MENINGKATKAN PRESTASI BELAJAR TENTANG KERJA SAMA
ANTARNEGARA DENGAN PENERAPAN MODEL PEMBELAJARAN KOOPERATIF “TUSE” SISWA
KELAS IX-E SEMESTER GENAP TAHUN
PELAJARAN 2017/2018
SMP NEGERI 1 DOLOPO KABUPATEN
MADIUN
|
|
Oleh
: Sriani
Guru
SMP Negeri 1 Dolopo Kabupaten Madiun
|
abstrak
Kata kunci: prestasi
belajar, model kooperatif, “TUSE”
Penelitian ini dilatar belakangi oleh rendahnya
minat belajar IPS di Kelas IX-E
SMPN 1 Dolopo Kabupaten Madiun. Rendahnya minat belajar berpengaruh pada
prestasi belajar.
Tujuan
penelitian ini adalah untuk mengetahui apakah dengan menerapkan model
pembelajaran kooperatif dengan “TUSE” dalam proses pembelajaran akan meningkatkan
prestasi belajar siswa dalam belajar IPS.
Metode
dalam penelitian ini adalah Penelitian Tindakan Kelas (PTK) dengan menerapkan
model pembelajaran kooperatif dengan “TUSE” pada mata pelajaran IPS di Kelas IX-E SMPN 1
Dolopo Kabupaten Madiun. Teknik pengumpulan data yang digunakan adalah lembar
observasi siswa, angket, dan tes. Sedangkan teknik analisis data menggunakan
deskriptif kuantitatif dan kualitatif.
Penelitian
ini menunjukkan bahwa hasil pembelajaran dengan menerapkan model pembelajaran kooperatif dengan “TUSE” dapat meningkatkan minat dan aktivitas belajar
siswa yang ditunjukkan meningkatnya kualitas belajar, antusias siswa dalam
mengikuti setiap kegiatan dalam proses pembelajaran, keberanian siswa dalam
berdiskusi, ketepatan mengerjakan tugas-tugas yang diberikan. Minat dan aktivitas
belajar yang meningkat berpengaruh pada meningkatnya prestasi / hasil belajar.
Keberhasilan itu ditunjukkan dengan adanya peningkatan nilai rata-rata kelas,
yaitu 77,10 pada putaran pertama, 81,94
pada putaran kedua dan peningkatan ketuntasan belajarnya adalah 58,06%
pada putaran pertama menjadi 87,10% pada putaran kedua.
Dengan
penerapan model pembelajaran Kooperatif “TUSE” dapat meningkatkan minat dan aktivitas
belajar yang berpengaruh pada meningkatnya prestasi belajar siswa di Kelas IX-E
Latar Belakang
Sebagai
seorang profesional, seorang guru harus mempunyai pengetahuan dan persediaan
strategi-strategi pembelajaran. Tidak semua strategi yang diketahuinya harus
dan bisa diterapkan dalam kenyataan sehari-hari di ruang kelas. Namun guru yang
baik tidak akan terpaku pada satu strategi saja. Guru yang ingin maju dan
berkembang perlu mempunyai persediaan strategi dan teknik-teknik pembelajaran
yang pasti akan selalu bermanfaat dalam melaksanakan kegiatan pembelajaran.
Salah
satu strategi tersebut adalah model kooperatif dengan “TUSE” mampu menciptakan
atmosfer menggembirakan dan membebaskan kecerdasan penuh dan tidak terhalang
dapat memberi banyak sumbangan, misalnya menyingkirkan keseriusan yang
menghambat, menghilangkan stres, mengajak siswa terlibat penuh, dan meingkatkan
proses belajar.
Berdasarkan
hasil pengamatan dan kenyataan di lapangan,
peneliti menjumpai berbagai fenomena yang berkaitan dengan proses
pembelajaran dan hasilnya, antara lain pada saat berlangsungnya proses
pembelajaran khususnya pada mata pelajaran IPS
dijumpai siswa yang kurang aktif bahkan tidak aktif. Kemudian apabila
diberi tugas masih belum dapat menyelesaikan dengan baik, kondisi yang demikian
berpengaruh pada prestasi hasil belajar.
Bagi
siswa di SMPN 1 Dolopo Kabupaten Madiun mata pelajaran IPS dianggap sebagai mata pelajaran hafalan yang
tidak bermakna, sehingga sering terabaikan bahkan tidak mendapat perhatian sama
sekali. Hal ini dapat dimaklumi karena materi IPS begitu padat, alokasi waktu yang tidak
seimbang dengan jumlah materi yang disajikan, penyajian pembelajaran yang
monoton, serta banyaknya tugas yang diberikan, sehingga beban siswa menjadi
berat, akibatnya siswa menjadi pasif dan prestasi yang dihasilkan rata-rata
masih rendah.
Untuk
memperbaiki kualitas pembelajaran IPS di
SMPN 1 Dolopo Kabupaten Madiun guru-guru IPS
mengupayakannya berbagai model pembelajaran di antaranya dengan
menerapkan model pembelajaran “TUSE”
. Dengan model pembelajaran “TUSE”
ini tidak membosankan,
mandiri, percaya diri, memiliki keberanian mengemukakan ide-idenya, aktif dan
kreatif sehingga dapat meningkatkan kemampuan akademisnya atau prestasi hasil
belajarnya.
Penelitian
tindakan kelas ini berjudul “Meningkatkan Prestasi Belajar Tentang Kerja Sama
Antarnegara dengan Penerapan Model Pembelajaran Kooperatif
“Tuse” Siswa Kelas IX-E Semester Genap Tahun Pelajaran 2017/2018 SMP
Negeri 1 Dolopo Kabupaten
Madiun”
Kajian Pustaka
Pengertian prestasi belajar
Berprestasi berarti dapat mencapai sesuatu hasil yang
maksimum dari apa yang dilakukan. Karena faktor pertumbuhan dan kesempatan bagi setiap
orang tidak sama, maka prestasi yang dicapai juga tidak sama. Yang dimaksud
dengan prestasi adalah hasil yang dicapai atau dilakukan atau diajarkan dan
sebagainya (Poerwodarminto, 1989:76).
Menurut Zainal Arifin (1990:3)
mengatakan bahwa prestasi adalah suatu usaha dari seorang siswa atau kemampuan
siswa terhadap apa yang dinilai, dapat dicapai dalam pemberian evaluasi.
Berdasarkan kurikulum 1994 yang
dimaksud dengan prestasi adalah hasil tertinggi yang dapat dicapai dalam hal
menguasai bahan-bahan pelajaran dalam waktu tertentu.
Menurut Nasution (1994:15)
prestasi adalah suatu proses yang menimbulkan kelakuan baru atau mengubah
kelakuan lama sehingga seseorang lebih mampu menghadapi situasi dalam hidupnya.
Dari
beberapa pengertian di atas, dapat disimpulkan bahwa prestasi adalah hasil
tertinggi yang dicapai seseorang atau siswa dengan melalui berbagai usaha dalam
waktu tertentu.
Prestasi
/ hasil belajar adalah perubahan-perubahan dalam bidang pengetahuan atau
pemahaman, keterampilan, nilai dan sikap yang diperoleh siswa terhadap
pertanyaan, persoalan, tugas, yang diberikan guru dalam proses belajar (Winkel,
1989 : 102).
Prestasi
hasil belajar merupakan hasil akhir dari kegiatan belajar dalam bentuk pembahan
nilai atau perubahan sikap dari diri siswa. Dengan demikian secara global
prestasi hasil belajar merupakan hasil pendidikan yang mempunyai fungsi utama
sebagai berikut :
a.
sebagai
indikator kualitas dan kuantitas pengetahuan yang dikuasai anak.
b.
sebagai
lambang pemuas hasrat ingin tahu.
c.
merupakan
bahan informasi inovasi yang dapat dijadikan pendorong bagi anak didik dalam
meningkatkan ilmu pengetahuan dan teknologi serta berperan sebagai umpan balik
dalam meningkatkan mutu pendidikan.
d. sebagai
indikator intern dalam lembaga pendidikan. Indikator intern dalam arti dapat
dijadikan tingkat produktivitas suatu lembaga pendidikan dengan asumsi bahwa
kurikulum yang digunakan relevan dengan kebutuhan masyarakat dan anak didik.
Tinggi rendahnya prestasi hasil belajar dapat dijadikan indikator tingkat
kesuksesan anak didik di masyarakat.
e.
sebagai
indikator terhadap daya serap kecerdasan anak didik merupakan masalah utama dan
pertama, karena anak didiklah yang diharapkan dapat menyerap seluruh materi
pelajaran yang telah diprogramkan dalam kurikulum (Arifin, 1988:3).
Dengan
memperhatikan fungsi prestasi hasil belajar seperti yang telah diuraikan di
atas, maka prestasi hasil belajar anak didik tidak hanya merupakan indikator
keberhasilan mata pelajaran tertentu, melainkan juga sebagai indicator
keberhasilan suatu lembaga pendidikan.
Prestasi
hasil belajar yang menjadi harapan guru dan orang tua dari kelas ekonomi
manapun mulai dari menengah ke bawah maupun menengah ke atas tentulah prestasi
hasil belajar yang terbaik. Bagi guru prestasi hasil belajar yang baik, yang
berhasil dicapai siswa adalah sebagai indikator keberhasilan guru dalam
mengajar. Sementara dari pihak orang tua merupakan suatu kebanggaaan apabila
anaknya memiliki prestasi yang tinggi.
Untuk
meraih prestasi hasil belajar yang maksimal tentunya membutuhkan berbagai
sarana atau fasilitas yang dibutuhkan untuk keperluan sekolah. Bagi orang tua
yang mampu hal ini tidak menjadi soal, tetapi bagi orang tua yang kurang mampu
jangankan untuk menyekolahkan untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari saja sudah
cukup sulit. Tidak jarang siswa yang berkemauan tinggi imtuk mengenyam tingkat
pendidikan yang diharapkan untuk memperbaiki kehidupan, mereka mencari sendiri
biaya untuk keperluan pendidikan dengan cara bekerja sambilan.
Pada
umumnya bagi siswa yang semua kebutuhan pendidikannya ditanggung penuh oleh
orang tua memiliki waktu yang lebih banyak untuk belajar sehingga prestasi
hasil belajar yang dicapai tinggi, tinggal bagaimana siswa terebut menyikapi,
karena memang tidak 100% siswa dari keluarga yang ekonominya mapan meraih
prestasi yang tinggi.
Sebaliknya
bagi siswa yang harus bekerja sambilan atau paruh waktu hanya mempunyai waktu yang
terbatas untuk belajar, sehingga prestasi hasil belajar yang mereka capai pada
umumnya rendah, walaupun tidak semuanya siswa yang bekerja selalu meraih
prestasi yang rendah. Untuk itu perlu pembuktian salah satunya melalui
penelitian ini.
Faktor-faktor
yang mempengaruhi prestasi belajar
Prestasi
hasil belajar siswa banyak dipengaruhi oleh berbagai faktor, baik yang berasal
dan dalam dirinya (internal) maupun dari luar dirinya (eksternal). Prestasi
hasil belajar yang dicapai siswa pada hakikatnya merupakan hasil interaksi
antara berbagai faktor tersebut. Oleh karena itu, pengenalan guru terhadap
faktor yang dapat mempengaruhi prestasi hasil belajar siswa penting sekali
artinya dalam rangka membantu siswa mencapai prestasi belajar yang seoptimal
mungkin sesuai dengan kemampuannya masing-masing.
Faktor-faktor
yang berpengaruh terhadap prestasi belajar yang dimaksud meliputi hal-hal
sebagai berikut :
a. Faktor
yang berasal dari diri siswa (faktor internal). Faktor yang berasal dari diri
siswayang berpengaruh terhadap prestasi belajar siswa ini dikelompokkan menjadi
dua, yaitu: faktor jasmaniah (fisiologi) dan faktor rohaniah (psikologi).
b. Faktor
jasmaniah (fisiologi) baik yang bersifat bawaan maupun yang diperoleh. Yang
tennasuk faktor ini ialah pancaindera yang tidak berfungsi sebagaimana mestinya,
seperti mengalami sakit, cacat tubuh atau perkembangan yang tidak sempurna,
berfungsinya kelenjar tubuh yang membawa kelainan tingkah laku.
c. Faktor
psikologis, yang meliputi: intelegensi siswa, sikap siswa, bakat siswa, minat
siswa, motivasi siswa.
1)
Intelegensi
siswa
Intelegensi
atau tingkat kecerdasan siswa tak dapat diragukan lagi sangat menentukan
tingkat keberhasilan belajar siswa. ini bermakna, semakin tinggi kemampuan
intelegensi seorang siswa maka semakin besar peluangnya untuk meraih sukses. Sebaliknya,
semakin rendah intelegensi seorang siswa maka semakin kecil peluangnya untuk
memperoleh sukses.
2)
Sikap
Siswa
Sikap
adalah gejala internal yang berdimensi afektif berupa kecenderungan untuk
mereaksi atau merespon dengan cara yang relatif tetap temadap objek orang,
barang, dan sebagainya, baik secara positif maupun negatif. Sikap positif siswa
merupakan pertanda awal yang baik bagi proses belajar siswa, sebaliknya sikap
negatif siswa yang disertai kebencian akan menimbulkan kesulitan belajar siswa
tersebut.
3)
Bakat
Siswa
Bakat
adalah kemampuan yang dimiliki seseorang untuk mencapai keberhasilan pada masa
yang akan datang. Bakat akan mempengaruhi tinggi rendahnya prestasi belajar
pada mata pelajaran tertentu.
4)
Minat
Siswa
Minat berarti kecenderungan dan kegairahan yang besar
terhadap sesuatu. Minat dapat mempengaruhi kualitas pencapaian prestasi hasil
belajar dalam bidang-bidang mata pelajaran tertentu.
5)
Motivasi
Siswa
Motivasi
berfungsi sebagai pendorong, pengarah, dan penggerak tingkah laku. Motivasi
mempunyai nilai dalam menentukan prestasi dan dorongan untuk memiliki
pengetahuan dan keterampilan.
d.
Faktor
yang berasal dari luar diri (eksternal)
Faktor
yang berasal dari luar siswa yang berpengaruh terhadap prestasi hasil belajar
dapat dikelompokkan menjadi 3 faktor, yaitu: faktor keluarga, sekolah dan
masyarakat.
1)
Faktor
Keluarga
Siswa
yang belajar akan menerima pengaruh dari keluarga berupa: cara orang tua
mendidik, relasi antara anggota keluarga, suasana rumah tangga, keadaan ekonomi
keluarga, dan latar belakang kebudayaan.
a)
Cara Orang Tua Mendidik
Orang
tua yang kurang atau tidak memperhatikan pendidikan anaknya, misalnya mereka
acuh tak acuh terhadap belajar anaknya, tidak memperhatikan sama sekali
kepentingan-kepentingan dan kebutuhan anaknya dalam belajar, tidak mengatur
waktu belajamya, tidak menyediakan atau melengkapi alat belajamya, tidak
memperhatikan apakah anak belajar atau tidak, tidak mau tahu bagaimanakah
kemajuan belajar anaknya, kesulitan-kesulian yang dialami dalam belajar dan
lain-lain, dapat menyebabkan anak tidak/kurang berhasil dalam belajamya.
b)
Relasi
Antara Anggota Keluarga
Demi
kelancaran belajar serta keberhasilan ana, perlu diusahakan relasi yang baik
dalam keluarga. Hubungan yang baik adalah hubungan yang penuh kasih sayang,
disertai dengan bimbingan dan bila perlu hukuman-hukuman untuk mensukseskan
belajar anak sendiri.
c)
Suasana
rumah
Agar
anak dapat belajar dengan baik dan memperoleh prestasi hasil belajar yang baik
perhi diciptkan suasana rumah yang tenang dan tenteram. Di dalam suasana rumah
yang tenang dan tenteram selain anak betah tinggal di rumah, anak dapat belajar
dengan baik.
d)
Keadaan
Ekonomi Keluarga
Jika anak
hidup dalam keluarga miskin, kebutuhan pokok anak kurang terpenuhi, akibatnya
kesehatan anak terganggu, sehingga belajar anak terganggu pula. Akibat lain
anak selalu dirundung kesedihan sehingga anak merasa minder dengan teman lain,
hal ini pasti akan menganggu belajar anak. Bahkan anak hams bekerja mencari
nafkah sebagai pembantu orang tuanya walaupun sebenamya anak belum saatnya
untuk bekerja. Walaupim tidak dapat dipungkiri bahwa adanya kemungkinan anak
yang serba kekurangan dan selalu menderita akibat ekonomi keluarga yang lemah,
justru keadaan yang begitu menjadi cambuk untuk meraih prestasi hasil belajar
yang baik.
e)
Pengertian
Orang Tua
Anak belajar perlu dorongan dan pengertian orang tua.
Bila anak sedang belajar jangan diganggu oleh tugas-tugas di rumah.
Kadang-kadang anak mengalami lemah semangat, orang tua wajib memberi pengertian
dan mendoronganya membantu sedapat mungkin kesulitan yang dialami anak di
sekolah. Kalau perlu
menghubungi guru anaknya, untuk mengetahui perkembangannya.
f)
Latar
Belakang Kebudayaan
Tingkat
pendidikan atau kebiasaan di dalam keluarga mempengaruhi sikap anak dalam
belajar. Perlu kepada anak ditanamkan kebiasaan-kebiasaan yang baik, agar
mendorong semangat anak untuk belajar sehingga memperoleh prestasi yang baik
pula.
Faktor internal dan eksternal seperti dijelaskan di atas
saling berinteraksi satu sama lain dalam mempengaruhi prestasi belajar siswa.
Dampak negatifiiya antara lain dapat berupa berbagai keadaan kurang
menguntungkan yang dialami oleh siswa, seperti: kesulitan dalam mengikuti
peljaran di sekolah, kesulitan dalam belajar sendiri di rumah, kesulitan untuk
mendapatkan kesempatan menambah pengetahuan melalui interaksi dengan
lingkungan, maupun dengan bahan-bahan media penunjang yang ada. Keadaan selanjutnya
membuat siswa yang bersangkutan mengalami kesulitan dalam mengerjakan
tugas-tugas enggan untuk bertanya pada guru. Hasilnya adalah rendahnya prestasi
belajar yang dicapai, sekalipun yang bersangkutan sesungguhnya termasuk siswa
yang berbakat dan berkemampuan cukup.
Dari uraian di atas maka untuk membelajarkan siswa yang
baik banyak faktor yang berpengaruh agar siswa aktif belajar antara lain:
pengalaman belajar, proses sosial, relevansi antara penagalaman dan penerapan,
lingkungan belajar yang menyenangkan.
Bila
ditinjau dari kebutuhan perkembangan siswa maka ada 3 perkembangan yaitu:
perkembangan berpikir (head), perkembangan melakukan (hand) dan perkembangan
emosional (heart). 3 H perlu dipadukan dalam membuat strategi pembelajaran di
kelas akan berjalan baik. Bila proses belajar baik tentu tujuan dari proses
pembelajaran akan tercapai.
Menurut
Hilda Karli (2003:103) Beberapa strategi dalam membelajarkan siswa di antaranya
adalah adanya :
a.
Kebermaknaan
b.
Pengetahuan
dan keterampilan bersyarat
c.
Model
d.
Komunikasi
terbuka
e.
Keaslian
tugas yang menantang
f.
Latihan
yang tepat dan aktif
g.
Mengembangkan
keingintahuan, imajinasi, fitrah bertuhan
h.
Mengembangkan
keterampilan pemecahan masalah
i.
Mengembangkan
kreativitas siswa
j. Mengembangkan
kemampuan menggunakan teknologi untuk keseimbangan pengaturan pengalaman
belajar.
Belajar
adalah proses yang terus menerus, yang tidak pemah berhenti dan tidak terbatas
pada dinding kelas. Hal ini berdasarkan pada asumsi bahwa sepanjang
kehidupannya manusia akan selalu dihadapkan pada berbagai rintangan. Manakala
rintangan sudah dilaluinya, maka manusia akan dihadapkan pada tujuan atau
masalah baru, untuk mencapai tujuan baru itu manusia dihadapkan pada rintangan
baru pula, yang kadang-kadang semakin berat. Demikianlah siklus kehidupan dari
mulai lahir sampai kematiannya manusia akan senantiasa dihadapkan pada tujuan
dan rintangan yang terus menerus . Dikatakan manusia yang sukses dan berhasil
manakala ia dapat menembus rintangan itu, dan dikatakan manusia gagal manakala
ia tidak dapat melewati rintangan yang dihadapinya. Atas dasar itulah sekolah
hams berperan sebagai wahana memberikan latihan bagaimana cara belajar. Melalui
kemampuan bagaimana cara belajar siswa akan dapat belajar memecahkan setiap
rintangan yang dihadapi sampai akhir hayatnya.
Pembelajaran Kooperatif
Menurut
Slavin dalam Trianto (2007) pembelajaran kooperatif adalah suatu model dimana
siswa belajar dan bekerja dalam kelompok-kelompok kecil yang berjumlah 4-6
orang serta kolaboratif sehingga dapat merangsang siswa lebih bergairah dalam
belajar.
Menurut Isjoni (2007) cooperative learning adalah suatu model
pembelajaran yang saat ini benyak digunakan untuk mewujudkan kegiatan belajar
mengajar yang berpusat pada siswa (student
oriented) terutama untuk mengatasi permasalahan yang ditemukan guru dalam
mengaktifkan siswa yang tidak dapat bekerja sama dengan orang lain, siswa yang
agresif dan tidak peduli pada orang lain. Model pembelajaran ini telah terbukti
dapat dipergunakan dalam berbagai mta pelajaran dan berbagai usaha.
Menurut Nurhadi, dkk (2004 : 6) pembelajaran
kooperatif adalah suatu system yang di dalamnya terdapat elemen-elemen yang
saling terkait. Adapun elemen-elemen dalam pembelajaran kooperatif adalah : (1)
saling ketergantungan positif, (2) interaksi tatap muka, (3) akuntabilitas
individual dan (4) ketrampilan untuk menjalin hubungan antar pribadi atau
ketrampilan sosial.
(1) Saling ketergantungan positif
Guru
menciptakan suasana yang mendorong siswa agar merasa saling membutuhkan dalam
pelaksanaan pembelajaran kooperatif. Hubungan saling membutuhkan agar siswa
yang dimaksud sebagai hubungan saling ketergantunngan positif. Saling
ketergantungan antar siswa dapat dicapai melalui saling ketergantungan mencapai
tujuan, menyelesaikan tugas, bahan dan sumber belajar, dan saling
ketergantungan dalam peran.
(2) Interaksi tatap muka
Melalui
diskusi kelompok siswa dapat salling bertatap muka sehingga dapat melekukan
dislog dengan sesama siswa maupun dengan guru. Interaksi semacam itu
memungkinkan siswa dapat saling menjadi sumber belajar satu dengan yang lain,
sehingga sumber belajar menjadi lebih bervariasi. Interaksi antar siswa juga
akan sangat berguna karena ada siswa yang merasa lebih mudah belajar dengan
temannya.
(3) Akuntabilitas individual
Pembelajaran
kooperatif menampilkan wujudnya dalam belajar kelompok, namun demikian
penilaian ditujukan untuk mengetahui penguasaan siswa terhadap materi pelajaran
secara individual. Hasil penilaian secara individual selanjutnya disampaikan
oleh guru kepada kelompok agar semua anggota kelompok mengetahui anggota
kelompok yang memerlukan bantuandan anggota kelompok yang dapat memberikan
bantuan. Nilai kelompok didaarkan atas rata-rata prestasi atau hasil belajar
anggotanya, oleh karena itu setiap anggota kelompok harus memberikan kontribusi
yang positif demi kemajuan kelompoknya.
(4) Ketrampilan untuk menjalin hubungan
antar pribadi atau ketrampilan sosial
Pembelajaran
kooperatif memungkinkan untuk terciptanya ketrampilan social seperti tenggang
rasa, sikap sopan kepada teman, mengkritik ide dan bukan mengkritik teman,
berani mempertahankan pendapat, tidak mendominasi orang, mandiri, dan berbagai
sifat lain yang bermanfaat dalam menjalin hubungan antar pribadi.
Menurut
Johnson & Johnson dalam Nurhadi (2004) menunjukkan adanya berbagai
keunggulan pembelajaran kooperatif, antara lain sebagai berikut :
1.
Memudahkan
siswa dalam melakukan penyesuaian social
2.
Mengembangkan
kegembiraan belajar sejati
3.
Memungkinkan
siswa saling belajar mengenal sikap, ketrampilan, informasi, perilakuk social
dan pembangunan.
4.
Meningkatkan
kepekaan dan kesetiakawanan sosial
5.
Meningkatkan
rasa saling percaya kepada sesama
manusia.
6.
Menghilangkan
sifat mementingkan diri sendiri atau egois.
7.
Meningkatkan
ketrampilan hidup bergotong royong.
8.
Meningkatkan
keyakinan terhadap idea tau gagasan sendiri.
9.
Meningkatkan
sikap tenggang rasa.
10. Mengembangkan kesadaran dan
bertanggung jawab serta saling menjaga perasaan.
11. Meningkatkan rasa harga diri dan
penerimaan diri.
Dalam pembelajaran kooperatif
ketrampilan social seperti tenggang rasa, sikap sopan terhadap teman,
mengkritik ide dan bukan mengkritik teman, berani mempertahankan pikiran logis,
tidak mendominasi orang lain, mandiri dan berbagai sikap lain yang bermanfaat
dalam menjalin hubungan antar pribadi (interpersonal
relationship) tidak hanya diasumsikan tetapi secara sengaja diajarkan.
Siswa yang tidak dapat menjalin hubungan antar pribadi tidak hanya memperoleh
teguran dari guru tetapi juga dari sesame siswa. Kondisi siswa yang hiterogen
diharapkan dapat saling bekerja sama dan saling membantu antara siswa yang satu
dengan siswa yang lainnya dalam hal positif, yaitu dalam mempelajari suatu
materi dan memecahkan permasalahan secara bersama-sama, sehingga sumber belajar
bagi siswa bukan hanya dari guru dan buku ajar atau modul tetapi juga dari
sesame siswa. Melalui penerapan pembelajaran kooperatif diharapkan dapat
meninngkatkan efektivitas pembelajaran di dalam kelas.
“Tuse”
“Tuse”
adalah tutor sebaya dengan pertanyaan. Pembelajaran ini dilak sanakan dengan
langkah – langkah sebagai berikut :
1.
Guru
menyampaikan KD, materi dan tujuan
kepada siswa
2.
Guru
menyiapkan hand out 2 macam yaitu A, B, dan
pertanyaan juga demikian.
3.
Guru
membagi kelompok yang beranggotakan teman sebangku.
4.
Siswa
dalam satu bangku menjadi satu kelompok, yang berada di sebelah kanan A dan
yang berada di sebelah kiri B.
5.
Hand
Out A diberikan kepada anak di sebelah kanan kemudian disampaikan kepada teman
sebanngku (B).
6.
Pertaanyaan
A diberikan kepada anak di sebelah kanan untuk ditanyakan kepada siswa di
sebelah kiri sekaligus dinilai bila sempurna nilainya 10, kurang sempurna 5,
tidak sempurna atau salah nilainya nol.
7.
Demikian
sebaliknya hand out dan pertanyaan B.
8.
Siswa
yang mendapatkan nilai tertinggi diberikan hadiah
9.
Diakhir
pertemuan guru bersama – sama siswa menyimpulkan dan menutup pelajaran
Metode Penelitian
Kegiatan
yang dilakukan pada tahap rencana adalah sebagai berikut:
1.
Refleksi
Awal Peneliti bersama dengan teman sejawat mata pelajaran IPS mengidentifikasi masalah yang berkaitan
prestasi belajar IPS siswa kelas IX-E
SMPN 1 Dolopo Kabupaten Madiun Tahun pelajaran 2017/2018 semester Genap dan mendiskusikan cara yang efektif
untuk meningkatkan prestasi belajar.
2.
Peneliti
dan guru mata pelajaran IPS merumuskan
permasalahan, secara operasional dan relevan dengan rumusan masalah penelitian.
3.
Merumuskan
hipotesis tindakan yang lebih menitikberatkan pada model pembelajaran kooperatif
dengan “TUSE” yang dirumuskan berdasarkan kondisi siswa dan proses pembelajaran
yang mungkin mengalami perubahan sesuai dengan kondisi di lapangan. Menetapkan
dan merumuskan rancangan tindakan yang meliputi:
a. Menetapkan
indikator-indikator desain / strategi pembelajaran yang berupa model
pembelajaran kooperatif.
b. Memilih
media dari buku-buku referensi, menyiapkan alat-alat yang dibutuhkan berupa LCD ,
puzle, menyiapkan gambar-gambar, sebagai sarana pendukung dalam proses
pembelajaran.
c. Menyusun model pembelajaran dan alat perekam data yang
berupa tes, catatan lapangan, pedoman analisis, dokumen dan jurnal harian.
d. Menyusun
pengolahan data yang bersifat kualitatif maupun kuantitatif.
Prosedur
penelitian tindakan kelas di SMPN 1 Dolopo Kabupaten Madiun didasarkan pada
permasalahan yang muncul dalam pembelajaran IPS
Dilaksanakan dalam dua putaran, tiap-tiap putaran dilaksanakan sesuai
dengan pembahasan
yang ingin dicapai seperti yang sudah didisain dalam faktor-faktor yang
diselidiki.
Secara
rinci prosedur penelitian ini dapat dijabarkan dalam uraian berikut ini :
1.
Perencanaan
Pada
tahap perencanaan ini langkah-langkah yang dilaksanakan oleh peneliti adalah
sebagai berikut :
a.
Mengidentifikasi
masalah yang ada pada proses pembelajaran IPS
di kelas
b. Menganalisis
masalah dan menentukan faktor-faktor yang diduga sebagai penyebab.
c.
Memilih
tindakan pemecahan masalah.
d.
Merancang
model tindakan kelas.
e. Mengatur
langkah-langkah yang akan dilakukan.
f.
Menyusun jadwal kegiatan yang akan dilakukan sebagai berikut:
2.
Persiapan
Tindakan
Langkah-langkah
persiapan tindakan yang akan dilaksanakan meliputi :
a. Menyusun
Silabus Mata Pelajaran IPS .
b.
Membuat
Rencana Pelaksanaan
Pembelajaran yang
menarik, sesuai dengan rencana tindakan yang akan dilakukan.
c.
Mempersiapkan
fasilitas dan sarana pendukung
seperti alat-alat untuk menunjang pembelajaran kooperatif, gambar-gambar, dan
media yang dibutuhkan
d.
Mempersiapkan
instrumen penelitian yang diperlukan seperti format pengamatan, angket, tes.
3.
Pelaksanaan
Tindakan
Pelaksanaan
tindakan dilaksanakan sesuai dengan langkah-langkah yang tertuang dalam
skenario pembelajaran yang telah disusun. Sedangkan observasi adalah upaya
untuk merekam atau memantau semua peristiwa dan kegiatan yang terjadi dalam
proses pembelajaran.
4.
Refleksi
Data-data
yang berhasil dikumpulkan melalui observasi pada tahap ini dianalisis.
Berdasarkan hasil observasi tersebut, peneliti dapat merefleksikan tentang
proses pembelajaran yang telah dilakukan. Dengan demikian peneliti akan
mengetahui efektifitas kegiatan pembelajaran yang dilakukan.
Metode Pengumpulan Data
Penelitian
ini, disamping menggunakan metode yang tepat, juga memerlukan teknik dan alat
atau instrumen pengumpul data yang relevan. Penggunaan alat dan teknik
pengumpulan data yang tepat memungkinkan diperolehnya data yang obyektif.
Beberapa jenis instrumen yang digunakan untuk mendukung penelitian ini, antara
lain :
1.
Lembar
Observasi Siswa
Instrumen
ini berupa daftar cek (chek list), yaitu pencatatan data dengan I menggunakan
sebuah daftar yang memuat nama observer, dan jenis gejala yang diamati. Gejala
yang diamati meliputi keaktifan siswa dalam berpendapat, mengemukakan pendapat,
disiplin, keberanian bertanya, dapat bekerjasama dalam kelompok, rajin
mengerjakan tugas dan sebagainya pada saat pelaksanaan pembelajaran dengan
“TUSE”.
2.
Angket
Angket
adalah alat untuk mengumpulkan data yang bempa daftar pertanyaan disertai
dengan pilihan jawaban yang disampaikan kepada responden dalam hal ini siswa
untuk dijawab secara tertulis. Angket dalam penelitian ini digunakan untuk
mengukur minat siswa terhadap mata pelajaran IPS yang menggunakan model pembelajaran
kooperatif
3.
Tes
Tes
adalah seperangkat rangsangan (stimuli) atau latihan yang digunakan untuk
mengukur keterampilan, pengetahuan, intelegensi, kemampuan atau bakat yang
dimiliki oleh siswa. Tes yang dilaksanakan pada penelitian ini tes tertulis
bentuk uraian.
Analisis
data dilakukan secara deskriptif kualitatif berdasarkan hasil pengamatan
terhadap prestasi belajar dengan langkah-langkah sebagai berikut:
1. Melakukan
reduksi data, yaitu mengecek dan mencatat kembali data-data yang telah
dikumpulkan.
2.
Melakukan
interpretasi data, yaitu menafsirkan data yang diwujudkan dalam bentuk
pemyataan.
3.
Melakukan
iferensi, yaitu menyimpulkan data apakah dalam proses pembelajaran ini terjadi
peningkatan hasil belajar atau tidak.
4.
Tahap
tindak lanjut, yaitu merumuskan langkah-langkah perbaikan untuk siklus
berikutnya atau dalam pelaksanaan di lapangan setelah siklus berakhir
berdasarkan inferensi yang telah ditetapkan.
5. Penarikan
kesimpulan, verifikasi, dan refleksi. Data yang diperoleh dicari pola, hubungan
atau hal-hal yang sering timbul dari data tersebut kemudian dihasilkan simpulan
sementara yang disebut dengan temuan peneliti. Penarikan simpulan dilakukan
terhadap temuan peneliti yang berupa indikator-indikator yang selanjutnya
dilakukan refleksi sehingga memperoleh simpulan akhir.
Sebagai
standar ketuntasan belajar digunakan patokan yang ditetapkan yaitu sebesar 80%
secara individual dan ketuntasan secara klasikal sebesar 85%.
Kriteria
penilaian dalam menganalisis pelaksanaan proses pembelajaran dengan indikator
sebagai berikut :
1.
Tes
hasil belajar dengan indicator :
a)
Nilai
tes
b)
Nilai
aktivitas belajar
c)
Nilai
hasil tugas
2. Aktivitas
belajar siswa dengan indicator :
a)
Aktivitas
siswa selama proses pembelajaran.
b)
Aktivitas
keberanian siswa dalam diskusi, kreativitas dalam proses pembelajaran, dan
mengkomunikasikan hasil pekerjaannya kepada temannya.
3.
Sifat
kritis, terbuka siswa selama proses pembelajaran:
a)
Usaha
mencari informasi melalui sumber belajar dan diskusi.
b)
Kesungguhan
mengikuti kegiatan pembelajaran.
c)
Kesungguhan
mengerjakan tugas.
d)
Ketepatan
menyelesaikan tugas (tepat waktu)
Klasifikasi penilaian
aktivitas belajar dan prestasi hasil belajar adalah sebagai berikut
91
– 100 :
Sangat Baik
75
– 90 : Baik
60
– 74 : Cukup
40
– 59 : Kurang
>
40 :
Kurang Sekali
Hasil Penelitian
Berdasarkan
data pengamatan setelah diberi tindakan I pada siklus I peneliti dapat
mengungkapkan perubahan yang terjadi pada siswa. Perubahan tersebut di
antaranya :
a. Pada
siklus yang pertama, proses pembelajaran dikondisikan dengan menerapkan model
pembelajaran kooperatif dengan “TUSE”
b. Pada
awal proses pembelajaran ini siswa tampak masih kurang serius, karena terkesan
hanya bermain.
c. Dengan
diberlakukannya model pembelajaran kooperatif dengan “TUSE” dalam kelompok,
dalam proses pembelajaran dengan model pembelajaran tersebut
mengharuskan siswa berperan secara aktif, sebagian besar masih /terlihat enggan
dalam mencari informasi untuk menjawab permasalahan yang menjadi bagiannya,
siswa kurang serius dan menganggap proses pembelajaran yang tengah berlangsung
terkesan main- main.
d. Pada
saat menjawab pertanyaan, sebagian besar siswa enggan untuk menjawab
pertanyaan, kualitas jawaban masih rendah.
Secara
keseluruhan proses pembelajaran dengan model pembelajaran kooperatif dengan “TUSE”
di kelas IX-E SMPN 1 Dolopo Kabupaten Madiun tahun pelajaran 2017/2018
semester Genap mata pelajaran IPS dapat dipaparkan sebagai berikut:
|
No
|
Aspek
|
Skor
|
|
|
Maks
|
Didapat
|
||
|
1.
|
bertanya
|
6
|
3.97
|
|
2.
|
menjawab
|
6
|
3.81
|
|
3.
|
menanggapi
|
4
|
2.42
|
|
4.
|
presentasi
|
4
|
2.26
|
|
Jumlah
|
20
|
12.46
|
|
Untuk nilai
hasil belajar pada siklus pertama nilai yang berhasil dicapai oleh siswa kelas IX-E
SMPN 1 Dolopo Kabupaten Madiun dapat dilihat pada tabel 2 berikut ini :
Tabel 2 : Daftar Nilai Tes Siklus I
|
No
|
Aspek
|
Nilai
|
|
1.
|
Skor Tertinggi
|
90
|
|
2.
|
Skor Terendah
|
60
|
|
3.
|
Rata-Rata Skor
|
77.10
|
|
4.
|
Prosentase Ketuntasan
|
58.06
|
Dari hasil pengamatan pada
aktivitas belajar siswa dapat peneliti sajikan sebagai berikut:
Tabel 3 Daftar
Nilai Aktivitas Belajar Siswa Kelas IX-E SMPN 1 Dolopo Kabupaten Madiun Siklus
II
|
No
|
Aspek
|
Skor
|
|
|
Maks
|
Didapat
|
||
|
1.
|
bertanya
|
6
|
5.03
|
|
2.
|
menjawab
|
6
|
5.10
|
|
3.
|
menanggapi
|
4
|
3.32
|
|
4.
|
presentasi
|
4
|
3.61
|
|
Jumlah
|
20
|
17.06
|
|
Untuk nilai hasil belajar pada siklus
kedua ini nilai yang berhasil dicapai oleh siswa kelas IX-E SMPN 1 Dolopo
Kabupaten Madiun I dapat dilihat pada tabel 4 berikut ini:
Tabel 4 Daftar Nilai Tes Siklus II
|
No
|
Aspek
|
Nilai
|
|
1.
|
Skor Tertinggi
|
90
|
|
2.
|
Skor Terendah
|
70
|
|
3.
|
Rata-Rata Skor
|
81.94
|
|
4.
|
Prosentase Ketuntasan
|
87.10
|
Kesungguhan
siswa dalam mengerjakan tugas yang diberikan guru dengan baik. Hal ini dapat
dilihat dari nilai tugas yang menunjukkan bahwa 24 siswa (77.42%)
tidak mengerjakan tugas dengan baik yang dibuktikan pada perolehan nilai 5-6,
sedangkan 7 siswa (22.58%)
memperoleh nilai 7. Nilai rata-rata yang diperoleh pada putaran pertama
6.00. Pada putaran yang kedua diperoleh
hasil yang cukup memuaskan, yang ditunjukkan dengan tidak adanya siswa yang
memperoleh nilai 6 sedangkan siswa memperoleh nilai 7 hanya 4 siswa atau 12,90%.
Kesimpulan
Berdasarkan
hasil penelitian dengan menggunakan model pembelajaran kooperatif dengan “TUSE”
terhadap 31 siswa kelas IX-E SMPN 1
Dolopo Kabupaten Madiun Tahun Pelajaran 2017/2018 pada mata
pelajaran IPS dapat ditarik kesimpulan
sebagai berikut:
”Dengan
menggunakan model pembelajaran kooperatif dengan “TUSE” dapat meningkatkan prestasi belajar IPS siswa kelas IX-E SMPN 1 Dolopo Kabupaten
Madiun Tahun Pelajaran 2017/2018 Semester Genap ”
DAFTAR PUSTAKA
Basrowi, Sukidin, Suranto. 2002. Manajemen Penelitian Tindakan Kelas. Surabaya: Insan Cendekia.
Depdiknas. 2007. Kurikulum
Tingkat Satuan Pendidikan Mata pelajaran IPS
SMP. Jakarta: Depdiknas.
Gunawan, Adi W. 2003. Genius
Learning Strategy. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama.
Hamalik, Oemar. 2002. Psikologi
Belajar Mengajar. Bandung: Sinar Baru Algesindo.
Karli, Hilda. (2003). Head
Hand Heart 3H dalam Kurikulum Berbasis Kompetensi. Bandung: Bina Media
Informasi.
Meier, Dave. 2005. The
Accelerated Learning. Bandung: Kaifa.
Mulyasa, Enco. 2002. Kurikulum
Berbasis Kompetensi. Bandung: Rosdakarya.
Mulyati. 2005. Psikologi
Belajar. Yogyakarta: Audi Offset.
Nur, Muhamad. 2000. Pengajaran
Berpusat Pada Siswa dan Pendekatan Konstruktivis Dalam pengajaran.
Surabaya: Universitas Negeri Surabaya.
Nurhadi.2002. Pendekatan
Kontekstual. Jakarta: Depdiknas.
Puskur. 2002. Kurikulum
Berbasis Kompetensi Mata Pelajaran Pengetahuan Sosial. Jakarta: Balitbang
Depdiknas.
Sudjana, Nana. 2002. Penilaian
Hasil Proses Belajar Mengajar. Bandung: Rosdakarya.
Sanjaya Wina. 2007. Strategi
Pembelajaran Berorientasi Standar Proses Pendidikan. Jakarta: Kencana
Prenada Media.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar