MENINGKATKAN PRESTASI
BELAJAR IPS MELALUI METODE STAD
(STUDENT TEAM ACHIEVEMENT
DIVISION) SISWA KELAS II SDN NGETREP KECAMATAN JIWAN KABUPATEN MADIUN TAHUN
PELAJARAN 2017/2018
![]() |
Oleh : UMI MALIKATI,
S.Pd.,
Guru SDN Ngetrep Kecamatan Jiwan
Kabupaten Madiun
|
ABSTRAK
Kata kunci : Meningkatkan Prestasi Belajar IPS, Metode STAD (Student Team Achievement Division)
Masalah siswa yang sampai
sekarang dihadapkan pada kemerosotan moral karena tidak adanya penuntun moral
walaupun pendidikan moral dan ajaran agama diajarkan akan tetapi tidak
menyentuh pada perilaku psikomotorik yang seharusnya dijadikan ukuran
pendidikan.
Berdasarkan
hal tersebut maka perlu ditetapkan metode pembelajaran yang sesuai pada setiap
kompotensi dasar agar bisa memotivasi siswa dan meningkatkan pemahaman terhadap
kesiapan dan ketuntasan belajar pada mata pelajaran IPS siswa SDN Ngetrep
Kecamatan Jiwan Kabupaten Madiun. Salah satu metode yang dapat dipergunakan sebagai alternatif dalam
membangkitkan minat dan ketuntasan belajar IPS adalah metode Student Team Achievement Division (STAD). Dengan adanya
permasalahan diatas guru membuat sebuah penelitian dengan judul : Meningkatkan Prestasi Belajar IPS Melalui Metode Stad (Student Team Achievement
Division) Siswa Kelas II SDN Ngetrep Kecamatan Jiwan Kabupaten Madiun Tahun
Pelajaran 2017/2018.
Rumusan
masalah dalam penelitian tindakan kelas ini adalah: Adakah peningkatan Prestasi Belajar IPS Melalui Metode STAD (Student Team Achievement
Division) Siswa Kelas II SDN Ngetrep Kecamatan Jiwan Kabupaten Madiun Tahun
Pelajaran 2017/2018 .
Metode
penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah penelitian tindakan
kelas. Dalam penelitian ini peneliti
berkolaborasi dengan guru lain serta dengan kepala sekolah. Peneliti
terlibat langsung dalam penelitian mulai dari awal sampai penelitian berakhir.
Peneliti berusaha melihat, mengamati, merasakan, menghayati, merefleksi dan
mengevaluasi kegiatan pembelajaran yang berlangsung. Tahap-tahap pelaksanaan
penelitian tindakan terdiri dari perencanaan (planning), pelaksanaan (acting),
observasi (observing), dan refleksi (reflecting). Untuk mendapatkan hasil penelitian yang
akurat maka data yang telah terkumpul dianalisis secara statistik yaitu menggunakan rumus
mean.
Dari
hasil pelaksanaan dan pengamatan siswa dan guru cenderung lebih baik setiap nilai rata-rata siklus I 70 (66.67%) dan Siklus II 75 (91.67%), maka dapat disimpulkan
bahwa ; Ada peningkatan Prestasi Belajar IPS Melalui
Metode Stad (Student Team Achievement Division) Siswa Kelas II SDN
Ngetrep Kecamatan Jiwan Kabupaten Madiun Tahun Pelajaran 2017/2018”.
Latar Belakang Masalah
Setiap manusia ingin mengembangkan
dirinya menjadi insan yang berpotensi dan berkualitas tentu mempunyai tujuan
hidup yang diharapkan. Keinginan, harapan, cita-cita, hasrat, dan minat selalu
mewarnai kehidupan yang selanjutnya akan mendorong seseorang untuk melakukan
berbagai aktivitas dan akan meningkatkan kemampuan berfikir dan berkreasi.
Minat adalah faktor yang penting dalam suatu usaha atau kegiatan manusia yang
sangat subjektif, dimana minat sebagai aspek psikis manusia mempunyai potensi
besar untuk mencapai tujuan tertentu.
Fuad
hasan (1981:64) mengatakan “Minat adalah adanya intensitas perhatian yang
tinggi seseorang terhadap suatu hal, peristiwa, keadaan barang atau benda”.
Sedangkan As’ad (1987:4) menyatakan: Minat adalah sikap yang membuat senang
akan objek situasi atau ide ide tertentu, Hal ini diikuti oleh rasa senang dan
kecenderungan untuk mencari objek yang disenangi itu. Pola-pola minat seseorang
merupakans alah satu faktor yang menentukan kesesuaian orang dengan
pekerjaannya. Minat orang terhadap jenis pekerjaan berbeda-beda. Tingkat
prestasi kerja seseorang ditentukan oleh perpaduan antara minat dan bakat.
Soetimah
(1978:71) mengartikan minat sebagai berikut: Minat adalah kesadaran seseorang,
bahwa sesuatu objek atau situasi mengandung sangkut paut dengan dirinya.
Rupa-rupa minat harusdipandang sebagai sambutan yang sadar, sebab kalau tidak
demikian minat tidak berarti apa-apa.
Sedangkan
minat menurut Effendi (1976:71): Minat itu timbul apabila individu tertarik
kepada sesuatu, karena sesuatu itu dirasakan sangat bermakna bagi dirinya.
Sebab sangat penting peranannya dalam pendidikan, sebab merupakan sumber
motivasi. Minat akan timbul dari individu sebagai kebutuhan akan merupakan
suatu pendorong bagi individu tersebut dalam melakukan berbagai usaha.
Berdasarkan
definisi di atas, maka dapat dikatakan bahwasanya ada kesamaan pendapat yang
menetapkan minat sebagai gejala psikis. Dan pendapat-pendapat itu dapat
ditentukan beberapa unsure yang mempengaruhi minat antara lain perhatian,
kesadaran individu, kekuatan motif dan harapan serta perasaan senang yang
membuat individu itu cenderung berhubungan lebih aktif lagi terhadap objek yang
menjadi perhatiannya.
Minat
secara umum diartikan sebagai suatu keadaan mental yang menghasilkan respon
terarah pada situasi atau ojek tertentu, yang menyenangka dan memberikan objek
kepuasan kepadanya. Dengan demikian minat dapat menimbulkan dan merupakan sikap
yang menunjukkan suatu kesiapan berbuat bila ada situasi khusus yang sesuai
dengan keadaan mental seseorang Cony Semiawan (1982). Minat menyangkut
aktivitas-aktivitas yang dipeilih secara bebas oleh individu, Doyles Frayer
dalam Nurkancana (1986:229) mengemukakan bahwa minat atau interes adalah gejala
psikis yang berkaitan dengan objeka tau aktivitas yang menstimulis perasaan.
Dengan demikian minat senantiasa erat hubungannya dengan perasaan, individu,
aktifitas, dan situasi.
Bagi pelaku atau pemerhati
pendidikan, tentu saja hal tersebut mendorong untuk melibatkan diri dalam
mencari sekaligus mencari formulasi apa yang dapat dijadikan alternatif
pengelolaan pendidikan. Metode yang tepat guna yang mengandung
nilai-nilai intrinsik dan ekstrinsik
sejalan dengan materi pelajaran dan secara fungsional dapat dipakai untuk
merealisasikan nilai-nilai ideal yang terkandung dalam tujuan pendidikan
Sebagai
salah satu komponen operasional dalam ilmu pendidikan, metode harus mengandung
potensi yang bersifat mengarahkan materi pelajaran kepada tujuan pendidikan
yang hendak dicapai melalui proses tahap demi tahap, baik dalam kelembagaan
formal, nonformal ataupun informal. Dengan demikian menurut pendidikan, suatu
metode yang baik adalah memiliki waktu dan relevansi dengan tujuan pendidikan .
Akibat
semua konsep dari permasalahan guru terhadap proses belajar mengajar adalah
motivasi rendah, pehatian tugas pokok terabaikan dan secara tidak langsung
proses belajar mengajar tidak menarik dan tidak membangkitkan daya kritis
siswa.
Masalah
siswa yang sampai sekarang dihadapkan pada kemerosotan moral karena tidak
adanya penuntun moral walaupun pendidikan moral dan ajaran agama diajarkan akan
tetapi tidak menyentuh pada perilaku psikomotorik yang seharusnya dijadikan
ukuran pendidikan.
Berdasarkan hal tersebut maka perlu ditetapkan
metode pembelajaran yang sesuai pada setiap kompotensi dasar agar bisa
memotivasi siswa dan meningkatkan pemahaman terhadap kesiapan dan ketuntasan
belajar pada mata pelajaran IPS siswa SDN Ngetrep Kecamatan Jiwan Kabupaten
Madiun. Salah satu metode yang dapat dipergunakan sebagai
alternatif dalam membangkitkan minat dan ketuntasan belajar IPS adalah metode Student Team Achievement Division (STAD). Dengan
adanya permasalahan diatas guru membuat sebuah penelitian dengan judul : Meningkatkan Prestasi Belajar IPS
Melalui Metode Stad (Student Team
Achievement Division) Siswa Kelas II SDN Ngetrep Kecamatan Jiwan
Kabupaten Madiun Tahun Pelajaran 2017/2018.
Identifikasi Masalah
1.
Apakah metode Student Team - Achievement Division (STAD) berpengaruh terhadap
peningkatan minat belajar IPS pada siswa SDN Ngetrep Kecamatan Jiwan Kabupaten
Madiun ?
2.
Apakah penggunaan metode kooperatif
STAD dapat meningkatkan motivasi dan ketuntasan belajar IPS pada kompetensi dasar memelihara dokumen dan
koleksi benda berharga miliknya?
3.
Apakah metode STAD lebih mengefektifkan
pengelolaan kelas, sehingga prestasi belajar IPS meningkat?
4.
Apakah penggunaan metode STAD dapat
memotifasi guru untuk mengembangkan metode lain pada kompetensi yang lain?
Rumusan Masalah
“Adakah peningkatan prestasi belajar IPS melalui metode STAD (Student Team Achievement Division) siswa
Kelas II SDN Ngetrep Kecamatan Jiwan Kabupaten Madiun tahun pelajaran 2017/2018?”.
Tujuan Penelitian
1.
Meningkatkan peran aktif siswa dalam
proses belajar mengajar.
2.
Meningkatkan ketuntasan belajar IPS
siswa melalui metode pembelajaran STAD pada kompetensi dasar memelihara dokumen
dan koleksi benda berharga miliknya.
3.
Memotifasi guru untuk mengembangkan
metode pembelajaran pada setiap kompetensi dasar
4.
Menjadikan pembelajaran pada kompetensi
dasar memelihara dokumen dan koleksi benda berharga miliknya melalui STAD agar
mempunyai makna.
Manfaat Hasil Penelitian
1. Bagi Siswa
a.
Siswa lebih berperan aktif dalam proses
pembelajaran
b.
Malatih siswa untuk saling menghargai
sesama siswa yang lain
c. Meningkatkan hasil belajar IPS
2. Bagi Guru
a.
Memperkaya wawasan pembelajaran dalam
proses pembelajaran
b.
Meningkatkan ketepatan pemilihan model
pembelajarn dalam proses pembelajaran
c.
Memperoleh seperangkat pengalaman dalam
inovasi pembelajaran untuk meningkatkan
profesionalitas guru.
Kajian Pustaka
Mutu Pembelajaran
Pembelajaran
mengandung arti suatu kegiatan yang dilakukan guru dan siswa secara
bersama-sama. Dalam konsep pembelajaran dengan pendekatan konsep guru berperans
sebagai fasilitator dan siswa sebagai subjek belajar.
Sebagai
fasilitator guru berperan memberi kemudahan siswa untuk memperoleh kemampuan
tertentu sesuai dengan rumusan tujuan yang telah direncanakan. Siswa secara
aktif untuk membangun pengetahuannya dengan sedikit mungkin bantuan guru.
Indikator keberhasilan pembelajaran yang efektif dan bermakna adalah bila
proses pembelajaran dapat memberikan keberhasilan dan kepuasan baik bagi siswa
maupun guru.
Dalam peraturan pemerintah No 29 Tahun 1990 tentang
Pendidikan menengah, Pasal 20 ayat (1) menyebutkan: “ Penilaian kegiatan dan
memajukan belajar siswa dilakukan untuk mengetahui hasil belajar dan membantu
perkembangan siswa”. Dari pasal di atas nampak dengan jelas bahwa hasil
penilaian harus dapat digunakan untuk membina dan memberikan dorongan semua
siswa dalam meningkatkan hasil belajar. Karena itu hasil belajar harus
dinyatakan dan dapat dirasakan sebagai
penghargaan bagi siswa yang berhasil dan sebaliknya merupakan peringatan
bagi siswa yang kurang atau tidak berhasil.
Selain itu hasil yang dicantumkan dalam raport dapat
dijadikan bahan pertanggung jawaban kepada orang tua siswa yang telah memberi
kesempatan untuk memperoleh pendidikan.
Dalam setiap
proses pembelajaran diketemukan berbagai masalah yang bermuara pada rendahnya
prestasi siswa. Tindakan perbaikan mutlak adanya dan mungkin telah dilakukan
oleh guru dengan jalan bertabya kepada sejawat atau sesama guru dan mengkaji
pedoman yang sudah ada seperti kurikulum, GBPP dan lain-lain.
Menurut Natawijaya
(1999), Penelitian tindakan kelas (PTK) atau class room action research adalah
sebagai bentuk kajian bersifat reflektif oleh pelaku tindakan, yang dilakukan
untuk meningkatkan kemantapan rasional dari tindakan-tindakan yang dilakukan
itu, serta memperbaiki kondisi dimana praktek-praktek pembelajran tersebut
dilakukan.
Fungsi dan
peranan Penelitian Tindakan kelas (PTK)
a.
Meningkatkan kerja sama antar guru,
terutama guru antar mata pelajaran.
b.
Saling bertukar pikiran dan berdiskusi
mengenai masalah-masalah pembelajaran yang dihadapi bersama.
c.
Menjadi sarana komunikasi dan kolaborasi
antara guru sebidang studi.
Penilaian proses dan hasil
belajar bertujuan untuk menentukan tingkat ketercapaian tujuan pendidikan dan
atau tujuan pembelajaran yang telah diterapkan dalam kutrikulum Garis-Garis
Besar Program Pengajaran atau dalam perangkat perencanaan kegiatan pembelajaran
lainnya (Buku Petunjuk Pelaksanaan Penilaian Kurikulum SMP, 1994).
Dari tujuan penilaian yang telah dikemukakan
di atas maka dapat kita kemukakan beberapa fungsi penilaian:
a.
Sebagai pedoman untuk mengetahui apakan
anak didik terdapat kemajuan atau sebaliknya.
b.
Sebagai alat untuk mengetahui penguasaan
siswa terhadap meteri pelajaran yang telah diberikan guru.
c.
Sebagai alat untuk memberi motivasi belajar
anak didik, siswa yang mendapat angka kurang supaya lebih giat belajar,
sedangkan siswa yang mendapat angka baik supaya berusaha mempertahankan.
d.
Sebagai bahan laporan pada orang tua
siswa yang telah mempercayakan pendidikan anaknya kepala sekolah yang berbentuk laporan
pendidikan.
e.
Sebagai alat seleksi, misalnya siapa
yang dapat naik kelas dan tidak dapat naik kelas, pengajuan beasiswa, pengajuan
siswa teladan dsb.
Dari uraian
tersebut penilaian fungsinya sangat tinggi baik bagi anak didik, guru, maupun
orang tua, karena melalui penilaian akan mudah diketahui perkembangan siswa
maupun pencapaian sasaran pendidikan.
Prinsip-Prinsip
Penilaian
Ada sejumlah
prinsip yang harus diperhatikan dalam kegiatan penilaian sehubungan dengan
fungsinya sebagai alat penyempurnaan kegiatan belajar, penentuan kenaikan kelas
dan pelulusan, penempatan seleksi maupun motivasi melalui prinsip berikut:
a. Menyeluruh
Perubahan perilaku yang telah diterapkan dalam tujuan
pembelajaran perlu dicapai secara menyeluruh baik yang menyangkut pengetahuan,
sikap perilaku, dan nilai serta ketrampilan. Penilaian baru bersifat menyeluruh
apabila penilaian yang digunakan mencakup aspek proses dan hasil belajar yang
bertahap menggambarkan perubahan perilaku. Berkaitan dengan bahan pelajaran,
penilaian menyeluruh berarti bahan kajian yang dicakup oleh alat penilaian
dapat mewakili seluruh bahan pelajaran yang dipelajari siswa.
b. Berkesinambungan
Penilaian dilakukan secara berencana, betahap dan terus
menerus untuk memperoleh gambaran tentang perkembangan hasil belajar siswa sebagai hasil kegiatan belajar mengajar.
c. Berorientasi pada tujuan
Hasil belajar siswa yang diharapkan dicapai dalam kegiatan
belajar mengajar suatu mata pelajaran yan telah dirumuskan dalam bentuk tujuan
pengajaran pada garis-garis besar program pengajaran untuk pelajaran
bersangkutan. Oleh karen itu, penilaian harus dapat menentukan sejauh
mana siswa telah mencapai tujuan pelajaran tersebut.
d. Objektif
Penilaian harus dapat
menghindari sifat subjektifitas sehingga
menggambarkan aspek-aspek yang sebenarnya hendak diukur. Hasil penilaian harus dapat
mencerminkan tingkat keberhasilan siswa sebenarnya.
e. Terbuka
Proses hasil penilaian perlu
diketahui dan diterima oleh semua pihak terkait (siswa, orang tua, masyarakat
dan sekolah)
f. Kebermaknaan
Hasil penilaian harus memiliki kebermaknaan bagi orang yang
menggunakannya, bagi guru, hasil penilaian selain bermakna dan berguna untuk meningkatkan hasil belajar
siswa, memberikan laporan hasil belajar siswa, juga bermakna berguna bagi dirinya
sendiri. Sebagai umpan balik untuk perbaikan proses belajar
mengajar. Sementara untuk memperbaiki atau meningkatkan cara belajarnya.
g. Kesesuaian
Penilaian harus sesuai dengan pendekatan kegiatan belajar
mengajar yang diikuti dalam pelaksanaan kurikulum digunakan pendekatan
eksperimen maka kegiatan melakukan percobaan harus menjadi salah satu aspek
yang dinilai. Apabila pendekatan ketrampilan proses digunakan maka
ketrampilan proses juga harus menjadi objek yang harus dinilai.
h. Mendidik
Hasil penilaian harus dapat digunakan umtuk membina dan
memberikan dorongan kepada semua siswa dalam meningkatkan hasil belajar, Karen
itu, hasil penilaian harus dinyatakan dan dapat dirasakan sebagai penghargaan
bagi siswa yang berhasil atau sebaliknya merupakan peringatan bagi siswa yang
tidak berhasil. Selain itu hasil penilaian yang dicantumkan dalam raport dapat
dijadikan sebagai bahan pertanggungjawaban siswa kepada orang tua yang telah
memberikan kesempatan untuk memperoleh pendidikan. Dengan demikian
usaha penilaian dapat memperkuat perilaku dan sikap yang positif.
Minat Belajar
Minat seseorang ditinjau dari awal mulanya dapat
dibedakan menjadi dua. Pertama minat yang berasal dari pembawaan, kedua minat
yang muncul karena pengeruh dari luar.
Minat sering tumbuh karena adanya bakat, yang merupakan aspek pembwaaan
, sehingga dapat disimpulkan bahwa minat tertentu berasal dari pembawaan. Minat
juga dapat tumbuh melaui proses panjang karena pengaruh lingkungan dan
kebutuhan.
Minat seseorang dapat pula tumbuh karena motifatau
insentif. Perbuatan atau tingkah laku seseorang dapat didorong dengan memberi
insentif –insentif. Berdasarkan ketahanan minat yang dibangkitkan oleh motif
lebih kuat daripada minat yang dibangkitkan oleh insentif.
Ada tujuh ciri minat yang dikemukakan
oleh Hurlock (1990:155), yaitu:
a.
Minat tumbuh bersamaan dengan
perkembangan fisik dan mental. Minat di semua bidang berubah selama terjadi
perubahan fisik dan mental.
b.
Minat bergantung pada persiapan belajar,
seseorang tidak akan mempunyai minat sebelum mereka siap secara fisik dan
mental.
c.
Minat bergantung kepada kesempatan
minat. Dengan bertumbuhnya lingkungan sosial seseorang menjadi terkait pada
minat orang diluar yang mereka kenal.
d.
Perkembangan minatmungkin terbatas.
Ketidak mampuan fisik mental secara pengalaman sosial yang terbatas membatasi
seseorang.
e.
Minat dipengaruhi oleh pengaruh budaya
yang ada pada sekitar orang tersebut hidup dan berinteraksi dengan masyarakat
yang ada di sekelilingnya.
f.
Minat berobot emosional. Bobot emosional
aspek avektif dari minat menentukan kekuatan minat tersebut.
g. Minat dan egosentris.
Aspek-Aspek Minat
Menurut Hurlock (1990:16) minat mempunyai dua aspek
yaitu aspek kognitif dan aspek avektif. Aspek kognitif didasarkan pada konsep
yang dikembangkan individu mengenai bidang yang berkaiatan dengan minat. Karena
minat cenderung egosentris aspek kognitif berdasarkan pada pernyataan apa saja
keuntunga kad prbadi yang diperoleh dari minat itu.
Konsep yang membangun aspek kognitif minat
didasarkan atas pengalaman pribadi dan apa yang dipelakjari dirumah, disekolah,
dan di masyarakat, serta berbagai jenis media masa.
Aspek afektif atau bobot emosional konsep yang
membangun aspek koginitf minat dinyatakan dengan sikap kegiatan yang
ditimbulkan dari minat itu.
Seperti yang telah dikemukakan ke depan, minat
secara umum diartikan sebagai suatu keadaan mental yang menghasilkan respon
terarah kepada situasi atau objek tertentu yang menyenangkan dan memberikan
kepuasan kepadanya. Dengan demikian minat dapat menumbuhkan dan merupakan sikap
yang menunjukkan suatu kesiapan bila da sitiasi khusus yang sesuai dengan
keasaan mental seseorang.
Dari pendapat dan uraian diatas dikatakan bahwa
spek-aspek minat adalah aspek kognitif yang dekat dengan keadaan mental
seseorang yang dapat menimbulkanrespon terendah dan menimbulkan sikap yang
sudah masuk pada aspek afektif.
Pentingnya
pengukuran Minat
Menurut Nurkancana (1986:230-231) terdapat beberapa
alasan mengapa seorang guru perlu mengadakan pengukuran minat. Alasan tersebut
adalah:
a. Untuk meningkatkan minat
Setiap guru mempunnyai kewajiban
untuk meningkatkan minat anakdidik. Minat merupakan komonen yang penting dalam
kehidupan pada umumnya dan daam pendidikan dan pengajaran khususnya.
b.
Memelihara Minat yang baru timbul
Apabila anak-anak menunjukkan
minat yang kecil, maka merupakan tugas bagi guru untuk memelihara minat
tersebut. Anak yang baru masuk ke suatu sekolah mungkin belumbegitu banyak
menaruh minat pada aktivitas-aktivitas tertentu. Dalam hal ini guru wajib
memperkenalkan aktifitas-aktifitas tersebut pada anak, apanila nak menunjukkan
minatnya maka guru wajib memelihara minat anak yang baru tumbuh tersbut.
c.
Mencegah timbulnya minat terhadap
hal-hal yang kurang baik.
Oleh karena sekolah merupakan
lembaga yang menyiapkan anak untuk hidup dalam masyarakat, maka sekolah harus
mengembangkan aspek-aspek ideal agar anak menjadi anggota asyarakat yang baik.
d.
Sebagai persiapan untuk memberikan
bimbingan kepada anak tentang lanjutan studi atau pekerjaan yang cocok baginya.
Walaupun minat bukan merupakan indikasi yang pasti, tentang sukses tidaknya
anak dalam pendidikan itu akan datang atau dalam jabatan, namun miinat
merupakan pertimbangan yang cukup berarti kalau dihubungkan dengan data-data
yang lain.
Metode Student Team -
Achievement Division (STAD).
Metode
Student Team Achievement Division
(STAD) adalah metode pembelajaran yang dikembangkan oleh Slavin pada tahun
1995, yang pada garis besarnya adalah
metode pembelajaran yang yang menggunakan langkah langkah sebagai
berikut:
a.
Membentuk kelompok yang anggotanya 4
siswa atau sesuai dengan keadaan kelas secara heterogen
b.
Guru menyajikan pelajaran sesuai dengan
topik bahasan
c.
Guru memberi tugas kepada kelompok untuk
dikerjakan oleh anggota-anggota kelompok. Anggota yang lebih tahu menjelaskan
kepada anggota yang lainnya sehingga semua anggota dalam kelompok itu mengerti.
d.
Guru memberi pertanyaan kepada seluruh
siswa, dan siswa tidak boleh saling membantu
e.
Memberi evaluasi berdasar materi yang
dan disesuaikan dengan kemampuan siswa.
f.
Penutup dan memberikan kesimpulan dari
materi yang telah dibahas.
Rencana Tindakan
Pada
tahap proses rencana tindakan ini, mula-mula guru mendefinisikan konsep-konsep
Memelihara dokumen dan koleksi benda berharga miliknya yang sukar dikuasai siswa.
Berdasarkan
masalah tersebut, sebagai acuan implementasi tindakan yang dipilih pada konsep
tersebut dipelajari dan diidentifikasi, kemudian guru menyusun rencana
pembelajaran. Rencana pembelajaran ini memuat :
1.
Pengalaman belajar siswa dengan konsep
kejian pustaka tentang Memelihara
dokumen dan koleksi benda berharga miliknya .
2.
Sistem pembelajaran dengan cara siswa
dibagi dalam kelompok kecil yang terdiri dari 4 orang siswa dengan salah
seorang menjadi ketua.
3.
Dalam satu kelompok tersebut diberi
permasalahan yang terkait dengan Memelihara dokumen dan koleksi benda berharga
miliknya yang mengarah pada kemampuan
dasar tertentu.
4.
Kemudian masing-masing kelompok
mengidentifikasikan permasalahan dengan sesama temanya untuk membahas materi
yang telah dipegang sesuai dengan topik yang dihadapi.
5.
Semua kelompok untuk mengungkapkan hasil
bahasannya dalam kelompok diskusi pleno kelas.
6.
Guru memberikan penekanan dan kesimpulan
pada akhir diskusi.
Hipotesis Penelitian
“Ada
Peningkatan Prestasi
Belajar IPS Melalui Metode Stad (Student Team
Achievement Division) Siswa Kelas II SDN Ngetrep Kecamatan Jiwan
Kabupaten Madiun Tahun Pelajaran 2017/2018”.
Tempat
Penelitian
Penelitian
dilaksanakan di SDN Ngetrep Kecamatan Jiwan Kabupaten Madiun tahun pelajaran 2017/2018 Semester I, dengan mengambil objek penelitian
siswa Kelas II. Penelitian
tindakan kelas ini mengambil mata pelajaran IPS.
Waktu Penelitian
Penelitian ini dilaksanakan pada tahun pelajaran
2017/2018 Semester I bulan September, Oktober dan Nopember tahun 2017.
Sampel Penelitian
Dalam penelitian ini
peneliti mengambil sampel Kelas II SDN Ngetrep dengan jumlah siswa 12 anak.
Seting
Penelitian
Penelitian dilaksanakan di SDN Ngetrep Kecamatan
Jiwan Kabupaten Madiun tahun pelajaran
2017/2018 semester I, dengan mengambil
objek penelitian siswa Kelas II. Penelitian Tindakan Kelas ini mengambil mata
pelajaran IPS.
Kondisi siswa
SDN Ngetrep Kecamatan Jiwan Kabupaten Madiun kurang lebih 70% siswa
berasal dari keluarga dengan keadaan ekonomi menengah ke atas. Kebanyakan
mereka adalah anak pegawai yang kebanyakan selalu ditinggal orang tuanya
bekerja. Dari kondisi inilah menyebabkan perhatian orang tua terhadap anak
sangatlah kurang. Kurangnya perhatian orang tua ini juga menyebabkan kurangnya
minat belajar pada siswa.
Desain
Penelitian
1. Perencanaan (Planning)
Pada
tahap ini penelitian dan guru secara kolaboratif mengadakan kegiatan sebagai berikut:
a. Mengamati teknik pembelajaran yang digunakan guru dalam
pembelajaran sebelumnya,
b. Mengidentifikasi faktor-faktor hambatan dan kemudahan yang ditemui
guru dalam pembelajaran sebelumnya,
c. Merumuskan alternatif tindakan
yang akan dilakasanakan dalam pembelajaran
sebagai upaya untuk meningkatkan kemampuan siswa dalam minat belajar
IPS, dan meningkatkan kerjasama siswa dalam pembelajaran di kelas,
d. Menyusun rancangan pelaksanaan
pembelajaran dengan teknik STAD meliputi (1) pemilihan tema bacaan dengan
benar-benar relevan dengan kehidupan sekitar siswa, menarik perhatian siswa, dan memberi wawasan
dan pengetahuan baru yang menantang kreatifitas berfikir, (2) pemilihan
prosedur yang benar-benar efektif, efisien, dan kreatif; (3) mengatur tata
letak dan tempat duduk yang dapat menimbulkan suasana aman, nyaman dan relaks,
sehingga suasana pembelajaran menjadi menyenangkan; dan (4) panduan teknik
STAD.
2.
Pelaksanaan (Acting)
Dalam tahap pelaksanaan, peran
peneliti adalah (1) merancang intervensi yang berkaitan dengan pelaksanaan
bacaan Memelihara dokumen dan koleksi benda berharga miliknya dengan metode
teknik STAD dengan cara mengkomunikasikan dan bernegosiasi dengan praktisi
(guru) sehingga diperoleh kesempatan tentang rancangan tindakan yang
direncanakan; (2) bekerja dengan praktisi dalam melaksanakan tindakan yang
direncanakan; (3) peneliti berperan sebagai pendamping praktisi (guru) untuk
memberikan pengarahan, motivasi dan stimulus agar praktisi (guru) untuk
melaksanakan perannya berdasarkan rencana.
3. Pengamatan (Observing)
Pemantauan secara menyeluruh (komperhensif) terhadap pelaksanaan
tindakan dengan menggunakan instrumen pengumpul data yang telah dibuat sehingga
diperoleh data empirik pelakasanaan tindakan pembelajaran, kendala yang
dihadapi, serta kesempatan dan peluang yang berkaitan dengan penggunaan teknik
STAD dalam pembelajaran, khususnya kemampuan Memelihara dokumen dan koleksi
benda berharga miliknya. Data tersebut dijadikan sebagai bahan untuk melakukan
refleksi.
4. Refleksi (Reflecting)
Peneliti dan praktisi
mendiskusikan hasil pengamatan tindakan yang telah dilaksanakan. Hal-hal yang
dibahas adalah (1) analisis tentang tindakan yang dilakukan; (2) mengulas dan
menjelaskan perbedaan rencana dengan pelaksanaan tindakan yang telah dilakukan;
(3) melakukan intervensi, pemaknaan dan penyimpulan data yang telah diproses,
serta melihat hubungan dengan teori dan rencana yang telah ditetapkan.
Instrumen
Penelitian
a. Lembar observasi untuk memperoleh
data secara akurat.
b.
Tes hasil belajar untuk memperoleh
tingkat keberhasilan metode pembelajaran.
Dimana keberhasilan metode ini meliputi:
1.
Keaktifan siswa dalam mengikuti kegiatan
belajar mengajar
2.
Peningkatan hasil belajar, khususnya
mata pelajaran IPS.
3.
Peningkatan minat siswa terhadap mata
pelajaran IPS khususnya pada kompetensi memelihara dokumen dan koleksi benda
berharga miliknya.
Teknik Analisis Data
Data yang diperoleh akan dianalisis dengan statistik
deskriptif secara persentase yaitu dengan menginventarisasi dan memadukan
seluruh informasi yang diperoleh dari tiap siklus. Data yang diperoleh
berdasarkan :
1. Hasil observasi keaktifan siswa
selama proses pembelajaran berlangsung.
2.
Hasil lembar pendapat dan tanggapan yang
ditulis siswa.
Agar mendapat gambaran yang jelas, maka teknik
statistik yang digunakan dengan rumus
mean (rata-rata), yaitu: M = 
Keterangan: M = Nilai rata-rata
∑ x = Jumlah nilai siswa
N = Jumlah siswa
Untuk mengetahui prosentase ketuntasan belajar dengan rumus:
Jumlah
siswa tuntas
%
ketuntasan = ------------------------ x 100
Jumlah
seluruh kelas
Hasil Penelitian
Siklus Pertama
a.
Perencanaan (Planning)
Pada tahap proses rencana
tindakan ini, mula-mula guru mengidentifikasikan konsep-konsep IPS pada
kompetensi dasar memelihara dokumen dan koleksi benda berharga miliknya yang sukar dipahami siswa.
Berdasarkan masalah tersebut,
sebagai acuan implementasi tindakan yang dipilih pada konsep tersebut
dipelajari dan diidentifikasi, maka guru menyusun rencana pembelajaran yang
memuat :
1)
Pengalaman belajar dengan konsep kajian
pustaka
2)
Sistem pembelajaran dengan cara siswa
dibagi dalam kelompok-kelompok kecil yang terdiri dari 8 orang
siswa dengan salah seorang menjadi ketua
3)
Dalam satu kelompok tersebut diberi
permasalahan yang terkait dengan pokok bahasan yang mengarah pada kemampuan
dasar tertentu dalam hal ini kompetensi dasar memelihara dokumen dan koleksi
benda berharga miliknya.
4)
Kemudian masing-masing kelompok
mengidentifikasikan permasalahan dengan sesama temanya untuk membahas materi
yang telah dipegang sesuai dengan topik yang dihadapi.
5)
Semua kelompok diminta untuk
mengungkapkan hasil pembahasannya dalam kelompok diskusi pleno kelas
6)
Guru memberikan penekanan dan kesimpulan
pada akhir diskusi terkait dengan bacaan.
b.
Pelaksanaan (Acting)
Penelitian tindakan kelas (PTK)
ini dilakukan pada saat kegiatan belajar mengajar IPS di sekolah. Hasil
Pelaksanaan pada siklus I adalah rata-rata nilai 70 dan ketuntasan belajar
66.67%
c.
Observasi (Observing)
Teknik observasi dilakukan secara
terus menerus dalam proses pembelajaran maupun pada hasil belajar. Evaluasi
dilakukan terhadap dampak dari pemberian metode STAD selama proses belajar
mengajar terhadap hasil belajar dan peningkatan minat sisiwa.
Hasil pengamatan pada siklus I :

d.
Refleksi
Adapun hasil penelitian pada
siklus I adalah sebagai berikut: Pada siklus pertama proses kegiatan belajar
mengajar tidak seperti yang diharapkan, hal ini mungkin disebabkan dari:
1. Penyebaran
anak-anak pandai tidak merata dalam setiap kelompok. Hal ini disebabkan pembagian
kelompok diatus secara acak.
2.
Jumlah kelompok pada siklus I mungkin
terlalu banyak dimana satu kelompok terdiri dari 6 siswa.
Hal ini tidak sesuai dengan teori yang diungkapkan Selvin dimana setiap
kelompok terdiri dari 4 heterogen menurut prestasi, jenis
kelamin, suku dan sebagainya.
3.
Tidak ada sarana dan prasarana penunjang
lain seperti buku paket penunjang yang sesuai sehingga kesiapan siswa kurang
baik.
4.
Tidak cukup waktu bagi siswa untuk
memahami modul atau diktat karena dibagikan secara mendadak.
Dengan asumasi kurang efektifan
dalam proses belajar mengajar yang meliputi 4 faktor tersebut, maka hal ini
diperbaiki pada siklus II.
Siklus Kedua
a.
Perencanaan
Pada tahap proses rencana
tindakan ini, mula-mula guru mengidentifikasikan konsep-konsep IPS yang sukar
dipahami siswa.
Berdasarkan masalah tersebut,
sebagai acuan implementasi tindakan yang dipilih pada konsep tersebut
dipelajari dan didentifikasi, maka guru menyusun rencana pembelajaran yang
memuat :
1)
Pengalaman belajar dengan konsep kajian
pustaka
2)
Sistem pembelajaran dengan cara siswa
dibagi dalam kelompok-kelompok kecil yang terdiri dari 4 orang siswa dengan
salah seorang menjadi ketua sama dengan pada siklus I.
3)
Dalam satu kelompok tersebut diberi
permasalahan yang terkait dengan pokok bahasan yang mengarah pada kemampuan
dasar tertentu dalam hal ini kompetensi dasar memelihara dokumen dan koleksi
benda berharga miliknya.
4)
Kemudian masing-masing kelompok
mengidentifikasikan permasalahan dengan sesama temanya untuk membahas materi
yang telah dipegang sesuai dengan topik yang dihadapi.
5)
Semua kelompok untuk mengungkapkan hasil
bahasannya dalam kelompok diskusi pleno kelas
6)
Guru memberikan penekanan dan kesimpulan
pada akhir diskusi
b. Pelaksanaan
Tindakan utama pada siklus II adalah pemberian modul tentang
bacaan untuk meningkatkan kemampuan awal
siswa dan merevisi kesalahan konsep pada siklus I, yang menyebabkan hambatan
bagi pengembangan pemahaman siswa atas konsep-konsep yang akan dipelajari.
Hasil penilaian pada siklus II
adalah rata-rata nilai 75 dan
ketuntasan belajar 91.67%
c. Observasi (Obseving).
1)
Teknik observasi dilakukan secara terus
menerus dalam proses pembelajaran maupun pada hasil belajar
2)
Keaktifan anggota kelompok dalam
menyelesaikan tugas.
3)
Peningkatan kemampuan pada setiap
kelompok.
4)
Peningkatan minat siswa terhadap mata
pelajaran IPS khusunya kompetensi dasar memelihara dokumen dan koleksi benda
berharga miliknya.
Hasil pengamatan siklus II sebagai berikut:

d. Refleksi
Pada siklus II proses kegiatan
belajar mengajar sudah lebih baik dari siklus I hal ini disebabkan
kelemahan-kelemahan pada siklus I sudah diperbaiki antara lain :
1)
Penyebaran anak disesuaikan dengan
kemampuan anak dalam kelas tersebut.
2)
Kelompok siswa diperbaki dengan
pengertian penyebaran heterogen satu kelompok terdiri dari 4 siswa.
3)
Sarana media pembelajaran dilengkapi
4)
Modul atau materi pembelajaran diberikan
lebih awal sehingga siswa lebih siap dalam proses belajar mengajar.
Pembahasan dan Pengambilan
Kesimpulan
Berdasarkan hasil penilaian dan pengamatan siswa
guru menunjukkan bahwa dengan menggunakan STAD dapat membantu siswa dalam
meningkatkan Memahami kehidupan sosial manusia
dari bacaan.
Data perbandingan nilai rata-rata dan ketuntasan belajar setiap siklus
|
|
Siklus I
|
Siklus
II
|
|
Rata-rata
|
70
|
75
|
|
Ketuntasan belajar
|
66.67%
|
91.67%
|
Dari hasil pelaksanaan dan pengamatan
siswa dan guru cenderung lebih baik setiap siklus, maka dapat disimpulkan bahwa
ada peningkatan Prestasi Belajar IPS Melalui
Metode STAD Siswa Kelas II SDN Ngetrep Kecamatan Jiwan Kabupaten Madiun
Tahun Pelajaran 2017/2018”.
Kesimpulan
Metode STAD dapat meningkatkan prestasi belajar IPS Siswa Kelas II SDN
Ngetrep Kecamatan Jiwan Kabupaten Madiun Tahun Pelajaran 2017/2018.
Saran-Saran
1.
Modul/diktat bahan ajar diberikan lebih awal, sehingga ada cukup
waktu bagi siswa untuk memahami
2.
Tugas diberikan pada siswa dalam bentuk
eksperimen
3.
Pada akhir pelaksanaan STAD hendaknya
diadakan penegasan konsep.
DAFTAR PUSTAKA
A.M.
Sadirman, 1996, Interaksi dan Motivasi Belajar Mengajar, Jakarta: Raja
Grafindo Persada.
Budi Sulistyo, Hasan, dkk. 2004. IPS Untuk SD/MI. Jakarta: Erlangga
Buku Workshop di Batu Malang. 2005. Pedoman Pelaksanaan
penelitian Tindakan kelas. Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Propinsi Jawa
Timur.
Departemen
Pendidkan Nasional. Kurikulum 2004, SMP.
Pedoman Khusus Silabus Dan Penilaian.
S. Alam, M.M. 2001. IPS untuk SD. Jakarta: Erlangga.
Slameto,
1995, Belajar dan Faktor-Faktor yang Mempengaruhinya. Jakarta: Rineka
Cipta.
Undang-Undang
RI No. 20 Tahun 2003, Bandung: Citra Umbara, 2003.
Tim Pelatih
Proyek PGSM. 1999. Penelitian Tindakan
Kelas (Classroom Action Reseach).
Departemen Pendidikan Dan Kebudayaan. Proyek Pengembangan Guru Sekolah
Menengah.
