinggal di rumah, anak dapat belajar dengan baik.
d)   Keadaan Ekonomi Keluarga
Jika anak hidup dalam keluarga miskin, kebutuhan pokok anak kurang terpenuhi, akibatnya kesehatan anak terganggu, sehingga belajar anak terganggu pula. Akibat lain anak selalu dirundung kesedihan sehingga anak merasa minder dengan teman lain, hal ini pasti akan menganggu belajar anak. Bahkan anak hams bekerja mencari nafkah sebagai pembantu orang tuanya walaupun sebenamya anak belum saatnya untuk bekerja. Walaupim tidak dapat dipungkiri bahwa adanya kemungkinan anak yang serba kekurangan dan selalu menderita akibat ekonomi keluarga yang lemah, justru keadaan yang begitu menjadi cambuk untuk meraih prestasi hasil belajar yang baik.
e)   Pengertian Orang Tua
Anak belajar perlu dorongan dan pengertian orang tua. Bila anak sedang belajar jangan diganggu oleh tugas-tugas di rumah. Kadang-kadang anak mengalami lemah semangat, orang tua wajib memberi pengertian dan mendoronganya membantu sedapat mungkin kesulitan yang dialami anak di sekolah. Kalau perlu menghubungi guru anaknya, untuk mengetahui perkembangannya.
f)    Latar Belakang Kebudayaan
Tingkat pendidikan atau kebiasaan di dalam keluarga mempengaruhi sikap anak dalam belajar. Perlu kepada anak ditanamkan kebiasaan-kebiasaan yang baik, agar mendorong semangat anak untuk belajar sehingga memperoleh prestasi yang baik pula.
Faktor internal dan eksternal seperti dijelaskan di atas saling berinteraksi satu sama lain dalam mempengaruhi prestasi belajar siswa. Dampak negatifiiya antara lain dapat berupa berbagai keadaan kurang menguntungkan yang dialami oleh siswa, seperti: kesulitan dalam mengikuti peljaran di sekolah, kesulitan dalam belajar sendiri di rumah, kesulitan untuk mendapatkan kesempatan menambah pengetahuan melalui interaksi dengan lingkungan, maupun dengan bahan-bahan media penunjang yang ada. Keadaan selanjutnya membuat siswa yang bersangkutan mengalami kesulitan dalam mengerjakan tugas-tugas enggan untuk bertanya pada guru. Hasilnya adalah rendahnya prestasi belajar yang dicapai, sekalipun yang bersangkutan sesungguhnya termasuk siswa yang berbakat dan berkemampuan cukup.
Dari uraian di atas maka untuk membelajarkan siswa yang baik banyak faktor yang berpengaruh agar siswa aktif belajar antara lain: pengalaman belajar, proses sosial, relevansi antara penagalaman dan penerapan, lingkungan belajar yang menyenangkan.
Bila ditinjau dari kebutuhan perkembangan siswa maka ada 3 perkembangan yaitu: perkembangan berpikir (head), perkembangan melakukan (hand) dan perkembangan emosional (heart). 3 H perlu dipadukan dalam membuat strategi pembelajaran di kelas akan berjalan baik. Bila proses belajar baik tentu tujuan dari proses pembelajaran akan tercapai.
Menurut Hilda Karli (2003:103) Beberapa strategi dalam membelajarkan siswa di antaranya adalah adanya :
a.      Kebermaknaan
b.     Pengetahuan dan keterampilan bersyarat
c.      Model
d.     Komunikasi terbuka
e.      Keaslian tugas yang menantang
f.      Latihan yang tepat dan aktif
g.     Mengembangkan keingintahuan, imajinasi, fitrah bertuhan
h.     Mengembangkan keterampilan pemecahan masalah
i.      Mengembangkan kreativitas siswa
j.      Mengembangkan kemampuan menggunakan teknologi untuk keseimbangan pengaturan pengalaman belajar.
Belajar adalah proses yang terus menerus, yang tidak pemah berhenti dan tidak terbatas pada dinding kelas. Hal ini berdasarkan pada asumsi bahwa sepanjang kehidupannya manusia akan selalu dihadapkan pada berbagai rintangan. Manakala rintangan sudah dilaluinya, maka manusia akan dihadapkan pada tujuan atau masalah baru, untuk mencapai tujuan baru itu manusia dihadapkan pada rintangan baru pula, yang kadang-kadang semakin berat. Demikianlah siklus kehidupan dari mulai lahir sampai kematiannya manusia akan senantiasa dihadapkan pada tujuan dan rintangan yang terus menerus . Dikatakan manusia yang sukses dan berhasil manakala ia dapat menembus rintangan itu, dan dikatakan manusia gagal manakala ia tidak dapat melewati rintangan yang dihadapinya. Atas dasar itulah sekolah hams berperan sebagai wahana memberikan latihan bagaimana cara belajar. Melalui kemampuan bagaimana cara belajar siswa akan dapat belajar memecahkan setiap rintangan yang dihadapi sampai akhir hayatnya.

Pembelajaran Kooperatif
Menurut Slavin dalam Trianto (2007) pembelajaran kooperatif adalah suatu model dimana siswa belajar dan bekerja dalam kelompok-kelompok kecil yang berjumlah 4-6 orang serta kolaboratif sehingga dapat merangsang siswa lebih bergairah dalam belajar.
Menurut Isjoni (2007) cooperative learning adalah suatu model pembelajaran yang saat ini benyak digunakan untuk mewujudkan kegiatan belajar mengajar yang berpusat pada siswa (student oriented) terutama untuk mengatasi permasalahan yang ditemukan guru dalam mengaktifkan siswa yang tidak dapat bekerja sama dengan orang lain, siswa yang agresif dan tidak peduli pada orang lain. Model pembelajaran ini telah terbukti dapat dipergunakan dalam berbagai mta pelajaran dan berbagai usaha.
Menurut Nurhadi, dkk (2004 : 6) pembelajaran kooperatif adalah suatu system yang di dalamnya terdapat elemen-elemen yang saling terkait. Adapun elemen-elemen dalam pembelajaran kooperatif adalah : (1) saling ketergantungan positif, (2) interaksi tatap muka, (3) akuntabilitas individual dan (4) ketrampilan untuk menjalin hubungan antar pribadi atau ketrampilan sosial.
(1) Saling ketergantungan positif
Guru menciptakan suasana yang mendorong siswa agar merasa saling membutuhkan dalam pelaksanaan pembelajaran kooperatif. Hubungan saling membutuhkan agar siswa yang dimaksud sebagai hubungan saling ketergantunngan positif. Saling ketergantungan antar siswa dapat dicapai melalui saling ketergantungan mencapai tujuan, menyelesaikan tugas, bahan dan sumber belajar, dan saling ketergantungan dalam peran.
(2) Interaksi tatap muka
Melalui diskusi kelompok siswa dapat salling bertatap muka sehingga dapat melekukan dislog dengan sesama siswa maupun dengan guru. Interaksi semacam itu memungkinkan siswa dapat saling menjadi sumber belajar satu dengan yang lain, sehingga sumber belajar menjadi lebih bervariasi. Interaksi antar siswa juga akan sangat berguna karena ada siswa yang merasa lebih mudah belajar dengan temannya.
(3) Akuntabilitas individual
Pembelajaran kooperatif menampilkan wujudnya dalam belajar kelompok, namun demikian penilaian ditujukan untuk mengetahui penguasaan siswa terhadap materi pelajaran secara individual. Hasil penilaian secara individual selanjutnya disampaikan oleh guru kepada kelompok agar semua anggota kelompok mengetahui anggota kelompok yang memerlukan bantuandan anggota kelompok yang dapat memberikan bantuan. Nilai kelompok didaarkan atas rata-rata prestasi atau hasil belajar anggotanya, oleh karena itu setiap anggota kelompok harus memberikan kontribusi yang positif demi kemajuan kelompoknya.
(4) Ketrampilan untuk menjalin hubungan antar pribadi atau ketrampilan sosial
        Pembelajaran kooperatif memungkinkan untuk terciptanya ketrampilan social seperti tenggang rasa, sikap sopan kepada teman, mengkritik ide dan bukan mengkritik teman, berani mempertahankan pendapat, tidak mendominasi orang, mandiri, dan berbagai sifat lain yang bermanfaat dalam menjalin hubungan antar pribadi.
        Menurut Johnson & Johnson dalam Nurhadi (2004) menunjukkan adanya berbagai keunggulan pembelajaran kooperatif, antara lain sebagai berikut :
1.     Memudahkan siswa dalam melakukan penyesuaian social
2.     Mengembangkan kegembiraan belajar sejati
3.     Memungkinkan siswa saling belajar mengenal sikap, ketrampilan, informasi, perilakuk social dan pembangunan.
4.     Meningkatkan kepekaan dan kesetiakawanan sosial
5.     Meningkatkan rasa saling percaya kepada sesama manusia.
6.     Menghilangkan sifat mementingkan diri sendiri atau egois.
7.     Meningkatkan ketrampilan hidup bergotong royong.
8.     Meningkatkan keyakinan terhadap idea tau gagasan sendiri.
9.     Meningkatkan sikap tenggang rasa.
10.  Mengembangkan kesadaran dan bertanggung jawab serta saling menjaga perasaan.
11.  Meningkatkan rasa harga diri dan penerimaan diri.
Dalam pembelajaran kooperatif ketrampilan social seperti tenggang rasa, sikap sopan terhadap teman, mengkritik ide dan bukan mengkritik teman, berani mempertahankan pikiran logis, tidak mendominasi orang lain, mandiri dan berbagai sikap lain yang bermanfaat dalam menjalin hubungan antar pribadi (interpersonal relationship) tidak hanya diasumsikan tetapi secara sengaja diajarkan. Siswa yang tidak dapat menjalin hubungan antar pribadi tidak hanya memperoleh teguran dari guru tetapi juga dari sesame siswa. Kondisi siswa yang hiterogen diharapkan dapat saling bekerja sama dan saling membantu antara siswa yang satu dengan siswa yang lainnya dalam hal positif, yaitu dalam mempelajari suatu materi dan memecahkan permasalahan secara bersama-sama, sehingga sumber belajar bagi siswa bukan hanya dari guru dan buku ajar atau modul tetapi juga dari sesame siswa. Melalui penerapan pembelajaran kooperatif diharapkan dapat meninngkatkan efektivitas pembelajaran di dalam kelas.

“Tuse”
“Tuse” adalah tutor sebaya dengan pertanyaan. Pembelajaran ini dilak sanakan dengan langkah – langkah sebagai berikut :
1.   Guru menyampaikan  KD, materi dan tujuan kepada siswa
2.   Guru menyiapkan hand out 2 macam yaitu A, B, dan  pertanyaan juga demikian.
3.   Guru membagi kelompok yang beranggotakan teman sebangku.
4.   Siswa dalam satu bangku menjadi satu kelompok, yang berada di sebelah kanan A dan yang berada di sebelah kiri B.
5.   Hand Out A diberikan kepada anak di sebelah kanan kemudian disampaikan kepada teman sebanngku (B).
6.   Pertaanyaan A diberikan kepada anak di sebelah kanan untuk ditanyakan kepada siswa di sebelah kiri sekaligus dinilai bila sempurna nilainya 10, kurang sempurna 5, tidak sempurna atau salah nilainya nol.
7.   Demikian sebaliknya hand out  dan pertanyaan B.
8.   Siswa yang mendapatkan nilai tertinggi diberikan hadiah
9.   Diakhir pertemuan guru bersama – sama siswa menyimpulkan dan menutup pelajaran

Metode Penelitian
Kegiatan yang dilakukan pada tahap rencana adalah sebagai berikut:
1.   Refleksi Awal Peneliti bersama dengan teman sejawat mata pelajaran IPS   mengidentifikasi masalah yang berkaitan prestasi belajar IPS   siswa kelas IX-E SMPN 1 Dolopo Kabupaten Madiun Tahun pelajaran 2017/2018 semester Genap dan mendiskusikan cara yang efektif untuk meningkatkan prestasi belajar.
2.   Peneliti dan guru mata pelajaran IPS   merumuskan permasalahan, secara operasional dan relevan dengan rumusan masalah penelitian.
3.   Merumuskan hipotesis tindakan yang lebih menitikberatkan pada model pembelajaran kooperatif dengan “TUSE” yang dirumuskan berdasarkan kondisi siswa dan proses pembelajaran yang mungkin mengalami perubahan sesuai dengan kondisi di lapangan. Menetapkan dan merumuskan rancangan tindakan yang meliputi:
a.    Menetapkan indikator-indikator desain / strategi pembelajaran yang berupa model pembelajaran kooperatif.
b.   Memilih media dari buku-buku referensi, menyiapkan alat-alat yang dibutuhkan berupa LCD , puzle, menyiapkan gambar-gambar, sebagai sarana pendukung dalam proses pembelajaran.
c.    Menyusun  model pembelajaran dan alat perekam data yang berupa tes, catatan lapangan, pedoman analisis, dokumen dan jurnal harian.
d.   Menyusun pengolahan data yang bersifat kualitatif maupun kuantitatif.
Prosedur penelitian tindakan kelas di SMPN 1 Dolopo Kabupaten Madiun didasarkan pada permasalahan yang muncul dalam pembelajaran IPS  Dilaksanakan dalam dua putaran, tiap-tiap putaran dilaksanakan sesuai dengan pembahasan yang ingin dicapai seperti yang sudah didisain dalam faktor-faktor yang diselidiki.
Secara rinci prosedur penelitian ini dapat dijabarkan dalam uraian berikut ini :
1.   Perencanaan
Pada tahap perencanaan ini langkah-langkah yang dilaksanakan oleh peneliti adalah sebagai berikut :
a.    Mengidentifikasi masalah yang ada pada proses pembelajaran IPS   di kelas
b.   Menganalisis masalah dan menentukan faktor-faktor yang diduga sebagai penyebab.
c.    Memilih tindakan pemecahan masalah.
d.   Merancang model tindakan kelas.
e.    Mengatur langkah-langkah yang akan dilakukan.
f.    Menyusun jadwal kegiatan yang akan dilakukan sebagai berikut:
2.   Persiapan Tindakan
Langkah-langkah persiapan tindakan yang akan dilaksanakan meliputi :
a.    Menyusun Silabus Mata Pelajaran IPS  .
b.   Membuat Rencana Pelaksanaan Pembelajaran yang menarik, sesuai dengan rencana tindakan yang akan dilakukan.
c.    Mempersiapkan fasilitas dan sarana pendukung seperti alat-alat untuk menunjang pembelajaran kooperatif, gambar-gambar, dan media yang dibutuhkan
d.   Mempersiapkan instrumen penelitian yang diperlukan seperti format pengamatan, angket, tes.
3.   Pelaksanaan Tindakan
Pelaksanaan tindakan dilaksanakan sesuai dengan langkah-langkah yang tertuang dalam skenario pembelajaran yang telah disusun. Sedangkan observasi adalah upaya untuk merekam atau memantau semua peristiwa dan kegiatan yang terjadi dalam proses pembelajaran.
4.   Refleksi
Data-data yang berhasil dikumpulkan melalui observasi pada tahap ini dianalisis. Berdasarkan hasil observasi tersebut, peneliti dapat merefleksikan tentang proses pembelajaran yang telah dilakukan. Dengan demikian peneliti akan mengetahui efektifitas kegiatan pembelajaran yang dilakukan.

Metode Pengumpulan Data
Penelitian ini, disamping menggunakan metode yang tepat, juga memerlukan teknik dan alat atau instrumen pengumpul data yang relevan. Penggunaan alat dan teknik pengumpulan data yang tepat memungkinkan diperolehnya data yang obyektif. Beberapa jenis instrumen yang digunakan untuk mendukung penelitian ini, antara lain :
1.   Lembar Observasi Siswa
Instrumen ini berupa daftar cek (chek list), yaitu pencatatan data dengan I menggunakan sebuah daftar yang memuat nama observer, dan jenis gejala yang diamati. Gejala yang diamati meliputi keaktifan siswa dalam berpendapat, mengemukakan pendapat, disiplin, keberanian bertanya, dapat bekerjasama dalam kelompok, rajin mengerjakan tugas dan sebagainya pada saat pelaksanaan pembelajaran dengan “TUSE”.
2.   Angket
Angket adalah alat untuk mengumpulkan data yang bempa daftar pertanyaan disertai dengan pilihan jawaban yang disampaikan kepada responden dalam hal ini siswa untuk dijawab secara tertulis. Angket dalam penelitian ini digunakan untuk mengukur minat siswa terhadap mata pelajaran IPS   yang menggunakan model pembelajaran kooperatif
3.   Tes
Tes adalah seperangkat rangsangan (stimuli) atau latihan yang digunakan untuk mengukur keterampilan, pengetahuan, intelegensi, kemampuan atau bakat yang dimiliki oleh siswa. Tes yang dilaksanakan pada penelitian ini tes tertulis bentuk uraian.
Analisis data dilakukan secara deskriptif kualitatif berdasarkan hasil pengamatan terhadap prestasi belajar dengan langkah-langkah sebagai berikut:
1.   Melakukan reduksi data, yaitu mengecek dan mencatat kembali data-data yang telah dikumpulkan.
2.   Melakukan interpretasi data, yaitu menafsirkan data yang diwujudkan dalam bentuk pemyataan.
3.   Melakukan iferensi, yaitu menyimpulkan data apakah dalam proses pembelajaran ini terjadi peningkatan hasil belajar atau tidak.
4.   Tahap tindak lanjut, yaitu merumuskan langkah-langkah perbaikan untuk siklus berikutnya atau dalam pelaksanaan di lapangan setelah siklus berakhir berdasarkan inferensi yang telah ditetapkan.
5.   Penarikan kesimpulan, verifikasi, dan refleksi. Data yang diperoleh dicari pola, hubungan atau hal-hal yang sering timbul dari data tersebut kemudian dihasilkan simpulan sementara yang disebut dengan temuan peneliti. Penarikan simpulan dilakukan terhadap temuan peneliti yang berupa indikator-indikator yang selanjutnya dilakukan refleksi sehingga memperoleh simpulan akhir.
Sebagai standar ketuntasan belajar digunakan patokan yang ditetapkan yaitu sebesar 80% secara individual dan ketuntasan secara klasikal sebesar 85%.
Kriteria penilaian dalam menganalisis pelaksanaan proses pembelajaran dengan indikator sebagai berikut :
1.   Tes hasil belajar dengan indicator :
a)   Nilai tes
b)   Nilai aktivitas belajar
c)   Nilai hasil tugas
2.   Aktivitas belajar siswa dengan indicator :
a)   Aktivitas siswa selama proses pembelajaran.
b)   Aktivitas keberanian siswa dalam diskusi, kreativitas dalam proses pembelajaran, dan mengkomunikasikan hasil pekerjaannya kepada temannya.
3.   Sifat kritis, terbuka siswa selama proses pembelajaran:
a)   Usaha mencari informasi melalui sumber belajar dan diskusi.
b)   Kesungguhan mengikuti kegiatan pembelajaran.
c)   Kesungguhan mengerjakan tugas.
d)   Ketepatan menyelesaikan tugas (tepat waktu)
Klasifikasi penilaian aktivitas belajar dan prestasi hasil belajar adalah sebagai berikut 
91 – 100           : Sangat Baik
75 – 90 : Baik
60 – 74 : Cukup
40 – 59 : Kurang
> 40      : Kurang Sekali

Hasil Penelitian
Berdasarkan data pengamatan setelah diberi tindakan I pada siklus I peneliti dapat mengungkapkan perubahan yang terjadi pada siswa. Perubahan tersebut di antaranya :
a.    Pada siklus yang pertama, proses pembelajaran dikondisikan dengan menerapkan model pembelajaran kooperatif dengan “TUSE”
b.   Pada awal proses pembelajaran ini siswa tampak masih kurang serius, karena terkesan hanya bermain.
c.    Dengan diberlakukannya model pembelajaran kooperatif dengan “TUSE” dalam  kelompok,  dalam proses pembelajaran dengan model pembelajaran tersebut mengharuskan siswa berperan secara aktif, sebagian besar masih /terlihat enggan dalam mencari informasi untuk menjawab permasalahan yang menjadi bagiannya, siswa kurang serius dan menganggap proses pembelajaran yang tengah berlangsung terkesan main- main.
d.   Pada saat menjawab pertanyaan, sebagian besar siswa enggan untuk menjawab pertanyaan, kualitas jawaban masih rendah.
Secara keseluruhan proses pembelajaran dengan model pembelajaran kooperatif dengan “TUSE” di kelas IX-E SMPN 1 Dolopo Kabupaten Madiun tahun pelajaran 2017/2018 semester Genap  mata pelajaran IPS  dapat dipaparkan sebagai berikut:
 No
Aspek
Skor
Maks
Didapat
1.
bertanya
6
3.97
2.
menjawab
6
3.81
3.
menanggapi
4
2.42
4.
presentasi
4
2.26
Jumlah
20
12.46
Untuk nilai hasil belajar pada siklus pertama nilai yang berhasil dicapai oleh siswa kelas IX-E SMPN 1 Dolopo Kabupaten Madiun dapat dilihat pada tabel 2  berikut ini :
Tabel 2 : Daftar Nilai Tes Siklus I
No
Aspek
Nilai
1.
Skor Tertinggi
90
2.
Skor Terendah
60
3.
Rata-Rata Skor
77.10
4.
Prosentase Ketuntasan
58.06
Dari hasil pengamatan pada aktivitas belajar siswa dapat peneliti sajikan sebagai berikut:
Tabel  3 Daftar Nilai Aktivitas Belajar Siswa Kelas IX-E SMPN 1 Dolopo Kabupaten Madiun Siklus II
No
Aspek
Skor
Maks
Didapat
1.
bertanya
6
5.03
2.
menjawab
6
5.10
3.
menanggapi
4
3.32
4.
presentasi
4
3.61
Jumlah
20
17.06
Untuk nilai hasil belajar pada siklus kedua ini nilai yang berhasil dicapai oleh siswa kelas IX-E SMPN 1 Dolopo Kabupaten Madiun I dapat dilihat pada tabel 4 berikut ini:
Tabel 4 Daftar Nilai Tes Siklus II
No
Aspek
Nilai
1.
Skor Tertinggi
90
2.
Skor Terendah
70
3.
Rata-Rata Skor
81.94
4.
Prosentase Ketuntasan
87.10

Kesungguhan siswa dalam mengerjakan tugas yang diberikan guru dengan baik. Hal ini dapat dilihat dari nilai tugas yang menunjukkan bahwa 24 siswa (77.42%) tidak mengerjakan tugas dengan baik yang dibuktikan pada perolehan nilai 5-6, sedangkan 7 siswa (22.58%) memperoleh nilai 7. Nilai rata-rata yang diperoleh pada putaran pertama 6.00.  Pada putaran yang kedua diperoleh hasil yang cukup memuaskan, yang ditunjukkan dengan tidak adanya siswa yang memperoleh nilai 6  sedangkan siswa  memperoleh nilai 7 hanya 4 siswa atau 12,90%.
     
Kesimpulan
Berdasarkan hasil penelitian dengan menggunakan model pembelajaran kooperatif dengan “TUSE” terhadap  31 siswa kelas IX-E SMPN 1 Dolopo Kabupaten Madiun Tahun Pelajaran 2017/2018 pada mata pelajaran IPS   dapat ditarik kesimpulan sebagai berikut:
”Dengan menggunakan model pembelajaran kooperatif dengan “TUSE”  dapat meningkatkan prestasi belajar IPS   siswa kelas IX-E SMPN 1 Dolopo Kabupaten Madiun Tahun Pelajaran 2017/2018 Semester Genap


DAFTAR PUSTAKA
Basrowi, Sukidin, Suranto. 2002. Manajemen Penelitian Tindakan Kelas. Surabaya: Insan Cendekia.
Depdiknas. 2007. Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan Mata pelajaran IPS   SMP. Jakarta: Depdiknas.
Gunawan, Adi W. 2003. Genius Learning Strategy. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama.
Hamalik, Oemar. 2002. Psikologi Belajar Mengajar. Bandung: Sinar Baru Algesindo.
Karli, Hilda. (2003). Head Hand Heart 3H dalam Kurikulum Berbasis Kompetensi. Bandung: Bina Media Informasi.
Meier, Dave. 2005. The Accelerated Learning. Bandung: Kaifa.
Mulyasa, Enco. 2002. Kurikulum Berbasis Kompetensi. Bandung: Rosdakarya.
Mulyati. 2005. Psikologi Belajar. Yogyakarta: Audi Offset.
Nur, Muhamad. 2000. Pengajaran Berpusat Pada Siswa dan Pendekatan Konstruktivis Dalam pengajaran. Surabaya: Universitas Negeri Surabaya.
Nurhadi.2002. Pendekatan Kontekstual. Jakarta: Depdiknas.
Puskur. 2002. Kurikulum Berbasis Kompetensi Mata Pelajaran Pengetahuan Sosial. Jakarta: Balitbang Depdiknas.
Sudjana, Nana. 2002. Penilaian Hasil Proses Belajar Mengajar. Bandung: Rosdakarya.
Sanjaya Wina. 2007. Strategi Pembelajaran Berorientasi Standar Proses Pendidikan. Jakarta: Kencana Prenada Media.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar